Soooooooooo... Ini chapter 2 nya. Makasih buat para reader anu kece nya kabina – bina yang udah ngerelain waktunya buat baca panpik aku. Thank you guys!

Sticky Note : Ralat ya, semuanya. RALAT. Di fanfic ini, mereka masih kelas 7. KELAS 7. Sorry buat chap sebelumnya. :3


Ghyani Ayu Production,

Present

.

.

.

Blank Space

Episode sebelumnya...

Saat aku hendak menghampiri meja lain, tiba – tiba ada yang menggenggam tanganku. Kukira itu Yaya, lalu aku berbalik dan yang menggenggam tanganku itu...

Yup, kalian benar kawan – kawan.

.

.

Dia Fang.

.

.

Jantungku kembali berdebar. Pipiku memanas. Haiya, sepertinya pipiku memerah.

Sebenarnya aku kenapa sih? Apa mungkin aku terkena serangan jantung? Alamak! Jantungan? Tak mungkin. Atau mungkin makananku kurang bergizi? Hm, kalau begitu, aku akan makan sayur sepulang sekolah!

Fang sedikit menarik tanganku. Lalu ia mulai berjalan. Aku mengikutinya. Ternyata ia membawaku ke meja di sudut ruangan. Tadi aku tidak memerhatikan meja itu. Habis, letaknya dibelakang sih. Aku melirik wajah Fang. Pipinya memerah. Hm? Mungkin dia juga kedinginan.

End of Ying's POV

Fang terus membawa Ying ke meja mereka. Iya, meja itu agak di sudut. Jadi Ying tidak menyadarinya. Di setiap kursi di meja itu ditempeli kertas warna yang bertuliskan nama mereka. Lalu Fang duduk di kursinya dan Ying duduk disebelahnya.

"Semuanya sudah berkelompok?" Tanya Bu Renny.

"Sudah! Jawab murid – murid serempak.

"Baiklah, percobaan kali ini tentang asam, basa, dan garam. Di depan kalian, ada tabung reaksi yang berisi zat-zat dan labelnya. Kita akan menguji zat-zat itu menggunakan indikator alami, yaitu ekstrak kubis ungu. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan apakah zat tersebut termasuk zat asam, basa, atau garam. Ada pertanyaan?"

Yaya dan BoboiBoy mengangkat tangannya.

"Silahkan Yaya."

"Apa obat ini harus dihancurkan dulu?" tanya Yaya sambil menunjukkan pil besar berwarna hijau.

"Iya. Hancurkan dengan menggunakan mortar. BoboiBoy?" Jawab Bu Renny sambil mempersilahkan BoboiBoy untuk bertanya.

"Apa detergen ini perlu dicairkan?"

"Iya. Tapi airnya jangan terlalu banyak. Dan jangan dikocok." Jawab Bu Renny.

Kami semua mengangguk tanda mengerti.

"Ada pertanyaan lagi?" Tanya Bu Renny.

Kami menggeleng. "Tidak, Bu."

"Baiklah, silahkan mulai percobaannya." Intruksi Bu Renny.

Semua kelompok mulai membagi tugas kepada para anggotanya. Termasuk kelompok 5 yang beranggotakan BoboiBoy, Yaya, Fang, Ying, dan Gopal.

"Baiklah, jadi kita harus berbagi tugas. Gopal, kau-"

"Tunggu, kenapa jadi kau yang mengatur?" Fang memotong ucapan BoboiBoy.

"Biarlah. Kan aku cocok menjadi leader?" elak BoboiBoy.

"Hm, cocok dari mana?"

"Ish kau ni!"

"Hey! Sudahlah. Buat apa bertengkar. Itu tidak baik." Yaya menengahi.

"Hm, baiklah Yaya. Aku minta maaf ya?" BoboiBoy menggaruk tengkuknya. Pipinya sedikit memerah.

Yaya tersenyum. "Iya, tidak apa-apa. Yasudah, biar aku saja yang membagi tugas. Aku, BoboiBoy, dan Gopal akan mengekstrak kubis ungu nya. Ying dan Fang, kalian siapkan zat yang akan kita uji coba. Bagaimana?"

Semua mengangguk. Mereka merasa ini cukup adil. Lalu mereka mulai bekerja. Gopal dan BoboiBoy menyiapkan peralatan untuk mengekstrak kubis ungu itu. Sementara itu, Yaya mencuci kubis ungu nya di wastafel di bagian belakang lab. Ying mengambil mortar dan obat maag. Saat hendak menghaluskan, Fang menggenggam tangannya.

"Biar aku saja. Kau larutkan saja detergen nya." Kata Fang cuek sambil masih menggenggam tangan Ying.

Ying terdiam beberapa saat. Pipinya bersemu merah dan ia melihat tangannya yang digenggam oleh Fang. Fang mengikuti arah pandangnya. Deg! Fang ikut bersemu merah. Ia ingin memindahkan tangannya, tapi tak bisa. Beberapa detik berselang. Dengan berat hati, Fang melepaskan tangannya. Ia memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merahnya.

"Tunggu apa lagi? Ayo cepat." Kata Fang.

Kata – katanya cukup menyadarkan Ying. "Ah! Iya. Maaf."

Ying lalu mengambil tabung reaksi yang berisi detergen dan berlari kecil ke wastafel. Fang mengamatinya tanpa sadar ia tersenyum.

"Ekhem."

Deheman itu menyadarkan Fang. Ia menoleh. Ternyata BoboiBoy dan Gopal memerhatikan dirinya.

"Kau suka Ying ya?" tanya Gopal dengan nada sedikit mengancam.

"Eh! Tidak. Aku cuma... Aku.. Itu..." Fang tidak bisa mengelak lagi. Ia memang mempunyai perasaan yang spesial untuk gadis berdarah Cina itu.

"Ha! Mengaku saja. Dari tadi kami memerhatikan loh." Kata BoboiBoy.

"Hn, kau juga suka Yaya 'kan? BoboiBoy?" Balas Fang sambil menekankan kata 'Yaya'.

Blush! Pipinya langsung berubah menjadi merah. "Ish! Diamlah. Nanti Yaya dengar!"

"Biarlah, jadi dia tahu perasaanmu." Kata Fang.

"Hah?! Teganya kau BoboiBoy. Kenapa kau tidak pernah cerita?!" tanya Gopal sedikit histeris.

"Ish! Kalian ini. Diam! Aku masih ingin merahasiakan ini dulu!"

"Merahasiakan apa?" terdengar suara Yaya. Ia datang bersama Ying.

"Ini Yaya, si BoboiBoy ini dia-hemph!" BoboiBoy langsung membekap mulut Fang.

"Oi BoboiBoy! Jangan lakukan itu! Nanti kalau dia mati bagaimana? Kau mau tanggung jawab ha?" Ying langsung marah melihat Fang dibekap seperti itu.

BoboiBoy dan Gopal yang menyadarinya hanya menahan tawa dan kembali ke tempat duduk mereka, menyiapkan peralatan. Yaya menghampiri BoboiBoy dan memberikannya kubis ungu yang sudah ia cuci. Lalu mereka mulai merebusnya. Sementara itu, Ying menghampiri Fang.

"Fang? Mana obat maag nya?" tanya Ying.

"Oh! Iya. Sebentar." Fang sampai lupa dengan obat maag nya. Ia lalu menumbuknya hingga halus dan memasukannya ke dalam salah satu tabung reaksi. Setelah itu, mereka memasukkan cuka, air garam, air jeruk, dan air tawar ke tabung reaksi yang berbeda. Fang dan Ying sudah mengerjakan tugas mereka. Mereka pun menunggu ekstrak kubis ungu yang belum siap. Sudah 10 menit mereka menunggu. Dan ekstraknya belum siap juga. Bosan, Fang pun memberanikan diri untuk mengajak Ying bicara.

"Uh... Ying?"

"Ya?" Ying berbalik dan memandangnya.

Deg! Fang tidak menyangka bahwa Ying akan menatap matanya. Topik pembicaraan yang sudah terkumpul di benaknya hilang sudah. Yang ada hanya kegugupan yang menjalarinya. Semburat merah tercipta di pipinya yang putih.

"Fang? Kau kenapa? Kau kedinginan ya?" Tanya Ying dengan polosnya.

"Ti-tidak kok. Tidak apa-apa. Tidak jadi." Jawab Fang dengan gugup.

Mereka kembali menunggu. Beberapa menit kemudian, air di gelas ukur menjadi berwarna ungu. Ekstrak kubisnya siap! BoboiBoy mematikan api di lampu spiritus, dan Gopal mengambil 3 pipet tetes untuk ekstraknya. Setelah itu, mereka langsung mengisi tabung reaksi yang berisi zat-zat yang akan diuji coba dengan ekstrak kubis ungu. Yaya dengan cepat mencatat hasilnya dan mengumpulkannya ke meja guru. Tak lama kemudian, semua kelompok ikut mengumpulkan hasil percobaan mereka.

"Nah, karena semua kelompok sudah mengumpulkan hasil percobaannya, kalian diperbolehkan untuk mencuci peralatan yang sudah kalian pakai." Kata Bu Renny.

Semua kelompok berjalan menuju wastafel dan mulai mencuci peralatan mereka. Ying dan Yaya mencuci tabung reaksi bersama. Dan Fang mencuci gelas ukur. Ia meninggalkannya di meja yang beralaskan lap di sebelah wastafel. Sambil memakai sarung tangan fingerless nya lagi, ia memerhatikan Ying. Saat Ying berjalan, tanpa sadar ia juga berjalan.

Sret! Ying terpeleset! Tanpa sadar,, Fang langsung berlari dan...

Hup!

.

.

.

.

Fang berhasil menangkap Ying.

Fang menangkap Ying, tepat di pinggangnya.


Huft, ini dia chapter 2 nya. Disini, aku sudah berhasil ngurangin A/N. Yey! Makasih buat semua ripiu nya! Sebuah ripiu sangat berarti buatku. :3

Last! Mind to RnR?