Chapter 1

Mrs. Kim sedang menjelaskan rumus-rumus alegebra di papan tulis. Wanita itu menuliskan rumus dan sebuah contoh soal dengan cepat. Dia berbalik dan menatap muridnya yang menatapnya malas; ada yang melamun, ada yang tidur, ada yang bermain game, bahkan ada yang asik berbincang. Mrs. Kim mengehela napasnya. Mengajar di kelas F memang sangat melelahkan. Sekeras apa pun dia mencoba menjelaskan pelajaran, tidak akan ada yang mau dengar.

"Dengar ya," Mrs. Kim menjatuhkan buku Matematika yang sedari tadi dipegangnya ke atas mejanya dengan kasar. Hal itu menimbulkan suara yang cukup keras sehingga menarik perhatian murid-muridnya. "Tadi ibu sudah jelaskan bab 3, sudah ada contoh soalnya juga. Jadi, begini, minggu depan akan ada tes." Mrs. Kim berkata dengan nada marah. Sedetik kemudian seluruh kelas mulai mengomel.

"Tes? Ya sudahlah. Pasti aku dapat nol lagi." Anak laki-laki yang duduk di dekat jendela berkata sambil melanjutkan tidurnya.

"Apanya yang tes? Apa-apaan sih?" keluh gadis berambut cokelat di barisan kedua.

Mrs. Kim menghela napas lagi. Mengajar di kelas F memang sangat sulit. Semua murid kelas F tidak peduli dengan pelajaran. Mereka lebih peduli dengan kegiatan klub sekolah. Contohnya; klub basket, klub menari, klub drama. Semua kegiatan di luar kata 'membaca', 'berhitung', dan 'menghapal'. Mengajar di kelas F benar-benar sia-sia. Setidaknya murid kelas F punya sesuatu untuk bisa dibanggakan, itu adalah motto Mr. Jang, kelapa sekolah di SMA ini. Mrs. Kim menatap muridnya dengan tatapan kasihan. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang guru dan seorang guru pasti ingin muridnya berhasil.

"Mrs. Kim, bisa tolong jelaskan lagi?" tiba-tiba seisi kelas berhenti mengoceh dan menatap, Lee Sungmin; si anak baru dengan aura gelap, dengan tatapan mematikan. Apa katanya? Jelaskan sekali lagi? Apa dia tidak lihat seisi kelas sudah berjuang mati-matian menahan bosan sedari tadi? Dan dia mau itu terjadi sekali lagi? Yang benar saja!

"Ah, Sungmin? Ya, tentu saja bagianmana yang tidak kau mengerti?" Mrs. Kim langsung merasa hidupnya kembali memiliki arti. Setidaknya ada yang benar-benar memperhatikannya.

"Halaman dua puluh lima." Sungmin berkata masih dengan tatapan kosongnya. Gadis itu membalik bukunya dan membaca catatan kecil yang ditulisnya di sana.

"Ah? Ya? Yang mana?" Mrs. Kim betanya dengan semangat, bahakan dia sampai menghampiri tempat duduk Sungmin.

"Ini." Sungmin menunjuk bukunya. Mrs. Kim memperhatikan dengan seksama dan tersenyum.

"Baiklah, ibu akan berikan contoh soal lagi." Mrs. Kim berkata sambil kembali berjalan ke depan dan mulai menuliskan tiga soal alegebra.

Kyuhyun yang sejak kelas pertama dimulai sudah memperhatikan Sungmin, mengangkat alisnya. Si gadis dengan aura gelap punya niat untuk belajar? Sedari tadi Kyuhyun perhatikan, gadis itu hanya menatap papan tulis dengan datar dan Kyuhyun sedikit terkejut, "Ternyata gadis ini sedang memperhatikan pelajaran? Kupikir melamun." Pikir Kyuhyun dalam hatinya.

Sementara Mrs. Kim sedang sibuk dengan contoh soalnya, Sungmin menulis contoh soal itu dengan cepat tanpa mengalihkan pandagannya dari papa tulis. Kyuhyun sedikit kagum akan hal itu. Jangan-jangan gadis ini jenius. Bisa saja 'kan?

"Untuk soal yang lain, Kyuhyun? Bisa bantu?" Mrs. Kim berkata dari depan kelas dan Kyuhyun sibuk dengan pikirannya akan Sungmin. Kalau saja Sungmin tidak menoleh ke arahnya, Kyuhyun pasti akan terus mengabaikan Mrs. Kim.

"Kyuhyun? Kyuhyun?"

"Ah? Ya. Tentu saja Mrs. Kim." Kyuhyun dengan sedikit canggung maju ke depan dan menuliskan jawabannya. Lalu setelah kembali ke tempat duduknya Kyuhyun kembali menoleh ke arah kirinya dan memperhatikan Sungmin. Tadi waktu gadis itu mentapnya kenapa Kyuhyun merasa darahnya mengalir lebih cepat? Dia tidak pernah melamun namun, tadi dia baru saaj melamunkan seroang Lee Sungmin. Kyuhyun bersumpah tadi tatapan mata Sungmin menunjukan satu emosi yang Kyuhyun sendiri tidak benari menebak apa itu. Bisa saja harapan, atau mungkin rasa penasaran, atau tuduhan. Kyuhyun benar-benar tidak tahu tapi yang jelas, dia akhirnya melihat satu emosi lagi dari Sungmin.

"Sungmin," Kyuhyun memanggil gadis itu. Dia berniat untuk makan bersama di kantin. Namun gadis itu tetap menatap ke depan dan mencatat jawaaban yang tadi Kyuhyun tulis. "Sungmin," coba Kyuhyun lagi namun hasilnya tetap nihil. Kyhyun mengerutkan keningnya. Apa gadis ini tidak dengar? Tidak mungkin 'kan?

"Saat ada yang bertanya, jawablah dnegan baik. Saat ada yang memanggil, sahutlah dengan baik juga. Mengerti?"

"Ya?" Tiba-tiba gadis itu menoleh ke arah Kyuhyun dan meletakan pensilnya. Kyuhyun saja hampir tidak percaya kalau gadis itu akan menjawab.

"Mau makan bersama nanti sepulang sekolah?" Kyuhyun berbisik.

"Ya." Jawab gadis itu sambil kembali memfokuskan matanya ke papan tulisan dan mendengarkan penjelasan Mrs. Kim. Kyuhyun memang tidak mengerti Sungmin dan kenapa gadis ini bisa memliki aura gelap, tapi Kyuhyun tahu satu hal; gadis ini adalah orang yang sangat fokus.


Bukannya tidak tahu, Kyuhyun tahu sedari tadi semua yang berpapasan dengannya dan Sungmin, memberikan tatapan aneh kepadanya. Kyuhyun memang orang yang tidak mau ambil pusing untuk urusan seperti itu. Sambil berjalan ke kantin Kyuhyun sesekali melirik Sungmin, gadis itu masih memperlihatkan ekspresi datarnya. Gadis itu seperti berada sendirian dan tidak peduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Entah kenapa Kyuhyun suka itu.

"Kita duduk di sana saja." Kata Kyuhyun sambil menunjuk bangku kosong di pojok kantin. Sungmin hanya mengikuti Kyuhyun yang berjalan duluan.

"Mau pesan apa?" tanya Kyuhyun ketika mereka sudah duduk. "Aku mau pesan nasi goreng, kau mau pesan apa?" tanya Kyuhyun lagi. Sungmin belas menatap Kyuhyun tapi gadis itu tidak memberikan ekspresi berpikir sama sekali. Gadis itu kemudian membuka mulutnya dan berkata "Nasi goreng."

Kyuhyun terseyum. Kalau dipikir-pikir Sungmin manis juga. "Baik. Tunggu di sini ya." Kata Kyuhyun sambil berjalan ke kedai nasi goreng. Belakangan ini, nasi goreng menjadi makanan favoritnya. Menu di kantin sekolah ini sebenarnya banyak, hanya saja Kyuhyun memang tidak terlalu suka memilih.

"Ahhh! Kau sengaaja ya!" tibat-tiba terdengar teriakan seorang gadis di tengah kantin. Kyuhyun tadinya tidak berniat untuk menoleh namun, saat dia mendengar nama Sungmin disebut-sebut, akhirnya dia menoleh. Kyuhyun langsung berlari saat mendapati dua orang gadis mendorong Sungmin jatuh ke lantai.

"Dasar gadis jahat! Hari ini aku ada kencan dengan pacarku tahu!" seorang gadis dengan rambut yang diikat tinggi ke atas berkata. Kyuhyun berjalan mendekat dan akhirnya bisa melihat baju gadis itu terkena tumpahan sup ayam.

"Hei! Katakan sesuatu, kau harus minta maaf. Dasar gadis sombong." Teman gadis yang terkena tumpahan sup ayam mulai kesal dengan tatapan datar Sungmin. Sungmin masih duduk di lantai dan menatap mereka berdua dengan tatapan kosong.

Kyuhyun tadinya berniat untuk menonton. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Sungmin tapi saat gadis dengan noda sup ayam dengan kasar mengangkat gelas es jeruknya, Kyuhyun tahu ini akan jadi buruk. Maka, secepat mungkin dia menarik Sungmin dari lantai dan memeluknya.

"Hei, kau tidak apa-apa 'kan?" Kyuhyun bertanya sambil mengusap punggung Sungmin.

"Apa-apan sih?" gadis dengan tumpahan sup ayam berteriak kesal saat melihat siraman es jeruknya meleset. Di berteriak keras setelah melihat Kyuhyun memeluk Sungmin dengan protektif.

"Apa yang sedang kau lakukan Kyuhyun-sshi?" gadis itu mendesis sambil berkacak pinggang.

Kyuhyun yang hampir lupa kalau mereka berdua masih di tengah kantin dan di hadapan mereka berdiri dua gadis dengan wajah marah, hanya mengerutkan keningnya.

"Karena aku yang mengajak Sungmin ke kantin, aku tidak mau dia pulang dengan tumpahan jus jeruk." Kyuhyun berkata sambil memeluk pinggang Sungmin.

"Kau tahu tidak kalau gadis ini menabrakku? Sekarang aku yang harus pulang dengan noda sup ayam dan aku ada kencan!" gadis itu berteriak keras membuat suasana kantin bertambah riuh.

"Dia tidak sengaja." Kyuhyun memutar bola matanya.

"Walaupun dia tidak sengaja, dia harus minta maaf. Dia hanya menatap kami dengan wajah angkuhnya dari tadi." teman gadis itu ikut berteriak.

"Kalau begitu aku yang minta maaf." Kyuhyun berkata santai sambil mengeluarkan sejumlah uang dari saku bajunya. Kemudian dia menghampiri gadis dengan tumpahan sup ayam dan mengambil tangan gadis itu.

"Ini untuk biaya laundry dan beli baju baru untuk kencanmu nanti." Kyuhyun meletakan sejumlah uang itu di tangan gadis itu dan membawa Sungmin pergi dari kantin diiringi bisikan orang-orang di sekitar mereka.


Kyuhyun menatap lapangan basket yang kosong. Sesekali dia memejamkan matanya karena angin sore menggelitik matanya. Hari memang sudah semakin sore dan sekolah sudah sangat sepi. Suasananya membuat Kyuhyun sedikit mengantuk. Kyuhyun menoleh ke sampingnya untuk melihat Sungmin, yang masih betah menatap lapangan basket dengan tatapan kosong.

"Maaf ya, acara makannya jadi kacau." Kyuhyun sedikit menyenggol bahu Sungmin dengan bahunya. Mereka sedang duduk di sebuah bangku panjang di dekat lapangan basket. Sudah hampir sepuluh menit mereka duduk di sana tapi, Sungmin tidak mengatakan apa pun. Akhirnya Kyuhyun bosan juga.

"Iya." Jawab Sungmin singkat. Gadis itu bahkan tidak mengalihkan tatapannya sedikit pun. Dia masih sibuk menatap lapangan basket yang kosong.

"Mau ku antar pulang?" Kyuhyun bertanya sambil menunjuk sebuah mobil hitam di dekat lapangan basket. Sebenarnya sekolah melarang siapa pun parkir di sini tapi, Kyuhyun tidak peduli.

"Kyuhyun-ah, kalau masih tetap parkir di dekat lapangan basket dan ada bola yang memecahkan kaca mobilmu, sekolah tidak bertanggung jawab, mengerti?" itu ancaman Mr. Park, kepala sekolah SMA ini pada Kyuhyun beberapa waktu yang lalu. Parkir di sini membuat Kyuhyun tidak perlu berjalan jauh dari area parkir karena kelasnya dekat dengan lapangan basket dan Kyuhyun benci hal-hal yang rumit. Contonya; mencari mobilnya di area parkir.

"Di mana rumahmu?" Kyuhyun bertanya lagi karena Sungmin tidak menjawab pertanyaannya. Berkomunikasi dengan Sungmin memang sulit.

"Tidak tahu." Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun sambil memberikan tatapan bingung. Di mana rumah Sungmin? Sungmin tidak tahu. Kyuhyun kembali terkejut dengan tatapan Sungmin. Wah, sebuah emosi lagi. Sungmin tidak memberikan apa-apa saat dia diserang di kantin tadi dan memberikan emosi bingung saat ditanya di mana rumahnya? Kyuhyun mengerutkan alisnya lagi. Gawat sekali, lama-lama kerutan di kening Kyuhyun bisa jadi permanen.

"Kalau tidak tahu di mana rumahmu? Kalau begitu, bagaimana kalau ke rumahku saja? Kita bisa makan dan menelepon orang tuamu nanti?" Kyuhyun sendiri bingung harus berkata apa saat seseorang berkata dia tidak tahu rumahnya di mana. Sialan! Lee Sungmin baru saja membuat Kyuhyun bingung.

Sungmin masih betah menatap Kyuhyun dan sepertinya Kyuhyun tidak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa saat akhirnya Sungmin menunduk dan menggumamkan sesuatu yang Kyuhyun tidak bisa dengar.

"Sungmin?' panggil Kyuhyun. Sungmin hanya diam dan terus menunduk. Kyuhyun akhirnya menghela napasnya dan berkedip beberapa kali. Kyuhyun hampir saja lupa caranya bekedip.

"Dengar ya, aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini sendirian. Kalau kau memang tidak mau aku tahu di mana rumahmu, kau bisa telepon ibumu sekarang, kau mau?" Kyuhyun akhirnya mempunyai satu pemikiran aneh. Mungkin saja gadis ini tidak suka dengan sikap sok akrab yang Kyuhyun berikan dan ingin agar Kyuhyun meninggalkannya secepat mugnkin.

"Lala bilang dia tidak suka dnegan Kyuhyun." Sungmin berkata sambil menatap Kyuhyun sedih. Kyuhyun merasakan bulu kuduknya berdiri. Lala? Siapa Lala?

"Sungmin? Siapa Lala?" Kyuhyun mengerutkan alisnya. Wah, Kyuhyun takut. Lee Sungmin baru saja membuat Kyuhyun takut.

"Teman Sungmin." Jawab Sungmin sambil menoleh ke samping kirinya. Kyuhyun menatap Sungmin ngeri. Maksudnya gadis ini sedang menatap Lala? Tapi Kyuhyun tidak lihat siapa-siapa.

Pada saat Kyuhyun pusing memikirkan Lala dan Sungmin yang terseyum manis ke arah kirinya yang kosong, seorang wanita menarik Sungmin dan memeluknya.

"Sungmin! Ibu mencarimu kemana-mana. Mr. Jang bilang sekolah sudah selelsai dari jam tiga. Kenapa tidak munggu ibu di gerbang seperti biasa?" wanita itu mengelus rambut Sungmin sambil tersenyum lega.

"Sungmin tidak apa-apa 'kan?" wanita itu bertanya lagi dan seketika Sungmin kembali memberikan tatapan kosongnya.

"Ehem." Kyuhyun yang merasa diabaikan akhirnya berdeham dan behasil, wanita itu menoleh dan memberikan pandangan curiga kepada Kyuhyun.

"Kau siapa?" tanya wanita itu.

"Ah, Cho Kyuhyun, teman sekelas Sungmin. Salam kenal." Kyuhyun tersenyum dan membungkukan badannya,

"Sungmin kenal dia?" bukannya membalas salam Kyuhyun wanita itu malah menatap Sungmin cemas.

"Iya. Cho Kyuhyun." Sungmin menatap ibunya datar. Entah kenapa Kyuhyun merasa gadis itu ketakutan.

"Oh, kalau begitu kami pulang duluan Kyuhyun-sshi." Ujar wanita itu smabil menarik tangan Sungmin membuat Kyuhyun lebih bingung lagi.

Gadis itu datang dengan aura gelap, tidak menunjukan ekspersi apa pun saat dibentak orang manun ketakutan saat ibunya memeluknya?

Aneh. Tiba-tiba Kyuhyun mendapat satu ide gila untuk mengenal Lee Sungmin lebih dalam. Tidak peduli gadis itu suka atau tidak.


To be continued...

Sorry for typo