Previous.
Seokjin membuka matanya dan mendapati dirinya sedang duduk terikat di sebuah kursi. Ia mengedarkan padangannya ke seluruh sudut matanya, ruangan itu tampak seperti sebuah gudang.
Kotor. Pengap. Dan cukup gelap
Sampai akhirnya ia mendapati seseorang berbadan kekar berjalan angkuh menghampirinya.
"dimana aku?" tanya Seokjin sambil melemparkan tatapan tajam mata elangnya pada si pria itu.
.
우리의 결말 (Our ending)
CHAPTER II
Main cast :
Kim Seokjin
Kim Taehyung
Enjoy~
.
.
Yang ditanya hanya tertawa renyah mendengarnya. Ia mengangkat dagu Seokjin dengan kasar.
Cih!
Seokjin meludahinya wajahnya tanpa rasa takut. Si pria bertubuh besar itu tampak geram ketika wajahnya merasakan dinodai air liur Seokjin. Ia mengangkat lengannya dan kepalan tangannya meninju pipi Seokjin dengan sangat keras.
Membuat kepala itu menoleh seketika kepalan itu menghantam pipinya. Ujung bibir itu sedikit berdarah. Seokjin menyeringai setelah menerima pukulan itu.
"Kau bermain fisik eoh?" ia meludah lagi. Kali ini liurnya tercampur darah dari lukanya di sudut bibirnya.
Si pria itu semakin geram terbakar emosi. Ia mengangkat kepalan tangannya tinggi ke udara, hendak melayangkan sebuah pukulan. Namun gerakannya terhenti ketika sebuah suara lain menginterupsinya.
"berhentilah" titah orang itu seraya berjalan santai menghampiri Seokjin yang duduk terikat disana.
Seokjin segera mengalihkan pandangannya pada orang itu. Ia mengenal suara itu.
Dan matanya terbalak ketika ia melihat seorang pria muda mendekatinya.
Wajahnya tak asing baginya.
Dia
Anak dari konglomerat kaya itu.
.
Jung Hoseok.
Seokjin mendecih kesal sambil memandang jijik wajah angkuh Hoseok.
"sudah kukatakan aku akan melunasi hutangmu" ujar Seokjin sakratis.
Hoseok tertawa menyepelekannya.
"kapan, miskin?" sindir Hoseok.
"kau sendiri yang mengatakan aku miskin. Mana ada orang miskin bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam sekejap saja huh?" Seokjin tertawa renyah sambil menjelaskannya.
Hoseok berdecak sekali
"kau tak perlu melunasinya dengan uang" sarannya mantap sambil menyeringai.
Sepertinya ucapannya sedikit harus dicerna oleh Seokjin. Membuat Seokjin mengerutkan dahinya dan menatapnya seakan bertanya -apa yang kau katakan, brengsek?-
Seakan Hoseok bisa membaca pikiran Seokjin saat ini, ia menjawab
"berikan aku adikmu, Taehyung. Dan kuanggap hutangmu lunas. bagaimana?" tawarnya sambil menatap Seokjin dengan wajah ramah -palsu-nya.
Seokjin menatapnya tajam. Nafasnya menderu kencang karena sangat terbakar emosinya
"jadi kau ingin Taehyung?" tanyanya memastikan.
"Bahkan jika kau mengancam membunuhku, aku tetap tak akan memberikannya"
"oh.." Hoseokn menyeringai lagi.
Ia mengangkat jari telunjuknya lalu menggerakannya, membuat gerakan seperti memberi aba aba. Kemudian, si pria besar di belakangnya memberikan sebuah revolver.
Sial.
Dengan seringaiannya, ia menempelkan mulut revolver itu tepat di pelipis Seokjin.
Namun Seokjin tetap tak merubah ekspresi menantangnya. Tak ada rasa takut di tatapannya.
Ia masih menajamkan pandangannya pada Hoseok.
"tarik saja jika kau berani" tantangnya enteng
Hoseok terkesima sekarang melihat nyali si orang miskin ini yang begitu besar demi adiknya itu. Seberapa cintanya ia pada seorang Kim Taehyung?
Seperti yang kalian lihat di film, biasanya orang miskin seumuran Seokjin itu selalu brengsek, egois, dan lebih mementingkan uang. Namun kali ini Seokjin berbeda. Tak ada satupun yang berharga baginya, kecuali Taehyung.
Hoseok menarik kembali revolver itu dengan wajah sedih yang dibuatnya.
"kalau begitu.. baiklah" ujarnya pasrah. Hoseok menatap tangan kanannya dan mengisyaratkan padanya untuk melepas tali yang mengikat tawanannya itu.
Yang membuat si pria bawahannya kebingungan. Dengan terpaksa ia membukakan tali yang mengikatnya, dan sekarang Seokjin bebas.
Seokjin menarik kasar kerah kemeja elegan milik Hoseok dan menatapnya tajam.
"aku tahu ini salah satu rencanamu. Awas kau" Seokjin membanting kerah baju yang sedikit kusut karena cengkramannya yang begitu kuat.
Hoseok tersenyum mengejek
"arraseo.. pergilah"
Seokjin berlari sekencang kencangnya menuju apartemen sederhananya. Jantungnya berdebar kencang. Perasaannya dibalut dengan ketakutan yang menghantuinya.
Sesampainya ia di apartemennya, Seokjin mendorong pintu itu panik. Pintu itu tak terkunci.
Astaga. Taehyung tak menguncinya? Lupa? Ataukah.. Hoseok mendahuluinya dan membawanya pergi?
Rasa takutnya semakin membakar ketika Seokjin mengalihkan pandangannya ke seluruh sudut apartemen sederhana itu. Ia tak mendapati Taehyung disana. Seokjin kelabakan ia mencari sosok lelaki yang sangat ia cintai itu.
"hyung kau kenapa?" Taehyung bertanya lembut. Ia menggisik matanya sambil menguap lucu dan lugu.
Grep!
Tanpa bicara ini itu Seokjin menariknya dalam pelukan. Pelukannya sangat erat seakan tak ingin melepasnya. Syukurlah Taehyung masih ada disini
"dari mana kau?" Seokjin bertanya gemetar takut.
"a-aku tertidur di dapur karena menunggumu.." Taehyung menatapnya lembut dan matanya terbalak sempurna mendapati wajah Seokjin yang babak belur dihadapannya.
"k-kau kenapa hyung?" tanya Taehyung khawatir. Ia berusaha menyentuh luka itu dengan hati hati. Seokjin mendesis karena luka yang Taehyung sentuh itu sangat terasa ngilu.
"Tadi aku berkelahi dengan.. seorang pencopet" jawabnya berbohong.
Tak ingin rasanya ia mengatakan yang sebenarnya. Taehyung bisa ketakutan jika ia mengetahui yang sesungguhnya.
"mwo? Astaga biar kuobati hyung"
.
3 hari berlalu.
Tak terjadi apapun pada Taehyung setelah Hoseok mengancam akan membawa Taehyung pergi.
Tapi Seokjin belum bisa bernafas lega. Ia yakin seribu yakin ini adalah salah satu rencana jahat Hoseok untuk merampas Seokjin darinya.
Seokjin yakin Hoseok berambisi membawa Taehyung pergi.
Tetapi, Ia gunakan kesempatan emas ini untuk bekerja lebih keras untuk membayar semua hutang hutangnya pada Hoseok.
Sebelum pergi bekerja, Seokjin selalu berpesan pada Taehyung untuk cepat pulang kerumah dan mengunci rumahnya. Ia tak boleh pergi kemanapun sampai Seokjin pulang bekerja.
Di suatu siang yang cerah, terik matahari benar benar membakar kulit putih seorang namja yang tengah berjalan melawan terik panas itu.
Taehyung berjalan dengan lunglai sepulang sekolahnya. Bibirnya mengerucut sambil mencibir karena melihat dompet kosongnya.
"kenapa tadi malah kubelikan yang tidak penting" keluhnya pada diri sendiri.
Uangnya habis terpakai untuk dibelikan sebuah komik favoritnya yang mengeluarkan edisi terbaru.
Taehyung terus merutuki kebodohannya sambil berjalan gontai.
Hingga pada suatu waktu.
Tin!
Mobil itu hampir menabraknya.
Terlalu syok, tubuhnya terhempas jatuh ke jalanan aspal itu padahalmobil itu sama sekali tak menyentuhnya.
Wajahnya pucat seketika. Ingin rasanya ia memaki siapa orang yang hampir menabraknya tadi.
Seorang namja, yang dipastikan adalah pemilik mobil itu dengan panik turun dari mobil mewahnya dan berlari menghampiri Taehyung yangterduduk di jalan sambil membersihkan sikutnya.
"kau tak apa?" tanyanya.
Sedetik kemudian ekspresinya berubah ketika menatap wajah Taehyung yang kesakitan.
Taehyung berusaha bangkit dari sana sambil membersihkan celana bagian belakangnya yang kotor karena debu jalanan aspal itu.
"gwenchana.." ucapnya dengan senyuman singkat seraya berjalan menjauhi lelaki itu.
Namun lelaki itu dengan cepat menahan lengannya,.membuat namja manis itu berhenti
"biar kuantar pulang, sebagai permintaan maafku" ajaknya lembut.
Seokjin berjalan lesu menuju pintu apartemennya, mungkin karena terlalu lelah karena, wajar saja, hari itu ia mengambil jam kerja 2 kali lipat dari biasanya.
Ia meraih pegangan pintu itu dan menggerakannya
"terkunci? Ah iya.. aku memang menyuruh Taehyung selalu menguncinya" kekeh Seokjin lalu mengambil kunci itu dari saku celananya.
"aku pulang"
Seokjin menghempaskan dirinya di sofa sambil merentangkan kedua lengannya. Ia memejamkan kedua matanya lelah. Dan mengistirahatkan mata itu dengan nyaman.
Tak ada sahutan dari Taehyung, ia kembali membuka matanya.
"Taehyung?" panggilnya. Seokjin langsung menegakkan posisi duduknya dan mengedarkan pandangannya.
"Baby?" panggilnya sekali lagi.
Taehyung, kekasihnya, masih tak menyahut. Membuat Seokjin bangkit dari sana dan mulai mencari Taehyungnya.
Beberapa waktu kemudian ia tak mendapati Taehyung disana.
Membuatnya sedikit panik.
"Taehyung!" panggilnya lagi. Dilihatnya jam dinding yang menempel di dinding coklat tua disana, waktu menunjukan pukul 11 malam.
Kemana adiknya itu? Astaga.
Seokjin segera berlari keluar. Jantungnya mulai berdebar kencang, wajahnya panik dan tegang. Ia berlari tanpa arah untuk mencari Taehyungnya yang hilang.
Taehyung perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju pada sebuah langit langit sebuah ruangan dengan ukiran elegan ala rumah eropa disana.
"indah.." gumamnya.
Taehyung mengangkat tubuhnya perlahan.
"akh!" Ia memekik kesakitan sambil mencengkram kepalanya erat.
"kau masih belum pulih.. jangan banyak bergerak sayang" suara berat itu menginterupsinya yang sibuk dengan rasa sakit di kepalanya itu.
"k-kau siapa?" Taehyung bertanya dengan ragu sambil menggigit bibir bawahnya.
"mwo? Kau tak mengenaliku? Aku kan suamimu baby. Jung Hoseok"
Ternyata
Hoseok yang membawanya. Ia merampasnya dari Seokjin. Padahal di waktu yang sama, Seokjin sekarang sedang tertidur di depan sebuah toko. Ia kelelahan mencari adik sepupunya yang menghilang.
Memang.
Awalnya ia langsung mencurigai Hoseok. Ia pergi mendatangi rumah yang dulu Hoseok tempati.
Namun, rumah itu kosong. Hoseok kabur entah kemana. Seokjin kehilangan jejaknya. Membuat Seokjin mulai merasa frustasi.
Ia frustasi sejadi jadinya karena Taehyung, satu satunya yang ia miliki dirampas oleh seorang konglomerat bernama Hoseok itu.
.
"istrimu?" Taehyung mengerenyitkan dahinya dan menatap ragu padanya.
Hoseok tersenyum teduh ia mencoba membelai surai lembut Taehyung perlahan.
"ne chagi.. kita sudah menikah setahun yang lalu. Kau kecelakaan dan kau mengalami amnesia" Hoseok tersenyum pedih yang dibuat buat.
Taehyung semakin bingung dibuatnya. Menggigit bibirnya dan berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Namun itu malah membuat kepalanya terasa sakit. Sakit yang luar biasa. Seperti mau pecah!
Hoseok menenangkannya dengan tersenyum lembut.
"baby.. please.. jangan memperburuk kondisimu"
Apa maksud namja licik itu tadi? Kecelakaan.
Taehyung itu hampir kecelakaan karena 2 hari yang lalu kebetulan mobil Hoseok yang hampir menabraknya.
Setelah itu Taehyung dirayu dan ia bawa pulang kerumahnya.
Dan Taehyung..
Dicuci otak.
Laknat! Hoseok sengaja mencuci otak Taehyung dan menghilangkan semua memori memorinya. Taehyung tak ingat apapun sekarang. Ia seperti terlahir kembali tanpa satu kenanganpun di dalam memorinya.
Hoseok benar benar merasa puas atas perbuatannya.
Bahkan sekarang ia mengaku sebagai suami Taehyung.
Ia mengaku bahwa mereka sudah mengucapkan janji suci mereka setahun yang lalu.
1 tahun sudah Taehyung mengilang dari kehidupan Seokjin.
1 Tahun sudah Seokjin merasakan pedih yang mendalam. Ia semakin stres.
Seokjin tak pernah pulang. Ia tak peduli apakah apartemen beserta perabotannya sudah dirampas oleh yang berwenang. Seokjin tak peduli! Itu semua tak pernah ia bayangkan dalam pikirannya.
Pikirannya hanya terfokus pada sesuatu, seseorang lebih tepatnya.
Sedangkan Taehyung? Tak ingat apapun mengenai Seokjin.
Ia memiliki Hoseok sekarang. Suaminya.
Tubuhnya selalu dicumbu Hoseok.
Bahkan kau tahu? Ia dibuat hamil oleh Hoseok.
Kasihan Seokjin.
Flashback
"hyung~ saranghae.. aku mengingat kasih sayang yang kau berikan padaku" bisiknya di telinga Seokjin
Seokjin tersenyum bahagia mendengarnya. Ia menyatukan kedua bibir mereka sebagai balasan kalau ia juga sangat mencintai Taehyung. Taehyung tersenyum dalam ciuman lembut itu. Ia mengalungkan lengannya pada leher kekar itu, mengelus rambut hitam Seokjin dengan sayang.
Sudah cukup lama, mereka melepaskan tautan itu.
Hidung mereka saling menempel. Tatapan mereka bertemu.
"berjanjilah kau akan menjadi istriku dan hidup bahagia bersamaku" ujar Seokjin lembut.
Taehyung tersenyum tulus ia mengangguk mantap kemudian sedikit berjinjit untuk mengecup kening calon suaminya itu.
"yaksok~"
Now.
Mana janji itu? Janji itu sirna.
Hanya tinggal kenangan.
Taehyung telah menjadi milik orang lain. Bukan miliknya.
Seokjin menangis frustasi setiap kali suara lembut Taehyung tergiang di kepalanya. Menangis saat Taehyung tersenyum lembut untuknya.
"ahjumma.. maaf.. aku gagal menjaganya"
.
Suatu malam.
Kegiatan Seokjin masih sama, berjalan tanpa tujuan. Pandangannya begitu, kosong.
Namun kemudian..
Ia membalakan sempurna kedua matanya melihat seseorang yang melintas di hadapannya. Ia berlari mengejar namja itu
"Taehyung!" panggilnya.
Taehyung menengokkan kepalanya dan menatap siapa yang memanggilnya. Ia ketakutan melihat orang asing itu menarik lengannya dan memeluknya. Namja itu tersenyum bahagia.
Happy ending finally has come.
"s-siapa kau?" tanyanya ketakutan. Ia melangkah mundur sambil menatap Seokjin waswas.
"Aku.. Seokjin hyung.." Seokjin menjawab tak percaya.
Kenapa ini? Kenapa Taehyung tak mengenalnya?
Seokjin gemetaran dan melangkah maju untuk menggapai Taehyung tapi Taehyung menepis.
Ia langsung memegangi perut besarnya dan menatapnya takut.
Seokjin tak percaya ini semua. Apa lagi ia melihat perut yang dulu datar sekarang membesar.
Taehyung hamil.
"kau.. hamil anak siapa Taehyung?" Tanyanya ragu.
"Ini anak Hoseok. Kau siapa? Aku tak mengenalmu. Kau mau uang? Akan kuberi asal kau menjauh dariku"
Tes.
Air mata itu jatuh membasahi pipi tirus itu.
1 tahun sudah ia menantinya. 1 tahun sudah ia rela menjadi gelandangan.
1 tahun sudah ia mencarinya.
Ini akhir yang pedih setelah mengetahui Taehyungnya hamil, dengan Hoseok sebagai suaminya.
Ingin mati saja rasanya.
Seokjin terdiam. Hatinya sakit dan pedih seperti teriris.
Ia menatap Taehyung dalam sambil meneteskan air matanya lagi
"tidakkah kau mengingatku?"
Setelah pertemuan itu, Seokjin semakin tak punya tujuan hidup.
Hatinya sakit.
Ini lebih dari sekedar keterlaluan.
Sungguh.
"tadi aku bertemu seseorang. Ia seperti gelandangan hyung. Aku takut!" Taehyung mengerucutkan bibirnya sebal karena Hoseok terlambat menjemputnya.
"mwo? Kau tidak apa apa kan sayang?"
Taehyung mengangguk lemah sebagai jawaban dengan bibir yang masih ditekuk.
"syukurlah kalau tidak apa apa" Hoseok bernafas lega mendengarnya.
Dan
Disinilah Seokjin berada. Bersandar lemah pada sebuah bangku taman. Sendirian. Hanya ditemani angin malam yang dingin. Mengharapkan Taehyung duduk di sampingnya kemudian menyenandungkan sebuah lagu dengan suara lembutnya.
Kondisinya sedang sekarat sekarang. Tentu saja. Dia sengaja memasukan cairan racun kedalam minuman kaleng miliknya, sebelum ia meneguknya. Ia menatap langit malam yang kosong sambil tersenyum.
Ia sesekali berdoa mendoakan Taehyung yang sudah melupakannya agar mengingatnya kembali
Namun harapan itu hilang. Ia bahkan tak yakin umurnya akan cukup untuk melihatnya bahagia.
Tapi sepertinya Taehyung bahagia dengan Hoseok. Hoseok bisa menghidupinya dengan uang. Sedangkan ia? Memberi makanan enak saja sepertinya tak bisa.
Mungkin ini takdirnya. Takdir dan akhir yang menyedihkan.
Dan disanalah Seokjin menghembuskan napas terakhirnya. Ia memanggil nama Taehyung sebelum pergi. Kemudian tubuhnya tak bergerak lagi.
Seokjin telah mati sekarang dalam kesendirian dan keterpurukannya.
Memang. Harapannya pupus.
Taehyung hanya tinggal kenangan indah.
Namun, harus kita ketahui bahwa cintanya untuk Taehyung tak pernah pupus.
Ia tetap memilikinya, walau Taehyung sekarang telah memiliki seseorang yang lain.
END
a/n: Annyeong kembali (?) yeorobun~ ini update-anya spesial untuk reader tersayang :*
tau kok ga sedih kayanya :"" maafin~ soalnya otak aku pengen nulis ff tapi tugas menahanku TT.. ya intinya ini jleb sih~ endingnya jin malang :'
yang chap awal emang belom masuk konflik '-'v
reviewnya jangan lupa ^^b
gomawooo~
