Not Too Late To Wait
Story by : Shan Sin
Naruto© Masashi Kishimoto
GaaHina
Romance , Hurt/comfort
Warn : Typo, Alur ngebut, cerita boring and pasaran
But, happy reading ^^
Gaara membuka matanya, putih, itu yang dia lihat. Semuanya putih dan Gaara sudah hafal dengan tempat itu, rumah sakit Konoha. Ya, tempat yang sering dia kunjungi sejak dia masih sangat kecil, sejak dia lahir dengan penyakit yang sangat dibencinya. Sayangnya tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit itu, ya… jantung yang lemah memang tidak memiliki obat, penyakit itu hanya memiliki obat untuk mempertahankan kestabilannya. Jika dia lupa minum obat, jantungnya akan berdegub cepat dan makin nyeri hingga akhirnya pingsan.
Selama ini Hinata belum mengetahui kalau Gaara memiliki penyakit itu, hanya keluarga Gaara yang mengetahuinya. Dia tidak ingin Hinata tahu karena dia tidak ingin Hinata mencintainya hanya karena kasihan akan penyakitnya. Lebih baik begini, makanya dia sangat rajin minum obat karena tidak mau Hinata melihat penyakitnya kambuh. Tapi hari ini dia lupa untuk meminumnya.
Belum lama dia bangun seorang perawat memasuki ruangan "ah… kau bangun juga Gaara, aku bingun, Temari sangat berisik tadi menanyaiku tentang keadaanmu. Tadi dia sudah masuk dan melihatmu tidur dan akhirnya ke café untuk meminta izin kau tidak bekerja" kata Sakura.
Dia selaku dokter, sekaligus saudari sepupu Gaara tentu sudah tahu akan penyakit yang diidapnya, dan perkataan tadi sempat membuatnya berfikir 'kalau Temari izin agar aku tidak bekerja, berarti Hinata…' fikir Gaara, dia langsung bangkit dari tempat tidurnya.
"eits… mau kemana kau? Kau tidak boleh bekerja dulu! Jantungmu belum stabil dasar bodoh!" kata Sakura mencegat Gaara.
"aku tidak bisa membiarkan Hinata tahu" kata Gaara hendak membuka pintu kamar.
"kau itu tolol atau bodoh sih!" kata Sakura yang membuat Gaara berhenti.
"jika kau datang kesana dengan keadaan seperti ini dan kemudian pingsan lagi, tidak dapat dipungkiri Hinata justru akan mengetahui semuanya baka! Jangan merepotkan aku, sudah pagi-pagi menelepon meminta Sasori-kun ku ke sana karena kau kambuh, dan sekarang mau menyuruh ku berbohong lebih banyak lagi kepada gadis polos itu" katanya sambil duduk di kursi. Kata-kata Sakura membuat Gaara merenung dan akhirnya kembali ke tempat tidur.
"lalu bagaimana kalau dia kesini?!" Tanya Gaara dengan lesu dan membuat Sakura berdecak kagum untuk gadis yang sering dibicarakan Gaara kepadanya dan yang membuat Gaara kebingungan seperti ini.
"aku akan berkata kau sakit maag… terpaksa aku berbohong" jawabnya dengan malas "hebat sekali gadis itu" cibir Sakura yang sayangnya terdengar oleh telinga Gaara.
"maksud mu?" Tanya Gaara dengan langsung menoleh ke Sakura.
"e-eh?! Kau mendengarnya?.." Lawan bicaranya masih bergeming dengan wajah datar.
"…huuh… baiklah, Hinata. Dia sangat hebat, setelah beberapa tahun lalu tahun kau mengenalnya, kau sangat berubah Gaar, kau lebih bersemangat. Sejak dulu aku sudah tahu penyakitmu, kau itu sepupuku. Entah dimana kau bertemu dengannya aku tidak tahu"
"Kau salah satu alasanku untuk menjadi seorang perawat, dan sekarang kau, sahabatku, sepupuku menjadi pasien tetap ku, betapa hebat dunia ini" kata Sakura sambil menerawang jauh, dia seperti menatap dinding putih, tapi fikirannya sedang mengenang masa lalu yang menyakitkan karena saudara tersayangnya yang berpenyakit.
"dan sekarang, entah penyakit itu atau kau yang – "
"aku yang lupa…" kata dengan nada sedikit malas dan mungkin menyesal.
"baikah, sekarang akibat kau lupa, mulai sekarang kau harus minum obat dengan dosis yang ditambah" kata Sakura dengan berkacak pinggang menggunakan wajah sebalnya, sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia sangat miris melihat sepupunya yang seperti ini. Sedangkan sepupunya itu (Gaara) hanya memutar matanya bosan.
"hei… sepupu, jangan pernah bosan. Huuh… kau harus bersabar Gaara, hingga ada jantung yang cocok denganmu." Kata Sakura sambil menepuk punggung Gaara.
"oh, satu lagi! Jauhi Hinata!" kata Sakura dengan bersedekap tangannya di dada.
"a-apa?!" Tanya Gaara dengan penuh kekagetan dan sangat OOC sekali. Bayangkan saja... alis (imagine) yang berkerut, mulut menganga, dengan sudut siku-siku di wajahnya, astagaaa X( memalukan.
"santai saja, itu untuk kesehatanmu. Kau saat berdekatan dengannya kan selalu dag dig dug… apa lagi saat ditaman hiburan kira-kira.. hm.. dua setengah bulan yang lalu? Benar?" senyum jahil Sakura.
"hen-hentikan Sakura!" tanpa menyadari wajahnya sudah memerah dan sedikit tersenyum karena mengingat tentang wajah Hinata yang sedang tersenyum dan membuat jantungnya dag dig dug dan darah mendesir.
"ahahahahahaha…. Kau… hahahaha… sungguh hebat Hinata dapat membuat kau jauh berubah seperti itu! Hahahaha…" tawa Sakura terpingkal pingkal.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata lavender melihat kebahagiaan mereka dengan air mata yang sudah penuh dalam bendungan kecil di kantung matanya. Gadis yang sedang melihat Gaara merona dengan senyum yang ia kira hanya untuknya dan ternyata dia tersenyum dan bersemu merah akibat seorang gadis lain bersurai merah muda bak bunga musim semi. Dengan keadaan Sakura yang membelakangi pintu hingga gadis lain berambut indigo yang berada di luar tidak melihat yang sebenarnya, ditambah lagi ruangan itu kedap suara dan membuat Hinata semakin yakin kalau gadis ini adalah orang telah membuat Gaara jatuh cinta.
Kalau ditanya kenapa Hinata ada disana, itu karena saat Temari berkata Gaara ada di RS. Konoha, karena panic Hinata langsung pergi untuk menjenguk Gaara ke rs, dan disinilah dia sekarang.
'ternyata ini yang membuat Gaara jatuh cinta' piker Hinata, tanpa ia sadari ternyata yang ia merasa sedih. 'kenapa aku sedih begini? Bukankah bagus, Gaara-kun sudah dapat seseorang yang menyayanginya' batin Hinata berkecamuk. Dia merasa sakit, hati nya sakit, sekarang dia hanya dapat terduduk di kursi samping pintu kamar Gaara, bingung harus berbuat apa.
Beberapa menit kemudian gadis itu keluar dan berjalan membelakangi Hinata, mengetahui itu Hinata langsung mengetuk pintu.
Tok, tok, tok…
"masuklah…" kata Gaara yang baru saja berbaring dan tubuhnya langsung kaku ketika yang masuk adalah orang yang paling Gaara tidak ingin temui dalam keadaan begini.
"hm… hai Gaara-kun, aku dengar dari Temari-nii kau ada di rumah sakit, jadi aku menjengukmu" sapa Hinata sekaligus memberi alasan atas kedatangannya.
"hai" sapa sang maroon balik.
"apa lambungmu kambuh lagi Gaara-kun?" Tanya Hinata cemas, yah… yang Hinata ketahui adalah Gaara memiliki penyakit maag kronis karena itulah yang Gaara beri tahu ke Hinata setiap kali dia pergi ke dokter.
"begitulah" jawab Gaara dengan sedikit senyum, beruntung dia orang dapat dengan mudah memainkan peran hingga Hinata tidak curiga.
"huhh, makanya… Gaara-kun itu jangan sampai lupa makan, lihat nih kau sakitkan" omel Hinata (dengan nada lembut) /?.
"iya iya… kau itu cerewet sekali Hinata" jawab Gaara sambil menyentil hidung Hinata.
"ishh… makanya, segaralah pacari wanita yang kau sukai itu! Agar dapat perhatian" kata Hinata sambil mengelus hidungnya yang disentil oleh Gaara. Meski dia sedikit tidak rela dihatinya, tapi yasudahlah, yang penting kan sahabatnya itu bahagia.
"bisakah aku memacarinya? Dia sudah menyukai orang lain" gumam Gaara namun dengan mudah di dengar oleh Hinata.
"itu hanya baru menyukai orang lain, belum memiliki dan belum menikah. Oh ayolah masa Gaara-kun seperti itu? Tidak seperti Gaara-kun yang ku kenal. Kau harus lebih berusaha kalau begitu, kau kan pintar Gaara-kun, kenapa Cuma gara-gara itu saja sudah jatuh, kan waktu aku bilang suka pada Sai-kun kau yang menyuruhku untuk mendekatinya jika Sai-kun tidak sadar, dan sekarang malah Gaara-kun sendiri sudah menyerah hanya karena itu, itu namanya mengibaskan berdera putih sebelum perang!" Kata Hinata panjang kali lebar dan Gaara yang mendengar itu hanya bisa berdecak kagum, Hinata dapat berkata sepanjang itu, wow.
Hinata yang baru sadar atas kata-katanya yang panjang kali lebar kali tinggi langsung saja menutup mulutnya, kaget? Tentu saja, malu? Dapat dilihat dari wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"u-um… ka-kata-kataku itu terlalu panjang ya G-gaara-kun?" Tanya Hinata dengan wajah yang ditundukan karena sangat malu.
Sedangkan Gaara yang baru saja sadar atas keterkejutannya langsung saja mengelus pelan surai indigo milik Hinata "tidak apa, itu sangat menyadarkan aku. Arigatou Hinata-chan" jangan Tanya Hinata kenapa. Dia langsung memerah mendengar Gaara memanggilnya dengan suffix 'chan' ini pertamakali dalam seumur hidup Gaara memanggil orang dengan suffix 'chan'.
"Se-sekarang Gaara-kun harus istirahat, aku harus kembali kerja dan Gaara-kun harus cepat sembuh! Makan yang teratur, minum obat istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak makan makanan pedas, jangan mengerjakan tugas kantor disini ja–" belum selesai Hinata berbicara, Gaara sudah merangkum wajah Hinata dengan kedua tangannya.
"dengar Hinata, aku tidak apa-apa, besok aku akan segera pulang dan bekerja lagi, jadi jangan cerewet" kata Gaara dan kemudian menepuk kepala Hinata.
"baiklah, jaa Gaara-kun" setelah itu dia pergi dan menutup pintu.
"jaa" balasnya.
Setelah Hinata keluar dari rungannya, Gaara merasa lebih lega, karena tidak perlu berbohong lebih banyak lagi kepada Hinata.
Sedangkan diluar, Hinata sedang mendesah sedih karena dia merasa Gaara tidak membutuhkannya. 'apa cukup hanya gadis itu Gaara-kun?' batin Hinata.
Dan ketika diperjalanan pulang, Hinata mendengar percakapan antara Sakura dan seseorang di dekat toilet, dari suaranya Hinata mengira kalu itu Kankurou, kakak kedua Gaara.
"dan apa kau sudah menemukan jantung yang cocok?" Tanya Kankurou.
"yaah… Jantungnya itu sangat jarang, tapi aku sudah menemukannya dan siap operasi sekitar satu bulan lagi" jawab seorang dokter dengan senyum yang menggambarkan kelegaan.
"tapi.. aku sedikit hawatir kalau Gaara tidak dapat terselamatkan. Ini sangat beresiko" lanjut Gadis pink itu dengan mata yang hampir basah.
"yah begitulah Sakura, tapi aku percaya kalau Gaara dapat bertahan"
"hm.. ya.. aku sangat menyayanginya"
Betapa mengejutkan tentang apa yang di bicarakan oleh Kankurou, dokter dan Sakura, itu semua membuat Hinata pusing, katanya Gaara hanya terkena maag, tapi sekarang kenapa mereka malah membicarakan jantung? Kenapa dia tidak cerita ke Hinata? Kenapa dia tidak percaya Hinata? Siapa yang sebenarnya berbohong? Dan masih banyak lagi pertanyaan menggantung di kepalanya, aah… mungkin dia harus bertanya kepada Gaara besok saat dia menjenguk lagi.
Sedangkan sekarang Hinata sudah berada di café karena tidak ada yang menjaga selain dia, dia duduk di salah satu bangku dan termenung 'apakah Gaara-kun benar-benar mencintai perempuan itu? Pantas saja dia sering ke dokter… rupanya untuk bertemu gadis pink itu. Tadi itu siapa namanya… Sakura ya? Perasaan apa ini? aku tidak merasa rela.. kenapa? Apa aku jatuh cinta pada Gaara-kun? Huu… apa yang harus aku lakukaan' batin Hinata terus berbisik dengan tidak rela melihat Gaara dan Sakura berlama-lama bersama.
"yo! Hinata-chan" sapa seseorang dari pintu café yang berdekatan dengan tempat Hinata.
"Naru-kun, oohayou!" sapa balik Hinata dengan wajah yang susah payah dibuat sebaik mungkin.
"ada masalah apa? Masalah cinta?" goda Naruto yang langsung membuat wajah Hinata merona tapi juga meredup.
"ti-tidak ada masalah Naru-kun" jawab Hinata dengan senyum yang terpaksa.
"oh ayolah… Hinata, aku sudah mengenalmu sejak di Suna dulu. Katakan saja, ada apa?"
"entahlah Naru-kun, aku juga bingung kenapa bisa begini" jawab gadis itu denan tertunduk sendu, andai ini adalah sebuah fanfic akan dipastikan ada kabut tebal berwarna hitam dengan hujan dan petir di atas kepala Hinata.
"biar ku tebak, kau sedang sedih?"
"iya.."
"kecewa?"
"benar"
"bingung?"
"uh huh"
"jatuh cinta"
"bisa dibilang begitu"
"kau tahu Hinata? Menurutku kau sedang jatuh cinta dan cinta itu kau rasa bertepuk sebelah tangan hingga kau jadi galau begini, aku berasumsi kau baru saja patah hati. Saran ku, kalau kau suka, lebih baik kau nyatakan saja kepadanya, dari pada menunggu kepastian dari si panda merah itu, tidak ada salahnya kau yang bergerak" lanjut Naruto panjang lebar.
"tidak salah ya… - eh?" seketikan wajah Hinata memerah karena malu ketahuan kalau dia menyukai sahabatnya sediri. "N-Naru-kun tahu dari mana?"
"sudahlah, sekarang lebih baik kau menyatakan pada Gaara tentang rasamu itu" kata Naruto sambil mengacak rambut Hinata.
"Naru-kun… d-dia sudah memiliki gadis lain di sisinya, aku merasa tidak enak" jawab Hinata.
"kau tahu dari mana? Belum tentu dia gadisnya"
"aku melihatnya, dia seorang perawat disana dan dia sangat cantik, ceria, pantas saja Gaara-kun betah di RS itu, dan aku melihat Gaara-kun bersemu saat gadis itu berbicara dengannya, a-ak-aku… auh.. sakit, sakit sekali" perkataan Hinata diakhiri dengan Hinata yang memegang matanya yang terasa sangat perih dan kepalanya pusing, sayup terdengar suara naruto memanggilnya dan kemudian semua gelap.
Hinata POV's
Bau apa ini? Seperti bau obat dan antiseptic, tidak seperti kamarku yang berbau lavender. Akhirnya kucoba untuk membuka mata dan apa yang aku lihat? Gelap? Kenapa semua gelap? Ada kah yang mematikan lampunya. Kemana Naruto seingatku tadi aku bersama Naruto dan tiba-tiba mata ku sakit dan terbangun disini.
"Naru-kun? Naruto-kun… kau dimana? Tolong nyalakan lampunya, aku tidak dapat melihat apa-apa" pinta ku kepada Naruto untuk menyalakan lampu karena jujur ini sangat tidak nyaman.
"Hinata-chan…" panggil Naruto dengan suara yang serak seperti habis menangis.
"Kau kenapa Naru-kun? Kau seperti orang habis menangis, dan kenapa semua lampu padam? Aku merasa kurang nyaman" kataku mengutarakan perasaanku kepada penglihatan yang seperti orang buta ini.
c-chotto, buta? "N-Naru-kun apa aku benar…" dan tanpa ku perintahkan muncul anak sungai yang terus mengalir dan sulit dihentikan. Kurasakan Naruto memelukku dengan tubuh bergetar, dia juga menangis. Aku tidak menghiraukannya dan aku malah membayangkan Gaara. Dengan kebutaanku ini aku tidak dapat melihat Gaara tersenyum, marah, melihatnya menjahiliku, melihat tawanya yang jarang, dan yang paling penting sekarang aku merasa lebih tidak berguna dari sebelumnya.
Hilang sudah harapan, bagaimana kalau Gaara tahu? Apa dia akan menjauhiku dan menganggapku sudah tidak berguna, membenciku karena aku seperti ini? Dan dia pasti akan mengganti aku dengan asisten lain, memikirkan itu membuatku sakit, dada ku sesak sekali.
"Sebenarnya terdapat sebuah sel kanker di mata mu, itu sudah mencapai stadium tiga dan harus segera dioperasi, tapi para dokter harus menunggu ada pendonor" jawab sorang pria yang aku kenal sebagai tousan, dan aku dapat mendengar tangisa Kaasan dan Hanabi, entah sejak kapan mereka disini.
"b-begitu ya…" kataku sambil tersenyum pahit, ini semua sangat menyiksa.
Gaara-kun… kau dimana? Apa kau baik-baik saja? Aku belum sempat bertanya padamu tentang kebenaran penyakitmu itu dan sekarang aku buta dan tidak bisa melihat perubahan ekspresi mu saat berbohong.
End Hinata POV's
Semenjak itu Hinata tidak keluar dari ruang inapnya, padahal Naruto selaku sahabat baik Hinata selalu menyemangatinya setiap hari, Gaara belum tahu akan hal itu karena dia sedang masa dropnya, dia tidak boleh mendapat kekagetan sedikit saja.
"Sakura, apa Hinata tidak menjenguk sewaktu ku tidur?" tanyanya gusar, dia takut terjadi apa-apa terhadap orang yang disayanginya.
Sakura tahu apa yang terjadi pada hyrres Hyuuga itu karena dia juga menjadi perawat Hinata, "Aku t-tidak tahu" jawabnya dengan mata yang memandang tempat lain.
"oh ayolah, kau tahu" tegas Gaara. Mengetahui ada yang janggal dari tingkah Sakura akhir-akhir ini dia jadi menaruhcuriga kepada gadis buble gum itu. "dimana Hinata? Sakura"
"permisi" Gadis itu lalu pergi ke luar ruang inap Gaara. Tanpa diketahui oleh Sakura, Gaara sudah bangun dari tempat tidurnya dan mengikuti Sakura hingga ke kamar inap disampingnya.
"Pagi Hinata-chan!" sapa Sakura dengan penuh semangat seperti bisaa. "aku membawakan sarapan dan obat untukmu, dan juga takoyaki yang kamu inginkan kemarin! Tapi jangan bilang pada dokter Tsunade ya!" katanya sambil mengedikpan sebelah matanya.
"arigatou Sakura-san, hontouni arigatou. Aku sangat menginginkan ini, mengingatkanku pada seseorang yang berarti untukku" Jawab Hinata sambil meraba meja dimana Sakura meletakkan takoyakinya. Tapi dia tidak dapat menggapai bungkus itu dan trus meraba hingga tangannya menyentuh tangan seseorang.
"eh tidak usah disuapi Sakura-san, aku bisa sendiri" jawabnya dengan senyum ketika dia merasa ada takoyaki di depan mulutnya. Sudah dibilang begitu tetap saja takoyaki itu ada di depan mulutnya "Baiklah.." akhirnya dia menyerah dan membuka mulutnya.
Dan tanpa tangan yang menyuapinya membersihkan bagian yang terkena sisa saus di bibir Hinata, merasa risih diapun membersihkannya sendiri dengan kecurigaan. "maaf, aku tahu kau bukan Sakura-san. Karena dia sudah keluar sedari tadi, jadi siapa kau?" tanya Hinata dengan sedikit nada curiga.
"kau… tidak mengenaliku ya Hinata" Suara barithon itu membuat Hinata sadar siapa yang sedari tadi menyuapinya.
"G-Gaara-kun?" menyebut nama itu mendorong air matanya mendesak keluar. Dan menangislah Hinata.
"apa yang terjadi pada mu Hinata?" Tanya Gaara dengan nada yang sangat lirih, beruntung Hinata tidak dapat melihat, Gaara akan sangat malu jika ketahuan tengah menangis di depan orang yang disayangi – ralat, dicintai – nya. Jangan sampai dia tahu kalau Gaara sedang…
"Kau menangis Gaara-kun?" Tanya Hinata dengan suara yang serak, ah! Ternyata dia tahu.
"ti-tidak…" bohongnya.
"Kau tahu Gaara-kun? Selama aku buta, pendengaran dan penciuman ku lebih tajam dari sebelumnya, jadi kau tidak bisa membohongiku"
"kenapa kau tidak pernah bilang kepada ku tentang penyakitmu?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut.
"entahlah Gaara-kun, aku pun baru tahu itu sekitar dua minggu lalu, aku tidak berniat menyembunyikannya… hanya saja aku…" jawabnya dengan senyum pahit.
"gomen" satu kata itu, benar-benar membuat Hinata bingung, kenapa? Kenapa dia meminta maaf? Ini kan bukan salahnya.
"untuk apa meminta maaf? Selama ini kan tidak ada kesalahan yang Gaara-kun lakukan kepada ku" jawabnya sambil meraba bagian wajah Gaara dan mengusap air mata itu semampunya.
"ini tentang penyakit ku" akhirnya… Hinata akan tahu semuanya sebentar lagi. Semua yang telah membuat Hinata pupus harapan, semua yang membuatnya tidak dapat tidur dengan nyenyak, membuatnya menangis sepanjang malam. Tahukah Gaara jika selama di rumah sakit ini Hinata tidak pernah keluar ruangan agar dia tidak bertemu dengan sang pembicara dan dia tidak siap dengan keadaannya. Dan sekarang Gaara akan jujur akan semua kebohongannya.
"Sebenarnya aku tidak mengidap maag kronis, selama ini setiap aku izin dari sekolah maupun kerja, semua itu bohong, saat aku tidak masuk sekolah dulu itu aku sebenarnya ada di rumah sakit ini" jawaban Gaara membuat Hinata bingung dan juga memiliki firasat buruk tentang apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"aku lakukan itu semua agar kau tidak menganggapku lemah, payah, penyakitan ataupun lainnya. Sungguh itu karena aku sangat – akh!..." belum selesai berkata, Gaara langsung merasa kesakitan dan seluruh tubuhnya pucat dia reflex memegang dadanya tepat di jantung. "Hinata, maaf" setelah berkata seperti itu Gaara langsung terbaring tak sadarkan diri, Hinata yang saat itu panic tidak dapat mendengar dengan jelas dan langsung mencari dan menekan tombol panggilan darurat.
Gaara membuka matanya sayup-sayup ia mendengar suara perempuan menangis, saat dia melirik ke kanan, Karura ibunya sedang menangis tersedu-sedu dengan ayanya sedang menenangkan. Sebelah kirinya Temari sang kakak sedang melihatnya dengan senyuman pahit.
"hei, s-sudah baikan?" Tanya Temari.
Gaara hanya mampu mengangguk, dan kemudian datang seorang wanita berpakaian serba putih yang dapat dipastikan adalah seorang dokter , dia mencari denyut nadi Gaara dengan stetoskop dan kemudian dia menggeleng dan berkata sesuatu pada ibunya, apapun yang dikatakan Tsunade – wanita – itu pastilah bukan berita baik karena Gaara lagi-lagi melihat ibunya menagis sangat mendalam perihnya hati.
Dengan cepat dia bangun dengan posisi duduk dan menanyakan hal yang sedang mereka sembunyikan "berapa lama lagi aku disini?"
"Gaara, kami akan mencoba yang terbaik agar kau tetap disini"
"katakan saja!" potongnya sekaligus perintah mutlak.
"s-seminggu lagi adalah perhitungannya" jawab Tsunade tanpa dapat melihat sang jade.
"baiklah, aku akan buat kenangan terindah untuknya" gumamnya dengan senyum yang jarang sekali di perlihatkan, bukan senyum melecehkan, paksaan dan bukan pula senyum pahit, melainkan sebuah senyum yang terukir benar adanya menjelaskan hati penuh bunga juga duri.
"berikan dia yang terbaik bro" dan itu Kankurou kakaknya yang menepuk punggung Gaara dan mengelusnya seolah memberikannya charge energy.
^^ TBC ^^
Jawab Review :
Arigatou na TikaChanpm, yap! Betul! Gaara sakit.masalah perasaan udah ketahuan kalau Hina juga ada rasa, tapi lanjutan hubungan mereka.. kita lihat nanti ya. ^^
Haru Die, arigatou gozaimatsu *nunduk-nunduk* cerita haru-san juga bagus sangat! Saya suka sekali dengan More and More, (maklum Fujoshi) hehe... Jadi curhat. Hontouni arigatou *nunduk-nunduk lagi*
Dan juga untuk REVIEW lainnya, arigatou ^^
Forum Sapa Author :
Hwaaa ada yang bilang bagus *binabinar* Terimakasih yang sudah mereview, arigatou, hontouni arigatou. Dan untuk sekarang saya datang lagi dengan chapter 2! "Serasa baru semalem ngepublish #emang". Hehe.. Niatnya sih bakal ada tiga chapter, tapi liat nanti aja deh hehehe... Saya rasa segini aja cuap-cuapnya, sekali lagi terimakasih atas review dari para reader :D and last..
Not Too Late To - REVIEW... ^^
