"maaf," Jaemin kembali membungkuk kepada orang yang ia tabrak.

"Ya, tidak apa-apa," Jaemin mendongak untuk melihat siapa yang ditabraknya, lalu tersenyum canggung. Malu karena sudah menabrak orang tersebut. "hm, aku boleh minta tolong?"

Jaemin mengerutkan dahinya, "boleh, sunbae,"

"bisa tunjukkan dimana kantor guru?"

'oh siswa baru,' Jaemin melihat name tag siswa tersebut.

'Wang Junkai'

.

.

Just

Cast : NCT Dream and TFboys

Main Pairing : MarkMin, KaiYuan, NoRen

Slight : -

I hope you like it. If you don't like the cast, don't read. Murni dari otak gua sendiri, bukan hasil plagiat atau semacamnya. Sorry for Typo.

.

.

.

Renjun menyandang tasnya lalu berjalan menuju pintu kelas. Tujuannya sekarang adalah ke kantin dan membeli roti beserta sekotak susu. Sudah menjadi kebiasaannya seperti ini, karena ia tidak sempat untuk pergi ke kantin saat jam istirahat. Ia lebih memilih duduk diam di kelas sambil membaca buku atau belajar di perpustakaan dibandingkan harus beramai-ramai di kantin yang disaat jam istirahat pasti sesak. Lagian ia selalu sarapan pagi, jadi rasanya ia belum terlalu lapar pada saat jam istirahat.

Seperti itulah Renjun. Kurang menyukai ditengah-tengah keramaian. Tapi bukan berarti ia tidak memiliki teman. Ia memilikinya, namun tidak seperti harus kemana-mana bersama.

"terima kasih, Ajumma," Renjun membungkuk lalu berbalik.

"masih memakan roti sepulang sekolah, ya?" Renjun mendongak. Lalu berusaha untuk tidak memperdulikan orang itu.

"Renjun-ah" orang itu berusaha menghalangi jalannya. Renjun hanya menunduk dan mencoba untuk tidak memperdulikan orang itu. Namun tetap saja.

"ayolah, kau kenapa?" orang itu memegang kedua pundak Renjun agar berhenti dan menatapnya.

"aku tidak apa-apa, Jeno," Renjun menepis tangan orang yang dipanggilnya Jeno tersebut. Sedangkan Jeno hanya tertawa kecil, "kau mau pulang kan? Ayo ku antar," Jeno menarik tangan Renjun namun kembali ditepis oleh sang pemilik.

"tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," Renjun memasukkan roti dan kotak susunya ke dalam tas, dan bergegas meninggalkan Jeno.

Namun tidak sampai disana, Jeno masih saja mengikuti Renjun sampai ke gerbang sekolah dan masih saja menawarkan Renjun untuk pulang bersama.

"cukup Lee Jeno! Jangan mengikutiku! Ku bilang aku bisa pulang sendiri" Renjun mendorong bahu Jeno, namun Jeno cepat menangkap lengan tersebut dan menggenggamnya.

"Renjun, kau menghindar lagi?"

"aku tidak menghindar" Jeno tertawa dan membuat Renjun bingung.

"iya kau menghindar. Sudah seminggu lebih kau seperti tidak ingin menampakkan dirimu padaku. Setiap bertemu kau selalu berputar balik dan berlari sebelum aku sempat menyapamu. Itu bukan menghindar?" Renjun hanya diam.

Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan mereka. Renjun dan Jeno memperhatikan mobil tersebut sampai seseorang keluar dari pintu kemudi. Dan lelaki paruh baya yang memakai setelan jas hitam tersebut membuka salah satu pintu belakang mobil, "ayo, Renjun. Masuk,"

Jeno memperhatikan Renjun yang berjalan menuju mobil mengikuti perintah lelaki tersebut. Ia masih saja memperhatikan mobil itu hingga mobil hitam tersebut hilang dari pandangannya.

.

.

.

Jaemin memain-mainkan kakinya di atas tanah sambil menggumamkan nyanyian. Ia di halte sekarang dan menunggu siapa lagi kalau bukan Mark.

Jaemin tersenyum saat orang yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang. Dan ia pun langsung berdiri dari duduknya sehingga membuat Mark sedikit terlonjak lalu menatap Jaemin dengan pandangan kaget,"ada apa?"

Jaemin masih tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mark hanya mengangkat bahunya dan duduk di halte diikuti Jaemin.

Selama menunggu bus yang sekitar 10 menit lagi baru akan sampai, suasana hanya hening. Disana hanya Jaemin dan Mark serta 4 orang siswi yang ikut menunggu.

Mark sibuk dengan ponsel ditangannya sedangkan Jaemin hanya diam sambil sesekali memperhatikan Mark.

"kau tidak lelah?" Mark tiba-tiba membuka suaranya dan membuat Jaemin terkesiap. Ia hanya diam, bingung kepada siapa Mark bertanya. Karena Mark belum pernah bertanya kepadanya -semenjak ia memulai kebiasaannya itu.

"aku bertanya kepadamu,"

"o-oh, aku kira hyung bertanya pada siapa,"

"siapa lagi kalau bukan kau. Mungkinkah aku bertanya pada mereka?" Mark menunjuk 4 siswi yang asyik bercanda jauh duduk dari mereka. Jaemin menggaruk pipinya dan terkekeh sambil menggumamkan kata maaf.

"jadi kau tidak lelah?" Mark mengulangi pertanyaannya.

"hmm, lelah karena apa, hyung?"

"terus mengikutiku saat pergi sekolah dan slalu menungguku setiap pulang sekolah,"

"oh tidak" Jaemin menjawab dengan semangat.

"kenapa?"

"karena… karena aku suka,"

"suka mengikuti orang?"

Jaemin menggeleng, "suka pada hyung,"

"apa?" Mark terdiam. Baru kali ini ada orang yang secara gamblang bilang suka padanya. Tanpa merespon lagi apa yang Jaemin katakan, Mark langsung berdiri saat bus sudah datang dan memasuki kendaraan tersebut. Jaemin juga mengikuti Mark, masih dengan senyuman cerianya.

.

.

.

Junkai menutup pelan pintu kaca itu dan berjalan meninggalkan ruangan guru sambil membaca sebuah kertas yang ada di tangannya. Koridor sekolah kini sudah sepi. Karena memang bel pulang sekolah sudah berbunyi semenjak satu jam yang lalu dan Junkai harus telat pulang hari ini karena ada satu urusan yang harus diselesaikannya di ruang guru.

Junkai melihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya, "seharusnya club musik masih ada sekarang," gumamnya.

Setelah menyusuri beberapa lorong koridor, akhirnya Junkai menemukan ruangan yang ia cari. Junkai mengetuk pintu kaca tersebut sebelum membukanya pelan. Ia memasuki ruangan yang lumayan luas itu dan menatap seisi ruangan. Sepi.

"ada apa?" sebuah suara mengangetkannya dan membuatnya menoleh ke asal suara yang ternyata berada di samping pintu masuk.

Junkai terdiam memperhatikan orang yang sedang menghampirinya kini. Orang tersebut berperawakan lebih pendek beberapa senti darinya dan wajah yang manis.

Tunggu… ia merasa familiar dengan wajah itu

"Roy?" Junkai menggumamkan nama tersebut, membuat orang yang dikiranya Roy tersebut bingung.

"Roy?" orang itu mengulang kembali nama yang disebut Junkai.

"o-oh kau bukan Roy," Junkai menggaruk tengkuknya gugup. Ia salah orang. Tapi mengapa begitu mirip?

Orang itu tertawa kecil lalu mengulurkan tangannya, "namaku Kim Yuan,""

Junkai menatap sebentar uluran tangan Yuan sebelum menjabatnya pelan, "Wang Junkai,"

Junkai memberikan formulir yang baru saja ia dapatkan dari guru pembina club musik. Yuan membaca formulir tersebut.

"hyung murid pindahan dari Cina?"

Junkai terkesiap sebentar karena ia baru saja memperhatikan Yuan dan tiba-tiba Yuan mengangkat kepalanya dan bertanya padanya. "iya,"

"woah, hyung pasti sangat pintar. Biasanya yang baru pindah ke sekolah ini, walaupun aturannya sudah kelas 12, masih saja tetap diletakkan di kelas 11. Walaupun itu baru 2 bulan semenjak kenaikan kelas dan semester baru sekalipun. Seperti sekarang. Hyung satu dari sedikit orang yang bisa begitu," Junkai hanya tersenyum menanggapi celotehan Yuan. Ia menjadi teringat Roy.

'ya, kalau saja Ayah tidak menyuruhku les pelajaran setiap hari, mungkin aku tidak sepintar ini, Yuan,' batin Junkai.

"woah, hyung juga hebat dalam bermain gitar dan bass. Kebetulan sekali band Mark hyung di club ini membutuhkan satu gitaris. Hyung mau, kan?"

"kau serius?"

"serius, hyung. Kami kekurangan anggota. Di club musik tidak ada yang sesuai dengan selera Mark hyung,"

"bagaimana bisa kau tahu kalau permainan gitarku adalah seleranya?"

"hmm aku hanya yakin," Junkai hanya tertawa kecil mendengar jawaban Yuan.

"jadi hari ini tidak ada kegiatan di club?"

Yuan menggeleng, "jadwal kegiatan di club hanya hari Rabu dan Kamis. Dan band Mark hyung biasanya berkumpul disini setiap hari Jumat dan Sabtu. Terkadang kami juga berkumpul hanya sekedar berkumpul saja," Junkai mengangguk mengerti.

"oiya, hyung bisa datang besok kesini. Aku akan memperkenalkan hyung pada Mark hyung dan yang lainnya,"

"kau juga anggota bandnya?"

"iya, hyung. Aku memegang keyboard."

"berarti kau juga bisa bermain piano" gumam Junkai.

"tentu,hyung,"

Junkai kembali terdiam. Yuan sangat mirip dengan Roy. Orang yang membuatnya jatuh hati pertama kali disaat dirinya masih berumur 10 tahun. Namun, ia kehilangan jejak dan informasi tentang Roy sewaktu mereka menginjak kelas 2 Junior High School. Disaat itu, Roy tiba-tiba menghilang.

Kata-kata terakhir yang didengar Junkai dari Roy adalah,'Ge, aku sangat tidak nyaman di rumah. Papa selalu pulang dari kantornya dengan keadaan mabuk. Dan Mama pun juga tidak peduli dengan Papa yang seperti itu. Ia hanya diam di kamarnya dan keluar hanya sekali-sekali, dia memang masih menyapaku setiap bertemu, tapi rasanya sangat berbeda. Bukan seperti Mama yang aku kenal. Aku kesepian, ge. Aku tidak ingin lagi berada di rumah. Aku ingin kabur dan lari sejauh yang aku bisa. Biarlah mereka menyariku, aku sudah tidak peduli lagi. Mereka juga pasti tidak peduli padaku.' Bahkan isakan Roy masih bergema di telinganya.

"hyung!" Junkai tersentak saat Yuan menepuk pundaknya lumayan keras. "kenapa hyung melamun?"

"Yuan"

"apa?"

"bisakah kau memanggilku dengan 'Gege'? bukan hyung,"

Yuan menatap Junkai bingung, "memangnya kenapa, hyung?"

"panggil saja, Yuan,"

"baiklah, gege,"

Dan disaat itu juga Junkai merasakan Roy benar-benar ada di hadapannya.

.

.

.

-TBC-

Review Please