Farewell Love
-Byun Baekhyun
-Park Chanyeol
-another EXO member
Genre: angst, romance, hurt.
I'm not own the cast, but I own the story. Imma newbie but please do not stole my story/fanfict/idea/etc(?).
NB: YAOI, BOY X BOY, OOC, sorry for all typo(s). True Story.
italic = flashback
Kita bertemu untuk saling mengucapkan kata perpisahan
.
.
.
"and i'm here missing you
always thinking of you,
because to night
i wish you were here"-Sound of Mirror- I wish u were here.
From: Channie
Morning sayang, nice day ya~
semangat belajarnya~:*
jangan lupa sarapan
To: Channie
Iya, lakcaca juga ya~
jangan lupa sarapan juga, bisa-bisa aku mengalahi tinggimu nanti, hoho~:*
From: Channie
Itu tidak akan terjadi=3=
To: Channie
Haha .. arraseo, aku berangkat dulu, ya?~
From: Channie
Iya cantik~ hati-hati sayang
To: Channie
Love you~
From: Channie
Love you more~
.
.
.
To: Channie
Channiee! Bantu aku kerjakan tugas fisikaku, ya?
From: Channie
Maaf sayang, tugasku juga numpuk, maaf aku tidak bisa
To: Channie
Aaaa~ Channie-yaa .. kumohon
From: Channie
Gak bisa, sayang~
To: Channie
Arra!
From: Channie
Hh sini sini, mana tugasnya?
To Channie:
Molla, aku lupa, bukunya sudah ku tutup
.
.
.
"Sehun-ah! Jangan macam-macam atau kulaporkan pada Chanyeol!" Baekhyun mengancap pemuda berkulit putih nyaris pucat yang kini berdiri dengan bibir manyun di sampingnya
"Ya ya ... aku tidak akan mengulanginya lagi"
.
.
.
"Kira-kira kado apa yang akan kita berikan pada Baekhyun besok?" Luhan membuka suaranya, membiarkan lantunan nada yang keluar dari pita suaranya melambai di udara
"Boneka beruang saja, anak itu sedang tergila-gila dengan beruang, kan?" Kai menyahut, diikuti oleh anggukan Chen
"Oke, kalau begitu... Kyungsoo, bisa temani aku mencari boneka hari sabtu minggu ini? Kau tidak ada acara, kan?" tanya Luhan, Kyungsoo menoleh dengan mata yang membulat sempurna, kemudian mengangguk. Kebiasaan seorang Kyungsoo yang selalu melebarkan matanya bagaimanapun situasi yang tengah terjadi.
"Lalu, bagaimana dengan Chanyeol? Apa anak itu akan memberikan Baekhyun kado atau hanya sebuah gambar?" Chen terkikik
"Dia akan mengirimkan kado untuk Baekhyun" sahut Luhan, "Ayo masuk kelas, lagi bentar bel masuk"
.
.
.
Sehun tercengang, lengannya diapit Luhan sementara pemuda imut yang kini memeluk lengannya membawa langkah mereka ke belakang sekolah.
Pipi tembam Luhan basah karena air matanya sendiri sementara Sehun hanya berdiam diri, ia tak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Besok ... sehari setelah ulang tahun Baekkie, kita berenam harus bertemu. Ada yang ingin ku beri tahu" Luhan menyeka air matanya, sementara Sehun masih kehilangan kata-katanya.
"Memangnya ada apa?"
Pertanyaan itu terus memenuhi kepalanya, tak membiarkan apapun menghapusnya. Menari-nari menginjak otaknya, kepalanya terasa nyeri karena berusaha mencari jawaban tanpa sebuah petunjuk.
.
.
.
Kyungsoo keluar dari kelas, menghilangkan kepenatan yang menderanya secara berlebih. Sehun dan Jongin mengekorinya, mengikuti langkah kecil Kyungsoo. Halaman kecil di belakang sekolah lagi-lagi adalah sebuah tujuan rahasia.
"Kyungsoo-ya?" Jongin membuka suaranya, duduk di sebelah Kyungsoo. Pemuda mungil itu seakan menahan nafasnya, menahan emosi yang kapan saja dapat meledak.
"Luhan bilang kita harus bertemu pada tanggal sebelas di rumah Baekhyun, kan? Itu masalah Chanyeol lagi, kan?"
"Entahlah .. mungkin" Jongin menaikan kedua bahunya dalam hitungan detik
"Ada sesuatu yang ingin di katakannya. Jika itu Chanyeol, aku tidak mau mendengarnya. Cukup sudah aku merasa kita berenam berbeda hanya karena Chanyeol atau masalah Luhan yang harus selalu membuat Baekhyun tersenyum. Aku merasakan kerenggangan antara kita" Kyungsoo mati-matian menahan getaran dalam suaranya
"Kita bahkan tidak tahu siapa Chanyeol, belum pernah bertemunya secara langsung, hanya melewati dunia maya. Ia bahkan tidak mengenal.."Sehun menyahut
"Memang ada apa dengan Chanyeol?" Jongin menampakan wajah bingungnya, jelas ia tidak mengerti mengapa semuanya terlihat begitu menyedihkan.
"Luhan sering meminta nomor ibuku –yang tak lain adalah seorang dokter" suara Kyungsoo terdengar membaik walau matanya tetap terlihat becek, "Kemarin aku sempat ingin membaca percakapan mereka pada pesan singkat, sayangnya teman ibuku menelfon, tentu saja ibuku mengangkat panggilan temannya. Namun ketika handphonenya kembali di tanganku, percakapan mereka –Luhan dan ibuku– sudah tidak ada, ibu menghapusnya"
"Baekhyun dulu sering cerita bahwa Chanyeol memang memiliki penyakit" ucap Sehun
"Kau tahu? Luhan menanyakan masalah oprasi sumsum tulang belakang. Chanyeol adalah penderita kanker darah"
Jongin hanya bisa diam, begitu juga dengan Sehun
.
.
.
Luhan menyeruput minumannya, menghabiskannya sebelum memasuki kelas atau uangnya melayang untuk membayar denda karena melanggar peraturan kelas yang begitu ketat. Untuk sekian kalinya, Luhan menarik Sehun, namun bukan ke belakang sekolah, kali ini ke lantai dua, tepat di depan perpustakaan.
Berdiri di tembok pembatas, melihat lapangan mereka yang terlihat begitu kecil.
"Entahlah ... aku tidak bisa menyimpannya lebih lama" Luhan berhenti menyedot minumannya, matanya memerah dan senyumnya yang terlihat getir tampak menghiasi wajahnya
"Menyimpan apa?"
"Masalah .. Chanyeol"
Sehun dapat menebaknya. Chanyeol memang benar-benar terdengar begitu penting, padahal Chanyeol hanyalah seorang pemuda di luar sana yang tak lain adalah pacar seorang Byun Baekhyun.
Apa yang membuat Chanyeol begitu istimewa di depan Baekhyun juga Luhan? Mengapa mereka gencar sekali membicarakan pemuda yang dikabarkan Baekhyun tinggi dan tampan itu?
Sehun memasang wajah pura-pura-bodoh nya, "Memang Chanyeol kenapa?"
"Besok, sehari setelah hari ulang tahun Baekhyun adalah hari Chanyeol menjalankan oprasi. Sebenarnya, seharusnya Chanyeol oprasi pada dua bulan lalu, namun anak itu ingin melihat Baekhyun bahagia di hari ulang tahunnya" sesekali, Luhan menyeruput minumannya, membasahi tenggorokannya, "Oprasi sumsum tulang belakang yang di jalaninya pada kanker stadium akhir dan hanya 20% kemungkinan untuk hidup. Jadi, bisakah kita kerja sama untuk membuat Baekhyun bahagia setelahnya?"
Sehun terdiam. Membisu dan membeku.
Terdengar begitu mendadak, sebelumnya ia sempat membenci Chanyeol yang begitu berefek besar dalam persahabatannya, namun kini semua perasaan benci itu runtuh.
Inilah alasan mengapa selama ini Luhan begitu merespon dengan tangan membentang lebar dan senyum yang memamerkan seluruh giginya ketika Baekhyun membicarakan Chanyeol.
Inilah alasan mengapa Chanyeol begitu special.
.
.
.
Ia melangkahkan kakinya pasti, menuju kelas yang berada di urutan kelima. Pintu kelasnya tertutup rapat, pendingin ruangan menyala, udara dingin memenuhi ruangan.
Sehun menaruh tasnya di meja, kemudian duduk berkumpul dengan Jongin, Kyungsoo dan Chen. Beginilah setiap pagi, mereka berbincang tentang hal-hal absurd yang selalu dapat meledakan tawa, meramaikan suasana pagi di kelas.
"Luhan?" Baekhyun memanggil pemuda imut yang sedang merogoh tasnya dengan nada menuntut.
"Aku sudah menuliskannya di note, jadi kau bisa baca dengan cepat" ucap Luhan seraya menyodorkan handphonenya.
Sehun mengabaikan apa yang baru saja terjadi, seakan kemarin tidak ada sesuatu yang begitu penting. Namun lidahnya begitu gatal ketika Xiumin datang dengan tatapan yang seakan mengatakan 'katakan-pada-mereka-masalah-kemarin'
"Ada yang ingin ku katakan" Sehun mulai bernada serius. Jongin, Chen dan Kyungsoo menaruh semua perhatian mereka pada Sehun yang kini berdeham, seakan memulai sebuah pidato panjang yang begitu penting, "Nanti sore kita tidak jadi ke rumah Baekhyun seperti yang sebelumnya di rencanakan"
"Kenapa?" Kyungsoo membulatkan matanya, sebuah kebiasaan yang mendarah daging.
"Apa yang ingin Luhan beri tahu sudah terbongkar, jadi tidak perlu" jawab Sehun
"Memang apa yang ingin dikatakan Luhan?" Chen menatap Sehun seakan pemuda itu siap menerkamnya jika Sehun tetap merahasiakannya
"Masalah Chanyeol" balas Sehun, mengundang dengusan malas. Seakan topik Chanyeol adalah tranding topic yang selalu mereka dengar bahkan mereka bicarakan, "Chanyeol hari ini oprasi dan kemungkinan untuk bertahan hidup hanya 20%. Itu saja"
Kini mata tiga manusia di depannya membesar tak percaya. Terlalu cepat membayangkan Baekhyun yang berada di puncak manisnya cinta harus kehilangan Chanyeol dengan waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Beberapa menit berlalu, keheningan menyurak di antara mereka berempat. Kemudian terpecahkan oleh sebuah raungan.
Baekhyun menangis meraung-raung seraya menutup wajahnya pada dada Baekhyun, satu tangannya untuk meraih pinggang Baekhyun dan sebelahnya untuk memegang handphone Luhan. Tidak mungkin Baekhyun akan membuang handphone Luhan yang begitu berharga bagi pemuda keturunan cina itu begitu saja.
Untuk pertama kalinya, Sehun tercenang melihat Baekhyun benar-benar menangis meraung-raung. Berteriak mengeluarkan semua emosinya yang dari semalam tersimpan rapih.
Baekhyun tidak sedang bercanda, Baekhyun benar-benar tengah berada di sisi terpojok dalam batinnya. Mendorong semua beban dalam hatinya melewati aliran air mata yang kian deras membasahi pipi tembamnya.
Mata Luhan memerah, tak mampu melihat Baekhyun begitu rapuh di depannya. Bukan hanya Luhan, Kyungsoo, Jongin, dan Sehun turut merasakan kepedihan Baekhyun. Begitu pula dengan Chen yang lebih dulu meneteskan air matanya.
Siapa yang tega melihat senyum bahagia Baekhyun terampas begitu saja pada sehari setelah ulang tahunnya?
.
.
"Sehun-ah! Chanyeol menelponku semalam. Ia benar-benar gemetar padahal kamarku sepi. Entahlah, anak itu sangat aneh. Ia menutup mulutnya dengan bantal ketika bicara denganku demi menahan ketakutannya. Aaa~ aku sangat bahagia"
.
.
"Serius, ini untuk pertama kalinya aku mendengarmu benar-benar meraung ketika menangis" Sehun membuka mulutnya untuk memasukan makan siang ke perutnya, "Ku kira kau hanya sekedar bercanda"
"Aku menahannya dari tadi malam. Chanyeol sudah memintaku untuk menangis tapi aku sudah janji dengan Luhan untuk tidak menangis, well ... begitulah hasilnya" ucap Baekhyun enteng, mencoba melupakan apa yang baru saja mengguncangnya begitu keras, membangun kembali senyum yang sempat pudar.
"Aku kaget ketika mendengarmu teriak tadi pagi" ucap Kyungsoo, "Ku kira kau dan Luhan sedang bermain, tidak ku sangka kau bisa menangis sampai berteriak seperti itu"
"Sudahlah, habiskan makananmu Kyung" ucap Baekhyun. Matanya masih sendu, menyimpat kesedihan yang begitu mendalam. Bahkan jika Baekhyun tidak menahan emosinya, air matanya akan mengalir lagi, membasahi pipinya kemudian membengkakan matanya.
Hari berakhir dengan normal. Ya, semoga hari ini berakhir dengan normal.
.
.
.
Jongin mengelilingi kamarnya, kemudian terbaring di atas kasurnya. Mengamati taburan bintang di langit melewati jendelanya yang sudah tertutup rapat. Untuk kesekian kalinya Jongin melempar kemudian menangkap handphonenya, kebosanan melandanya sejak tadi. Tidak ada yang dapat di kerjakan di dalam kamarnya.
Bahkan kini, perasaan yang tidak enak melandanya. Entah berdasarkan apa perasaan yag begitu sendu memeluk batinnya.
Di tariknya guling yang sedari tadi dianggurkannya, kemudian berguling-guling menghilangkan kepenatannya.
.
.
.
Sehun meraih laptopnya, menuliskan beberapa artikel untuk blognya kemudian membalas chat Kyungsoo yang mengajaknya berbincang demi menghilangkan rasa bosan. Berbaur dengan orang-orang yang berkumpul di satu grup whatsapp.
Pemuda tinggi itu keluar dari kamarnya, mengambil sebotol minuman dingin dengan beberapa bungkus cemilan untuk dihabiskannya, menemani waktunya menyelesaikan artikel isengnya.
Pesan singkat turut meramaikan handphonenya. Sehun meraih ponselnya, menatap layar ponselnya yang meneriakan betapa ramainya dunia maya yang Sehun kenal.
Namun Sehun tidak terlalu memperdulikan ratusan pesan yang menumpuk pada grup whatsappnya, yang menjadikan matanya menatap ponselnya dengan begitu serius adalah pesan singkat dari dua orang sahabatnya.
Berisikan isi pesan yang sama.
Hampir saja, Sehun menjatuhkan ponselnya begitu saja ketika matanya menyelesaikan acara membaca pesan singkat yang membuat jantungnya mencelos kaget.
Sebuah pesan singkat yang tidak akan pernah ingin dibacanya.
.
.
.
Baekhyun memintanya untuk datang lebih pagi. Sudah cukup baginya mendengar tangis haru yang sejak semalam sahabat-sahabatnya dengarkan. Suara-suara yang membuat dirinya tak mampu bertumpu pada ke dua lutut yang seakan terbuat dari bubur.
Dengan tergesa-gesa, ia berlari memasuki gerbang sekolah kemudian berusaha mengejar waktu tercepat untuk sampai di kelasnya.
Matanya menyayu, untuk kesekian kalinya, Baekhyun menangis dengan tersedu-sedu, matanya memerah bahkan nafasnya benar-benar tidak teratur. Kepalanya terus menggeleng, kakinya menyepak kesegala arah sementara handphonenya masih di genggam penuh oleh telapak tangannya.
Sehun melebarkan tangannya, mencoba merengkuh Baekhyun yang menyembunyikan wajahnya di antara lengannya yang terlipat.
"Dia masih ada di sini, kan? Bilang iya, Hun! Dia masih ada, kan?!" raungnya frustasi, nada bergetar yang semakin menguras air mata Baekhyun.
"Ini sudah takdir Tuhan, Baekkie"
Jongin dengan mata yang memerah duduk di samping Baekhyun, kemudian Sehun mengambil bangkunya untuk duduk di sebelah Baekhyun, mereka mengapit pemuda mungil itu, mencoba menenangkannya walaupun tidak ada satu kata yang dapat meredakan tangisan pilu seorang Baekhyun.
Sehun mengutuk dirinya, ia bahkan tidak dapat berbicara apa-apa ketika Baekhyun yang baisanya selalu berhasil membuatnya tertawa kini menangis sejadi-jadinya.
Ia hanya dapat memberikan bisikan bahwa semuanya sudah jadi kehendak Tuhan. Kata-kata yang tidak akan menenangkan Baekhyun sama sekali.
Pintu kelas kembali terbuka, menampakan sosok Luhan yang sepertinya juga begitu terburu-buru memasuki kelas, terlihat dari nafasnya yang tidak beraturan.
Luhan mendekap Baekhyun erat, "Baekkie, ikhlaskan Chanyeol agar ia tenang disana"
"Anni! Chanyeol masih ada! Dia janji, Lu ... Dia janji .. hiks" Baekhyun meremas bahu Luhan, "Dia janji akan menghubungiku setelah oprasi"
"Tidak ada yang bisa kau lakukan selain berdoa, Baek" ucap Sehun.
Pagi kembali berduka, mata sembab Baekhyun tidak bisa hilang begitu saja. Ia sempat mengatakan bahwa ia akan menyusul Chanyeol, agar mereka abadi di surga sana. Namun itu bukanlah solusi yang tepat bagi pemuda yang masih harus meraih cita-citanya.
Baekhyun tidak dapat berhenti menangis, sekalipun guru mata pelajaran sudah berdiri di ambang pintu.
.
.
.
"In those moments where we could've walked together
I'm holding onto myself alone
In this place, even our future, my wishes have stopped
I'm standing here and you are gone"-Gone, JIN
To: Channie
Janji, ne? Kau harus mengirim pesan singkat padaku setelah oprasi. Jangan buat aku merindukanmu terlalu lama
From: Channie
Iya, sayang. Hanya lima jam saja, sebentar, kan?
To: Channie
5 jam itu lama, Channie~ T.T
bagaimana jika nanti aku merindukanmu?
From: Channie
Jika kau merindukanku pikirin aku aja, ya? :*
Aku tidak seharusnya mengizinkanmu operasi. Seharusnya aku tetap menahanmu agar kau tetap di sisiku. Kau janji untuk kembali, kan?
Kau memang kembali .. kembali pada-Nya.
Ku mohon jadikan ini hanyalah sebuah mimpi buruk belaka, kumohon.
Cinta tidak memandang wujud, hanya perasaan yang mengalir indah begitu saja. Tanpa alasan yang logis, tanpa ada yang tahu mengapa cinta bisa menyangkut dua insan tertentu.
Aku mencintainya tanpa alasan, aku tidak memiliki alasan untuk tidak merindukannya ketika seharian kita tidak saling sapa. Aku tidak memiliki alasan untuk menghentikan air mata yang terus saja membanjiri bantal-bantalku.
Dia terlalu jauh, Tuhan. Mengapa tak kau biarkan kami bertemu sebelumnya? Mengapa kau menjalankan waktu terlalu cepat?
Channie ... bisakah kau melihatku? Aku janji setelah ini tidak akan menangis. Aku tahu, kau membenciku ketika aku menangis, mataku seperti panda dan itu membuatku terlihat jelek. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa untuk tidak menangis. Salahkan dirimu yang tidak menepati janji.
Park Chanyeol, aku tidak tahu apa yang akan dikatakan takdir padaku. Jalan apa yang ditujukan oleh Tuhan. Semoga kita dapat bertemu di kehidupan selanjutnya. Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu. Byun Baekhyun.
"i will keep you forever
and i will never let you go..."
.
.
.
Malam mengantar mereka ke sebuah taman kecil, dimana hanya ada mereka berdua. Menatap satu sama lain dengan senyum yang mengembang.
"Channie, ayo kita beli minuman?"
Sosok yang di panggil Channie hanya dapat terdiam, ralat, ia tersenyum manis dengan begitu damai.
Pemuda yang lebih pendek dari pada Chanyeol menghentikan pergerakan tubuhnya ketika ia melihat Chanyeol berlari mendekati kereta.
Ia ingin menangkapnya, namun ia tak dapat menyentuhnya.
Hingga Chanyeol memasuki kereta, kemudian pergi meninggalkan pemuda manis tersebut.
Pemuda itu hanya dapat menangis. Tidak ada yang dapat membantunya menghentikan Chanyeol untuk tidak memasuki gerbong kereta.
Chanyeol benar-benar pergi dari hadapanya.
"Letting you go is not as easy as it sounds
I turn away, not being able to see you leave me
Tears eventually drop and I need to wipe them away now
Please don't, please don't leave
Come back (come back) come back (come back)
I will hold onto the remaining scent
So come back to your place" -please don't.
