Annyeoooooong *tebar bunga bangke*

Aduh. D tau ini lama apdet. Mian mian mian *bow 180°*

.

.

.

Warning : YAOI, typo(s), OOC, alur maju-mundur-maju-mundur tak jelas dan memaksa, kosakata miskin, absurd tingkat dewa, gaje menembus batas, dan 1004 peringatan lain yang malas D sebutkan.

DAEJAE DAEHYUN X YOUNGJAE

.

DLDR!

.

Italic= Flashback

.

Mataku mengerjap-ngerjap. Retinaku langsung menerima bayangan kamar yang berantakan dengan sinar matahari yang menembus jendela, tak bukan dan tak lain, kamarku. Aku masih mengantuk. Aku masih ingin bermain di alam mimpi. Tapi sialnya, ada suara truk barang yang mengusik telinga di sebelah rumah. Gh. Aku benci suara bising. Mengganggu. Seharusnya aku minta dibelikan karpet peredam suara.

Jam 8 pagi. Bagus. Pasti sekarang umma sedang ada di dapur, membalik pancake. Aku bisa mendengar suara mentega yang meleleh dan adonan yang menabrak penggorengan. Memang suara truk sialan itu lebih keras, tapi rasa lapar yang tiba-tiba menguasai tubuh membuat telingaku menjadi lebih peka, sepeka jangkrik dan anjing.

Setelah mandi, aku langsung mengenakan T-shirt warna coklat dan celana jeans. Warna coklat membuat kulitku yang pucat terlihat mencolok. Tapi apa peduliku? Aku tidak ada acara pergi-pergi hari ini. Dan siapa yang mau menatap si buruk rupa ini? Mata mereka akan langsung terbakar.

Aku menghela napas. Menatap tubuhku sendiri di depan cermin. Uh. Aku ingin muntah. Kulitku hampir biru, kakiku yang panjang membuatku terlihat seperti kerangka hidup. Tapi kaki panjang tidak membuat tubuhku setinggi Junhong. Rambutku berantakan. Bibirku kering. Bagian bawah mataku hitam. Aku seperti hantu saja. Kalau saja sekarang halloween, pasti aku akan mendapat kantung penuh permen dengan kostum yang sempurna ini.

Pintu terbuka. Umma. Mengenakan celemek berwarna baby blue dengan hiasan pita kecil, diatas kaus polos warna fuschia dan rok selutut berwarna putih. Umma memang suka pakaian yang bergaya lolita. Manis-manis dan unyu-unyu dan imut-imut. Umma sangat feminin.

Aku sudah tahu umma pasti memanggilku untuk sarapan. Jadi aku tersenyum padanya, lalu berjalan menuju ruang makan. Aaah. Bahkan saat aku menuruni tangga, harum pancake sudah mengoda hidung.

.

.

Sial. Sial. Sial. Sial.

Seharusnya aku tahu ini.

Seharusnya tadi aku pergi saja, jalan-jalan entah kemana, lalu pulang malam-malam.

Umma mengobrol dengan tetangga sebelah yang baru pindah. Sosialisasi, entahlah. Sebab itulah truk sialan yang mengganggu pendengaran bertengger di sebelah rumah. Dan kata 'tetangga baru', mereka kerepotan membereskan parabot dan hal absurd lainnya ke dalam rumah. Sudah pasti aku akan disuruh umma untuk membantu mereka kan? Sayangnya, aku lengah.

Aku berusaha mengelak. Aku paling benci kerja yang mengeluarkan keringat. Kapasitas air di bumi akan bertambah, dan tulangku yang sudah ringkih akan menjadi debu nanti. Tapi umma bilang –dengan senyumnya, tentu saja– dia harus pergi kerja, bahkan dia belum siap-siap. Jadi dia membutuhkan waktu untuk ganti baju, menyiapkan tas, dan sejenisnya. Dan dia seakan lupa penyakit sialan anaknya ini. Dasar.

Jadi. Disinilah aku. Di depan halaman rumah tetangga baru yang dikuasai rumput hijau yang agak basah, dan di sebelah kanan truk barang sialan yang –oooooooooohh untunglah– sudah dimatikan mesinnya karena umma sudah mengadukan keluhanku. Huft. Ada perasaan tidak nyaman yang muncul di benakku. Membuat alis bertaut.

Tapi tautan alisku berhenti karena melihat sosok namja yang cantiknya selevel dengan Junhong, hanya saja dia sudah berumur. Dia sedang mengangkut box bertuliskan 'JANGAN DIBANTING' dari dalam truk. Kh. Namja cantik ada banyak di bumi ini ya. Lama-lama semua penghuni bumi ini yeoja semua. Namja dan yeoja jadi tidak bisa dibedakan. Lupakan. Otak absurdku mulai aktif.

"Ah! Kau pasti anak Mrs. Yoo."

Hampir saja aku tersedak salivaku sendiri. Dengan ragu, aku menoleh ke arah sumber suara. Namja bermata rubah berdiri di sampingku. Tubuhnya tinggi tegap, agak berotot. Dan sudah berumur, seperti namja cantik tadi. Siapa pun akan bilang dialah si 'tetangga baru'.

Aku hanya bisa mengangguk. Aduh. Aku paling gugup kalau bertemu dengan orang baru. Dan pikiran negatif terus saja tumbuh di otak sialanku. Oh berapa banyak kata sialan yang sudah kusebutkan pagi ini? Maaf. Mood-ku jelek sekali.

Ahjussi itu tersenyum, dan aku langsung merinding. "Kau tidak masalah kan kalau membantu kami memasukkan box-box itu ke dalam rumah?"

"N-ne."

.

.

Ingin rasanya aku telentang lalu berteriak sekuat tenaga. Ingin rasanya aku melompat dari bulan. Ingin rasanya aku menghabiskan galon air berukuran 19 liter. Ingin rasanya aku tenggelam dalam lautan fanta. Ingin rasanya aku menunggangi harimau putih lalu jatuh ke jurang.

Capek.

Box-box itu lebih berat dari yang kukira. Apa tubuhku yang terlalu lemah?

Namja cantik yang tadi memberiku segelas sirup. Dia tersenyum secantik umm- ah tidak. Umma lebih cantik. Aku ini anak sayang ibu. Aku anak yang berbakti. Yeay.

"Gomawo ne. Kau jadi kecapekan begini." Dia duduk disampingku. Aku tersenyum kecil lalu menyeruput sirup berwarna hijau dengan 4 buah es yang mengapung di atasnya. Ah. Aku lupa kalau indra pengecapku mulai error. Jadi, yah, sirup itu juga senasib dengan ice cream yang dibelikan Junhong 2 hari yang lalu.

Aku memperhatikan sekeliling. Hebat. Rupanya dia pekerja keras, pantang mundur pantang menyerah. Semua barang dari box sudah dikeluarkan dan parabot diletakkan sedemikian rupa, menciptaan interior yang elegan tapi simpel. Dia seperti robot. Bahkan setelah membereskan barang, aku tidak mendengar keluhan yang keluar dari mulutnya. Boleh aku mengacungkan jempol untuk namja cantik ini?

"Kita belum berkenalan, kan? Namaku Jung Changmin. Kau pasti Yoo Youngjae kan?"

Kuterima uluran tangannya, sambil tersenyum, walau senyumanku itu agak dipaksakan. Kulit tangannya halus. Aku tidak yakin dia mengerjakan semua tugas rumah tangga. Apa dia memakai kulit 2 lapis? Atau dia mengenakan kulit yang sudah di-upgrade kekebalannya?

Jung Changmin menunjuk ahjussi bermata rubah yang sedang berdiri di depan pintu dengan ibu jarinya, "Dia itu Jung Yunho. Suamiku." Dia terkekeh, "Kau kaget?"

Kaget? Kaget untuk apa? Namja yang bersuami? Itu sudah familiar di telingaku. Jadi aku menggeleng pelan, sambil berusaha mempertahankan senyum. "Ani, aku sudah biasa, eerrr..."

"Panggil saja aku hyung. Ahjumma terkesan tua untukku." Dia menaikkan alis. Kuakui, dia itu cantik. Akan kubunuh Jung Yunho kalau berani melukai perasaan Changminnie hyung. Aku serius. Kata-kataku tadi bukan berarti aku menyukai Changminnie hyung, aku hanya tidak ingin sosok lemah lembut sepertinya mengeluarkan air mata.

"Ah, ngomong-ngomong, umur Youngjae-ssi berapa?"

"A-aku 20 tahun."

Matanya membulat. Dia seperti baru diberi kejutan tak disangka-sangka. Seperti anak SMP yang baru saja diteriaki 'Happy birthday!' oleh teman-temannya dengan kado yang sudah ada di tangan mereka.

"Umurnya hanya 1 tahun lebih muda dari anakku! Kau harus bertemu dengannya! Kalian pasti akan berteman baik." Dia memainkan jari telunjuknya di depan wajahku. Bibirnya tertarik ke atas. Dan dia langsung bangkit dari duduk, berjalan mendekati tangga bertralis warna hitam.

"CHAGI! KEMARILAH! ADA TAMU!"

Oh. Bisa aku tarik kata-kataku tadi? Yang menyatakan bahwa dia itu 'sosok lemah lembut'? Kurasa, argumenku tadi salah. Karena tadi teriakannya benar-benar menggelegar dan tegas. 'Kenamjaan'-nya bangkit. Aku saja bergetar ketakutan mendengarnya. Don't jugde a book by it's cover itu ada benarnya juga. Kalaupun Yunho ahjussi menyakiti hati Changminnie hyung, mungkin dia sudah ada di dalam liang kubur keesokan harinya.

"...Ne umma." Suara itu terdengar dari lantai atas. Agak samar-samar, tampaknya orang itu sedang ada di kamar. Sedang tidur-tiduran santai di kasur dengan handphone di genggaman, merasa terganggu dengan perintah dari umma yang perkasa. Yoo Youngjae sok tahu.

Suara langkah kaki. Langkahnya lambat, kadang terdengar geraman. Dadaku berdegup kencang. Dia namja? Atau yeoja? Tampan atau cantik? Tinggi atau pendek? Pintar atau pabo? Apa dia akan mengejekku, si buruk rupa? Apa dia tidak menyukai kehadiranku? Negative thinking mode: ACTIVATED.

Mataku tertuju pada sepasang kaki yang sedang menuruni tangga. sosoknya perlahan muncul. Celana selutut warna beige. Kemeja warna navy blue yang tidak dikancing, dibawahnya ada kaus berwarna hitam. Wajahku memerah. Oh kau kenapa Yoo Youngjae?

Tunggu.

Aku tahu wajah itu.

Bibir penuh, wajah tampan, kulit berwarna tan.

Rambut coklat?

"Fuck."

.

.

"Jung Daehyun? Maaf, tapi, apa aku mengenalmu?"

Dia tersenyum. Hei ayolah jangan terus tersenyum padaku! Ada reaksi aneh yang terjadi di otakku. Dan darahku meluncur deras ke arah wajah, itu membuatku malu! Membuatku ingin berteriak!

"Tak apa jika kau lupa. Aku tidak terkejut." Kertas berwarna biru tosca dengan gambar bintang jatuh kembali ke dalam saku celananya. Urusan kertas lama itu sudah selesai.

Aku. Mulai. Muak. Aku seperti yeoja yang sedang PMS. AKU INI BUKAN SHERLOCK HOLMES! Oh. Dan aku benci novel misteri. Membuat kepalaku yang sudah pusing menjadi keriput.

Dia menoleh, tersenyum. Tampaknya dia tahu. Tampaknya dia sengaja membuatku pusing. Seperti bermain catur dengan super computer. Oh aku benci catur. Melihat bidang datar hitam putih itu saja mataku sudah perih. Dan otakku yang sudah tak mampu berpikir lagi akan membangkitkan rasa sakit level tinggi. Memuakkan.

"Kau mau tahu apa yang ada di pikiranku?"

Dia mengangguk pelan, menaikkan pundak. "Tunjukkan." Sudah kuduga dia akan berduel denganku. Dia menantangku.

Aku bangkit dari duduk, yeah lem yang menempelkan pantatku dan kursi sudah menghilang. Aku berjalan selangkah mendekatinya. Dia mendongak, masih tersenyum. Walau dia tampan, tapi senyumannya itu lama-lama membuatku mual! Terus-menerus memberiku pertanyaan yang membuatku tersiksa! Uukh kepalaku mulai sakit, aku harus cepat-cepat minum obat.

"Jadi... Jung Daehyun. Ah. Apa aku harus memanggilmu Tuan Muda Jung Daehyun?"

Emosiku memuncak. Aku sudah bisa menahannya lagi. Iblis dalam tubuhku sudah bangun. Tertawa jahat, lalu menampilkan evil smirk dengan gigi taring berderet. Ooh.

Kuacungkan jari tengah tepat di depan wajahnya. Lalu aku tersenyum. Berusaha menampilkan senyum semanis mungkin.

"Maaf, Tuan Muda Jung Daehyun. Waktu-ku sudah habis, dan aku sudah harus minum obat. Jadi, selamat tinggal."

.

.

Aku cepat-cepat menyobek bungkus obat. Tanganku agak bergetar. Jantungku seakan berpindah ke kepala, berdetak cepat. Rasanya ada jarum dengan benang berduri yang sedang menjahit jaringan otak.

Kapsul berwarna hijau-putih sudah tertelan, langsung kudorong dengan beberapa mililiter air mineral. Hoh. Rasa sakit itu mereda. Dan kalau saja tadi aku tidak membawa obat, pasti garpu yang sedang duduk manis di meja cafe sudah tertancap di tengkorakku. Terima kasih wahai umma yang sudah mengingatkan.

"Jadi, kau sudah merasa baikan?"

Aku menghela napas. Lalu menatap tajam namja yang sedang tersenyum di hadapanku.

Namja itu,

Namja berambut coklat, yang sudah officially menjadi tetangga Yoo Youngjae.

Tak lain dan tak bukan, Jung Daehyun. Dan aku sudah mengucapkan kata kasar di hadapannya 20 menit yang lalu.

"Ne."

Dia menatapku, berlatarkan langit biru dengan awan putih bersih bertumpuk-tumpuk dan sinar matahari yang hangat dan menyilaukan. Angin semilir menerpa wajah, memainkan kerah kemejanya. Membangkitkan rasa nyaman yang membuat wajahku memerah. Apa aku kepanasan? Atau... Atau pesona si namja ini yang menggoda darah agar mengalir ke wajahku?

Aku menggeleng cepat. Ingin aku memerintahkan darah agar memperlambat alirannya. Tapi, yah. Tampaknya seluruh organ tubuhku itu bandel, tidak mematuhi si pemilik tubuh.

"Jadi, ada apa kau membawaku kesini?" Lebih baik aku yang memulai pembicaraan. Kalau tidak, suasana akan menjadi canggung dan hening. Dan mataku yang memang bandel akan terus mencuri pandang wajah tampan namja ini. Oke stop.

Jung Daehyun memiringkan kepala, seperti anak anjing. "Membicarakan masa lalumu."

Alisku bertautan. Apa dia akan bersikap memuakkan lagi seperti dulu? Heh. Kalau iya, kali ini aku akan langsung pulang, menghempaskan diri ke kasur, lalu tidur. Tidur lalu tak bangun lagi.

"Masa lalu? Kau tak ada hubungannya denganku."

Dia menggeleng. "Ada. Banyak sekali hubungannya."

Aku menghela napas. Aku sudah berusaha untuk bersabar sejak tadi, sejak namja yang bernama Jung Daehyun ini membawaku ke cafe. Kau bahkan baru bertemu denganku 4 hari yang lalu, Tuan Muda Jung Daehyun! Bagaimana bisa kita memiliki banyak hubungan?

"Tak apa. Aku tahu kau kesal. Itu sudah dibuktikan dengan perbuatanmu 4 hari yang lalu." Oh, rupanya Jung Daehyun belajar dari pengalaman. Pintar. Anak baik, anak pandai, anak cerdas. Jangan sampai kau jatuh di lubang yang sama. Kalau iya, kau akan berpangkat lebih rendah dari keledai.

"Dan aku tak kaget mendengar kau lupa. 15 tahun itu memang waktu yang lama. 5.475 hari, 131.400 jam, 7.884.000 menit dan 473.040.000 detik memang sanggup membuat ingatan seseorang memudar. Atau, kau amnesia."

Hei Jung Daehyun. Apa kau memasukkan kalkulator dalam otakmu? Atau kau memang sudah merencanakan pembicaraan ini? Hebat. Rencanamu berjalan dengan mulus. Ayo, kejutkan aku lagi. Aku sudah tak sabar dengan pertunjukanmu yang di luar nalar manusia itu. Dan aku akan mengejutkanmu dengan garpu yang tiba-tiba tertanam di mata seorang Jung Daehyun.

Sigh. Yoo Youngjae, tenanglah. Tarik napas, buang. Tarik napas, buang. Isi semua pikiran di otakmu dengan hal-hal yang menyenangkan. Cotton candy, pancake, masakan umma, chocolate, ice cream, ladang bunga, unicorn, pelangi, awan, sunset. Aaaaah apa lagiii... Buang semua pikiran negatif yang mendominasi otakmu Yoo Youngjae!

"Jadi, Tuan Muda Jung Daehyun, apa yang mau Tuan Muda lakukan untuk mengembalikan ingatanku?"

Jung Daehyun terkekeh. Bahunya bergerak naik-turun karena tawa yang tertahan. "Jadi begitu caramu memanggilku?"

Aku mengangguk. Menggigit bibir bawah. "Ne, ada masalah? Aku punya hak untuk memanggilmu apa saja kan?"

Senyuman mengembang di wajah Jung Daehyun. Dia merasa puas? Hm. Mungkin ini saatnya aku menyulam tali pertemanan dengan namja aneh ini. Yahh memulai semuanya dari awal. Meskipun aku tahu kadang aku harus menjaga jarak dengannya. Teman juga memiliki batasan.

"Kau tak berubah, Youngjae-ya."

Detak jantungku dipercepat tanpa izin. Pupil mataku mengecil.

"Youngjae-ya?"

Kepalaku langsung sakit. Tanganku spontan mencengkram kepala, menyusup di antara rambut hitam yang berantakan. Napasku memendek. Pandangan mataku kabur. Dan telingaku samar-samar menangkap suara panik Jung Daehyun. Suara panik sang tetangga baru.

Lalu gelap.

.

.

Aku menarik napas panjang, menahannya di dalam paru-paruku. Gigi menempel dengan bibir bawah yang agak berdarah. Alis bertautan. Keringat dingin mengucur deras. Tengkuk terasa panas. Rasanya ada makhluk tak kasat mata yang dengan seenaknya menghembuskan napas di bagian belakang leherku. Menggodaku.

Pisau sudah menempel di pergelangan tangan. Seakan menunggu kapan dia akan bertemu dengan urat nadiku, menyobek pembuluh darah, lalu membanjiri tubuh dengan cairan merah pekat. Membuat jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya.

Suara daun pintu dibanting.

"Hyung?! Apa-apaan?!"

Junhong? Bagaimana dia bisa ada di sini?

Dia mencengkram tanganku yang menggenggam pisau. Wajahnya memerah, kecapekan. Napasnya terengah-engah. Raut wajahnya penuh dengan rasa kekhawatiran. Dia lari ke sini? Apa jurus yang dia gunakan untuk mengetahui apa yang kulakukan detik ini?

Tidak. Aku tidak mau. Aku sudah capek dengan rasa sakit yang sudah menggerogoti otak sialanku. Aku tidak bisa mundur. Iblis dalam tubuhku sudah bangkit, dan siap mengambil alih.

"Hentikan Junhong! Kau menghalangi!"

Matanya membulat. Kaget. Aku bisa melihat pantulan bayanganku sendiri di matanya yang tanpa dosa dan angelic itu. Aku melihat... Setan? Psikopat? Penjahat? Kriminal? Semuanya sama saja. Aku melihat Yoo Youngjae. Si buruk rupa.

"Hyung. Apa-apaan? Kenapa hyung harus bunuh diri?"

Aku membuang muka. Aku tak sanggup menatap wajahnya. Apa aku sudah melukai perasaan Choi Junhong? Namja cantik dengan hati sebaik malaikat? Teman yang sudah ku anggap adikku sendiri? Dan Choi Junhong sudah melihat dengan mata yang tertempel di kepalanya detik-detik menuju acara terpotongnya urat nadi Yoo Youngjae?

"Hyung..." Junhong menggenggam tanganku lagi. Suaranya begitu lembut, selembut kelopak bunga yang terjun di genangan air yang jernih.

Entah. Tubuhku di luar kendali. Suara Choi Junhong yang lembut malah menimbulkan guncangan hebat di dalam diriku. Yoo Youngjae memang sangat aneh.

Aku menepis tangan Junhong. Membuat pisau itu menggores bahu kanannya.

Setelah itu, kepalaku sakit. Badanku lemas. Indra pengelihatanku memudar. Dan aku mendengar teriakan dari Junhong. Penuh air mata. Dan darah mengucur deras dari lengan kemejanya. Mengotori kemeja yang tadinya berwarna biru menjadi merah darah.

Dan itu disebabkan oleh Yoo Youngjae.

Kau hina sekali Yoo Youngjae.

.

.

Wish no. 4 = Mengulang waktu.

.

.

Suara mesin mobil. Suara angin yang dibelah. Suara aspal yang bergesekan dengan ban. Aku berada di dalam mobil? Kornea mataku kerepotan mengatur banyaknya cahaya yang masuk. Silau.

"Sudah bangun?"

Jung Daehyun. Namja itu duduk di sampingku, dengan tangan yang menggenggam stir. Dan pakaian yang berbeda dengan tadi pagi. Saat ini, dia mengenakan hoodie berwarna abu-abu dan celana jeans. Dan aku masih mengenakan T-shirt coklat yang memamerkan kulit pucatku. Mungkin lain kali aku harus membaca majalah fashion agar bisa menyembunyikan kulit pucat Yoo Youngjae yang seperti mayat.

Aku mengangguk pelan, lalu meregangkan tubuh. "Kita... Kemana?"

Kulihat sisi jalan sebelah kiri. Penuh pohon tinggi, agak suram kalau saja matahari yang saat ini sedang memamerkan sinarnya dimatikan. Panorama didominasi warna hijau dan coklat. Dan biru langit dan putih awan yang bertumpuk-tumpuk seperti popcorn.

Dia menoleh, menatapku. Alisnya terangkat, dan dia menyungging senyum. Bibir penuhnya yang membentuk senyuman mendongkrak level ketampanan namja ini. Uukh Youngjae kau berpikir apa.

"Menuju masa lalumu."

Helaan napas berhasil kabur dari mulut. Aku menunduk, menatap tungkai kakiku yang terbalut celana jeans. Capek. Sampai kapan aku harus meladeni namja ini? Dan sekarang aku diculik?! Diculik oleh tetanggaku sendiri?! Hebat. Luar biasa. Benar juga kata orang-orang; hati-hati pada semua orang, bahkan orang yang paling dekat sekalipun.

"Tenang, aku membawa obatmu. Dan aku membawa 1 box air mineral untuk jaga-jaga."

"Bukan itu masalahnya Tuan Muda Jung Daehyun pabo kau menculikku?!" Nada suaraku meninggi. Aku mengucapkan kalimat itu tanpa jeda. Maaf, aku sudah tak bisa menahannya lagi.

Dia terkekeh. Mengembangkan senyumnya yang –euuungh entahlah. Senyum yang mempu membuat bumi meleleh. "Menurutmu?"

Tangan sudah mengepal. Buku-buku jari sudah memutih. Pusatkan semua energi ke kepalan tangan kanan. Atur kecepatan dan banyaknya tekanan yang akan diberikan. Anilisis bagian yang berpotensi menerima rasa sakit paling besar. Siap-siap saja kau Jung Daehyun. Ah bercanda. Kau harus ingat, aku ini Yoo Youngjae. Penyakit sialan ini menghisap energi tubuhku. Aku ini lemah.

"Ani. Tentu saja tidak. Aku sudah minta izin umma-mu."

Aku menghela napas, lagi. Lihat? Kalau aku harus melayani namja ini 24 jam kedepan, kau bisa menemuiku di rumah sakit jiwa. Namja ini membuatku stress! Capek! Gila! Akh aku lebih memilih untuk mati saat ini juga. Apa aku harus membuka pintu lalu jatuh di jalan lalu ditabrak mobil lain?

"Hei."

"Hm?"

"Maaf soal jari tengah dan 4 huruf yang kuucapkan tadi pagi. Semuanya di luar kendaliku."

Dia bergeming. Matanya mengerjap beberapa kali, masih terfokus pada permadani hitam dan garis putih yang membentang sejauh mata memandang, lalu seperti dimakan oleh dashboard mobil. Dengan sangat aku sadari, dia tersenyum. Oh kumohon jangan tersenyum. Itu membuat wajahku memanas. Hentikan hentikan. Yoo Youngjae menyerah.

"Kan aku sudah bilang. Tak apa."

Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh di lubuk hati saat dia berkata begitu. Aku ini memang aneh. Bisa-bisanya mengucapkan kata kasar di depan tetangga baru yang harusnya kuhormati. Dan lagi, sebelum officially dia menjadi tetanggaku, aku sudah mengacungkan jari tengah di depan batang hidungnya. Hebat.

Senyumannya memudar. Dia seperti memikirkan sesuatu, alisnya bertautan dan dia menggigit bibir bawahnya. Memikirkan apa? Jari tengah? Tapi tadi dia bilang tak apa kan? Kenapa ekspresinya menyiratkan... Kesedihan? Kebimbangan? Entahlah. Sejenis itu. Aku tak pandai membaca suasana hati orang.

Kelopak mataku memberat. Seperti ada beban yang menggantung di setiap bulu mataku. Aku tak mau tidur. Aku takut namja ini akan melakukan hal-hal yang tidak kuharapkan. Aku harus selalu waspada. Lagi pula, tadi aku baru bangun dari pingsan, kenapa aku bisa mengantuk sekarang?

Choi Junhong.

Otakku memutar kejadian itu lagi. Membuat kepalaku sakit.

Dia namja yang tak bisa kutebak. Seperti Jung Daehyun.

Kebaikan hatinya membuat luka di hatiku mendalam. Entah apa yang dia inginkan.

.

.

Mataku mengerjap-ngerjap. Agak perih. Ah. Aku tertidur. Menyebalkan ya, kalau kita tidak tahu kapan akan tidur. Aku jadi tidak bisa menjenguk kumpulan awan putih tak berdosa di langit yang luar biasa cerah tadi. Huft.

Sepi. Mesin mobil dimatikan. Dan jendela terbuka, membiarkan angin dingin mengiris kulitku. Sudah malam. Bisa dibuktikan dengan suara jangkrik dan warna hitam yang menguasai pemandangan. Kalau menajamkan telinga, aku bisa mendengar desiran ombak yang menabrak karang. Tunggu. Ombak?

Aku menghela napas. Apa lagi yang direncanakan Jung itu? Membawaku ke laut? Malam-malam? Kh. Kalau dia berusaha romantis, ide ini sudah pasaran. Dan nanti dia akan bilang, 'Kenapa? Dingin?' sesuai dengan skenario, lalu memelukku, dan mengucapkan kata-kata romantis, gombalan. Atau mungkin dia ingin membunuhku karena muak dengan si buruk rupa ini, menenggelamkanku lalu tersenyum puas saat aku sudah kehabisan napas di dalam air yang asin.

Pintu mobil tidak dikunci, aku keluar dengan langkah berat. Sedikit menggosokkan tangan ke bahu karena suhu yang tak bisa di toleransi lagi. Bibirku membeku. Hei ini bukan kode. Aku tak ingin mencium Jung pabo itu. Menjijikkan.

Suara langkah kakiku terdengar. Menginjak rerumputan, menimbulkan gemerisik yang menggelitik telinga. Semoga saja kakiku tidak menginjak para jangkrik yang sedang bernyanyi riang, memecah kesunyian malam. Hanya ada langit hitam dengan bintang menyebar ke seluruh penjuru. Pepohonan tinggi mendampingi di sisi kanan dan kiri, menyimpan misteri di dalamnya.

"Jung?"

Mungkin pita suaraku terlalu kering untuk menghasilkan suara yang lebih lantang. Terakhir kali aku minum saat di cafe tadi siang. Aduh. Mungkin aku dehidrasi. Tapi namja yang sedang duduk memunggungiku itu tampaknya memiliki pendengaran yang peka.

Dia menoleh. Rambut coklatnya bersinar, memantulkan sinar bulan yang redup. Matanya menarikku masuk kedalam dunia yang dia ciptakan, dunia yang tak pernah diketahui, membuat otakku berteriak minta tolong. Senyumnya mengembang. Seakan melawan rasa dingin yang sedari tadi menguasai tubuhku.

"Apa aku membangunkanmu?"

Aku membisu. Entah karena otakku membeku, atau otakku terlalu sibuk mengisi sisa memorinya dengan segala hal yang berhubungan dengan namja di depanku ini. Dasar bandel. Akan kuhukum kau nanti, wahai otak Yoo Youngjae pabo.

Tapi, wow. Apa dia tidak takut jatuh? Menantang maut? Duduk dengan santainya di tepi tebing terjal, dan laut yang siap menagkap kapan saja, jangan lupakan kumpulan karang dan batu besar yang bertengger di dasar laut akan membentur tubuhnya, mungkin seluruh ruas tulang punggungnya akan retak, kemudian hancur menjadi serpihan debu. Atau kepalanya akan pecah, lalu membubuhkan warna merah pekat di air laut yang bening.

Oh. Sudahlah. Kenapa sekarang aku jadi mengkhawatirkan namja itu? Tetangga baru Yoo Youngjae, seorang Tuan Muda Jung Daehyun? Apa dia memiliki peran penting dalam sejarah hidupmu, Yoo Youngjae? Oke mungkin pangkatnya sudah naik, 'tetangga'. Ajaib. Dunia memang penuh dengan kejutan.

Dia menengadah. Menoleh ke arahku, lalu menepuk-nepuk rerumputan di sampingnya. Itu isyarat. Isyarat agar aku duduk di sampingnya. Lihat? Dia mulai menjalankan skenarionya. Kau tidak kreatif Jung Daehyun.

Bola mataku berputar. Aku mendesah pelan. Apa aku harus menuruti perintahnya? Lebih baik aku terjun dari tebing ini. Merasa sakit sebentar, lalu mati. Oooh lumayan juga mati di tempat ini. Arwahku akan tenang. Dan umma tak perlu repot-repot menebar abu kremasiku di laut.

"Tenang saja. Aku tak akan membiarkanmu jatuh."

Oh. Oke. Kata-kata bijakmu sudah membangkitkan rasa tenangku. Terima kasih Tuan Muda Jung Daehyun. Sekarang aku sudah siap mati, dijemput malaikat maut, lalu aku akan menghantuimu. Nah, puas? Aku sudah duduk sekarang. Di samping Tuan Muda. Ini sebuah kehormatan untukku, terima kasih lagi, gomawo.

Duduk disamping Jung Daehyun memang aneh, tidak nyaman. Seharusnya aku tidak mengikuti instruksi, tetap duduk dimobil, lalu tidur. Tidur tidur, dan tidur.

Seperti habis mengikuti Rodeo, jantungku berdegup kencang, berguncang hebat. Disaat yang sama aku juga dipenjara, narapidana. Gerak tubuhku menjadi kaku dan tak leluasa, seperti ada jeruji besi yang membelengguku. Aku memejamkan mata, berteriak 'HEI SELURUH ORGAN YOO YOUNGJAE TENANGLAH!' dalam hati sambil meremas dada. Dan aku tahu teriakan tadi hasilnya 0. Nilai merah.

Jung Daehyun menengadah. Mempersilakan angin darat tak terlihat menyentuh kulit. Retinanya menerima bayangan langit berglitter dengan bulan purnama tepat di atas kepalanya. Kulitnya terlihat agak biru, mungkin karena pantulan air dan sinar bulan. Tidak sepertiku yang memang sudah pucat seperti mayat.

"Jadi, Youngjae-ya. Kau sakit apa?"

Dia tidak tahu? Apa umma tidak memperingati bahayanya bersama dengan si buruk rupa, Yoo Youngjae?

Aku menghirup napas panjang. Bau rumput dan air laut menusuk hidung.

"Kanker otak."

Jung Daehyun melirikku. Tatapannya membuatku gugup. Aku menaikkan bahu, "Kenapa? Kau kaget dengan rambut yang masih menempel di kulit kepalaku? Tidak semua orang kanker kepalanya botak."

"Bukan. Kau hanya... Terlihat sehat."

Hei tetangga baru Yoo Youngjae. Baterai otakmu habis atau lidahmu yang error atau matamu yang sudah harus diganti? Banyak sekali tanda-tanda yang membuktikan Yoo Youngjae itu sekarat. Kulit pucat, tubuh kurus, garis hitam di bawah mata, tidak punya tenaga, otak tak sanggup berpikir, sakit kepala menyerang kurang lebih 3 kali sehari, dan pabo. Sebetulnya masih ada seribu satu tanda lain, tapi aku malas.

"Apanya? Aku sekarat, Tuan Muda. Kanker itu penyakit dalam, tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tuan Muda harus membelah tengkorakku dulu kalau mau melihat sel-sel sialan itu."

Jung Daehyun membulatkan mata. Aduh. Aku tak ingin melihatnya, tapi, uukh, mataku bandel. Dia terlihat imuuuut sekali. Tuhan, inikah cobaan untukku?

"Tapi.." Jung Daehyun menyipitkan mata, memamerkan senyum, lalu menengadah. "Ah sudahlah."

Dia menghela napas selagi aku memutar bola mata. Dasar aneh. Kata-kataku terbukti kan? Aku harus menjaga jarak dengan namja ini. Aku memang aneh, tapi dia ini keterlaluan. Energi yang sudah terkuras lebih banyak 1000% gara-gara meladeni seorang Tuan Muda Jung Daehyun. Hitung saja sudah berapa kali aku menghela napas hari ini.

Memeluk lutut, dingin sudah menggerogoti tulang seperti rayap menggerogoti kayu. Ide gila yang tiba-tiba saja ada di otakku: berkata 'Jung, aku kedinginan.' Itu sama saja dengan bunuh diri. Dipeluk oleh namja yang membuatku muak 4 hari yang lalu? Dipeluk oleh tetangga baru? Dipeluk oleh namja yang mengaku memiliki hubungan dengan si buruk rupa? Waw.

Rambut Jung Daehyun bergerak beriringan dengan angin malam. Rambut coklat yang memantulkan sinar bulan yang redup. Rambut coklat yang selama ini membuat kepalaku sakit. Rambut coklat yang mengingatkanku akan batang pohon pine.

Ukh. Kepalaku sakit lagi. Sialan.

Tapi aku tak mampu bangkit lalu mengambil obat di mobil. Entah, aku merasa.. Tidak mau. Bukannya aku malas. Yang harus kau ingat, seluruh tubuhku ini bandel. Mataku sudah terpaku pada pesona Jung Daehyun. Jadi, otak Yoo Youngjae, biarkan mata Yoo Youngjae merileksasi otot-ototnya sebentar lagi. Orang-orang bilang, cuci mata.

Aku menghela napas. Rasa sakit di kepalaku belum pergi. Menangkup pipiku yang memerah. Lalu menengadah.

Bulan tersenyum. Ada jutaan bintang yang menatapku dan Jung Daehyun. Air laut masih berombak dan angin masih bertiup. Deretan pohon tinggi menjulang, berniat untuk mencakar langit. Suara jangkrik terdengar jelas. Rumput tertipa beban tubuhku, tapi mereka tidak mengeluh atau berontak.

Angin dingin bertiup. Surai depanku bergerak. Mataku terpejam.

.

.

Wish no. 5 = Memandangi bintang

.

.

.

.

.

TBC

YEEEEEEEAAAAAAAAAHHH DAEJAE MOMENT STARTS HEEERE! *plakk*

Lebih gaje dari chapter 1 kan? Tangan D bergerak sendiri. Salahkanlah tangan D.

SANGATSANGATSANGAT BERTERIMAKASIH BUAT YANG UDAH REVIEW YA AMPUN D BAHAGIAAA SINI D PELUK *plakkplakkplakk*

Reviewnya jangan lupa neeee X"D