=Hapy Reading=
.
.
Sepulang kerja, Mingyu tidak langsung menuju rumahnya. Menghentikan mobilnya di tempat ia bertemu dengan pria aneh. Pria yang membuatnya kesulitan mendapatkan mimpi indah. Bukan karena ia jatuh cinta, tapi penasaran dengan sosok asli pria itu. Ia ingin tahu kebenaran apakah pria itu manusia atau hantu.
Pemuda yang mengenakan kemeja berwarna putih gading itu mengedarkan pandangannya. Ia tidak menemukan pria berwajah datar yang membawa pisau. Jalanan itu cukup sepi seperti biasanya.
Tidak ingin membuang waktunya, Mingyu berniat melangkah. Namun ia urungkan saat onix kembarnya menangkap seseorang yang memang ia tunggu.
Mingyu memperhatikan penampilan orang yang di depannya dengan intens. Dari atas hingga ke bawah. Kembali ke atas dan ke bawah lagi.
"Tidak ada yang aneh," pikirnya.
Pria yang ia tidak tahu namanya tampak seperti manusia normal. Memakai celana denim berwarna hitam. Kaos kuning lengan panjang dan sepatu putih. Rambut hitam lurusnya dibiarkan tergerai. Namun tidak menutupi mata rubah yang juga memperhatikan Mingyu.
Mingyu menganggukkan kepalanya. Ia tahu di mana letak perbedaan orang di hadapanya dengan manusia normal lainnya. Wajahnya datar. Terlalu datar hingga ia tidak yakin bisa menampilkan ekspresi lainnya.
"Kau tidak membawa pisaumu?" tanya Mingyu. Tanpa menjawab, pemuda berbaju kuning langsung memutar tubuhnya. Membuat Mingyu refleks memegang pundaknya dengan sebelah tangannya.
"Kau mau kemana?" Mingyu kembali bertanya. Ia sendiri tidak mengerti apa yang ia pertanyakan dan apa yang ia lakukan.
"Mengambil pisau," jawabnya ringan. Masih berbicara tanpa nada dan ekspersi seperti malam kemarin.
Mingyu langsung memejamkan matanya beberapa detik. Menghembuskan nafas dan mencoba menarik kedua sudut bibirnya.
"Aku bertanya, tapi kau tidak harus mengambilnya. Lagi pula aku tidak ingin kau menusukku seperti kemarin."
"Aku belum menusukmu," ralat pemuda di depannya yang membuat mata Mingyu sedikit terbelalak.
"Jadi kau akan melakukannya lagi lain waktu?" tanya Mingyu tidak percaya. Yang ditanya merotasikan bola matanya ke atas seolah berpikir. Setelahnya mengangguk kaku yang membuat Mingyu merinding. Pergerakan orang di depannya kembali mengingatkannya dengan film horror.
"Oke, terserah padamu saja! Jadi untuk apa kau meminta... tidak, lebih tepatnya memaksaku bertemu denganmu di tempat seperti ini?"
"Kenapa aku bertemu denganmu?" pemuda bermata rubah kembali bertanya dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Itu pertanyaanku," geram Mingyu.
"Aku tidak punya pertanyaan," jawabnya yang membuat Mingyu kembali menggeram. Ia menarik nafasnya lagi. Mencoba menahan kesabarannya yang sepertinya tengah diuji.
"Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi aku ingin tahu siapa namamu." Mingyu mencoba mencari pembicaraan lain. Ia tidak pernah seemosi ini berbicara dengan seseorang.
"Nama?"
"Jangan mengulang pertanyaan?" bentak Mingyu yang membuat orang di depannya tersentak.
"Huuh ... kau punya nama kan? Siapa namamu?" tanya Mingyu lebih lembut.
Lagi-lagi pertanyaannya tidak langsung dijawab. Si pemuda bertubuh kurus itu justru seperti mencari sesuatu. Yang membuat Mingyu mengerutkan dahinya bingung.
"Apa yang kau cari?" Dan Mingyu hanya bisa mencoba bersabar saat pertanyaannya kembali diabaikan.
Pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya mengambil dua lembar daun. Menggulung-gulungnya dan berjalan menuju tiang listrik. Menorehkan daun yang ia gulung pada tiang listrik.
"Won-woo?" eja Mingyu.
"Namamu Wonwoo?" tanya Mingyu membaca tulisan di tiang listrik. Yang ditanya hanya mengangguk perlahan.
"Ya Tuhan." Mingyu langsung mengusap wajahnya kasar. Dadanya tampak naik turun karena menahan rasa kesalnya.
"Kalau kau bisa berbicara kenapa kau tidak menyebutkannya saja? Kenapa harus menulis dan mengotori tiang listrik ini?" kesal Mingyu. Kekasihnya hanya memandangnya dan matanya berkedip berulang kali.
"Tidak boleh menulis?" tanyanya balik.
"Jangan balik bertanya saat seseorang sedang bertanya padamu! Dan lagi, kalau kau hobi menulis kau bisa pulang dan menulisnya di rumahmu."
Mingyu tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan rasa kesalnya. Wonwoo hanya menganggukkan kepalanya. Tidak jawaban dan kalimat berarti yang pemuda itu ucapkan.
"Aku mau pulang."
Mingyu tercengang berdiri di tempatnya. Wonwoo mengajaknya bertemu hanya untuk menaikkan darahnya. Setelah seharian merasa penat dengan pekerjaan, justru ditambah dengan kehadiran Wonwoo. Dan kini pemuda berkulit putih itu sudah berlalu begitu saja.
Namun baru beberapa langkah, Wonwoo kembali berbalik. Tidak tersenyum, menyapa atau menoleh ke arahnya. Berjalan lurus seolah seolah-olah dia tidak ada. Bisa disimpulkan, Wonwoo baru saja salah jalan. Dan Wonwoo berbalik untuk menuju ke rumahnya.
Mingyu tidak berkomentar apapun. Kepalanya terlalu pening dengan tingkah Wonwoo. Pemuda aneh yang tiba-tiba hadir di hidupnya. Dan mau tidak mau, pemuda yang ia sering samakan dengan hantu adalah kekasihnya.
.
.
Sudah delapan hari Wonwoo dan Mingyu bertemu di pinggir jalan. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Karena setiap Mingyu bertanya, Wonwoo hanya akan balik bertanya. Atau menjawab pertanyaannya yang justru membuatnya naik darah.
Namun yang terlihat aneh, Mingyu masih terus bersedia menemui Wonwoo. Sepulang kerja dan di tempat yang sangat tidak layak. Bahkan Mingyu rela menunggu saat Wonwoo telat datang menemuinya.
Dan malam ini, mereka akan bertemu seperti biasa. Mingyu yang masih berada di kantor tengah membenahi pekerjaannya. Setelah merasa tidak ada yang perlu ia lakukan, ia berdiri dari duduknya.
Tubuhnya tersentak saat seseorang penepuk pundaknya. Saat menolehkan kepalanya, Soonyoung tengah tersenyum lebar yang ia balas decihan.
"Beberapa hari ini kau tampak pulang tergesa-gesa. Ada apa?" tanya Soonyoung setelah menyamakan langkah mereka.
"Untuk apa aku berlama-lama di sini?"
"Eyy ... aku tahu bagaimana dirimu. Ada yang kau sembunyikan? Atau kau ingin bertemu dengan seseorang? Siapa? Apa aku mengenalnya?"
"Kau tidak mengenalnya."
Soonyoung langsung memasang ekspresi terkejut yang berlebihan. Mata sipitnya membola dengan tangan menutup mulutnya yang terbuka lebar.
"Jadi kau sudah laku?" pekiknya. Dan Mingyu enggan untuk menjawab pertanyaan yang cukup menohok itu.
"Jadi kau berencana mendapatkannya? Kapan? Dan kau sudah menemukan caranya? Kau membutuhkan bantuanku? Bantuan kami? Atau bantuan dari pakarnya? Seungcheol hyung misalnya."
Mingyu cukup dibuat kesal dengan pertanyaan Soonyoung. Jika dalam situasi yang berbeda, mungkin ia akan sangat berterima kasih. Tapi pertanyaan Soonyoung justru seperti meremehkannya. Ia tidak sebodoh itu untuk memadu kasih. Setidaknya, bagian dari novel dan drama sudah menjadi pegangannya.
"Aku tidak membutuhkan bantuan kalian. Karena dia sudah menjadi kekasihku."
Jika Soonyoung memiliki riwayat penyakit jantung, sepertinya nyawanya akan terpisah dari raganya detik itu juga. Tapi beruntungnya, pemuda sipit yang sangat hiperaktif itu begitu sehat. Dengan heboh ia justru merogoh saku celananya. Mengambil ponselnya dan menelpon sahabatnya satu persatu. Ia tidak ingin melewatkan berita luar biasa ini.
"Seokmin-ah, dekatkan ponselmu dengan Jun. Aku sudah menyambungkannya juga dengan Seungcheol hyung. Dan jauhkan semua barang pecah belah di dekat kalian. Kalau kalian berada di tangga, cepat menyingkir dari sana. Aku tidak ingin ada kalian yang menggelinding dari tangga. Kalau ada yang memasak, cepat matikan kompornya, aku akan memberitahukan berita yang sangat mencengangkan dunia. Kalian harus pasang telinga kalian baik-baik."
Mingyu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak melarang apapun yang akan Soonyoung katakan. Dengan santai, ia berjalan ke mobilnya. Menuju tempat yang sudah sepekan lebih menjadi persinggahannya sepulang kerja.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Mingyu sampai di tempat tujuannya. Dari dalam mobil, ia bisa melihat Wonwoo berjongkok di bawah tiang listrik. Pemuda yang malam ini mengenakan kaos putih dan beanie putih itu menundukkan kepalanya. Tangannya membuat gerakan seperti mengukir trotoar.
Mingyu meringis menyadari benda yang berada di tangan Wonwoo. Semenjak Mingyu bertanya tentang pisaunya, keesokan harinya Wonwoo selalu membawa pisau setiap mereka bertemu.
"Ekhem."
Wonwoo mendongak. Dan langsung berdiri setelah menyadari Mingyu berada di dekatnya. Namun Mingyu langsung mundur karena Wonwoo mengacungkan pisaunya.
"Aku tahu aku terlambat, tapi bisa kau turunkan pisaumu?"
Wonwoo masih mengacungkan pisaunya ke arahnya. Membuat Mingyu langsung menelisik penampilannya sendiri. Dan langsung mendesah saat menyadari ada yang terlupakan.
"Akan aku lepas. Tapi turunkan pisaumu."
Ketika Mingyu mulai melepas jasnya, Wonwoo menurunkan pisaunya. Setiap mereka bertemu, Wonwoo memang meminta Mingyu untuk melepasnya. Meski Wonwoo tidak pernah memintanya dengan normal.
"Seperti ahjussi penjaga pintu."
Hanya itu kalimat yang Wonwoo ucapkan setiap Mingyu bertanya alasannya. Dan Mingyu tidak ingin bertanya lebih. Karena bertanya dengan Wonwoo sama dengan menguji kesabarannya.
Setelah beberapa menit mereka bertemu, Wonwoo ingin pulang seperti biasanya. Namun kali ini Mingyu melarangnya. Lagi-lagi ia mencegah kepergian Wonwoo dengan memegang bahunya.
"Kau tidak boleh pulang. Kau harus temani aku berjalan-jalan sebentar." Mingyu mencoba mengucapkannya setegas mungkin. Ia tidak ingin Wonwoo menolak permintaannya. Dan ia tidak mengerti apa yang ada di pikirannya, hanya ingin menikmati udara malam sebelum kembali ke rumahnya.
Namun Wonwoo tidak meresponnya. Hanya kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan. Membuat Mingyu menggeram frustasi.
"Kau mau kemana? Kau tidak dengar apa yang aku katakan?"
"Aku mau jalan-jalan." Meski Wonwoo mengucapkan begitu datar dan tanpa nada, kali ini Mingyu tidak lagi merasakan ngeri. Sudah mulai terbiasa dengan tingkah kekasihnya.
"Setidaknya katakan kalau kau mau. Jangan langsung melenggang begitu saja. Lagi pula aku membawa mobil."
Wonwoo memutar tubuhnya. Memperhatikan mobil Mingyu yang terparkir tidak jauh dari mereka. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Wonwoo justru mengangkat pisaunya. Membuat mata Mingyu terbelalak.
"Oke ... oke ... kita jalan saja."
Pada akhirnya, mereka jalan dalam diam. Wonwoo yang bejalan cepat dengan pandangan lurus membuat Mingyu berulang kali menahan pundaknya. Karena mereka sedang jalan-jalan bukan mengikuti kompetisi berjalan cepat.
"Ahjussi ... awas ...!"
Wonwoo dan Mingyu membalikkan tubuhnya. Namun baru saja berbalik, Mingyu bisa merasakan benda keras menghantam tubuhnya. Membuat tubuh tingginya bersentuhan dengan aspal.
"Argh ...!"
Mingyu meringis kesakitan. Dan seorang bocah yang menabraknya juga meringis. Namun langsung berdiri dan mengambil sepedanya. Menuntunnya menjauh dan menaikinya.
"Maafkan aku ahjussi. Aku harus pulang sebelum eomma memarahiku."
Saat sang bocah semakin menjauh, Mingyu bukannya berdiri dari duduknya. Ia justru merebahkan tubuhnya di aspal. Pahanya terasa ngilu tertabrak sepeda anak laki-laki itu. Sikunya yang terasa perih ia yakini sedikit terluka. Belum lagi tulang ekornya yang terasa ngilu karena menghantam aspal dengan paksa.
Wonwoo terdiam di tempatnya. Ia hanya memperhatikan Mingyu yang masih meringis kesakitan. Beberapa detik kemudian, Wonwoo berjalan mendekat. Berjongkok di samping tubuh kekasihnya.
Pemuda berkulit putih itu tidak melakukan apapun. Hanya memandangi wajah Mingyu dan tubuh Mingyu bergantian.
"Tidak mati," gumam Wonwoo. Seketika Mingyu mendudukkan dirinya. Menatap horror ke arah Wonwoo yang sudah berdiri.
"Kau mengharapkan aku mati?" teriak Mingyu. Wonwoo hanya menggeleng dan menjauh dari Mingyu. Membuat Mingyu lagi-lagi harus berteriak kesal.
"Kau pergi begitu saja? Kau tidak menyanyakan keadaanku? Kau tidak berniat mengobatiku? Atau setidaknya kau tidak merasa khawatir?"Wonwoo menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia memperhatikan Mingyu dalam diamnya.
"Aku harus melakukannya?" Wonwoo balik bertanya.
"Tentu saja harus." Mingyu sudah melupakan rasa sakitnya. Justru memekik kesal menghadapi sifat Wonwoo.
"Kenapa?"
"Karena aku kekasihmu!"
"Tapi kau belum mati. Kau juga tidak pingsan. Kepala dan semua tubuhmu juga masih utuh, tidak ada yang terpisah."
Mingyu ingin menangis mendengar jawaban Wonwoo. Ia benar-benar meratapi kemalangan nasibnya. Seumur hidup tanpa kekasih. Dan saat memiliki kekasih, harus mendapatkan manusia sejenis Wonwoo. Bahkan ia ragu Wonwoo benar-benar manusia atau tidak. Karena ia tidak pernah menemukan manusia sekejam Wonwoo. Wajah tanpa ekspresi dan nada datarnya menyempurnakan semuanya.
Tidak ingin memperburuk suasana hatinya, Mingyu berdiri dari duduknya. Mengabaikan rasa pedih dan celananya yang mungkin saja kotor. Ia hanya berjalan mengikuti Wonwoo yang beberapa langkah berjalan di depannya.
Mereka memutuskan duduk di taman kecil. Taman yang dekat dengan penjual makanan siap saji. Namun tidak ada niat memasuki salah satu kedainya. Hanya duduk berdua dalam diam.
"Wonwoo-ya, berapa usiamu?" Mingyu mencoba membuka percakapan.
Wonwoo tidak menolehkan kepalanya apalagi menjawab. Justru menundukkan kepalanya memandangi kedua sepatunya. Dan Mingyu bisa melihat kesedihan dari wajah putih itu. Tidak tahu kenapa, tapi raut wajah Wonwoo berubah murung.
Mingyu terus memandangi Wonwoo yang duduk di sampingnya. Banyak hal yang ingin Mingyu tanyakan. Banyak hal yang ingin ia tahu dari pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya. Tapi tidak ada satupun informasi yang ia dapatkan. Wonwoo seolah menutup diri tentang jati dirinya.
Tanpa sadar, tangannya terangkat ke kepala Wonwoo. Merapikan helaian poni kekasihnya yang tertiup angin. Ia baru sadar, rambut hitam yang sering tertutup beanie itu begitu lembut. Namun ia langsung menarik tangannya saat menyadari tubuh Wonwoo menegang.
"Ekhem."
Pemuda tampan itu berdehem dan menyimpan tangannya. Meski status mereka adalah sepasang kekasih, tetap saja masih ada rasa canggung. Apalagi semua tentang Wonwoo masih seperti misteri baginya.
Ia baru bisa menghembuskan nafasnya lega saat Wonwoo kembali tenang. Namun tidak mengatakan sepatah katapun. Hanya diam dan menggoyang-goyangkan pisau di tangannya.
"Kenapa kau selalu membawa pisau?"
"Ini?"
"Uwaaa."
Refleks Mingyu berteriak. Wonwoo mengarahkan tepat ke wajah tampannya. Salah bergerak saja, bisa dipastikan ujung pisau yang mengkilap itu melukai ketampanannya.
"Kau bisakan untuk tidak menakutiku?"
Mingyu mendesah lagi. Rasanya begitu sulit mengajak Wonwoo berbicara. Wonwoo lebih banyak diam dari pada menjawab pertanyaannya. Namun tanpa sadar, hal itu yang membuatnya semakin penasaran dengan sosok sang kekasih.
Tatapan Mingyu teralihkan saat tangan Wonwoo terangkat ke perutnya. Menyentuh dengan tangan yang bebas dari pisau. Dan tanpa berkata, Wonwoo langsung berdiri dari duduknya. Berjalan meninggalkan Mingyu yang memasang tampang bingungnya.
"Apa lagi yang akan dia lakukan?" Mingyu mengacak rambutnya frustasi.
"Kau mau kemana?" kali ini Mingyu tidak menghentikan langkah Wonwoo dengan memegang bahunya. Tapi berdiri di depan sang kekasih untuk menghadangnya.
"Aku lapar," balas Wonwoo tanpa ekspresi.
"Lalu?"
"Aku mau makan di rumah."
Seketika, tangan Mingyu terangkat untuk menyentil dahi yang tertutup poni itu. Dia benar-benar geram dengan tingkah Wonwoo. Sedangkan Wonwoo tidak melakukan reaksi apapun. Tidak cemberut apalagi memekik sakit.
"Sudah aku katakan untuk merubah ekspresimu. Dan lagi kenapa kau berbicara seperti itu. Kau mengingatkanku dengan hantu asal kau tahu," omel pemuda tampan bergigi taring. Dan Wonwoo masih saja diam.
"Kalau kau lapar kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Apa aku harus melakukannya?" tanya Wonwoo polos.
"Tentu saja kau harus melakukannya. Karena aku kekasihmu."
Di detik itu juga, Mingyu langsung menggenggam tangan Wonwoo. Berniat mengajaknya menuju salah satu kedai siap saji. Namun langsung terhenti begitu saja. Dengan perlahan, Mingyu menundukkan pandangannya. Menatap tangan Wonwoo yang dalam genggamannya.
"Tidak mungkin kan?" batin Mingyu.
.
.
TBC
Apa yang kalian pikirkan tentang ff ini? Layakkah untuk dilanjut? Mungkin bagi kalian ini terlalu ringan karena ga ada konflik ya?
