SatanSpawn : ehehe... Padahal kalo chapter 1 dibaca dengan seksama, pasti tahu. :) ya udah deh, saya tulis lagi di chapter ini. Makasih review-nya. X)

hamazaki youichi : aduh! *kena muncrat* iya, iya. Ini emang lama updet-nya, tapi gak sampe satu bulan dua kali updet kok. Makasih review-nya. Ini updet-nya. :)

Yoshi si Kucing Belang : mungkin dia akan mati, kekekeke... *dilempar buku 'The Catcher in The Rye'* makasih review-nya. Ini updet-nya^^

Ciel L. Rokujo Chisai : oh, teh Linda! XD *sok SKSD* kenapa teh Linda perasaannya lagi sama kayak Taka? Patah hati? Hahahaha! Saya emang mau bikin Taka jadi kuntilanak! *dilempar ke black hole* Makasih review-nya. Ini updet-nya, teh! X)

Iin cka You-nii : ouh, makasih^^ ini updet-nya! :)

namikazepamela : uaahh... ada pengganti SBY di FFn! XO –plak!- penasaran? Ini updet-nya. Makasih^^

Osaka Chizuru Crazy : anda telat, Chizuru-san! Soal perbaikan kalimat itu... gak bisa, Chizuru-san. Saya gak punya modem. Ini juga updet dari hape. DX Huahahahahahahahahaha...! Ayo kita buat Taka mati! #ketawalaknat *digebuk Inagaki-sensei & Murata-sensei*

.

.

Into The Silent

Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

Romance/Tragedy

Taka Honjo—(Karin Koizumi—Takeru Yamato)

.

.

.

.

.

Warning : abal, gila, OoC, dll.

Don't Like? Don't Read This and Click 'Back'! ;p

.

Chapter 2 : Hospital, and Personal Conference

.

Sepasang insan tengah berada di lorong ICU rumah sakit, tepatnya di Kansai International Hospital. Si lelaki berambut liar, mondar-mandir panik seperti setrika yang tengah dibolak-balik. Sedangkan si perempuan berambut pirang gelap, duduk di bangku penunggu dan menatap sedih si lelaki.

Telah tiga jam, mereka berada di sana. Seragam Akademi Teikoku yang kini membalut tubuh mereka, meyakinkan orang-orang yang kebetulan lewat bahwa mereka betul dari Teikoku. Persetan dengan perhatian bodoh itu. Mereka lebih penting pada seorang yang ada di ICU.

Perempuan berambut pirang gelap—Karin—akhrinya ingin memecah keheningan yang menyelimuti mereka sedari tadi. Lelaki berambut liar yang sering disapa Yamato itu, tak jua bicara sedari tadi. Mendorong Karin untuk bicara.

Sebelum ia menatap Yamato, terlebih dahulu ia mengangkat pergelangan tangan kirinya dan membiarkan matanya melihat arloji putih yang terlilit rapi di sana. Sudah jam setengah dua belas siang. Istirahat Teikoku telah terlewat sejak jam sepuluh tadi. Tak perlu khawatir. Pasti Heracles telah meminta izin pada kepala sekolah.

"Uhm... Yamato-kun?" suara alto yang masih agak cempreng milik Karin akhirnya terdengar jelas, meski pelan. Yang dipanggil berhenti melangkah dan hanya melirik, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Karin ingin protes, tapi percuma saja. Itu hanya akan membuat Yamato semakin kesal saja.

Niatan bicara itu akhirnya diurungkan. "Ah, tidak. Aku batal bicara." Karin membatalkan niatnya itu. Yamato tak membalas, namun tak mondar-mandir lagi. Kaki yang dapat dipakai berlari cepat miliknya mungkin telah kehabisan tenaga, memaksa Yamato untuk duduk saja disamping Karin.

"Bicara saja. Aku tak keberatan."

Karin memilin-milin rok kotak-kotaknya yang merupakan bawahan seragam untuk para siswi Teikoku itu. Bimbang. Terlalu takut Karin bicara. Apalagi dengan keadaan pikiran Yamato yang sedang semrawut. Lebih tepatnya, karena Taka.

Dengusan pasrah keluar dari hidungnya. "Tidak. Bukan hal penting kok," sanggahnya. Yamato penasaran dengan apa yang ingin disampaikan kekasihnya itu, tapi ia ingin bungkam mulut saja. Pikirannya tengah kacau, dan kini tak boleh sampai lagi pikirannya tambah kacau.

Yamato bersandar pada sandaran bangku penunggu, membiarkan punggungnya teradu oleh sandaran yang terbuat dari bahan dasar besi itu. Karin tak peduli pada Yamato. Rasanya Karin lebih peduli pada keadaan Taka sekarang.

Mungkin itulah yang membuat Yamato cemburu sekarang. Yamato tak tahu mengapa sekarang ia cemburu buta. Tapi yang jelas, ia tak peduli dengan kecemburuannya kini. Mempedulikan Taka, lebih penting.

Sungguh kesialan bagi Taka. Paku itu jatuh begitu saja dari lantai tiga, menciptakan rasa sakit dan perih yang menghujam keras dikepalanya. Taka tidak tahu kepalanya terdapat paku yang bersarang nyaman di sana, tapi setidaknya ia tahu warna perak rambutnya telah tercampur dengan warna mengerikan darah.

"Yamato-kun?"

"Err—ya?"

"Apa Taka bisa selamat?"

"Memang kau mau Taka mati, Karin-chan?"

Karin tersentak. Pertanyaan sarkastik Yamato barusan, pertama kalinya didengar olehnya. Tak biasanya. Padahal disaat sulit seperti apapun, Yamato pasti sempat mengeluarkan pernyataannya yang selalu absolut dan adalah fakta.

Tapi kini, tak ada pernyataan absolut Yamato. Lelaki berambut coklat liar itu selalu tahu, ia bukan Tuhan. Jadi saat genting seperti ini, ia tak mau mengeluarkan pernyataannya. Takut akan berlawanan dengan pernyataan absolut yang belum tentu pasti jadi kenyataan itu.

Kembali. Hening kembali membalut kehangatan sepasang kekasih baru itu. Yamato malas beradu kalimat dengan perempuan disampingnya, dan Karin tak tahu harus berkata apa. Saat ini tak ada yang dapat dilakukan, selain menunggu.

Yamato punya keinginan menghubungi Masaru Honjo—ayah Taka. Tapi niat itu diurungkannya. Taka memintanya untuk tak menghubungi ayahnya, dan menyuruhnya untuk menghubungi Hibari Honjo—kakaknya.

Tapi entah ada apa. Hibari tak kunjung datang. Yamato berusaha menghubungi nomor handphone-nya, namun yang terdengar dari sana hanyalah mailbox-nya. Meresahkan. Harusnya Hibari mengaktifkan nomornya.

Hidup, atau mati. Taka berada di antara itu. Luka di perut, tak masalah. Yang jadi masalah, luka itu bersarang dengan tenang dikepalanya. Kepala memang tak sepenting jantung, namun bila kepala itu terluka dalam... akibatnya bisa fatal.

Mati.

Hidup.

Taka tak dapat memilih. Hanya dapat berjuang. Seluruh tubuhnya telah terkunci oleh alam bawah sadarnya. Sementara, Taka tak dapat bangun dan berada di atas jembatan yang dinamakan 'batas dunia dan akhirat' itu.

.

.

_ooo_

.

.

Tiba-tiba, seorang lelaki berjas putih selutut dan seorang suster keluar dari ICU. Keduanya memakai masker, pertanda mereka baru saja melakukan operasi—tidak, lebih pantas disebut penjahitan kepala. Si lelaki berjas putih yang ternyata dokter itu lehernya basah. Basah oleh keringat yang menemani tubuhnya semasa penjahitan.

Dokter itu langkahnya terhenti, ketika melewati sosok yang sangat familiar se-Kansai. Tentu. Siapa lagi jika bukan Takeru Yamato, Eyeshield 21 asli dari SMP Notredame, Amerika. "Kau temannya?" tanya sang dokter, menunjuk Yamato dan memandang bergantian Yamato dan Karin.

Yamato mengganggukkkan kepalanya, meyakinkan sang dokter. "Ya, aku dan Karin ini temannya. Boleh kami menemuinya?" Yamato bertanya, to the point. Si dokter terlihat ragu. Kedua murid Teikoku ini tahu dengan mudah, Taka belum sadar.

Akhirnya si dokter angkat bicara. "Oke... Tapi ingat, jangan ribut. Taka Honjo belum siuman," izinnya. Jika saja Yamato bukan lelaki yang selalu siap stay cool, ia pasti menjerit-jerit keras sekarang. Senang. Hanya itu yang terpancar dari raut wajah kedua orang itu.

"Baiklah, kami permisi dulu. Silahkan masuk." Dokter dan suster itu berjalan pergi, meninggalkan Yamato dan Karin yang masih terduduk. Karin diam saja, membungkam mulutnya dengan semua realita kini. "Karin-chan, ayo masuk."

Karin kerap tak bicara. Dibiarkannya Yamato menariknya masuk kedalam ruangan ICU itu, melihat keadaan seorang sekarang. Ah ya, Taka Honjo. Teringat kembali Karin, akan surat itu.

Surat? Tentu. Surat yang pagi tadi Taka kirimkan. Surat, yang Karin tuduh sebagai dasar bencana. Surat, yang menunjukkan, betapa tahannya Taka dari kenyataan yang selalu mendesaknya berhenti mencintai diam-diam.

Surat, yang mencurahkan semua kesedihan Taka selama ini.

"Kenapa tak berdiri, Karin-chan? Ayo, masuk!"

Lamunan Karin terbuyarkan oleh suara bass kekasihnya. Disadarkannya dari lamunan, oleh tatapan mata Yamato yang senang nan menusuk hati. Lelaki setinggi 190cm itu telah berdiri menghadap Karin, berusaha menarik tangan Karin. Sementara Karin, masih duduk dengan posisi tangan dipegang Yamato.

"Ah—uhm... ya, ayo!" Karin tersenyum. Yamato hanya tersenyum tipis, lalu kembali menarik Karin masuk bersama dirinya ke ruangan ICU. Yamato tak tahu kenapa sedari tadi Karin tak tersenyum, tapi ia tahu, senyuman Karin barusan dipaksakan.

Mereka masuk kedalam ruangan serba putih itu. Bau obat-obatan menyeruak sampai sudut ruangan, menciptakan bau tak sedap di sana. Tertidur di atas ranjang ruangan itu, Taka. Kelopak matanya tertutup—terpejam matanya. Bekas luka pembawa bencana tadi, kini telah tertutupi oleh sebuah perban yang nampak basah karena baru ditetesi betadine. Pakaian seragam sekolah Teikoku yang tadi dipakainya, kini telah berganti menjadi setelan pakaian warna putih. Khas pasien rumah sakit.

Sinar matahari yang menerobos masuk dari dua jendela kamar itu, menyinari seluruh bagian kamar. Memperjelas keadaan Taka saat ini. Mereka berdua tak tahu mengapa Taka tak kunjung sadar, namun setidaknya mereka tahu Taka masih hidup.

Baru saja Yamato akan melangkah lagi mendekati ranjang Taka, Karin telah mendahului. Segera duduk perempuan itu di atas kursi samping kiri Taka. Yamato baru saja sadar, cermin air mata telah menyamarkan sementara warna pupil mata biru laut Karin.

Yamato tak habis pikir, kenapa Karin sebegitu perhatian kepada Taka. Tapi lebih baik ia tak perlu tahu itu, karena ia tak boleh tahu. Surat yang menjadi awal dari semua ini pun tak boleh terbaca olehnya.

Jadi, ia biarkan saja Karin berbuat sesuka hatinya, toh ini untuk Taka juga. Apalagi sejak Taka bertemu dengan satu-satunya orang yang dapat menandinginya—Raimon Taro, ia makin menjadi seorang yang ganas namun melemah.

Dimana Taka yang stoic? Dimana Taka yang selalu menjadi partner setia Yamato, baik di lapangan maupun di kancah sekolah? Jawabannya, tak ada. Yang kini tertidur di hadapannya adalah, Taka Honjo yang bukan merupakan karakter dan sifat biasanya.

Lelah berdiri, Yamato duduk di atas sofa yang letaknya tak jauh dari pintu. Ingin sekali ia mengganti seragam Akademi Teikoku-nya dengan pakaian sehari-hari, saking lelah dan gerahnya. Tapi kenyataan tak mengizinkan. Yamato lebih peduli pada orang selain dirinya di ruangan ini, daripada tubunya sendiri yang kegerahan.

Karin mencengkram erat, salah satu ujung selimut yang menutupi tubuh Taka sampai dadanya. Raut wajahnya tak dapat ditebak sekarang. Jelasnya, ekspresi Karin tak dapat dibaca lagi. Itu bukan Karin Koizumi yang biasa.

.

.

_ooo_

.

"Uhh..."

Karin terlonjak dari duduknya, menyadari bahwa baru saja sebuah suara familiar tertangkap basah oleh telinganya. Raut wajahnya berubah senang. Refleks, ia menjerit. "Gyaa!"

"Eh—ada apa, Karin-chan?" Yamato yang mengantuk, spontan berdiri dan mendekati Karin dengan kecepatan larinya yang tajam cepat. Dilihatnya, wajah Karin yang berseri senang. Begitu ia melihat mata Taka yang terbuka redup, baru ia tahu sekarang.

Muncul kembali. Rasa cemburu itu muncul lagi, dan tertanam kembali di hati Yamato setelah ia memusnahkan cemburu itu tadi. Sekalipun ia meneguhkan hatinya, tetap saja ia tak dapat memungkiri bahwa kini dirinya cemburu. Peduli apa Karin? Ia tak dapat lihat kecemburuan Yamato sekarang.

Sosok berambut perak panjang itu menolehkan wajahnya pada Yamato dan Karin yang masih terkejut, dan menatap mereka lemah. Tidak. Ia tak bermaksud meledek mereka. Hanya tatapannya, yang menunjukkan bahwa kini ia benar-benar down.

"Kalian berdua—kenapa ada di sini...?" tanyanya, dengan nada serak. Tenggorokannya begitu sakit, hingga mengeluarkan suara dengan jelas pun tak dapat. Akhirnya ia pasrah saja bila suaranya serak dan sakit.

Yamato memajukan posisi tubuhnya selangkah, menjadi berada disamping Karin. Taka sama sekali tak cemburu. Prioritas utamanya sekarang adalah, sehat dan keluar dari rumah sakit sialan ini. Masalah cinta, nanti.

Otot atas bibir Yamato terangkat, menjadikannya tersenyum. "Kami 'kan temanmu, masa' kami tak boleh di sini—iya 'kan, Karin-chan?" Yamato menoleh ke arah Karin, sebelum ia selesai dengan pertanyaannya sendiri pada Taka barusan. Kata lain, ia memotong kata-katanya sendiri.

Taka hanya memandang tanpa ekspresi pada mereka. Kedua sahabatnya itu pasti maklum dengan sifatnya yang memang selalu memandang orang tanpa ekspresi, seperti memandang rendah orang lain. Sebetulnya ia tak seperti itu, hanya saja kebiasaannya tak berekspresi tidak dapat terhilangkan.

"Bagaimana, Taka-kun? Ehm... sudah baikan?" Karin angkat bicara, setelah sebelumnya ia hanya menjerit dan menyebabkan kekacauan sesaat diantara mereka bertiga. Yamato mengerutkan dahinya, bingung. Mata Taka membulat, baru sadari itu. Karin ternyata perhatian juga padaku, pikirnya.

Taka berusaha untuk bangun, namun dibantu Yamato karena kepalanya masih terasa sakit. "Err—ya, sekarang aku sudah baikan. Apa kalian tak takut dimarahi kepala sekolah? Bisa-bisa nanti kalian dikira bolos..."

Tak kunjung tiga detik, Yamato tertawa. "Hahahaha...! Tenang saja, Taka. Heracles sudah meminta izin pada kepala sekolah," sahutnya, seraya membersihkan air mata yang keluar dari matanya, saking menyangkal bahwa itu lucu.

"Ehm... Oh iya, Karin-chan, bisakah kau meninggalkan kami, berdua saja? Aku ingin bicara empat mata dengan Taka."

Taka terheran-heran. Ia tak tahu, apa yang sebetulnya ingin Yamato bicarakan. Sedangkan Karin, hanya mengiyakan keinginan Yamato. Mustahil Yamato tahu perihal surat itu, batinnya mengsugesti.

Dengan keraguan yang berkecamuk, Karin keluar dari kamar ICU itu, dan kemudian menutup pintunya. Karin tak mengerti. Tak biasanya, Yamato ingin bicara empat mata dengan Taka. Biasanya, Yamato selalu bicara terus terang meski itu didepan publik.

Bau obat-obatan yang tadi menusuk penciuman hidung Karin, perlahan mulai menghilang. Sekarang ia dapat bernafas dengan lebih lega dari sebelum ia memasuki ruangan ICU. Mungkin ventilasi udara ICU agak sedikit.

Tapi, rasa penasaran mulai menggoyah iman Karin. Ia terlalu ingin tahu, apa yang ingin Yamato bicarakan sampai menyuruh Karin keluar. Karena itulah ia memutuskan, akan mencuri dengar pembicaraan mereka berdua yang bersifat pribadi.

Denga pelan-pelan, Karin membuka sedikit pintu itu—mengusahakan agar pintunya tak berdecit. Sedikit celah saja, sudah memuaskan baginya. Ya memuaskan, sebelum Yamato atau Taka memegokinya.

Pertama, Karin melihat Yamato yang telah duduk di bangku yang tadi ia duduki, entah sejak kapan. Yamato membelakangi pintu, sehingga Karin tak dapat melihat wajahnya. Sedangkan Taka, duduk di atas tanjangnya. Tangan kanannya ia gunakan sebagai penopang dagunya. Sikunya bertumpu pada pahanya.

"Hei, aku mau bertanya. Boleh?" suara Yamato yang pertama terdengar. Karin semakin mempertajam pendengarannya. Ia tahu perbuatannya ini salah, tapi rasa penasaran telah meruntuhkan keyakinannya untuk tak menguping.

Taka melengos. "Bolehlah, selama itu bukan tentang tou-san." Diberikannya izin bertanya pada Yamato. Tak sampai lima detik, Yamato tiba-tiba berdiri dan memukul ranjang Taka. Karin refleks menjerit, namun langsung ia tutup mulutnya.

"Kau... menyukai Karin, 'kan?"

Mata biru Karin membulat. Tak ia sangka, Yamato bisa tahu itu dengan mudahnya. Padahal Yamato tak tahu apapun, bahkan surat itu saja tak pernah tampil di hadapannya. Apalagi, surat itu masih tersimpan rapat di saku rok Karin.

Air mata lagi-lagi turun dari pelupuk matanya. Semakin bimbang Karin dibuatnya. Itu terlalu menyakitkan baginya. Bagi perempuan cantik lainnya, pasti akan senang diperebutkan oleh dua lelaki tampan. Bagi Karin, itu adalah suatu bencana besar.

Yamato terlihat marah besar, meski Karin di belakangnya. Taka tak terkejut sedikitpun. Mata oranye gelapnya pun sama sekali tak membesar. Sesaat kemudian, Taka tersenyum tipis dan menjawab,

"Yeah, aku suka dia. Lalu?"

.

~To Be Continue~

.

Huaah~ dua jam, dihabiskan didepan laptop! XD

Oh iya, ada sebabnya saya updet cepet. Udah ada yang nagih, sih. DX

Kalau tidak salah, penname-nya... ah, saya lupa. Yang jelas, saya memanggilnya Makimura-san. Dia bilang, suka banget sama fict ini. Rela banget dia PM saya, padahal inbox saya sudah memasuki halaman tiga. Tapi tak apalah. Yang penting updet-nya 'kan, Makimura-san? Makasih^^

Fict ini tak tentu arah updet-nya. Kalo gak minjem bluetooth temen saya, saya gak tahu harus updet pake apaan. Kalo pake komputer sodara, paling hanya nambah beban. Flashdisk saya ancur berantakan, dan kena virus sialan sehingga harus beli lagi. Jadi, saya putuskan...

Fict ini HIATUS.

Maklum, tou-san saya rada pelit soal membeli modem. DXX

"Menerima saran, kritik, concrit, dan flame dalam bentuk apapun. Asalkan tak menyebutkan kata terlarang, apapun boleh."

Jelaskah?

Akhir kata, mind to review?