Chapter 1: Pesona yang sama-sama mematikan dari masa lalu! #Bagian satu

.

.

.

Sensei or Master?

.

.

Happy Reading! NC-18+

.

.

.

Dua bulan kemudian

Malam prom akan datang dua hari lagi. Aku dan Ino sudah memutuskan untuk membeli gaun yang bagus, tepat di siang ini. Dengan sedikit permainan tangan pada penisnya, empat kali pukulan pada bokongku, dan satu kali tamparan untuk pipiku yang manis, akhirnya, Uchiha memperbolehkanku untuk keluar dan memilih gaun. Dengan uangnya, tentu saja!

Kami sedang di kafe, dua blok dari sekolahan. Dengan Ino dan aku yang ditraktir segelas kapuchino dingin dari Naruto yang entah kenapa malah membuntuti acara para gadis ini. Sementara itu, kami juga sedang menunggu Hinata yang akan bergabung. Dua puluh menit sudah berlalu dengan membosankan, dan yang ditunggu tak juga memunculkan bau kehidupannya (ini memang aneh, jangan tatap aku!)

"Lama sekali… aku sudah lapar. Bisa kita pesan ramen dan beberapa gelas kapucino?" Aku mengangguk setuju pada Naruto. Dan Ino melanjutkan dengan nada super bosannya. Dan kepala yang ditopangkan malas. Super malas.

"Jika kau yang bayar, Naruto. Ya."

"Heii!"

Aku tertawa. Mereka memang kembar pirang yang kocak. Meskipun bila disatukan, mungkin saja pohon bisa berjanggut; kalau saja mereka tidak beradu mulut. Please, bukan ciuman. Karena Ino sudah memiliki kekasih yang tampan, dan sedikit gila karena suka memainkan matanya padaku. Shimura Sai yang bodoh!

"Minna! Gomenasai!"

Itu Hinata. Bersamaan dengan deruan lelah dari nafasnya yang berkejaran. Naruto mengacuhkannya, mantan kekasihnya. Karena mereka putus setelah Hinata mengatakan bahwa ia telah memiliki tambatan hati yang baru. Lucu sekali. Kenapa aku harus peduli pada urusan percintaan bedebah-bedebah ini?

"Ya, Duduklah, Hinata. Kami baru duapuluh menit menunggu disini. Dan kelaparan." Aku menjawab dengan ketus. Naruto tertangkap menyeringai dari ujung mataku. Sedangkan Ino menginjak kakiku dengan hils tajamnya. Ow man! Itu sakit sekali!

"Tidak. Abaikan saja sibodoh pink ini. Dia bernafas pun sudah terasa menyebalkan." Hinata adalah anak dari kolega ayahnya, itulah mengapa ia mati-matian untuk tetap berusaha terlihat baik didepan gadis ungu itu. Kecuali dirinya, kami semua membenci Hinata. Ya. Aku dan Naruto. Tidak ada alasan khusus untukku..

"Bukan masalah. Bolehkah aku mengajak kekasihku? Dia.. ah! Ini dia"

"Sakura?"

"Itachi?!"

"Eh? Kalian sudah saling kenal?"

-0-

.

.

.

Aku depresi. Sekarang sudah menemukan alasan yang bagus kenapa aku mebenci Hinata sebegitu dalamnya! Dengan cuaca yang entah kenapa menjadi sangat basah, dan kami kehujanan, lengkap sudah!

"Haruno. Kau tahu ini pukul berapa?" Aku mengangguk. Bunyi tik-tok halus di dinding belakang punggungnya yang memberitahuku. Pukul 7 malam. Aku kembali menggosok rambutku dengan handuk kecil milik Sasuke. Dengan rasa kesal yang masih memuncak. Kenapa rasanya begitu sialan?!

[PRAK!]

Aku terkejut. Sasuke mematahkan pensil untuk memeriksa nilai ulangan kami, ditangannya. Matanya menyala dalam kemarahan; dan liurku telah menjadi sekeras batu. Sekarang, aku sudah menyalakan lilin merah Sasuke. Dan itu artinya, bunuh diri.

"Jawab aku."

"T-tujuh malam. Maafkan aku, kumohon jangan memukulku lagi! Itu karena hujan dan kami tidak membawa kendaraan apapun– " Jantungku telah bertukar tempat dengan lambung saat Sasuke bangkit dan mendekat. Tidak, dia tidak menuju kearahku. Tapi pintu kamar dibelakangku. Feromonnya menguar ketika bahu kami bersentuhan, dan aku membeku. Ia keluar dengan sebuah bantingan kasar di pintu. Menyisakan dengungan pahit didasar pikiranku; yang kosong.

Saat satu menit telah berlalu, dan kakiku mulai pegal, aku berjalan seperti merangkak menuju ranjang kami. Mencoba megistirahatkan tubuhku yang lelah dan membengkak ini. Karena telalu dimanjakan dengan uang mingguan dan 1000 yen lainnya (milik Sasuke), kini aku sudah nyaris menyerupai gumpalan daging yang bergerak. Aku naik 5 kilo dan rasanya menakjubkan. Terutama payudaranya, itu kata Sasuke versi mesum setelah bercinta. Tapi aku tidak mengantuk, jadi memutuskan untuk membaca beberapa novel dan komik yang usai lalu kubeli. Sampai rasanya mulai mengantuk dan aku teringat dengan Sasuke yang entah sedang apa, dan dimana. Jadi, aku memutuskan untuk keluar, beserta dengan keyakinan bodoh yang entah kenapa terasa benar. Bisa saja Sasuke akan memukul bokongku nanti, tapi memikirkan wajahnya yang bertekuk saat malam prom menakjubkan nanti, itu masalah besar.

"Sasuke?" Ternyata, dia sedang tidur seperti anak kucing yang melingkar di sofa ruang tengah. Selimut telah membungkus tubuh sexy-nya. Dan ingatkan aku untuk terus memanggilnya Natsu-Sensei setelah ini. Karena dimusim apapun Sasuke berada, dia tetap akan berefek panas bagi siapapun. Aku mengecup dahinya dan semakin merapatkan lingkar selimut tipis itu. Terlalu tipis. Aku masuk kembali kekamar dan keluar dengan sebuah selimut yang lebih tebal. Menarik perlahan selimut Sasuke dan aku terkejut. Ia bisa ereksi di saat tertidur, dengan beberapa bekas tisu yang basah dan amis disekitarnya. Hebat sekali.

"Kau mengerikan. Guru macam apa yang memperkosa muridnya sehari dua kali? Kau. Kau juga mesum. Selalu meraba-raba payudaraku disaat sedang tidak sadar sekalipun. Dan kau sekarang ereksi di saat sedang berwajah seperti malaikat ini? Aku me –ah, sudahlah."

-0-

.

.

-0-

Ino sedang bercerita tentang tas-tas brand barunya ketika aku ingin pipis dan melihat Hinata dengan sok polosnya bergabung bersama kami. Hanya Ino yang tersenyum. Aku masuk ke kelas, meninggalkan mereka di taman kafetaria, dan bertemu murid baru semalam. Laki-laki. Namanya Shikamaru Nara. Dan dengan melihat kebiasaan tidurnya yang abnormal, aku yakin sekali kami tidak bisa berteman lagi. Tapi, aku akan berteman dengannya. Jadi aku menendang meja dimana ia meletakkan kepalanya dengan begitu nikmat.

"Sialan!" Itu juga karena kami satu kelompok di tugas seni yang membosankan. Setelah kata mutiaranya selesai dikeluarkan, barulah Shikamaru menatapku sebal. Dan malas.

"Ups. Anggap saja aku tidak sengaja, serius. Kau sudah seperti akan mati." Dia menaikkan alisnya. Tidak tertarik dan mengatakan 'Hei, bodoh! Cepatlah pergi sebelum aku menendang bokongmu. Aku mau tidur' dengan tatapannya. Tapi aku tidak terpengaruh! Aku menduduki meja tempatnya tadi melabuh mimpi.

"Apa maumu?"

"Berteman lagi. Kau sepertinya kesepian."

"Terserah."

Wow. Tidak kusangka akan semudah ini. Apakah karena tikus begitu menyukai keju sampai sulit untuk menolak pesonanya?

"Kau serius?"

"BIcara apa kau?"

"Apakah ini kekuatanmu? Mengelak dari pertanyaan dengan pertanyaan?" Oke. Ini semakin aneh. Aku menarik tangan Shikamaru dan segera mengajaknya untuk bergabung di bangku taman tadi, bersama dua sahabat dan satu bedebah-bajingan-brengek disana.

"Hai, Shika-chan! Kenapa terdengar seperti rusa ya?" Naruto memang bodoh, lupakan saja dia.

"Iya. Shikamaru akan bergabung bersama kita. Karena sekarang, dia adalah teman kita!" Kemudian aku menuntun Shikamaru untuk duduk diantara aku dan Ino. Dan mengabaikan Hinata. Seperti yang biasa Naruto lakukan padanya. Owh, ini sedikit menyentuh batinku. Tapi tidak juga, sih.

"Bagus! Kau suka ramen? Aku bisa mentraktirmu."

"Tidak. Anmitsu lebih baik." Dia masih mengingatnya.

"Aku Yamanaka Ino. Salam kenal." Mereka berjabat tangan. Kemudian Naruto dengan gaya bodohnya, dan Hinata yang entah kenapa selalu tersenyum malu-malu. Cih!

-0-

"Kenapa kau tidak pernah menghubungiku lagi?" Aku duduk dibawah pohon Sakura yang sedang tidak berbunga. Dengan Shikamaru disisiku, dan pose pemalas yang biasa dilakukannya.

"Bukan urusanmu."

"Heii! Kau kan–"

" –Diamlah." Aku diam dan mulai menikmati keheningan ini. Seperti dulu, ketika kami masih dibesarkan bersama disebuah panti asuhan yang letaknya tak teraba oleh perkembangan kota. Shikamaru yang pemalas dan aku yang nakal, kami biasa mengerjai ibu panti yang gemuk dan pemarah. Atau bahkan, kami juga sering mencuri makan malam milik anak panti lainnya; yang sikapnya jauh lebih nakal dari kami. Sampai seseorang berniat untuk mengadopsi Shikamaru, ketika pemuda nanas itu hendak menjadikanku kekasihnya. Mau-tak mau, aku menjawab dengan tidak yang kejam dan semenjak saat itu, Shikamaru tidak pernah lagi menghubungiku. Dan setahun kemudian, Pamanku beserta Yuuhi bodoh itu datang untuk menjadikanku pembantu gratis mereka. Alasan yang kuat kenapa aku menolaknya adalah.. karena aku tidak ingin merusak persahabatan ini. Milik kami yang berharga.

"Bagaimana kabarmu? Aku ingin tahu." Aku meniru posenya yang berbaring dengan lipatan kedua tangannya sebagai alas. Dan aku menghadapnya; menghadap bagaimana tragisnya kisah hidup kami.

"Buruk."

"dan ibumu?" ia menoleh. Menatapku tajam.

"Dia bukan ibuku. Dia bahkan membuangku!"

"Dan mengambilmu kembali. Setidaknya, sekarang dia sudah cukup kaya untuk membesarkanmu lagi. Hei, lihat aku, aku bahkan tidak tahu siapa pelacur dan pelanggannya itu."

"…Kau benar."

-0-

.

.

.

Uchiha merobek gaun pilihan Ino setelah tahu (dia melihat dengan matanya yang menyala ) bahwa, betapa terbukanya setiap bagian dari gaun super itu. Awalnya aku berpikir akan mengeluh, dan kemudian menyadari bahwa (selain dia akan memukul bokongku) itu adalah uangnya. Karena Uchiha bebas melakukan apapun terhadap milinya; uangnya. Termasuk aku. Aku mengeringkan rambut Uchiha yang sedang mengoreksi soal dengan sebuah handuk kecil miliknya. Aku diatas sofa; menonton dan menggoyangkan dada (karena mereka ikut bergoyang setelah tanganku) dengan Sasuke yang berada diatas karpet berbulu. Dibawahku. Kami sedang menonton drama yang lumayan dewasa, kesukaanku. I Give My First Love to You. Karena Takuma dan Kou sangatlah tampan. Dan sesaat setelah gaun 6000 yen itu berakhir menjadi seonggok sampah, kandung kemihku mengetat dan meronta. Aku menyudahi acara melamunkan mantan kekasih dan menggosok rambut Uchiha. Saat bangkit dan mengintip wajahnya di bawah sofa, dan sepertinya Uchiha sedang ditonton oleh televise.

"Kau harus lebih menghargai tanganku. Meskipun kau tidak akan menemukan payudara disana." Bulu halus dilehernya meremang saat aku berbisik ditelinganya. Dan aku segera melesat menuju toilet karena tak tertahankan. Secepat itulah aku kencing.

"Haruno. Ponselmu."Saat celana dalamku masih menggantung, suara serak Uchiha (aku suka menyebutnya begitu, sekarang) terdengar dari radius sekian meter. Kalau aku food fetish, mungkin dia ada di dapur. Meskipun yakin dia ada di ruang tengah.

"Ya!" Aku meluncur dan ternyata Shikamaru menelponku. Setelah izin sebentar, aku segera menuju ke balkon untuk menemukan privasi meskipun mata Uchiha tak pernah meninggalkanku, dari dalam sana.

"Ya. Ada sesuatu?"

'Sesuatu yang panas, Sakura. Aku ingin kencing.'

"Heii! Kenapa kau menelponku?" Alasan yang tidak logis. Aku memutar mataku untuk Uchiha didalam sana.

'Kau ingin jawaban jujur?' Siapa yang tidak mau?

"Ya."

'Aku membutuhkan suaramu untuk proses masturbasiku.'

Ada! Aku! "J-jawaban bohong saja!"

'Tidak ada. Aku ingin tahu alamat rumahmu. Yang sekarang.'

Dan Sasuke Uchiha menyeringai jahat disana.

Sial! Uchiha menyadap ponselku!

-0-

.

.

.

-0-

"Sakura. Serius. Jangan terlalu jahat pada Hinata. Kau tahu bagaimana pelitnya ayahku. Dan jika bapak iklan shampoo itu tahu bagaimana anaknya dijahati oleh teman dari anak teman koleganya, kau harus membayarku 1000 yen setiap harinya!" Aku memutar kepalaku. Naruto dan Shikamaru datang bersama menuju kearah kami. Dan mata sinis Karin bodoh selalu mengikuti mereka.

"Ino, dia –"

"Diamlah. Dia akan kesini." Naruto berseru malas. Menghentikan ucapan provokasiku. Dan Shikamaru duduk diatas meja; didepanku. Ino disampingku dan Naruto diatas meja; didepan Ino. Jadi, tidak ada tempat lagi untuk si bajingan-brengsek itu.

"Minna!" dia menarik sebuah kursi kearah kami . "Nanti ganti baju sama-sama ya."

"Aku duluan." Aku benar-benar muak. Membuka tasku dengan kasar dan menarik dua seragam olah raga dari dalam sana. Saat akan berlari, selangkanganku sakit dan aku memutuskan untuk berjalan. Tapi ternyata, Shikamaru dan Naruto mengikutiku. Jahat, mereka meninggalkan Ino.

"Aku benci gadis itu." Tak kusangka, Shikamaru akan sehati dengan kami. Benar-benar tak kusangka; dan Naruto melongo disamping sana. Aku menoleh kearah Shikamaru dengan penuh semangat.

"Kenapa?" alis Shikamaru terangkat satu. Naruto tetap diam di sisi kiriku. Entah kenapa, tapi aku tahu alasan tak pastinya. Jadi, aku menyenggol bahunya agak kuat; cukup kuat sampai ia tersentak dan bergeser minggir.

Setelah melihat kami, Shikamaru menjawab malas. "Entahlah. Seperti, femme fetale. Dia terlalu yakin akan ada banyak patron (kata-kata Shikamaru terlalu berbelit, tapi maksudnya adalah: para penggemar yang akan mendukung artisnya dengan memberikan hadiah, dukungan, atau sesuatu, begitulah) yang mengelilinginya. Bodoh."

Awh. Critical hit!

"Dan kau, Naruto?" Dia melihatku malas.

"Diamlah."

"Yare-yare. Aku ganti baju dulu. Kalian mau tetap disini?"

"Tidak. Kami akan menunggu di pohon sana." Pohon itu tidak jauh dari sini. Hanya sekitar beberapa meter. Jadi, aku mengagguk dan masuk kedalam ruang ganti khusus perempuan. Sedang kosong, ternyata.

Setelah seragamku tanggal keseluruhannya, aku mulai berpikir untuk meminta Ino memasakkan sesuatu dan memberinya pada Hinata. Biar saja gadis itu akan tersedak, lalu aku akan mencuri semua botol minuman didunia ini, sampai dia sesak dan tak tertahankan, lalu mati dengan konyolnya. Kau tahu, masakan Ino adalah sampah.

Dan 10 menit kemudian, semuanya selesai. Aku mengikat rambut sepunggungku tinggi-tinggi. Meneliti sebentar wajahku dan bertanya tanya mengapa Sasori (ayah tiri si bodoh Karin) begitu mengaguminya. Hebat sekali, pesonaku!

Dan aku memutuskan untuk keluar, setelah adegan konyol itu berlangsung. Maksudku –bercermin dan bertanya-tanya itu sangat konyol! Seperti –

BYUURRR!

Saat keluar dan menjadi basah, aku tidak tahu sesuatu telah terjadi padaku. Atau setidaknya, sampai bajingan-bajingan yang membawa ember di depanku ini berseru dengan menjijikkan. Anak kelas sebelah, sial!

"Wah! Merah muda!"

"Lezat sekali!"

"Mereka tak sengaja, tapi itu bagus, kan?"

"Kalian.. Bajingan!"

Lalu mereka tertawa. Lalu aku menutup dadaku yang menerawang tembus karena baju putih olahragaku basah. Lalu... Shikamaru lari dari arah pohon tadi, dan menerjang tiga bajingan itu. Aku dan Naruto segera meleraikan mereka. Melihat betapa ganasnya Shikamaru untuk mengahancurkan wajah mereka.

"Shikamaru! Hei!"

"Shika! OY!"

"Brengsek!" aku menarik tangan Shikamaru dan dia mendorongku menjauh.

"SHIKAMARU! HENTIKAN!" aku mengulang gerakan yang sama; dan begitupun dengan dia. Namun kali ini, entah mengapa jatuhku menjadi jauh lebih sakit.

"S-sakit!."

"Sakura!." Lenganku berdarah banyak setelah menabrak salah satu pilar simetris diantara kami. Beruntung, disela-sela rasa sakit itu, pertarungan bodoh mereka terhenti. Dan bra merah mudaku masih menjadi tontonan seru bagi para pemuda yang kebetulan (sengaja) menonton adegan perkelahian usai lalu. Dari arah kejauhan, aku melihat Ino mendatangi kami dan wajahnya benar-benar konyol. Tentu, dengan Hinata dibelakangnya. Ia dan Naruto kemudian memapahku. Membawaku untuk berdiri tegak dan menampar kuat pipi si bodoh ini.

"SHIKAMARU BAKA! BAKERO! KUSO! Jangan berkelahi lagi, atau aku tidak akan mencakapimu sampai mati! Baka!"

"Sakura –eh, Uchiha-sensei?"

Shikamaru tidak menjawab dan pergi. Larinya cepat sekali. Bahkan tidak secepat Uchiha yang datang dan menarikku. Matanya tajam berkeliling; yang praktis mengusir kerumunan para murid karena ini sudah 13 menit setelah bel masuk. Lalu, matanya berakhir pada Ino Naruto dan Hinata-bodoh dan ketiga bajingan itu. Mereka sudah babak belur dalam seringaianku. Rasakan itu!

"Kalian, Kekelas. Lalu kalian, cepat keruang konseling. Temui Asuma-san untuk penyerahan hukuman padaku."

"Mohon bantuannya, sensei. Kami akan kekelas." Mereka semua sudah pergi. Aku mendongak untuk melihat wajah Uchiha yang tubuhnya menempel di punggungku. Setelah seluruh bagian disini kosong melompong. Napasnya terdengar berat. Ia merengkuh dadaku dari belakang; begitu ketat.

"Sial. Dadamu. Mereka semua melihatnya." Aku tidak memutar bola mataku. Pastikan itu.

"Uchiha. Aku sedang sakit disini. Tidak lihat, bagaimana tanganku sekarang?"

"Ya. Jika aku bisa mengikatmu sekarang. "

"U-Uchiha!"

-0-

Setelah mengobatiku, Uchiha benar-benar mengikatku. Ia mengguanakan dasi biru tua yang sedang digunakannya. Mengikat kedua tanganku dibelakang kursi guru miliknya tanpa menelanjangiku terlebih dahulu. Setelah itu, Sasuke menciumku dengan keras. Ia berusaha untuk tidak membuat tanda apapun disekitar wajah, dan leherku.

"Kau benar-benar tidak boleh bersuara, Sakura." Atau kita akan ketahuan. Kau yang gila, Uchiha!

Aku mengangguk. Sasuke mengangkat seragamku sampai sebatas dada, lalu menurunkan celana training-ku sampau lepas. Sial. Betapa santainya dia menurunkan resleting celananya itu. Dan betapa aku mencintai penis perkasa miliknya. Sampai si 'ayam jantan' keluar dan mengacung sombong kearahku, Sasuke membuka lebar-lebar kedua pahaku. Dan menyelinap diantaranya. Kami kembali berciuman. Lalu Sasuke menjauh dan menggigiti payudaraku. Meremas yang satunya dengan gemas. Dan aku tidak melenguh. Aku hanya menutup mata dan menggigit bibirku rapat.

"Buka matamu."

Aku membukanya. Sasuke menyelipkan jarinya. Wajahku bersemu. Sasuke tetap datar tanpa cela.

Sampai vaginaku benar-benar penuh dengan cairan lubrikasi, penisnya kemudian mencumbunya dan menyelinap masuk dengan tegas. Aku nyaris menjerit kalau saja tidak memikirkan dulu bagaimana nasib bokongku kedepannya. Dan semoga Shikamaru tidak dihukum!

"Nggh!" Saat Sasuke memacu dirinya dengan penuh semangat, ia menyelipkan beberapa anak rambutku.

"Aku bisa menyelamatkan teman baru-mu itu. Jadilah nona manis selama aku tidak dirumah. Malam ini sampai besok sore."

"…Yahh!"

Terima kasih, Uchiha!

-0-

.

Hati mana lagi yang akan tercuri oleh binermu?

Menyaksikan bagaimana aku berdiri dan gentar menyapa dunia, Tuhan, Sadarkan dia.

Aku mencintainya.

.

-0-

20 menit setelah Uchiha pergi, dan 10 menit setelah sambungan parallel antara aku, Ino, dan Naruto berlangsung, bel apartment Uchiha berdenging sebanyak dua kali. Aku menghabiskan potongan ayam di piringku dan segera menuju pintu utama dengan mulut yang penuh. Dan saat aku membuka pintu, aku harap ada petir disekitar kepalaku.

"I-Itachi?!" Aku melihat pemuda tampan ini seperti hantu. Karena wajahnya sendu dan ia segera memelukku. Mendorongku masuk kedalam apartment dan menciumku keras. Aku memberontak. Ya Tuhan!

-0-

..

.

..

.

..

TBC

..

.

..

.

U-uh. Saya suka italic. Seperti rasa suka saya terhadap Itachi yang terus-terusan nolak untuk dijadiin uke. Ha-Ha!

Trafalgar Ami-ch: saya tau kamu pasti mau buat Ami-chan! XD Oke, ini dah lanjut ;D

Guest: Kurang ngerti.. model terjemahan... Sekarang saya yang kurang nger –oke kidding. Kalo chap 2 ini gimana? :v

Younghee Lee: kamu bukan lee si kepala batok kan? Oh, ya. Ini udah lanjut :D

echaNM: Uhh.. iya. Cewe polos itu memang uhh! Dan Sasuke –hahaha!No spoiler lah yea ;D

Nurulita as Lita-san: Reese aja :v saya bukan anggota Avenger lho! XD ketagihan? Ckckck. Pasti kamu mesu –nggak deng! Canda ;D Kepolosan Sakura akan tetap Sasuke nodai kok, tenang aja (?)

Hanazono yuri: oke! Ini udah, special untuk kamu XD

Undhott: oke. Hwaow! Panggil Reese ajah, belum gabung sama avenger soalnya :'D apdet cepet diusahakan. Kalo nggak kilat, ya asep deh (?)

Adora13: Sadis itu.. sesuatu. Oke!

Call me ridi: Gila! Keren! Makasih loh ya! Kamu satu-satunya yang muji gaya bahasa sesat ini, makasih loh ya :'D Btw, panggil aku Reese kece aja yah XD

Ayu Wahyuni: Gapunya akun? Nggak papah nggak papah :3 oke! Ini udah ;D

Shin chan: Iya! Akumahsemangatteruswalaunggakpunyapacal :'D oke, ini udah cepat! #plakk

Chiwe Sakura: Nama kamu kaya permen chewy. Suamimu? Nih #lemparItachi. oke. Ini udah keliatan gantengnya kan? Kayak saya kan? Oh, sop iler sedikit, ch. Depan dia bakal mendominasi :D

Byunae18: owwwohh! MAKASIH! Iya, tunggu aku ya hon ;* #dibuang

Miinami: beberapa bagian.. heu! Saya payah berarti :'D ntar di fix deh , biar ngerti XD Sasuke sadis ada alesannya, karena dia itu dulunya –ehh, no sop iler :P

:Typo itu hidup saya (alesan, sumpah!).. oke, saya tau typonya banyak beud, dan bakal dikoreksi, kok. Entah kapan #BOW iya! Semoga yang ini dah jelas ya ;D GANBATTE!

Ameko Yasazaki: Hooh! Oke-oke! Ini udah cepet kok #Plaked sankyuu mo :*

DeidaraTamvanJualPetasan: Penname kamu.. Hwaowh! Yandere? Akan diusahakan XD

Tinker Winkle: Hai! Salam kenal juga ;D Iya nih, walao Cuma sekilas :'D huuuahh! Oke, ini nggak terburu-buru kok, Cuma dikejar waktu (Sama aja, WOY) iya, tunggu saya terus yah :* SEMANGATT! Salam hangat :D

Uchihaliaharuno: Pusing beud nulis penname kamu XD.. Ni udah lanjut! Aku Laki ni ;D Tulen. Kalo nggak percaya periksa aja #Dibuang

Ao Bloom69: EH! Jangan dong! Kamu kan masih unyu-unyu! (Btw, saya beda setaun sama kamu :'D, yaitu 15) Saya juga ngakuin sih, yang English lebih simple dimengerti. Bahasa penulisan yang ini aja saya nggak ngerti #LHA?!

Sisi Pinkies: YEEE! Iya dek, ma'aci ya! YOSH!

Noerchan: EHM. Nggak Doerchan yak? #abaikan! Yeee! SETUJUU. Oke ;D

Jenanie: Aku juga suka (?) oke! Lanjuutt

Grentea Kim: OKE! SEMANGAT 45! Eh, oy! Saya Reese laa! Belum join sama avenger nih :v Oke, ni dah lanzuut ;*

Desypramitha26: Iya :'( Cuma mau seks doang –ehh! Nggak ding! Ntar bakal kebuka kok, perasaan mereka yang sesungguhnya (Bahasa loe Reese, ajib) iya ni, dan apdet :D

Sitieneng4: Iya! Okeh, karakter sasu memang sedang dicoba untuk se ic mungkin ;D iya, tunggu aku yaa~

-0-

A BIG THANKS FOR:

-THE REVIEWER:

Trafalgar Ami-ch, Guest, Younghee Lee, echaNM, Nurulita as Lita-san, hanazono yuri, undhott, adora13, call me ridi, Ayu Wahyuni, LVenge, shim chann, Chiwe Sakura, Byunae18, Miinami, , Ameko Yasazaki, DeidaraTamvanJualPetasan, Tinker Winkle, uchihaliaharuno, Ao Bloom69, Sisi Pinkies, noerchan, Jenanie, Greantea Kim, desyparamitha26, Sitieneng4.

-THE FOLLOWER AND FAVORITE:

Desyparamitha26, Grentea Kim, aumu07aida, zhealvgd, Jeremy Liaz Toner, Drisana620, uchihaliaharuno, Tinker Winkle, DeidaraTamvanJualPetasan, qaunitaar, Miinami, Ranindri, Kumada Chiyu, Lvenge, zielavienaz96, HitsugayaWaifu, hanazono yuri, Nurulita as Lita-san, Sweetiey, echaNM, Gue, azizaanr, Sitieneng4.

-0-

Betewe, panggil saya Resee aja, ya. Kenapa saya jadi lebay hari ini? Kenapa?! Apa karena saya jomblo?! Eh, adegan si saku yang disiram air itu ada di Drama I give my first love to you. Ada yang suka drama itu? Tell me.

Oke. Sampai bertemu sabtu depan

Ciaoo!

_Wifi_Slayer_

YANG NGGAK *PIIP* SEMOGA*PIIP*NYA *PIIIP*! AMINN!

Review yea ;D