Naruto disclaimer by Masashi Kishimoto
Warning : Cerita ini dibuat hanya untuk kesenangan belaka dan bukan untuk menjatuhkan karakter Masashi Kishimoto maupun untuk dikomersilkan.
Isi cerita berhubungan dengan konten dewasa. Dimohon bagi pembaca yang belum cukup umur atau dibawah 21 tahun tidak mencoba adegan apapun yang ada di dalam cerita.
Minuman keras dan merokok tidak baik bagi kesehatan anda. Sayangi tubuhmu.
Krak.
Shot Glass retak dalam genggaman. Beruntung tak sampai pecah dan melukai si pemilik tangan. Karena tangan adalah organ terpentingnya.
Iris merah menyorot tajam pada sosok di depannya. Pria tampan -tidak, maksudnya berengsek- tersenyum menggoda.
Ingin sekali ia melempar gelas retak ini tepat ke wajah pria itu. Sayangnya Naruto sudah memperingatkan agar tidak berbuat kasar. Ditambah lagi malam ini ramai pengunjung.
Ia berdecak kesal. Bersabar menghadapi orang seperti ini akan membuat siapa pun gila, terutama dirinya.
"Kyuu-chan, boleh kupesan sesuatu?"
Prak.
Kali ini Shot Glas telah hancur berkeping-keping. Pria berambut jingga kemerahan itu terpejam erat. Jelas menahan emosi.
Sekali lagi, 'Kyuu-chan' ini beruntung karena pecahan gelas tak melukai telapak tangannya. Ia membiarkan pecahan-pecahan itu berserakan.
"Ah, Kurama-senpai, apa yang kau lakukan? Kau merusak properti lagi. Jika Naruto-san tahu, dia bisa marah."
"Konohamaru, bersihkan itu."
"Hei, aku juga sibuk membuat pesanan minuman untuk para pelanggan."
Kurama berdecih sebal. Juniornya ini sibuk melayani tapi masih sempat menegurnya? Apa-apaan bocah ini, pikirnya.
"Biar aku saja."
Moegi si waitress sudah siap dengan sapu dan lap untuk membersihkan sisa gelas. Sedikitpun Kurama tak peduli.
Ia membersihkan serpihan dari tangan dan mulai berhadapan dengan pemuda menyebalkan di depannya. Sedikitpun tak menyembunyikan ekspresi tak suka.
"Akan segera kubuatkan cocktail untukmu, Tuan Uchiha."
"Eh, tapi aku belum-"
Tak menggubris lebih lanjut, Kurama segera mengambil High Ball Glass. Mengisinya dengan Angostura menggunakan sendok sup besar sambil memutar agar seluruh permukaan dalam gelas terlapisi. Lalu diisi pecahan es batu ditambah Gin, Cognac, Lime Juice dan Sugar Syrup dengan takaran berbeda. Ia mengaduk perlahan sebelum menambahkan Ginger Beer. Kemudian ditambahkan daun mint, lemon dan ceri sebagai garnish.
Cling. Denting gelas yang beradu dengan meja Bar Stool. Segelas cocktail berwarna jingga telah tersedia.
Iris hitam Itachi memperhatikan seksama cocktail tersebut. Sekilas tampak seperti es teh bercampur dengan jus jeruk.
"Kau membuat minuman yang menarik, Kyuu-chan. Apa nama cocktail ini?"
Tangan alabaster mengangkat gelas di depannya. Menyesapnya sedikit dan minuman beralkohol dingin itu segera membasahi kerongkongannya. Minuman ini cukup nikmat.
"Suffering Bastard, itu namanya. Cocok untukmu 'kan, Tuan Uchiha?"
Seringai mengejek terkembang. Taring sedikit panjang tampak jelas di antara deretan gigi putih rapi.
Tangan dan bibir Itachi sempat terhenti. Meneguk sekali, lalu menaruh gelas kembali ke atas Bar Stool. Bibir tipis tersungging menggoda.
"Ah, Kyuu-chan. Aku tak tahu kau sampai mencari cocktail yang menurutmu cocok untukku."
"Ap-Aku tidak-Grrrrhh..."
Kurama hampir melempar botol Gin tepat pada wajah tampan-maksudnya menyebalkan itu. Demi Tuhan, Kurama tidak berusaha mencari cocktail yang cocok untuk si berengsek keriput di depannya. Bebal sekali pria Uchiha ini.
Sifat menyebalkannya ini sudah diluar nalar. Berapa kalipun bartender muda ini marah dan menolaknya, tak sedikitpun Itachi mundur. Justru semakin gencar.
Apa harus dibunuh? Jangankan dibunuh, ia hajar saja selalu bisa ditangkis dengan mudah.
Kurama tidaklah lemah. Ia mantan berandalan sejak zaman sekolah. Terlibat pertarungan sudah menjadi nafasnya. Dan jujur saja, Itachi bukanlah lawan yang mudah.
Sering otaknya bertanya, dimana kewarasan si sulung Uchiha ini? Kurama masih menyukai dada dan vagina wanita.
Mungkin.
Entahlah. Tak banyak yang membuat Kurama tertarik, kecuali bertarung dan menambah rekor catatan merahnya sejak dulu. Tapi bukan berarti ia menyukai penis pria.
Sudah lebih dari setahun Itachi tak juga bosan mengejarnya. Sekali ini saja ia mengatakan, Itachi cukup tampan. Si sulung dari Uchiha ini bisa mendapatkan wanita manapun yang ia mau. Bahkan pria menarik lainnya.
Lalu, kenapa harus dirinya yang selalu dikejar? Si keriput ini memang buta. Kurama yakin itu.
Kurama tidak narsis, tapi penampilannya cukup digandrungi. Sayang tak banyak orang yang dapat menerimanya. Dengan sifatnya yang kasar, siapa yang betah bersamanya lebih dari sepuluh menit?
Selain Naruto, tak sangka pria kaya raya nan tampan bernama Itachi ini pun sanggup menghadapinya. Satu tahun bukan waktu yang singkat. Walaupun yang dilakukan si keriput itu hanya membuatnya marah saja.
Si Uchiha sangat suka menggodanya. Mengatakan rasa tertariknya pada Kurama. Sang bartender muda hanya menganggap angin lalu. Ia tak ingin terusik oleh rayuan murahan. Ditambah Itachi seorang biseksual, membuatnya tak ingin berurusan lebih lanjut dengan Vice President muda tersebut.
"Master, aku pesan Screwdriver."
Suara pelanggan membuat Kurama kembali dari lamunannya. Seringaian menggoda diberikan pada pelanggan wanita yang memesan.
"Kemarilah. Akan kuberikan servis untukmu."
Nada seduktif mengumpan, membuat si wanita mendekati Bar Stool sambil bersandar. Memperlihatkan belahan dadanya pada Kurama tanpa malu.
Iris hitam memandang dengan seksama. Pandangan fokus pada sosok pria berambut jingga kemerahan yang melakukan Flair Bartending Trick untuk membuat Screwdriver.
Old Fashioned Glass diambil dan dilempar dengan lihai. Tangan lain mengambil sebotol Vodka, melakukan juggling berputar kesana kemari. Menari mengelilingi tubuh ramping sang bartender, sebelum menuangkannya ke dalam gelas.
Cara menuangkannya pun begitu elegan tanpa menumpahkan setetespun diluar gelas. Belum selesai, kini Kurama menambahkan jus jeruk ke dalamnya dengan takaran lebih banyak.
Gelas berisi Screwdriver dan ditambah pecahan es batu tersedia tepat di depan si wanita cantik. Pelanggan lain yang melihatnya memberi tepuk tangan meriah.
Kurama mengedipkan sebelah matanya. Pelanggan wanita itu terkikik geli sebelum menarik kerah baju si bartender dan menciumnya dipipi. Jemari ramping dengan kuku panjang menyelipkan secarik kertas pada kantung vest Kurama.
Si pemuda Uchiha menyipitkan mata. Sesekali ia menyesap Suffering Bastard-nya. Meski tampak tenang, ia bisa merasakan detak jantungnya yang kian cepat dalam dada.
Seraya terpejam, Itachi merasa udara kian panas. Mungkinkah karena ramainya pengunjung? Atau alasan lain? Ia mendengus.
"Kemampuan atraksimu memang mengagumkan, Kyuu-chan. Kulihat kau sangat populer."
Iris merah melirik malas. Seringaian berkembang kemudian.
"Tentu saja. Kau pikir aku ini siapa? Aku adalah Flair Bartender terbaik di Roppongi."
"Oh, aku bisa melihatnya dengan jelas. Tanganmu sangat lihai, baik dalam Flair maupun minuman yang kau buat. Sayang sekali kau tak pernah memberiku servis seperti itu."
Ekspresi Kurama berubah masam. Ia melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Cih, untuk apa memberi servis lebih padamu?"
"Bagaimanapun aku juga pelanggan disini, Kyuu-chan. Setidaknya perlakukan aku dengan baik. Aku bahkan bisa membayar lebih untuk itu."
"Aku tak butuh bayaran darimu. Lagipula itu wewenangku untuk memberikan servis pada siapapun."
Kekehan terdengar dari mulut Itachi. Ia kembali menyesap minumannya perlahan.
"Kau sangat pilih kasih. Apa kau hanya memberikan servis lebih pada para wanita saja?"
"Hey, jaga ucapanmu. Aku tidak memamerkan keahlianku hanya untuk menarik wanita."
Nada itu terdengar berat penuh kekesalan. Tak banyak bicara, Kurama segera berbalik badan dan mengurus permintaan pelanggan lainnya.
Sungguh, bartender muda itu sangat emosi mendengar kalimat yang dilontarkan Itachi. Ia tidak serendah itu menggunakan triknya untuk membuat wanita mendekat.
Meski ahli dalam Flair, ia adalah seorang Bartender. Tujuannya adalah membuat pengunjung senang. Menikmati waktunya dan tenggelam dalam alkohol untuk melupakan semua masalah mereka. Meski hanya sesaat.
Kurama tidak serendah itu memanfaatkan kemampuannya dan membuat wanita mengajaknya ke atas ranjang. Ia merasa harga dirinya tercoreng.
Seorang pemuda menghampiri Kurama dan memesan minuman. Dan kembali bartender berambut jingga kemerahan itu memukau para pengunjung dengan tekniknya. Ia membuat dua macam minuman.
Ditariknya tangan Kurama oleh si pemuda. Iris Itachi terbelalak melihat pemandangan di depannya. Pemuda itu tampak mengecup pipi Kurama.
Ia tak yakin karena dari sudut ini, pandangannya tertutup wajah Kurama. Dimana si pemuda itu berada disisi lain wajahnya. Dan tampak tengah mencium pipi sang bartender.
Yang lebih membuatnya terkejut adalah ekspresi Kurama. Pria beriris merah itu menyeringai senang. Bahkan menepuk pundak pemuda yang tadi mengecupnya.
Tak sadar jemari panjang menggenggam erat pada gelas High Ball berisi Suffering Bastard miliknya. Sekuat tenaga ia memasang ekspresi tetap tenang.
Dalam sekali teguk, cairan berwarna jingga telah menghilang. Bercampur nyaman dalam perut. Ia menaruh gelasnya sedikit keras.
Tak sadar mendapat lirikan tajam dari Kurama.
"Master, aku pesan Bronx."
Senyuman tersungging dari bibir Itachi. Wajahnya terlihat biasa namun senyuman itu tampak ganjil.
Diambah lagi pria berambut hitam panjang itu memanggilnya 'Master'. Itu tak biasa. Hal ini membuat Kurama mengernyitkan dahinya.
"Kau baru saja menghabiskan gelas pertama dan mau memesan yang kedua?"
"Yang benar adalah ini gelas kedua dan aku mau memesan gelas ketiga."
"Sebelum kesini kau memesan minum pada Naruto? Apa yang kau pesan?"
"Chatham Artillery Punch."
Kurama hampir menggebrak meja atau melempar gelas ke wajah tampan Itachi. Astaga, jika saja ia tak ingat pengunjung tengah ramai, sudah ia lakukan tanpa berpikir ulang.
"Kau gila?! Dan kau masih ingin memesan Bronx?! Kau ingin perutmu meledak? Aku tak mau membopong dirimu yang mabuk, kau tahu."
Ah, mendengar suara itu yang berteriak kesal membuat Itachi nyaman. Meski berbicara kasar, Kurama sangat memperhatikannya. Kalimat itu menunjukkan bahwa bartender muda itu khawatir.
Pemuda Uchiha itu tahu, Kurama tak pernah memarahi pelanggannya. Berbicara sedikit kasar, tentu. Namun tak pernah memaki atau memarahinya.
Oh, kecuali pengunjung itu membuat pelanggan lain merasa tak nyaman, maka pemuda bermata merah itu akan mendepaknya seorang diri. Kurama merangkap sebagai bodyguard di bar ini.
Meski hanya secuil perhatian itu, Itachi merasa hubungan mereka lebih berkembang. Menandakan Kurama membuka diri padanya walau sedikit.
Hal ini membuat si sulung Uchiha merasa ia lebih istimewa dibandingkan pelanggan lainnya. Atau begitu menurutnya.
Seringaian dingin kini menggantikan senyuman tak biasa.
"Bukankah sudah menjadi kewajiban bartender untuk memberikan apapun yang dipesan oleh pelanggannya? Berikan saja Bronx pesananku, Master."
Iris merah sedikit membelalak. Nada, seringaian dan cara bicara itu bukanlah Itachi yang biasa. Ada apa dengan si keriput ini yang berubah dalam waktu singkat?
Tangan terkepal erat. Meski kesal, Kurama segera mengambil Gin, jus jeruk, ditambah sedikit Dry Vermouth dan Sweet Vermouth ke dalam botol shaker. Ia mengocoknya tak lama sebelum menuangnya ke dalam Cocktail Glass.
"Ada apa denganmu, keriput?"
Itachi segera meminum Bronx-nya. Menghabiskan hingga setengah. Tak lama kekehan keluar dari bibir tipis si sulung Uchiha.
"Master, kau harus menghormati pelangganmu. Bukankah tak sopan menghina pelanggan seperti itu?"
Tersentak sang bartender mendengarnya. Nada sarkas itu berbeda. Begitu dingin menusuk. Dirinya tak dapat membalas Itachi.
Lagi, Itachi segera menghabiskan minumannya. Denting gelas beradu pada meja bar. Tak lama ia berdiri.
"A-hei, Itachi."
Panggilannya tak digubris. Pria semampai itu berjalan menuju pintu keluar. Langkahnya sedikit goyah dan menabrak beberapa pengunjung tanpa berkata apapun.
Rasa heran terpatri jelas pada wajah Kurama. Itachi mulai sedikit mabuk. Namun ia tak tahu apa yang membuat pria bermarga Uchiha itu menjadi dingin.
Ia mengepalkan tangannya. Kurama pun berjalan mengitari meja bar.
"Hei bocah, aku keluar sebentar. Kau urus disini bersama Moegi."
"Eh? Tapi Kurama-senpai, malam ini sangat ramai. Aku tak bisa-"
"Biarkan Moegi membuat cocktail yang mudah atau menyediakan beer dan Wine. Aku segera kembali."
Melihat wajah serius seniornya membuat Konohamaru bungkam. Ia tetap melayani pelanggan meski matanya melirik sosok Kurama yang berjalan menuju pintu keluar.
Sangat langka bagi Konohamaru melihat seniornya berekspresi serius. Ia tak berani menolak jika Kurama seperti itu.
Sebatang rokok terselip di antara bibir tipis. Menghisap asap yang mengandung nikotin berkadar rendah tersebut. Asap memenuhi rongga paru-parunya sebelum dihembuskan dari bibir dan hidung.
Iris kelam memandang nanar. Punggung lebar bersandar pada dinding. Tampak puntung rokok menyala terselip di antara jemari panjang. Sesekali menghisap filter kencang meresapi nikotin bersarang di antara organ napas. Otot menegang mulai tenang.
Itachi bukanlah perokok. Namun sesekali benda yang merusak organ tubuh itu membantu tubuhnya rileks. Nikotin yang terkandung dapat membuat pikirannya lebih fokus.
Pikirannya begitu kacau. Hampir saja ia tak dapat mengendalikan emosinya. Ia tahu kenapa, hanya tak menyangka semudah itu terusik.
Memori berulang. Memutar rekaman dalam ingatan bagai kaset rusak. Kurama begitu sulit digapainya, namun ada pria lain yang mudah menyentuh bartender itu.
Amarah dan sesal bercampur. Memporakporandakan hati dan pikirannya. Berkecamuk tak menentu membuatnya lelah.
Sekuat tenaga ia meluluhkan sang bartender muda, namun tak berbuah hasil. Segala bujuk rayu dan usaha dikerahkan hanya menyulut emosi Kurama.
Ia tak tahu akan merasakan hal ini. Berawal hanya tertarik dan bermaksud menggoda, kini ia terjebak oleh permainannya sendiri.
Itachi terkekeh geli. Pundaknya bergetar karena tawa. Abu rokok berjatuhan. Tak peduli mengenai celana atau sepatu mahalnya.
"Mungkinkah ini karma?"
Lirihan tak seorang pun mendengar. Ia merasa dirinya tengah dihukum Tuhan maupun Dewa. Perasaan ini dikirim dari sang pencipta, pikirnya.
Cemburu.
Perasaan berbahaya yang dapat menggerogoti jiwa. Jika terlalu kuat dapat membunuh atau dibunuh.
Sekilas ingin sekali Itachi memukul wajah pria yang berani mendekati Kurama. Bersyukur logikanya masih memimpin. Ia tak tahu akan bagaimana jika benar-benar dilakukan.
Jika sungguh terjadi, ia yakin bahwa dirinya telah dikutuk. Atau mungkin ia terkena karma karena tak pernah berhubungan serius dengan siapa pun.
Pertama kalinya Itachi hampir kehilangan kendali. Terdengar klise, ia pikir jatuh cinta hal mustahil baginya. Tapi lihat sekarang. Ia tampak bodoh.
Lagi ia menghisap rokok dengan kuat. Asap racun nikotin memenuhi rongga paru-paru. Begitu kuat rasa nikmat tak lagi dipedulikan penyakit yang akan datang jika terus dikonsumsi. Setengah batang tersisa dari puntungnya.
"Aku baru tahu kalau kau juga seorang perokok."
Suara itu hampir membuat Itachi tersedak asap rokoknya sendiri. Ia segera mengeluarkan asap rokok dari mulut dan hidungnya.
Iris obsidiannya memandang pada sosok sang bartender muda berambut jingga kemerahan itu. Kurama berdiri tak jauh dari tempatnya bersandar pada dinding.
Ekspresi Kurama mengerut. Heran melihat sosok Itachi sekarang. Perlahan ia mendekat. Hal ini sempat membuat Itachi tegang.
"Berikan satu padaku."
Tubuh tegap si sulung Uchiha mulai tenang. Ia mengambil bungkus rokok dan menyodorkan pada Kurama.
Pemuda bermarga Kyuubi itu mengambil sebatang lalu membawanya pada bibir. Tak sadar sepasang mata hitam memandang lapar dalam diam.
Ia kembali memasukkan bungkus rokok ke dalam celana bahan berwarna abu-abu. Tangan kanan alabaster kembali menghisap rokok.
Itachi terpaku, tatkala Kurama mendekatkan wajahnya. Sebatang rokok terselip di antara bibir sang bartender. Menempelkan ujungnya pada bara api dari rokok Itachi.
Iris hitam fokus memandang wajah tegas pemuda bermarga Kyuubi tersebut. Kelopak mata setengah terpejam. Jari telunjuk dan tengah mengapit rokok di depan bibir. Menghisap perlahan agar bara api membakar rokoknya.
Terdengar suara Kurama menghisap puntung rokok menyala. Membawa asap rokok memenuhi rongga napas. Lalu menghembuskan dengan nikmat.
Sedetik pun Itachi tak melepas pandangannya. Sosok di depannya ini benar-benar kutukan bagi pemuda Uchiha tersebut. Namun indah.
"Fuuh... Rokok apa ini? Tak terasa sama sekali. Untuk apa menghisap rokok dengan kadar rendah? Dan lagi merek murahan. Aku tak menyangka Vice President dari Uchiha.Corp akan merokok barang murah."
Itachi mendengus. Sebelum akhirnya ia terkekeh kecil. Mengeluarkan asap rokok dari celah bibir sebelum membalas.
"Aku memang bukan perokok aktif. Hanya sesekali menghisapnya untuk membuat pikiran fokus. Soal merek, aku tak peduli. Selama itu terasa cukup nikmat bagiku."
Kali ini dengusan terdengar dari Kurama. Keduanya kembali menghisap batang tembakau berisi nikotin itu. Tak ada yang buka suara.
Mereka saling menikmati rokok yang tengah dihisap. Sayangnya tak ada yang merasa tenang. Tak seorang pun di antara keduanya tahu, bahwa hati mereka berkecamuk dengan irama yang sama.
Memantapkan hati, Kurama berhasil buka suara lebih dulu.
"Ada apa denganmu? Sikapmu berubah terlalu tiba-tiba. Tak biasanya."
Tak biasanya?
Sialan sekali Kyuu-chan ini, pikir Itachi. Memangnya karena siapa ia begini? Oh, tentu saja ia tak akan mengatakan hal itu dengan lantang. Memberitahu alasannya hanya membuat Itachi semakin tampak bodoh.
Pria bermarga Uchiha tersebut tak menjawab. Ia terus menghisap batang nikotin itu. Pandangannya menerawang. Ekspresi dibuat sepasif mungkin.
"Ada apa denganmu? Kalau ada masalah, katakanlah. Aneh rasanya melihatmu begini."
Iris hitam hanya melirik pada Kurama. Ia tak menjawab. Lebih tepatnya tak mau.
Itachi tak tahu harus berbuat apa. Ada rasa senang karena pemuda ini kini memperhatikannya. Tapi, haruskah ia bersikap dingin lebih dulu hanya untuk ini? Kenapa baru sekarang?
Berbulan-bulan ia mencoba mendekatinya, hanya ada emosi dan amarah yang diberikan. Namun ketika ia mencoba menghindar, justru sang mangsa mendekatinya. Apa yang diinginkan Kurama sebenarnya?
"Kau sendiri, kenapa peduli padaku saat ini? Tak biasanya."
"Apa kau bilang? Aku ini khawa-kkhh..."
Kurama langsung bungkam. Pemuda dengan rambut gradasi jingga kemerahan itu membuang muka. Tak ingin memperlihatkan ekspresinya.
"Tu-tugas bartender adalah membuat perasaan pelanggannya menjadi lebih baik. Mood-mu yang jelek itu hanya merusak reputasiku sebagai seorang bartender. Dan aku tidak mau itu terjadi."
Reputasi bartender.
Kepalan tangan mengerat di samping tubuh. Iris hitam menyipit tajam pada apapun di depannya.
Tentu saja. Reputasinya sangat diprioritaskan. Itu adalah pekerjaannya sebagai seorang bartender. Tugasnya, tapi bukan kemauan Kurama sendiri.
Pemuda di samping Itachi ini hanya menjalankan tugas. Membuat suasana hatinya membaik adalah sebuah tugas. Sosoknya tak lebih dari itu bagi Kurama.
Segera si Uchiha sulung memadamkan rokok yang hampir habis pada asbak tinggi. Ia segera berlalu. Membuat Kurama sedikit terperanjat.
Sosok jangkung itu berjalan menjauh darinya. Ia membuang rokoknya, lalu tanpa pikir panjang tangan Kurama menarik pundak Itachi.
"Hei, kenapa kau-"
Lagi, sang bartender muda tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia terpaku pada pandangan dingin yang diberikan Itachi.
Bola mata hitam sekelam malam menyorot tajam. Penuh gejolak amarah. Pertama kalinya Kurama mendapat pandangan itu dari si pemuda Uchiha.
Tubuhnya membeku di tempat. Pandangan itu membuat sekelebat rasa tak nyaman dalam tubuhnya. Sempat gentar, namun penuh keberanian Kurama buka suara.
"Itachi, a-ada apa denganmu? Kenapa kau memandangku begitu?"
Ekspresi si Uchiha masihlah tetap dingin. Ia berdecak sebal. Membuat Kurama sedikit terperanjat. Tak pernah ia lihat Itachi bersikap seperti ini padanya.
"Tak usah kau pedulikan aku. Lebih baik kau kembali pada pelangganmu. Atau bercinta saja dengan kekasihmu."
"Hey, bicara apa kau? Kekasih apa maksudmu?"
"Kau tidak perlu berpura-pura peduli. Aku tak akan mengganggumu lagi."
Iris merah membulat tak percaya. Kenapa tiba-tiba bicara begitu?
Itachi marah? Padanya? Pertama kalinya ia melihat. Namun tak mengerti mengapa.
Kurama pun jadi kesal.
"Hey, Itachi, kau mabuk? Kenapa kau jadi lebih menyebalkan dibandingkan biasanya? Dan kenapa kau marah-marah padaku? Kau ini-hmphh"
Kalimatnya kembali terputus. Namun kali ini bukan dengan sengaja dilakukan oleh Kurama sendiri, tapi oleh Itachi.
Iris merah membulat sempurna karena terkejut. Bibirnya dibungkam oleh sesuatu yang lembut dan hangat. Ia bisa melihat wajah tampan Itachi sangat dekat.
Mungkin Kurama bukan orang pintar, tapi juga ia tidak bodoh. Hanya saja kinerja otaknya berhenti. Tak dapat menangkap apa yang tengah terjadi.
Yang ia tahu tubuhnya tak dapat digerakkan. Sepasang tangan putih nan dingin merengkuhnya, namun sentuhan pada kulitnya begitu panas. Aroma alkohol memenuhi indera penciuman dan lidahnya.
Perasaan ini begitu asing bagi Kurama. Tapi ia tidak membencinya.
Bibir tipis yang menciumnya tidak lembut. Sedikit kasar. Sayangnya membuat tubuhnya begitu lemas hampir tak berdaya.
Terbawa oleh dorongan, Kurama mundur hingga menabrak dinding. Tak sedetik pun Itachi melepaskan ciumannya.
Lidah basah asing menerobos masuk ke dalam rongga mulut Kurama. Mengaduk, membelai penuh goda tanpa rasa lembut. Rasa manis dan alkohol bercampur saliva membuat mabuk.
Pertama kalinya Kurama merasakan ciuman seperti ini. Begitu nikmat. Ia ingin lebih.
Namun rasa nikmat itu terenggut darinya. Punggungnya berbenturan dinding dengan kasar. Ia hampir meringis, namun rasa nikmat ciuman itu masih terasa.
Ibu jari putih mengusap pelan pada bibir bawah sang bartender. Iris hitam memandang tajam.
Itachi memperhatikan seksama ekspresi pemuda bermarga Kyuubi tersebut. Pandangan tak fokus, bibir basah akan saliva terbuka mengundang, deru nafas membahana, serta warna merah menyapu pipinya. Kurama masih terbuai. Pemuda itu menikmatinya.
Wajah itu begitu menggoda. Ingin rasanya Itachi memeluk dan melanjutkan kegiatan mereka di atas ranjang. Pergi dari sini hanya berdua. Namun ingatan akan ekspresi Kurama yang dikecup oleh pemuda lain kembali membayangi.
Kedua tangan meremas pundak pemuda bermata merah itu dengan kuat. Si Uchiha kembali memasang ekspresi penuh amarah.
"Kalau kau bisa berekspresi seperti itu, kenapa kau tetap menolakku?"
Hanya bisu yang didapat Itachi. Kedua iris mereka saling bertemu. Kompak, kedua mata berbeda warna itu berpandangan penuh sorot tanda tanya.
Keduanya tak mengerti. Hanya ada kata 'kenapa?' dalam benak mereka. Pertanyaan tidak terjawab karena tak terucap lantang.
Menyerah. Pemuda berambut hitam panjang berlalu meninggalkan Kurama yang masih betah menempel pada dinding. Membuat iris merah terbelalak dan sadar.
"Kenapa, kau bilang?"
Suara serak namun lirih terdengar. Membuat langkah Itachi terhenti karenanya.
Tubuh Kurama bergetar. Mencoba menahan amarah yang siap keluar.
"Aku yang seharusnya berkata begitu, dasar berengsek!!!"
Tanpa pikir panjang sang bartender muda itu menyerang Itachi. Ia segera melancarkan sebuah tendangan tepat ke arah tubuh targetnya.
Terlalu terkejut dan bereaksi lambat, Itachi terkena tendangan tepat pada lengan kiri atas tanpa sempat mempertahankan diri. Alhasil tubuhnya berbenturan keras dengan dinding. Menghasilkan bunyi pilu bagi siapa pun yang mendengarnya.
Pemuda Uchiha itu meredam teriakan sakit dengan menggemeretakkan giginya kuat. Hanya geraman yang berhasil keluar dari bibir tipisnya.
Keduanya terengah. Yang satu menahan sakit dan satunya menahan emosi membuncah. Yang terdengar hanyalah erangan dan deru nafas cepat.
"Kenapa... kau menciumku jika kau tidak serius? Berhenti membuatku bingung..."
Kurama mengucapkan dengan lirih. Poni panjangnya menutup sebagian wajah sang bartender. Dan berlalu kembali ke dalam bar tanpa berkata apapun lagi.
Hening melanda. Itachi tak dapat mendengar apapun. Hanya ada gema suara Kurama dalam kepalanya.
Ia terkekeh pelan.
Tak serius? Dirinya? Ia sangat serius menjadikan Kurama sebagai miliknya. Hampir satu tahun itu bukan waktu yang singkat. Karena tak pernah ia mengejar seseorang hingga seperti ini.
Dirinya membuat bingung Kurama? Kalimat yang seharusnya ditujukan kepada si bartender itu sendiri. Sikap Kurama-lah yang selalu membuatnya bingung. Pemuda itu selalu menolaknya, namun akan mendekatinya ketika ia sedikit menjauh.
Sial. Ia tidak menyangka jatuh cinta bisa menyebalkan seperti ini. Pertama kali bagi si sulung Uchiha merasakannya. Ia seorang jenius, tapi permasalahan ini bukan hal yang mudah diselesaikan bagi seorang Uchiha Itachi.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
Kalimat lirih yang diucapkan tak seorang pun mendengar. Pertama kalinya Itachi merasa sangat payah karena tidak dapat melakukan apa-apa.
Continue
Alohaaaa... cieee yg nungguin chap 2... /plak
Sorry chap ini lebih fokus ke ItaKyuu... slh 1 OTP fave ku di Naruto...
Chap dpn bakal SasuNaru lagi kok...
Sorry lama bgt update nya gegara byk kerjaan...
Btw gambar ItaKyuu kissing dibikin di hp pake IbisPaint X... krn lg males ngewarnain jd alakadarnya aja yaa...
Sengaja gmbr cuma mau nunjukin sedikit wujudnya Kurama...
Sekali lagi, bagi pembaca dibawah umur 21 tahun dimohon untuk tidak mencoba minuman beralkohol dan merokok. Cerita ini hanya fiktif belaka.
Thanks for reading, vomment, and support...
