Title: Wonshik's 'Juseyo'
Author: Myka Reien
Main Cast: LeoN/Neo
Genre: AU!VIXX Family, Rate T, GS!Hakyeon
Note: No bash, no flame, no copycat. Let's be a good reader and good shipper.
HAPPY READING
Ppyong~
.
.
.
Stars' Lights
Wonshik's 'Juseyo'
.
.
.
Bruush, antara mimpi dan tidak Taekwoon seperti mendengar suara air mengucur deras. Dia membuka separuh kelopak matanya selama beberapa detik sebelum bergerak telentang dan menggeliatkan badan. Namja tersebut bangkit dari tidurnya lantas mengedarkan pandangan ke sekitar, ke tempat tidur yang berantakan oleh selimut serta pada tubuh mungil yang masih tenang terlelap tak jauh dari posisinya berbaring barusan. Sambil menguap lebar Taekwoon membenahi selimut bayinya yang tidur terlentang dengan kedua tangan dan kaki menunjuk lurus ke empat mata angin yang berbeda. Dia meletakkan guling besar untuk membentengi gerakan si kecil supaya tidak terlalu jauh menggelundung ke segala arah lalu beranjak bangun menuju pintu kamar tidur.
Taekwoon berjalan dengan langkah malas menuju dapur, dia kembali menguap dan dengan kesadaran yang belum seratus persen booting sepasang mata sipitnya melihat ke jam dinding.
Jam tujuh? Batinnya antara yakin dan tidak dengan pandangan kabur matanya. Namja tinggi tersebut menggosok mata dengan jemari tangan lalu kembali menguap.
Sosok ramping dalam balutan celemek pink yang tengah menyibukkan diri mencuci buah di bawah kran westafel sama sekali tidak menyadari kedatangan Taekwoon. Suara berisik air terlalu menenggelamkannya hingga tidak mengherankan dia terlonjak di tempatnya berdiri saat sepasang lengan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Oh, kau terbangun?" desis Hakyeon menghentikan gerakan tangannya sejenak. "Apa aku membangunkanmu?" sambungnya yang hanya mendapat balasan berupa pelukan yang makin erat di pinggangnya dan dengungan suara-bangun-tidur Taekwoon yang entah mengatakan apa.
Hakyeon tersenyum. "Selamat pagi juga, Sayang," ujarnya seolah mengerti gumaman suaminya barusan dan memutar kepala sedikit ke belakang untuk mengecup singkat pipi Taekwoon.
"Aku sudah memasak nasi dan merebus air. Kau mau aku membantu apa?" tanya Hakyeon seraya kembali menyalakan kran dan melanjutkan pekerjaannya mencuci buah yang tertunda.
Taekwoon menenggelamkan wajah di antara helaian rambut panjang istrinya yang masih tergerai halus, menarik napas dalam-dalam membiarkan wangi sampo Hakyeon mengisi seluruh ruang di dalam paru-parunya, kemudian mencium agresif leher belakang wanita itu hingga istrinya terasa bergidik merinding dalam dekapannya. Taekwoon mempererat lengannya di tubuh Hakyeon dengan posesif dan meletakkan kepala di salah satu pundak sempit wanita muda tersebut.
"Lima menit lagi," bisiknya.
-o-
"Jam berapa kau pulang?" terdengar suara Taekwoon bertanya di tengah-tengah berisiknya bumbu yang dituangkan ke minyak panas penggorengan dan pekikan ketel yang memberitahu kalau air telah mendidih. Hakyeon mematikan kompor lantas mengangkat ketel untuk kemudian meletakkannya di sudut dapur. Dia bergerak meraih sebuah teko teh dan memasukkan beberapa buah kemasan teh bantal lantas kembali mengambil ketel untuk menuangkan air panas ke dalamnya.
"Jam satu. Kau terlihat capek jadi aku tidak membangunkanmu," jawab Hakyeon.
"Jaehwan bermain terus dan tidak mau tidur. Aku harus begadang sampai jam sebelas." suara Taekwoon terdengar kesal mengingat bagaimana dia memaksakan diri untuk membuka mata mengawasi kaki kecil anaknya yang tanpa lelah berlarian ke sana ke sini dan berusaha untuk tetap terjaga supaya dapat menjawab ocehan putranya yang seolah tidak pernah kehabisan bahan untuk ditanyakan.
Hakyeon terkikik pelan sementara omelan Taekwoon masih berlanjut.
"Aku sudah memberinya susu hangat dan mencoba menggendongnya tapi dia malah kabur dan mengajakku main petak umpet."
Kali ini Hakyeon tidak kuasa menahan diri, suara tawa renyah langsung berderai memenuhi setiap sudut dapur sedangkan Taekwoon hanya dapat diam sembari menyibukkan tangan mengaduk makanan di atas teflon. Sang istri mengusap sebelah lengannya dengan gesture menghibur.
"Itu tandanya dia sehat," ujar Hakyeon yang menuai delikan menyeramkan dari mata tajam Taekwoon.
"Terlalu sehat," gumamnya menyembunyikan sengatan dongkol yang membuat Hakyeon kembali terkikik.
"Aku tidak ada rekaman hari ini, biar aku yang menjaga anak-anak sampai malam." Hakyeon menawarkan diri. "Bukankah nanti kau ada jadwal operasi?"
"Jam sebelas," sahut Taekwoon, menuangkan lauk ke atas piring yang sudah disiapkan oleh istrinya. "Aku akan pulang sebelum anak-anak mandi sore."
"Tidak perlu." Hakyeon tersenyum. "Santai saja dan nikmati waktumu, Pak Dokter," ucapnya lalu mencuri kecupan dari bibir Taekwoon. "Sebelum kau dipaksa begadang oleh anakmu lagi, Papa," lanjutnya kemudian dengan senyum menggoda.
Taekwoon menyeringai, dia hampir membalas Hakyeon dan memperangkap bibir plum tersebut ketika sebuah rengekan terdengar serupa nyanyian merdu lonceng gereja di pagi hari.
"Ne, Jaehwan-ah~" seru Hakyeon. "Kemarilah, Mama di dapur," panggilnya.
"Mama—" sebuah suara kecil bercampur dengan rengekan terdengar semakin dekat seiring dengan munculnya sesosok bocah dalam balutan piyama dan rambut kusut acak-acakan.
"Aiguu, selamat pagi, Matahari Mama~" Hakyeon meraih ketiak Jaehwan dan mengangkatnya dari atas lantai. Jaehwan menguap lebar hingga membuat ibunya menutupkan beberapa jari di depan mulutnya lantas menggosok kedua mata dengan malas.
"Kau masih mengantuk?" tanya Hakyeon. Tak disangka, Jaehwan mengangguk menjawab membuat orang tuanya tertawa kecil.
"Itu karena kau tidak mau tidur semalam." Hakyeon mengelus pelan punggung anaknya sementara Jaehwan meletakkan kepala di bahu ibunya.
"Dia akan tidur lagi, dia bisa tertidur lagi," ujar Taekwoon melihat bagaimana Hakyeon mengusap lembut punggung anak mereka dan tanpa sadar menimang-nimang tubuh kecil itu.
"Oh? Tolong lihat dia." Hakyeon membalikkan badan, membiarkan suaminya mengecek Jaehwan yang menyandarkan kepala di pundak sempit ibunya dan benar saja, sepasang mata kecil tersebut kembali tertutup dengan damai.
"Dia tidur." Taekwoon tidak kuasa menahan tawa geli disusul oleh istrinya.
"Aiguu, neomu kyeopta," desis Hakyeon. "Dia gampang sekali tidur."
Setelah beberapa menit menggendong Jaehwan dan membiarkannya kembali terlelap, Hakyeon berjalan menuju kamar untuk menidurkan putranya saat dia melihat ada sebuah jiwa yang sudah terbangun menunggunya.
"Annyeong~" bisik Hakyeon hampir tanpa suara sambil melambaikan tangan pada sepasang mata bulat yang memandang lurus padanya. "Selamat pagi, Hongbin-ah~" sapanya sambil pelan-pelan menurunkan Jaehwan ke atas kasur lalu meraih Hongbin sebagai gantinya.
"Ayo, keluar sebelum yang lain bangun," ajak Hakyeon kemudian mencium sebelah pipi anaknya membuat balita tersebut langsung tersenyum lebar memunculkan sepasang lesung pipit menggemaskan di kedua pipinya.
"Mama—" gumam Hongbin sambil menyentuh wajah ibunya lalu memeluk erat leher jenjang tersebut dan menguap lebar.
"Iya, Sayang. Semalam Binnie tidak tidur dengan Mama, ya? Binnie tidur dengan siapa semalam?" tanya Hakyeon kembali berjalan menuju dapur.
"Beri salam ke Papa." Hakyeon membuat anaknya membalikkan badan pada Taekwoon. "Selamat pagi, Papa~" namun Hongbin hanya kembali tersenyum lebar pada sang ayah yang sedang mengaduk sayur di dalam panci.
"popo, popo," ujar Hakyeon dan Hongbin memajukan badannya untuk mengecup pipi Taekwoon dengan gesture paling imut yang pernah Taekwoon lihat. "Wink, wink ke Papa," ujar Hakyeon lagi dan kembali Hongbin menuruti permintaan sang ibu. Dia mengedipkan sepasang mata kecilnya beberapa kali dengan sangat menggemaskan membuat sang ayah hilang kesabaran lantas meraih kedua pipi chubby-nya dan menciuminya bertubi-tubi hingga Hongbin tergelak keras. Hakyeon ikut tertawa.
"Sudah, sudah, waktunya sarapan," lerai wanita tersebut sembari menurunkan tubuh Hongbin ke salah satu kursi bayi yang diletakkan memutar di sekitar meja makan.
"Hyung~" suara Hongbin terdengar membuat kedua orang tuanya menoleh memandangnya.
"Ne?"
"Hyung." Hongbin menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. "Di tini. Hyung," ujarnya.
"Ne, Jaehwan Hyung nanti duduk di situ. Tapi sekarang dia masih tidur, jadi Binnie harus menunggu sebentar, ne?" ujar Hakyeon dengan tangan memegang cangkir berisi air putih.
"Ne," jawab Hongbin menganggukkan kepala dan dengan tenang minum ketika ibunya memberinya cangkir kesayangannya.
Selesai minum, Hongbin meletakkan cangkir di atas meja makannya. "Wontik?" ujarnya lagi.
"Apa Wonshik sudah bangun?" Hakyeon yang menyahut.
Hongbin menggelengkan kepala. "Beyum. Wontik matih bobok," ocehnya.
"Binnie tidak membangunkan Wonshik?" tanya Hakyeon menyibukkan diri mengipasi makanan anak-anaknya supaya cepat dingin.
Kembali Hongbin menggelengkan kepala. "Wontik bobok begini." Kemudian dia memperagakan bagaimana saudaranya tidur dengan mulut terbuka dan tangan kaki telentang ke segala arah. Taekwoon serta Hakyeon langsung tertawa geli melihat celotehan ceria Hongbin di pagi hari.
"Dia sangat menggemaskan," desis Hakyeon dibalas anggukan oleh suaminya.
"Mamaaa!" sebuah tangisan keras menginterupsi momen tenang tersebut dan Hakyeon segera melompat menuju pintu dapur.
"Wontik!" Hongbin bersorak. "Wontik, tini! Mamam! Tini!" serunya riang seraya memukul-mukul permukaan meja makannya seolah tidak mendengar jika saudaranya sedang menangis mencari sang Mama.
Hakyeon baru sampai di pintu dapur dengan Wonshik di gendongannya ketika sebuah tangisan lain kembali terdengar. Taekwoon menerima tubuh kecil Wonshik dari sang ibu sementara istrinya kembali menuju ke kamar tidur anak-anak mereka. Tak lama kemudian, Hakyeon muncul lagi sambil menggandeng Jaehwan yang sudah kembali bangun dan memeluk Sanghyuk yang nampak masih setengah tidur dengan dot di dalam mulutnya.
"Nah, semuanya sudah bangun sekarang," ujar Hakyeon membantu Jaehwan untuk naik ke atas kursi makannya.
"Yeeay~" Hongbin bersorak, merasa sudah mendapatkan banyak teman makan. "Mamam, mamam, mamam!" nyanyinya riang.
"Mama, mamam," pinta Wonshik.
"Papa, makan~" Jaehwan menyahut.
"Ne, sebentar ya. Minum dulu," ujar Hakyeon sembari memberikan cangkir berisi air putih pada masing-masing anaknya.
"Binnie tudah," celetuk Hongbin memamerkan cangkir di tangannya membuat Taekwoon tersenyum dan mengusap rambutnya seraya memasangkan cukin di sekitar lehernya.
"Mama, Mama kemalin kemana?" tanya Jaehwan.
"Mama ada rekaman radio, Sayang. Makanya Mama tidak pulang. Waktu Mama pulang kalian sudah tidur sama Papa," jawab Hakyeon membantu Taekwoon meletakkan nampan berisi sarapan ke hadapan anak-anak mereka sementara dia sendiri kerepotan memegangi Sanghyuk yang mulai menggeliat dan menangis karena merasa lapar. Hakyeon duduk di salah satu kursi dan segera melepas beberapa kancing kemejanya, membiarkan si bayi melahap rakus puting susunya dan menikmati sarapannya juga.
"Jaejae bobok sama Papa," cerita Jaehwan.
"Binnie bobok tama Papa," sahut Hongbin. "Papa menani tingkel-tingkel litel tal," sambungnya berujung dengan koor tiga bersaudara itu menyanyikan lagu Twinkle Twinkle Little Star membuat kedua orang tua mereka tersenyum bersama.
"Tapi Jaehwan tidak mau tidur," celetuk Taekwoon meletakkan mangkuk nasi di depan Hakyeon disusul beberapa piring berisi lauk serta sayur.
"Hm?" sepasang mata Jaehwan berkedip lucu.
"Jangan pura-pura lupa, kau tidak mau tidur," ujar Taekwoon.
"Jaejae bobok," tukas Jaehwan polos membuat ayahnya berdecak keras dan sang ibu hanya dapat menahan suara tawanya karena sedang mengunyah makanan.
"Jaejae bobok, Papaaa~" Jaehwan ngotot.
"Kau berlari-larian dan bermain sampai malam." Taekwoon mengingatkan, tidak mau kalah pada ekspresi innocent putra sulungnya.
"Oh!" wajah Jaehwan nampak terkejut. "Jaejae main ci luk ba sama Papa!"
"Nah, itu kau ingat."
"Main ti yuk ba? Kapan?" sahut Hongbin tidak mengerti.
"Semalam," jawab Taekwoon. "Hongbin sudah tidur."
"Binnie tudah bobok?" gumam Hongbin dengan mimik wajah seperti sedang mengingat-ingat jika dia memang sudah tidur ketika Hyung-nya bermain petak umpet yang menyenangkan dengan sang ayah.
"Mama, itu—" mendadak Wonshik bersuara dengan jari tangan menunjuk salah satu piring berisi tumis cumi-cumi yang sama dengan yang ada di nampannya.
"Wonshik mau cumi-cumi lagi?" tanya Hakyeon dibalas anggukan oleh putranya.
"Katakan 'juseyo'," pinta Taekwoon menghentikan gerakan Hakyeon yang akan mendaratkan sumpit ke nampan Wonshik.
"Bilang 'juseyo~'," ujar Hakyeon menirukan suaminya namun Wonshik hanya merengutkan mulut dan mengerutkan alis seolah memberitahu jika dia benar-benar lapar serta tidak ada waktu untuk main coba-tirukan-Papa-dan-Mama.
"Baiklah, Mama berikan kali ini. Tapi lain kali kau harus bilang 'juseyo~' kalau ingin sesuatu, ne?" Hakyeon menyerah dan meletakkan makanan di ujung sumpitnya ke nampan Wonshik.
"Lain kali Papa Mama tidak akan memberikan apa-apa kalau kau tidak mau bilang 'juseyo'. Kau selalu menolak mengatakan 'juseyo', Jung Wonshik." Suara Taekwoon terdengar tegas membuat Hakyeon memberinya tatapan jangan-terlalu-keras-pada-anak-anak.
"Mereka harus diajari disiplin," ujar Taekwoon seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya dan Hakyeon hanya dapat menghela napas tanpa menjawab lagi.
-o-
"Papa kemana?" tanya Hongbin ketika melihat Taekwoon keluar kamar dengan pakaian rapi berdasi. Lelaki itu hanya tersenyum sembari mengusap singkat pucuk kepala Hongbin kemudian berjalan ke balkon untuk mengambil sepasang kaus kaki yang masih berada di jemuran. Tanpa dia sadari, di belakangnya Hongbin mengekor dengan langkah-langkah kaki pendek.
"Papa mau pergi bekerja, Hongbin-ah. Binnie sama Mama hari ini," jawab Hakyeon dari arah sofa, sedang duduk menjaga Sanghyuk yang bermain dengan mobil-mobilan.
"Ande," desis Hongbin.
" 'Andwe'?" ulang Taekwoon terkejut dengan jawaban anaknya. Dia menunduk dan menemukan wajah Hongbin sudah bermendung.
"Ande—" balita tersebut nampak sedih.
"Kenapa, Hongbin-ah? Kau tidak mau ditinggal Papa?" tanya Hakyeon.
"Eum." Hongbin mengangguk, diraihnya kain celana Taekwoon lalu memeluk sebelah kaki panjang itu membuat ayahnya tersenyum. Dengan sekali hentakan, Taekwoon mengangkat tubuh kecil putranya dan menggendongnya dengan satu tangan.
"Papa harus bekerja hari ini," tutur Taekwoon lembut. "Ada orang sakit yang harus cepat diobati. Jadi Hongbin mainnya sama Mama dan jangan nakal, ne?"
Hongbin menggelengkan kepala.
"Yah, kenapa? Binnie tidak suka main sama Mama?" sahut Hakyeon dengan tawa getir.
"Mama—" Hongbin mengarahkan telunjuk pada ibunya. "Papa—" lalu dia menunjuk Taekwoon. "Binnie." Dan terakhir dia menunjuk dirinya sendiri.
"Kau mau main sama Papa dan Mama?" tebak Taekwoon dijawab anggukan oleh anaknya.
"Nanti malam Papa pulang, kita bisa main sama-sama. Tapi sekarang Hongbin main dulu sama Mama. Ne?" bujuk Taekwoon.
"Ande, ande, ande, huweee~" Hongbin menggelengkan kepala berkali-kali dan mulai menangis, dia menjatuhkan mainan dari tangannya dan sebagai gantinya jemari gemuk itu mencengkeram kuat dasi Taekwoon.
"Aiguu, aiguu, Hongbin-ah~" Hakyeon bangkit berdiri, mencoba mengambil Hongbin dari gendongan suaminya namun hal tersebut hanya membuat si bayi menjerit makin keras dan memegang kuat pakaian ayahnya. Hongbin menyembunyikan wajah di dada Taekwoon sambil terus menangis.
"Andwe, Hongbin-ah. Kau mengotori baju Papa—" Hakyeon tidak dapat berteriak pada putranya yang mengusapkan air mata serta ingus ke pakaian Taekwoon. Suaminya hanya dapat tertawa sambil mengusap punggung Hongbin dengan sayang.
"Baiklah, baiklah, Papa mengerti," ujar Taekwoon sedikit meredakan tangisan Hongbin. "Ayo, kita buat perjanjian." Namja tersebut berjalan ke arah dapur untuk mengambil toples berisi kue kering.
"Kukit!" pekik Hongbin seketika, melupakan kesedihannya dan alasan kenapa dia menangis begitu matanya melihat cookies yang sangat disukainya.
"Ne, kita buat perjanjian cookies," ujar Taekwoon lantas menurunkan Hongbin ke lantai. Lelaki itu duduk jongkok menyamakan tinggi dengan anaknya yang memandang penuh binar pada kue yang sedang dia pegang meskipun jejak basah air mata masih tersisa di kedua belah pipi bakpaonya.
"Papa harus pergi bekerja hari ini dan Hongbin main dengan Mama," ujar Taekwoon dengan intonasi serta pengucapan yang jelas, membuat Hongbin mengangguk patuh. "Jangan nakal dan jangan menangis. Ne?"
"Ne," jawab Hongbin, sepasang matanya tidak dapat beralih dari kue di tangan sang ayah.
"Bantu Mama menjaga Hyukie. Ne?" ujar Taekwoon lagi dan kembali menuai 'ne' patuh dari anaknya yang paling manis dan penurut.
"Katakan 'juseyo'," pinta Taekwoon.
"Duteyo~" Hongbin segera menengadahkan kedua tangannya bersamaan dan dia bersorak ketika ayahnya memberikan kue yang dia minta.
"Popo. Popo Papa dulu." Hakyeon menyela membuat Hongbin berhenti berlari dan berbalik pada Taekwoon untuk mencium singkat bibir ayahnya.
"Aiguu, neomu kyeopta~" puji Hakyeon bangga. "Uri Hongbinie neomu kyeopta~"
Jaehwan yang mendengar adiknya meneriakkan cookies, segera berlari menyongsong Taekwoon dari sudut ruang duduk.
"Papa, Jaehwanie!" seru Jaehwan. Ayahnya tersenyum, mengambil satu keping cookies dari dalam toples, lalu kembali duduk jongkok.
"Papa pergi bekerja dan Jaehwan main dengan Mama. Jangan nakal ataupun menangis. Berjanjilah untuk tidak menakali adik-adikmu dan bantu Mama menjaga Sanghyuk. Ne?" ujar Taekwoon.
"Papa mau kemana?" tanya Jaehwan baru sadar jika penampilan ayahnya berbeda dari biasanya.
"Papa pergi bekerja," jawab Taekwoon.
"Mama?" Jaehwan menunjuk ibunya.
"Andwe, Jaehwan-ah. Mama tidak bekerja hari ini, Papa yang bekerja," sahut Hakyeon.
Bibir gendut Jaehwan merengut maju dengan lucu. "Papa tidak boleh bekelja," gumamnya membuat mata Taekwoon dan Hakyeon sama-sama terbeliak kaget.
"Tidak boleh?" ulang sang ayah.
"Papa di lumah—" Jaehwan memeluk leher Taekwoon. "Mama di lumah. Jaejae, Binnie, Wonshik, Sanghyuk juga di lumah."
"Kau ingin kita semua main bersama?" bisik Taekwoon sembari mendaratkan ciuman sayang ke sebelah pipi anaknya. Jaehwan mengangguk.
"Tapi Papa harus pergi—"
"Andwe!" Jaehwan menghentakkan kaki beberapa kali.
"Jadilah anak baik dan Papa akan memberimu cookies. Ne?" Taekwoon menyodorkan kue ke depan wajah Jaehwan dan diterima dengan kalem oleh putranya.
"Papa pulang?" tanya Jaehwan.
"Tentu saja Papa pulang, Sayang." Sebuah kecupan lembut kembali mendarat di sebelah pipi bulat Jaehwan.
"Jaehwanie, bilang apa?" tegur Hakyeon.
"Telima kasih, Papa~" ujar si balita sambil membungkukkan badan pada papanya yang tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Dia langsung menurut begitu diberi cookies," decak Hakyeon.
"Harga dirinya hanya sebatas cookies," sambung Taekwoon yang langsung membuatnya kena lemparan bola karet Hongbin.
"Kau berlebihan." Hakyeon tergelak. Suaminya hanya tersenyum dan kembali berdiri. Saat dia akan mengembalikan toples ke dalam dapur, Wonshik datang mendekat dengan langkah-langkah kecil dan jari tangan menunjuk toples di genggaman Taekwoon.
"Kau mau ini?" tanya sang ayah yang dijawab anggukan antusias oleh anaknya.
Taekwoon duduk jongkok sambil membuka tutup toples. "Main dengan Mama dan jangan nakal, ne?"
"Ne," jawab Wonshik dengan kepala mengangguk dan mata lekat menatap gerakan ayahnya yang mengambil cookies.
"Jangan menangis dan jangan bertengkar dengan Jaehwan Hyung," ujar Taekwoon kembali mendapatkan anggukan Wonshik.
"Kau mengangguk bukan karena mendengarkan Papa tapi karena ingin cookies 'kan?" tebak Taekwoon dan entah sadar atau tidak, Wonshik kembali mengangguk kali ini. Hakyeon tertawa melihat kepolosan anaknya.
Taekwoon menghela napas panjang. "Katakan 'juseyo'."
Wonshik terdiam.
" 'Juseyo~', Wonshikie." Hakyeon ikut membujuk dari belakang. Namun seperti dugaannya, Wonshik yang begitu susah mengatakan 'juseyo' masih berdiam diri dan hanya memandang bergantian pada Papa serta Mamanya. Dia dilema. Antara tidak mau mengatakan 'juseyo' atau ingin makan cookies seperti kedua saudaranya.
"Bilang 'juseyo'," ujar Taekwoon untuk terakhir kali dan melihat anaknya hanya menggaruk leher tanpa bilang apa-apa, namja tersebut bangkit berdiri. "Tidak ada cookies untukmu."
"Ande! Huwaaa!" sekejab Wonshik menangis keras. Dia mengikuti langkah ayahnya yang mengembalikan toples ke dapur sambil terus merengek namun Taekwoon bergeming, meraih kotak tisu basah bayi untuk membersihkan kemejanya yang tadi terkena air mata dan ingus Hongbin.
"Papa! Kukit! Papa!" Wonshik terus menangis sembari menarik-narik baju Taekwoon dan menunjuk dapur.
"Anniya, kau tidak mau bilang 'juseyo' jadi kau tidak akan mendapat apa-apa," tolak Taekwoon melepaskan tangan Wonshik pelan-pelan dari kain bajunya dan berjalan ke kamar untuk mengambil mantel serta tas sebab jam semakin dekat dengan waktu shift-nya bekerja di rumah sakit.
"Mama—" Wonshik beralih pada Mamanya, meraih tangan wanita itu dan mencoba menariknya ke arah dapur.
"Katakan 'juseyo~', Wonshikie. Nanti Mama ambilkan cookies-nya," ujar Hakyeon lembut tapi Wonshik malah memekik makin keras dan menjatuhkan diri ke karpet, bergulung-gulung sambil memperdengarkan suara tangisan paling sedih yang dia miliki.
"Yeobo—" Hakyeon tidak tega melihat bayinya berderai air mata namun suaminya masih tetap tegas seperti sebelumnya.
"Tidak ada 'juseyo', tidak ada cookies," ujar Taekwoon. "Kalau kau menyerah mengajari mereka hanya karena mereka menangis, kau tidak akan pernah melihat mereka melakukannya sampai dewasa."
Hakyeon terdiam sejenak dan kembali mengalihkan perhatian pada Wonshik yang sudah tersedu-sedu di lantai. Dengan pelan diraihnya balita tersebut ke atas pangkuannya.
"Wonshikie, dengarkan Mama." Suara Hakyeon terdengar sangat lembut. Jemari tangannya terasa halus ketika mengusap kedua pipi Wonshik yang basah dan menepuk pelan perutnya yang gendut sehat. "Kalau kau ingin sesuatu, katakan 'juseyo'. Seperti yang Hongbin dan Jaehwan Hyung lakukan—"
"Ande, ande—" Wonshik menggelengkan kepala.
"Baiklah, kalau begitu kau tidak akan pernah mendapatkan apa-apa," tukas Taekwoon.
"Ande, ande, ande! Papaaa!" Wonshik bangun dari pangkuan Hakyeon dan berlari menubruk kaki ayahnya. Merengek dan mencoba meluluhkan Taekwoon dengan air matanya namun sang Papa masih bergeming dengan suaranya yang tegas.
"Tangisan itu hanya mempan pada Mamamu, harusnya kau sudah tahu Papa tidak terpengaruh," ujar Taekwoon sambil mulai memakai mantel.
"Papaaa!" Wonshik menangis makin keras.
"Mama, Wontik kenapa?" mendadak Hongbin mendekati Hakyeon, wajahnya nampak khawatir dan sedih mendengar saudara kembarnya menangis begitu keras.
"Wonshik tidak apa-apa, Sayang. Binnie main sama Jaehwan Hyung saja, ya—" kalimat Hakyeon terhenti karena tiba-tiba Hongbin berlari ke arah Taekwoon.
"Papa, Wontik kenapa?"
Taekwoon mengusap pelan rambut Hongbin lalu tersenyum. "Wonshik ingin cookies, tapi dia tidak mau bilang 'juseyo'. Binnie mau mengajarinya bilang 'juseyo'?"
"Wontik, kayo mau kukit biyang 'duteyo~'. Dangan menangit." Hongbin mencoba bicara pada saudaranya namun hanya mendapat perhatian sekilas dari Wonshik lalu bocah itu kembali merengek.
"Apa Wontik mau kukit tekayi?" tanya Hongbin dijawab anggukan oleh Wonshik.
"Ini, ambiyah." Tiba-tiba Hongbin menyodorkan cookies yang masih setengah di tangannya pada Wonshik. Wonshik berhenti menangis sejenak dan memandang kue di tangan adiknya bergantian dengan wajah Hongbin. Balita tersebut terlihat berpikir sejenak lantas menerima cookies Hongbin. Sebaliknya, Hongbin malah tersenyum lebar melihat saudaranya tidak lagi menangis.
"Hongbinie sudah tidak suka cookies?" tanya Hakyeon merasa terkejut anaknya memberikan kue begitu saja pada orang lain.
Hongbin menggelengkan kepala. "Kukit untuk Wontik. Wontik menangit," ujarnya mencoba menjelaskan.
"Kau memberikan cookies pada Wonshik karena dia menangis?" tebak Hakyeon dan Hongbin menganggukkan kepala dengan senang.
"Aiguu, siapa yang mengajarimu seperti itu, huh? Kau pintar sekali sudah bisa berbagi," puji Hakyeon sembari meraih tubuh kecil putranya ke pangkuan dan menciumi kedua pipi gembulnya hingga Hongbin tertawa kegelian.
Sementara itu, Wonshik mengemut kue milik Hongbin dengan mata menatap lekat pada adiknya yang sudah kembali bermain kejar-kejaran dengan Jaehwan. Sepertinya dia tahu jika Hongbin memberinya kue dan sekarang adiknya itu tidak punya kue lagi. Wajahnya merupakan perpaduan antara sedang berpikir dan merasa bersalah pada Hongbin.
"Aku pergi dulu," pamit Taekwoon menghampiri Hakyeon dan mengecup keningnya lalu bibir wanita itu sebelum pergi. "Sanghyuk-ah, Papa pergi dulu. Jangan nakal, ne?" Taekwoon mencium pipi bayinya yang dibalas senyuman lebar oleh Sanghyuk.
"Bye bye, Papa. Bilang 'bye bye' ke Papa, Hyukie." Hakyeon menuntun Sanghyuk untuk melambaikan kedua tangan mungilnya.
"Bye bye," balas Taekwoon sambil tersenyum dan ikut melambaikan tangan. Dia berjalan menuju pintu depan tapi sekejab langkahnya dihentikan oleh Wonshik.
"Ada apa, Wonshik-ah?" tanya Taekwoon.
"Papa, kukit," ujar Wonshik kembali memasang mata memelas.
Taekwoon menghela napas. "Sudah Papa bilang, selama kau tidak mau mengatakan 'juseyo' Papa tidak akan memberimu cookies."
"Untuk Binnie." Wonshik menunjuk Hongbin yang masih bermain dengan Jaehwan.
"Meskipun itu untuk Hongbinie, yang minta tetap kau. Jadi kau harus—"
"Duteyo~" satu kata Wonshik membuat Taekwoon terpaku seketika, pun dengan Hakyeon.
"Duteyo, Papa. Kukit untuk Binnie. Duteyo~" Wonshik menengadahkan kedua tangan mungilnya dengan tidak sabar.
Taekwoon meletakkan tas ke atas lantai dan berjongkok hingga sejajar dengan tinggi Wonshik. Diusapnya kepala bocah itu dengan lembut, sebuah senyuman sudah terukir di bibirnya.
"Kau bilang 'juseyo' karena Hongbin? Kau melakukan ini untuk Hongbin?" tanya Taekwoon.
"Ne." Wonshik mengangguk.
"Kau pasti sangat sayang pada adikmu." Dengan bangga Taekwoon mencium kening Wonshik lalu menggendongnya menuju dapur, meraih toples dan memberi Wonshik kue yang dia inginkan. Bocah tersebut langsung memekik senang. Dia segera berlari ke arah Hongbin begitu Taekwoon menurunkannya ke lantai.
"Wonshikie, bilang apa ke Papa?" seru Hakyeon mengingatkan.
"Teyima katih, Papa!" ucap Wonshik dengan tangan berada di perutnya dan badan sedikit membungkuk.
"Aiguu, neomu kyeopta~" puji Hakyeon senang, pun dengan Taekwoon yang tersenyum melihat Wonshik memberikan kue pada Hongbin lalu memeluknya erat membuat adiknya mengedipkan mata tidak mengerti.
"Wonshik sudah besar sekarang," gumam Hakyeon.
"Dia tahu bagaimana harus berterima kasih pada orang lain," imbuh Taekwoon membuat istrinya menoleh dan tersenyum padanya.
"Aku berangkat," ujar namja itu dibalas anggukan Hakyeon.
"Hati-hati."
-END-
Kemungkinan tidak akan ada alur untuk cerita di sini, kekeke
Hakyeon bekerja sebagai penyiar radio dan punya jadwal siaran maupun rekaman beberapa kali dalam seminggu. Sedangkan Taekwoon adalah seorang dokter bedah.
