Tepat pukul dua belas tengah malam, perlahan sosok Shiro berubah menjadi sesosok gadis belia yang sangat cantik tertidur dalam pelukan Sasuke. Merasa ada sesuatu yang berat menimpanya membuat Sasuke mau tak mau membuka matanya. Betapa kagetnya pemuda berambut gelap itu saat mendapati ada seorang gadis cantik tanpa sehelai benang pun sedang tidur dalam pelukannya.

"AAAKH!"

.

.

.

DISCLAIMER

NARUTO is belong to MASASHI KISHIMOTO

And

Yuki Hibari, Proudly Present

CAT's WISH

Warning

Alternate Universe, OOCs. Lemon a bit.

DLDR. Mind to RnR?


Akibat teriakan Sasuke yang tiba-tiba, Shiro yang saat itu tidur dipelukannya pun jadi ikut terbangun.

"Si-siapa kau?" Desis Sasuke pada gadis yang masih sibuk memerjapkan kedua matanya. Rasanya darah Sasuke saat ini benar-benar mendidih akibat pemandangan di depannya itu.

"Engh. Sasuke-sama?" Shiro berkata dengan imut seakan-akan saat ini sosoknya masih seekor kucing. Beberapa saat gadis itu mencoba memahami keadaanya.

Seingatnya tadi majikannya mengajaknya tidur lalu bagaimana bisa Sasuke lupa padanya. Kemudian Shiro dalam wujud gadis itu mencoba melihat dirinya sendiri hingga ia terkaget-kaget saat menyadari ia ada dalam wujud manusia.

"Sa-Sasuke-sama, apa sekarang malam bulan purnama?" Sasuke hanya mengangguk pelan, ia tetap mengalihkan pandangannya dari gadis di hadapannya.

"Jadi siapa kau ini sebenarnya?" Tanya Sasuke lagi. Saat ini ia sedang tidak mau berbasa-basi dan ingin cepat mengetahui siapa gadis di hadapannya itu.

"Aku ini kucing yang kau pelihara, Sasuke-sama."

Sontak Sasuke langsung menolehkan kepalanya pada gadis yang mengaku sebagai Shiro. "Kau Shiro? Bagaimana bisa?"

"Karena ini bulan purnama."

"Hah? Katakan dengan lebih jelas Shiro!" Perintah Sasuke menggebu-gebu.

"Aku mendapatkan kutukan hingga berubah menjadi kucing, Sasuke-sama." Ucapan Shiro membuat Sasuke terperangah.

Kutukan? Apa hal seperti itu benar-benar ada? Namun jika dilihat-lihat gadis ini memakai kalung yang sama dengan kalung yang dipakai oleh Shiro. Lalu di lengan kirinya juga terdapat sebuah perban yang membalutinya.

"Coba ceritakan padaku mengenai asal usulmu, siapa sebenarnya dirimu?" Shiro memandang Sasuke dengan sedikit keraguan. Shiro tidak dapat bertahan sebagai kucing lebih lama lagi, ia ingin kembali menjadi manusia. Maka dari itu ia akan mencoba percaya pada majikannya itu.

"Baik Sasuke-sama." Kucing yang menjelma jadi manusia itu menggantung kalimatnya.

"Namaku... Sakura. Setahun yang lalu aku membuat sebuah kesalahan yang besar hingga membuatku dikutuk menjadi seekor kucing. Akan tetapi sampai saat ini aku tetap tidak bisa mengingat apa kesalahan yang aku lakukan saat itu."

Sasuke melebarkan matanya. 'Sakura?' Tanyanya dalam hati. Pemuda itu kembali teringat sesuatu yang tak ingin ia kenang kembali. Bunga sakura dan musim semi.

Perlahan dari pelupuk mata Shiro―Sakura mulai terlihat ada air mata menggenang. "Aku ingin kembali menjadi manusia."

Sasuke, semua orang melihatnya sebagai pembuat masalah yang angkuh dan sombong. Namun kenyataannya ia adalah pemuda yang berhati lembut.

Melihat Sakura―jelmaan kucing kesayangannya seperti itu membuat hati Sasuke terketuk untuk membantunya. Pemuda itu luluh, hingga melupakan kebenciannya pada hal yang berkaitan dengan masa lalunya.

"Katakan padaku, apa persyaratan agar kau kembali menjadi manusia?" Sakura mengernyitkan keningnya bingung.

"Maksud Sasuke-sama?"

"Ku pikir jika kau dikutuk atau semacamnya, pasti ada suatu cara untuk melepaskan kutukan itu kan?" Sakura mengangguk.

"Nah, sekarang katakan padaku bagaimana cara melepaskanmu dari kutukan itu?" Lanjut Sasuke pelan.

Sakura memerjapkan matanya tidak percaya. Sesaat ia mencoba mencari kebohongan dibalik sepasang manik obsidian Sasuke, namun semuanya nihil. Hanya ada ketulusan dan kesungguhan disana.

"Syaratnya, harus ada seseorang yang mengabulkan tiga buah permohonannya. Hingga ketiga helai kelopak di bunga ini menghilang semua." Ujar gadis berambut merah muda itu seraya menggenggam kalung berlian berbentuk bunga sakura di lehernya.

"Nya? Siapa dia S-Sakura?" Sasuke sedikit sulit untuk memanggil nama itu, tapi ia memaksakan untuk memanggil gadis kucing itu dengan nama aslinya.

Sakura menggeleng sedih. Ia benar-benar tidak ingat apapun selain yang baru saja ia katakan pada Sasuke.

"Lalu apa saja permohonannya?"

Sepasang zamrud milik Sakura tiba-tiba menjadi nanar. "Aku hanya mengingat permohonannya yang pertama." Sakura memutus kalimatnya yang membuat Sasuke menjadi semakin tidak sabar mendengar kelanjutan kalimat Sasuke.

"Dia bilang, 'aku sangat benci pada seseorang yang menyia-nyiakan sekolah. Hargailah karunia kepintaran dan kesempatan untuk menimba ilmu' begitu." Jelas Sakura. Sasuke terhenyak, apa permohonan itu ditujukan untuk dirinya?

Tepat sekali Sakura meminta Sasuke untuk mengabulkan permohonannya. Selama ini Sasuke memang sangat malas untuk datang ke sekolah yang baginya hanya membuang-buang waktu saja.

"Maksud dari permintaan itu untuk menyuruhku rajin sekolah, begitukah?" Tanya Sasuke seraya menatap Sakura. Sakura balas menatapnya bingung.

"Entahlah, Sasuke-sama."

"Lalu, apa lagi yang kau ingat Sakura?"

Sejenak Sakura terlihat sedang berpikir hingga sesaat kemudian ia seperti teringat akan suatu hal. "Ah iya, permohonan itu harus kau kabulkan sebelum bulan purnama selanjutnya, Sasuke-sama. Atau jika tidak aku akan menjadi kucing selamanya."

Sasuke terlihat sedang memikirkan permohonan Sakura itu. Menimbang-nimbang apa yang akan dilakukan pemuda itu selanjutnya.

"Baiklah, kau begitu besok aku akan datang ke sekolah." Ucap Sasuke mantap. Masa bodolah dengan komentar-komentar dari penghuni sekolahnya. Setidaknya ia harus menolong kucing jelmaan ini.

Flashback end

Disinilah Sasuke sekarang. Setelah satu jam termenung di kafetaria, pemuda berambut seperti pantat ayam itu memutuskan untuk mengunjungi atap sekolahnya untuk sekadar istirahat dan menenangkan dirinya.

Saat merenung ia kembali teringat sedikit akan kejadian tadi malam.

Flashback

"Sakura, apakah ada efeknya jika misalnya, seorang yang malas datang ke sekolah itu akhirnya datang kesekolah kembali namun ia tidak terlalu fokus pada pelajaran dan terkadang malah bolos di atap sekolah?"

Sakura menatap Sasuke dengan tatapan aneh. "Apa Sasuke-sama berniat melakukan itu?" Selidik gadis itu. Sasuke tak bergeming sedikit pun hingga saat Sakura yang masih tak memakai sehelai benang itu mendekati dan duduk di pangkuannya.

"Ch―apa yang kau lakukan Sakura?" Sasuke kaget bukan main. Secepat kilat pemuda itu mengalihkan pandangannya guna menutupi kenyataan saat ini wajahnya sedang merah padam. Sakura memukul-mukul dada Sasuke pelan.

"Memangnya apa yang salah dengan sekolahmu Sasuke-sama?"

"Aku... Tak mau melihat Sasuke-sama terus seperti ini. Kembalilah bersekolah Sasuke-sama." Pinta gadis jelmaan kucing itu dengan sungguh-sungguh. Secara tak sengaja bokong kenyal miliknya menyentuh kebanggaan Sasuke yang sudah agak bangun setelah saat pertama kali ia melihat Sakura tanpa busana sedang menindihnya ketika tidur tadi.

"Engh." Tanpa bisa ditahan sebuah desahan pelan lolos dari sepasang bibir tipis Sasuke. Sakura menoleh saat mendengar desahan majikannya. Matanya terbelalak saat melihat wajah Sasuke yang merah padam dan sedikit limbung.

"S-SASUKE-SAMA!" Pekik Sakura. Serta merta gadis berambut permen kapas itu menangkup pipi Sasuke dengan kedua tangannya. "Astaga, tubuhmu panas sekali Sasuke-sama." Lanjutnya dengan raut wajah cemas.

"Tidak. Aku baik-baik saja."

"Bagaimana baik-baik saja? Tubuh Sasuke-sama sangat panas. Sasuke-sama pasti sedang demam. Aku harus melakukan sesuatu." Ucap Sakura dengan nada khawatir berlebihannya.

Gadis jelmaan kucing itu tidak sadar jika saat ini dirinya telah membangunkan seekor singa yang kelaparan. Sebuah seringaian terbentuk di wajah tampan Sasuke bersamaan dengan munculnya ide gila di benak pemuda itu.

"Aku tau apa yang harus kau lakukan agar panasku turun." Ucap Sasuke seksi di dekat daun telinga Sakura.

Seringaian juga tak luntur dari wajahnya. Seketika Sakura agak merinding karena merasa akan ada kejanggalan setelah ini.

"Apa itu Sasuke-sama?" Tanya Sakura polos.

Akibat kutukan yang diterimanya membuat Sakura tidak bisa bersikap seperti dirinya yang dulu. Sakura saat ini hanya bisa berkelakuan polos, manis dan manja seperti kucing.

"Ikuti saja perintahku."

Begitu kalimat itu selesai, Sasuke langsung memerintahkan Sakura untuk membukakan semua pakaian yang dipakainya. Bodohnya Sakura hanya mengikuti perintah Sasuke tanpa membantah sedikit pun.

Jari jemari lembut nan lentik Sakura bergerak turun setelah berhasil melepaskan kemeja biru muda milik majikannya. Sejenak tadi ia cukup mengagumi tubuh milik Sasuke yang terlihat sangat terlatih hingga perutnya berbentuk seperti cokelat batangan.

Langsung setelah membuka kancing dan menurunkan resleting celana jeans majikannya, Sakura menurunkan celana Sasuke secara perlahan dan menyisakan sebuah boxer bertuliskan Calvin Klein. Gerakan lambat yang dilakukan Sakura benar-benar membuat Sasuke semakin kesal.

"Bisa kau percepat gerakanmu Sakura?" Desis Sasuke.

Karena takut jika majikannya marah, Sakura membuka semua pakaian dalam Sasuke dengan sedikit menyentaknya. Niatnya sih, agar boxer beserta lapisan lainnya lepas bersamaan hingga secepatnya Sasuke berkeadaan sama seperti Sakura.

Tapi gadis kucing itu sama sekali tidak menyadari apa efek dari tindakannya barusan. Mungkin karena kutukan yang diterimanya, logikanya sebagai manusia tergerus oleh kepribadian kucingnya.

"Ermh." Geram Sasuke dengan mata separuh terpejam. Sebuah sensasi yang timbul semakin mendesaknya di bawah sana.

"Sasuke-sama? Kau baik-baik saja?" tanya Sakura khawatir. Bukannya menjawab Sasuke malah membalikkan posisinya menjadi di atas Sakura. Seringaian seksi khasnya semakin tercetak jelas.

"Sasuke-sama? A-ada apa tiba-tiba?" ucap Sakura yang berada dalam kungkungan majikan barunya itu. Sekilas ia merasa perubahan aura dari majikannya itu, namun tidak mengerti apa yang sebenarnya akan terjadi.

Sasuke mulai mendekatkan wajahnya ke leher Sakura dan menghembuskan napasnya disana. "Karena kau telah membangunkanku, tidak ada masalahnya kan kita bermain sebentar?"

Belum sempat Sakura bertanya lagi, Sasuke sudah mulai menjilati lehernya. Bukan hanya itu, Sasuke juga sudah mulai berani menghisap dan meninggalkan tanda kepemilikkan di leher gadis―kucingnya―itu.

"Enghh..." Entah kenapa desahan yang lolos dari bibir Sakura terdengar manis di telinga Sasuke. Desah-desah yang manis selanjutnya semakin membuat birahi pemuda raven itu meningkat.

Lumatan-lumatan Uchiha muda itu semakin gencar menghujam jenjangnya leher Sakura. Sejalan dengan lidahnya yang tengah berpesta, jemari kekar Sasuke pun tak ingin ketinggalan langkah. Perlahan tapi pasti jemari jenjang itu menyusuri wujud manusia itu dari atas, turun melalui leher dan terhenti sebentar di sepasang bongkahan sintal.

Seperti baru pertama kali menemukan mainan yang sangat mengasyikkan, Sasuke sejenak menghentikan hisapannya di leher Sakura untuk beralih pada sepasang bukit kembar yang baginya sangat menggugah libidonya.

Naluri lelaki yang tertarik pada payudara juga dimiliki oleh Sasuke. Buah dada gadis jelmaan kucing itu cukup pas dalam genggaman Sasuke. Tidak kecil namun tidak juga terlalu besar. Semakin Sasuke meremas dan memilinnya, semakin naik nafsu birahinya.

"Ahh~ Aahh~~ Saah― Suhh― Keeh― Sahmaahh―" dengan susah payah Sakura memanggil nama majikannya. Rasanya aneh diperlakukan seperti itu. Gadis kucing itu merasa tiba-tiba ingin pipis namun niatannya untuk membuat tuannya berhenti sejenak―agar dia dapat pipis di toilet―tampaknya sulit untuk dilakukan.

"Ahh― tuaanh― Sahsukeeh―" Sakura terpaksa mengalami orgasme pertamanya. Melihat gadis dibawahnya telah sampai duluan Sasuke semakin bersemangat. Tangan kanannya meremas bagian kanan payudara Sakura sementara bibirnya melayani bagian satu lagi.

Jari-jarinya yang sedang bebas kembali menelusuri tubuh Sakura hingga mereka menemukan sesuatu di pangkal selangkangan mangsanya itu. Bagian itu cukup basah akibat orgasmenya tadi. Tak butuh waktu lama Sasuke dengan mudah menemukan klitoris dan mencubitnya dengan penuh kasih.

"Aaahh―" Sakura mendesah panjang. Tubuh sintalnya menggelinjang hanya karena cubitan jahil itu. Tanpa banyak berpikir lagi, Sasuke langsung meloloskan jari tengah dan telunjuknya.

"Aah― sshhh― aah― tuaanhh Sasuuh―keeh" seringaian Sasuke semakin lebar mendengar Sakura menyebutkan namanya. Ia cukup puas bisa membuat Sakura menikmati foreplay dari pemula seperti dirinya. Sejujurnya bagi Sasuke ini memang yang pertama kali ia lakukan dan ternyata melakukan hubungan intim itu memang seperti surga dunia.

"Aahh― anhh― aah― lebiihh cepaathh― Sasuukeeh― samaahh" Sakura terus mendesah. Terpaksa Sasuke menambah satu lagi jarinya dan mempercepat gerak ketiga jarinya itu.

"Sshh― aaaaaahhh―" Sakura mendesah panjang. Tanda bahwa ia kembali orgasme dan tubuhnya yang penuh peluh mulai lunglai. Pemandangan Sakura yang seperti ini membuat Sasuke tak bisa menahannya lagi.

Pemuda bermanik obsidian itu mengarahkan kejantanannya di depan kemaluan Sakura yang telah basah akibat cairannya sendiri. Karena niat jahilnya, Sasuke dengan sengaja menggesek-gesekkan batang kejantanannya pada kewanitaan Sakura.

Dan tentu saja, "aaaahh―" gadis itu akan mendesah panjang.

AH. Sasuke seakan tersadar akan sesuatu. Apa yang baru saja ia lakukan? Apa yang selanjutnya ia lakukan? Lupakah ia kalau Sakura itu tengah dikutuk menjadi kucing? Bagaimana jika ia menyetubuhinya, gadis itu tidak akan kembali menjadi manusia? Tidak, tidak. Tahanlah dirimu Sasuke. Saat ia telah kembali normal, kau bisa menggagahinya sepuas nafsumu.

Sasuke menjauhkan dirinya dari Sakura. Ia berbalik badan dan hendak ke kamar mandi.

"Sakura pakailah bajuku untuk sementara. Nanti kau kedinginan." Seru Sasuke dingin tanpa menoleh ke arah Sakura. Sakura yang menyadari perbedaan dengan gelagat majikannya mengernyitkan dahinya.

"Tapi diperlakukan seperti tadi oleh Sasuke-sama lebih hangat." Jawabnya lugu. Tanpa sadar hanya dengan ucapan Sakura itu Sasuke semakin bernafsu. Tapi apa mau dikata, ia harus menahan nafsunya.

"Sudah! Lakukan saja." Setelah membentak Sakura, Sasuke secepat kilat menuju kamar mandi untuk menuntaskan nafsunya. Sang adik tidak akan tenang jika belum diberi pelayanan.

Flashback end.

.

.

Sasuke mendengus kesal. Sedikit banyak ia kesal dengan kesehariannya di sekolah yang menurutnya sangat membosankan. Hampir semua teman di sekolahnya itu berbahaya. Yang perempuan menatapnya seperti mangsa sementara yang laki-laki seperti menganggapnya sampah penyebar penyakit.

Apa boleh buat? Saat ini mengabulkan permohonan untuk Sakura jauh lebih penting daripada egonya sendiri. Pemuda raven itu sendiri tidak mau mengambil resiko jika ia mengingkari janjinya dengan kucing cantik itu.

Sasuke terlalu takut untuk kehilangan peliharaannya itu saat ini.

"Hei Sasuke." Sasuke berbalik sejenak ke arah sumber suara yang memanggilnya.

"Hn."

"Berhenti bertingkah sok keren seperti itu teme!" tegur salah satu dari dua orang yang mendekati Sasuke.

"Hn. Ada apa?" tanya Sasuke. Kali ini masih tetap mempertahankan wajah datar, dingin tanpa ekspresinya. Salah satu dari mereka menyodorkan sebuah bungkusan pada Sasuke.

"Apa ini Kiba?"

"Itu shampo kucing dan vaksin yang kau pesan. Dari kakakku." Seru pemuda pencinta anjing itu.

"Oi Sasuke! Sejak kapan kau memelihara kucing?" celetuk seorang yang berambut pirang. Sasuke mendengus mendengarnya.

"Bukan urusanmu Naruto." Gumam Sasuke seraya melirik isi bungkusan pemberian Kiba sejenak. Ketiganya berjalan berdampingan. Kiba dan Naruto cukup berisik dibandingkan dengan Sasuke yang terus-terusan diam. Pemuda Uchiha itu terlarut dalam terawang angannya yang jauh.

Kini dalam otaknya sudah terencana dengan jelas apa saja yang hendak ia lakukan jika gadisnya telah kembali menjadi manusia. Tak sabar rasanya menunggu malam bulan purnama selanjutnya untuk bertemu dengan wujud manusia Sakura.

Jika tidak di malam bulan purnama, mana bisa Sakura menampakkan wujud manusianya pada manusia lain.

.

.

.

"Kenapa kau melakukannya?"

"Kenapa kau membantunya?"

"Kenapa kau mempedulikannya?"

"Korbankan saja dia."

"Buang saja dia."

"Telantarkan saja dia."

"Dia hanya sampah."

"Dia tidak berguna."

"Dia tak berhati."

"Dia tak pantas untukmu."

.

.

"AKH!" Napasnya menderu dan saling berkejaran. Darimana datangnya suara-suara yang ramai itu. Disini tidak ada siapapun selain dirinya. Ia menatap sekelilingnya. Rumahnya tetap sepi, tak ada siapapun yang datang.

Sakura? Bagaimana dengan Sakura? Sasuke bergegas menuju sebuah ruangan kecil khusus untuk kucing kesayangannya.

CKLEK. Ia langsung menyalakan lampu ruangan kecil yang manis itu. Syukurlah, kucing itu masih terlelap di atas bantalnya. Tubuhnya bergerak naik turun menandakan ia sedang bernapas. Bulu-bulu halusnya terlihat rontok beberapa helai.

Sasuke mendekat dan duduk di samping kucing itu berbaring. Dalam wujud kucingnya saja Sakura sangat manis. Tangan kekar Sasuke terjulur hendak mengelus tubuh kucing itu. Namun sebelum ia sempat melakukannya, Sasuke berubah pikiran dan kembali menatap Sakura.

"Bukan Shiro tapi, Sakura ya?" gumamnya. Pemuda yang dikenal dingin itu dengan mudahnya memberikan tatapan lembut pada peliharaan yang sekarang menjadi teman barunya. Atau mungkin gadis yang ... dicintainya?

"Cocok untukmu."

BTC


A/N: Hallooooo~~~ Setelah cukup lama setelah Hibarin menganggurkan fic ini akhirnya ke post juga chapter duanya. Jujur Hibarin sendiri sampe speechless sama tulisan sendiri. Untuk saat ini, Hibarin cuma bisa bikin seperti ini dulu. Mungkin efek WB masih menggerogoti gudang ide Hibarin TT Maaf ya kalo fic ini ngga sesuai dengan harapan kalian. Untuk selanjutnya Hibarin usahain buat lebih bagus dan bermutu.

Hibarin ucapin terima kasih buat yang udah sempetin baca fic ini baik yang sempet ngereview maupun silent reader. Dukungan kalian bener-bener berarti buat Hibarin.

Akhir kata saya ucapin terima kasih dan mind to review? :D

See you in the next story~~

-Hibarin