Aku tahu masih ada setitik cinta dihatimu

Tunggu aku

Aku akan menepati janjiku untuk selamanya bersamamu

.

.

.

BLACK KAISOO VERSION SEQUEL

Medusa Kim

.

.

.

7 tahun ya. Jika banyak orang yang mengatakan kalau itu sudah waktu yang sangat lama untuk melupakanmu, maka aku dengan lantang mengatakan, Tidak!

Entah apa yang kau berikan padaku Jongin, semua yang tersisa bagaikan aliran darah yang menemaniku bersama kerasnya kehidupan.

Cinta. Aku sudah tidak percaya dengan itu semua, cukup dahulu dan hanya satu kali aku mengenalnya dan itu bersamamu.

Jika suatu saat nanti aku mati, maka selamanya dihatiku hanya ada dirimu

.

.

.

Alunan musik ballad menemani kesendirian Kyungsoo, ia menggenggam ipad yang sudah terlihat ketinggalan zaman dan tergores dimana-mana. Kyungsoo sangat menyayangi benda itu, karena hanya itulah satu-satunya hadiah berupa benda yang pernah Jongin berikan pada Kyungsoo di hari ulang tahunnya.

Semenjak 2 tahun yang lalu, Kyungsoo sudah lebih bisa membuka diri kepada dunia luar. Berkerja, bekerja dan terus bekerja merupakan rutinitas yang menjadi suatu kewajiban untuknya, walaupun terdengar aneh namun hal itu mampu membuat Baekhyun lega, setidaknya Kyungsoo tidak melukai dirinya lagi.

Kyungsoo memejamkan mata saat angin membelai kulitnya, sambil meresapi tiap-tiap nada yang merasuki alam sadar Kyungsoo.

"Apa kabarmu disana Jongin?" ucapnya pada diri sendiri, kalimat itulah yang sering ia katakan.

Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya, mengingat kebersamaannya bersama orang tercintanya itu selalu menjadi obat penawar rindu, sekalipun ia mengetahui …

.

Aku bukan siapapun untukmu

.

"Apa benar kalau apartemen ini akan dirobohkan bibi?"

Wanita setengah baya tersebut berbalik menatap Kyungsoo, terlihat jelas di wajahnya ada segaris kesedihan.

"Iya nak Kyungsoo. ada sebuah pengusaha yang membeli tanah gedung apartement ini untuk membangun perusahaannya." Ungkapnya yang membuat mata Kyungsoo meredup ke dalam keresahan.

Kyungsoo mendesah lirih dan terdiam, tanpa menyadari kalau wanita setengah baya yang ia tanyai tadi sudah pergi. Namun, terdengar tawa kecil Kyungsoo. "ini tidak adil. Bahkan tidak ada satupun yang membiarkan aku tetap bersamamu."

ia terjatuh disertai tangisnya yang terdengar jelas, Kyungsoo sudah tidak memikirkan lagi orang-orang yang dapat melihatnya dalam posisi yang menyedihkan seperti sekarang.

"Paling tidak biarkan aku hidup dalam bayangannya Tuhan."

.

.

"kau pasti sangat merindukan Korea Kai." Sara berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.

"Apakah terlihat jelas?"

Sara tertawa, ia meletakkan kembali majalahnya lalu menatap lurus ke mata Jongin. " kau tidak bisa membohongiku, mungkin orang lain akan terpedaya dengan wajah dinginmu."

"Kai."

"Hmm."

"Jangan pergi dariku." Ucapnya penuh permohonan, Jongin berbalik dan mengambil selimut. " tidurlah Sara, perjalanan kita masih lama." Ia membelai rambut gadis itu lembut mengantarkannya dalam bunga tidur.

Jongin menyandarkan tubuhya senyaman mungkin di bangku pesawat, mata tajamnya memandang kosong ke depan. Kepalsuan terlihat jelas disana, ia menutup diri dengan kebohongan yang rumit.

'Bagaimana kabarmu disana ?

Kerinduan yang mengikat kita akan tetap menghantui, selama itu dirimu aku tidak akan pernah bisa menang.

-Apa kau baik-baik saja?

Ini menyakitkan. Kau melepaskanku tapi tak membiarkan hatiku membebaskanmu.

-aku pulang untukmu …

Mata Jongin perlahan tertutup masih dalam diam, ia akan bertaruh dengan dirinya sendiri saat ini.

Hyung.'

.

Apa aku harus mengumpulkan serpihan-serpihan ini

Atau

Belajar untuk melepasmu selamanya

.

Baekhyun duduk manis di sofa single milik Kyungsoo, diliriknya apartemen Kyungsoo yang mulai kosong. Kyungsoo datang dengan teh di nampan dan duduk di depan Baekhyun.

"Kudengar gedung apartemen ini akan dihancurkan." Ucap Baekhyun yang membuat senyum Kyungsoo melemah. "itu benar hyung dan aku sedang berbenah saat ini." suara Kyungsoo bergetar.

Baekhyun meremas tangannya resah, Kyungsoo pasti merasa sedih karena harus meninggalkan tempat kebersamaannya bersama Jongin, teman macam apa dia yang tidak peka terhadap perasaan Kyungsoo.

"Kyung … " ia menggenggam tangan Kyungsoo, membiarkan sahabatnya yang tengah berusaha bangkit itu merasakan kekuatan. " kau bisa. Kau bisa tanpa dia."

"Aku ti …" Kyungsoo terhenti, ia meresakan kehangatan pelukan Baekhyun. Sahabatnya itu memeluknya erat.

"Kumohon Kyungsoo, untuk kali ini saja, kembalilah menjadi dirimu yang dahulu." Mohon Baekhyun yang membuat Kyungsoo terpaksa menahan isaknya. Ia sudah terlalu banyak membuat orang lain menangis karena hidupnya yang menyedihkan.

.

.

"Mau kubantu?" Sara mengambil alih dasi yang tengah Jongin pasang. Jongin memandang gadis tersebut lalu merengkuh pinggangnya untuk mendekat.

"Terima kasih." Ucap Jongin yang menimbulkan rona kemerahan alami di kedua pipi Sara.

" Kau akan pergi meninjau tempat pembangunan perusahaanmu Kai?" Sara bertanya sambil memilih jas mana yang cocok digunakan Jongin.

"Ya, hari ini aku dihubungi oleh pemilik tanah. Katanya lebih cepat lebih baik."

" Oh. Boleh aku ikut?"

Jongin berbalik dari arah cermin yang ia gunakan untuk memperhatikan penampilannya tadi. Melihat raut wajah lelaki itu datar membuat sara menjadi ragu untuk melanjutkan permintaannya. Namun, Jongin malah tersenyum bukannya marah seperti yang Sara pikirkan.

"Tentu saja kau boleh ikut Sara, kau itu kekasihku."

.

.

Kyungsoo keluar dari apartemen bersiap-siap untuk bekerja. Tetapi, ia berhenti saat mendengar beberapa tetangganya bercerita kalau orang yang membeli tanah gedung apartemen itu akan datang.

"Seperti apa yang orang itu?"

" Aku sangat membencinya!" ungkap seorang wanita setengah baya yang emosi, Kyungsoo yang berada tidak jauh dari mereka juga membenarkan dalam hati.

"Jangan seperti itu. bukankah pemilik gedung sudah mengembalikan uang kita dan berjanji akan mencarikan apartemen yang baru."

Beberapa menit berlalu, orang-orang itu masih mempertahankan argumen mereka dan Kyungsoo yang tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Sampai ada sebuah objek yang mengalihkan pandangan mereka, beberapa mobil mewah yang berhenti di kawasan apartemen tua itu.

Deg

Kau disana -

Matahari yang sudah pergi dari hidup Kyungsoo dan ia anggap sudah mati, sekarang berdiri dengan gagah dan tampan.

Tidak! Ini mimpi -

Kyungsoo tidak pernah terlalu berdebar seperti ini kepada lelaki lain kecuali …

Kim Jongin.

Tubuh Kyungsoo kaku, di depan sana dengan jarak beberapa meter ada seseorang yang Kyungsoo anggap tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Ia tidak percaya, ia bahkan mengigit lidahnya sendiri untuk meyakinkan diri.

Semuanya nyata. Bahkan sampai mata tajam yang Kyungsoo puja itu berbalik menutup mulutnya dengan punggung tangan, air mata lolos begitu saja disertai kerinduan yang melilitnya kedalam pusaran hitam masa lalu.

.

Dimatamu masih ada kebencian

Terlihat jelas bersama dengan ketegasannya

.

Pandangan Jongin dan Kyungsoo terkunci. Bayangan masa lalu terulang kembali bagaikan kaset yang rusak di kepala Kyungsoo, sekarang mataharinya lebih bersinar dan indah.

'Kau bukan untukku-

Jongin tersentak saat tangannya dipeluk seseorang, ia menegok dan menemukan Sara yang memeluknya posesif. Pria itu melepaskan pelukan Sara lalu mengaitkan jari-jarinya di ruas jari Sara yang kosong. Sekilas ia melirik Kyungsoo dan segera pergi dengan keintiman yang tergambar jelas disekitar mereka.

-Terlalu jauh. Sekarang kau bukanlah seseorang yang dapat kugapai.'

Kyungsoo berbalik dan segera melangkahkan kakinya menjauh. Apa yang ia lihat tadi sudah membuatnya bahagia. Jongin sudah menjadi seseorang yang ia impikan. Namun, tetap saja hatinya mengingnkan lelaki itu tetap berada disampingnya dan membisikkan kata-kata cinta yang tidak akan pernah lelah untuk Kyungsoo dengar.

'Apa aku egois tuhan?'

.

.

.

"Hey sobat! Wahh, kau sudah menjadi orang hebat sekarang." Ucap Sehun sambil merangkul Jongin. Terlihat jelas di wajahnya kalau ia begitu kagum dengan Jongin.

Jongin tertawa pelan, melepaskan rangkulan sehun. "kalau dibandingkan dengan dirimu, ini masih belum seberapa." Ungkapnya merendah.

Sehun tersenyum dan kembali mendekatkan dirinya. "tidak! kau memulainya dari nol tanpa campur tangan orang lain Kai. Sedangkan aku, karena garis keturunanlah yang mempu membuatku menjadi orang sukses." Jongin mengangkat bahu membuat kerutan samar di dahi Sehun. "mungkin semacam keberuntungan." Ucapnya cuek.

"Kau tahu Kai. Ada satu hal yang terlihat jelas berbeda dari dirimu." Mata sehun menunjukkan sebuah rasa keprihatinan.

Jongin membuang arah pandangannya, ia terlalu sensitif dengan tatapan itu. akan tetapi ia tetap memperhatikan apa yang sehun katakan. " dimatamu terlihat sekali kekosongan."

Keduanya terdiam, Sehun merasa sudah salah memilih topik pembicaraan.

"Omong kosong." Sehun terkejut mendengar kalimat sinis Jongin, sepertinya 7 tahun berada di LA membuat sahabatnya itu benar-benar berubah.

.

.

Air hujan membasahi setiap bagian mobil Jongin bagian luar, menyisakan ruas dingin menusuk tulang. Jongin merogoh saku bagian kirinya, ia menatap sendu ponsel tua yang selalu ia banggakan dulu.

Ponsel pemberian Kyungsoo.

" Kau semakin cantik, hyung." Ungkapnya lirih, Jongin mendongakkan kepala ke atas, menahan jalur air mata yang ingin membayangi pipinya.

"Aku merindukanmu."

Sampai aku merasa gila seperti ini.

Jongin membuka kontak ponsel dan menemukan satu-satunya nomor seseorang.

My Kyungsoo, nama kekanakan yang Jongin buat dahulu sampai sekarang tidak pernah ia ubah.

Kenanganku bersamamu terlalu berharga untuk dibuang.

Tanpa ia sadari, ibu jarinya menekan tombol hijau. Jongin tertawa geli dengan kebodohannya sendiri. Namun, ia tetap berharap kalau nomor itu masih digunakan.

Sekali. Gagal.

Dua kali. Gagal.

Tiga kali. Gagal.

Tangan Jongin tetap menekan tombol hijau, walau ia tahu kalau Kyungsoo tidak akan pernah mengangkatnya.

"Aku ingin mendengar suaramu hyung."

Sekali lagi. Gagal.

"Apa kau memang sudah melupakanku?" ia terisak, menangisi kekonyolan yang tidak berguna untuknya. Ia memukul stir mobil sampai tangannya berwarna kemerahan.

"Ha ..lo?" terdengar suara dari ponsel yang sudah Jongin abaikan. Tangis Jongin terhenti, ia terkejut mendengar suara seseorang di line.

"halo … Jongin ini kau?" Jongin bergetar dan ia mengangkat telepon itu dengan hati-hati lalu –

Pip

Ia matikan.

.

Ia hanya tidak mengerti

Ini adalah salah satu cara tuhan

Memberikan ia peluang

Untuk dapat memperbaiki lagi hidupnya

Sebuah kesempatan kedua

.

.

.

Tbc

Yuhuuuu …. Sequel ini ada karena banyak pembaca yang merasa kecewa dengan ending di chapter awal. Oleh karena itu aku bikin sequelnya biar rasa kecewa kalian hilang dan chapter depan adalah ending dari sequel ini. jangan lupa review ya …. Please reader-nim.

Big thanks

Renakyu, amaikai, guest, hyunchan2509, anna, chiciemaulida, kaisooship, dragonamex, izmajukir, mocca.