Shinobi New Life
.
.
Disclaimer:
Naruto by Masashi Kishimoto
Shinobi New Life by Narita Putri
Rate : T
Pairing : SasuSaku
Warning : Canon/semi canon (I Try My Best), OOC (Maybe), Typo(s), etc.
DON'T LIKE DON'T READ! NO BASH! NO PLAGIAT!
.
.
.
This Fic is Dedicated for the Big Fan of SasuSaku
Enjoy~~~
'Kau pasti tahu, 'kan? Dulu aku dibenci penduduk desa karena kyubi dalam diriku. Dulu aku membenci penduduk desa, aku juga berniat balas dendam. Kalau salah langkah mungkin aku akan seperti dirimu. Kupikir aku tak punya ikatan dengan siapapun, sampai aku bertemu denganmu serta guru Iruka.'
'Dulu aku ingin sepertimu, akhirnya aku punya ikatan, kita juga menjalankan misi sebagai kelompok 7. Aku terus mengejarmu karena ingin menjadi sekuat dan sekeren dirimu. Aku bersyukur bertemu denganmu.'
'Aku peduli denganmu KARENA KITA TEMAN.'
(Kata-kata Naruto yang sangat merasuki relung hati gelap Sasuke)
.
.
.
-Training Field-
"Kau pasti bercanda," geram Sasuke emosi. Aura hitam membunuh menguar disekeliling tubuhnya, membuat Naruto bergedik ngeri.
Sasuke dan Naruto saat ini hanya berdua di Training Field-tempat berlatih tim 7 saat genin dulu-. Mereka janji berlatih hari ini. Namun akhir dari latihan, setelah Naruto mengucapkan permohonannya yang tak masuk akal, membuat bungsu Uchiha ini jengkel setengah mati.
Oh... Ayolah! Kau juga akan sangat kesal jika kau tahu itu.
"Ayolah, teme. Ya... ya," rengek Naruto dengan puppy eyes no jutsunya yang gagal, membuat sasuke merasa mual seketika.
"Aku bilang tidak, tetap tidak," tegas Sasuke. Ia tidak akan mau melakukannya. Bisa-bisa arwah ayahnya dan seluruh Klan Uchiha tidak tenang di alamnya jika Sasuke menerima permohonan Naruto.
Sangat ketidak-Uchiha-an!
"Kau itu 'kan sahabatku teme. Seharusnya kau menolongku. Apa kau tega melihatku menderita jika rencana ini gagal? Ini demi masa depanku, teme. Ayolah..."
Sasuke menghela napas panjang dan berat. Ia sangat kesal melihat tingkah Naruto dan segala ocehannya. Dari betapa kejamnya ia menelantarkan Naruto dulu (-memangnya aku orangtuamu- sungut Sasuke dalam hati). Sampai betapa Sasuke sangat menyianyiakan Naruto padahal Naruto sahabat dan keluarga Sasuke satu-satunya saat ini (-kau bukan keluargaku, Uchiha itu cool dan pendiam, tidak seperti kau- dengus Sasuke).
Tapi malang tak dapat ditolak oleh bungsu Uchiha ini. Kini Sasuke berjalan gontai menuju rumahnya setelah perdebatan yang alot tadi. Memang pada dasarnya ia tak pandai berdebat, jadilah ia menolong Naruto. Yah, sekali-kali menolong sahabat.
Sasuke menyeringai ketika mengingat wajah bodoh dan bersemu Naruto ketika membeberkan rencananya. Dasar baka dobe. Seharusnya biasa-biasa saja. Tapi, jika biasa, bukan Naruto namanya.
"Nah, apa yang harus kulakukan untuk meminimalisir keadaan memalukan itu nanti?" ucap Sasuke datar.
.
.
.
Susana Desa Konoha dipusat kota hari ini sangat ramai. Toko dan aneka jajanan khas Desa Konoha berjejer rapi disetiap pinggir jalan. Hari ini yang pada dasarnya panas -sebagian warga enggan keluar- menjadi sangat ramai ketika semua orang mengerubungi sesuatu membentuk pola melingkar melihat drama live tersuguh didepan mata mereka.
Disana berdiri Naruto dengan berpakaian layaknya samurai zaman edo –lengkap wig pirang panjang diikat kuda tinggi- menggigit setangkai mawar merah darah dan berdiri dihadapan tiga gadis cantik.
Hinata, Sakura, dan Ino yang baru saja dari gedung Hokage memutuskan berjalan pulang dengan menyusuri keramaian pasar. Namun mereka terbelalak kaget saat melihat Naruto dengan pakaian dan pose anehnya mencegat mereka di tengah pasar. Semua orang langsung tertarik dan mengerubungi mereka menantikan adegan drama teleshinobi tersaji langsung tanpa sensor di hadapan mereka.
"Naruto, apa-apaan kau ini," hardik Sakura emosi. Naruto yang dibentak Sakura hanya nyengir-nyengir gaje.
"Tenang Sakura-chan. Hari ini hari bersejarahku. Aku tidak akan membuat keributan, tenang saja. Nah..."
Plok Plok Plok
suara tepukan tangan Naruto dengan pose dua tangan diatas bertepuk dan mengedipkan mata cutenya pada Hinata –membuatnya merona merah- berteriak lantang.
"SASUKE..."
Entah darimana sekejab muncul Sasuke lengkap dengan spanduk jumbo didua tangannya.
'Baka Dobe,' rutuk Sasuke dalam hati. Dia sangat kesal saat ini. Mengapa si baka dobe memanggil namanya. Cukup bertepuk tangan saja Sasuke akan muncul kok seperti perjanjian mereka sebelumnya.
Percuma dong hari ini Sasuke rela mengganti pakaiannya yang sekseh seperti biasanya dengan pakaian shinobi biasa lengkap dengan topeng, jika sekarang semua orang tahu itu dia. Wajah Sasuke dibalik topeng mengerut geram.
Jadi, ini toh rencana meminimalisir keadaanmemalukan ya Sa-Su-Ke CkCkCk
"Sasuke?," tanya Sakura heran. "Kau benar-benar Sasuke-kun? Ya, ampun." Sakura terkejut bukan main. Untuk apa seorang Uchiha bawa-bawa spanduk besar ditengah pasar? Apalagi Sasuke yang gengsinya selangit ini.
"Hn," dehem Sasuke pura-pura cuek. Padahal dalam hati ia sangat malu sampai pipi pucatnya merona merah bergaris-garis tipis. "Sudah, sudah. Nah, Sasuke buka dong spanduknya. Dan angkat tinggi-tinggi ya...," kata Naruto tak tahu malu.
Dengan setengah hati Sasuke melakukannya. Harga diri Uchihanya seakan turun tertimpa ekor kyuubi Naruto. Dalam hati Sasuke bersumpah akan memberi Naruto pelajaran. Mungkin jadi kyuubi panggang gosong dengan jutsu kirin boleh juga. Khu khu khu!
Setelah Sasuke membuka lebar-lebar spanduk besar dengan kedua tangannya dan diangkat tinggi-tinggi, terpampanglah tulisan cakar ayam hasil usaha keras Naruto selama seminggu HINATA-CHAN MENIKAHLAH DENGANKU. AKU MENCINTAIMU. ~NARUTO GANTENG~
"Cih, ganteng. Dasar tak sadar rupa," ejek Sasuke kejam.
"Jadi, Hinata-chan." Naruto berkata sambil memegang toa –entah darimana didapatkannya- dengan suara super duper ultrasonik, membuat siapa saja dapat mendengarnya. Bahkan kuchiyose-kuchiyose para shinobi terpeleset gaje saat akan bertarung ckckck
Naruto berjalan mendekati Hinata dan berlutut dihadapannya. Sedangkan Hinata wajahnya sangat merah padam dan berdebar-debar. Hinata yakin ia sebentar lagi akan pingsan. Tahan Hinata...
"Lama," dengus Sasuke masam. Ia jengah, kenapa Naruto lama sekali, bukan langsung ke intinya saja. Dan sejak kapan orang yang melamar yang seharusnya merekalah yang harus memegang spanduk, menjadi bagian tugas orang lain yang tidak ada sangkut pautnya?
Lagi-lagi ide gila baka dobe. 'Kau itu gimana sih teme. Aku 'kan harus menggigit mawar dan memegang toa. Bagaimana aku bisa memegang spanduk yang besar gitu. Kau niat nolong tidak sih?.'
"Dasar! Dia yang minta tolong, aku yang dimarahi," rutuk Sasuke dan meremas kasar spanduk. Kalau bisa ia ingin cepat-cepat pergi dari sini.
Naruto meraih tangan Hinata. Wajah Hinata semakin merah padam. Ia sangat berdebar-debar. Apakah ia harus percaya dengan apa yang dilihatnya? Apakah Naruto akhirnya membalas peraasaannya? Tapi mengapa langsung melamar?
"Hinata, menikahlah denganku. Aku sangat mencintaimu. Mulai sekarang kaulah satu-satunya gadis dalam hidupku. Aku akan membahagiakanmu semampu yang kubisa. Maukah kau melahirkan anak-anakku?," tanya Naruto serius dan to the point. Yah, Naruto memang tidak jauh dari hal-hal mesum.
"Wah, Hinata kau dilamar tuh," sela Ino jail. "Diam dong pig, biarkan Hinata bicara," kata Sakura sebal. "Iya, iya forehead..."
Naruto merasa heran Hinata diam saja. Dia mendekatkan wajahnya pada Hinata. "Hinata-chan kenapa?," tanya Naruto heran dengan posisi wajahnya sangat dekat dengan wajah Hinata.
"A-aku..." Hinata tergagap dengan wajah merah padam, ketika wajah Naruto hanya beberapa centi saja dari wajahnya.
BLUGH
Hinata pingsan. "Heek..." Naruto dan semuanya sweatdrop.
"Hei, hei, Hinata-chan bangun dong. Kau 'kan belum menjawab lamaranku. Teme gimana nih," rengek Naruto frustasi. "Tidak tahu," jawab Sasuke cuek. Dan melepaskan spanduk yang membuat neraka bagi kedua tangannya.
"NA~RU~TO~," geram Sakura murka. "eh, eh Sakura-chan?," seru Naruto kaget.
"Apa yang kau lakukan pada Hinata, hah!? SHANNAROO."
BRUAGH
Semua orang yang ada disekitar mereka menutup mata ngeri. Naruto terhempas sejauh 50 meter dari posisi semula dengan posisi tidak elit sama sekali. Tersungkur dengan wajah rata mencium tanah dan dengan pantat yang menungging. Sungguh kondisi yang mengenaskan. Wignya terlepas entah kemana.
"Loh, Naruto?," tanya seseorang. Didekat Naruto berdiri segerombolan rookie 11 yang entah bagaimana bisa berkumpul bersama.
"Kau kenapa Naruto? Kau lebih suka mencium tanah daripada wanita, ya?," tanya Sai dengan senyum menyebalkannya seperti biasanya.
"Aku masih suka mencium wanita kok, ini gara-gara Sakura-chan, tahu," jawab naruto sengau sambil memegang pipinya yang bengkak dan berdenyut sakit. "Sakura? Kau habis memperlihatkan jurus mesummu lagi, ya? Dasar tidak kapok kau ini," kata Kiba heran.
Naruto sebal atas perkataan Kiba. "Bukan, kok. Aku tadi melamar Hinata-chan, eh dia pingsan dan aku kena shannaronya Sakura-chan," kata Naruto mayun.
Rookie 11 tertawa terbahak-bahak. "Sakura memang punya tenaga monster warisan Hokage kelima, sih," celutuk Kiba lagi. Dan mereka terus tertawa.
"Siapa yang kalian bilang monster, hah?." Sebuah suara menginterupsi mereka dari belakang. Hawa disekeliling mereka berubah mencekam dan membuat mereka bergedik ngeri.
"Ja, Naruto. Berusaha, ya," kata rookie 11 buru-buru ngacir daripada dihantam monster. Upps
"Hei, kalian!," teriak Sakura emosi. Sakura sangat sebal pada teman-teman jouninnya itu. Lalu Sakura mendelik tidak suka pada Naruto dan kemudian menghela napas panjang guna meredam kekesalannya. "Hinata ada dirumah sakit. Kurasa dia hanya syok. Kau pergilah menjenguknya."
Naruto menatap Sakura berbinar-binar dengan mata besar biru yang hampir menangis , bibirnya dibuat semayun mungkin. Bermaksud membuat secute mungkin gitu. (Namun sayang sekali, dibenak Sakura yang cute cuma Sasuke seorang kok khe khe khe)
Namun Sakura hanya menatapnya seakan Naruto orang gila. Poor Naruto...
TO BE CONTINUE
Tenang tenang... sasusaku moment na next chap. Ini pembukaan dengan berkumpulnya para pemuda pemudi ninja desa konoha^^
Tetap dinanti review na, minna^^
Thanks all to review^^ chap depan saia bakalan balas satu-satu.
REVIEW, PLEASE!
Aceh, Juni 2014.
