Segores luka menganga di kedua lutut itu bukanlah masalah. Warna merah yang mengalir bersama itu pun tak membuatnya menangis kesakitan. Bekas tangan yang terpampang diwajah juga bukanlah apa-apa. Namun, yang mampu membuat seseorang tertunduk dalam, meringis tertahan, dan menangis dalam diam, adalah sesuatu yang tergores dalam jiwa.
.
.
.
FAN FICTION
DISCLAIMER :
MASASHI KISHIMOTO
AUTHOR :
SILENTPARK VINDYRA
-SALLY AND SEPHIA-
DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO, JUST ENJOY IT.
HAPPY READING~
SONG 2:
SEPHIA
.
.
.
.
.
.
"Dasar wanita jalang!"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema dalam gang kosong itu, sebagai sanksi bagi seseorang yang tak sepenuhnya berdosa, sebagai saksi separuh bisu betapa kejinya hidup saat ini.
"Wanita sepertimu harusnya mati saja!"
"Ya! Orang sepertimu selayaknya dimusnahkan sejak dulu!"
Suara tawa pun turut memeriahkan "acara" itu, saat seorang wanita hanya bisa bersimpuh lemah tak berdaya dihadapan mereka seraya menahan rasa sakit luar dalam di keheningannya.
Satu langkah maju yang angkuh dari wanita berwajah "busuk" yang tertawa paling keras, yang selanjutnya diiringi dengan kalimat sambil menjambak rambut wanita malang tersebut, "tapi aku salut dengan muka badakmu itu. Kau masih berani menginjakkan kaki kesini dan bekerja layaknya karyawati biasa yang sok suci setelah apa yang kau lakukan, benar-benar membuatku takjub."
"Kau memujinya? Memangnya ia pantas dipuji?" sahut seorang lagi yang kembali diiringi gelak tawa.
Tawa pun berhenti. "Acara" itu pun ditutup dengan mereka yang membuang botol bekas minuman dengan tatapan jijik pada wanita yang masih tertunduk lemas itu.
"Bye, sampah!"
Kata-kata itu menjadi kalimat penutup hari ini, seraya mereka melenggang santai meninggalkan "mangsa" yang sedari tadi tak melawan.
Dengan menahan rasa sakit di kedua lututnya akibat jatuh didorong oleh para karyawati tadi, ia berusaha bangkit untuk berjalan pulang ke rumah. Susah payah, akhirnya ia bisa berdiri dan berjalan meski tertatih.
Semua mata tertuju padanya. Ada yang menertawakan, ada pula yang iba. Namun tak ada yang menolong, karena walau iba, masih terselip dihati mereka bahwa ia memang pantas menerima perlakuan tersebut.
Sampailah ia dirumah. Rumah, satu-satunya tempat yang membuatnya merasa aman dan nyaman. Satu-satunya tempat yang mampu menyadarkannya bahwa ia masih harus terus hidup. Wanita berambut indigo itu membuka pintu dengan lemah, sambil tersenyum seraya berkata, "tadaima."
Masih dengan langkah yang gontai, ia melangkah masuk kedalam. Alih-alih mengobati luka-lukanya, ia malah menuju ruang tamu, mengambil sebuah kaset tape, dan memutarkannya pada 'Hikari', radio kesayangannya. Beberapa detik kemudian, sebuah alunan lagu sederhana namun bermakna terdengar begitu lirih.
"Oh Sephia... malam ini ku takkan datang... kucoba 'tuk berpaling sayang... dari cintamu..."
Seketika senyum mengembang dari wajah pucat gadis bermata lavender itu. 'Selamat sore, Hikari. Selamat sore, laguku,' batinnya seraya duduk disamping radio kesayangannya itu dan mengelus penuh sayang.
Dengan khusyuk ia mendengarkan lirik demi lirik yang terlantun, seraya menatap kosong pada lantai ruang tamu. Tanpa disadari, butiran bening itu jatuh bak air terjun dari matanya lagi. Sakit, luka itu menganga lagi. Bukan, bukan luka-luka yang ia dapatkan hari ini, melainkan luka yang sudah bertahun-tahun menetap dalam hatinya. Ia harap luka itu mengering dan dapat menjadi 'bekas luka', namun nyatanya, luka itu tak pernah mengering. Malah semakin terbuka, basah, semakin dalam. Membuat dada kian sesak menahan emosi yang semakin menggelegak.
Wanita itu menutup matanya, saat memori pahit itu seenaknya datang kembali.
.
Terpancar rasa cinta luar biasa dari kedua mata insan yang tengah memadu cinta diatas ranjang itu. Lenguhan dan desahan panjang turut mengatakan bahwa mereka memang saling mencintai. Namun, tak pernah disangka bahwa ini akan menjadi yang terakhir kalinya bagi mereka.
Beberapa menit, mereka hanya saling memandang setelah melakukan itu. Saling melempar senyum kepuasan, dan beberapa kali berbisik mengatakan, "I love you."
Namun, sekali lagi, ini akan jadi yang terakhir bagi mereka.
"Hinata..." panggil pria disamping wanita yang bernama "Hinata" itu.
Hinata menoleh dengan manis, seraya senyum itu masih terpatri dengan anggun diwajah cantiknya, "Ya, Naruto-kun?"
Pria yang dipanggil "Naruto" itu terdiam, seraya mengusap rambut Hinata penuh sayang. Pancaran yang sama masih ada dalam mata itu. Cinta. Namun, terselip sebuah rasa yang sepertinya sulit diungkapkan oleh pria berumur tiga puluh itu. Ada kesedihan yang berusaha disembunyikan, namun terpancar dengan jelas meski terselubung.
Hinata pun bangkit, membelai kedua wajah Naruto dengan penuh sayang, "Ada apa, Naruto-kun? Kenapa tiba-tiba kamu sedih? Apa ada masalah?"
Sial. Naruto sempat lupa kalau wanita dihadapannya ini begitu peka.
Sambil menghela nafas panjang berkali-kali, Naruto pun bangkit dari posisi tidurnya, mengelus bibir ranum itu lalu berkata dengan tercekat, "Hinata... sebaiknya, kita... akhiri ini."
Bak sebuah samurai menembus jantung, kata-kata itu membuat nafas Hinata terhenti beberapa detik.
Namun senyuman itu masih ada, menganggap kata-kata pria dihadapannya hanya sebuah lelucon, "Naruto-kun... kau masih saja bisa melucu. Kau memang yang terbaik, Naruto-kun."
"Tidak, Hinata. Aku—" suara Naruto kembali tercekat. Ia menelan ludah dengan susah payah seakan menelan sebuah bongkahan batu, "—Kita tidak bisa seperti ini terus."
Hinata masih berusaha berfikir positif, walau sebenarnya perasaannya sudah tak karuan. Ia menggenggam erat tangan Naruto agar gemetar tubuhnya tak terlihat.
"Maksudmu "Tidak bisa seperti ini terus"? Apa kau berniat untuk menikahiku, Naruto-kun?"
Tangis dari pria itu pun akhirnya pecah. Ia ikut menggenggam tangan wanita dihadapannya seraya menunduk dalam.
"Maaf... aku memang berniat untuk menikahimu... aku sangat ingin bersamamu karena aku begitu mencintaimu... melebihi cintaku pada istriku... tapi—"
Air mata itu pun jatuh. Kini mata lavender yang indah itu meredup seraya butiran bening itu meluncur deras. Namun anehnya, senyum itu masih ada.
"Tapi kenapa, Naruto-kun...? Apa kamu beralih cinta pada gadis lain?"
"TIDAK!" teriak Naruto penuh emosi. Tidak! Ia mencintai Hinata. Ia mencintai wanita yang sudah hampir empat tahun ini rela hanya mendapat posisi sebagai kekasih gelapnya. Ia ingin mengganti posisi itu menjadi pendampingnya setiap hari. Tapi...
"Hinata—" suara Naruto kini terdengar begitu lirih, "—Istriku sedang mengandung anak kedua kami."
Bibir itu mulai ikut gemetar, namun senyum itu sama sekali tak memudar.
"Kalau begitu, selamat! Akhirnya kau memenuhi keinginan Boruto-kun untuk punya adik, 'kan? Sayang, bukan dari rahimku—"
"Istriku sudah mengetahui semuanya," Naruto melanjutkan perkataannya, membuat Hinata semakin bergetar hebat.
"Istriku sudah mengetahui semuanya. Tapi, kau tahu? Reaksinya sama sepertimu. Ia menangis, dan aku tahu dia benar-benar marah dan kecewa, tapi dia tetap tersenyum. Ia hanya mengatakan, "tidak apa-apa. Mungkin suamiku hanya sedang bosan." Ia bersabar. Bersabar..."
Tangisan Naruto semakin hebat. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Namun, ia tetap harus memutuskan dan tidak boleh ada keragu-raguan lagi.
"Karena itu, setidaknya aku ingin membuat senyum itu tetap menghiasi wajahnya. Aku... tidak bisa membuatnya kecewa lebih dari ini. Aku ingin mendampinginya sebagai suami dan Ayah yang baik. Hinata, aku—aku mencintaimu. Tapi, kita harus berpisah. Hinata, usianya baru 24 tahun. Masa depanmu masih panjang. Kau tidak boleh terjebak bersama pria brengsek yang menjatuhkan dua wanita sekaligus ini!"
Naruto memeluk Hinata erat, mengeluarkan segala tangisnya. Dan Hinata, air mata itu mengalir semakin deras. Namun ia tetap tersenyum, dan membalas dekapan erat Naruto.
"Lupakanlah aku, Hinata..."
"Aku tidak akan bisa melupakanmu, Naruto-kun. Tapi, jika keputusanmu adalah membahagiakan Shion-san, aku tidak apa-apa."
Tubuh Naruto semakin bergetar hebat mendengar kalimat Hinata yang begitu lembut. Ia pria brengsek. Ia tahu itu. Ia pria brengsek yang menyakiti dua wanita berhati bidadari.
"Naruto-kun... sayonara."
.
Senyuman itu kembali melengkung. Ia ingat bagaimana Naruto yang meninggalkan kamar hotel itu dengan langkah berat, tanpa menengok kebelakang lagi, tak ingin berubah fikiran lagi jika melihat Hinata. Padahal luka yang ditinggalkan Naruto hanya bagai digores satu kali, namun luka itu semakin terbuka dan semakin perih. Padahal kejadian itu sudah lebih dari dua tahun lalu.
Semua perlakuan yang ia terima juga karena hal ini. Entah penggosip mana yang tahu hal tersebut, yang jelas sekarang ia menerima 'hukuman' itu. Tak sedikitpun juga ia ingin mengusik rumah tangga pria yang sangat dicintainya lagi. Tidak lagi.
"Selamat tidur kekasih gelapku... semoga cepat kau lupakan aku... kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk melupakanmu..."
Hinata membuka matanya. 'Ah, lagu ini memang yang terbaik,' batinnya senang. Lalu perhatiannya teralih tatkala handphone-nya berbunyi.
Ia membuka ponsel itu dengan senang saat tahu pesan itu datang lagi.
Pesan dari 'sahabat'-nya.
'Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, Sephia! Hehehe! Setiap malam aku selalu terfikir dengan ajakanmu tiga hari lalu. Ah! Setiap malam kata-katamu hadir dimimpiku. Lebay, ya? Wkwk.'
Hinata tertawa kecil. Sambil mengusap air matanya, ia membalas pesan dari sang 'sahabat'.
'Aku juga sudah tidak sabar. Aku selalu membayangkan bagaimana dirimu. Teman senasib yang sangat menyenangkan!'
Terkirimlah pesan itu. Kemudian sambil menunggu ia mendengarkan lagu itu. Terkadang ikut bernyanyi mengikuti lirik yang lirih, terkadang sambil mengetuk-ketukkan jarinya pada lantai mengikuti ritme lagu.
Ponselnya kembali berbunyi. Dan saat ia membuka pesan itu, ia kembali tertawa.
'Wkwk, teman senasib XD yasudah, aku sedang mengerjakan beberapa tugas nih. Harus cepat-cepat kalau tidak besok aku akan dihukum. Pokoknya aku harus sabar menunggu hari sabtu! Salam hangat dari Sally!'
Hinata kembali mengetik dengan cepat, 'Salam hangat dari Sephia!'
Ia meletakkan ponsel itu disampingnya, kembali mendengarkan lagu kesukaannya, dan kembali memejamkan mata.
"Sampai bertemu, Sally."
Dan sepertinya Hinata memang tak berniat mengobati lukanya.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Hai hai hai, semua~! Kembali lagi bersama author yang bawel, kepo dan apdetnya seabad, SilentPark Vindyra! Doakan yang terakhir cepat menghilang ya! XD
Yosh! Hari ini author tidak akan banyak bicara. Ini balasan review kalian di chapter 1~
: Oke kaka... udah update ya kaka...
Bayangan Semu : entah kenapa author suka pen name kamu/? *authormodus* iya, ini friendship. Bagus dong, berarti cerita author beda ya :D yeeeeeey dia sukaaaa
Hwang Energy : Ho'oh yang itu :3 elu mah belum ada horror-nya udah takut duluan :v wkwkwk lanjuuuut!
HarHex : hai Harhex yang kangen Ijulx :v ini udah apdeeeet wkwkwk :v
Sekian dari author~ author mohon maaf karena horror nya juga belum ada di chapter ini.
Terima kasih bagi yang sudah mau me-review! Terima kasih juga untuk silent reader dan yang Cuma lihat sekilas!
See ya~!
