TITLE : A GUY NEXT DOOR chapter 2
AUTHOR : Jung Ok Ja
GENRE : ROMANCE
LENGTH : MULTICHAPTERS
CASTS : LEE HONGKI, CHOI JONGHUN, SONG SEUNGHYUN, CHOI MINHWAN, LEE JONGHYUN, CHOI JUNHEE
A GUY NEXT DOOR 2
(Hongki PoV)
Pagi adalah saat dimana aku sudah diteror oleh ketukan pintu dan teriakan bar-bar seorang Song Seunghyun. Minta makan. Dan aku akan mengabulkannya. Membawa bahan makanan menyeberangi lorong, atau bahkan menyuruh dua pemuda itu untuk belanja.
Tapi tidak dengan pagi ini.
Sarapan di apartemen Jonghun sepertinya akan terasa sangat janggal setelah perbincangan kami malam itu.
Aku bisa melihat secara nyata pendar sakit hati yang memancar dari matanya, bahkan gestur tubuhnya. Kekecewaan itu begitu membuatnya jatuh, dan akulah penyebabnya.
Sewajarnya, aku meminta maaf. Seharusnya, aku kembali menyapanya seperti biasa, seperti seorang teman pada umumnya. Tapi- ah... Entahlah... Aku bahkan tak berani melihat wajahnya. Mau tak mau aku akui, aku bisa merasakan pandanganku yang berbeda saat menatapnya. Dan aku tak ingin kian menyakitinya karena itu.
Dan disinilah aku sekarang. Berkutat dengan perlengkapan dapur, memasak untuk sendiri. Memakannya untuk sendiri, dan tanpa sadar, porsi berlebih itu mengingatkanku pada Jonghun.
Jonghun...
Marahkah kau padaku?
Jam berangkat kerja dan aku pun segera bersiap. Memakai jaketku lalu berlalu menuju pintu.
Dalam hati aku berpikir, jangan-jangan nanti aku bertemu Jonghun.
Benar saja! Begitu aku langsung keluar, aku bertemu dengannya secara instan. Jonghun telah berada disana.
Tapi siapa yang bersamanya? Sepagi ini menerima tamu?
Sepasang orang tua. Pria tinggi tegap yang tampak sudah berumur. Juga wanita anggun dengan jaket peach indahnya. Sepertinya mereka orang tua Jonghun yang datang berkunjung. Tapi-
Plakk!
Aku mematung di muka pintu. Tak tahu harus berbuat apa saat tamparan itu mendarat di pipi Jonghun.
"A-Appa..."
Pria yang Jonghun panggil Appa segera berlalu dengan wajah keruh. Wanita cantik yang bersamanya menutup mulutnya, menahan tangisnya, lalu terpaksa ikut pergi saat pria itu memanggilnya tak sabar.
"Eomma!"
"Jonghun..." Jonghun yang merangsek memeluk wanita itu terdengar mulai terisak. Tapi sang ibu segera melepaskan diri. Menangis tertahan lalu pergi. Membiarkan Jonghun memanggil-manggil namanya pilu.
Ya Tuhan...
Kenapa kau menempatkan aku disini saat ini?
Ini seperti bangku terdepan dalam drama privasi keluarga yang tak sepatutnya aku melihat.
Dan aku pun hanya terdiam bodoh di tempatku. Kulihat Jonghun menunduk. Menyeka air matanya dan-
Ia menatapku.
Tatapan yang-
Oh, tidak. Rasanya hatiku turut remuk melihatnya. Bola mata yang sama seperti malam itu. Terluka, kecewa, terhina...
"Jonghun-ah..."
"Se-Selamat pagi... Hongki-ya..." ia membungkuk sopan, lalu melangkah cepat menuju pintu apartemennya.
Pikiranku kemana-mana hari itu. Sungguh! Rasa bersalahku memuncak, kian tinggi dan aku kini membulatkan tekad untuk sedikit bisa menerimanya.
Sebagai sahabat yang menerimanya apa adanya, seperti yang ia harapkan.
Persetan dengan menata hatiku, menjaga perasaannya jauh lebih baik. Aku harus minta maaf, dan setidaknya mulai saat ini aku harus menjaga hubungan baik dengan tetangga. Tidak main kucing-kucingan seperti ini.
Dan malam itu saat aku pulang, aku bertemu dengannya di lift. Aku akan naik dari parkiran, dan ia baru turun.
Jonghyun.
Ia tampak terkejut melihatku muncul saat pintu lift terbuka. Namun ketika aku memberi salam padanya, ia pun membalasnya dengan senyuman.
Yah... Senyuman sederhana itu setidaknya telah mengendurkan ketegangan yang kami rasakan sejak pertama kali bertemu.
"Menemui Jonghun?" tanyaku basa-basi. Dan ia pun mengangguk sopan. "baiklah, kalau begitu aku naik dulu."
Pintu nyaris saja tertutup setelah aku pamit, hingga kemudian ia menahan laju pintu dengan tangannya.
"Hongki-ssi, bisa minta waktumu sebentar?"
"Ia banyak menangis hari ini... Tak seperti biasanya..." itulah kalimat pembuka Jonghyun di tegukan pertama kopiku malam itu.
Kami duduk berdua di sebuah Minimarket. Menikmati kopi instan panas dan sebungkus biskuit yang enak. Selera Jonghyun bagus, pulang nanti aku akan membelinya untuk teman nontonku di rumah.
"Ia pemuda yang tegar... Sebelumnya... Tapi tampaknya ia tengah menghadapi penolakan besar belakangan ini."
Kalimat Jonghyun sedikit membuatku tersindir. Nyaris saja aku tersedak. Jonghyun terkekeh geli.
"Tak perlu merasa tersindir, penolakan itu bukan datang darimu. Hahaha." Jonghyun meneguk kopinya. "setidaknya, bukan hanya darimu..."
"Sejujurnya aku merasa sangat tersindir dan aku tahu aku memang salah..." aku mengaku. Jonghyun tersenyum melihat wajah muramku.
"Dan entah mengapa itu adalah hal yang wajar. Alasanmu bersikap seperti itu, maksudku." Jonghyun tersenyum mafhum. "sebagaimana orang yang tak merasakan apa yang kami rasakan, itu adalah hal yang wajar. Sangat wajar. Dan seharusnya kami sudah terbiasa dengan itu semua."
Aku hanya mengangguk-angguk pelan. Begitu lega karena Jonghyun sangat tenang. Berkepala dingin dan pengertian. Justru aku yang merasa kian jahat.
"Jonghun bilang, kau melihat kejadian tadi pagi."
Aku mengangguk, "Ya. Dan aku jadi sedikit tak enak."
"Orang tua Jonghun... Entah sejak kapan mereka tak menemuinya."
Aku menatap Jonghyun penuh tanya. Dan seolah tahu rasa bingungku, ia mulai menceritakannya.
Segalanya...
"...orang tua Jonghun tak bisa menerima keadaannya. Ayahnya begitu membencinya, mengusirnya dari rumah karena kecewa anak pertamanya tak bisa melanjutkan garis keluarganya..."
"...Jonghun melakukannya lagi, menolak pertunangan dengan wanita pilihan ayahnya. Dan ayahnya sangat murka akan hal itu..."
"...tak ada tempat untuk kembali baginya..."
Aku bergulung di balik selimut. Meringkuk seperti ular hibernasi. Sial. Aku benar-benar tak ingat sudah minum kopi di restoran tadi. Dan menenggak dua cangkir kopi membuat mataku tak bisa terpejam sama sekali.
Tengah malam, dan pikiranku melayang-layang. Di balik selimut yang gelap aku membaca pesan-pesan dongsaeng ku.
Lee Jaejin. Ia akan mengunjungiku liburan nanti.
Yah... Walau aku sering bertengkar dengannya di rumah, tapi tak bisa aku pungkiri aku merindukannya. Wajah lapar yang begitu sibuk menghina masakanku itu terasa lama sekali aku tak melihatnya. Akan kuberi jitakan kalau aku bertemu dengannya nanti. Hahaha.
Hah...
Bukankah bahagia memiliki keluarga yang memperhatikanmu?
Kalimat-kalimat Jonghyun terngiang kembali. Tak ada tempat untuk kembali?
Aku teringat sebuah film lama, The Wizard of Oz. Dan sebuah kalimat dari tokoh gadis kecil itu begitu membuatku sesak.
"Rumah adalah tempat dimana kau akan kembali..."
Dan selanjutnya, 508 lah yang membuatku miris. Apartemen itu memang tempatnya berlindung. Beristirahat. Tapi bukan rumah yang sebenarnya.
Beku dan dinginnya tempat itu pernah kurasakan. Dan kini aku mengerti mengapa seperti itu.
508 hanya persinggahan seorang Choi Jonghun atas pelariannya dari keterbuangan...
"Membayangkan kau masih terjaga saat ini. Maafkan aku atas kejadian tak mengenakkan tadi."
Aku hampir saja terperosok dalam lelap jika dering ponselku tak menyadarkanku.
Pesan dari Jonghun.
Aku tersenyum kosong membacanya. Apa ia tak bisa tidur karena masalah itu masih mengganggunya?
"Dua cangkir kopi membunuhku pelan-pelan. Lelah, tapi tak bisa tidur sama sekali. Jika besok mayatku ditemukan dengan mata terbuka, maukah kau sebagai tetangga menutupkannya untukku? Hahahah. Aku yang seharusnya minta maaf..."
Tak lama kemudian pesannya kembali datang.
"Sudut lorong antara 507 dan 508 sangat dingin. Ada dua cangkir susu panas untuk dua orang yang terjaga malam ini."
Aku tersenyum. Ya, kurasa Jonghun ingin menyelesaikan segalanya segera. Seperti masalah yang lalu, ia tak ingin berlama-lama menikmati atmosfer canggung. Mengobrol akan menyelesaikan ketidaktenangannya. Begitu juga denganku.
Bangkit dengan menyeret selimut, malas mengganti piyama, aku menuju keluar. Mendapati sosoknya tengah duduk di lantai. Melipat tangannya di depan dada, menahan dingin. Dua cangkir dengan uap panas mengepul di hadapannya. Aku tersenyum.
Janjiku, tak ingin merasa jijik atas jati dirinya lagi. Cukupkan perasaan itu, mengertilah.
"Aku bersyukur kau tak memberiku kopi." tegurku berusaha biasa saja. Mengakrabkan diri. "satu cangkir lagi akan membuat bola mataku keluar."
Jonghun tertawa kecil melihatku memamerkan lingkaran hitam di sekitar mataku. "Mendengar keadaanmu yang mengerikan, aku meletakkannya di kulkas. Berharap seorang koki akan membuatkan ice coffee untuk siang hariku besok."
"Tidak. Tidak. Tidak mau."
Jonghun tertawa. Aku duduk di sampingnya. Membagi selimut untuk alas duduknya. Dan aku menerima secangkir susu panas yang menghangatkan ujung jariku.
"Kulihat kau punya mata yang sama denganku." ujarku hati-hati, menunjuk kedua matanya yang sembab. Jonghun tersenyum tipis. "sudah merasa baikan?"
Jonghun mengangguk, "Jonghyun menolongku dengan baik..."
"Sangat baik, menurutku. Tadi kami mengobrol banyak, dan aku tahu ia sangat membantumu."
"Ya... Aku tahu. Jonghyun mengatakannya padaku kalau ia bertemu denganmu."
"Ia pemuda yang baik."
Jonghun mengangguk pasti, "Ya. Sangat baik."
"Itu sebabnya kau bersamanya, bukan?" baiklah, agak aneh saat mengatakan ini. Fakta bahwa Jonghun memang bersama Jonghyun dalam arti khusus membuatku sedikit asing. Tapi kali ini aku tulus mengatakannya, dan Jonghun tampaknya menyadari itu. Yah... Usahaku...
Jonghun tersenyum lembut, mengangguk perlahan, "Salah satu yang masih bisa kupertahankan..."
Selanjutnya sunyi. Hanya suara susu yang terhirup yang terdengar. Juga harum vanilla dari kepulan asapnya. Perbincangan kami jadi lebih tenang dan santai. Aku lega telah kembali akrab dengannya, dan berhasil mengerti keadaannya adalah suatu pencapaian besar bagiku.
"Maafkan aku..." ujarku. Sedikit bergetar.
"Untuk?"
"Bersikap tak baik padamu."
Jonghun menatapku. Langsung ke dalam mataku seolah menyelidiki kesungguhanku. Tak lama ia tersenyum. Mengangguk.
"Kau pernah menyakitiku hanya dengan caramu menatapku..." ujarnya mengakui. Sedikit nyeri buatku, tapi tak ada alasan untuk berdalih. "sangat menyakitkan..."
"Aku tahu... Aku merasa sangat jahat padamu. Aku minta maaf..."
"Banyak orang yang seperti itu... Padaku, pada kami. Tapi kau tidak lagi." ia tersenyum tulus. Raut wajah memaafkan.
"Semoga..."
"Suatu saat kau akan merasakannya lagi. Merasa asing dan aneh, atau bahkan jijik. Tapi aku akan berusaha memahaminya."
"Sama halnya dengan aku berusaha memahaminya."
Kami bertukar pandang. Saling menyodorkan senyum mengerti. Dan mulai malam itu kami, aku dan Jonghun telah saling memahami satu sama lain.
Sebagai sahabat yang menerima apa adanya...
Segalanya terasa lebih ringan setelahnya. Aku dan Jonghun juga Seunghyun kembali menjadi teman baik yang selalu bersama kemana pun. Ditambah Minhwan tentu saja. Terkadang Jonghyun bergabung, dan... Benar yang dikatakan Jonghun. Aku akan merasakannya lagi.
Merasa asing dan sendiri diantara dua pasangan yang begitu menikmati kebersamaan mereka.
Beruntung Seunghyun dan Minhwan tak begitu kaku. Mereka seperti pasangan bocah yang dengan riang mengajakku bermain atau mengobrol seru. Hahaha. Mereka benar-benar penolongku. Tak kubayangkan aku tanpa mereka, hanya bertiga dengan pasangan Jonghun-Jonghyun yang tenang dan diam. Seolah saling mengerti tanpa harus mengungkap kata.
Hahaha!
Kini bagiku ini menggelikan!
"Dulu aku menyangka kau sangat membenciku." ujarku saat tengah berdua saja dengan Jonghyun. Ketika itu kami tengah berakhir pekan di gunung. Jonghyun yang seorang manajer pemasaran sebuah line clothing tengah berlibur. Kesempatan langka bagi orang sibuk sepertinya untuk menghabiskan waktu bersenang-senang.
"Hahaha. Yah... Dulu aku mengira kau seseorang yang- kau tahu... Cemburu itu ada bahkan untuk orang-orang seperti kami." Jonghyun terkekeh geli.
Satu hal lain yang kusuka darinya selain seleranya yang bagus, ia juga pandai menjaga perasaan orang lain dengan kata-katanya.
"Tapi setelah ia bilang kau tak sama seperti kami, aku tak khawatir lagi. Hahaha."
"Kau tak perlu khawatir."
"Iya. Lagipula aku sangat senang ada kau di dekatnya..." Jonghyun tersenyum manis. Tapi bisa kulihat sinar matanya meredup. Seolah menyembunyikan sesuatu, dan aku tak tahu apa itu.
"Senang? Karena aku?"
Jonghyun mengangguk. "Penghuni 507 sebelumnya sangat membenci Jonghun. Kerap kali berkata kasar dan berbuat yang tidak menyenangkan. Jonghun sangat tertekan saat itu."
Aku menunduk. Itukah sebabnya Jonghun begitu berharap padaku untuk menerimanya sebagai sahabat?
"Lagipula dengan adanya dirimu, pola makannya sedikit terjamin. Hahaha."
"Hahaha. Begitu juga dengan isi dompetku. Hahaha."
"Yah... Terimakasih, Hongki-ya..."
Udara gunung yang dingin sekaligus segar membuatku semakin meresapi lega yang kurasakan. Hanya satu malam bertahan di balik tenda, tapi aku makin memahami mereka.
Melihat wajah cerah Jonghun saat Jonghyun berada di dekatnya, juga kebersamaan mereka yang tak pernah mencolok sebagai pasangan, membuatku mengerti. Hubungan diantara mereka lebih dari sekedar permainan bertahan dari godaan. Lebih dari sekedar memadu perasaan yang picisan. Lebih dari ikatan fisik dengan cincin di jari mereka sekalipun.
Mereka saling ada untuk menjadi pijakan satu sama lain. Menjadi pegangan ketika goyah. Menjadi tempat untuk kembali.
Begitu dalam...
Dan itu membuatku merasa- aku... Jonghun...
...
"Dia Choi Junhee... Dongsaengku..." ujar Jonghun saat ia memintaku menemaninya untuk menemui seseorang.
Junhee gadis yang manis. Juga menyenangkan. Mungkin bagi Jonghun, ia satu-satunya keluarga yang masih mau menerimanya. Adik yang berharga.
Jonghun menemui Junhee beberapa minggu sekali. Terkadang sebulan sekali. Hanya untuk menanyakan keadaannya, keadaan orang tua mereka. Berbincang dengan Junhee membuat Jonghun lebih tenang. Bagaimana pun, ia adalah seorang anak yang begitu menyayangi ayah ibunya lebih dari apa pun.
Junhee juga terkadang berusaha menasihati Jonghun. Untuk mengalah. Untuk pulang. Lalu Junhee akan bercerita tentang ibunya yang begitu terpuruk karena terpisah jauh dengan buah hatinya. Dan kemudian Jonghun akan terdiam. Tertunduk sedih, namun tak mau memenuhi keinginan itu.
Jika sudah begitu aku akan memecah suasana beku dengan gurauan. Membuat mereka kembali bicara tenang. Membuat mereka kembali bercanda layaknya kakak dan adik yang saling merindu.
"Terimakasih sudah menemaniku." Jonghun menatapku penuh rasa terimakasih. "Junhee tak suka jika aku menemuinya bersama Jonghyun. Yah... Walau bagaimana pun, tak satu pun dari mereka yang bisa menerimaku sepenuhnya..."
"Tak masalah. Dongsaengmu cantik. Apa dia sudah punya kekasih? Hehehe."
"Apa maksudmu?"
"Aku single. Hahaha!"
Jonghun tertawa. Menyikut bahuku.
"Aku sungguh-sungguh! Hahaha!"
"Tidak, tidak boleh. Hahaha."
"Wae? Apa aku tidak masuk kriteriamu, kakak ipar?"
"Kau lebih cocok menjadi Eonnie nya! Hahaha! Lihat wajahmu itu."
"M-Mworago? Ya~ kau mau bilang tampangku ini seperti wanita begitu?!"
"Hahahahahaha! Kau yang bilang, bukan aku! Hahaha!"
Aku bersungut-sungut kesal. Candaannya hanya membuatku teringat insiden di klab malam kemarin dulu, saat salah satu temannya yang kurang ajar menyentuh pipiku, mengatakan bahwa aku cantik. Geh! Menyebalkan.
Tapi wajah tawa Jonghun terlalu menyenangkan untuk membuatku kesal.
"Huh! Kalau aku Eonnie nya, itu artinya kau adalah nae oppa, iya kan?"
"O-Oppa?"
"Jonghun Oppa~~" godaku, menarik lengan bajunya sok manja. Jonghun bergidik.
"Hentikan! Aku tidak mau!"
"Jonghun Oppa~~~ Oppa~~~ belikan aku Eskrim, hn~?"
Jonghun meringis ngeri, dan itu membuatku makin gemas menggodanya. Hahaha! Lihat wajahnya! Hahahahhahaha!
"Jangan melakukan aegyo di hadapanku! Hongki-ya, hentikan!"
"Aaaang~~ Jonghun oppa~~~ 3 "
"Hongki-ya!"
Dan hari itu ditutup dengan Jonghun yang berlari ketakutan dikejar yeodongsaeng barunya. Kekekeke.
"Oppa~~!"
Malam hari. Beberapa saat setelah aku pulang kerja dan makan malam. Mandi dan menghabiskan waktu di depan televisi menonton drama. Bel berdenting.
Seseorang datang di hari yang nyaris larut.
Kubuka pintu dan mendapati Jonghyun berdiri disana.
"Jonghyun-ah?"
Tak seperti biasanya, senyumnya tak lagi ringan dan menenangkan. Wajahnya muram, dan aku bisa melihat air mata tertahan disana.
"Hongki-ya..."
Aku...
Aku hanya bisa membulatkan mata melihat apa yang ia sodorkan padaku.
"Jonghyun-ah, kau-"
tbc.
FTISLAND FACT
Mini album Jepang FTISLAND sebelum mayor debut "The One" dapat menduduki peringkat 9 di Oricon chart. Ini membuktikan meski tanpa promosi dalam skala besar, Korean Band bisa mendapatkan popularitas yang tinggi di Jepang.
Mini album "The One" menjadi album terakhir Oh Wonbin sebelum keluar dari FTISLAND tepat pada tanggal 28 januari 2009.
Song Seunghyun menggantikan posisi Oh Wonbin sebagai guitarist dan second vocalist.
FTISLAND will have a comeback stage on 21th November 2013 with The MOOD album.. Please give a lot of supports!
Read and Review!
Top of Form
