I don't know how to express that I like you!
DISCLAIMER: Vocaloid bukan punyaku. Aku membuat fic ini karena aku suka dengan Vocaloid. Nah, Vocaloid itu punya Yamaha dan Crypton Company.
Chapter 2: Is This What They Called Love?
Tap. Tap.
Seorang gadis berambut merah muda memasuki koridor sekolahnya dengan langkah malas. Siapa lagi kalau bukan Megurine Luka?
Langkah Luka berhenti di depan pintu kelasnya. Mengingat kejadian kemarin, dia agak ragu untuk memasuki kelas. Selain bertemu Gumi, dia juga harus bertemu dengan Gakupo – ya, Gakupo, cowok playboy itu. Luka menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kelas.
"Selamat pagi," ujar Luka singkat.
Begitu Luka masuk, suasana kelas sudah ramai sekali. Kegaduhan itu berasal dari area bangku Luka, tepatnya dari sebelah bangkunya. Tampak seorang cowok berambut ungu sedang dikelilingi oleh gadis-gadis yang berteriak heboh.
Tuh, kan. Luka merutuki cowok itu karena ketidakmampuannya mengontrol pesonanya dalam hati, lalu melangkah pelan menuju bangkunya.
Sekilas, Luka melihat ke arah kerumunan gadis-gadis itu. Salah satunya adalah Gumi. Gumi tampaknya tidak menyadari kalau Luka sudah duduk di bangkunya. Yang ia kerjakan sedari tadi hanya memamerkan wangi parfumnya itu. Luka berusaha untuk tidak peduli, dan mulai membuka buku teks pelajarannya dan memilih diam sambil belajar.
Tiba-tiba, bel sekolah tersebut berbunyi nyaring. Dan, persis seperti kemarin, Gakupo dan gadis-gadis penggemarnya itu masih asyik membuat heboh kelas itu. Kali ini Luka memilih untuk mendiamkan mereka. Dia tidak mau memancing pertengkaran seperti kemarin pagi.
Gakupo melirik ke arah Luka sekilas. Gadis itu sedang membaca sebuah buku yang cukup tebal, entah buku apa. Raut wajahnya tampak serius, tapi juga tenang. Sesekali Luka menutup telinganya sambil mendecakkan lidah. Gakupo tahu persis, penyebabnya adalah karena Gumi dan teman-temannya yang sedari tadi asyik memamerkan barang-barang yang mereka punya kepada dirinya dengan frekuensi suara yang sangat keras. Gakupo tersenyum dan memuji mereka, tetapi sebenarnya ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Jauh di dalam hatinya, Gakupo sebenarnya tidak berminat sama sekali mendengar percakapan itu. Yang ingin ia lihat dan dengar hanyalah suara dan wajah Luka yang manis.
Tunggu. Manis? Apa yang barusan ia pikirkan tadi? Luka selalu menghindarinya, apalagi saat ia sedang bersama Gumi dan teman-temannya. Gakupo setengah mati berharap itu karena Luka cemburu, tetapi jangankan cemburu, Luka bahkan selalu kasar menghadapi semua kata-katanya. Gakupo selalu senang melihat wajah Luka yang merengut karena kesal begitu ia melontarkan gombalan-gombalan andalannya. Baginya, sisi diri Luka yang seperti itu sangat manis.
Ah, lagi-lagi kata "manis" itu berkelebat di benaknya…
Tepat saat Gakupo mengalihkan pandangan dari Luka, sekarang giliran Luka yang menatap Gakupo. (cieee liat-liatan XD). Dan – saat itu juga – guru IPA mereka, Bu Meiko, melenggang masuk ke dalam kelas.
Luka melongo, lalu menengok ke arah Gakupo dan gadis-gadis yang mengerumuninya. Mereka masih saja heboh seperti itu. Luka menggigit bibir, tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Benar saja, Bu Meiko langsung berteriak, "HEI!"
Hening sekejap. Luka menahan nafas.
"Gumi! Apa yang sedang kamu lakukan?" Teriak Bu Meiko kepada Gumi yang langsung diam.
"Sa…Saya…" Gumi menggigit bibir, dan Luka bisa melihat setetes peluh mengalir dari wajahnya.
"Kamu dan teman-temanmu, saat istirahat nanti, temui Ibu di ruang guru!" Perintah Bu Meiko dengan tegas.
"Saya, Bu?" Mata Meiko melebar.
"Iya! Kamu dan teman-temanmu itu! Dan, kamu, Gakupo! Kamu juga harus pergi ke ruang guru!" Bu Meiko menunjuk-nunjuk wajah Gakupo dengan mimik muka kesal.
"Saya? Saya juga?" Gakupo menunjuk dirinya sendiri, tampak clueless.
"Kamu ini punya masalah dengan pendengaranmu atau apa? Istirahat nanti, ikutlah dengan Gumi – juga teman-temannya – ke ruang guru, dan temui Ibu di sana!" Bu Meiko menggebrak meja guru dengan kasar, membuat Neru – gadis yang berada persis di depannya – berjengit kaget.
"Iya, Bu." Gakupo mengangguk dengan pasrah.
Sementara, Luka hanya bisa ngikik sendirian.
Tepat pada jam istirahat, Gakupo, Gumi, dan teman-teman Gumi sudah berlalu ke ruang guru. Luka menatap kepergian mereka dengan tatapan datar. Dia tidak tahu harus merasa sedih atau senang melihat Gakupo dihukum.
Lho… tunggu, kenapa juga dia harus merasa sedih? Bukankah seharusnya dia merasa senang melihat cowok itu dihukum?
Yah, entahlah. Luka sudah tidak tahu lagi.
Tepat saat bel masuk berbunyi, Gakupo, Gumi dan teman-temannya masuk kembali masuk ke dalam kelas dengan langkah gontai. Luka menatap mereka dengan heran. Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di benaknya. Apa hukumannya? Kenapa hukuman itu memakan waktu yang sangat lama?
Gakupo duduk di bangkunya dengan wajah lelah. Luka ingin menanyakan apakah dia baik-baik saja, tetapi dia merasa sangat gengsi untuk mengatakannya. Seorang Megurine Luka tidak mungkin khawatir kepada seorang Kamui Gakupo. Itulah faktanya. Itulah hal yang selalu Luka tanamkan di benaknya. Akan tetapi, semuanya berubah sekarang.
Hei, tunggu, bukan berarti Luka jatuh cinta kepada Gakupo atau semacamnya, kan?
Pluk. Tiba-tiba sebuah remasan kertas jatuh di meja Luka, persis seperti kejadian kemarin. Luka menoleh ke arah Gakupo. Cowok itu sekarang sudah tersenyum kepadanya.
Glek. Luka menelan ludah, berusaha mengontrol emosinya sebelum wajahnya memerah sepenuhnya, Luka buru-buru membuka kertas tersebut.
"Hai, cantik.
Ada apa? Apakah kamu khawatir kepadaku?
-Kamui Gakupo."
Memang benar Gakupo itu tampan. Tapi, narsisnya itu luar biasa.
Eh? Apa yang Luka pikirkan tadi? Tampan? Wajah Luka langsung memerah.
Oh, tidak. Ini pasti karena cuaca di luar yang sangat panas. Luka berusaha berpikir secara rasional.
Walaupun jelas-jelas melihat ada sebuah AC besar di sampingnya, Luka tetap saja tidak mau merubah pendapatnya.
Berusaha untuk mengabaikan fakta barusan, Luka akhirnya menulis sebuah jawaban.
"Dasar baka. Nggak mungkin aku khawatir kepadamu!
Narsismu itu seperti biasa nggak hilang-hilang, ya!
-Megurine Luka"
Gakupo terkekeh begitu membaca rangkaian tulisan itu. Benar, kan? Gadis itu pasti menjawab. Gakupo meraih pulpennya dan mulai menulis lagi.
"Oh, ya? Kukira kamu khawatir kepadaku.
Luka, ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Gumi sedari tadi marah-marah dan mengatakan semuanya adalah salahmu. Aku hanya memperingatkan, siapa tahu nanti dia akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu. Jadi, setidaknya kamu sudah bisa mengantisipasinya atau setidaknya tahu alasannya, ya.
-Kamui Gakupo."
Gumi bilang begitu? Luka mengernyitkan alis. Luka akhirnya kembali menulis sebuah jawaban.
"Oh, ya? Aku bahkan tidak merasa bersalah.
Bukankah di hari pertama dia tidak suka ketika kuberi nasihat? Kenapa setelah kudiamkan saja, dia juga marah-marah lagi kepadaku?
-Megurine Luka"
Sebuah balasan kembali sampai di meja Luka.
"Entahlah. Aku juga tidak mengerti jalan pikirannya.
Tapi, seperti yang kemarin kukatakan, jangan bebani pikiranmu, ya? Kamu sangat cantik kalau kamu tersenyum, lho!
-Kamui Gakupo."
Ngegombal lagi… Luka menghela nafas, tidak habis pikir kenapa perilaku ini tidak kunjung hilang dari diri seorang Gakupo.
"Dasar baka.
-Megurine Luka"
Gakupo tersenyum tipis.
"Dasar tsundere. Padahal sebenarnya kamu suka sama aku, kan?
-Kamui Gakupo."
Dheg. Jantung Luka berdegup kencang. Tidak… Perasaan ini tidak mungkin perasaan suka, kan?
"Nggak mungkin! Mimpi saja sana!
-Megurine Luka"
Gakupo hanya bisa melihat rangkaian tulisan itu dengan mimik wajah datar. Benar juga. Tidak mungkin seorang Megurine Luka menyukainya.
"Baiklah.
-Kamui Gakupo."
Baiklah? Apa maksudnya? Luka mengernyitkan alis dengan heran.
"Maksudmu?
-Megurine Luka"
Gakupo tersenyum. Dia akan berusaha menyampaikan perasaannya lewat gombalan-gombalannya kepada Luka. Biarlah dia memulainya secara perlahan-lahan.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku.
Suatu saat, aku akan membuat hatimu itu menjadi milikku.
-Kamui Gakupo."
Luka tersentak. Ini hanya sebuah gombalan saja, bukan? Cowok itu tidak serius, kan?
Wajah Luka secara perlahan memerah. Sebenarnya, Luka setengah mati berharap tulisan ini jujur.
Hei…tunggu, dia tidak betulan menyukai Gakupo, kan?
Luka melirik Gakupo sekilas. Cowok itu sedang memainkan pulpennya dengan santai. Padahal dia baru saja membuat perasaan seorang gadis campur aduk.
Benarkah perasaan ini perasaan cinta?
AUTHOR'S NOTE!
Chapter 2 updated! Yuhu! Aku seneng banget nulis karakter Luka yang tsundere-nya luar biasa. Karena aku juga sama-sama tsundere, jadi rasanya mudah menulis karakternya.
Yak! Mind to review?
