Author : Choi Hye Ri

First publish : 13 Januari 2013

Pairing : HunHong(JongKi), WonJae, and chibi SeungHwan ^^

XOXOXOTHEMOODXOXOX

"Peek,,,,a boo!"

"Aaaakkkgkgkggkkk! Ppa! Ppa! Gkgkgkgkk!"

"Sudah mandi hmm? Sudah wangi eoh?"

"Ndi! Gkgkgkgkkk!"

Min Hwan terpingkal gemas. Tak tahan melihat tingkah sang ayah yang sedari tadi tak jengah menggodanya. Sesekali Min Hwan akan menjulurkan lengannya, mencoba meraih wajah Jong Hun yang hanya berjarak sekian centi dari jemari pendeknya. Namun belum sampai lengan-lengannya terjulur seluruhnya, Jong Hun akan kembali menggoda sang aegya hingga bayi mungil itu terpingkal geli. Membuat Min Hwan reflek menarik selimut merah jambunya demi bersembunyi dari sang ayah.

Gelak tawa antara anak dan ayah itu tak lagi berlangsung lama manakala sesosok pria cantik masuk ke kamar yang lumayan besar tersebut. Hong Ki, pemuda bermata bulat itu kembali, segera menghampiri sang suami dan aegyanya yang masih tampak bermain-main. Sepasang baju dan perlengkapan bayi tak lupa ia bawa. Dengan segera Hong Ki duduk di ranjang king size itu, ikut-ikutan menggoda bayinya yang baru saja dimandikannya.

"Choi Min Hwan…jelekk!"

"Eung~ Nni, Mma! Nni!~"

Gelak tawa kembali pecah. Saat-saat seperti ini selalu terasa menyenangkan. Yaa..bagi keluarga kecil itu.

Ini hari libur. Jong Hun tak perlu berangkat ke kantor dan Hong Ki tak perlu terburu-buru menyiapkan sarapan pagi. Lagipula mereka bertiga, baik Jong Hun, Hong Ki maupun Min Hwan, ketiganya terlambat bangun tadi. Dan ini, sudah separuh menjelang siang.

"Selamat pagi chagi.."

Chu~

Kecupan manis mendarat di bibir merah jambunya. Meski tak berlangsung lama, Hong Ki sedikit membalas hadiah kecil dari sang suami. Keduanya tersenyum, diikuti Min Hwan yang tergelak geli melihat pemandangan di hadapannya.

"Baby Minari juga mau eoh?"

"Ppo!"

Min Hwan bersorak senang. Mengangkat tinggi-tinggi handuknya antusias. Tak sadar. Handuk yang didudukinya itu tertarik terlalu kuat. Kecelakaan kecil pun tak terhindarkan. Bayi manis itu terjungkal ke belakang. Kepala mungilnya membentur kasur empuk, dengan posisi tangan terentang lebar. Terdiam sejenak, tentu saja Jong Hun dan Hong Ki terkejut. Sedikit panik, hingga suara rengekan itu terdengar juga.

"Hnnnggg~mma!"

"Sssshhh,,iya sayang. Kenapa eoh? Jatuh hmm? "

Hong Ki merendahkan sedikit tubuhnya. Mencoba mendiamkan sang aegya yang tampak mulai menangis.

"Cengeng hum? Choi Min Hwan cengeng~"

"Hnggg! Hik! Mma!"

"Iya, poppo hnn? Minan mau poppo?"

Ledekan dari sang ayah enggan di dengarnya. Lebih memilih menatap sang umma yang tengah membenahi posisinya. Menidurkannya. Menarik handuk yang membelit tubuhnya.

"Pakai baju dulu hmm? Minari pakai baju dulu~"

"Hnng~ppo~"

Hong Ki terkekeh pelan, memperhatikan tingkah sang aegya yang tengah menjulurkan lengannya. Mencoba meraih rambutnya yang bergelayut seolah mengajak bayi mungil itu untuk bermain.

"Aniya. Umma hanya boleh mencium appa aegie. Arra?"

"Hng~ Mma!"

"Kkkk….pokoknya tidak boleh."

Jong Hun tak tahan untuk tak menggoda sang aegya. Di saat seperti ini, menyenangkan sekali mempermainkan emosi bayi mungil itu. Setidaknya ia bisa puas melakukannya selagi ini hari libur.

"Sudah Jong Hunnie. Sebaiknya kau segera ganti baju, dan panaskan mobilnya. Kita jadi kan akan jalan-jalan?"

"Ne, tentu saja."

Jong Hun tersenyum. Sesaat kemudian, ia hendak beranjak dari ranjang. Namun ia urungkan niatnya itu lalu merendahkan tubuhnya. Mendekati Min Hwan yang bersiap untuk dipakaikan baju.

"Nae aegie manja hmm? cengeng?"

"Kyagkgkggkgkkk ppa!"

Rengekan tangisnya sirna. Berubah menjadi gelak tawa kala sang ayah kembali menggodanya. Menggesekan hidung mancung itu ke wajah bulatnya. Hong Ki hanya bisa tertawa. Dengan pelan ia tepuk punggung lebar suaminya itu. Mengingatkan agenda yang sudah mereka rencanakan tadi.

"Sudah sana~"

"Arra~"

Cup~

Kecupan-kecupan ringan menghujani wajah Min Hwan. Bayi mungil itu pun tak dapat menahan rasa gelinya. Sesekali menggeliat, mengangkat kedua kaki mungilnya. Kembali berteriak histeris, merasa senang karena sang appa tak lagi iseng padanya, melainkan justru terlihat sangat memanjakannya.

"Jong Hun~"

Jong Hun menghentikan tindakannya. Beralih pada sang istri yang bersiap mendandani Min Hwan.

"Arrata~"

Chu!

"Ya! Aish!"

"Gkkkkgkgkgkgk Mma!"

"Iya aegie?"

Tubuh mungil itu menggeliat pelan. Kala kedua tangan sang umma dengan sangat telaten membaluri tubuhnya dengan baby oil, kemudian membubuhkan baby powder juga, Min Hwan merasa nyaman. Rasa hangat itu menjalari tubuh kecilnya. Seketika membuatnya anteng meskipun ada sang appa yang tengah menggodanya di ujung ruangan kamar besar itu, tengah ganti baju.

"Sekarang Minari pakai baju, otte?"

Selesai memakaikan popok, pemuda cantik itu memakaikan baju untuk sang aegya. Sebuah kaos biru lengan pendek dilengkapi baju kodok berbahan lembut dengan warna coklat. Tampak imut. Bahkan jauh lebih menggemaskan dila dibandingkan dengan keseharian bayi mungil itu di lain waktu. Kali ini, ia tampak begitu lucu.

"Selesai… nae aegie sudah tampan kkkk.."

Hong Ki mengangkat tubuh kecil itu hat-hati. Menerbangkannya di udara hingga Min Hwan bersorak senang.

"Sekarang kau yang ganti baju, setelah itu, kita berangkat."

Jong Hun mengambil alih tubuh ringkih itu. Menggendongnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Jerit lucu jelas terdengar makin membahana. Min Hwan senang, ya senang. Beruntung dirinya memiliki ayah dan ibu yang sangat menyayanginya. Begitu memanjakannya.

Ping ^o^/

"Kita berangkat!"

"Gykgkgkgkkkkk!"

Min Hwan tertawa senang. Memainkan pikachunya di seat car bagian belakang. Sementara Jong Hun menyetir, dan Hong Ki duduk di samping sang suami.

Tubuh mungil itu aman, terlindungi perlengkapan seat car yang memang di rancang khusus untuk bayi. Beberapa detik berselang, mobil hitam itu akhirnya bergerak juga. Melaju menuju tempat wisata yang hendak keluarga Choi itu kunjungi.

Masih dalam perjalanan. Selama itu pula, Min Hwan berceloteh ria. Meneriakkan apa saja yang membuatnya merasa senang. Jalanan, mobil lainnya, deretan pertokoan, bahkan para pejalan kaki. Menurutnya itu menarik, banyak hal unik yang tertangkap sepasang mata sipitnya.

"Ngg~na!"

"Eoh?"

Hong Ki berbalik. Mengamati Min Hwan yang terus saja menatap ke luar jendela. Ada apa? Apa yang membuat aegyanya itu kian antusias melihat pemandangan luar eoh?

"Na! na!"

"Ada apa chagi?"

Jong Hun pun membuka pintu jendela. Meyaksikan taman kota yang dipenuhi para pengunjung. Hong Ki pun tersenyum. Sepertinya ia mengerti apa maksud bayinya.

"Kau ingin piknik hmm?"

"Na!"

"Tapi kita tidak membawa perlengkapan piknik aegie.."

"Hngg~"

"Mungkin kita bisa menumpang.."

"Ehm? Menumpang?"

Dahi Hong Ki berkerut bingung mendengar ucapan suaminya. Menumpang? Apa maksudnya?

Riuh ramai terdenghar di sepanjang taman itu. Ini hari libur, akhir pekan. Tak mengherankan jika taman itu penuh oleh para pengunjung. Ada yang bersantai, berkeliling dengan sepeda, piknik, bahkan ada yang berolahraga.

Dan di sinilah mereka. Jong Hun dan Hong Ki yang tengah menggendong Min Hwan. Berdiri di pintu gerbang taman kota yang penuh dengan gelembung busa. Tampak anak-anak kecil tengah berlarian kesana-kemari, mengejar temannya satu sama lain. Min Hwan tampak senang menyaksikan hal itu. Kedua kakinya menghentak-hentak pelan. Memberi tanda pada sang umma untuk segera diturunkan.

"Sekarang,,,apa yang akan kita lakukan?"

Hong Ki bergumam bingung. Disapunya pemandangan di hadapannya. Namun sesaat kemudian, seseorang tampak menegurnya, menepuk pelan bahunya.

"Hong Ki? Lee Hong Ki?"

"E-eh? I-iya? K-kau siapa?"

Suara itu tak asing, wajah itu juga sangat familiar. Tapi-tapi siapa ya?

"Aku Won Bin, Oh Won Bin. Lupa padaku, nona manis?"

"He? E-eh?"

Hampir saja lengan kekar itu terayun untuk menghajar pria yang dianggapnya tak sopan itu. Untungnya Jong Hun bisa menahan emosinya. Sebelum menegur pria itu, ia menghela nafas panjang.

"Kau siapa?"

Won Bin, pria berlesung pipi itu tersenyum kecil. Menyadari, pasti suami pria cantik itu kesal padanya.

"Aku Oh Won Bin, kau pasti Choi Jong Hun bukan? Aku dan Hong Ki, teman baik saat SMA."

Seketika wajah Hong Ki berseri senang. Ia baru ingat, Won Bin. Teman semasa SMA-nya.

"Won Bin? Ah,,maaf, aku tidak mengenalimu. Apa kabar? Kau tampak sama seperti 5 tahun yang lalu Won Bin ah.."

Salah paham terselesaikan. Pemuda tampan bermarga asli Choi itu mengerti. Tak ada yang perlu ia cemburui. Ya~setidaknya jika pemuda seumuran dirinya itu tak terus-menerus bersikap manis pada istrinya.

"Ingin bergabung?"

"Hm? Apa kalian mengadakan acara?

"Ya. Acara khusus untuk para orangtua baru."

"E-eh? O-orangtua baru?"

Celoteh bayi terdengar dimana-mana. Dan tentunya, bayi merangkak dimana-mana. Gelak tawa para pemuda-tampan dan cantik- juga menggema. Memanggil-manggil nama aegya mereka masing-masing.

"Turunkan saja Min Hwan di sana, biarkan dia bermain dengan teman-teman barunya."

Ucapan Won Bin sedikit meragukan. Min Hwan itu cengeng. Kalau dia kalah bermain, lalu menangis, lalu membuat ribut. Bagaimana?

Hey,,tapiii..namanya juga anak kecil. Itu wajar. Lagipula, menangis itu sehat untuk bayi :D

"Ngg~mma~"

"Gwaenchana, umma dan appa di sini aegie. Tak apa.."

Min Hwan menoleh sejenak ke arah Hong Ki dan Won Bin. Sesaat kemudian ia kembali melihat kerumunan bayi di hadapannya. Ia mulai tertarik. Bermain bersama mereka sepertinya menyenangkan.

Min Hwan mulai dapat berbaur. Meski belum berkomunikasi dengan baik, ia mulai mau bermain bersama bayi-bayi seumuran dengannya itu. Sementara Jong Hun dan Hong Ki, di samping terus mengawasi kegiatan putra mereka, keduanya mulai tenggelam dalam obrolan bersama orang tua lainnya, yang tak disangka beberapanya adalah teman baik mereka.

Celotehan-celotehan lucu itu tampak sulit diartikan bagi orang awam. Tapi bagi sesama bayi dan orang tua mereka, tentu saja mudah. Seperti yang terjadi antara dua bayi mungil itu. Wajahnya tampak sama, pakaiannya pun sama, hanya berbeda warna. Yah~ kembar. Bayi kembar.

"Nni! Nni! Bin!"

"Nni! Won!"

"Bin!"

"Won!"

"Aaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk!"

"Aaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk!"

"Bin! Won eyek!"

"Nni! Won! Bin eyekkkkk!"

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!"

Bruk!

"Hngg-ngg-mma! Hikhikhik mmaaaaaaaaaaaaa!"

Jae Won,,,,ah,,tidak,,,yang tampak lebih manis adalah Jae Bin,,terjungkal kebelakang setelah kalah beradu tarik dengan saudara kembarnya. Sementara Jae Won, tampak bingung mendengar saudara kembarnya menangis.

"Nyis~"

Min Hwan menunjuk Jae Bin. Ikut bingung melihat bayi cantik itu menangis.

"Bin! Bin!"

Bayi laki-laki dengan penutup kepala itu merangkak mendekat. Menghampiri Jae Bin yang masih menangis dengan posisi telentang.

"Bin! Nan nyis~"

"Ngg~hiks~mma!"

Tawa segar memenuhi percakapan para orangtua baru itu. Tak ada satu pun yang mendengar suara tangisan Jae Bin. Semuanya terlanjur larut dalam obrolan seru tersebut.

"Won ntal!"

"Nni! Bin ngeng!"

Jae Won tak mau mengalah. Meski sudah jelas dirinya yang tak mau mengalah demi saudara kembarnya, ia tetap kekeh. Merasa tak bersalah. Yeon, bayi laki-laki dengan penutup kepala tadi bisa mendiamkan Jae Bin. Sementara Min Hwan, tampak bengong, linglung dengan pemandangan yang dilihatnya.

"Bin! Chu~?"

Min Hwan pun berinisiatif. Memberikan boneka pikachunya pada Jae Bin yang masih sesenggukan. Sebenarnya Min Hwan bingung, relakah ia menghibahkan benda kuning kesayangannya itu? Namun melihat Jae Bin menerimanya, Min Hwan tersenyum lebar. Segera menarik kedua lengannya, menyedekap. Anteng, kembali diam. Minder. Tak ada yang mengajaknya bermain. Hingga akhirnya Yeon mendekat. Memberikan satu genggam coklat pada Min Hwan.

"Ngu~"

"Hing~"

"Tat~"

"Tat~?"

"Mam tat~"

"Mam!"

Min Hwan pun menjulurkan lengannya. Menerima coklat itu dari Yeon. Ia tersenyum lebar. Merasa sudah punya teman. Tak lama setelah itu, bayi lainnya turut merangkak ke arah Min Hwan. Seorang bayi laki-laki bermata sipit keturunan China, Xiu. Bayi laki-laki bermata lucu, Ji Hoon. Dan seorang bayi laki-laki manis, Wonnie.

Jae Won dan Jae Bin adalah putra kembar Oh Won Bin dan Lee Jae Jin, teman Hong Ki semasa SMA. Sedangkan Yeon, adalah putra Jung Yun Ho dan Kim Jae Joong. Dan bayi-bayi lainya, merupakan adalah putra dari senior Jong Hun serta Hong Ki.

Hari makin terik. Sang surya makin meninggi. Acara piknik para bayi dan orang tuanya itu diakhiri dengan acara makan bersama, semuanya tampak berbaur. Termasuk para bayi itu yang masih saja ingin waktunya makan.

"Sampai jumpa lain waktu~"

"Ne.."

"Hati-hati di jalan!"

"Tentu, kami pulang dulu. Anyeong~"

Pertemuan itu berakhir. Mereka berjalan berlawanan arah. Hendak kembali ke rumah masing-masing.

"Apa hari ini uri aegie senang hmm?"

"Hing~kkkkkk~"

Jong Hun dan Hong Ki ikut tertawa melihat wajah Min Hwan yang masih tampak antusias.

"Na!"

"Hm? Apa lagi chagi? Hari sudah panas, kita harus pulang."

"Na! Na!"

Min Hwan menunjuk ke bawah. Mata sipitnya mengamati sesosok bayi laki-laki tengah berdiri di antara ayah dan ibunya. Bayi itu membawa satu buah cup es krim, dan tentu saja tengah menikmatinya. Tampaknya Min Hwan tertarik, ingin juga merasakan es krim.

"Minari ingin es krim?"

"Clim~!"

"Apa boleh uri aegie makan es krim? Dia masih kecil Jong Hunnie.."

Jong Hun mengerti, tapi jika diawasi dan disuapi, tidak apa kan?

"Gwaenchana, kita beli saja. Kau juga mau es krim bukan?"

"Umm..baiklah.."

Hong Ki menurunkan Min Hwan. Sementara dirinya memilih rasa es krim yang disukainya bersama Jong Hun.

Min Hwan berdiri sedikit terhuyung. Antusias mengamati bayi yang menarik perhatiannya tadi. Bibir mungil itu bergerak samar, sesekali lidah pendeknya terjulur. Membuat air liur bayi itu sedikit menetes.

"Clim~"

Min Hwan menunjuk es krimnya. Es krim bayi laki-laki berwajah lebar itu. Satu langkah, dua langkah. Min Hwan semakin mendekat. Tangan kanannya terjulur hendak merebut es krim tersebut.

"Clim~gkgkgkgkk~"

Bruk!

"Ngggg~hikhikhikhikk~mma! Mma!"

Min Hwan yang menabrak. Ia pula yang menangis. Wajah bulatnya tampak belepotan terkena es krim. Sedangkan tubuh mungilnya yang sedikit gempal (?) menindih bayi laki-laki berwajah lebar tadi.

"Aigoo Min Hwan, apa yang sudah kau lakukan?!"

Hong Ki berseru panik. Segera mengendong Min Hwan. Sedangkan Jong Hun, meminta maaf pada orang tua bayi itu.

"Gwaenchana, ini bukan sepenuhnya salahnya. Lagipula Hyunnie juga tidak apa-apa, tidak menangis."

Orang tua bayi itu tersenyum maklum. Salah satu dari mereka segera menggendong bayinya yang tampak anteng-anteng saja.

"Ini, bersihkan wajah putra kalian."

Ibu bayi itu memberikan sekotak tisu pada Hong Ki.

"N-ne,,terimakasih. Maaf merepotkan."

Keduanya tampak anteng bermain. Walau baru bertemu, tapi keduanya tampak akrab. Saling berbagi es krim yang mereka beli tadi.

"Sekali lagi kami minta maaf, Min Hwan memang nakal, cengeng."

"Tak apa, mereka masih kecil. Itu wajar,"

Dua bayi itu masih asyik dengan es krimnya. Min Hwan tampak sangat menyukai es krim yang dipilihkan oleh sang umma. Sedangkan Hyunnie, bayi laki-laki itu justru diam memperhatikan Min Hwan.

"Clim~"

"Na~"

Min Hwan menerimanya dengan senang. Tangannya terjulur hendak mengambil es krim itu. Namun Hyunnie, atau bernama lengkap Seung Hyun, ikut mendekat. Sangat dekat dengan wajah Min Hwan.

Cup~

Es krim itu menempel di pipi Min Hwan. Seung Hyun menciumnya. Ya~ meski tak tahu artinya, yang Seung Hyun tahu, ciuman adalah tanda jika kita menyukai seseorang.

"Ppo~"

Min Hwan terbengong sejenak. Menyentuh pipinya yang basah karena es krim.

"Ppo~"

Min Hwan tertawa kecil. Ikut mendekat ke arah Seung Hyun dan…

Chu~

Menempelkan bibir mungilnya pada bibir Seng Hyun yang belepotan dengan es krim. Tubuh Seung Hyun tak mampu menahan tubuh gempal Min Hwan. Hingga akhirya keduanya pun jatuh. Saling menumpuk layaknya orang berpelukan.

"Aigoo~ Min Hwan, kenapa suka sekali menimpa tubuh Seung Hyun eoh?"

END OF CHAPTER

FTISLAND Facts :

Jonghun memberi nama dirinya dan Hongki dengan nama HunHong couple pada salah satu postingan twitternya. Meskipun pris internasional lebih sering menyebut mereka dengan JongKi couple. Namun karena arti "JongKi" dalam bahasa korea berarti "Boil/Bisul" maka Jonghun dan pris korea lebih sering memanggil mereka HunHong couple. LOL

Choi Minhwan dan Song Seunghyun adalah duo magnae FTISLAND yang sangat dekat satu sama lain. Bahkan meski mereka telah memiliki kamar masing-masing di dorm, mereka lebih sering tidur bersama dalam satu ranjang. kkk...

WonJae adalah nama salah satu couple di FTISLAND yaitu Wonbin dan Jaejin.