Warning: Cerita ini tidak saling berkaitan dengan cerita sebelumnya, hanya berjudul sama
.
"Kibum-ah" ketika Kibum mendengar seseorang memanggil namanya, maka ia menoleh ke asal suara. Itu Lee Hyukjae, tetangganya yang lucu dan menyenangkan, sedang melambai-lambaikan tangannya dengan riang. Kemudian sang tetangga menunjukkan sebuah bingkisan, yang jelas akan diberikan pada Kibum.
Kibum menghela nafas sebentar, lalu bangkit dari duduknya di kursi teras depan, tempat ia membaca buku. Berjalan membuka kunci pagar depan rumah, ia bisa melihat kali ini Hyukjae tidak sendirian, melainkan bersama dua orang temannya. Yang satu bertubuh pendek, menyambutnya dengan senyuman cerah ketika ia membuka pintu. Seorang lagi berkulit pucat dengan postur tinggi, sedang bersedekap dan melengos, jelas sekali jika lelaki itu tidak senang berada disini.
"Ibuku membawakan banyak makanan, terlalu banyak jadi kuberikan sebagian untukmu" Hyukjae menjelaskan mengapa ia mengganggu tetangganya di siang menjelang sore yang indah ini.
Kibum hanya mengangguk, ia mengerti, Hyukjae akan mencari alasan sekecil apapun untuk mengunjungi rumahnya setiap harinya. Berjalan memasuki rumahnya tanpa berkata apapun, ia tahu, tanpa dipersilakanpun Hyukjae akan mengikutinya masuk ke dalam rumah.
.
The Proposal
Pair: Kihyun -sudah pasti-
Cerita ini tidak melalui proses editing, jadi maklumilah jika banyak typo dan kata ganti milik yang kugunakan secara serampangan
.selamat membaca.
Kibum kini tengah memandangi dua bocah -yang terperangkap di tubuh orang dewasa- sedang memperebutkan benda pipih persegi yang dibawa si pucat. Si pucat yang ingin memainkan lebih lama sedangkan si pendek yang merengek minta dipinjami. Tanpa sadar menerbitkan seulas senyum tipis di bibir Kibum.
"Mereka mirip anak kecil" celetuk Hyukjae, ia kini sedang meletakkan kimchi yang ia bawa ke dalam wadah di dapur Kibum.
Kibum setuju, "Bukankah si pucat itu menarik?" tanya Kibum.
Membuahkan kerutan tanya pada dahi Hyukjae. "Kyuhyun?"
Kibum mengangguk tanpa melepaskan pandangannya pada lelaki yang tadi ia panggil si pucat, -Kyuhyun.
Hyukjae merasa dadanya berdenyut nyeri, seseorang yang ia cintai mengatakan bahwa ia tertarik pada lelaki lain, bukankah itu menyakitkan? Apalagi lelaki itu adalah sahabatnya sendiri, yang ia rasa tidak lebih baik darinya.
"Kibum," panggil Hyukjae lirih.
"Aku menyukainya, biarkan aku mendekatinya," pinta Kibum. Ia tidaklah buta, Kibum tahu bahwa Hyukjae menyukainya, tetapi semuanya menjadi tidaklah benar jika diteruskan. "Kembalilah pada Donghae," iya, Kibum memang sempat tergoda pada tetangga barunya, seorang lelaki yang telah menikah karena perjodohan.
Awalnya Hyukjae yang sering bosan dirumah, menemukan teman diantara kebosanannya, seorang tetangga yang lebih sering bekerja di rumah daripada di kantor. Maka dari itu, ia berusaha untuk berkenalan dan mereka dekat begitu saja. Bohong jika Hyukjae tak merasakan apapun ketika dekat dengan tetangganya itu. Berawal dari curhatan tentang kehidupannya kemudian muncul kekaguman tersendiri. Kibum yang dewasa, Kibum yang mengerti dirinya, dan Kibum dengan banyak kelebihannya.
Kibum tersenyum, "Lepaskan aku Hyukjae, Donghae lah yang mencintaimu, bukan aku," ini permintaan Kibum pada Hyukjae, bukan karena ia sering melihat Donghae yang menatap pada mereka berdua dengan tatapan sendu. Atau karena Donghae yang meminta padanya agar menjauh dari Hyukjae. Ini lebih karena ia begitu tertarik pada lelaki pucat yang baru saja ia kenal. Seorang lelaki yang entah bagaimana caranya membuat Kibum ingin selalu melihatnya, dan menghabiskan waktu yang ia miliki bersamanya. Katakan jika yang ia rasakan ini hanya nafsu sesaatnya, tetapi Kibum yakin akan menghabiskan sisa hidupnya dengan lelaki pucat itu.
"Apa kau tidak terlalu kejam Kibum?" Hyukjae menuntut, "Bukankah sudah kukatakan agar memberiku waktu untuk berpisah dengan Donghae? Aku hanya mencintaimu Kibum" Hyukjae berkata dengan nafas yang tersengal, ia sakit, ia marah. Jika Kibum ingin ia kembali pada Donghae, tidak seharusnya lelaki itu memperlakukannya secara lembut, memberikan semua perhatian yang ternyata hanyalah harapan palsu.
"Tetapi aku tidak" Kibum menjawab dengan mantap, kedua iris sekelam malamnya tepat mengarah pada iris gelap Hyukjae.
Membuat Hyukjae semakin merasa sakit, air mata tak terasa telah berkumpul di pelupuk matanya, siap meleleh kapan saja.
Kibum membuang muka, tak sanggup melihat seseorang menangis di hadapannya.
Hyukjae bergegas, tak ingin merasa lebih sakit hati lagi karena perkataan Kibum. "Aku pulang duluan," katanya lirih ketika melewati dua temannya yang masih ribut bertengkar.
Keduanya terbengong sebentar, lalu salah satu dari mereka yang bertubuh pendek menyadari ada yang salah dengan Hyukjae, sehingga ia bangkit dan menyusul Hyukjae tanpa pamit.
Si pucat hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bukanlah orang yang suka tergesa, maka ia berdiri dan berjalan menyusul seadanya. Hingga tangan seseorang menahan lengannya.
"Tinggalah disini," iris dark brown milik si pucat berserobok dengan iris sekelam malam milik seseorang yang menahan tangannya. "Temani aku," dan entah keyakinan darimana, si pucat mengangguk.
.proposal.
Kibum tak pernah tahu jika ia benar-benar bisa membuang egonya demi orang lain. Ia membiarkan si pucat yang tengah kebosanan mengotak atik laptopnya, -karena benda pipih persegi yang sedari tadi dipegang si pucat telah kehabisan baterai. Ia juga mau saja mendengarkan si pucat yang tengah bercerita tentang zealot, dark templer atau makluk apalah itu yang sedang ia tonton secara online. Ini diluar kebiasaan Kibum, ia tak suka mendengarkan orang lain, itu kenyataannya. Tetapi seseorang dengan wajah merekah berseri membuat Kibum betah berlama-lama mendengarkannya, membiarkan si pucat terus bercerita tentang hobi dan kesukaannya sambil Kibum pandangi.
Setelah selesai dengan game virtual yang ia tonton secara online, kini si pucat berguling-guling bosan di sofa. Sedangkan Kibum kembali menekuni bukunya yang tadi sempat ia tinggalkan.
"Kibum?" si pucat memanggil.
"Hm" hanya gumaman yang Kibum berikan sebagai jawaban.
"Kau tahu Kim Dongryul?" tanya si pucat.
Kibum tak tau apa maksudnya si pucat bertanya demikian, ia hanya menurunkan bukunya, sedikit memberikan atensinya untuk si pucat.
Si pucat mulai bernyanyi dengan aksen aneh di setiap akhir lirik, dan jujur saja, itu membuat Kibum ingin menyumpal mulut si pucat agar diam.
Uri seoro saranghaetdeon geu sijeoren
Wae geureoke himdeulgo tto apasseonneunji
Sesangi muneojil deut peongpeong uldeon ne moseubi
Han beone geuryeojijido anneun ge eoneusae
"Itu lagu geuge naya milik Kim Dongryul" jelas Kyuhyun sambil cengengesan.
Kibum yang sudah tidak tertarik lagi, kembali menekuni bukunya.
"Kibum, coba tebak yang ini"
Kibum mendengus, tidak lagi.
sueobsi eogeutnandaedo gidarilge.
amuri gaseum apado useobolge.
tteonaseon an dwae. seodulleo jyeobeorijin ma.
nal mireonaedo gipeojineun i sarangeul bwa.
nae ibeul magado sesangi da aneunde.
wae neoman molla. wae neol jikil namjareul molla.
Lagi-lagi si pucat menyanyi dengan suara dan gaya anehnya yang annoying. Kibum menaikkan bukunya tak mau tahu.
"Siapa?"
Kibum bisa mendengar pertanyaan tak penting dari si pucat. Karena tak ada tanggapan, maka si pucat menurunkan buku yang dibaca Kibum.
"Lagu siapa, Kibum?" tanyanya lagi menuntut.
Kibum menatap jengah, "Buzz, Namjareul molla"
"Kau benar, Min Kyunghoon menyanyi lewat kepalanya" tertawa renyah, memperagakan tangan seperti menggenggam microphon di atas kening.
Sebenarnya tawa dengan high pitch itu sangat mengganggu, tetapi terdengar lucu di telinga Kibum.
"Kau pintar Kibum, sekali lagi" si pucat berkata antusias, kemudian mendudukkan dirinya dengan benar,
Kibum hampir saja protes, sebelum ia mendengar suara lembut nan merdu. Tanpa aksen aneh tentunya.
jichin haruga gago dalbich arae
du saram hanaui geurimja nun
gameumyeon jabhil deut aryeonhan
haengbogi ajig jeogi itneunde
Kibum bahkan membiarkan si pucat untuk menyanyikannya satu lagu penuh, dan Kibum pun dapat melihat bagaimana si pucat terlihat nyaman dengan lagu tersebut, dengan penghayatan penuh tidak seperti lagu-lagu sebelumnya yang terdengar seperti lelucon saja.
"Sung Sikyung, du saram" Kibum menjawab ketika si pucat menyajikannya wajah polos penuh antisipasinya.
Bertepuk tangan dengan riang, "Kau sangat pintar Kibum, sekali lagi" katanya kemudian.
Kibum menarik si pucat hingga tubuh keduanya menempel, jarak wajah keduanya sangat dekat.
"Sudah cukup" Kibum berkata tepat di depan wajah si pucat. Ia suka ketika mendengar suara merdu si pucat, sangat suka. Tetapi Kibum lebih tidak ingin mengulang pengalaman buruknya mendengarkan lagu versi aneh yang tadi baru didengarnya.
Beralih mengagumi wajah satu sama lain lebih dekat. Kibum menghela napas, "Aku merasa tidak sabar" katanya kemudian.
"Hah?" si pucat mengedip-kedipkan kedua mata bulatnya tanda tak mengerti.
Kibum bangkit, membiarkan si pucat dengan kebingungannya. "Dimana ayahmu sekarang?" tanya Kibum.
"Bekerja?" jawab Kyuhyun tidak yakin yang malah terdengar seperti pertanyaan.
"Dimana?" tanya Kibum kembali.
"Shinhwa Group"
"Sebagai?"
"General manager"
Kibum mengangguk, menggandeng tangan Kyuhyun, "Ayo," katanya kemudian.
"Kemana?" tanya Kyuhyun tidak mengerti.
"Kantor ayahmu" jawab Kibum sambil menggandeng Kyuhyun berjalan menjauh ruang keluarga.
"Untuk apa? Aku kan tidak nakal" dulu ketika masih sekolah, Kyuhyun sering dipaksa menemui sang ayah karena kenakalannya.
"Untuk melamarmu"
"Apa? Kau bercanda?" tanya Kyuhyun, menarik tangan Kibum yang menggandengnya.
"Tidak" jawab Kibum mantap dengan tatapan yang diarahkan pada Kyuhyun.
"Tapi Kibum, ibu bilang aku masih belum pantas menikah," Kyuhyun memajukan mulutnya, "aku tak bisa mengurus rumah dengan baik" lanjutnya.
"Kita bisa menyewa asisten rumah tangga" Kibum memberikan solusi.
"Tapi, aku tak tahu harus bagaimana kalau sudah menikah"
Kibum memegang pundak Kyuhyun, menatap Kyuhyun dengan dalam. "Aku juga belum tahu, yang penting kita lewati bersama-sama dan saling bekerjasama" memberikan senyuman, "Kita belajar bersama" lanjutnya.
Kyuhyun berkedip-kedip mendengar jawaban Kibum. Kyuhyun mengangguk, "Baiklah, ayo" katanya, "Tapi Kibum," Kyuhyun menjeda perkataanya, "kalau nanti ayah menolak lamaranmu, kau tak boleh menyerah oke? Nanti aku akan membantumu meyakinkan ayah"
Kibum mengangguk, kembali menggandeng Kyuhyun menuju pintu depan. Mulanya Kyuhyun memang menolak ajakan pernikahannya, tetapi akhirnya justru Kyuhyunlah yang excited sendiri. Tetapi ini baik untuk Kibum, karena ada yang melancarkan ushanya. Kibum semakin mengeratkan gandengannya pada Kyuhyun, ini hari yang indah.
.End.
Anggap saja masih dalam rangka Kihyun Day.
^Happy Kihyun Month^
Terimakasih telah membaca dan silakan tinggalkan jejak^^
