Tittle : Love is Never Ending
Pairing : -Markson (Jark)
-BinHwan
-BNior/JJ project
-HoonSik
Genre : Drama, Friendship
Rate : T
Warning : Boy x Boy. Yang ga suka castnya di mohon jangan baca. Terlanjur baca tolong jangan komentar yang ga enak. Lagian ini saya bikin buat fun aja, jadi Saya terima masukkan yang baik-baik aja
Oh iya, kalau ada kata "Im" di bacanya jgn 'ayem' ya, semacem manggil Lim, jadi im gitu 😁 itu nama panggilan hyunsik oppa.
"Aku tidak tau bagaimana reaksi Jackson nanti padamu, Mark." Perkataan JinHwan membuat Jackson menghentikan langkahnya. Ia baru saja tiba di kelas kekasihnya dan berniat mengagetkan dua orang terdekatnya itu harus tertunda karena penasaran dengan pembahasan mereka, lebih memilih duduk di belakang dan mendengarkan lanjutan percakapan sahabat dan kekasihnya itu.
"Aku tidak akan sanggup melihatnya."
"Kenapa kau melakukannya?"
"Aku pikir, kami terbawa suasana." Mark menunduk "Hwannie?"
"Hm?"
"Aku selalu bersalah melihat mereka bertiga."
"Itu wajar. Apapun alasannya, perselingkuhanmu dengan Junior tak bisa di benarkan."
Dan dunia seakan berhenti untuk Jackson. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, ia bahkan merasa tubuh dan lidahnya tak berfungsi sesuai perintah otaknya lagi. Ia berusaha mengendalikan dirinya, menahan sesak yang kenapa tiba-tiba muncul di dadanya. Jackson mengepalkan tangannya, mengatur nafas yang berubah tak teratur setelah mendengar kenyataan itu.
"Kau, mengkhianatiku, Mark?"
Sontak kedua namja di depannya membalikkan badan mendengar suara itu. Suara yang tidak asing lagi di telinga mereka. Suara yang membuat Mark mati kutu saat itu juga.
Chapter 2 : Markson
Keduanya berada di ruang olahraga. Berdiri ditengah lapangan indoor sambil menatap satu sama lain. Jackson dengan tatapan marahnyanya, sedangkan Mark dengan pandangan sendu yang bahkan sudah tidak dapat menahan air matanya lagi.
"Mianhae…" satu kata lirih terucap dari bibir mark. Ia bersimpuh dengan memegang bagian depan kaki Jackson, meremas celananya kuat berusaha melampiaskan emosi. "Hhh, Jackson. Jebal."
"Lepas!" jawabnya dingin. Entah mengapa ia melihat gambaran Jinyoung di Mark saat ini.
Tidak ada tanggapan.
"Mark!"
Jackson menghentakkan kakinya satu persatu dengan keras, melepas cengkraman Mark yang tak merubah posisinya.
"Bangun, brengsek!"
Mark tak bergeming.
"Bangun atau kuhajar kau!"
"Lakukan."
Ganti Jackson terdiam.
"Aku berselingkuh dengan Junior." Mark terhenti saat mendengar gumaman 'brengsek' dari Jackson. "Lakukan apapun yang kau mau. Tapi kumohon... Jangan tinggalkan aku."
Jackson tersenyum remeh. Menarik kerah baju namja yang masih bersimpuh di hadapannya dengan kasar, kemudian melayangkan pukulan penuh emosi pada wajah yang selalu di pujanya itu. Tak puas, Jackson melakukannya berulang kali hingga wajah tampan kekasihnya hampir tak di kenali. Kulit yang biasa tersentuh dengan bibinya, kini di penuhi memar dan darah di setiap inci.
Mark tidak melawan.
Tidak. Dia bahkan tak menghindar.
Dia membebaskan Jackson untuk melakukan apapun.
Hingga tubuhnya sudah lemas untuk sekedar digerakkan dan terjatuh di pelukkan Jackson, namun ia sempat susah payah mengulurkan tangan menghapus air mata Jackson kemudian benar-benar hilang kesadaran.
HonSik
Hyunsik mendudukkan Ilhoon di kursi panjang disamping gedung sekolah. Meremas pundak Ilhoon sambil mengatur nafasnya berusaha menenangkan diri. Ia harus ekstra sabar menghadapi Jung kecil ini. "Hoonnie,"
"Kenapa?! Kau mau memarahiku lagi?!"
See? Hyunsik bahkan belum memulai apapun.
"Bagaimana lagi aku menasehatimu?"
"Kalau begitu jangan lakukan lagi. Aku tidak butuh nasehat siapapun termasuk kau dan keluargaku."
"Hoonnie," Hyunsik menghela nafas, "dengar, sayang,"
"Tidak mau! Dia yang memulai perang denganku!"
"Demi Tuhan Ilhoon, apa lagi yang membuatmu marah?"
"Dia menyukaimu!"
"Astaga, sayang-"
"Jangan kau kira aku tidak tahu hubunganmu dengannya." Ilhoon menatap sengit kekasihnya.
Hyunsik membatu.
Ilhoon tahu hubungannya dengan Chanwoo?
"Kenapa diam? Kau membawaku kedalam hubungan ini karena ingin balas dendam padaku yang sering membully Chanwoo, kan?" Ilhoon berkaca-kaca mengatakannya. Inilah hal yang membuat Hyunsik gundah. Ia tak pernah bisa melihat Ilhoon menangis. Tidak walaupun ia sendiri yang merancangnya. Sudah dipastikan ia kalah telak dalam permainannya sendiri.
"Jika kau ingin pergi, ini saat yang tepat. Aku benar-benar menyukaimu. Jadi pergilah dengan bangga karena kau sudah berhasil."
.
.
Jinyoung menatap meja sebelahnya bingung. Pasalnya, sahabat Hongkong-nya tidak ada di tepat, tidak biasanya Jackson membolos. Sebandel-bandelnya para sahabat-sahabat Jaebum itu, mereka tak pernah mau membolos-kecuali Ilhoon-
Ia sudah berusaha menghubungi Jackson, namun tidak ada jawaban. Baru saja Jinyong akan mengajak Jackson makan malam bersama setelah pulang sekolah. Setelah itu, ia mungkin akan mengakui perbuatannya. Jinyoung pasti akan melakukan apapun agar Jackson mau memaafkannya.
Entah kenapa perasaannya jadi tak tenang mengingat Jackson. Jinyoung memutuskan menggambar gravity dengan tulisan 'Mianhae' lalu menyimpannya di kolong meja Jackson.
BinHwan
"Bubar!" Hanbin mengusir kerumunan orang-orang di depan kamar mandi dengan satu kata. Namun sudut matanya menangkap seseorang yang justru berjalan mendekatinya.
"Dia tidak berubah, ya?" tanya namja yang baru saja datang menghampiri Hanbin. Ia tak perlu menengok untuk mengetahui pemilik suara, karena ia sudah hafal betul suara ini. Ah, Hanbin baru saja selesai membujuk Ilhoon untuk berhenti membully, sekarang justru ia yang ingin sekali membully melampiaskan emosi.
Tidak ada jawaban dari Hanbin, membuat namja di hadapannya tersenyum meremehkan. "Lama tidak bertemu, Hanbin." Ujarnya sambil membungkuk.
"Untuk apa kau kembali?"
"Ada hal yang ingin kuselesaikan."
"Pergilah dengan cepat."
"Tidak janji. Ah, aku ingin bertanya. Kenapa kau merebut Jinhwanku?"
"Karena kau berselingkuh."
"Kau tidak berniat menolong Jaebum dan Jackson juga? Mengencani mereka tak buruk menurutku."
"Dari mana kau tahu?" Hanbin mengalihkan pandangan pada lawan bicaranya.
"Kau tidak berpikir Jinhwan akan melepas kontak dengan ku begitu saja, kan?" tanyanya memancing. Puas melihat ekspresi Hanbin, ia kembali melanjutkan. "Bagaimana kalau aku ganti merebut Jinhwan darimu?"
MarkSon
Mark terbangun diruang kesehatan, tersenyum kecil saat sadar Jackson-lah yang membawanya kesini. Jackson tidak akan tega meninggalkan Mark pingsan di ruang olahraga apalagi tidak ada orang sama sekali disana.
Tapi kemudian senyumnya memudar berganti ringisan kecil saat sadar perbuatan gilanya tak akan mudah di maafkan Jackson, ia sadar Jackson tak mungkin menerimanya, ia sadar juga sudah diambang batas. Tapi satu yang Mark sadari, ia tak bisa hidup tanpa Jackson. Katakanlah Mark egois, tapi setidaknya itulah yang ia rasakan selama liburan ini. Ia tak bisa berhenti memikirkan Jackson, ia merindukan Jackson.
Mark sadar…
Mark mencintai Jackson. Bukan Jinyoung.
Bagitupula Jinyoung. Ia sadar Mark adalah obsesinya sejak dulu. Jinyoung tak pernah mencintai Mark.
Tak peduli dengan nyeri di tubuhnya, ia kemudian bangkit meninggalkan ruangan itu, langkahnya semakin dekat menuju halte entah akan kemana tujuannya. Ia hanya berharap dapat sedikit melupakan masalah dengan Jackson hari ini.
.
.
Jackson duduk ditempat Ilhoon dan Hyunsik tadi berbicara setelah menggendong Mark ke Ruang Kesehatan. Ia menatapi tangannya lesu. Hati dan pikirannya benar-benar tidak singkron untuk saat ini. Hatinya menyesal karena ia baru saja menyakiti Mark, ia baru saja membuat kekasihnya babak belur oleh tangannya sendiri. Namun pikirannya membenarkan apa yang ia lakukan, Mark pantas mendapatkannya karena ia selingkuh dengan Jinyoung, sahabatnya.
Kekasihnya mengkhianatinya.
Sahabatnya mengkhianatinya.
Sahabatnya yang lain menutupinya.
Tidak.
Sahabat-sahabatnya pasti punya alasan kenapa mereka tak memberitahu Jackson. Belum lagi Jaebum juga sama sepertinya. Jaebum. Sahabatnya yang satu itu bertingkah layaknya tak terjadi apa-apa saat mereka berangkat sekolah tadi.
Jackson mengambil ponselnya, terdapat 5 panggilan tak terjawab dari Jinyoung dan 10 pesan menanyakan keberadaanya. Ia lebih memilih mengabaikan dan tidak kembali kekelas untuk hari ini. Ia belum siap melihat Jinyoung.
.
.
Mark mendatangi sebuah club cukup besar di pinggir jalan yang tentu saja belum beroperasi siang ini. Ia membuka pintunya tanpa harus mendapat halangan dari seorang namja besar yang berjaga didepan tempat itu. Matanya menjelajah menemukan ketiga sahabatnya yang entah sedang membicarakan apa di salah satu sofa yang biasa digunakan para tamu.
"Hello, Mark! How are you- Oh God, What happen-"
"Shut up, Amber!"
"Mark, your face-"
"Aku ingin minum!" Mark menyela ucapan salah satu namja tampan disana.
"Mark, kau ada masalah dengan Jackson?" tanya namja lain dengan topi yang menutupi rambut plontosnya.
"Ya."
"Masalah apa?"
Mark diam, menatap dua teman lelakinya bergantian. "Peniel, apa yang akan kau lakukan jika Sungjae berselingkuh?"
"Aku bahkan tidak berani membayangkannya." Ia diam sebentar kemudian memperhatikan Mark. "Jackson selingkuh?"
"Rome, bagaimana denganmu?" tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu, Mark kembali bertanya namja tampan sebelahnya.
"Aku tidak peduli, Sungjae kan kekasihnya."
DUG
Peniel memukul kepala sahabatnya keras, "Maksudnya jika Ray selingkuh, bodoh!"
"Shhh, Aku mungkin akan membunuhnya dan selingkuhannya."
"Memegang pisau saja kau belum becus."
"Tidak harus menggunakan pisau, kan?"
Amber yang tadi sempat mendapat bentakan dari Mark menggeleng kecil. Mengusap bahu Mark bermaksud menenangkannya, "Aku yakin Jackson hanya mencintaimu, Mark."
"Tidak, bukan seperti itu."
"Aku tidak menyangka Jackson begitu." Rome ikut menyuarakan pendapatnya.
"Guys, kalian salah paham."
Peniel berdecak gemas, "Kalau begitu jelaskan."
"Aku berselingkuh."
Hening.
"Dengan Jinyoung."
Masih hening.
Tapi ekspresi mereka jelas tidak bisa menutupi jika mereka sangat terkejut. Mark menundukkan kepalanya dalam, ia dapat mendengar dengan jelas helaan nafas kasar entah dari siapa.
"Itu gila, Mark." Peniel buka suara
"Apa yang ada di otakmu?" Amber manyahut.
"Pantas kau babak belur. Aku akan membunuhmu jika jadi Jackson."
Tidak ada lagi yang membuka suara. Mereka benar, ia sudah gila. Semua orang tau Jackson sangat menyayanginya, dan Jaebum sangat mencintai Jinyoung, tapi ia merusaknya.
Pikirannya berlarut memikirkan kemungkinan yang bahkan tidak ingin ia bayangkan. Kemungkinan Jackson tidak akan pernah memaafkannya, kemungkinan Jackson membencinya, hingga kemungkinan Jackson akan meninggalkannya.
.
.
.
TBC
Mian buat yang kecewa sama FF ini karena alurnya yang lemot kek siput. Tapi ya ini gaya penulisan saya, mau ngerubah juga susah wkwkwk
Tolong komentarnya ya, yang kemarin komen mian blm sempet aku bales2in hehehe '-')v
