The Fallen Angel:

The God of Destruction


Disclaimer :
Naruto (Masashi Kishimoto)
Highschool DxD (Ichiei Ishibumi)
Genre:

Adventure and Fantasy
Rating:

M

Warning:

OOC, Typo, Fallen Angel (Naruto), Overpower, and Spin Off.


Summary:

Inilah kisahku… seorang Malaikat Jatuh pemalas yang harus berurusan dengan konflik internal bangsa dan negeriku.


Author Note:

Jika para Author dan Reader-san sekalian yang ingin melihat penggambaran dari setiap chara di fanfic ini atau sekedar ingin membahas cerita fanfic ini, silakan kunjungi akun facebook dibawah ini!

Facebook: Mangetsu Ringu


Chapter 4:

Sang Penghancur


"HYAAA…!"

BUUM!

DUUUUAAARR…!

Terlihat sebuah padang rumput seluas gurun sahara yang sebelumnya ditumbuhi rerumputan hijau dan pohon-pohon kini hancur dan musnah seketika hingga tak tersisa sedikitpun setelah seorang pria bersurai putih jatuh dari langit dengan menghantamkan sebuah pukulan berbalut Power of Destruction di permukaan tanah yang sekarang menjadi dasar sebuah kawah raksasa ini terbentuk.

Prok! Prok! Prok!

"Karya yang sangat bagus… Alpozed-kun" mendengar suara tepuk tangan dan kata pujian membuat pria putih itu mendongak keatas, kedua matanya menatap seorang pria bertubuh kekar dan berkulit biru yang tengah melayang di udara.

"Arigataou, Sensei…" Alpozed membungkuk hormat kepada pria itu merupakan The God of Destruction, Shiva, salah satu dari ketiga dewa besar mitologi Hindu yang sering disebut Trimurti.

Shiva melayang turun kebawah dan mendaratkan kakinya di hadapan Alpozed.

"Kenapa kau selalu membungkuk hormat sesaat bertemu denganku? Haah… sudah berulang kali aku katakan padamu jangan bersikap kaku dihadapanku, kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri, tapi tetap saja kau tidak mendengarkan perkataanku" Alpozed mengangkat kembali wajahnya setelah mendengar ucapan dari Shiva atau sekarang ayah angkatnya

"Maaf Sensei… kali ini aku tidak bisa mematuhi ucapanmu itu, aku harus tetap menghormatimu selayaknya seorang Sensei walaupun sekarang kau adalah ayah angkatku" Shiva hanya bisa menghela nafas panjang setelah mendengar hal itu.

"Jadi… bagaimana hasil latihanmu kali ini?"

"Aku telah berhasil meningkatkan daya hancur Power of Destruction secara signifikan, Sensei. Bahkan sekarang aku dapat mengubah Power of Destruction menjadi sebuah pelindung tanpa celah sedikitpun dengan cara mengeluarkannya dari setiap pori-pori kulit di seluruh tubuhku. Akan aku tunjukkan padamu..." Alpozed berjalan mundur beberapa langkah kebelakang, tubuhnya berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal kuat di samping tubuhnya. Dirinya mulai berkonsentrasi, memfokuskan kekuatannya keseluruh tubuhnya.

Huuuzz…

Aura merah kehitaman mulai menguar dari seluruh permukaan kulit Alpozed, dari ujung kaki hingga puncak kepala, tubuhnya tampak terlihat seperti terbakar namun dirinya tidak merasakan rasa sakit sedikitpun saat aura itu membakarnya.

'Bakatnya sangat alami, sangat di sayangkan klan Bael membuang anak berbakat seperti Alpozed. Jika kekuatannya terus di tingkatkan hingga melewati batas tubuhnya, mungkin saja dia bisa melampaui Lucifer, tidak! lebih dari itu… bahkan Satan sekalipun dapat ia lampaui' Shiva terus memikirkan potensi besar yang dimiliki muridnya atau anak angkatnya itu.

"Bagaimana menurutmu, Sensei?" tanya Alpozed selagi terus mempertahankan mode pertahanan terkuatnya saat ini.

"Luar biasa… kau adalah seorang jenius sejati. Jika kau terus meningkatkan kekuatanmu… mungkin kau bisa mengambil gelar The God of Destruction dariku, hahahahaha..." Shiva tertawa, membanggakan betapa hebatnya muridnya itu.

"Kau terlalu berlebihan Sensei… aku tidak mungkin bisa melampauimu" Alpozed tersenyum senang mendengar Shiva membanggakannya.

"Baiklah, latihan kali ini cukup sampai disini, beristirahatlah… walaupun tubuhmu sudah sangat kuat layaknya seorang dewa tetapi kau harus tetap membutuhkan istirahat"

"Ha'i!" Alpozed menganguk, Shiva melayang dan terbang kembali menuju kediamannya secepat cahaya

Kepala Alpozed menunduk dengan poni rambut mengantung menghalangi wajahnya. Namun… dapat terlihat sebuah seringai tipis di sudut bibirnya.

"Tunggu saja aku Ayah… kali ini kita akan memusnakan Underworld beserta para Iblis yang sudah membunuh Ibu..." Alpozed mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga Power of Destruction keluar dengan sendirinya.

Di suatu tempat yang berjarak ratusan kilometer jauhnya dari tempat Alpozed berdiri, terlihat dua orang gadis yang tengah melayang setelah mengawasi latihan Alpozed sekian kalinya tanpa diketahui walaupun dari jarak yang sangat jauh sekalipun. Mereka berdua merupakan Malaikat Jatuh berpangkat tinggi yang terbukti dengan empat pasang hitam di masing-masing punggung mereka.

"Kita harus cepat memberitahukan informasi ini kepada Araqiel. Bagaimana menurutmu, Ramiel?"

"Aku ikut saja denganmu, Danel" mereka berdua menganguk dan segera melesat terbang menjauhi titik tempat pengawasan mereka.


Chapter 5:

Tujuan baru


"Jadi… bagaimana Naruto-kun, kau mau bergabung dengan kami?" sebuah uluran tangan yang terbungkus gauntlet metal dengan ukiran rumit bercorak emas terulur di samping Naruto.

Naruto menengok ke samping, kedua matanya memperhatikan jabat tangan tersebut, pandangannya beralih keatas menatap wajah seorang gadis bersurai hitam yang tersenyum manis kepadanya.

"Oh… pantas saja aku tidak pernah melihatmu lagi Grigory dan ternyata kau berada disini rupanya, mengikuti jejak yang sama seperti Araqiel ya... Sariel" Naruto tersenyum tipis, tangan kanannya terulur ingin membalas jabat tangan Sariel. Namun…

Sing!

"Aku tidak sebodoh itu untuk menerima bujukan musuh begitu saja" dengan cepat Naruto menarik tangan Sariel dan memutarnya tubuhnya kebelakang, pedang es atau Ice Sword kini sudah menempel manis di leher Sariel.

Para Malaikat Jatuh disana tersentak kaget melihat hal tersebut, mereka secara serentak mengambil kuda-kuda bertarung dengan Light Spear di tangan mereka karena melihat atasan mereka tengah terancam.

Hanya Araqiel saja yang belum bereaksi dengan tindakan Naruto, dirinya masih terdiam memperhatikan aksi nekat Naruto dengan menjadikan Sariel sebagai sanderanya.

"Apa kau lupa dengan apa yang kukatakan sebelumnya? aku tidak pernah takut kepadamu selama aku masih berada disini, karena disini aku kuat bersama teman-temanku yang siap membantuku mengalahkanmu" sudut bibir Naruto terangkat sedikit, dia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Araqiel.

"Sudah cukup Naruto, aktingmu terlalu berlebihan kau tahu!" Sariel berkata cukup keras membuat Malaikat Jatuh lainnya dapat mendengarnya.

"Ha'i-ha'i, kau tidak bisa memberikan hiburan lebih lama lagi ya..." bilah tajam Ice Sword yang menempel di leher Sariel menghilang seketika, Naruto melepaskan kembali tangan Sariel membuat gadis itu sedikit meringis.

"Kenapa kau tadi mencengkram tanganku kuat sekali!" Sariel berteriak kepada Naruto, wajahnya terlihat sangat marah tetapi tampak mengemaskan bagi Naruto.

"Turunkan Light Spear kalian! dia bukan musuh kita" Sariel kembali berucap, para Malaikat Jatuh saling menatap satu sama lain dan mengangguk, mereka menghilangkan kembali senjata yang mereka buat, tampak ekspresi kesal terlihat diraut wajah mereka setelah melihat hiburan yang dikatakan Naruto.

"Kau tidak punya selera humor rupanya. Ingin bergurau tetapi seperti ingin menyulut api peperangan disini" Araqiel berkomentar pedas, Naruto memalingkan wajahnya sambil bersiul-siul kecil.

Araqiel menghela nafas melihat tanggapan Naruto, dirinya kini berpaling menatap Sariel.

"Baiklah Sariel, bagaimana laporan perkembanganya?" Araqiel mulai bertanya. Sariel menyerahkan sebuah dokumen kepada Araqiel, dia segera membuka dokumen itu dan melihat semua kalimat yang ada di dalamnya itu secara seksama.

"Menurut laporan yang diberikan Danel dan Ramiel, saat ini Alpozed berhasil meningkatkan daya hancur Power of Destruction hingga ke titik tertinggi, bahkan… dalam sekali pukulan dia dapat membuat sebuah kawah raksasa dan memusnakan padang rumput seluas gurun sahara dalam sekejap mata. Dia juga dapat menggunakan Power of Destruction sebagai perisai absolut yang tidak dapat ditembus apapun" Araqiel berhasil mengambil kesimpulan dari laporan itu, Naruto dan Sariel hanya terdiam mendengarkan setiap kalimat yang terlontar dari mulut Araqiel.

"Bahkan sekarang dia lebih berbahaya dari ayahnya sendiri" Araqiel bergumam sebelum menutup kembali dokumen yang diberikan Sariel.

"Tidak ada cara lain selain menyerangnya lebih dulu, akan sangat berbahaya jika dia menyerang tempat ini dengan adanya pemukiman penduduk di sekitar sini" Araqiel mulai menyampaikan isi pikirannya.

"Tetapi apa itu tidak terlalu beresiko, Kaichou? jika kita menyerangnya lebih dulu itu sama saja dengan kita mengibarkan bendera perang dengan dewa Shiva karena kita telah berani menyerang muridnya hanya karna alasan pribadi"

"Sebenarnya kita berada di dua pilihan yang sama-sama dirugikan. Jika dia menyerang kita lebih dulu dan ikut menyerang seluruh penduduk, dia bisa saja membuat alasan dengan mengkambing hitamkan keberadaan kita untuk dalih sesaat jika Shiva menanyakan hal tersebut"

"Berarti… dengan kata lain kita harus berhasil memancing Alpozed keluar dari wilayah kekuasaan mitologi Hindu dan bertarung ditempat lain?" tanya Naruto.

"Sepertinya kali ini kau benar, mungkin itulah satu-satunya jalan untuk masalah ini" jawab Araqiel.

"Jika kita ingin memancing pasti ada umpannya bukan? lalu… siapa yang akan menjadi umpannya?"

Araqiel dan Sariel saling pandang satu sama lain dan mengangguk, mereka secara serempak menatap Naruto secara intens.

"Aku?" Naruto bertanya kembali setelah mengerti dengan pandangan mereka berdua menatapnya, Araqiel dan Sariel mengangguk bersamaan membalas pertanyaan Naruto.

'Kenapa selalu aku yang menjadi korban…' Naruto membatin miris, dia merasa kasihan dengan dirinya sendiri.

"Kenapa kalian tidak meminta bantuan Ayah?" Araqiel dan Sariel terdiam seketika, mereka membayangkan kembali sosok Tuhan yang pernah mereka panggil sebagai Ayah saat masih di surga dulu.

"Kau tetap memanggil-Nya dengan sebutan Ayah ya… walau Dia-lah yang sudah mengusirmu dari surga" Araqiel berkata pelan, Naruto hanya tersenyum miris mendengar itu.

"Keyakinanku kepada Ayah tak akan pernah tergantikan walaupun aku sudah tidak diterima lagi disisi-Nya" Naruto berucap, dirinya terus memegang teguh akan keyakinan selama ini.

"Mungkin inilah sebabnya kau sering dibicarakan oleh Malaikat Jatuh lainnya karena selalu membandingkan segala hal dengan pandangan seorang Malaikat sebelum dirinya terjatuh" Sariel menatap sendu kebawah setelah berkata seperti itu, Araqiel juga melakukan hal yang sama. Naruto hanya terdiam, kedua matanya terpejam, dirinya mulai meresapi setiap kata-kata itu kedalam pikirannya.

"Mungkin kau benar, tapi sekarang itu tidaklah penting, kita punya masalah yang lebih pelik dari pada membahas hal itu" Naruto kembali menyadarkan mereka berdua.

"Aku setuju denganmu" Araqiel kembali sadar dari lamunannya.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kaichou?" Sariel bertanya kepada Araqiel. Araqiel kembali berpikir, dirinya mulai menyusun semua rencana di dalam kepalanya.

"Jadi… bagaimana rencana selanjutnya, Kaichou?" Naruto mengubah panggilan Araqiel dengan sebutan Kaichou dan hal itu membuat Araqiel mendecih mendengarnya.

"Tidak ada cara lain selain menantangnya dan membuat dia mengejar Naruto hingga ke tempat tanpa adanya penduduk" Araqiel mulai memberikan pedapatnya.

"Apa yang membuatmu begitu yakin jika rencana itu tidak akan gagal?" Naruto kembali bertanya.

"Para Iblis yang masih muda yang mempunyai kekuatan besar rata-rata cenderung lebih emosional dari Iblis lainnya, mungkin hal itu bisa kita manfaatkan untuk memancingnya keluar" Araqiel menjawab.

"Jadi begitu... kurasa tidak ada salahnya mencoba rencana itu" Naruto melipat tangannya didepan dada.

"Tapi… tidak menutup kemungkinan jika para Iblis kuat mampu tetap menjaga wibawa mereka walaupun dirinya dihina sekalipun" Sariel memberikan pendapatnya.

"Itu juga sama dengan yang aku pikirkan saat ini. Akan sangat sulit untuk menjatuhkannya jika ia tetap menjaga emosinya, jika itu terjadi tidak ada cara lain selain rencana B" Naruto mulai berbicara serius.

"Apa rencana B itu?" Sariel bertanya.

"Untuk saat ini aku tidak bisa memberitahukan itu kepada kalian, tapi jika sudah waktunya akanku beritahu semuanya" Naruto menjawab dengan santai pertanyaan Sariel.

"Kau berbicara seperti itu membuatku mengingat kembali kenangan kita masa lalu" Araqiel berucap.

"Ah! benarkah? hahahaha… aku juga tidak menyangka jika saat ini aku bisa berbicara leluasa tanpa kaku sedikitpun kepada kalian setelah ratusan tahun berlalu" balas Naruto sambil terus tertawa.

Araqiel tersenyum dan mengulurkan tangannya membuat Naruto terdiam. Naruto mengalihkan pandanganya memperhatikan telapak tangannya. Naruto tanpa ragu mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Araqiel.

"Mulai saat ini kau adalah teman kami dan bagian dari organisasi ini. Jika kau memiliki musuh maka dia juga akan menjadi musuh kami dan jika kau memiliki teman maka dia juga akan menjadi teman kami. Mulai saat ini kita adalah keluarga, kami akan selalu disampingmu..." Araqiel tersenyum lembut pada Naruto.

Deg!

Jantung Naruto kembali berdetak cepat sesaat dirinya mendengar kalimat terakhir yang Araqiel lontarkan.

Kalimat itu… kata-kata itu… mengingatkan kembali kepada seorang Malaikat cantik yang pernah berkata seperti itu kepadanya.

"Aku akan selalu disampingmu…"

Dia harus mengeyahkan pikiran itu sekarang. Saat ini dia mendapatkan kembali orang-orang yang berharga didalam hidupnya dan dirinya bersumpah akan melindungi orang-orang itu bagaimanapun caranya, walaupun harus menjual jiwanya kepada Iblis sekalipun ia tidak peduli asalkan dia dapat melihat senyuman mereka dan itu sudah cukup bagi Naruto. Inilah prinsip hidup mantan Sang Pelindung, mengambil semua jalan yang membuatnya kuat untuk melindungi orang-orang yang berharga dalam hidupnya.

'Ya… aku tidak akan mengecewakanmu kali ini Araqiel'


Chapter 6:

Trimurti


"Sepertinya kau duluan yang datang"

Brahma menaruh kembali cangkir tersebut ketempatnya. Matanya melirik kesamping memperhatikan sesosok dewa yang kerap disebut sebagai The God of Destruction, Shiva. Dirinya baru saja tiba dan kini duduk disampingnya.

"Ada apa kau memanggilku?" Shiva bertanya, tangannya terulur mengambil secangkir teh yang telah disediakan disana. Matanya menatap kedepan memperhatikan sebuah kolam ikan cantik yang berada didepan mereka.

"Jangan terlalu kaku begitu kepadaku, aku hanya ingin menyapamu setelah sekian lama tidak bertemu"

"Kau berbicara seperti itu seakan kita tidak pernah bertemu selama ratusan tahun" Shiva sedikit bergurau, Brahma hanya tersenyum kecil mendengarnya.

"Kenapa dia belum datang?" Shiva kembali meminum tehnya.

"Kau juga tahukan bahwa dialah yang mengambil peranan paling penting diantara kita. Seorang dewa yang mengawasi dunia dari hari penciptaan hingga akan datangnya hari kehancuran bukanlah tugas yang mudah bukan?"

"Ya, kau benar. Kau sendiri sudah selesai dengan tugasmu, menciptakan dunia ini bersama para dewa dan Tuhan, dan sekarang tinggal aku dan para dewa penghancur lainnya yang hanya perlu menunggu hingga datangnya hari akhir yang sudah ditentukan untuk melaksanakan tugas kami sebagai dewa yang mengakhiri kehidupan didunia ini" Shiva kembali meminum teh tersebut dengan tenang, walau sebenarnya ketenangan bukanlah gayanya.

"Rupanya kau yang sekarang sudah mengerti akan jalan kehidupan ini ya. Kau mengingatkanku kembali dengan dirimu yang dulu yang hanya kerjanya menghancurkan segalanya entah itu makhluk hidup atau alam yang telah aku ciptakan dan itu sedikit membuatku kesal"

"Itu tergantung. Lagi pula kau menciptakan sesuatu yang tidak penting seperti menciptakan para makhluk yang hanya menyebarkan kejahatan di muka bumi ini, apa kau ini temannya Lucifer? bahkan Satan saja sebenarnya makhluk yang taat kepada-Nya hanya saja dirinya diciptakan dalam bentuk menakutkan yang ditugaskan mengendalikan para iblis"

"Aku hanya ingin menguji mereka yang telah kita ciptakan, kita bisa menentukan tanggal hari akhir dengan perubahan sifat manusia, jika mereka bersatu melawan kejahatan kita bisa memundurkan hari akhir, tapi jika mereka tercerai berai terhasut oleh kejahatan itu kita bisa memajukan hari akhir. Ini adalah peraturan yang Tuhan berikan kepada kita sebagai dewa, yang bertugas membantu-Nya mengatur dunia ini"

"Ahh… terserahmu sajalah. Aku hanya akan menjalankan tugasku dan itu sudah prinsip hidupku" Shiva kembali meminum tehnya dengan sedikit kesal karena sudah mendapat ceramah dari Brahma, yang menurutnya terlalu bijaksana.

"Kudengar… kekuatan muridmu sudah meningkat pesat, bahkan hampir menyamai kekuatanmu. Apa dia tidak akan menjadi sumber masalah di masa depan nanti? terlebih lagi dia sesosok Iblis" Shiva terdiam dan menaruh kembali cangkir tehnya.

"Kau jangan terlalu meremehkan muridku. Aku melatihnya bukan untuk menjadikannya mesin penghancur, tapi aku mengajarkannya tentang arti perdamaian dari sisi kehancuran"

"Bagaimana itu bisa terjadi?"

"Sejatinya kehancuran mendatangkan perdamaian setelahnya. Para makhluk hidup akan saling bahu-membahu menolong satu sama lain tanpa melihat dari ras, suku, warna kulit, agama, ataupun negara. Mereka membutuhkan orang lain untuk mengisi kehidupan mereka, tanpa orang lain mereka akan mati karena kesepian. Jika ada orang dekat bersamamu, kau akan merasakan kehangatan bersamanya, kehangatan keluarga yang tidak bisa semua orang dapatkan dengan sendirinya, kau memerlukan perjuangan, bahkan darah sekalipun perlu ditumpahkan untuk mendapatkan hal itu. Itulah yang aku ajarkan pada Alpozed untuk membuatnya mengerti arti hidup ini"

"Kau sudah terlihat seperti seorang ayah bagiku" Shiva hanya tersenyum lebar menanggapi pujian yang dilontarkan Brahma.

"Ya… kuharap pelajaran itu dapat masuk kedalam hatinya walaupun dia seorang Iblis sejatinya"


To Be Continue


Konichiwa Minna-san…!

Hahaha… bagaimana dengan chapter ini? apa kurang memuaskan? saya sedikit kecewa dengan sedikit review, follow, dan favorit yang masuk, tapi tidak apa aku akan berusaha lagi untuk membuat cerita yang dapat menghibur kalian semua.

Mungkin… fanfic ini hanya berisi beberapa chapter, tapi tidak memutus kemungkinan jika alur ceritanya akan menjadi panjang dengan berbagai konflik baru yang muncul.

Silahkan tinggalkan review, favorit, dan follow setelah membaca fanfic ini, Oke!

Mangetsu Ringu, Log Out