Hello! First fic nih…
Sebenernya kemaren itu udah bikin tapi karena beberapa hal, aku hapus. Tapi, sekarang aku ganti sama cerita yang baru. Semoga semuanya suka ya! Maaf kalo ada typo atau salah-salah kata.
It's all belongs to J.K. Rowling! Dan aku hanya bikin fanfic supaya cerita Harry Potter gak memudar walaupun udah abis :)
Nah, kemaren ada yang review kalau dia masih bingung sebenernya Carlisle itu siapanya keluarga Malfoy, ehehe… mungkin jawabannya makin jelas lagi di chapter yang ini.
Hope you enjoy it!
. . . .
"Mulai!" seru Professor Dung semangat. Lily mencengkeram tongkat walnut 12 inchinya erat-erat, mengarahkannya tajam ke kakak kelas laki-laki lawan berduelnya.
"Stupefy!" seru Scorpius. Sekelebat cahaya merah muncul dari ujung tongkat yang dipegangnya ke arah Lily. Lily mengelak dengan cepat, "Petrificus Totalus!" balas Lily. Scorpius bergerak cepat menghindari serangan Lily, "Expelliar-" Scorpius terhenti dan jatuh mematung. Serangan bertubi-tubi Lily ternyata berhasil. Seluruh anak kelas satu bersorak sorai merayakan kemenangan Lily. Professor Matthew Dung bertepuk tangan keras-keras sebelum dia mengembalikan Scorpius ke keadaan semula. Scorpius juga ikut memuji kecepatan serangan Lily. Mereka bersalaman, dan entah kenapa ada sesuatu didalam perut Lily yang melompat-lompat ketika menyentuh tangan pucat Scorpius.
"Baiklah, selanjutnya Albus Potter versus Abraham McCostner!" Professor Dung kembali memanggil pasangan untuk duel. Kali ini Albus melawan anak kelas 4 yang secara spesial diundang Professor Dung menghadiri klub. Abraham adalah remaja jangkung dan kurus. Wajah kotaknya dihiasi brewok yang baru saja tumbuh. Ia mirip kambing kurus.
Albus disoraki oleh semua penggemar dan saudara-saudaranya, termasuk Teddy yang sedari tadi juga menonton duel Lily melawan Scorpius. Albus gemetaran, Ia sebenarnya tahu mantra-mantra yang digunakan anak-anak kelas empat, dan dia juga bisa mempraktekkannya, tapi Ia tidak boleh melakukan mantra kelas empat atau hukumannya akan sangat berat.
Albus menguatkan dirinya untuk berdiri dan melihat orang yang mungkin 2 kaki lebih tingi darinya.
Tanpa basa-basi langsung saja Abraham meluncurkan serangan pada Albus, "Stupefy!" seru Abraham.
Albus dengan gesit menghindari lawannya. Abraham hendak menyerang lagi, tapi… "Immobulus!" Albus bergegas.
"Protego!" serangan Albus tertahan oleh semacam selaput-tidak-kelihatan.
"Tarantalegra!"
"Expelliarmus!" Albus meneriakkan mantranya hampir bersamaan dengan Abraham. Tongkat Abraham terbang, terlempar entah kemana, Albus berhasil melucuti senjatanya.
Semua orang bertepuk tangan riuh. Albus jadi malu-malu saat Abraham menepuk kepalanya dan bilang kalau Ia sangat berbakat.
"Albus!" seorang gadis memanggil namanya setelah klub selesai. Rambut gadis itu hitam legam, ada perban di pergelangan tangannya sampai ke siku, Carlisle.
"Ya?" Albus menjawab asal saja. Ia tidak mengenal gadis ini.
"Kau hebat sekali," kata gadis itu. Albus tersanjung mendengar pujian dari seorang senior cantik.
"Ya, terimakasih, tapi apakah kau bagian dari klub?" Albus bertanya. Ya, mana mungkin gadis ini bisa tahu sementara klub duel baru saja selesai? Tapi, Albus juga berani bersumpah dalam hatinya kalau Ia tidak pernah melihat gadis ini di klub seumur hidupnya.
"Aku… ya," Carlisle menjawab ragu-ragu. "Omong-omong, aku Carlisle, senang bisa bicara denganmu Albus," Carlisle melambaikan tangannya kecil ke arah Albus dan berbelok ke lorong menuju aula besar. Albus masih tercengang melihat sikap aneh Carlisle, tapi biarpun begitu Ia cantik sekali, bahkan mungkin kecantikkannya bisa menandingi Victoire.
"Wow! Bagus sekali, Dik!" James menepuk pundak Albus dari belakang. Albus menoleh dan mengernyit, "Bagus apanya?"
"Dia itu pacarnya Teddy dua tahun lalu, cantik bukan? Memang, Teddy selalu begitu," James merangkul adiknya itu dan ikut berjalan ke Aula Besar.
"Kau ini kenapasih pegang-pegang begini? Biasanya kau malu kalau dekat-dekat aku," Albus memandang kakaknya. "Kaukan baru menang duel, siapa tahu saja aku jadi makin terkenal kalau dekat-dekat denganmu," jawab James. Albus buru-buru melepas rangkulan kakaknya. Sok membersihkan jubahnya. James menonjok belakang kepala Albus.
"Hey, Lily! Kau boleh saja suka pada Scorpius, tapi jangan lupa makan!" seru James. Suaranya besar sekali sampai beberapa orang menengok ke arahnya. Lily menimpuk James dengan bola-bola cokelat di piring – satu-satunya barang yang ada di depannya. James tertawa mengejek. "Diam kau, James! Aku tidak suka pada Scorpius! Kenal saja tidak," Lily cemberut. James memasang wajah pura-pura memelas "Lalu, mengapa daritadi kau melihat ke arahnya terus? Cari kutu?" timpal James. Lily melempar bola cokelatnya yang kedua dan tepat mengenai dahi James. Albus, Hugo, Rose dan Felicia, teman sekamar Lily tertawa terbahak-bahak. Sekarang gantian, James yang cemberut. Tristand dan Jet, sahabat James yang duduk di sebelahnya juga ikut tertawa. "Tidak lucu, ya. Sama sekali tidak lucu," James memutar bola matanya.
"AAAAAAAAARRGH!" terdengar jeritan seseorang dari luar Aula. Semua orang yang daritadi sedang makan dan bercengkrama tiba-tiba berhenti. Teriakan itu datang lagi, "AAAAAAAAAAARGH!" lebih keras kali ini, hampir menyamai teriakan Banshee. Para guru panik dan segera keluar dari Aula Besar menuju sumber suara. Anak-anak murid membuntuti mereka dari belakang.
Tentu saja, James dan Albus paling pertama berdiri. Lily, Hugo dan Rose mengikuti mereka setelah beberapa saat, Felicia, Tristand dan Jet memutuskan untuk tetap tinggal. Lily, Hugo dan Rose menerobos keramaian mencari James dan Albus yang berada di depan. Lily langsung menepuk punggung James ketika menemukannya. Lily terkejut bukan main melihat murid kelas 7 terkapar bersimbah darah. James memeluk Lily. "Jangan lihat, Lily. Ayo kita kembali ke Aula," James menarik Lily dan Albus cepat-cepat dari tempat itu, diikuti oleh Hugo dan Rose juga. Mereka kembali duduk di Aula Besar yang lebih sepi dibandingkan sebelumnya.
Lily menunjukan wajah ingin menangis setelah melihat kejadian itu.
"J-James, dia kenapa?" Lily meneguk jus labu yang disodorkan Rose kepadanya.
"Entahlah, Lily. Sebaiknya setelah ini kita kembali ke kamar," Rose menjawab dengan bijaksana.
. . . . .
"Apa? Hogwarts diserang?" Harry terkejut mendengar kabar dari Jesse, salah satu auror bawahannya. "Ya, Sir. Korbannya seorang murid kelas tujuh bernama Mathilda Brown. Tidak ada yang salah dengan asal-usulnya. Tapi, hari itu Ia terlambat mengikuti makan malam," Jesse menjelaskan. Harry cemas, apakah Pangeran Kegelapan muncul lagi? Atau jangan-jangan hal yang paling ditakuti oleh semua orang, Pangeran Kegelapan yang baru muncul lagi? Harry segera teringat dengan ketiga anaknya dan putra baptisnya yang sekarang berada di Hogwarts. Bagaimana dengan anak Weasley lainnya? Keponakan-keponakannya? Memikirkan ini, Harry semakin frustasi.
"Ada lagi? Teruskan Jesse, aku ingin dengar," Harry menjawab. Jesse mengangguk patuh dan kembali menjelaskan, "Mathilda murid asrama Ravenclaw. Ia diserang dengan kutukan dan jampi memori yang hebat."
"Jampi memori? Pasti anak itu melihat sesuatu dari orang yang menyerangnya sebelum itu," Harry menganalisa. Jesse mengangguk, "Begitu juga perkiraannya. Tapi, kami tidak dapat membuktikan apapun sebelum mendapat keterangan yang jelas dari Mathilda dan saksi mata juga masih dicari."
Harry mengangguk-angguk dan mulai mencatat. Perasaannya bercampur aduk antara panik dan terkejut. Tapi, Ia harus tetap tenang dan waspada. Begitulah yang selalu dikatakan Moody.
Jesse menyentuh telinganya dan berbicara. Alat itu radio, alat buatan muggle yang bisa digunakan untuk berbicara jarak jauh. "Sir, Mrs. McGonagall sudah menunggu anda di luar," katanya segera. Harry menghela napas, "Cepat panggil dia masuk." Jesse mengangguk patuh lagi, Ia membuka pintu ruangan yang terbuat dari kayu ek dan keluar. Terdengar bunyi debaman pintu yang tertutup.
Semenit kemudian pintu kembali terbuka dan seorang wanita paruh baya, masuk ke kantor Harry. Harry langsung menyambut wanita itu, membalas pelukannya.
"Harry, kau harus ke Hogwarts sekarang, aku butuh kau untuk bicara dengan staf lainnya. Aku sudah bicara pada Menteri Helena Rosseau dan Ia menyetujuinya. Kami sungguh butuh kau, Harry," McGonagall bicara pada Harry sedikit panik, tapi tetap dengan gaya khasnya.
"Baik, Professor," jawab Harry langsung meninggalkan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Ia menekan telinganya dan berbicara, "Ron, gantikan aku, aku harus segera ke Hogwarts, kau yang mengatur selama aku pergi," lalu Harry diam. Beberapa detik kemudian terdengar jawaban Ron. Harry buru-buru melepas radio di telinganya.
"Sekarang Harry, pegang tanganku, kita akan ber-Apparate," McGonagall menggenggam tangan Harry. Terdengar bunyi pop dan Harry beserta McGonagall berpusar. Harry sudah terbiasa dengan sensasi Apparate ini.
Pusaran memusingkan itu berhenti dan Harry membuka matanya. Bau khas dan lorong yang sangat dikenalnya, selama beberapa detik Harry merasakan lagi kehangatan 'rumah'. Tapi, McGonagall cepat-cepat menarik tangan Harry ke ruang kepala sekolah.
Tempat itu tidak banyak berubah seperti yang Harry kira. Sepasang patung Gargoyle masih berjaga-jaga di depan kantor kepala sekolah dan sebuah tangga melingkar juga pasti masih berada dibaliknya. Tidak berubah satu senti pun bagi Harry. Harry tersenyum, Ia tidak pernah menyangka bahwa setelah pertempuran itu, Ia bisa kembali kesini. Ia membayangkan bahwa seorang laki-laki paruh baya akan menyambutnya, menatapnya jenaka dari balik kacamata bulan-separonya dan bilang bahwa Ia akan baik-baik saja. Tapi, saat Ia masuk, ada sekitar selusin orang sudah menunggunya, dan Dumbledore hanyalah sebuah lukisan yang sedang tertidur.
Semua orang dalam ruangan itu wajahnya berseri-seri melihat kedatangan Harry. Wajah bundar Neville juga terlihat di sebelah kanan ruangan, melambai kecil pada Harry. Harry tersenyum membalas lambaiannya.
"Baiklah, aku tahu kalian ingin sekali bercengkrama dengan Harry, tapi sebaiknya kita membicarakan masalah utamanya dulu," ujar McGonagall. Seluruh ruangan mengangguk setuju. McGonagall duduk di kursi kepala sekolah. Seperti sudah dikontrol, para guru serta staf berdiri mengelilingi kursi McGonagall. Harry mencari tempat untuk berdiri di sebelah Neville.
"Harry, kau sepertinya sudah tahu masalahnya," Mcgonagall memulai pembicaraan, "Dan aku pastikan dari sekian banyak murid di Hogwarts hanya satu yang berani melakukannya."
"Tentu saja, tapi tidak menutup kemungkinan orang dari luar yang melakukannya," Harry menjawab.
"Tapi, ada satu orang murid Harry, yang terlambat masuk aula saat itu," Neville mulai bicara."Siapa itu Neville?" tanya Harry.
"Seorang murid Slytherin bernama Carlisle Mulligan," jawab McGonagall mantap. Mulligan? Nama itu terasa familiar di telinga Harry. Oh, tidak. Mulligan adalah nama salah satu Pelahap Maut yang telah ditangkap oleh kementrian.
"Mulligan itu... Pelahap Maut bukan? Dia anak Pelahap Maut?" Harry setengah tidak percaya tentang apa yang ia ucapkan. Ia tidak pernah memikirkan anak seorang Pelahap Maut disini.
"Ya, dan seperti yang tentu saja kau tahu, keluarganya telah tertangkap. Tapi, apakah kau tahu bahwa Mulligan memiliki seorang bayi?" McGonagall menjawab. Harry terpukul seperti ada beratus kilo besi yang menghantamnya. Kementrian memasukkan semua Mulligan (karena semuanya pelahap maut) ke Azkaban. Dan anak itu masih bayi, anak itu hidup sendiri. Harry menelan ludah dengan paksa membayangkan hal itu.
"Dan siapa yang merawatnya?" tanya Harry. McGonagall berdiri dari kursinya. "Malfoy, Harry. Keluarga Malfoy."
Malfoy? Pastilah gadis berambut hitam itu yang dimaksud para guru. Keluarga Malfoy mengasuh anak itu karena mereka sama-sama Pelahap Maut. Mungkin itu yang membuat gadis itu memanggil Draco hanya dengan namanya, karena Ia menganggap Draco kakaknya. Harry mengangguk dan mulai menjelaskan bagaimana Ia bertemu dengan anak itu di King's Cross.
"Ya, Harry. Itu dia, gadis berambut hitam itu Carlisle," ujar Slughorn setelah Harry selesai menjelaskan. Harry puas, mengetahui kecurigaannya tidaklah sia-sia.
"Bagaimana sikapnya di sekolah?" Harry menatap sekelilingnya, berharap salah satu dari mereka akan menjawab secepatnya. Harry jadi lebih menggebu-gebu.
"Ia pintar, sangat pintar, di atas rata-rata, nilainya bahkan bisa dibilang… menyaingi nilai Tom dulu. Ia juga cantik, banyak anak laki-laki yang ingin mengencaninya. Tapi, Ia sangat dingin, Harry, pendiam sekali anak itu. Satu-satunya anak laki-laki yang berhasil mendekatinya adalah Teddy Lupin," Neville menjawab ikut bersemangat.
"Teddy?" Harry mengernyitkan dahinya, bingung. Segera saja Professor Dung menjawab. "Dua tahun lalu, sekarang mereka sudah seperti saling tidak mengenal."
Harry mengangguk lagi melihat seorang Professor muda di Hogwarts. Jarang sekali. McGonagall dengan sigap, seperti bisa membaca pikiran Harry, memperkenalkan Professor Dung kepadanya, "Professor Matthew Dung, Harry. Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Mengajar disini sejak 8 tahun yang lalu."
Harry menjabat tangan Dung, "Kau kenal baik Teddy?"
Professor Dung tersenyum kecil, "Sangat, Harry. Ia anak yang baik, tapi Ia tidak cerita apa-apa padaku saat mereka semakin lama semakin menjauh," Professor Dung mengerling ke arah McGonagall yang seperti membuat sinyal. "Malam itu Mr. Potter, Carlisle terlambat masuk Aula. Itu sudah biasa. Perilakunya di dalam Aula juga normal-normal saja. Dingin, seperti biasanya. Dan lima menit kemudian terdengar jeritan itu," Professor Dung melanjutkan. Harry kembali berpikir, menganalisa, menghubung-hubungkan dengan kejadian lainnya. Andai Hermione disini, mungkin semuanya bisa lebih mudah.
"Dimana anak itu sekarang?"
"Di St. Mungo, jampi memorinya hebat sekali, Harry, entah apakah ingatannya masih bisa kembali atau tidak," Professor Dung kembali menjawab. Mendengarnya, Harry kembali merasa ragu-ragu bahwa pelakunya adalah gadis berambut hitam yang bertemu dengannya di King's Cross 2 bulan yang lalu.
"Kalian yakin gadis itu mampu melakukan hal semacam itu?" Harry berusaha meyakinkan dirinya sendiri sekarang. Seluruh guru mengangguk keras-keras, wajah mereka tampak mantap dan yakin.
"Baiklah, aku akan menyelidikinya lebih lanjut kalau begitu," ujar Harry, sekaligus memberikan tanda kepada Professor McGonagall agar mereka bisa bicara berdua. McGonagall jelas menangkap maksud Harry. Ia segera menyelesaikan rapat.
"Baiklah, semuanya, rapat ditutup. Silahkan kembali bekerja," kata McGonagall. Sekali lagi, seperti dikendalikan mereka semua keluar dari ruangan hampir bersamaan. "Nanti kita bertemu lagi, Harry. Aku mau bicara soal anak-anakmu," Neville mencari kesempatan berbisik pada Harry. Harry mengangguk membalas perkataan Neville.
Pintu ditutup dan sekarang Ia hanya berdua dengan McGonagall, seperti dahulu saat Ia hanya berdua di ruangan ini bersama Dumbledore. Harry kembali menatap lukisan Dumbledore yang sedang tidur. Sekilas Ia merasa rindu, rindu sekali pada Dumbledore yang sudah Ia anggap sebagai kerabatnya sendiri. Kerabat terdekat yang selalu melindunginya. Yang lalu pergi meninggalkannya.
Seketika mata Harry terasa panas, Ia tidak tahu berada di ruangan ini menjadi hal yang begitu sensitif untuknya. Ia merasa lemah. Tidak, Ia tidak merasa lemah. Ia kembali menyentuh bekas lukanya, membayangkan bahwa Ia mulai merasakan kesakitan yang luar biasa dan Dumbledore menepuk punggungnya, merangkulnya, memastikannya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Tapi itu tidak terjadi, tangan seorang wanitalah yang menyentuh pundaknya, tangan McGonagall.
"Bukan hanya kau yang merindukannya, Harry. Kami semua merasakan hal yang sama," McGonagall menatap mata hijau Harry dengan penuh pengertian. Ia jadi merasa sangat kekanak-kanakan. Harry mulai mengalihkan pembicaraan mereka.
"Jadi, apakah ada sesuatu yang sudah kau rencanakan?" tanya Harry, berjalan meninggalkan lukisan Dumbledore. McGonagall kembali duduk di kursinya.
"Dekati anak itu, Harry. Cari informasi sebanyak mungkin tentang Carlisle," jawab McGonagall. Harry mengangguk, menandai bahwa Ia mengerti.
"Bagaimana kalau aku mendatangi Draco? Draco Malfoy?" Harry berbalik badan menuju meja McGonagall.
"Entahlah, Harry. Mungkin agak sulit membujuknya. Tapi, patut dicoba."
"Tapi, kalau memang anak itu sikapnya dingin, kenapa Ia bisa dejat dengan Teddy?"
"Itulah yang patut kau tanyakan, Harry. Tidak ada orang lain lagi yang bisa menanyakan hal pribadi seperti itu kepada Teddy."
"Dan… dimana anak-anakku? Dimana Teddy?" Harry langsung teringat oleh anak-anaknya.
"Anak-anakmu, ketiganya, sedang berlatih untuk pertandingan quidditch pertama mereka, Harry. Dan Teddy… mungkin sedang belajar," McGonagall tersenyum. Ia juga merasa waktu berjalan begitu cepat. "Boleh aku menemui mereka?" sahut Harry dengan cepat.
McGonagall menunduk mempersilahkan Harry untuk keluar. Harry segera keluar ruangan, setengah berlari, ke lapangan quidditch.
