Immortal
By: Takumi
Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
Pairing: Sasuke+Naruto, Itachi+Deidara, mungkin bertambah ^^a
Rated: T
Genere: Fantasy/Romance
Warning: Shonen-ai. G'berminat?? BACK aja Z!!!
Keterangan Umur:
Itachi: 7 tahun
Sasuke: 4 tahun
Deidara: tak di ketahui tapi dari fisik terlihat berusia sekitar 23 tahun
Naruto: tak diketahui, tapi dari fisik terlihat berusia sekitar 20 tahun
Balas review dulu ah..
Princess Teme: hoho makasih tapi aku g'jaminan lo romantis. Soalnya aku bukan orang yang romantis.l=lll=l Tapi, aku usahain deh.^^b
Aoi no Tsuki: hu-uh cz aku bingung bikin prolognya kayak gimana. Sasunarunya masih lama –mungkin-
Pengakuan author: aku bukanlah seorang yang menekuni dunia tulis menulis. Apa lagi nulis cerpen. Aku hanya berperan sebagai pembaca. Mungkin bisa di bilang aku hanya bisa nulis puisi. Itu pun jauh dari kata bagus. Apa lagi sempurna. Jadi untuk semuanya mohon bantuannya.. m(_ _)m
Chapter 1
Senyum bibirku semakin kecut, ketika aku berjalan dengan cepat menuju mobil hitam yang terpakir ditaman. Sungguh menyebalkan ketika dia memandangku dengan pandangan tidak puas akan hasil kerjaku kali ini.
"Apa yang salah dengan pekerjaanku? Tidak ada! Kurasa. Semua yang kulakukan sempurna, seperti sebelumnya. Aku juga mengikuti intruksi yang diberikannya. Hanya saja… memang kali ini sedikit berbeda dengan bisanya. Tapi, apakah semua ini akan menjadi masalah?" Gerutuku.
Malam semakin sunyi ketika aku semakin dekat dengan tepi hutan. Ku pandangi sinar bulan yang terpantul oleh mobil hitamku. Ku dengar suara angin berhembus semakin cepat dan daun-daun yang jatuh sebelum menyentuh tanah diterbangkan menjauh dari pohon asalnya. Ku dengar suara-suara binatang malam berdecak seakan mengusirku dari hutan tersebut.
Ketika sampai di taman, aku mempercepat langkahku. Mungkin bisa dibilang sedikit berlari. Ah... biarlah mau dibilang apa. Ku hampiri mobil hitam itu dalam waktu beberapa detik saja.
'Hmm... cukup cepat juga untuk langkah yang seperti itu, mengingat jarak tepi hutan dan tepi taman ini sekitar limaratus meter.' Batinku.
Ku buka pintu depan dan melangkah masuk ke dalam mobil hitam ku. Ku biarkan diriku sejenak bersandar melepas peluh ditubuhku. Ku lirik jok belakang dengan ujung mataku terdapat dua sosok mungil dengan wajah malaikat terlelap dalam tidurnya. Anak yang lebih besar dari satunya memeluk erat anak yang satunya, seakan dia adalah satu-satunya yang paling berharga di dunia ini. Anak itu berwajah tegang, seakan-akan ia menerima paket yang akan menentukan garis hidupnya nanti. Di balik wajah tegangnya itu, aku masih bisa melihat wajah malaikat dalam tidurnya. Anak yang satunya yang mungkin berumur sekitar tiga tahun terlelap tanpa dosa dipelukan kakaknya. Yah... memang hari ini sangat melelahkan bagi anak sekecil mereka.
Aku menghela napas sambil menghidupkan mesin mobil dan menancap gas kearah utara menuju pinggir kota. Dalam perjalanan aku berfikir, mengapa 'dia' tidak menerima sedikit pengekanganku. Lihatlah wajah anak-anak itu. Apa tidak menyentuh hatinya sama sekali? Apa benar hatinya mati? Heh... tak habis logika!
Ku lajukan mobilku semakin cepat kearah utara dan sekarang sedikit membelok kearah timur laut. Ku telusuri jalan di pinggir pantai. Deburan ombak terdengar sangat keras menghantam pinggiran tebing yang menjulang. Sisi kanan jalan terdapat distrik pertokoan dan perumahan dengan lampu-lampu yang redup menandakan tak ada aktifitas yang berarti. Sdikit masuk kedalam gang, terdapat klub-klub malam yang masih beraktvitas. Aku rasa cukup ramai juga mengingat hari ini masih pertangahan minggu.
Ku lajukan mobilku semakin keutara. Suasana semakin sunyi, hanya pohon-pohon dan beberapa rumah saja yang terlihat. Hampir sampai keperbatasan antara Konoha dan Suna, kubelokkan mobil hitamku kekanan kearah timur memasuki hutan semakin dalam mengikuti satu-satunya jalan yang ada. Tak lama kemudian, mobil ini memasuki sebuah halaman rumah. Kumasukan mobilku kedalam garasi.
—Normal Pov—
Saat malam semakin larut, seharusnya orang-orang telah menghentikan aktifitasnya, sebuah mobil hitam meluncur mulus membelah kesunyian malam. Mobil itu memasuki hutan tepat sebelum mencapai perbatasan Konoha dan Suna. Masuk semakin dalam mengikuti satu-satunya jalan. Tak lama kemudian, mobil itu memasuki sebuah halaman rumah bergaya eropa bercat dinding abu-abu dengan menonjolkan kaca-kaca besar yang dibingkai logam hitam. Tak perlu waktu lama mobil itu memasuki sebuah garasi yang berada tepat sisi kanan dari rumah itu.
Sesampai di dalam garasi, sosok pemuda berambut kuning pucat dan bermata biru pucat dengan poni menutupi sebelah matanya, yah... biasa dikenal dengan Deidara, keluar dari mobil itu. Kemudian Deidara menuju ke kursi penumpang dan membuka pintu itu untuk memperlihatkan dua sosok yang dianggapnya malaikat kecil. Sosok yang sama tapi berbeda. Sama, karena keduanya memiliki kulit putih bagaikan salju, berbeda yah... karena semua orang terlahir berbeda. Sosok yang pertama lebih besar dari satunya, mungkin usianya sekitar tujuh tahun, memiliki dua kerut dikedua pipinya dan rambutnya yang dikucir berwarna hitam legam, biasa dikenal dengan Uciha Itachi. Sosok yang kedua bertubuh kecil mungil dan berusia sekitar empat tahun, memiliki warna rambut hitam kebiruan dan huf... ehem memiliki bentuk rambut err... bisa disebut seperti pantat ayam, bebek atau apalah, yang penting sejenis ungas. Huuff... lucu, dan ku harap jangan ada yang tertawa dihadapannya! Kalau tidak tanggung sendiri akibatnya! Yup kembali ke alur.... sosok yang memiliki rambut err... pantat ayam bernama Uchiha Sasuke.
Dengan hati-hati, Deidara mencoba merengangkan pelukan pada Sasuke berharap mereka tak terusik. Setelah cukup renggang, dediara mengangkat dua sosok itu. Tangan sebelah kanan mengendong Itachi sedangkan yang kiri mendekap Sasuke. Sepertinya oang yang ia anggap malaikat itu sama sekali tak terusik dengan aktfitas yang ia lakukan. Nyatanya mereka masih terlelap.
Deidara membuka sebuah pintu yang menghubungkan garasi dengan ruang keluarga. Di ruang tersebut, terdapat deretan sofa berwarna kuning gading yang menghadap kesebuah televisi yang masih menyala.
'Eh masih menyala?' batin Deidara.
Ya memang sosok yang seharusnya bertanggung jawab akan televisi yang masih menyala itu tak terlihat dari belakang sofa. Tapi, bila ia mau melangkah mendekat ke sofa itu, maka ia akan melihat sesosok remaja yang berbalut baju tidur panjang berwarna orenge. Memiliki rambut berwana kuning menyala, lebih terang dari Deidara dan tiga garis seperti kumis kucing di setiap sisi pipinya, dan apabila dia membuka matanya, akan terlihat sepasang langit musim semi cerah tanpa awan. Yap betul ialah Naruto. Naruto sedang tidur di atas sofa dan meninggalkan televisi yang masih menyala dan beberapa bungkus ramen instan berserakan di meja.
Tak peduli dengan semua itu, Deidara melangkah menuju salah satu kamar yang berada di lantai dua. Dia membuka kamar itu dan tampak sebuah tempat tidur king size. Tanpa menunggu lama, Deidara melangkah masuk kedalam kamar itu dan menaruh kedua anak itu di tempat tidur.
Setelah membaringkan dan menyelimuti dua anak kecil itu, Deidara keluar dari kamar dan menuju keruang keluarga dimana terdapat sosok yang masih tertidur pulas. Sesampai di sana, Deidara hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya saat melihat tingkah adiknya itu.
"Naruto.." Deidara mencoba membangunkan adiknya itu .
"Naruto.." lanjut Deidara sambil menguuncang-guncang tubuh Naruto. Tapi masih tak ada jawaban dari yang bersangkutan.
"NARUTO" Deidara semakin memperkeras suaranya.
"Em.." gumaman dari Naruto, tapi ia sama sekali tidak membuka matnya.
"Naruto ayo bangun" ucap Deidara masih berusaha membangunkan adiknya.
"Eh... masih ngantuk aniki..." lenguh Naruto sambil merngejap-ngerjapkan matnya.
"Sekali lagi NARUTO, kalau kamu masih g' mau bangun MAKA.."
"Iya iya iya aku bangun!!!" kata Naruto dengan muka ditekuk. Saat Naruto duduk sambil mengucek-ucek matnya, "Naruto sudah berapa kali aniki bilang kalau mau tidur TV-nya dimatiin dulu dan... dan lihatlah ini" ucap Deidara sambil menunjuk di sekitar meja. "Lihat apa-apaan ini? Kalau makan sampahnya dibuang ke tempat sampah NARUTO" ucap Deidara penuh penekanan di kata terakhir.
"Eh…hehehe gomen aniki…" ucap Naruto dengan wajah innocent.
"Heeeh... oke aku nyerah!" ucap Deidara sambil angkat tangan. Sebenarnya Naruto sudah tau kalo anikinya ini paling lemah kalu menghadapi wajah innocentnya. -Dasar little devil!- *author digeplak pakai bakiaknya Naruto*. "Sudah sana tidur di kamarmu sana" Ucap Deidara sambil menghempas-hempaskan tangan untuk mengusir Naruto
"Iya aniki" ucap Naruto dengan senyum sejuta dolarnya dengan langkah yang terkantuk-kantuk menuju kamranya yang berada di lantai dua.
"Heeh... dasar.." Deidara menghela napas sambil membersihkan tempat yang menjadi korban(??) karena ulah adiknya yang tercinata itu.
—Naruto Pov—
Kulangkahkan kaki ku dengan gontai menuju kamarku yang berada di lantai dua. "Haah" aku menghala nafas sesaat sebelum menaiki tangga. Rasanya aku malas menaiki tangga.
'Huuh kenapa aniki tidak membiarkan ku tidur di sofa saja sih? Padahal aku tadi sedang bermimpi memenangkan perlombaan makan ramen dengan hadiah makan ramen gratis selama satu tahun...hiks...' Batinku.
(author: emang ada lomba kayak gitu?? Hemm lo ada paling kamu dilarang ikut Naruto.
Naruto: kenapa?
Author: lo kamu ikut semua peserta akan mengundurkan diri dan para panitia akan rugi besar, apa lagi mengingat napsumu saat melihat ramen.
Naruto:*pundung di pojokan*
Author: hai hai ngapain kamu pundung di situ? Dah sana balik ke cerita.! Huss huss... *sambil ngibas-ngibasin tangan*
Naruto: hiks emang aku ayam...T.T).
Ku langkahkan kakiku untuk menapaki tangga, sesampi di atas aku berjalan ke arah kamarku. Setelah sampai di depan pintu kamarku, ku hentikan langkahku untuk melihat lebih jelas ke arah pintu yang berada tepat di depan pintu kamarku. Mungkin sebagian besar orang yang melihat pintu itu, merasa pintu itu biasa-biasa saja, tetapi tidak untuk ku. Ya tidak, karena lampu di dalam kamar itu hidup. Yah walaupun hanya samar mengingat lampu yang digunakan oleh kamar itu hanya lampu tidur. Dan mengingat cahaya itu keluar dari celah-celah pintu.
Penasaran? Hem tentu saja aku penasaran! Karena setauku kamar itu tak ada penghuninya.
Untuk memuaskan rasa penasaranku, ku hampiri pintu yang berada tepat di depan pintu kamarku. Aku membuka pintu itu dengan perlahan dan mengintip apa yang ada di dalam kamar itu. Sepi. Aneh kenapa lampunya menyala? Heem. Ku buka pintu lebar dan melangkah masuk ke kamar. Ku edarkan pandanganku kesekeliling, dan saat pandanganku melintasi tempat tidur aku melihat sebuah gundukan di atas tempat tidur. Ku tajamkan pandanganku dan
"Aaaa……… aaanikiiiiiiiiiiii……." Aku berteriak cukup keras untuk didengar oleh kakak ku yang berada di lantai satu, dan ternyata kakaku mendengarnya. Buktinya...
Tap tap tap *suara orang berlari giman sih?* suara kaki yang tergesa-gesa menuju kekamar ini tepatnya kearahku yang berteriak.
"Ada apa Naruto?" rasa panik jelas terdengar dari perkataan, err... tepatnya pertanyaan kakak ku.
"Aniki! Apa-apaan ini? Kau menculik dua orang anak!" tanyaku err lebih tepatnya pernyataanku sambil menunjuk-nunjuk dua orang anak yang sedang duduk.
"..."
Sebelum sepenuhnya sadar dengan apa yang kini terlihat, 'PUK' sebuah bantal terlempar tepat ke arah kepalaku.
"Uhh belisik!" kata seorang anak yang lebih kecil. Mungkin ia terbangun gara-gara teriakanku tadi.
"Apa-apan kau seenaknya saja melempar bantal kearahku?" bentakku.
"Kalena kau belteliak tidak jelas begitu dasal dobe! Dan kalau kau tidak mau telkena lempalanku, kamu-kan tinggal menghindalinya, BAKA!" ucap anak itu sambil memegang kepalanya dengan tangan kanan seakan ia benar-benar tak mengerti akan kelakuanku. Dan dapat ku lihat Deidara dan orang yang ada di sebelhanya membelalakan mata karena tak percaya mendengar perkataannya.
"Uh, sebenarnya aku bisa mnghindarinya! Hanya saja tadi aku belum siap!" belaku sambil mengerucutkan bibirku. Lebih terlihat seperti merajuk. "Dan apa-apaan kau seenaknya saja memangilku DOBE dan BAKA. TEME?" kataku dengan penuh penekana pada tiga kata err seharusnya dua sih tapi terserahlah. Tiga kata yang seharusnya tidak keluar dari mulut seorang anak kecil seperti dia.
"Itu menandakan kau benal-benal DOBE" bantahnya.
"Hai apa kau bilang? Kamu itu sebenarnya umur berapa sih teme? Bisa-bisanya anak kecil sepertimu berkata hal seperti itu!" kataku tak mau kalah dan juga heran dengan anak KECIL yang berada di hadapanku ini.
"Usiaku empat tahun BAKA. DOBE." katanya penuh penekanan pada kata terakhir.
"Ya! Anak sekecil kamu seharusnya be..."
"Sudah-sudah. Hentikan pertengakaran konyol ini" lerai Deidara. Dan aku hanya bisa menutup mulutku dengan sebal karena Deidara memotong perkataan yang belum selesai."Maaf atas ganguan ini sehingga kalian terbangun" ucap Deidara sambil berjalan kearah tempat tidur.
"Hn" timpal anak itu. Aku hanya mendelik mendengar ucapan anak ayam itu. 'Huuuh... tidak sopan sekali berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua darinya' batinku.
"Siapa kalian?" kata anak yang satunya tanpa intonasi. Akhirnya dia bicara juga.
"Aku Deidara, Uzumaki Deidara dan ini adikku Naruto, Uzumaki Naruto" jawab Deidara.
"Kenapa kita ada di sini? Kenapa kau bawa aku kesini?" tanya anak yang lebih besar. Sedangkan aku dan anak ayam itu memandang Deidara penuh perhatian.
"Sebenernya kalianku bawa kesini karena aku tak tahu harus membawa kalian kemana. Tapi tenang saja di sini aman." jawab Deidara. Sepertinya anak yang lebih besar kurang puas akan jawaban dari Deidara, terlihat dari kedua alis yang berkerut.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" kata anak itu menuntut jawaban.
"Hai. Kau tak bisa bicara lebih sopan dikit dengan orang yang lebih tua darimu?" seruku mengintruksi ucapan anak itu.
"Cih, apa kau tak tahu kalau dia belum menjawab seluluh peltanyaanya! Dasal Dobe!" sahut anak ayam itu. Huuh kemarahanku semakin memuncak mengahadapi anak tak tahu sopan santun ini.
"Dasar kau juga sama saja anak ayam!" seruku pada anak ayam itu.
"Apa maksudmu denga Anak Ayam. DOBE!" Seru anak itu penuh dengan penekanan pada kata terakhir.
"Aa… Dasar a-"
"Sudahlah Naruto." Potong Deidara
(Naruto: kenapa omonganku selalu dipotong?
Author: kalo g'dipotong entar habis buat pertengkaran yang g'jelas kyak gitu!
Naruto: tapikan si teme itu selalu menghinaku.
Sasuke: siapa yang kau bilang teme Dobe? Chih apa untungnya aku beltengkal dengan mu Dobe?
Naruto: kalau begitu kamu g'usah ngehina aku kayak gitu teme!
Sasuke: kalena kau memang Dobe! Apa aku salah Dobe?
Naruto: aaaa…. Aku sudah tidak tahan untuk mengahjarmu TEME!!!
Sasuke: siapa takut!
Author, Itachi, Deidara: -cengok-
Author: Deidara, Itachi sudah biarka saja mereka. Kalian lanjutkan saja kisah yang tertunda –sweat drops-)
"Untuk petanyaan itu aku akan menjawab besok, karena ini sudah malam. Dan sepertinya kalian butuh istirahat." Timpal Deidara.
"Hn" kata, -uh emm ahh tau deh- jawab anak itu sambil melirik anak ayam dari sudut matanya.
"Kalau begitu selamat malam dan selamat beristirahat." Kata Deidara melangkah menuju pintu keluar sambil menyeretku yang sedang saling mengeluarkan death glear.
"Oya! Anggap saja rumah sendiri." Tambah Deidara. Sebelum pintu sepenuhnya tertutup aku hanya bisa menjulurkan lidah pada anak berambut ayam itu.
Setelah di luar, aku hanya menantap aniki ku dengan penuh selidik.
"Heeh sebaiknya kau juga tidur Naruto." Usul Deidara.
"Tapi kak.."
"Sudah akan ku jelaskan semua besok, aku terlalu lelah." Jawab Deidara lesu. Terpancar jelas gurat keleleahan dari wajah Deidara.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dari aniki-ku.
Setelah mendapat jawaban dariku, Deidara berjalan menuju kamarnya, dan aku hanya mengedikkan bahu. 'heeh sepertinya esok akan menjadi hari yang panjang' pikirku.
—End Naruto Pov—
To be continue
Piuh chapter satu akhirnya selesai juga *mengusap keringat di dahi*-lebay-
Tapi yah gomen lo juelek! Soalnya aku masih sangat buuaaaru di dunia penulisn pa lagi perpenpikan.=.=a
Jadi gomen lo penulisan dan kata-katanya ada yang rancu dan g'mengena. m(_ _)m
Nah sesuai dengan hukum(??) yang berlaku,
(Senpai-senpai: emang ada hukumnya??
Takumi: hu-uh ada ne da baru ku buat dalam anganku^^v –cengok-) untuk senpai-senpai dan semuanya yg mau baca pik ini tolong bantuannya untu memberi tahu mana yang ancur dan ancur buanget. Tapi tolong ya bahsanya yang sopan. Karena aku belum kuat lahir batin untuk di flame secar sadisnisme=.=a
Plisssss R.E.V.I.E.W.!!!!!!!!!!!!!!!!!
