Disclaimer : Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Warning : Sho-Ai, Gaje, Typo (s)
Rated : T
.
.
.
Kuroko's Dizzy Fever Day
By : Sukikawai-chan
.
.
.
Second Medcine : Murasakibara Atsushi
"Oohh…hari ini banyak sekali snack yang baru saja datang," siapa lagi jika bukan Murasakibara Atsushi yang selalu membenamkan kehidupannya pada sebungkus snack yang baru saja dibelinya. Seperti sekarang ini, laki-laki itu baru saja selesai dari latihan 'super' yang diberikan kapten klub basketnya. Dan rutinitas setelah menjalani latihan supernya adalah mendatangi supermarket terdekat untuk membeli macam-macam snack.
"Ne, Kurochin, mana menurutmu yang lebih enak? Rasa jagung bakar atau rasa original?" kedua tangan Murasakibara menggenggam salah satu snack dari rasa yang baru saja disebutkannya, ia mengangkatnya satu per satu ke depan wajahnya, sibuk memilih rasa yang lebih enak. Namun kali ini sedikit ada yang berbeda. Biasanya ketika ia bertanya seperti itu pada lawan bicaranya, dengan segera akan dijawab 'Kenapa kau tidak membeli keduanya saja?'. Hal yang biasa Murasakibara dengar ketika ia bingung harus memilih yang mana. Namun sekarang lain dengan hari ini, tidak ada sama sekali sahutan atau jawaban yang ditujukan untuknya. Heran karena orang yang sedari tadi menemaninya ke supermarket tetap tidak menyahut, Murasakibara menoleh ke samping kanannnya. Di saat yang sama pula, ia tampak terkejut.
"Kurochin? Kau mendengarkanku?" sepasang alis Murasakibara menyatu, bingung ketika mendapati teman satu tim basketnya tengah berjongkok di depan sala satu rak makanan. Sebelah tangannya mencengkeram rak dengan erat sementara satunya lagi memijat pelipisnya. Penasaran apa yang terjadi, Murasakibara berjalan mendekat, lalu ikut berlutut di samping pemuda itu—Kuroko.
"Kurochin?" panggil Midorima pelan, ia mengangkat tangannya lalu menyentuh ujung bahu Kuroko. Kening Murasakibara mengerut, mengapa tubuhnya terasa menggigil? "Ne, Kurochin, kau baik-baik saja?"
Menjawab pertanyaan Murasakibara dengan anggukan, perlahan kepala Kuroko menoleh, matanya setengah terbuka, "Daijobu. Aku baik-baik saja," sahutnya datar. Seperti biasa.
Sedatar dan se-tidak pedulinya apa pun Murasakibara terhadap hal di sekitarnya—kecuali makanan—laki-laki itu bisa menebak ada yang salah dengan Kuroko. Kedua mata yang terlihat sayu, bulir-bulir keringat terlihat kentara sekali di wajahnya yang pucat, napasnya yang terengah-engah, dan tubuhnya yang menggigil. Murasakibara bisa tahu ada yang salah. Memastikan pikirannya, tangan yang awalnya menyentuh bahu langsung berpindah ke arah kening Kuroko. Kedua matanya membulat sempurna ketika dirasakannya rasa panas menjalari seluruh telapak tangannya yang menempel di dahi Kuroko.
"Astaga! Kurochin, kau demam!" pekik Murasakibara panik, sedangkan sang objek yang dikatakan demam hanya diam berusaha mengatur napasnya yang mulai memburu. Dengan pelan Kuroko menepis tangan Murasakibara, setelah itu menggeleng pelan.
"Aku baik-baik saja, hanya pusing sedikit." Elaknya dengan suara yang lemah. Susah payah Kuroko mencoba bangkit berdiri, namun sayangnya gagal ketika kedua lututnya terasa lemah ketika ia berdiri. Membuat tubuhnya limbung seketika dan nyaris terjatuh jika tidak dengan sigap Murasakibara menangkapnya. Kepanikan Murasakibara bertambah panik ketika mendengar deru napas Kuroko semakin tidak teratur.
Sadar keadaan akan bertambha buruk, dengan cekatan Murasakibara mengangkat tubuh Kuroko lalu menggendongnya di punggung. Bisa dirasakan hawa panas lewat pipi Kuroko yang begitu dekat dengan wajahnya. Murasakibara sama sekali tidak mempedulikan berbagai snack yang jatuh berceceran ketika ia berdiri dengan Kuroko berada di belakang punggungnya.
Dengan cepat Murasakibara segera berjalan menuju pintu keluar, namun sebelum itu ia sempat berhenti di depan kasir—yang merasa heran karena keadaan Kuroko—untuk membeli obat yang bisa menurunkan demam. Dengan raut wajah keheranan yang masih tercetak jelas di wajahnya, kasir itu segera mengambil obat yang dimaksud lalu memberikannya pada Murasakibara. Bahkan dengan baik hati kasir itu memperbolehkan Murasakibara untuk membayarnya besok karena kesulitan ketika mengambil uang.
"Kurochin…." Di sepanjang perjalanan menuju rumah Kuroko, Murasakibara terus memanggil nama Kuroko, memastikan kalau pemuda itu masih bernapas. Malam itu terasa dingin, namun hal itu sama sekali tidak memperlambat kecepatan lari Murasakibara. Yang dipikirannya saat ini hanya ada satu, yaitu mengantarkan Kuroko pulang secepatnya.
"Dingin…" tanpa sadar Kuroko mengeratkan pelukannya di leher Murasakibara, ia membenamkan kepalanya ke punggung laki-laki yang sedang menggendongnya. Mencari kehangatan di dalamnya. "Murasakibara-kun, maaf…jika membuatmu,…berat,"
"Tidak perlu memikirkan hal itu," sela Murasakibara, ia semakin mempercepat langkahnya, "Kurochin sama sekali tidak berat. Bertahanlah sebentar lagi," saat itu Murasakibara benar-benar panik. Bahkan lebih panik daripada ia menemukan snack-snack yang dibelinya hancur karena terinjak. Sempat terpikirkan di benak Murasakibara untuk tidak akan memakan snack kesukaannya jika didapati kondisi Kuroko semakin memburuk karenanya.
"Astaga! Kurochin, kenapa berat tubuhmu begitu ringan seperti ini? Selama ini kau makan apa saja?"
Hufftt... cerita kedua kali ini oleh murasakibara. Minna, arigatou yang udah review, fave dan follow ya. And, Review again?
