| REBEL | CHAP 1 |
Author : Larasafrilia1771
Genre : Tragedy, Drama, Romance, Yaoi.
Cast : HunHan
ChanBaek
Binhwan
KaiDo
Rated : T-M+
.
.
.
A/N : FF ini gak terinspirasi dari apa – apa, Cuma khayalan sematan yang dituang dalam bentuk cerita. Cerita milik saya alamiah, buka remake apalagi jiplak punya orang. Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) Juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali sehun yang mutlak punya saya bhaqq ^o^
.
.
..
.
_REBEL_
"Maaf atas kelakuan adik saya"
"Ne, setidaknya anda bisa ajarkan lagi bagaiman berprilaku baik terhadap orang lain. Kau tampan juga sangat sopan, sayang sekali memiliki adik seperti itu"
"Ne, sekali lagi saya meminta maaf"
Berkali – kali Chanyeol meminta maaf pada yeoja berbadan besar dihadapannya. Luhan sang adik hanya terdiam, duduk angkuh di kursinya hingga ibu dan anak itu pergi dari ruangan. Maaf, ia tidak akan sudi melakukan apa yang kakaknya telah lakukan.
Namja cantik itu ingin sekali meninju yeoja yang telah seenaknya berbicara seperti itu kepadanya. Sudah gendut, jelek pantas saja anaknya mendapat pukulan manis darinya.
"Kami akan ganti semua kerugian yang adik saya perbuat" Ujar Chanyeol yang kembali duduk di kursi setelah kedua orang itu pergi dengan membawa uang untuk pengobatan sang anak. Luhan mendecih atas ucapan tersebut. Kakaknya memang terlalu royal dengan uangnya sendiri.
"Tidak perlu Tuan Park, anda telah menyumbang banyak untuk sekolah ini. Seharusnya saya yang sangat berterimakasih" Ujar Pria tua yang bernama Lee Sooman.
"Tapi saya merasa tidak enak. Salah satu ruangan nampak sudah tak layak pakai diujung koridor"
"Ne, itu ruangan olahraga"
Sang kepala sekolah tersenyum ke arah kakaknya, meski ya pria tua itu juga melakukan hal yang sama terhadapnya. Namun terkesan sangat memaksakan diri.
Luhan mendengus kesal. Suatu hal yang sangat dibeci olehnya, terduduk dihadapan seorang pria parubaya pemimpin sekolah yang menjadi tempatnya menimba ilmu. Perlu digaris bawahi kata "Menimba ilmu" tersebut, karena Luhan pikir hati dan otaknya tak berpikir seperti itu. Ia hanya ingin keluar dari rumah besar yang selama bertahun – tahun ia tempati bersama keluarganya. Mungkin bisa diralat, maksudnya bersama kakak karena kedua orang tuanya sudah meninggal saat dirinya berumur tujuh tahun.
Tak dapat dipungkiri kekesalah yang tengah merayapi setiap urat saraf kakaknya. Sudah hampir berkali – kali ia diberikan surat peringatan seperti saat ini. Hanya karena hal sepele "Memukul salah satu manusia yang cari mati padanya". Menurut Luhan itu hal yang biasa, sudah hampir berpuluh – puluh kali juga namun ia masih bisa tetap di sekolah yang "katanya" memiliki siswa berprestasi dari setiap penjurunya. Oh ya, satu yang terlupakan olehnya dimana sang kakak yang memiliki andil besar terhadap sekolah ini.
Park Chanyeol, kakak dari seorang Park Luhan hanya bisa menatap tak suka pada kertas yang sedang ia pegang sekarang. Hanya terdapat secarik kertas didalamnya, dengan tulisan komputer yang sebentar lagi mungkin akan dibuang. Sungguh Luhan berpikir jika tak ada gunanya sang kepala sekolah memberikan kertas yang tak bernilai harganya pada sang kakak.
PLUK
TRENG
Dan benar dugaan Luhan, saat mereka mulai pergi dari ruangan itu. Kertas yang berada digenggamannya sudah berada dalam tempat sampah. Ia hanya bisa menyeringai, berjalan mendahului sang kakak tanpa ambil pusing.
"Ambil tasmu dan kita pulang"
Ucapan dingin yang tak berpengaruh apa – apa pada dirinya. Luhan mendelik, berlalu begitu saja saat sang kakak dengan susah payah menahan amarahnya yang sudah diubun – ubun.
"-Berhenti dengan band mu yang tak jelas, aku sudah muak melihatnya"
Luhan berhenti, berbalik hingga mata mereka saling menatap satu sama lain. Tatapan benci atas apa yang telah kakaknya ucapkan.
"Berhenti untuk melarang semua keinginanku, dan sepertinya aku akan pulang terlambat"
Chanyeol hanya bisa menatap dingin kepergian sang adik dari hadapannya. Namja tinggi itu kesal, dan ia hanya bisa memarahi Luhan semampunya juga tanpa bisa memukul adiknya. Terlalu berat tangan ini untuk melakukan itu. Jika bisa ia memberikan suatu cubitan kecil untuk adik kesayangannya, hanya sekedar memberi hukuman. Namun nyatanya sulit, Chanyeol hanya memperingatakan tanpa bisa melarangnya. Karena ia takut Luhan semakin memberontak. Dan untuk kejadian ini, ia hanya berpikir Luhan hanya kekurangan kasih sayang kedua orangtuanya.
.
.
.
_REBEL_
"Anak seorang koruptor tak pantas berada di sini"
"Berhenti berbicara dengan mulut busukmu itu"
"Kau pecundang seperti ayahmu yang sudah mati itu. Berhenti untuk menghabiskan uang negara"
PLAK
"Kau tak tahu apa – apa"
Cukup dengan semua cacian yang berimbas kepadanya. Baekhyun lelah dengan semua yang mereka katakan kepadanya. Mereka tak berpikir bagaimana sakit hati namja manis itu dengan semua ucapan tersebut.
Dengan wajah memerah menahan amarah, Baekhyun berlalu dari hadapan yeoja tak tahu diri bernama Soehyun itu. Tangan ini sudah menampar pipi Soehyun dengan cukup keras. Baekhyun tak peduli, ia hanya ingin pergi dari sini, mungkin sebaiknya dari sekolah ini karena ia sudah lelah dengan semua yang mereka perbuat terhadapnya.
.
Byun Baekhyun adalah namja yang baik dan tidak pernah melakukan hal seperti tadi terutama kepada yeoja. Ia adalah anak dari seorang presiden Korea dengan kekayaan berlimpah. Namja itu adalah sosok yang periang dengan segudang bakat yang ia miliki. Baekhyun yang baik, sopan dan juga penyayang dan itu adalah Baekhyun dan dulu karena sekarang Baekhyun tak seperti itu lagi.
Ayahnya Byun Jaehyun ditetapkan sebagai tersangka atas tindakan korupsi. Jabatan Presiden yang ia pegang langsung dicopot tanpa ampun setelah mengetahui itu. Rakyak Korea gempar saat mengetahui itu. Hingga setelah penyelidikan dan telah ditetapkan sebagai tersangka, akhirnya sang ayah harus dipenjara selama tigapuluh tahun dan denda hingga tigaratus milyar won.
Namun belum sempat Tuan Byun dipenjara. Pada suatu ketika Baekhyun mendapati sang ayah yang sudah terbujur kaku di ruang kerjanya. Dengan wajah membiru sambil bersandar pada kursi kerjanya. Diduga Tuan Byun meninggal karena bunuh diri dengan menengguk racun serangga sebagai jalan terakhirnya. Dan pada saat itu Baekhyun berubah. Meski kekayaan sang ayah tidak habis begitu saja, namun Baekhyun terus saja dicecar, dimaki hingga seperti sekarang ini. Keluarganya adalah imbas dari semua perbuatan ayahnya.
.
.
.
_REBEL_
Saat menginjakan kaki untuk keluar dari bangunan, langkah kakinya terus dibawa menyusuri setiap jalanan yang tengah ia lalui. Sambil terus berlari, sesekali ia melirik ke arah belakang, dimana para bodyguard suruhan kakeknya tengah berusaha mengejar.
Jinhwan namja itu hanya bisa mendesah frustasi. Terus berlari tanpa ampun untuk menghindar dari para pria dengan jas hitam rapi tersebut. Lebih baik ia kabur dari bangunan itu dari pada harus menuruti setiap perkataan sang kakek. Memangnya ia mainan yang bisa dikendalikan sesuka hati.
Tap...
Tap...
Tap...
JREKKK
BRUK
Tubuhnya tersungkur ditanah dengan kepala yang jatuh terlebih dahulu. Ia meringis menahan sakit yang menjalar dari kepala karena terbentur jalanan aspal. Ingin bangkit, namun ia menghela napas berat. Meronta semampunya karena kini ia sudah tertangkap oleh para bodyguard itu.
"Maaf Tuan muda, anda harus kembali"
"LEPASKAN, HEY APA – APAAN KAU"
Jinhwan meracau dan meronta dari kukungan itu. Berusaha dengan sekuat tenaganya untuk kembali berlari kabur. Ia tak mau kembali ke bangunan itu. Cukup ia hanya ingin bebas dan melakukan aktifitas di luar bangunan juga, tidak untuk seperti sekarang dimana ia hanya menghabiskan masa remajanya di bangunan yang "katanya" istana tersebut.
Perlu diingat, Jinhwan adalah anak dari mendiam Pangeran Seunghwan dan Putri Erisca. Ia cucu dari seorang Pria bernama Jaehwan yang diangungkan diseluruh penjuru Korea. Jinhwan tidak terlalu menyukai silsilah keluarganya. Karena sejatinya sebutan keturunan "Berdarah Biru" itu tidak ada, karena ia tahu semua manusia terlahir dengan darah yang merah.
Dan untuk usaha kabur kali ini, Ia melakukan hal itu karena merasa terkekang dengan keadaannya. Bertahun – tahun selama hidupnya hingga sekarang, ia hanya menghabiskan waktunya di dalam bangunan tersebut. Jelas Jinhwan tak terima, ini zaman modern bukan zaman kerajaan lagi. Ia ingin hidup seperti remaja pada umumnya. Bersekolah di sekolah umum, bermain dengan teman sebayanya dan juga banyak menghabiskan waktu di luar. Tak seperti dirinya yang selalu dikurung dan tak diizinkan untuk keluar. Sang kakek selalu bilang kepadanya, jika saja ia dibebaskan maka banyak orang jahat yang mengincarnya. Uhh, selalu seperti itu dan ia berpikir jika sang kakek hanya ingin menakut – nakutinya.
.
Jinhwan segera di bawa menuju bangunan bak neraka itu kembali. Dengan perasaan yang sangat kesal ia hanya bisa mendengus dan mengumpat saat sang bodygruard itu menyeretnya paksa untuk masuk kembali ke bangunan.
Kakeknya telah berada di ruang utama untuk menunggunya kembali. Pria itu nampak sangat angkuh dengan wajah keriput juga perawakan yang mungkin hampir ringkih itu.
Jinhwan mendelik sebal, ia tak mau bertatapan dengan kakeknya.
"Sepertinya kau sudah tak betah di bangunan ini" Ujar sang kakek dan Jinhwan hanya menatapnya kesal.
"-Kau selalu membangkang tak seperti kakakmu"
"BERHENTI MEMBANDINGKANKU"
Pria bernama Jaewan itu menatap cucu bungsunya menyelidik. Memang bukan hal baru baginya dibentak seperti itu. Ya, ia cukup tahu watak seorang Kim Jinhwan.
"Jaga sopan santunmu, jika masyarakat tahu keluarga kita akan tercoreng"
"DAN AKU BUKAN KELUARGAMU"
Kembali Jinhwan tak bisa untuk berucap agak tenang. Ia pembangkang dengan segala kelakuan buruk lainnya. Entah kenapa namja mungil itu melakukan hal tersebut. Padahal segala keinginannya selalu dipenuhi oleh semua yang berada disini. Kakaknya Kim Junhoe tak seperti dirinya. Kakaknya itu penuh wibawa juga sifatnya yang penurut. Jelas sangat berbeda, membuat pria parubaya itu lelah menghadapi sikap sang cucu bungsunya.
"Dia sudah keterlaluan"
.
.
.
_Author POV_
20:00 PM
Dinginnya udara tak membuat semangatnya luntur begitu saja. Berjalan sambil membawa masing – masing alat musiknya. Kecuali Luhan yang membantu membawakan satu set drum milik Hanbin karena posisinya sebagai vokal.
Mereka berempat, Luhan, Hanbin, Kai dan D.O. Membuat sebuah grup band dengan nama EXO. Dimana Luhan sebagai main vokal, Hanbin memegang drum, Kai memegang bass dan D.O gitar yang kadang – kadang suka memainkan bass juga. Keempat namja itu akan menggelar show di pinggiran kota. Ya meski hanya pertunjukan kecil – kecilan, namun fans mereka cukup banyak. Dengan wajah yang memang rupawan meski terlihat sangat begajulan.
Sudah beberapa tahun mereka bersama, tepatnya saat duduk di bangku sekolah yang sama. Membuat sebuah band beralihan Rock Pop dengan konsep brandalan yang selalu melekat pada diri mereka. Jelas bukan bergaya sok metal, hanya sebuah goresan kecil untuk mendukung penampilan. Mungkin tatoo dan beberapa tindik yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya.
Dan mereka mulai memasuki ruangan yang nampaknya sudah banyak fans yang menunggu disana. Luhan menghirup aroma kebebasan saat ini. Inilah yang dia iginkan, bukan seperti kakaknya yang harus berkutat dengan dokumennya setiap hari.
"Wah sepertinya fans kita semakin banyak" Ujar Dio exaited.
"Maka dari itu kita harus menampilkan yang terbaik" Bijak Hanbin pada semua anggota.
Semuanya mengangguk setuju. Inilah yang mereka suka saat ini. Kebersamaan, kebebasan dan rasa kasih sayang satu sama lain. Membuat mereka merasakan arti hidup yang sebenarnya meski dengan jalur yang agak melenceng. Ini gayanya, tak ada yang bisa menghalangi suatu keinginan seseorang.
Mereka berempat sudah seperti keluarga. Apalagi Luhan yang memang sudah tak terlalu mementingkan keluarga aslinya sekarang. Ia merasa kebersamaan keluarga yang sesungguhnya adalah seperti sekarang. Susah senang mereka jalani bersama juga tanpa pengkhianatan.
.
.
"Aku pesan tiket kelas utama"
"Ini bukan konser mewah band papan atas"
"Kalau begitu aku pesan tiket paling depan, dekat dengan vokalis EXO"
"Cihh dasar jalang, satu tiket untukmu dan jangan berani menyentuh siapapun member EXO"
"Aku tak janji"
"Ya, kau KEPARAT"
Xiumin namja berpipi cubby itu hanya bisa mendengus sebal kala yeoja genit tapi berlalu begitu saja dari hadapannya. Benar – benar obsesi pada anggota EXO sangat tinggi, awas saja jika sampai dia mengganggu para member.
"Next!"
Dua orang yeoja yang kira – kira masih duduk di bangku JHS adalah pembeli berikutnya. Xiumin berkacak pinggang, tak percaya melihat dua bocah perempuan yang bisa tahu mengenai konser ini.
"Ya, herarusnya kalian pulang saja dan kerjakan pekerjaan rumah" Ucap Xiumin.
"Tapi kami ingin melihat Luhan Oppa bernyanyi"Ujar salah satu dari keduanya.
"Ini khusus orang dewasa, anak kecil dilarang masuk"
"Tapi kami akan membeli tiketnya"
Xiumin menggeleng, susah juga memperingatkan bocah ini. Dengan hati yang terpaksa ia menyerahkan dua tiket untuk kedua bocah tersebut yang disambut bahagia oleh keduanya.
"Sudah – sudah cepat sana"
"Terimakasih Oppa"
"Ne, ne hati – hati didalam"
Ia hanya bisa tersenyum tak kala kedua bocah itu telah berlalu. Ya memang pesona member EXO tak terkalahkan dengan artis yang memang sudah terkenal, meski hanya sebuah band jalanan tapi fansnya memang banyak.
"OK, Next!"
.
.
.
Mereka sudah berada di atas panggung kecil yang sudah dibuat sedemikian rupa. Fans pun sudah memenuhi tempat itu, dan sekarang waktunya mereka memperlihatkan suatu karya baru yang memang diciptakan oleh Luhan sendiri. Suatu lagu yang ia buat sendiri dan diaransement bersama. Lagu tentang kehidupan dimana banyak orang yang bermuka dua.
Luhan menatap Xiumin yang berada di ujung sana. Memberikan komando untuk mempersipakan segala, seperti speaker dan lain- lain.
Dari ujung sana nampaknya Xiumin sedang mengurusi beberapa fansnya yang membangkak. Dengan tenaganya namja cubby itu menyeret beberapa fans yang tak memenuhi peraturan yang telah dibuat. Luhan tidak terlalu mengerti memang tapi yasudahlah.
.
.
"Ya Taehyung, kau bisa bantu aku untuk membenarkan tombol speaker di ujung sana" Ujar Xiumin pada namja yang tengah membenarkan lampu. Xiumin terpaksa menyuruh Taehyung karena fans yang datang untuk membeli tiket semakin banyak, dana ia tak bisa bekerja sendirian.
"Tapi, aku tidak bisa Xiumin-shii"
"Kau naikan semua tombol biru, kecuali merah yang berada di sisi. Awasa jangan sampai salah"
Dan saat itulah Taehyung bergegas pergi. Mencari – cari sesuatu yang dimaksud Xiumin dan pada akhirnya ia menemukannya. Kebingungan melandanya kala bukan satu saja tombol yang ada disana, melainkan ada banyak tombol yang membuat namja itu kebingungan.
"Aduhh, aku harus tekan tombol yang mana"
Taehyung menaikkan semua tombol berwarna merah, padahal perintah tadi ia seharusnya menaikkan semua tombol yang berwarna biru. Dan itulah kesalahan fatal, namun bagimana lagi ia tak mengerti dan dengan asal itu menekan tombol apa saja yang kira – kiranya berfungsi.
.
Surakan pada fans membuat semangat mereka semakin membara. Lampu yang sudah menyala juga speaker yang telah aktif membuat Luhan merasa bangga memilih Xiumin sebagai orang kepercayaannya.
Ya mungkin ini akan berjalan sesuai rencana. Lagu baru miliknya yang ia buat sendiri dan ia akan nyanyikan sekarang.
Musik pun berbunyi, menghantarkan suatu getaran yang membakar semangat seorang Park Luhan yang notabanenya adalah seorang dari keturunan terpandang. Ia tak akan membawa status sosialnya kemanapun, karena itu semua adalah milik orangtuanya dan ia tak ingin sedikitpun membanggakan kekayaan juga semua yang dimilki keluarganya. Bisakah sekarang ia sejenak melupakan itu semua. Hanya ini yang membuatnya bahagia, musik dan semua yang ia inginkan namun bukan harta tak berguna itu.
(The Way Back- One OK Rock)
I am still broken in two parts
Aku masih hancur di dua bagian
There is my mind there is my heart
Ada pikiran yang ada di hatiku
Nowhere for me to run and hide
Tempat untuku lari dan bersembunyi
You only live to serve yourself
Kau hanya hidup untuk melayani diri sendiri
Come crawling back when you need help
Datang merangkak kembali saat kau membutuhkan bantuan
After you burn there's no one else
Setelah kau terbakar, tak ada yang lain
You know the way back
Kau tahu jalan kembali
You just crash right into me
Kau hanya terjatuh tepat kepadaku
But it's not so easy now
Tapi itu tidak begitu mudah sekarang
Oh way back when
Oh jalan kembali kapan
Now that I've seen the other you
Sekarang aku sudah melihat yang lain dari dirimu
How do I know which one is true?
Bagaimana aku tahu mana yang benar?
How many faces do you have?
Berapa banyak wajah yang kau miliki?
Think that you've got me figured out
Berpikir bahwa kau telah membuatku tahu
All of this time without a doubt
Selama ini tanpa ragu-ragu
Don't even think that you know me
Jangan pernah berpikir kau tahu aku
You know the way back
Kau tahu jalan kembali
You just crash
right into me
Kau hanya terjatuh tepat kepadaku
But it's not so easy now
Tapi itu tidak begitu mudah sekarang
Oh way back
Oh jalan kembali
When you only had one face
Bilang kau hanya punya satu wajah
Saving grace now
Sifatmu yang baik sekarang
You know the way back
Kau tahu jalan kembali
(You know the way back)
(Kau tahu jalan kembali)
I am still broken in two parts
Aku masih hancur di dua bagian
There is my mind there is my heart
Ada pikiran yang ada di hatiku
Nowhere for me to run and hide
Tempat untuku lari dan bersembunyi
You know the way back
Kau tahu jalan kembali
You just crash right into me
Kau hanya terjatuh tepat kepadaku
But it's not so easy now
Tapi itu tidak begitu mudah sekarang
Oh way back
Oh jalan kembali
When you only had one face
Bilang kau hanya punya satu wajah
Saving grace now
Sifatmu yang baik sekarang
You know the way back
Kau tahu jalan kembali
(You know the way back)
(Kau tahu jalan kembali)
(Way back)
(Jalan kembali)
(Way back)
(Jalan kembali)
(You know the way back)
(Kau tahu jalan kembali)
.
.
.
Mereka semua menikmati setiap alunan musik tersebut. Terus melompat, dan antusias penonton semakin menggila tak kala Luhan yang mulai berteriak dengan kerasnya. Riuh para fans setianya membuat siapapun terpesona melihat siapa yang tengah mereka idolakan. Seorang namja dengan wajah yang sangat mempesona, perpaduan tampan hingga cantiknya membuat semua orang iri. Namun jauh dari itu orang – orang tak terlalu mengetahui bagaiman kehidupan seorang Luhan, karena hanya teman – teman dekatnya lah yang mengetahuinya.
.
"Aishh, ini berisik sekali"
"Speaker apa ini, merusak telinga orang saja"
Para pejalan kaki yang melewati kawasan itu segera menutup telinganya tak kala mereka melewati sebuah gang dipinggiran kota tersebut. Siapa yang dengan bodohnya memasang speaker aktif di luar seperti ini dengan suara yang cukup keras.
"Aishh, telingaku bisa pecah"
"Ayo cepat pergi"
Suara sirine mobil polisi terdengar saat itu. Beberapa polisi mulai keluar satu persatu dan secepatnya memasuki tempat dimana kegaduhan berasal. Bukan hanya polisi memang tapi ada satu namja yang statusnya bukan sebagai polisi ataupun tetek bengeknya.
Ya namja dengan perawakan tinggi itu ikut memasuki tempat tersebut. Berjalan dengan cepat untuk menangkap siswa – siswanya yang melakukan tindakan bak preman seperti ini.
Perlu diingat namja tersebut adalah salah satu guru dengan predikat yang paling menjunjung tata tertib sekolah. Dan mengetahui jika beberapa muridnya terlibat di acara ilegal seperti ini, membuatnya gatal untuk tak turun tangan.
.
Riuh orang – orang disana saat mendapati polisi yang mulai memasuki ruangan itu. Berpencar dan terus berlari menghidari polisi yang siap menahannya.
"SHIT"
Suara bising dari microphone yang jatuh membuat ruangan itu semakin kacau. Luhan yang melihat banyak polisi segera pergi bersama semua teman – temannya. Ini sudah tak beres, ia harus segera pergi dari sini.
"Kai kau lewat atas bersama Dio. Biar aku bersama Hanbin ke bawah"
"Kalian hati – hati"
Secepatnya mereka berlari untuk menghindar. Luhan melihat Xiumin yang mencoba menahan polisi itu untuk menangkapnya. Ahh Xiumin memang jagonya dalam urusan seperti ini, tapi ia juga kasihan Xiumin terlalu baik untuk para brandal ini.
"Luhan cepat pergi" Suara Xiumin masih terdengar kala itu. Tapa disuruhpun ia akan secepatnya berlari untuk kabur.
"Apakah ini mimpi buruk, Lu tolong bangunkan aku" Ujar Hanbin berlebihan.
"Ini bukan mimpi bodoh, ahh lewat situ"
Dan mereka mencoba untuk membuka pintu belakang yang menjadi akses daruratnya. Luhan melirik ke arah belakang takut ada salah satu polisi yang masih mengejarnya. Dan untuk semua kesialan yang menimpanya mungkin lain kali Luhan harus lebih baik terhadap apapun yang terjadi, termasuk sekarang.
"Oh SHIT"
Tanpa harus Luhan mengumpat lagi. Kini Luhan juga Hanbin telah ditangkap oleh polisi yang dengan cerdasnya mengetahui keberadaannya. Merontapun rasanya tak mungkin, sekeras apapun ia meronta mungkin sasaran terakhir adalah peluru yang akan menancap jika ia terus melakukan pemberontakan.
"Siswa tak boleh melakukan hal seperti ini lagi" Ujar salah satu namja yang bukan dari pihak kepolisian. Luhan memutar bola matanya jengah, menatap siapa yang sedang berada dihadapannya.
Siapa lagi jika bukan si Oh Sehun, seorang guru yang juga merangkap sebagai petugas kedisiplinan sekolahnya. Luhan sangat membenci sosok angkuh itu, bisanya selalu meremehkan, merasa dirinya paling benar dan terus menertibkan apapun yang menurutnya berada dalam hal melenceng. Terus saja seperti itu dan melakukan hal ini terhadapnya mungkin tak akan ada ujungnya. Karena suatu saat nanti ia akan melakukannya lagi tanpa sepengetahuan si Oh Sehun itu.
Dan Luhan tak berbicara apa – apa saat dirinya juga Hanbin dibawa kedalam mobil untuk dibawa ke kantor polisi. Ini memang baru pertama ia ketahuan seperti ini. Lantas apa kesalahan yang tadi diperbuat, ia rasa semuanya berjalan sesuai rencana.
.
.
Dan apa yang sangat Luhan benci terulang kembali. Harus duduk dihadapan seseorang yang jelas – jelas tengah mengintrogasinya. Luhan sedari tadi tak ingin mengucapkan apapun selain diam dan Hanbin pun melakukan apa yang ia lakukan. Karena sejatinya ia sedang memikirkan keadaan Kai juga Dio yang entah sama sepertinya atau tidak juga niatan mengacuhkan pria botak itu. Petugas itu sepertinya sudah mulai jengah dengan caranya mengacuhkan sang polisi tersebut. Memangnya enak, jadi jangan macam – macam.
"Ukh dasar kalian berandal, aku tak akan memberikan kalian sangsi kurungan karena kalian masih pelajar. Tapi aku akan memberi surat ini dan harus ditandatangani oleh orangtua kalian. Atau mungkin aku panggil kedua orangtua kalian kalian sekarang"
"Aku tidak punya orang tua" Ujar Luhan.
"Aku juga, orang tuaku sibuk dan tak mungkin mengurusi hal tak penting seperti ini" Sambung Hanbin.
"Ya makanya kalian jangan melakukan hal seperti tadi. Jika kalian sudah tahu kenapa masih melakukan hal bodoh seperti itu, belajarlah dengan giat jangan jadi berandalan seperti ini"
BRAK
"Ya ajusshi, berhentilah berbicara aku ingin pulang" Luhan menggebrak meja dengan cukup keras. Mengacuhkan siapa yang sedang berada dihadapannya.
"Tunggu hingga keluargamu datang bocah, dasar sialan"
Polisi itu menahan amarahnya yang sudah memuncak, menghadapi bocah sialan seperti ini membuat panas hati saja.
"Sehun-shii aku tak percaya mereka adalah murid – muridmu. Apalagi bocah sialan ini" Tunjuk sang polisi ke arah Luhan.
Sehun tersenyum simpul, menghampiri mereka dan mulai mengusap kedua kepada bocah berandalan tersebut yang disambut dengan tatapan tak suka. Ya ia juga tak tahu kenapa bisa memilki murid seperti mereka.
"Aku sudah menghubungi keluarga kalian"
.
Dan sesuai ucapan Sehun keluarga dari kedua bocah itu akhirnya datang. Dimana Chanyeol sang kakak dari Luhan juga seorang pria parubaya yang diyakini bukanlah ayah dari seorang Kim Hanbin. Tidak mungkin orang sekelas Tuan Kim datang ke tempat seperti ini untuk membawa anaknya. Dan dapat diyakini jika pria parubaya tersebut adalah orang suruhan Tuan Kim.
"Tuan muda maaf saya terlambat" Hanbin tersenyum pada pria tersebut. Ini tidak terlambat malahan terlalu cepat sebelum polisi akan menceramahinya lagi.
Luhan yang disebelahnya hanya bisa menatap namja tinggi yang kini sedang berjabat tangan dengan orang yang sedari tadi mengintrogasinya. Ia heran kenapa kakaknya selalu kenal dengan banyak orang. Entah itu seorang polisi ataupun petani. Memangnya dia sebegitu terkenalnya di Korea.
"Oh Tuan Park saya pikir anda siapa, kau pasti sibuk dengan perusahaan besarmu itu"
"Begitulah, jadi apakah sekarang saya boleh membawa adik saya pulang" Mereka bersalaman, dengan tangan Chanyeol yang menyelipkan suatu amplop disana. Luhan berkali – kali mendecih, kakaknya memang pintar dan juga dermawan.
"Oh ne, silahkan Tuan Park. Namun saya ingin adik anda diberi pengawasan lebih saja agar kejadian ini tak terulang kembali"
"HEY DASAR KAU MULUT KAMBING"
Setelah Luhan berteriak di hadapan petugas. Dan saat itu lah Luhan kembali menggebrak meja tersebut. Berjalan pergi dari tempat itu mendahului sang kakak juga Sehun yang nampak sedang berdiri disampingnya. Benar – benar petugas itu, berbicara dengan sopan dihadapan kakaknya dan kepadanya dia berbicara dengan lancang sekali.
Melihat kedua patung tinggi itu membuatnya muak. Dimana sang kakak di sebelah kirinya dan Sehun berada di sebelah kanan. Uh, melihat mereka berdua ia menjadi ingin muntah. Luhan mendengus lagi saat matanya tak melihat Hanbin yang tadi baru saja duduk bersamanya. Cepat sekali mereka pergi.
.
"Luhan, kau mau kemana"
Ia acuh saat lengannya sudah ditahan oleh sang kakak. Salju turun malam ini membuat hatinya berantakan entah kenapa. Sudah seperti ini ia jadi teringat kembali masa kecil dulu.
"Lu ayo kita pulang, aku tak akan memarahimu" Bujuk Chanyeol.
Luhan tak bergeming, cairan yang membendung di pelupuk matanya sudah sangat siap untuk meluncur bebas. Disaat yang tidak tepat seperti ini ia melakukan hal yang mungkin sangat bodoh. Bukan masalah di kantor polisi tadi, namun ini. Ia menangis sambil berjalan dengan lengan yang dicekal oleh Chanyeol. Jangan sampai kakaknya melihat ia menagis seperti ini. Jika ia ketahuan bisa rusak jati dirinya sebagai vokalis EXO.
"Lu kau menangis, Oh Tuhan kau bisa kedinginan dengan pakaian seperti ini"
Saat pergerakan Luhan sudah mulai melemah. Namja tinggi itu segera menangkup pipi adiknya tersebut, melihat air mata yang sekarang sudah mengalir begitu saja dari pipinya. Jika sudah begini Chanyeol merasa Luhan yang dulu kembali dan bukan Luhan yang sok menjadi anak berandal padahal cengeng.
"Berandal tidak menangis seperti ini" Ujar Chanyeol dengan tangan yang mulai menghapus air mata tersebut. Luhan semakin menjadi dan Chanyeol menjadi aneh sendiri. Hingga hawa dingin ini membuat tubuh mereka hampir beku, dan yang paling tua memutuskan untuk menuntun Luhan masuk kedalam mobil.
Sekesalnya ia pada Luhan tentu ia tak akan membiarkan Luhan mati beku. Ia masih beprikemanusiaan dan sebenarnya sangat sayang pada adiknya. Namun sikap Luhan sendirilah yang membuatnya mejadi jengkel. Anak itu memang selalu memancing amarahnya, namun entah kenapa Chanyeol hanya berani memarahinya saja tanpa memberikan hukuman. Chanyeol tidak yakin jika hukuman adalah hal yang baik bagi adiknya, karena dimarahi sedikit saja sudah seperti ini bagaimana jika dihukum.
Lagipula setelah berbincang singkat dengan Sehun tadi. Ia merasa harus lebih memperhatikan Luhan dengan baik. Bocah itu masih sangat labil di umur yang baru menginjak tujuhbelas tahun. Setidaknya nanti ia akan berusaha untuk adiknya, meski kesibukannyalah yang menjadi faktor utama.
Dan di tengah salju turun malam ini. Mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh darisana. Chanyeol tersenyum saat melewati Sehun yang nampaknya sedang membuka pintu mobilnya sendiri.
"Hati – hati jalanan pasti licin" Ujar Chanyeol sedikit terkikik dengan tangan yang masih merangkul bahu adiknya.
"Kau juga Yeol"
Dan saat itulah mereka mulai pergi dari kawasan itu. Di tengah salju yang turun seperti ini, ada saja kejadian yang membuat Chanyeol merasa bingung dengan sikap Luhan. Dimana sebelumnya bocah ini menjadi seorang yang garang dan sedetik kemudian berubah menjadi bocah kecil kesayangannya dulu. Benar – benar sangat labil namun Chanyeol memaklumi itu.
"Aku akan menghubungimu nanti"
.
.
.
_REBEL_
Baekhyun menatap pantulan dirinya melalui cermin besar tersebut. Membenarkan setiap celah yang mungkin membuat penampilannya sedikit buruk.
Dengan pakaiannya sekarang, dimana ia yang tengah mengenakan jeans hitam yang sedikit robek dibagian lutut, dipadukan dengan jaket kulit hitam dan tak lupa kaus putih serta aksesoris yang menunjang penampilannya.
Baekhyun mengambil sesuatu dari arah meja riasnya. Benda yang tidak mungkin ia lupakan sampai kapanpun. Ya, eye-liner, benda kesukaannya yang akan membuat matanya terlihat semakin tajam.
Berkali – kali ponselnya bergetar, entah itu panggilan maupun pesan masuk. Baekhyun tetap mengacuhkannya dan fokus saat tangan lihainya memoleskan eye-liner tepat di kelopak mata.
"Ohh lihatlah para hidung belang itu, menjijikan tapi punya banyak uang" Baekhyun mengutaran apa yang ia ingin katakan tepat dihadapan cermin. Berbicara mengenai sesuatu pada dirinya sendiri. Sungguh lucu dan Baekhyun nampak seperti orang yang sedang terganggu mentalnya.
"Ingalah jika aku bukanlah Baekhyun yang dulu"
.
.
.
T
B
C
.
.
.
Mudah – mudahan ada yang minat buat bacanya, disini saya nyantumin beberapa couple gitu dan ditambah dengan Binhwan. Kritik dan saran saya tampung ya, dan masalah lagu nya OOR mungkin menurut saya itu lagu yang genre nya rock pop gitu enak didenger meskipun belakangan ini OOR jadi lebih ke pop nya hehe.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
