Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, OC(s), typo(s), shonen-ai, semi canon / canon modified.

~First Mission~

.

.

Akatsuki adalah organisasi yang bergerak secara halus dan teratur, tanpa menarik perhatian dunia atas aksi mereka. Kini tibalah saatnya bagi anggota terbaru organisasi ini untuk melaksanakan misi pertamanya setelah dua minggu dianggap resmi menjadi anggota Akatsuki. Remaja bersurai pirang tersebut tak dapat menutupi semangat yang menggebu karena pada akhirnya ia bisa menunjukkan karya seninya kepada sang partner.

"Tidak perlu terlalu bersemangat, ini hanya misi kelas B." Suara berat sang partner membuat Deidara mengangkat sebelah alisnya, namun masih tetap menyeringai.

"Misi kelas B, hm?" Deidara sedikit memiringkan kepalanya. "Aku tidak pernah gagal dalam misi semudah itu, un. Lagipula, yang membuatku semangat bukanlah misi merebut gulungan rahasia itu, melainkan..." ia menggantung kalimatnya. Mengelus pelan dagunya dengan jemari tangan kanannya, ia melirik sang partner seraya menyeringai.

Sasori—di dalam Hiruko—memutar bola matanya. Partner-nya yang kekanakkan itu mencoba membuatnya penasaran, namun sayang, usaha remaja itu gagal. Sasori sama sekali tidak penasaran dengan kalimat yang belum Deidara ucapkan. Mengabaikan seringaian Deidara, Sasori berkata dengan suara Hiruko yang berat dan dalam. "Bergegaslah. Kita berangkat sekarang. Kau tahu, aku benci menunggu."

"Hmph!" Dalam satu hentakan, Deidara melompat turun dari tempat tidur. Ia menguap seraya meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Biarkan aku melakukannya sendirian. Jadi jangan menghalangiku, Danna."

Sasori tak mengerti mengapa Deidara memanggilnya 'Danna' yang berarti 'tuan'. Deidara terus saja mengoceh tentang bagaimana prinsip seninya jauh berbeda dari prinsip Sasori. Terang saja, kefanaan dan keabadian adalah dua hal yang paling bertolak belakang di muka bumi ini. Tetapi anehnya, Deidara menghormati Sasori, terlihat jelas dari caranya memanggil Sasori dengan 'Danna'. Pertama kalinya Deidara memanggil Sasori demikian adalah tiga hari setelah pertemuan pertama mereka. Walaupun masih tidak mengerti dan sedikit penasaran dengan jalan pikiran remaja yang menurutnya masih bocah itu, Sasori memutuskan untuk mengabaikan rasa penasarannya.

"Aku tidak akan mengambil resiko kegagalan misi hanya karena menuruti egomu itu," ucap Sasori dingin seraya perlahan meninggalkan ruangan.

Deidara mengikat dua tas berisi tanah liat di pinggangnya kemudian segera menyusul Sasori dengan berlari kecil. "Hey! Ini misi yang mudah. Mengambil gulungan yang...tidak terlalu penting! Ini misi untukku. Jadi jangan halangi jalanku!"

Terdengar erangan kekesalan dari Hiruko, namun ia tak mengatakan apa-apa untuk membalas apa yang partner-nya katakan.

Terserah, runtuknya dalam hati.

Setelah dua hari perjalanan, mereka tiba di sebuah desa kecil yang menyimpan sebuah gulungan rahasia di dalamnya. Seperti kata Deidara, gulungan rahasia ini tidak terlalu berpengaruh pada tujuan utama Akatsuki yaitu mengumpulkan sembilan bijuu. Sepertinya Deidara memang benar bahwa misi ini memanglah untuk menguji kemampuan Deidara. Sasori sudah mengetahui hal ini, hanya saja ia benci mengakui bahwa Deidara bisa mengalisa sesuatu dengan benar.

Sasori menunggu di luar desa, membiarkan Deidara terbang dengan burung tanah liatnya ke dalam desa untuk merebut gulungan rahasia dari pemimpin desa tersebut. Untuk sesaat, keadaan terlihat tenang, aman, dan sunyi. Hanya saja semua berubah saat Sasori mendengar suara debuman keras dan langit berubah menjadi terang untuk beberapa detik.

Dengan mata melebar, Hiruko menatap Deidara yang berdiri di atas burung tanah liatnya, sebuah gulungan di tangannya. Ia muncul menembus asap yang diakibatkan oleh ledakan tadi. Seringaian kepuasan terukir di bibir remaja itu, matanya berkilat akan rasa bangga.

"Kau lihat itu, Sasori no Danna?!" Ia berteriak. "Itulah seniku un!" Serunya dengan bangga.

Deidara tidak tahu bahaya apa yang menantinya.

Sasori masih diam mematung tak mempercayai apa yang baru saja disaksikan oleh kedua matanya maupun mata Hiruko. Sang partner baru saja membuat keributan di malam yang tenang, membuat misi sederhana jenis ambil-gulungan-lalu-pergi ini tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginan Sasori maupun ketua Akatsuki.

Baru saja, partnernya—yang menurutnya bodoh—itu meledakkan sebuah bom di langit tepat di atas desa tempat di mana mereka mengambil gulungan rahasia.

Yang membuat Sasori semakin tak mengerti adalah raut wajah Deidara yang penuh semangat dan rasa bangga itu. Tidakkah dirinya sadar apa yang baru saja ia perbuat akan membuat mereka berada dalam bahaya?

"Mengagumkan, bukan?" tanya Deidara yang kini mendaratkan burung raksasanya di tanah, tepat di hadapan Sasori. "Itulah seni yang sesungguhnya, un. Keindahannya hanya berlangsung untuk beberapa saat, mencerahkan langit yang gelap hanya untuk beberapa detik saja. Setelah itu hilang dan tak akan ada yang bisa mencari jejaknya."

Sasori tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ini misi pertama Deidara, dan Deidara benar-benar menghancurkannya.

"Kau bodoh!" seru Sasori pada akhirnya, membuat Deidara mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa, un? Aku sudah mendapatkan gulungannya," ujarnya seraya mengangkat gulungan di tangan kanannya setinggi dadanya.

Sasori menggeram. "Untuk apa kau meledakkan bom itu padahal gulungan sudah ada di tanganmu? Kau ingin membuat orang-orang di desa itu sadar gulungan mereka dicuri lalu datang untuk menyerang kita?! Kau tahu misi kita adalah untuk mengambil gulungan secara diam-diam, bukan untuk bertarung dengan warga desa ini! Tak bisakah kau gunakan otakmu itu?!"

Seringaian yang sedari tadi menghiasi bibir Deidara, kini sirna perlahan. Ia menoleh ke belakang, ke arah desa. Samar-samar ia mendengar keributan di dalam desa tersebut.

"Kita hanya perlu pergi dengan cepat, selesai sudah perkara," sahutnya santai.

Sasori menatap partnernya tak percaya. Apakah ia baru saja mendengar Deidara mengatakan sesuatu yang menurutnya jalan keluar dengan begitu mudahnya? Sasori tak habis pikir kenapa partnernya ini begitu pendek akal.

"Pergi ke mana?!" Sasori berseru, amarahnya mulai bergejolak. "Ke markas? Kau tidak tahu kemampuan apa saja yang dimiliki oleh para shinobi di desa itu! Bisa saja salah satu dari mereka bisa melacak keberadaan kita karena ledakan bodohmu itu! Lalu secara tidak sengaja kita menuntun mereka ke markas. Apa itu yang kau inginkan? Kau bocah bodoh!"

"Jangan katakan seniku bodoh un! Aku hanya ingin menunjukkan seniku kepada Danna, dan—"

"BERISIK!"

Deidara bungkam saat mendengar teriakan Sasori. Ia tahu dirinya telah memancing kemarahan partner-nya.

"Karena ulahmu itu, mau tidak mau kita harus segera menghancurkan desa itu dan membunuh semua penduduknya!"

Deidara berkedip, ia menatap Sasori—tepatnya Hiruko—dengan tatapan tidak mengerti. "Kita tidak perlu menghancurkan desa itu dan membunuh semua penduduknya, kita hanya perlu menghabisi mereka yang mengejar kita saja, un."

Di dalam Hiruko, Sasori mengepalkan kedua tangannya. Giginya gemeretak menahan amarah. Ia tak tahu apa yang terlintas di pikiran ketua Akatsuki sehingga memutuskan untuk menjadikan Deidara anggota Akatsuki. Remaja berusia enam belas tahun itu benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik.

"Gunakan otakmu untuk berpikir," bisik Sasori dengan suara yang rendah dan mematikan. "Jika kita membiarkan penduduk itu hidup, mereka akan melaporkan kejadian ini dan meminta pertolongan dari lima desa besar. Lebih buruk lagi jika salah satu dari mereka melihat jubah yang kau kenakan. Lima desa besar akan tahu kejadian ini disebabkan oleh Akatsuki. Pergerakan kita bisa mereka analisa dengan mudah."

Deidara terdiam dan mengangguk. Dalam hati ia menyesali kekacauan yang disebabkan olehnya. "Lalu...bagaimana?" bisiknya.

Sasori meringis. "Aku akan masuk ke desa dan menghabisi para shinobi dan kunoichi yang mencoba menyerang. Kau tunggu di sini dan buat bom terbesar yang bisa kau buat. Saat aku kembali nanti, kau terbang dan menjatuhkan bom itu ke desa, lalu meledakkannya untuk membunuh penduduk yang tersisa. Kau mengerti?"

Deidara mengangguk cepat.

"Kali ini bergunalah sedikit," bisik Sasori masih dengan amarah yang terdengar jelas dari nadanya berbicara, kemudian ia masuk ke dalam desa untuk menghabisi para ninja yang sudah berlari dari dalam desa menuju pintu gerbang untuk menghadapi Sasori.

Setibanya di pintu gerbang desa, Sasori sudah mendapat sambutan berupa serangan bertubi-tubi dari para ninja desa kecil tersebut. Dengan sigap Sasori menghindari serangan demi serangan yang diluncurkan. Untuk sepersekian detik ia mengamati musuh yang mengelilinginya. Jumlah mereka cukup banyak, enam puluhan kurang lebih. Sepertinya pemimpin desa itu mengerahkan seluruh ninja yang dimiliki desa itu, mungkin karena pemimpin desa itu tahu musuh yang mereka hadapi adalah Akatsuki. Segera Sasori membuka salah satu gulungannya.

Lalu dalam sekejap mata, Hiruko telah dikelilingi oleh puluhan kugutsu berbeda bentuk yang sama-sama mengenakan jubah berwarna cokelat kemerahan.

"A-apa itu?" Seorang kunoichi berbisik tak percaya melihat sekitar tiga puluhan boneka kayu yang berada di sekeliling anggota Akatsuki bertumbuh pendek yang bisa menghindari serangan mereka dengan mudah.

"Pengendali kugutsu." Seorang shinobi berambut hitam kehijauan menyipitkan matanya. "Tidak salah lagi! Dia adalah Akasuna no Sasori!"

Teman-temannya yang lain melebarkan mata karena terkejut. "A-akasuna? Yang telah membunuh pemimpin kita terdahulu?"

Sasori yang berada di dalam Hiruko menyeringai puas atas reaksi yang diperlihatkan oleh lawannya. Wajar saja, di dunia shinobi hanya sedikit yang tidak mengenal Akasuna no Sasori, seorang pembunuh berdarah dingin yang mengubah semua korbannya menjadi boneka.

Sebuah kugutsu melesat dengan kecepatan yang tak biasa untuk menyerang salah satu dari puluhan ninja yang masih berdiri mematung.

Crash

Pedang yang dibawa kugustu itu berhasil menembus jantung seorang pria berambut hitam legam yang tidak memiliki waktu untuk menghindar.

"Yosuke!" Teman-temannya—yang berhasil menghindari dari serangan tersebut—berseru memanggil namanya. Namun tak ada yang bisa mereka lakukan karena pria bernama Yosuke tersebut sudah tergeletak tak bernyawa di tanah sesaat setelah kugutsu—yang digerakkan oleh benang chakra milik Sasori—menarik pedangnya yang berlumuran darah.

Seorang perempuan tersentak sesaat setelah ia memperhatikan wajah dari kugutsu yang membunuh Yosuke. Kugutsu tersebut terlihat sangat tidak asing di mata perempuan itu, begitu pula di mata rekannya yang lain. Kugutsu berjubah cokelat kemerahan yang membawa pedang berlumuran darah tadi memiliki rambut pirang pendek, dan bola mata berwarna merah Ruby. Dengan bibir yang gemetar, ia berbisik, "K-kira-sama?"

"Bukankah kalian merasa senang karena bisa melihat pemimpin kalian yang sudah tidak bisa kalian lihat sejak dua tahun yang lalu?" bisik Sasori dengan suara berat Hiruko, seringaian terukir di bibir dinginnya.

"K-kau juga menjadikan Kira-sama sebagai kugutsu?" tanya salah satu dari shinobi desa itu.

"Tentu saja. Ia memiliki kemampuan yang cukup bagus. Sayang untuk disia-siakan," sahut Sasori. "Aku akan menemani kalian bermain-main sebentar untuk melihat kemampuan kalian. Bagi kalian yang memiliki kemampuan yang bagus dan unik, akan kujadikan bagian dari koleksiku," lanjutnya sebelum menggerakkan seluruh kugutsu miliknya untuk menyerang para ninja desa tersebut.

.

.

Deidara yang sedari tadi membuat sebuah bom tanah liat yang besar, sesekali melirik ke arah desa. Ia bisa mendengar teriakan khas peperangan dan bunyi denting benda tajam yang berbenturan. Perlahan bau anyir darah mengganggu penciumannya. Ia menggunakan lengannya untuk menutupi hidungnya karena sejujurnya ia tak mengukai bau anyir darah. Deidara adalah tipe penyerang jarak jauh. Ia menghabisi lawannya dengan ledakan. Jadi sangat jarang dirinya mencium bau darah.

Seiring waktu berlalu, suara peperangan di dalam desa tak terdengar lagi. Tak lama kemudian, sosok sang partner terlihat mendekat.

"Lakukan." Ucapan Sasori terdengar seperti perintah.

Mengangguk cepat, Deidara naik ke burung tanah liat raksasanya kemudian terbang ke atas desa. Sasori segera menjauh dari desa—yang sebentar lagi akan menjadi kawasan yang rata dengan tanah—untuk menghindari ledakan yang akan terjadi. Ia tak tahu sebesar apa ledakan yang akan Deidara gunakan, namun tak ada salahnya bagi dirinya untuk berjaga-jaga agar ledakan tersebut tidak menimbulkan kerusakan di tubuh Hiruko—salah satu kugutsu yang paling ia banggakan.

Tak lama kemudian, terlihat dari kejauhan Deidara menjatuhkan sesuatu ke bawah lalu terbang lebih tinggi, untuk menghindari ledakannya juga. Setelah terbang cukup tinggi, Deidara berseru, "KATSU!"
Sepersekian detik kemudian debuman besar terdengar bahkan hingga ke dalam hutan. Perlahan namun pasti, desa tempat terjadinya bertumpahan darah itu terbakar.

Sasori merasa sedikit lega sekarang, namun amarahnya pada Deidara belum bisa ia lenyapkan.

Setidaknya, misi mereka sukses, walaupun melalui jalan yang tak seharusnya mereka lakukan.

_TBC_

1827 words.

Maafkan kehadiran para OC di chapter ini maupun chapter selanjutnya. Habisnya mustahil rasanya kalo saya pake Naruto dkk sebagai musuh mereka, karena pasti jadi beda jauh sama cerita asli di manga/anime nya.

Sekedar memberitahuan, beberapa chapter di ff ini hanya berupa drabble, jadi jangan kaget kalo nanti ketemu chapter yang isinya cuma 500-an words ya xD