Yifan mengelap keringatnya yang di dahi dengan handuk kecil yang ia bawa. Sesampainya di rumah, ia akan bergegas mandi dan memakan sarapannya. Tetapi ketika sampai di ruang tamu, Yifan mendengar suara televisi yang hidup. Ia berfikir bundanya tidak pernah menonton televisi sepagi ini, mungkin sekitar jam sebelas dengan bermunculannya acara gossip di stasiun TV.
Yifan melihat ada seorang anak kecil di sofa berambut panjang dengan bando pita pink menghias rambut halusnya. Anak itu memeluk boneka pandanya dengan ukuran sedang dan matanya menatap serius kearah televisi yang menayangkan kartun.
"Paman?" sahut anak itu menyadari kehadiran Yifan dari belakang sofa.
"Hai" Yifan berpindah posisi, menduduki sofa empuk di samping anak perempuan tersebut.
"Hai juga paman"
"Kamu siapa?" Tanya Yifan basa-basi. Tentu saja basa-basi karena Yifan sudah tau siapa nama anak yang ada disampingnya ini.
"Aku Sophia. Kalau paman?"
"Aku Wu Yifan. Panggil saja Yifan gege" balas Yifan dengan menatap pesona kecantikan Shopia. Seperti aura bundanya yang mempunyai pesona cantik dan seksi.
"Kalau aku panggil Papa? Boleh?" ujar Sophia memohon. Yifan yang mendengarnya kaget.
"Boleh saja. Tetapi kenapa kau lebih memilih memanggilku Papa daripada gege?"
"Aku ingin punya papa" Sophia menundukan wajah imutnya dan boneka yang ia peluk menutup wajahnya. Yifan sangat penasaran dan iba terus mencecar Sophia.
"Kalau kau tidak punya papa, darimana kau lahir?"
"Dari aku lahir, aku tidak pernah melihat papa, tidak pernah diurusi papa. Pokoknya aku tidak pernah bertemu papa" mata Sophia telah di banjiri air mata tetapi ia masih bisa menahan agar tidak keluar.
"Apa kau tidak bertanya kepada ibu-mu dimana papa mu?"
"Aku sering bertanya seperti itu. Tetapi bunda bilang papa sedang bekerja di luar negeri. Dan beberapa bulannya aku bertanya lagi, dan bunda bilang papa pergi sangat jauh. Aku bingung sebenarnya papa dimana"
Yifan mengatupkan bibirnya. Ia tidak bisa menahan bagaimana sedihnya seorang anak berumur empat tahun ini tidak pernah bertemu dengan papa nya yang entah dimana. Yifan sangat bersyukur dimasa kecilnya masih bisa bermain dengan sang papa walaupun di saat ia sukses papa nya sudah tidak berada di sisi nya.
Entah perasaan darimana, Yifan memeluk tubuh mungil Sophia yang sudah menitikan air mata itu. Ia hanya ingin menyalurkan semangat untuk perempuan kecil berparas cantik ini.
"Sudah jangan menangis ya cantik. Kau boleh memanggilku papa selama-lamanya jika kau ingin" ucap Yifan melepaskan pelukannya. Si kecil pun mengusap air matanya dan menyengir lucu
"Benarkah aku boleh memanggilmu papa?" Tanyanya yang diangguki Yifan beriringan dengan senyuman.
"Thank You, Papa. Love you so much!" Sophia memeluk Yifan lagi.
"Love you too, my star" Yifan benar-benar sudah jatuh ke pesona Sophia. Bukannya jatuh cinta. Ada rasa ingin melindungi si cantik ini. Termasuk bundanya walaupun belum berkenalan.
"Sophia, apa kau baik-baik saja?" Tanya seorang paruh baya yang memakai apron.
"Iya nenek, aku baik-baik saja hehe"
"Kau baru pulang, Fan?"
"Sebenarnya sudah beberapa menit yang lalu. Aku menemani Sophia dulu"
"Syukurlah kalian bisa akrab. Mama lanjutkan masak dulu yah. Dan Yifan, bersihkan tubuhmu dulu. Sudah tahu kau mengeluarkan keringat banyak"
"Iya mama…" balas Yifan dengan malas memejamkan matanya yang terasa berat. Sophia hanya nyengir lucu.
"Papa, kapan-kapan aku akan mengenalkan bunda pada papa. Mau kan?"
Yifan terdiam sejenak tiba-tiba melebarkan matanya. Perkataan Sophia membuat salah satu tepi bibir Yifan terangkat.
"Boleh boleh. Kapan?"
"Hm, aku tidak tau kapan. Bunda itu orangnya selalu sibuk. Terkadang pulangnya sampai larut malam. Mungkin hari ini awal sibuknya bunda di China. Makanya aku di titipi disini karena itu."
"Oh iya, kenapa kau bisa tinggal di rumah itu? Setahu papa, tempat itu masih di tempati keluarga bibi Huang?" Tanya Yifan penasaran.
"Bibi Huang? Maksudnya nenek-ku?"
"Nenekmu? Memangnya anak bibi Huang sudah menikah? Lagian anaknya bibi Huang hanya satu" Yifan mulai bersiap-siap ingin mendengar pernyataan dari Sophia. Pasalnya Sophia mengaku, ia adalah cucu dari bibi Huang. Dan bibi Huang hanya mempunyai satu anak. Jangan bilang kalau itu 'dia', ucap Yifan dalam hati.
"Aku tidak tau. Bunda tidak bilang kalau bunda mempunyai saudara atau tidak"
"Siapa nama bundamu?"
"Huang Zitao"
.
Seorang anak perempuan berumur tiga belas tahun hanya duduk diam di lantai lorong dekat gudang sekolah. Ia memojokkan dirinya ke tembok. Ia merasa terpojoki dengan para penggemar dari 'musuhnya' yang terus mengatainya begini dan begitu. Tiga perempuan yang merupakan penggemar dari 'musuhnya' atau memang hanya idola mereka yang menganggap dirinya musuh, terus mengeluarkan fitnah.
"Kau ini, sudah jelek, culun, tak tau diri ingin menyaingi pangeran di sekolah ini. Iya kan?"
"Cih! Kau itu tidak boleh menyaingi kecerdasan pangeran kami! Aku tau kau bodoh ketika sekolah dasar dulu. Dan sekarang kau ingin mencari popularitas menjadi saingan cerdasnya pangeran? Pangeran akan tetap lebih cerdas darimu!"
"Dan jangan kau berani dekati Hangeng gege, dia itu pangeran kedua kita. Tidak pantas dekat denganmu yang culun dan jelek! Mengerti?"
Anak perempuan yang memojokan dirinya itu merasa ketakutan dan mengangguk setelah mendengar ucapan dari ketiga perempuan yang menjadi kakak kelas tingkat dua. Setelah itu, mereka pergi meninggalkannya.
"Yifan, mengapa kau jahat denganku?" ucapnya lirih dengan tubuh yang gemetar.
Tidak jauh dari posisi perempuan itu, seorang lelaki bersurai emas mengintip adegan pembullyan beberapa menit yang lalu. Tidak sadar ia mengepal – membuka – mengepal dan membuka telapak tangannya. Merasa emosi melihat adegan tersebut. Kilat-kilat emosi di matanya muncul untuk ketiga kakak kelas itu. Rasa kasihan yang ia rasakan untuk perempuan yang ketakutan. Tetapi semuanya lumpuh karena sifat 'Gengsi' dan 'Egois' nya muncul.
"Maafkan aku"
.
Saat malam gelap di hiasi bintang terang telah datang, Yifan menduduki dirinya di kasur empuk. Tadinya ia berinisiatif untuk tidur pada waktu yang tidak terlalu larut agar esok ia tidak bangun kesiangan seperti tadi. Tiba-tiba fikirannya tertuju pada foto yang ia simpan di laci meja nakasnya. Ia mengambil selembar foto itu dan menatapnya. Dua orang bocah sekolah dasar kelas empat berbeda kelamin itu menatap kamera dengan cengiran lucu. Sang bocah lelaki merangkul pundak bocah perempuan yang ada disampingnya dengan gemas.
Yifan tersenyum melihat foto tersebut mimik wajah dirinya sendiri. Kenang-kenangannya bersama bocah perempuan itu sangat banyak dan menyenangkan.
Tetapi dadanya merasa sakit ketika mengingat apa yang pernah Yifan lakukan oleh bocah perempuan itu. Sangat menyakitkan untuk bocah perempuan cantik itu sampai setelah lulus dari sekolah menengah pertama sang perempuan yang ia cintai itu pergi meninggalkannya.
Waktu itu, Yifan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menyesalkan perbuatannya dan hanya bisa menggumamkan kata 'Jangan pergi' di balik jendela rumahnya. Malu jika ia langsung minta maaf dan memintanya untuk tidak pergi.
Yifan membawa foto itu menuju bibir tebalnya hanya untuk mengecup foto bocah perempuan kecil yang ia rangkul. Terlalu muna mengatakan langsung pada perempuan itu jika ia mencintainya dari dulu. Tetapi ia sendiri yang selalu menyakitinya.
Itu alas an kedua mengapa Yifan masih single dengan keadaan dirinya yang tampan dan mapan. Ia telah menaruh seseorang di hatinya selama bertahun-tahun.
Sampai akhirnya, Yifan memejamkan matanya untuk istirahat. Membawa sang roh kedalam mimpi.
.
Seorang anak lelaki berparas tampan yang masih sekolah menengah pertama itu menatap lekat-lekat batang besar sebuah pohon yang berada di taman sekolahnya.
Selama ia menatap lekat batang pohon itu, ia mengabaikan penggemar-penggemarnya yang menyodorkan makan siang. Mau mereka membuatnya sendiri atau beli pun Yifan tidak perduli. Ia masih saja menatap lamat-lamat batang pohon itu.
Yifan bukan orang gila hanya memerhatikan batang pohon besar itu sangat detail. Sesekali ia menyunggingkan senyuman kecil dan sembunyi agar penggemarnya tidak melihat. Di batang pohon itu tertulis sebuah nama anak perempuan yang ia kenali sejak lama dan namanya. Di batasi dengan tanda hati atau love. Yifan tau sang perempuan lah yang menulis ini di batang. Dalam hati Yifan merasa puas.
Yifan mendengar gerutuan atau ungkapan kekesalan semua penggemarnya yang masih di sekitarnya, ia langsung berfikir apa yang akan terjadi setelah ia pergi dari hadapan pohon ini. Mereka pasti akan mencaci maki gadis kecil itu.
Yifan berjalan menuju lorong kelas dan bersembunyi. Beberapa penggemarnya ada yang menuju lorong kelas terlihat dari gerak-geriknya seperti ingin mendatangkan seseorang. Beberapa menit, mereka telah membawa gadis berkacamata dengan rambut di ikat kepang dua berpenampilan culun.
"Lihat! Kau menyukai pangeran kami? Kau pasti berkhayal pangeran kami bersanding denganmu kan?" ujar gadis bersurai madu dengan garang.
"Cih jalang! Yifan mana mau ber pacaran denganmu. Menjadi temanmu saja ia tidak sudi!"
"Hey katakan! Ini kau yang menulisnya kan? Iya?"
"I-iya benar aku"
"Halah! Kau ini memang senang mencari sensasi dan mencari mati dengan kami! Enyahlah kau dari sini!"
Semua gadis yang mengelilingi gadis culun itu menumpahkan makanan yang tadinya ingin mereka beri untuk Yifan ke wajah gadis tersebut. Gadis itu hanya diam. Menahan emosi dengan nafas memburu. Sudah cukup tiga tahun ia selalu di bully oleh penggemar Yifan atau bisa dikatakan semua siswi.
Yifan keluar dari persembunyiannya. Para gadis membuka jalan untuk Yifan lewati dan berdiri di hadapan gadis itu. Gadis itu mendelik kearah Yifan.
"Kau menyukaiku?"
Diam
"Kau yakin aku akan membalas perasaanmu?"
Diam
"Cih! Jangan suka berkhayal!"
Tiga kalimat yang Yifan katakan membuat sang gadis manis ber kacamata itu sesak. Siapa yang tidak sakit hati jika orang yang kau cintai malah membencimu? Gadis itu sebenarnya cukup tau diri untuk tidak mendekati 'musuhnya' ah gadis itu tidak pernah menganggap Yifan musuh.
Gadis itu menghela nafas dan mengeluarkan dengan kasar. Ia berdiri tegap di hadapan Yifan.
"Tidak. aku hanya mencintaimu"
Diam
"Tidak! Aku sudah tau jawaban darimu yang sesungguhnya."
Diam
"Kau orang yang gengsian, egois, munafik, Yifan! aku benci semua sifatmu"
Diam
"Aku tidak pernah berkhayal untuk mendapatkanmu!"
"Ingat! Suatu saat kaulah yang memohon padaku!"
"Setelah kelulusan minggu depan, aku akan melakukan apa yang kau mau"
"Aku akan pergi dari kehidupanmu, Wu Yifan!"
Bagaikan pedang yang menusuk hati dan seluruh tubuhnya, Yifan lemas mendengarnya. Sungguh kalimat terakhir yang membuat dadanya sesak. Ia memalingkan wajahnya ketika gadis itu pergi dari hadapannya.
Apa yang harus Yifan lakukan saat itu terjadi?
.
Pukul delapan malam tepat Yifan pulang dari kantornya sebagai Pengacara. Badannya terasa lelah setelah seharian bekerja. Mandi dan langsung tidur yang ia bayang-bayangkan setelah sampai rumah.
"Papa.." sahut Sophia yang beranjak dari sofa ketika Yifan membuka pintu.
"Kau belum tidur?"
"Aku nunggu papa pulang"
"Mau tidur dengan papa, hm?"
"Boleh"
Yifan tersenyum ke bundanya yang sedang terduduk di sofa Sophia. Ia menggendong bocah cantik itu ke kamarnya. Sophia baru pertama kali tidur di kasurnya karena kemarin bocah cantik itu sudah pulang ketika ia sedang mandi sore. Padahal ia berniat untuk menemui bundanya.
Dengan akal bulusnya sekarang, ia pasti bisa bertemu dengan bundanya.
"Sophia mau papa dongengkan?"
"Aku tidak suka dongeng. Kalau Sophia ingin tidur, harus ada yang mengusap-usap pinggang Sophia agar pulas" Yifan tergelak. Hanya mengusap saja bisa membuat seorang anak kecil tertidur pulas. Aneh.
"Oke. Papa usap-usap sampai kau tidur"
Yifan mulai mengusap-usap punggung Sophia yang berposisi menghadap Yifan. Sesekali ia tersenyum betapa bahagianya orang tua Sophia mempunyai seorang putri yang cantik, pintar, tegar dan kuat.
Tegar dan kuat seperti bundanya.
Selang beberapa menit, Sophia sudah tertidur pulas. Yifan segera mandi dan menemui bundanya yang masih menonton televisi.
"Kirain mama kau sudah tidur bersama Sophia"
Yifan mendudukan dirinya di samping bundanya. Yifan sangat sering bermanja-manja dengan mama nya.
"Mengapa Sophia memanggilmu 'papa'?"
"Karena ia tidak pernah sama sekali mendapat peran dari papanya"
"Jadilah papa yang baik. Suatu saat kau akan menjadi seorang papa" bunda Yifan mengelus lengan kekar anaknya.
"Mama tidak tidur?"
"Sophia belum pulang"
"Aku saja yang menunggu ibunya"
"Kau kan lelah?"
"Tidak, Ma"
"Kau ingin bertemu Zitao?"
Yifan diam. Mengapa bundanya bisa menebak apa yang ia rencanakan.
"Kau pasti kaget jika ia tiba-tiba datang dari Amerika ke China sudah mempunyai anak. Apalagi tidak ada sang suami di sampingnya. Jangan berfikir Zitao tidak punya suami" ucap bundanya tersenyum bisa menebak fikiran sang anak. Setelahnya wanita paruh baya itu berjalan menuju kamarnya.
Yifan memilih untuk menonton televisi dan kue kering yang di siapkan oleh bundanya untuk menunggu Zitao menjemput Sophia.
Teng nonggg.. tengg nongg
Suara bell rumah berbunyi, Yifan membuka pintu ruangan dan berhadapanlah ia dengan wanita dewasa yang sekarang sudah ia kenali.
"Ahh, malam Yifan.. Hm, maaf mengganggumu malam-malam. Aku hanya ingin mengambil Sophia" ujar Zitao dengan sopan menampilkan senyuman indahnya.
Yifan merhatikan tubuh Zitao dari atas sampai bawah. Wanita ini menjadi sangat seksi dengan pakaian yang sedikit ketat dan terlihat manis ketika lampu yang tepat berada diatasnya menerpa wajah Zitao.
"Ah, lebih baik kau masuk dulu. Aku akan memanggil Sophia di kamarku. Ayok" Yifan mengajak Zitao masuk kedalam rumah.
"Apa Sophia nakal saat disini?"
"Tidak. Dia sangat cerdas. Seperti ibunya" balas Yifan dengan berjalan santai ke lantai atas untuk mengambil Sophia dari kamarnya. Zitao yang mendengar balasan dari Yifan hanya nampilkan senyum kecut.
"Yaampun. Sophia sampai tertidur seperti ini di kamarmu. Maafkan aku Yifan" ujar Zitao saat melihat anaknya tertidur dalam gendongan Yifan.
"Tidak apa-apa. Aku senang melihat Sophia berada disini"
"Terima kasih sudah menjaga Sophia. Aku tidak tau harus membalas budi dengan apa. Hm, salam untuk mama-mu ya"
"Iya sama-sama. Aku dan mama tidak kerepotan sama sekali kok"
"Sekali lagi terima kasih, Yifan"
Yifan hanya diam ketika ucapan terakhir dari Zitao. Ia tidak tau harus berbicara apa, hanya perasaan gugup jika berhadapan dengannya.
"Kau berubah drastis, Zitao"
Continue
Wehehe assalamualaikum wr wb, bagaimana dengan chapter ini? tijel yak? ini fanfic emng tijel kok :v oh iya, pen name saya ganti yang tadinya Changmin KW sekarang jd nama fb :B chapter selanjutnya sya buat dengan sepenuh hati untuk para readers yang menghormati(?) sya. udh capek cuap-cuap trus, bnyak ulangan. weheheh wassalam.
