Hola Minna. Ini fic request yang saya buat. Masih gaje sih.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.

.

Attention : Fic ini adalah request dari mitsu-tsuki Fic ini adalah fiksi belaka. apabila ada kesamaan atau kemiripan di dalam fic atau cerita lain dalam bentuk apapun itu adalah tidak disengaja sama sekali .

.

.

.

"Hmm, jadi kau ditinggal sendiri di sini dengan Neji begitu?"

Naruto benar-benar menempati janjinya. Dia benar-benar mengantar Hinata pulang. Bahkan Naruto sampai menunggu di dekat kelasnya. Hinata senang, ternyata senpai-nya masih seperti dulu. Tidak pernah berubah sedikitpun. Ahh tidak. Naruto memang tidak pernah berubah. Bagaimana bisa orang seperti Naruto berubah? Dia tetaplah senpai-nya yang baik dan ceria seperti dulu.

Dan setelah dari kereta itu, Naruto banyak bertanya mengenai Hinata yang akhirnya pindah kemari. Memang sih aneh, sudah tinggal di Tokyo, kenapa pula tiba-tiba pindah kemari tanpa alasan yang jelas? Sendirian lagi. Yah, walau sama Neji si kakak sepupu. Tapi tetap saja akan terasa aneh.

"Ya, karena aku tidak suka di Tokyo," jawab Hinata sekenanya. Dia juga bingung alasan apa yang cocok untuk memberitahu Naruto. Lagipula... Hinata mana boleh lagi bicara soal perasaannya pada senpai-nya ini. Karena Naruto sudah jadi kekasihnya Sakura senpai. Itu masalahnya. Yah, walaupun namanya mencoba, tapi kan mereka tetap sepasang kekasih yang diakui olehs seisi sekolah.

"Heh? Kenapa tidak suka? Tokyo kan keren! Kalau aku sudah jadi pemain bola hebat, aku juga mau ke Tokyo. Hinata-chan mau ikut denganku?" tawar Naruto.

Wajah Hinata masih menunduk ragu mendengar kata-kata senpai-nya itu. Cahaya matahari sore bahkan menyamai warna rambut pirangnya itu.

"Bukankah... Sakura Senpai yang harusnya Naruto Senpai ajak?"

"Sakura-chan? Hmmm tentu. Dia orang nomor satu yang akan kuajak. Tapi... kau orang kedua selanjutnya yang kuajak. Karena kau adikku yang manis."

Lagi-lagi soal adik. Bisakah tidak mengatakan soal adik dulu?

Walaupun itu adalah hubungan abadi yang sangat menyenangkan, tapi dianggap adik oleh orang yang kau sukai, tentu saja tidak menarik. Apalagi perasaan tak terbalas. Rasanya...

"Ternyata pulang dengan Naruto ya?"

Neji, pemuda berambut panjang berwarna cokelat dan bermata mirip Hinata ini sudah bersedekap dada di depan pagar rumah minimalis itu. Ini adalah rumah Hyuuga dulu. Tapi karena tidak ada yang menempati, Neji memilih tinggal di sini. Lagipula, bisa bebas tinggal sendirian adalah impian Neji. Dan sekarang jadi berdua dengan adik sepupunya yang entah kenapa ngotot ingin ikut tinggal di sini. Kalau saja tidak ada Neji di sini, mungkin Hinata tidak akan pernah diijikan tinggal di Konoha lagi.

"Yo Neji!"

"Hinata, kalau kau ingin pulang dengan Naruto, katakan padaku. Aku hampir saja menelpon sekolah karena kau belum pulang juga," nasihat Neji, mengabaikan sapaan Naruto tentunya. Sejak dulu, mereka memang dekat sebenarnya, Neji, Naruto dan Sasuke. Sayang setelah Sasuke pindah entah kemana, karena tak ada kabar darinya, Naruto lebih fokus ke sepak bolanya, dan Neji yang ikut doujo keluarga Hyuuga tak jauh dari rumahnya. Doujo itu sendiri masih di kelola oleh keluarga Hyuuga walau pamannya, Hyuuga Hiashi―ayah Hinata―sudah jarang memantau doujo itu lagi sejak pindah ke Tokyo.

"Hei Neji! Aku menyapamu tahu! Tidak sopan sekali kau sebagai tuan rumah!" rutuk Naruto yang merasa tak diacuhkan.

"Aku sudah bertemu denganmu seharian ini, kita sekelas, kenapa kau bersikap kita ini sudah lama tak bertemu saja," sindir Neji. Yah, dia dan Sasuke memang setipe. Sama-sama berdarah dingin dan cuek. Naruto sendiri tak mengerti kenapa dua temannya sangat mengerikan seperti ini! Benar-benar di luar dugaan!

"Maaf Neji-Nii. Aku hanya... sebenarnya aku mau bilang tapi aku... lupa," jelas Hinata dengan suara kecilnya. Dia tak terbiasa bicara dengan suara besar. Apalagi keluarganya memang menganut tata sopan santun kalau bicara dengan orang yang lebih tua.

"Ya sudah. Masuklah ke dalam. Ini sudah menjelang malam."

"Baik Neji-Nii. Sampai jumpa, Naruto Senpai," kata Hinata sambil menunduk dalam pada Naruto.

"Ok Hinata-chan! Besok aku jemput ya!"

"Hei! Kau itu harusnya jemput Sakura tahu!" timpal Neji.

Hinata hanya mengangguk singkat lalu masuk ke dalam rumah setelah dilirik oleh Neji sekali lagi.

"Aku juga akan jemput Sakura-chan!" tambah Naruto.

"Katanya kau ini pacaran dengan Sakura, kenapa malah mengantar adik sepupuku pulang?"

"Sakura-chan ada kegiatan klub. Dia minta aku pulang duluan! Hehehe... kau sendiri tidak di doujo pamanmu?"

"Sudah selesai. Kau tidak pulang?"

"Kau mengusirku? Tidak memintaku mampir?"

"Aku bosan melihatmu. Lagipula, di sini hanya kami berdua yang ada. Kau pikir aku sekarang bisa memasukkan laki-laki sembarangan ke dalam sini?"

"Heh! Apa-apaan kau ini? Aku ini bukan laki-laki mesum tahu! Lagipula aku sudah lama mengenal Hinata tahu!"

"Ck, sudahlah pulang sana..."

Neji menutup pintu pagarnya dan langsung meninggalkan Naruto di luar sana yang masih tidak terima dengan perlakukan Neji tadi.

.

.

*KIN*

.

.

Rasanya memang seperti mimpi Hinata bisa bertemu lagi dengan Naruto. Tapi sayang, ketika dia ingin berusaha ternyata dia malah dihadapkan pada pilihan sulit. Sebisa mungkind Hinata ingin mendukung Naruto, tapi dia juga ingin Naruto tahu perasaannya selama empat tahun ini sama sekali belum berubah. Bahkan bertambah besar. Itu yang membuatnya bimbang sekarang. Apa yang harusnya dia lakukan saat ini?

Karena berbagai perasaan dalam hati Hinata, gadis berambut biru gelap panjang ini berjalan gontai menuju kamar mandi di lantai bawah. Sebenarnya kamar Hinata sendiri ada di lantai atas. Dan kamar Neji di bawah serta satu kamar tamu juga kamar utama yang tidak diisi siapapun. Hinata juga sebenarnya punya kamar mandi sendiri di lantai atas, tapi kata Neji semalam, pipanya bocor dan airnya tidak mengalir ke atas, jadinya Hinata harus pindah mandi di bawah untuk sementara waktu sebelum pipanya diperbaiki.

Seharusnya Hinata bisa menerimanya. Tapi tetap saja, usahanya merengek datang ke Konoha jadi sia-sia sekali!

Sepertinya Hinata yang salah langkah ya?

Hmm... sudahlah lebih baik dia pikirkan hal lain saja. Sudah beruntung bertemu lagi dengan Naruto. Hinata jadi lebih merasa hidup lagi. Melihatnya saja sudah cukup. Kebahagiaan Naruto juga adalah kebahagiaannya. Jadi bagaimanapun, Hinata harus mendukung hubungan Naruto bukan begitu―

"Maaf, apa air panasnya tidak bisa jalan?"

Hinata mengedip berulang kali. Tak mengerti dengan pemandangan apa yang ada di depannya ini.

Seorang laki-laki, dengan wajah stoic yang super dingin, rambut merah pendek, dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya―selembar handuk―dan tanpa pakaian lainnya, tengah berhadapan dengan Hinata? Hah?

"Ehm... halo?" ujarnya lagi. Kali ini dia melambaikan tangannya di depan wajah Hinata yang masih terbengong. Begitu kaku dengan respon apa yang seharusnya dia berikan.

Dia bukan kakak sepupunya. Lalu siapa? Siapa pemuda...

"KYAAAAAAAAAAAAAAAA! NEJI-NIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!"

.

.

*KIN*

.

.

Hinata masih menyembunyikan wajah merahnya dengan handuk miliknya dan duduk di ruang tamu.

Setelah berteriak seperti itu, Hinata langsung berlari bersembunyi di belakang sofa ruang tamunya. Kenapa ada laki-laki yang tidak tahu malunya berdiri tanpa busana lengkap begitu di depan Hinata! Seumur hidup ini kali pertama Hinata melihat langsung tubuh seorang laki-laki yang―apa yang dipikirkannya!

Wajah Hinata memanas otomatis. Berubah merah, semerah-merahnya!

Tapi entah kenapa dia tidak pingsan. Kenapa kalau berdekatan dengan Naruto dia bisa sampai pingsan seperti kemarin? Apa sih yang ada dalam kepala Hinata sebenarnya? Sialan... huh...

"Hinata?"

Hinata mengangkat kepalanya dan melihat Neji berdiri di seberang sofa yang dijadikannya benteng pertahanan itu.

"Neji-Nii? Si-siapa... laki-laki itu?" kata Hinata gugup. Masih malu dengan kejadian bodohnya itu!

"Maafkan aku karena lupa bilang padamu semalam. Sebenarnya semalam aku ingin membicarakan ini denganmu. Tapi karena kau sudah tidur kupikir besok pagi saja kuberitahu. Ehh ternyata... tidak begitu ya. Kalian jadi bertemu di saat begini," jelas Neji tak enak.

"Hah?"

Neji menyuruh Hinata agar keluar dari belakang sofa itu. Kemudian, duduk di sofa dengan Neji. Sepertinya laki-laki berambut merah itu masih sibuk di kamar mandi.

"Hmm, aku sudah membicarakan ini dengan Hiashi Ji-sama. Selama satu bulan ke depan, temanku dari Suna akan belajar di Konoha. Yah, transfer siswa begitu. Hanya satu bulan. Dan beliau mengijinkannya karena temanku tidak punya kenalan lain selain aku di sini. Lagipula... aku akan menjagamu baik-baik. Dia juga anak yang baik. Jadi kau tidak perlu khawatir," jelas Neji.

"Teman Neji-Nii? Lalu... dia akan tinggal serumah dengan kita selama... satu bulan?"

"Iya. Kenapa? Kalau kau tidak mau, aku akan bilang padanya supaya dia mencari tempat lain. Hiashi Ji-sama bilang, semua tergantung padamu. Kalau kau tidak mau―"

"Ehh, bukan begitu Neji-Nii! Kalau Cuma satu bulan, kurasa... tidak masalah. Lagipula, dia teman Neji-Nii kan? Tidak apa-apa. Kasihan kalau harus mencari tempat di kota yang tidak dia kenal begini."

"Syukurlah. Kupikir kau akan marah karena aku seenaknya."

"Mana mungkin aku... marah."

Kenapa mendadak ada satu orang aneh yang muncul di rumahnya begini?

.

.

*KIN*

.

.

"Oh, jadi dia adik sepupumu? Maaf atas kelakuanku tadi. Namaku Gaara. Salam kenal."

Di luar dugaan, laki-laki berwajah stoic ini baik juga. Sikapnya sungguh ramah. Berbeda dengan wajahnya yang datar dan terkesan cuek dan dingin itu. Hinata membalas sapaan laki-laki itu dengan sedikit canggung. Mulai hari ini dia berharap kalau saja pipanya segera beres dan dia tidak perlu mengalami kejadian tadi pagi. Benar-benar di luar dugaan!

Setelah selesai mandi dan membereskan dirinya, Hinata turun ke bawah karena Neji sudah menyiapkan mereka sarapan. Sebenarnya sih bisa saja Hinata yang memasak, tapi Neji selalu menyiapkannya lebih dulu. Makanya Hinata jadi merasa tidak enak. Neji memperlakukannya terlalu baik setelah mendapat amanat dari ayahnya untuk menjaga Hinata selama dia di sini.

"Jadi, kita akan satu kelas Neji?" ujar Gaara, laki-laki berambut merah itu.

"Sepertinya begitu. Kan sudah diurus kemarin? Oh ya, kalau kau sudah di sana, kuharap kau tidak terlalu kaget ya."

"Hmm? Kenapa kaget?"

"Karena―"

"HINATAAAAAAAA-CHAAAAAAAAAAAAAN!"

Hinata terlonjak kaget mendengar suara lengkingan super besar di depan rumahnya itu.

"―ada seseorang yang akan selalu jadi masalah," sambung Neji.

.

.

*KIN*

.

.

"Naruto! Jangan berteriak begitu di depan rumah orang!" keluh Sakura sambil mendaratkan tas sekolahnya ke kepala Naruto.

Setelah menjemput Sakura, Naruto segera terbang ke sini. Sakura juga tak keberatan karena sekalian bisa berbincang dengan Neji soal tugas sekolah mereka. Dan Naruto terlalu malas untuk ikut diskusi seperti itu. Lagipula, kemarin Sakura belum terlalu banyak bicara dengan Hinata.

"Ahh, Sakura Senpai, Naruto Senpai..." sapa Hinata setelah keluar dari rumahnya.

"Ohayou, Hinata-chan!" sapa Naruto semangat.

"Hai, Hinata-chan..." sambung Sakura.

Melihat mereka berdua begini entah kenapa Hinata jadi tidak tega mengatakan perasaannya pada Naruto. Tidak ada yang boleh sebenarnya memisahkan mereka. Apalagi, samar-samar kemarin, Hinata ingat kalau Sakura adalah gadis yang selama ini disukai Naruto. Bagaimana bisa Hinata hadir di tengah mereka kalau keadaannya begini? Tentu... tidak bisa.

Meski ada rasa sakit, tapi Hinata tidak boleh egois. Walau akhirnya, dia menyadari Naruto memang bukan untuknya. Atau setidaknya untuk saat ini.

"Kau datang lagi," keluh Neji setelah ikut keluar dari rumahnya.

"Neji-kun!"

"Sakura? Oh, ternyata kau serius ya dengan bocah ini?" sindir Neji.

"Heh! Apa maksudmu itu sialan!" sela Naruto.

"Ehm, sebenarnya aku ke sini karena ingin berdiskusi denganmu," jelas Sakura.

Ketika berempat bersiap untuk berangkat, ternyata...

"Itu juga sepupu kalian Neji?" tanya Naruto begitu melihat sosok seorang laki-laki berambut merah yang baru saja keluar dari rumah Hyuuga bersaudara itu.

"Dia... murid transfer di sekolah kita yang akan belajar selama satu bulan di sana. Namanya, Gaara."

.

.

*KIN*

.

.

Sesuai dugaan Neji, Naruto memang masalah. Dia terlalu berlebihan menanggapi siswa baru itu. Neji semakin pusing dengan tingkah temannya ini. pasti memalukan sekali mengenalkan sosok di anak hiperaktif ini pada siswa pendiam seperti Gaara. Tapi yah, namanya juga perkenalan. Lagipula bagus dengan adanya Naruto. Setidaknya, Gaara tidak akan canggung berada di sekolah nanti. Tapi yang pastinya, melihat sosok tampan seperti ini pasti akan membuat siswi di sana semakin bertingkah. Melihat yang Naruto saja perempuan di sana sudah merepotkan. Apalagi Gaara?

Hinata masih terlalu malu menatap sosok laki-laki berambut merah itu. Walau Gaara bilang dia sudah melupakan apa yang terjadi tadi pagi, tapi bagi Hinata itu adalah kejadian yang sangat memalukan!

Bagaimana bisa Hinata berani menatap sosok pria ini?

Dan ternyata, di luar rumahnya, sosok Gaara amat pendiam dan sedikit kaku. Dia hanya membalas dengan senyum tipis kata-kata Naruto. Gaara juga tak banyak bercerita kalau tidak ditanya. Kenapa sikapnya agak beda dari pagi tadi? Ataukah... ini hanya perasaannya saja?

Jam pelajaran di kelasnya ternyata kosong untuk jam ini.

Banyak anak yang sudah keluar kelas dan bermain bola apa saja di lapangan. Dan jujur, Hinata belum juga mendapatkan teman sampai sekarang. sepertinya teman-teman perempuannya di sini sulit berkenalan dengan gadis pendiam seperti Hinata. Tapi itu wajar sih. Di Tokyo juga, tidak banyak, bahkan sedikit sekali yang mengenal sosok Hinata. Jadi jika Hinata kembali lagi ke Konoha, otomatis anak-anak di Tokyo akan segera melupakan Hinata. Tapi itu lebih baik. Hinata memang tertutup.

Karena bosan, Hinata keluar dari kelasnya untuk ke toilet. Sepertinya dia memang butuh refreshing. Apa dia bisa punya teman ya? Tapi setelah Naruto lulus nanti, Hinata juga tidak akan bertemu lagi dengan senpai-nya itu. Haruskah Hinata diam selamanya?

"Kau serius dengan bocah sepak bola itu? Kupikir Sasuke tidak tergantikan!"

Hinata yang masih di toilet diam dan berhenti bergerak untuk keluar.

Muncul dua sosok siswi. Satu berambut panjang pirang yang dikuncir satu tinggi. Dan satu lagi berambut pink pendek.

Dua siswi itu berdiri bersebelahan di wastafel. Dan si pirang tengah menambah bedak tipis di pipinya. Sedangkan si pink, tengah membenahi seragamnya yang tampak kusut.

"Kubilang mencoba. Apa harus serius?"

"Sakura... kau harus pikirkan pilihanmu. Naruto itu sudah lama menyukaimu. Sejak SD loh! Sedangkan Sasuke? Apa dia menyukaimu?"

"Ino... jangan menekanku begitu. Kau membuatku merasa bersalah,"

"Tentu saja. Kalau aku jadi kau, aku akan memikirkan ulang perasaanku. Sasuke tak pernah kembali. Memberi kabar saja tidak. kau pikir dia masih ingat padamu? Kalaupun iya, mana mungkin ada perasaan khusus untukmu dari si kulkas es itu!" gerutu si pirang, Ino. Yamanaka Ino.

"Hhh... perasaan tidak bisa dipaksakan. Sudah kubilang begitu kan?"

"Jadi kau mau bilang dengan Naruto itu pelarian? Astaga... kau licik Jidat!"

"Aku tidak bilang begitu! Naruto bukan pelarianku. Aku... aku hanya mencoba saja. Seperti saranmu. Siapa tahu aku bisa melupakan... orang itu!"

"Ckckck... walau kau bilang begitu, apa kau bisa menyukai Naruto hah?"

Sakura diam. Gadis berambut pink itu diam sejenak. Memandangi wajah cantiknya di kaca wastafel itu. Bisa... menyukai Naruto?

"Lihat. Tidak bisa kan? Kau terlalu naif. Walau katamu mencoba, tapi tidak menutup kemungkinan kau tidak bisa kan? Sebelum terlambat lupakan saja soal percobaan bodoh ini. jangan membuat si bocah pirang itu sakit hati," lanjut Ino.

"Aku... sedang berusaha menyukai Naruto. Dia baik padaku. Hanya menyukaiku saja. Seandainya ada gadis lain yang bisa menyukai Naruto dengan tulus, aku tentu akan mundur. Tapi... aku bisa apa? aku hanya tidak ingin Naruto kecewa padaku."

"Biarkan dia kecewa padamu daripada dia sakit hati padamu. Ada banyak kok gadis yang tulus pada Naruto!"

"Tidak Ino. Tidak banyak. Bahkan mungkin tidak ada. Naruto terlalu polos. Dia tidak mengerti itu. Lagipula... selama ini gadis-gadis bodoh itu hanya ingin memanfaatkan ketenaran Naruto. Itu saja. Makanya aku tidak mau laki-laki itu tertipu gadis lain."

"Tch... baik sekali kau ini. jadi... peranmu di sini adalah, agar tidak ada gadis bodoh yang memanfaatkan Naruto, begitu? Mau sampai kapan? Dua tahun lagi kita akan lulus. Setelah lulus, kau dan Naruto pasti akan memilih jalan masing-masing kan? Apa setelah lulus nanti, kau akan memutuskan Naruto?" tanya Ino lagi.

"Hhh... aku tidak tahu. Naruto juga tidak buruk. Walau dia konyol dan bodoh, tapi dia tidak seburuk itu."

"Biar kutanya. Kalau Sasuke kembali, kalau saja, dan kau masih berhubungan dengan Naruto... apa kau akan melepaskan bocah pirang itu? Dan kembali merengek cinta pada Sasuke?"

"Aku tidak merengek cinta!" sela Sakura tegas.

"Yah, mengemis, itu lebih tepat. Apa yang akan kau lakukan?"

Sakura diam. Selama ini dia bahkan tidak berani memikirkan situasi itu. Dan...

"Aku... tidak tahu Ino... aku tidak tahu."

.

.

*KIN*

.

.

Hinata duduk di bangku taman yang tak jauh dari lapangan sekolah itu. Dia sedang melihat Naruto bermain sepak bola dengan beberapa siswa seangkatannya. Yah, Naruto memang laki-laki yang baik. Dia polos dan naif. Wajar itu. Tapi Naruto selalu tulus.

Dan apa yang tidak sengaja Hinata dengar hari ini adalah...

Perasaan Sakura yang masih bimbang pada pilihannya. Hinata marah? Tentu dia ingin marah. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia terlalu takut untuk menghadapi ini. dia belum punya cukup keberanian untuk mengutarakan isi hatinya. Kalau apa yang dikatakan Sakura benar, berarti jika ada gadis lain yang tulus pada Naruto, Sakura akan berhenti, apa boleh gadis itu dirinya?

Apa boleh kalau...

"Sepupunya Neji? Sedang apa?"

Hinata terlonjak kaget dan langsung berwajah merah melihat sosok laki-laki berambut merah ini berdiri di dekatnya. Hinata spontan berdiri dan menunduk hormat.

"Hei, tidak perlu sesopan itu. Aku mengagetkanmu?"

Tentu saja! Apalagi setelah kejadian tadi pagi! Mana mungkin Hinata bisa lupa kejadian memalukan itu!

"Ma-maaf Senpai! Aku... aku hanya kaget saja..." lirih Hinata. Dia bahkan merasa kakinya gemetar karena berhadapan dengan orang ini. kenapa Hinata jadi begini.

"Apa yang kau lakukan di sini? Tidak ada pelajaran?"

"A-aku... pelajaran kosong sampai jam... makan siang nanti. Se-senpai sendiri?"

"Aku baru saja menyerahkan berkas yang diperlukan pada bagian akademik. Jadi... kau sendirian? Mana temanmu?"

Hinata menunduk lagi. Teman. Bahkan Neji juga bertanya mana teman Hinata. Teman yang bagaimana yang bisa dia dapat?

Tapi, tiba-tiba saja tangan Hinata ditarik oleh laki-laki itu dan memeluknya.

Mata biru Hinata terbelalak lebar dan tubuhnya berubah kaku. Dia... dipeluk?

"Maafkan aku! Apa bolanya mengenai... mu?"

Hinata langsung menjauhkan tubuhnya dan mendorong Gaara agar berhenti memeluknya. Wajahnya langsung panas dan memerah. Dan yang lebih membuat Hinata terkejut, ternyata yang menghampiri mereka adalah sosok... senpai-nya.

"Na-Naruto Senpai!"

"Ada apa dengan kalian berdua?" kata Naruto dengan tampang bodohnya.

"Hati-hati kalau menendang bola. Kau nyaris mencelakai sepupunya Neji."

"Oh Gaara! Apa bolaku nyaris kena Hinata-chan?" tanya Naruto.

"Ti-tidak kok Senpai! Tidak kena!" sela Hinata.

"Nyaris kena. Kalau aku tidak memeluknya, mungkin benar-benar kena," koreksi Gaara.

"Hah? Maafkan aku Hinata-chan! Aku benar-benar ceroboh! Maafkan aku ya..." mohon Naruto.

"Ehh? Ti-tidak kok Senpai. Ja-jangan begitu. Ini juga... sa-salahku. Maafkan aku..." kata Hinata merasa bersalah sampai menunduk dalam.

"Hahah... tidak kok. Hinata-chan tidak salah. Terima kasih Gaara sudah menolong Hinata-chan! Aku duluannya ya!" ujar Naruto setelah mengambil bolanya dan mengusap kepala Hinata pelan.

Karena tindakan itu, Hinata sekali lagi terpaku dan terus mengamati sosok laki-laki berambut pirang itu. Naruto semakin menjauh. Tapi pandangan Hinata semakin luas melihat laki-laki itu.

Gaara memperhatikan gadis ini dengan seksama. Matanya tak lepas dari sosok Naruto. Kenapa Hinata bisa melihat laki-laki seperti itu? Wajah memerah yang Hinata perlihatkan pada Gaara ada perbedaannya. Wajahnya memerah melihat Gaara karena malu, dan wajah memerahnya pada Naruto karena... gugup. Pada Gaara, mungkin dia masih malu karena kejadian tadi pagi. Dan pada Naruto... mungkin gugup karena melihatnya. Apa gadis ini...

"Kelihatannya, kau menyukai Naruto ya?"

Hinata tertegun mendengar suara Gaara. Hah?

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hola minna... hehehe saya muncul dengan chap gaje... gak jelas gitu. wkwkwk sebenernya ini masih perkenalan aja. soalnya konflik di dalam fic ini menurut saya gak begitu berat, jadi lebih enak kalau muncullah sederhana aja sih hehehehe... apa membosankan chap ini? karena saya rasa begitu sih. kayaknya membosankan. saya masih stress tingkat dewa selama seminggu ini, jadi pelariannya yah update fic deh. ehhehe maaf sekali lagi kalo saya membosankan. saya baru pertama ini menggarap fic yang di luar fandom saya, jadi agak sedikit kesulitan mendapat feel-nya. karena itu saya lagi belajar. hehhe semoga senpai di sini bersedia membimbing saya. hehheeh maklum minggu ini saya rada masih konslet sih... hehhe

balas review...

mitsu-tsuki : makasih udah review mitsu... hiks... maaf fic rikues kamu jadi hancur begini... hiks... maaf ya... hehhe tapi saya bakal berusaha kok buat yang bagus untuk kamu. tentu aja kamu boleh bantu. sangat dibutuhkan malah. hehhehe

koneko : makasih udah review senpai... eh? senpai suka saya? beneran? wuah gak nyangka di fandom lain ada yang kenal saya... terharu banget...

sasuhina-caem : makasih udah review senpai... heheh iya nih udah saya lanjutin... maaf kalo agak aneh ya...

kurirana : makasih udah review senpai... makasih udah suka. saya jadi malu hehheh, iya nih udah lanjut, maaf kalo membosankan...

karikazuka : makasih udah review senpai... iya nih udah update hehehe

Akari Yuka : makasih udah review senpai... iya nih ada pihak ketiga. apa suka? hehehehe

Love NH : makasih udah review senpai... iya, hehehe emang yang ditunggu Saku itu Sasu... heheh iya nih udah update hehehe

ramdhan-kun : makasih udah review senpai... iya nih udah dilanjut heheheh

Chadeschan : makasih udah review senpai... heheeh gak kok. gak ngelebarin sayap apa-apa. saya gak punya sayap... ini fic rikues. hehehe iya saya juga suka NaruHina. kan ada di profil saya hehehe iya, semoga bisa dibuat dramatis hehehehe

Gyurin Kim : makasih udah review senpai... hmm soalnya Saku yang cocok sih. hehehe baru pertama bikin...

Hyuuna Tsuchida Ichi Chibby : makasih udah review senpai... a-aduh... jangan senpai dong, Kin aja gak papa kok. berasa aneh manggil saya senpai. hehehe makasih udah suka semua fic hancur saya, terharu banget... gak papa kok saya aja udah seneng ada yang suka fic hancur saya... hehhe makasih jadi author favorit... aduh... gak nyangka banget ini... heheh iya nih udah diupdate kok...

kiriko mahaera : makasih udah review senpai... makasih udah berminat.. hehe iya nih saya lanjut kok hehehe

Natsu Hiru Chan : makasih udah review senpai... aduh... jangan senpai ya... Kin aja gak papa, saya masih aneh dipanggil senpai hehhe ahahaha iya ceritanya gitu, kasian Sasu dibilang bang toyib *plak* yah nih udah diupdate hehehhe

Tantand : makasih udah review senpai... heheh iya nih udah update...

Ice Cream Blueberry : makasih udah review senpai... wah Kin aja gak papa, jangan senpai, berasa aneh manggil saya senpai hehehe, MVP=Most Valueable Player hehhe biasanya ada di basket sih, tapi ada juga di sepak bola. heheh end-nya? hmm liat deh hehehe kalo slight gitu... saya mesti diskusi lagi sama yang rikues heheheh

HyUzu'uSagi : makasih udah review senpai... Kin gak papa jangan senpai, saya berasa aneh dipanggil senpai hehehe, oya nih udah saya update hehehe

suka snsd : makasih udah review senpai... makasih udah dipuji gitu terharu hehehe, iya, nih udah update. rikues pair? boleh kok. hehhehe tapi tetep saya diskusikan ama yang rikues ya, apa boleh pair itu ada. hehehe

kitami-minagawa : makasih udah review senpai... nih udah update heheheh

Brigitta Yuki-chan : makasih udah review senpai... iya nih udah update. hehehe nanti ada kok hehgehe

NaruHina LavenderOrange : makasih udah review senpai... makasih heheh iya nih udah update kok... hehhe

amexki chan gak log : makasih udah review senpai... heheh iya makasih udah disambut hehehe ehmm liat nanti ya... hehehehe biar penasaran...

semuttt : makasih udah review senpai... hehehe iya nih udah lanjut.

hmm makasih yang udah review saya sangat menghargai tiap review yang masuk ke dalam fic ini. bagi saya itu adalah penyemangat saya dalam mengupdate.

tapi maaf sekali. ini pertama kalinya saya menerima flame. awalnya nerima agak kejut juga. soalnya ini benar-benar pertama kali sejak saya jadi author. flame pertama di fandom yang baru pertama saya datangi. tapi saya senang. karena flame itu udah nguji adrenalin saya.

tapi sayang sekali. flame kekanakan begitu sama sekali tidak akan saya pedulikan. selama ini saya tidak melarang siapapun untuk berpartisipasi dalam fic saya dimana saja. baik itu review, kritik, konkrit ataupun flame. tapi dengan niat membangun dan memberikan solusi yang tepat juga alasan yang masuk akal.

jadi, kalau flame hanya berisi kata-kata kasar kekanakan masalah pair, chara ataupun apapun yang tidak penting, sekali lagi maaf. gak akan ada tanggapan dari saya. maaf kalo saya berkata begini. tapi terima kasih, berkat flame itu saya jadi tahu rasanya kena flame dan menguji mental saya.

dan abaikan curhatan saya. sekali lagi, mohon review... supaya saya tahu apa cerita ini layak lanjut atau nggak. ehhehe

Jaa Nee!