Cast : Xiahe (The Real name J-Law), LuoLuo (The Real name Kirio)
Warning : Canon Slash
Ficlet | Series | Typo | Bad Grammar
oOo
"Kau berhasil mendapatkan nomornya?" dengan cekukan khas orang mabuk, sahabat Xiahe bertanya, sebelah tangannya merangkul bahu Xiahe sebagai sandaran saat malam semakin larut dan mereka memutuskan untuk mengakhiri pertualangan malam ini dengan pulang.
Xiahe hanya tersenyum sombong, memperlihatkan phonebooknya, "Kau pikir aku siapa, eoh". Dia benar-benar sombong, bolehkan penulis memukul kepala besarnya itu?
Sahabatnya bersiul kagum, yah bagaimanapun dia tahu pria di sampingnya ini bukan gay biasa dengan daya tarik sekedarnya. "Aku mau nomornya juga", tanpa meminta persetujuan Xiahe, ia dengan cepatnya mengambil ponsel itu dari tangan si pemilik. Meronggoh isi kantung jeans ketat yang ia kenakan dan mengeluarkan ponselnya sendiri.
"Enak saja! Khusus yang ini tak boleh!"
Sang Sahabat menatap heran, "Hmm, Tumben kau bersikap begitu", ia bergerak mendekat, menatap wajah Xiahe dengan seksama, "Jangan-jangan kau benar-benar jatuh cinta dengannya?"
Tubuh Xiahe menegang dalam sedetik, "Aku? Kau berbicara dengan siapa? Apa kau lupa aku―",
"― Aku tak percaya cinta sejati"
Merasa perkataannya membuat suasana kembali muram, sang sahabat merangkul bahu Xiahe. "Aku tahu. Tapi tak ada salahnya mencoba bukan"
"Sudahlah, lebih baik kita pulang. Berbicara serius masalah ini denganmu seperti keajaiban dunia"
Sahabat Xiahe terkekeh geli, tapi ia tak masalah dan mengikuti Xiahe keluar dari bar/club itu dengan tubuh terhuyung-huyung.
oOo
"Hei Luoluo ayo pulang"
Luoluo yang menikmati segelas jus jeruk miliknya menoleh (tanpa melepaskan sedotan dari bibirnya), "Sekarang?" tanyanya pada temannya bertubuh gemuk.
"Tahun depan. Tentu saja sekarang! Kau ingin kita kemalaman pulang ke asrama? Kau tahu sendirikan Pak Li itu sangat menakutkan pada murid-murid yang kembali larut ke asrama", Luoluo mengangguk mengiyakan. Dengan satu sedotan panjang ia mengakhiri minumnya dan beranjak berdiri.
"Kalau begitu kita pulang"
oOo
"Hei, bukannya itu anak manis tadi" dengan pandangan mata yang bisa di katakan buram karena pengaruh alcohol sahabat Xiahe menepuk bahu temannya itu, bahkan dengan kasarnya menarik wajahnya agar melihat ke arah yang ia maksud. "Itu, yang berdiri di depan pintu club tadi"
Bola mata Xiahe menyipit, "Ah itu memang dia"
"Apa tidak masalah, sepertinya mereka di goda preman jala―"
Belum selesai sahabatnya berkata, tubuh Xiahe berlari menyebrangi jalanan meninggalkan temannya yang tercengang di samping mobil yang mereka parkir.
Dari tempatnya berdiri (lebih tepatnya bersender pada badan mobil), sahabat Xiahe tersenyum melihat tingkah laku temannya itu saat beradu mulut dengan preman-preman yang bila dilihat dari segi fisik, tentulah lebih muda dari Xiahe. Ah, sepertinya sejak tadi ia terus menerus dipanggil 'Sahabat Xiahe', apa pria dengan wajah yang bisa dibilang Tampan itu tak bernama?
Getaran diiringi dengan suara musik bervolume kecil terdengar dari kantung jeans-nya. Ehm? Zhou Ha?
"Hallo Zhou Ha, ada apa?" tak mau membiarkan orang yang menghubunginya menunggu lama, ia segera menjawab.
[Xiaohui, apa kau bersama dengan Xiahe malam ini?]
"Begitulah"
[Bagus kalau begitu, apa dia baik-baik saja? Kudengar dia baru putus dengan―]
"Tenang, dia baik-baik saja sekarang. Bahkan terlalu baik sepertinya"
[Maksudmu?]
"Nanti kuceritakan, yang pasti kau dan yang lain tak perlu mengkhawatirkannya untuk saat ini"
[Oh, oke kalau kau bilang begitu. Titip salamku untuknya]
"Tentu", dan seperti halnya Zhou Ha yang memutuskan sambungan pembicaraan mereka, XiaoHui (akhirnya kita bisa tahu siapa namanya setelah lebih dari satu setengah part terus di cap sebagai Sahabat Xiahe) memasukan kembali ponselnya ke dalam kantung celana.
"Yah dia pasti baik-baik saja sekarang kalau ekspresinya saja seperti itu"
Tampak dari wajah rupawan itu senyuman senang terpancar, dengan membiarkan dagunya bertompang pada kedua lengan yang diletakan di atas kap mobil matanya sedari tadi tak lepas melihat sikap Xiahe yang begitu melindungi si pria manis (plus teman gemuknya).
oOo
"Kalian tak apa-apa?" raut gurat kekhawatiran muncul dari wajah tampan Xiahe, mata itu memancarkan kecemasan terutama pada pria bertubuh kurus di depannya -Luoluo-.
Luoluo mengangguk, begitupula dengan temannya. "Terima kasih" ucap keduanya bersamaan.
Xiahe menggeleng, "Aku yakin kalian pasti shock. Hmm, bagaimana kalau menenangkan diri dengan minum secangkir teh? Aku tahu cafe yang menghidangkan teh enak di sekitar sini", ujarnya cepat yang ditanggapi pandangan intens oleh keduanya. "Ah, aku bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja biasanya saat seperti ini lebih baik menenangkan diri dulu sebelum pulang. Jadi kejadian ini tak jadi trauma atau mungkin mimpi buruk saat tidur"
Luoluo maupun temannya bertukar pandang, seakan saling berkomunikasi lewat tatapan mata.
"Terima kasih, tapi kami harus secepatnya kembali..."
Raut wajah Xiahe kecewa.
"Tapi untuk ku tak masalah, sekalian ini sebagai ucapan terima kasih"
"Hei Luoluo, tapi kita harus kembali secepatnya!" bisik si gendut, "Kau saja yang kembali dulu, nanti kalau aku pulang kuhubungi kau dan bukakan pintu gerbang untuk ku diam-diam" balas Luoluo dengan berbisik pula. "Tapi..."
"Ayo, sebaiknya kita pergi, aku yakin temanmu yang disana bosan menunggu" jari telunjuk Luoluo mengarah pada Xiaohui yang masih setia menompang dagu di kap mobil.
"Tapi temanmu"
"Dia akan pulang duluan, iya kan?"
Dengan terpaksa si gendut mengangguk. "Aku akan pulang duluan"
"Oh kalau begitu hati-hati"
oOo
"Hm? Jadi apa maksudnya ini?" tanya Xiaohui saat Xiahe maupun pria manis yang ia lihat beberapa saat sebelumnya di dalam club/bar itu sudah berdiri di hadapannya.
"Aku mengajaknya minum teh di cafe milik Jing Er"
Satu alis Xiaohui naik, "Di tempat Jing Er? Kau mengajaknya minum atau kencan?"
"Eh?" Luoluo terkejut.
"Bu- Bukan begitu" panik Xiahe melambaikan tangannya. "Xiaohui! Kau jangan bicara yang aneh-aneh!" Geramnya dengan tatapan mata tajam. Sekali lagi Xiaohui menaikan alis tak mengerti. Kenapa sikap Xiahe jadi seperti orang autis ketahuan mencuri?
"Aneh dimananya? Bukannya ka― upphhm" siaga Xiahe langsung membekap mulut Xiaohui agar tak berbicara lagi.
"Dia tak tahu aku gay, bodoh!" bisik Xiahe marah, "Apa kau mau membuatnya takut! Jadi tutup mulut besarmu itu!" Xiaohui mengangguk dengan wajah merah kekurangan oksigen. "Good"
Begitu Xiahe melepaskan bekapan tangannya di mulut Xiaohui, sontak pria tak bersalah itu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, Ku pikir aku akan mati muda.
"Nah Luoluo, kita jadi pergi sekarang?"
Luoluo mengangguk, wajahnya yang innocent dengan tatapan mata lurus malah membuat Xiahe salah tingkah (walau Xiahe tetap bersikap cool).
Bak seorang gentlement, Xiahe membukakan pintu mobil mempersilahkan Luoluo masuk dan duduk bersantai di jok belakang. Sedangkan ia sendiri akan duduk di kursi pengemudi, "Kau tak masuk?" tanyanya sesaat sebelum masuk ke dalam mobil, heran melihat tingkah Xiaohui yang melihatnya dengan wajah tersenyum.
Xiaohui menggelang (senyuman tetap ada di wajahnya), membuka pintu mobil dan berencana duduk tepat di sebelah kursi pengemudi, "Tidak apa-apa Xiahe~"
Tubuh Xiahe bergidik, cara Xiaohui memanggil namanya tadi membuatnya sedikit gelisah.
"Kau tak jadi masuk? tak jadi pergi?" panggilan dari dalam mobil oleh Xiaohui menyadarkan Xiahe yang sempat melamun.
"Oh, tentu saja" cepat ia masuk ke dalam mobil. Mengenakan safety belt dan menyalakan mesin. "Berangkat"
