Love Effect

ChanBaek

One-shot

Romance, fluff

.

Disclaimer: Cerita jelas milik saya, tetapi sangat disayangkan para tokoh SANGAT JELAS bukan milik saya.

.

Summary: Efek samping dari Cinta.

.

.

EnJoy~

Tepat jam sebelas menuju siang hari Sabtu di bulan September, para murid dari sekolah EXO High school kini tengah berbaris rapi disebuah lapangan berumput dengan latar pepohonan yang menjulang tinggi diantara manusia yang terlihat kecil itu. Para siswi sedikit mengeluh karena merasa kulitnya terbakar oleh terpaan sinar Surya yang kian mengganas.

Sementara para siswa yang berbaris disamping kanan menunjukkan raut malas, mereka menginginkan jika apel ini usai, meskipun belum juga ada tanda-tanda dimulainya apel awal untuk perkemahan menyambut para murid tingkat pertama—ajaran baru.

"Astaga, dimana Pak kumis itu? Apakah apel ini dimulai ketika kita sudah masak dan siap dihidangkan untuk binatang buas di hutan?" gerutuan dari salah satu siswi terdengar oleh Baekhyun yang berdiri tepat dibelakang barisan. Sebagai panitia acara perkemahan, tentu Baekhyun merasa kesal dengan ucapan tak berpendidikan itu. Baru saja junior tapi prilakunya, benar-benar buruk. Apalagi ini adalah seorang siswi.

Perlahan langkah pendeknya menuju ketempat sigadis yang mengibaskan rambut hitam legamnya yang seperti berniat untuk diikat.

"Apakah kau melihat para guru disana?" pertanyaan Baekhyun yang tiba-tiba membuat siswi itu berbalik dengan kerut dikeningnya. "Apa maksudmu?" dengan tidak sopannya ia melihat sang panitia dengan pandangan remeh.

Baekhyun sudah kebal ketika ia diperlakukan seperti ini. Para hoobae mempunyai reputasi perilaku yang sungguh buruk dari tahun ke tahun. Tepatnya, ia bertaruh jika wanita didepannya ini tidak mengenal siapa ia yang sebenarnya.

"Kalian beruntung karena ada pepohonan yang sedikit banyak membantu untuk menghalangi cahaya matahari. Tapi tidak dengan para guru disana." Baekhyun berujar dengan percaya diri. Matanya menajam kala mendapatkan siswi tak menghiraukan apa yang ia bicarakan barusan.

"Dan aku harus melakukan apa? Jangan mencoba untuk menasehati kalau kau juga harus banyak diperbaiki, anak manis."

Sudah habis kesabaranku..

Baekhyun mengeraskan rahangnya, "Anak manis? Periksakan mata bulat mengerikanmu itu pada dokter, gadis nakal!"

"A-apa, kau—" siswi itu memandang tak percaya pada sosok yang memandangnya buas. Ia merasa terintimidasi oleh kedua pasang mata sipit.

"Aku berani mengatakannya padamu, begitu? Haaha." Baekhyun tertawa sarkastik. Lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Dengar Seo Daehyok kalau ingin berkomentar kenali objek yang akan kau komentari terlebih dulu. Jangan mengucapkan hal konyol kalau kau tidak mampu untuk menanggung resikonya, anak manis." Baekhyun merasa puas telah memberikan sedikit pelajaran pada gadis didepannya yang hanya berdiam terpaku mendengar kalimat yang ia lontarkan.

"Baekhyun sunbae, maaf mengganggu. Guru Choi memanggilmu." Seorang siswa datang, menginterupsi kegiatan Baekhyun. Nampak gadis yang telah berucap kurang ajar pada Baekhyun itu terkejut. Ia baru mengetahui jika orang yang tadi 'berbincang' dengannya adalah sang Ketua OSIS. Byun Baekhyun, simaniak ketertiban.

Berkatilah kehidupan Seo Daehyok...

Sebelum mengkuti langkah dari siswa yang telah memberikan pesan dari Guru Choi, Baekhyun melirik sinis lalu berucap, "Selamat menikmati perkemahan ini, hoobae-ku."

©riz614

Luhan menghampiri Baekhyun yang duduk didepan tenda mereka. Wajah Baekhyun terlihat lelah, dan mungkin saja sebotol mineral yang ia bawa dapat mengurangi kehausannya.

"Ini.. " dengan senang hati Baekhyun mengambilnya.

"Baekhyun.." Luhan berniat memulai topik pembicaraan yang baru. Pria bermata rusa itu tak memandang lawan bicaranya, "Apakah ini akan berjalan dengan baik?"

"Maksudmu?" Baekhyun terlihat bingung. Pria sipit itu meneguk air botol kembali, menghabiskannya.

"Aku.. menghawatirkan Sehun. Apakah dia sudah meminum obatnya, atau sekarang dia mungkin sedang tidur siang, ya?"

"Kau merindukannya? Kalau begitu kenapa kau tak rawat bocah bongsor itu saja?" Baekhyun sedikit sinis. Ia tidak menyangka Luhan dapat berpikiran kekanak-kanakan jika berhubungan dengan siswa irit ekspresi itu.

"Kau tidak pernah mengalaminya, Baekhyun. Karena kekasihmu selalu terlihat aktif dan sehat. Dia mungkin mempunyai porsi makan yang sangat besar, tubuh raksasanya mana mau menampung sebuah bakteri jahat."

"Hey, kenapa kau membawa nama Chanyeol?" Baekhyun menatap Luhan dengan pandangan terganggu.

"Hhh~pikiranku benar-benar kacau sekarang." Luhan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Pria cantik itu memegang kepalanya dan menimbulkan suara ringisan pelan. Tetapi Baekhyun terlalu pintar untuk menangkap maksud dari Luhan. Pria yang lebih kecil bangkit dari duduknya, membersihkan debu dengan sebelah tangan lentiknya itu.

Pergerakan tersebut memancing Luhan untuk bertanya, "Kau mau kemana, Baek?"

Baekhyun harus menunduk untuk menemukan mata rusa milik Luhan, "Aku merindukan Chanyeol, mungkin aku akan mencari keberadaan dia sekarang. Selamat meratapi kesendirianmu, Oh Luhan~" Baekhyun tertawa setelahnya. Dan Luhan mengerutkan hidung sebagai tanda ia kesal dengan candaan buruk temannya.

"Sialan kau!"

©riz614

Mata sipitnya bekerja agresif untuk menemukan sesosok tubuh jangkung diantara belasan kepala yang tengah mempersiapkan tenda. Tiba-tiba tepukan pada bahunya membuat ia sedikit terkejut, ia lalu memandang sang pelaku dengan alis terangkat.

"Apakah kau mencari kekasihmu? Dia tidak disini. Kupikir dia sedang bersenang-senang dengan sekelompok siswi yang berada dekat pohon itu." Sosok yang telah mengucapkan—yaitu seorang siswa yang ia kenali bernama Do Kyungsoo—pergi meninggalkannya sendiri.

Baekhyun sedikit bimbang untuk percaya akan ucapan yang baru ia dengar. Tetapi untuk memastikan, Baekhyun pun melangkahkan kakinya menuju tempat yang telah diinformasikan.

.

.

"Oppa, bisakah kau membantuku?" siswi berkuncir satu itu berdiri didepan seorang siswa yang tengah memperbaiki tali untuk memasang pagar.

"Kompornya tidak menyala terus. Bagaimana ini? Kita mau membuat ramyeon~" diakhiri dengan nada manja yang mana itu disengaja.

"Baiklah," siswa itu pun membereskan peralatannya terlebih dulu sebelum mengikuti langkah sigadis.

Baru saja ia akan melangkahkan kaki, sebuah suara terdengar memanggil nama lengkapnya. "Park Chanyeol, "

Ia memutar tubuhnya, dan netranya mendapati sosok mungil dengan raut yang sulit ia baca. "Hey kau disini, Baek?"

Siswa lain bermarga Byun menatap objek pandangannya dengan datar, "Kau tak suka aku mencarimu?"

Chanyeol tersenyum, belum mengerti keadaan yang dialami oleh pria yang menatapnya datar. "Apakah kau benar-benar melakukannya?" pria pemilik telinga panjang tersenyum nakal.

"Kau menganggapku orang bodoh yang rela membuang waktu demi melakukan hal yang tidak berguna? Tentu saja aku tadi hanya bercanda." Baekhyun berkilah, ia merasa malu sekarang. Kenapa juga ia melontarkan ucapan yang menyiratkan jika ia merindukan pria didepannya yang masih menatapnya dengan senyuman sok manis itu?

"Pembelaan yang cukup buruk, Byun Baekhyun." Ujar Chanyeol dengan suara yang membuat sipendengar merinding ditempat.

"A-aku.. Lagi pula aku kesini hanya kebetulan lewat dan melihatmu di sini. Itu faktanya."

Baekhyun tidak bagus jika ia menutupi sesuatu yang benar. Dan Chanyeol terlalu bodoh untuk mengerti. Pria itu terlihat kecewa, sementara Baekhyun kembali menyesali akan ucapannya.

"Baiklah, lanjutkan tugasmu sebelum Guru Choi ataupun Guru yang lainnya melihatmu tak menjalankan tugas dengan baik."

Baekhyun ingin menghentikan langkah kaki panjang dari pria yang kini memunggunginya. Tetapi, ia terlalu bodoh untuk merangkai sebuah kalimat sekarang. "Tunggu, Chanyeol... "

Dan beruntung Chanyeol kembali melihatnya, "Ada apa?"

"Uhm.. Bisakah kau ketendaku nanti?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku akan datang tanpa diundang." Baekhyun tersenyum disaat Chanyeol mengatakan kalimatnya dengan nada ceria.

Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun, mengusap lembut pucuk rambut hitam tanpa topi milik pria yang lebih rendah. "Jangan bekerja terlalu keras, aku tidak mau kau sakit setelahnya." Memberikan tatapan memohon sekaligus memuja, yang mana membuat Baekhyun meleleh dan tak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena diperhatikan oleh sang kekasih.

Baekhyun tersenyum, lalu mengangguk lucu, "Ayay, Captain!"

Chanyeol mati-matian menahan kontrolnya untuk tidak mencium pria didepannya sekarang. Ia pun mencubit gemas hidung bangir Baekhyun untuk mengalihkannya.

"Aku pergi untuk membantu para hoobae, kau berhati-hatilah."

Sekali lagi Baekhyun tersenyum, mood-nya kembali naik berkat adanya Chanyeol. Oh, sungguh ia begitu mencintai pria pemilik suara bass ini.

Ia baru saja akan melontarkan perkataan semangat pada kekasihnya, tetapi sebuah suara mendahuluinya.

"Oppa, disini.."

Baekhyun dan Chanyeol melihat pemilik suara nyaring itu.

Chanyeol menjawabnya dengan suara yang keras, "Ya, tunggu sebentar," lalu berbalik lagi untuk mendapatkan sepasang netra sipit, "Baekhyun sepertinya aku harus membantu mereka sekarang. Sampai ketemu nanti~"

Chanyeol pergi meninggalkan Baekhyun, sebelum pria yang lebih pendek membalas perkataannya. Dan Baekhyun merasa curiga setelah ia mengenali sosok yang memanggil nama kekasihnya.

"Kenapa gadis itu terlihat dekat dengan Chanyeol?"

©riz614

Kini malam merajai hari, dimana sang bulan bersama pasukan bintang menggantikan kuasa sang matahari. Hawa dingin diluar, membuat Baekhyun merasa jika ia mengenakan jaket berlapis es. Ia kini berada diluar tenda bersama Luhan yang menahan kantuknya.

"Sebaiknya kau tidur saja, Luhan. Aku bisa berjaga—"

"Aku tidak bisa melakukannya, Baek. Masih tersisa satu jam kita berjaga lagi." Dengan bersusah payah Luhan menyahuti ucapan dari Baekhyun yang memandangnya sedikit khawatir.

"Aku tidak apa-apa. Masuklah,"

Luhan mengerjapkan matanya, dan ia mempertimbangkan ucapan Baekhyun barusan. Dengan berat hati ia pun berkata, "Apakah kau akan baik-baik saja?" tanya pria berjaket hitam itu melirik pada lawan bicaranya.

"Hmm, selamat tidur, Luhan.."

"Uhh.. Selamat malam juga Baekhyun."

.

.

Setelah lima menit Luhan memasuki tenda, Baekhyun menggenggam lampu senternya dengan erat ketika ia mendengar suara longlongan anjing-anjing hutan. Bahkan suara berisik yang beradu dengan rumput liar menambahkan adrenalinnya seorang diri. Baekhyun ingin masuk ke tenda sekarang dan menyelimuti tubuhnya, bersembunyi dari binatang yang kemungkinan mendatangi daerah perkemahan sekolahnya.

.

Lalu tiba-tiba saja sebuah tepukan kuat ia rasakan pada bahu sebelah kanannya.

"AA–mm" mulutnya dibungkam oleh telapak tangan kasar nan besar. Baekhyun hampir menggigitnya, untuk menyelamatkan diri sebelum siluet wajah yang ia kenali kini berhadapan dengannya.

"Bisakah kau datang seperti orang normal saja? Kau pikir itu lucu?" semprot Baekhyun pada sang terdakwa.

Chanyeol—yang menjadi tersangka—hanya menampilkan cengiran bodoh. "Apakah kau ketakutan?" lalu melontarkan pertanyaan yang membuat Baekhyun sebal.

"Itu bukan bahan candaan." Baekhyun berujar malas. Dan Chanyeol langsung menyudahi godaannya kepada kekasihnya yang dalam mode waspada.

"Maafkan aku."

Permohonan maaf ditanggapi dengan raut Baekhyun yang datar. "Minta maaf karena apa? Untuk datang terlambat? Atau kau yang tidak sengaja membuatku mempunyai riwayat penyakit jantung? Dan untuk kau yang terlalu—"

.

.

Sial! Sial! Hampir saja Baekhyun mengucapkan pemikirannya tentang kumpulan gadis yang terlalu mencari perhatian Chanyeol sejak tadi. Dengan menahan gemelutuk gigi, ia memalingkan wajah kedepan, tidak pada samping kiri dimana keberadaan Chanyeol yang menatapnya bingung.

"Uhh.. Aku minta maaf untuk tidak datang tepat pada waktunya. Banyak yang harus aku bantu." Jawab Chanyeol sedikit tidak yakin.

"Kau terlalu senang mendapatkan kesempatan untuk membantu mereka. Sehingga kau melupakan seseorang," ujar Baekhyun yang masih enggan berpaling dari pepohonan didepannya.

"Aku bersalah karena sudah membuatmu berpikiran seperti itu, jadi.. "

"Aku begitu meminta maaf, sayang.. "

Baekhyun kalah jika Chanyeol merajuk dengan mengambil kata pamungkas untuk membuatnya melunak.

Perlahan Baekhyun memutar kepalanya, "Jangan mencoba untuk lebih sibuk dariku. Karena... Aku akan kesepian.. " pemuda yang dibalut mantel abu-abu itu kembali menatap lurus, terlalu gugup melihat bagaimana ekspresi Chanyeol setelah mendengarkan pengakuannya.

"Aku menyukai perkataanmu yang barusan, itu seperti kau benar-benar tak bisa hidup tanpaku." Sahut Chanyeol dengan nada suara yang menyebalkan.

"Percaya diri sekali!" dengus Baekhyun. Tanpa diduga pergeseran tubuh Chanyeol untuk lebih dekat dengannya, membuat ia sedikit tersentak.

Didepannya Chanyeol tertawa pelan, "Aku tidak akan memakanmu, Baekhyun. Setidaknya bukan sekarang.. Haha"

Baekhyun merasakan wajahnya memanas menahan malu, segera ia luncurkan kedua tangannya untuk memukuli gajah mesum itu. Tetapi pergerakannya terhenti karena Chanyeol mempunyai insting yang lebih kuat.

Baekhyun mencoba untuk melepaskan tangan besar Chanyeol dari lengannya. Dan ia harus kembali kalah dengan kekuatan yang dimiliki pria Park yang kini mulai mendekati wajahnya.

Baekhyun tidak tahu kapan dimulainya ciuman manis ini. Ketika Chanyeol menyentuh hidungnya, yang ia mampu lakukan hanya memejamkan matanya.

Kini bibir Chanyeol mulai bermain diatas bibirnya, mengemut secara lembut dan memberikan jilatan setelahnya. Ia terbuai dengan permainan ini.

"Aku sudah menahannya sedari tadi, Baekhyun.. " Chanyeol berkata tepat dibibir pria mungilnya.

Lalu kembali ciuman itu berlanjut kesesi berikutnya. Baekhyun mendesah dan Chanyeol semakin bersemangat untuk menjelajahi gua basah nan hangat kekasih prianya.

Perlahan gerakan tangan lentik Baekhyun merambat pada wajah tegas Chanyeol, membelainya dan mengantarkan sensasi gairah disana. Tetapi, napas Baekhyun kian memendek, dan sangat disayangkan ciuaman itu harus terhenti.

Chanyeol mencium pipi merona Baekhyun sebanyak dua kali, "Sekarang kau sedikit hangat dari sebelumnya, Baek."

Baekhyun menatap sayu pria didepannya, ia belum mampu untuk membalas ucapan Chanyeol.

"Kau butuh kehangatan yang lebih, sayang."

Baekhyun menyingkirkan tangan Chanyeol secara tiba-tiba.

"Kau mau melakukannya ditempat seperti ini?"

Chanyeol yang gagal paham hanya menatap bingung, "Ten..tu, kau sangat dingin, Baek."

"Kau?! Kenapa kau sampai berpikiran seperti itu? Kita masih berada—"

"Sebenarnya apa maksudmu, Baekhyun?"

"Tentu saja tentang kau yang mau..." Baekhyun tak ingin melanjutkannya.

Chanyeol dengan otak siputnya kini mulai mengerti arah pembicaraan pria yang menyembunyikan raut pada kedua lututnya.

"Apakah kau berpikiran kalau aku ingin menghangatkanmu dengan menggagahimu, Baek?" Chanyeol sangat menyukai untuk menggoda kekasihnya.

Baekhyun langsung menegakkan kembali kepalanya, menatap garang pada sosok yang tertawa. "Itu sangat tidak sopan, Chanyeol!"

Setelah meredakan tawa yang ditahannya agar tidak meledak dan mengganggu orang tertidur, Chanyeol berdiri dan mendudukkan dirinya dibelakang Baekhyun.

Sementara di sisi lain, Baekhyun mengira jika Chanyeol akan meninggalkannya. Tetapi rasa hangat yang ia rasakan berasal dibagian belakang tubuhnya, membuat ia menahan senyuman.

Chanyeol memeluknya dari arah belakang, berbagi kehangatan ditemani bentangan langit yang seperti ikut berbahagia untuknya.

.

.

"Apakah aku cukup untuk menghangatkanmu?"

Baekhyun mengangguk lucu, dan memutar kepalanya, menginginkan untuk mendapati sepasang netra kesukaannya. "Aku tidak menyesal menyuruh Luhan untuk tidur terlebih dulu."

Chanyeol terkekeh, lalu pria itu menyimpan kepalanya pada rambut halus milik Baekhyun. "Aku berpikiran kalau posisi ini akan sangat tepat untuk mendapatkan gairah ketika kita bercinta nanti—Aah!"

Chanyeol mengaduh kesakitan ketika pahanya dicubit ganas oleh jemari Baekhyun.

"Mulai sekarang perbaiki bahasamu, Chanyeol!"

#

#

#

FINITE

Haii~/lambai tangan ala wanita cans/

Aku bawa lagi ff one-shot cb, maaf jika aku ga bikin sequel yg kemarin, cz aku rasa itu bakalan mirip chapter dong ya? Semoga kalian terhibur dengan ff yang jelas-jelas ga ada bagusnya dari sisi manapun/tersenyum paksa/

Dan untuk ff cb 'say yes' aku belum sempat posting hehe. Nnti besok aja deh yaa../gada yang nungguin woy!/

Terimakasih sebelumnya ~~

Anyeolll~~ ketemu di fic one-shot selanjutnya..

Salam Tobeli~~