Seperti yang sudah saya janjikan, chapter 2 gak akan update lama-lama. Yosh, happy reading !
.
.
Sehari sebelum festival kembang api, kediaman keluarga Uzumaki tampak disibukkan dengan sesuatu, tepatnya kesibukan tersebut tampak di kamar anak perempuan. Himawari, si gadis bungsu tengah memperhatikan tangan ibunya yang telaten memasangkan yukata ke tubuh mungilnya.
.
.
That Feels
Chapter 2
Naruto © Masashi Kishimoto
Typo(s) everywhere, Uzumaki's family
Family/Drama/Hurt/Romance
Rated T
Naruto x Hinata
Boruto x Himawari
.
.
"Selesai." Hinata tersenyum puas menatap anak perempuannya yang telah mengenakan yukata berwarna kuning keemasan dengan motif bunga lily putih dan renda berwarna biru laut di bagian bawah yukata. Obinya berwarna lavender kepucatan, membuat Himawari tampak sangat manis.
Himawari memutar-mutar tubuhnya di depan cermin yang tergantung dikamar. Ia senyum-senyum sendiri melihat hasil karya sang Ibu.
"Kau suka ?" tanya Hinata. Himawari mengangguk senang. Ia sangat menyukai yukata pembelian ibunya kemarin, khusus untuk acara festival kembang api sabtu ini.
"Ah Boruto-kun, kau juga ingin memakai yukata untuk festival nanti ?" Boruto sudah berada diambang pintu kamar Himawari saat Hinata mengubah pandangannya. Anak lelaki tersebut langsung masuk kekamar adiknya tanpa menjawab pertanyaan Ibunya.
"Ne Nii-chan, apa aku terlihat manis dengan yukata ini ? Kaa-chan baru membelikan ku kemarin loh hehe. " Pamer Himawari pada sang kakak. Boruto menekuk wajahnya tak suka. Hinata yang melihatnya hanya tertawa kecil lalu meraih selembar yukata berwarna merah di kasur Himawari.
"Ini yukatamu, kau bisa memakainya ?" Hinata menyerahkan yukata tersebut ke Boruto dan langsung disambut si anak lelaki.
Inikan hadiah ulangtahunku saat umur 7 tahun. Oh iya aku kau baru ingat kalau Tou-chan yang memberikannya. Ingat Boruto.
"Kaa-chan rasa yukata itu masih pas denganmu." Boruto mengedikkan bahunya tanda tak yakin. Yang benar saja sekarang usianya sudah 9 tahun dan yukata ditangannya ini adalah yukata untuk anak usia 7 tahun.
Sejenak Boruto terdiam menatap yukata merahnya. Tampak seperti tengah memikirkan sesuatu. Melihat anaknya yang sedari tadi hanya diam mengundang Hinata untuk bicara.
"Ada apa Boruto-kun ?" Tanya Hinata heran. Boruto tersentak dari pikirannya lalu menggeleng.
"Tak apa-apa. Aku akan kekamar untuk mencobanya." Boruto perlahan berbalik badan, namun tak sampai 2 langkah Ia kembali kehadapan sang Ibu. Hinata pun hanya memasang wajah bingung.
"Kaa-chan." Panggil Boruto pelan. Ia menyerahkan yukatanya pada sang Ibu.
Ia malu menatap sang Ibu lantas melempar tatapan nya ke samping, apalagi setelah Ibunya terkikik geli melihat ada rona merah kecil yang tersamar di wajahnya.
Himawari juga ikut-ikutan terkikik melihat tingkah kakaknya.
"Kalau tak bisa memakainya, katakan saja Nii-chan. Jangan sok keren begitu hihihi." Mendengarnya Boruto hanya cemberut dan Hinata tak sanggup menahan senyumnya melihat tingkah putra sulungnya.
.
.
Dan voila ! Kedua anak dari pasangan Naruto dan Hinata benar-benar sangat imut ! Hinata tak henti-hentinya tersenyum melihat kedua anaknya yang dibalut dengan yukata tengah berdiri bersampingan menghadapnya.
"Kaa-chan, ini sedikit menggantung." Protes Boruto ketika menoleh kebawah melihat bagian yukatanya menggantung di atas mata kakinya.
"Kau tampan dengan itu, Boruto-kun." Hinata berujar tersenyum. Sejenak Hinata beranjak kekamarnya lalu kembali dengan smartphone yang sudah Ia genggam.
"Boruto-kun, Hima-chan berposelah. Kaa-chan akan mengambil beberapa foto."
"Apa ?! Tidak, aku tidak mau Kaa-chan. Jangan mengambil fotoku. " ucap Boruto setengah berteriak sambil mengalihkan wajahnya kesamping.
Klik ! Klik ! Klik
Peringatan dari Boruto sia-sia, nyatanya Hinata telah membidik beberapa kali.
"Cepatlah berpose, kalian sangat manis disini." Hinata sangat antusias sambil mencari-cari angle yang pas untuk memotret anak-anaknya.
"Ayolah Nii-chan. Jarang-jarang kan kita memakai ini. " Rengek Himawari sambil bergelayut manja di lengan sang kakak. Boruto hanya menghela nafas pasrah.
"Baiklah-baiklah." Ucap Boruto pada akhirnya.
Himawari tersenyum memasang pose dengan jari telunjuk dan jari tengahya terangkat membentuk huruf V. Karena tak tahu ingin bergaya seperti apa, Boruto mengikuti Himawari dengan mengacungkan jarinya seperti sang adik.
"Ayo, ganti gaya lagi." Lanjut Hinata senang.
Kali ini Boruto berdiri dibelakang Himawari. Kedua tangannya diletakkan di kepala adiknya lalu mengacungkan kedua jempolnya, tak lupa Ia menjulurkan lidahnya keluar. Mencoba pose sedikit gokil. Sementara Himawari tersenyum imut sambil meletakkan telunjuknya di pipi menambah kadar kemanisannya.
Dan Hinata benar-benar tak sabar menunjukkan foto-foto ini pada Naruto.
.
.
"Bagaimana Naruto? Kau sudah membuat keputusan ?" tanya Shikamaru pada sang hokage yang tengah melamun menatap kearah luar jendela.
Langit malam ini sangat pekat, namun bulan membuatnya terlihat indah. Terlebih ribuan bintang juga turut mengambil andil dalam membuat pandangan yang sangat menawan di safir Naruto.
"Aku... masih memikirkannya." Jawab Naruto pelan. Tak melepas pandangannya dari langit malam.
"Kau harus cepat memutuskannya, jika tidak kita ak-"
"Aku tahu itu Shikamaru." Potong Naruto cepat. Lalu memutar kursinya merubah posisi menjadi membelakangi jendela.
"Apa masih ada dokumen yang harus kuperiksa?" Lanjutnya dengan pandangan lelah yang ditujukan pada lelaki didepannya.
"Sepertinya cukup untuk malam ini. Kau bisa pulang." Naruto melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Hinata dan anak-anak pasti sudah tertidur. Batinnya lelah.
.
.
Naruto sudah berada didepan pintu rumahnya. Tadi Ia menggunakan Hiraishin no Jutsu agar segera sampai disini. Naruto langsung saja masuk karena pintunya tak dikunci.
"Hinata?" Sang istri menoleh cepat saat suara serak yang sangat dirindukannya sampai ke pendengarannya. Hinata berdiri meninggalkan aktivitasnya sejenak.
"Okaeri Naruto-kun." Hinata berjalan kearah Naruto dengan senyum yang bertengger di wajah manisnya dan melepas jubah hokage suami.
"Tadaima." Ujar Naruto tersenyum. Kini jubahnya telah berpindah ke lengan Hinata.
"Kau sedang merajut apa ?" Tanya Naruto saat melihat beberapa benang wol diatas meja ruang keluarga.
"Ah, aku hanya merajut beberapa syal, sebentar lagi musim dingin kan?" Jawab Hinata tersenyum.
"Kau belum mengantuk ?" Tanya Naruto lagi. Hinata menggeleng pelan sebagai jawaban lalu tersenyum lagi.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untuk Naruto-kun. Makan malam sebentar lagi akan kupanaskan. Kau mandi saja dulu ya, Naruto-kun." Ucap Hinata sembari berjalan menuju dapur. Naruto hanya menatap sendu punggung kecil sang istri yang telah menghilang dibalik dapur.
Barusan Ia tahu Hinata tengah berbohong. Manik lavender kepunyaan sang istri tampak berat dengan kantung matanya yang terlihat sedikit tebal.
Tentu saja Ia menghabiskan waktu dengan merajut syal karena ingin mengusir rasa kantuk yang melandanya. Dan itu Hinata lakukan demi menunggu Naruto pulang.
Untuk kesekian kalinya, Naruto merasa telah menjadi suami yang buruk untuk wanita yang amat Ia cintai.
.
.
Naruto baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya duduk bersandar di atas tempat tidur, tengah tertawa kecil sambil menatap smartphonenya.
Naruto jadi penasaran apa yang membuat Hinata sangat serius sampai tak menyadari bahwa Naruto telah bergabung bersamanya diatas kasur.
Hinata tersentak kala suaminya itu sudah berada disebelahnya.
"Na-Naruto-kun," Hinata berucap lirih mereda gugupnya yang tiba-tiba saat Naruto menyenderkan kepalanya di bahu Hinata.
"Kau sedang melihat apa sampai-sampai tak menyadari kehadiran suamimu ini, hm ?" Tanya Naruto pelan. Hinata tersenyum kecil lalu memindahkan smartphonenya ketangan Naruto.
Melihat itu Naruto seketika terduduk tegap. Ia menatap serius kearah smartphone Hinata.
"Astaga ! Mereka imut sekali. Ini, kapan Hinata?" Naruto menatap antusias pada layar yang menampilkan potret kedua anaknya –Boruto dan Himawari- berpose lucu dengan yukata dibadannya.
"Tadi siang, mereka mencoba memakai yukata untuk festival kembang api sabtu besok. Aku tak tahan melihat mereka jadi ku foto saja." Hinata menjawab dengan kekehan geli.
Namun hal itu berbanding terbalik dengan keadaan Naruto. Dadanya bergurumuh menandakan Ia tengah gelisah. Dan itu langsung mengundang perhatian Hinata.
"Naruto-kun ?" Naruto segera tersentak lalu mengganti wajahnya dengan memberikan senyum kepada sang istri.
"Ah, apa kau juga akan memakai yukata nantinya ?" Hinata terlihat berpikir sejenak. Lalu melayangkan tatapannya pada Naruto.
"Menurut Naruto-kun bagaimana ?" Tanya Hinata balik. Naruto tersenyum lembut lalu mengacak puncak kepala Hinata.
"Kau terlihat cantik menggunakan apapun, Hinata." Sontak wajah Hinata memerah karena pujian Naruto barusan.
"M-mou Naruto-kun, a-aku bukan anak kecil lagi." Hinata meraih jemari Naruto yang berada di atas kepalanya. Naruto hanya terkekeh geli melihat tingkah sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan.
Dengan jemari yang masih saling bertautan, Naruto menarik Hinata kedalam pelukannya. Mereka yang tadinya duduk kini telah berganti dengan Hinata yang sudah dipeluk Naruto dalam posisi tidur dengan kedua badan yang saling menghadap.
"Tidurlah, Hime. Ini sudah larut." Ujar Naruto pelan. Wanita yang berada dalam pelukannya hanya mengangguk kecil, menyamankan diri di dada bidang suami yang terasa hangat.
Dan selanjutnya terdengar helaan nafas Hinata yang teratur menandakan bahwa istrinya itu sudah tertidur. Sementara dirinya masih betah mengusap pelan surai indigo sebahu Hinata yang terasa sangat lembut ketika melewati sela-sela jemarinya.
Beberapa kali Naruto mengucap syukur karena telah menjadikan Hinata sebagai istrinya. Disetiap helaan nafasnya, Ia selalu ingin membahagiakan wanitanya itu dan juga kedua anaknya.
Namun disaat yang bersamaan, dirinya berkali-kali berucap maaf pada Kami-sama karena telah terlalu sering menggoreskan luka pada hati mereka.
Seperti malam ini, Naruto hanya mampu mengucap maaf untuk kesekian kalinya. Pada sang wanita yang telah berharap banyak pada dirinya untuk satu hal yang telah Ia janjikan.
.
.
Satu hari sebelum Sabtu..
Braakk !
Sang hokage menggebrak meja kerjanya dengan kasar, membuat beberapa lembar dokumen terjatuh ke lantai.
"Apa katamu ?! Bagaimana bisa?!" Teriak Naruto marah.
"Bukankah sudah kubilang kau harus menolak semua pertemuan di hari itu !" Lanjutnya sambil mengibaskan tangannya kasar.
Yang menjadi objek kemarahan sang Hokage hanya memejamkan matanya sejenak lalu menatap laki-laki yang terlihat sangat emosi karena ucapan yang Ia lontarkan barusan.
"Pertemuan ini sangat penting, Naruto. Jika kau tidak hadir, kerjasama antar semua desa akan gagal. Ingat, semua desa." Shikamaru berujar tegas.
"Dan terutama, desa kita akan mengalami kerugian yang sangat besar." Lanjutnya sambil menyerahkan undangan pertemuan dari Sunagakure ke hadapan Naruto.
Naruto menatap kertas itu sekilas lalu beralih menatap Shikamaru.
Raut kesedihan, kekecewaan dan juga kemarahan bercampur jadi satu di wajah sang Hokage. Shikamaru menghela nafas berat, Ia tahu Hokagenya pasti sangat pusing.
Shikamaru sangat tahu perihal apa yang membuat hokagenya seperti ini. Membuat dirinya terbesit rasa bersalah karena tak bisa menepati janjinya.
"Arggghh !" Naruto mengacak surai kuningnya kasar lalu menjatuhkan dirinya di kursi putar kepunyaannya. Ia membalik kursi menghadap keluar jendela, membiarkan angin-angin senja menembus seluk beluk wajahnya yang sangat kacau.
"Kita akan pergi, namun setelah aku pulang dari festival." Ucap Naruto tegas.
"Tidak bisa Naruto. Pertemuan itu diadakan pukul 7 malam. Perjalanan kita akan menempuh waktu 3 jam itupun jika kita menaiki balon udara. Jadi perkiraanku paling lambat kita berangkat pukul 5 sore." Jelas Shikamaru panjang.
"Kita akan menggunakan Hiraishinku."
"Apa ?! Kau ingin mati ? Yang berangkat bukan hanya kau. Ada aku dan 3 jounin yang ikut mengawal kita." Kilah Shikamaru lagi.
Naruto benar-benar tak bisa berfikir jernih. Otaknya hanya dipenuhi oleh festival dan festival yang diadakan sabtu ini. Kepalanya terasa nyeri ketika membayangkan bagaimana ekspresi istri dan anak-anaknya esok hari.
"Berikan aku waktu. Aku akan memikirkannya."
.
.
Dan hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Uzumaki tiba. Hari festival kembang api yang telah mereka tunggu sejak satu minggu yang lalu.
"Aku tak percaya ternyata Nii-chan mau ikut juga." Himawari berujar sambil memamerkan cengirannya pada sang kakak. Boruto mendengus pelan.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Satu jam lagi festival akan dimulai. Namun keduanya sudah tampak menawan dengan masing-masing yukata yang terbalut di badan mereka.
Kriek
Kedua kakak beradik itu menolehkan pandangannya ketika mendengar suara kenop pintu yang dibuka. Menampilkan sesosok wanita dewasa yang dibalut yukata berwarna lavender lembut dengan motif bunga lavender dan pinggangnya yang dibalut obi berwana ungu gelap.
Mata mereka melebar kagum melihat pandangan didepannya.
"Kaa-chan ?" Nafas Boruto tercekat melihat Ibunya yang sangat anggun menggunakan yukata yang terlihat sangat pas ditubuhnya.
Tou-chan akan menyesal jika tidak pergi ke festival malam ini. Batin Boruto sambil menatap Ibunya.
Sementara Himawari menangkup kedua tangan didepan wajahnya menatap kagum sang Ibu yang berjalan kearah mereka.
"Kaa-chan, kau sangat cantik seperti malaikat." Ujar Himawari senang sambil memeluk erat Hinata.
"Arigatou. Kalian juga sangat imut dengan yukata itu." Hinata tak sanggup menahan rona kecil dipipinya saat kedua anaknya itu memuji penampilannya hari ini.
Ya, Hinata memutuskan untuk mengenakan yukata lavendernya yang sudah sangat lama tak Ia pakai. Yukata yang Ia beli bersama Naruto ketika masih berusia 19 tahun benar-benar masih terlihat pas di tubuhnya yang sudah memasuki usia 30.
Mungkin nanti jika sempat, aku akan memakaikan yukata kepada Naruto. Pikir Hinata senang.
"Ne, Kaa-chan. Tou-chan ingat kan hari ini festivalnya ?" Tanya Himawari pelan pada Ibunya.
Hinata mengangguk sebagai jawaban.
"Kau percaya kan Tou-chan akan menepati janjinya ?" Hinata menatap anaknya bergantian. Himawari mengangguk cepat. Sementara Boruto hanya diam tak menanggapi.
"Aku percaya pada Tou-chan ! Ah aku benar-benar tak sabar ketika kita melihat kembang api bersama malam nanti." Himawari berujar antusias. Senyumnya tak pernah lepas dari wajah mungil nan imutnya.
"Tak usah berlebihan Hima-chan. Ini hanya festival kembang api. " Boruto berucap datar pada adiknya.
"Justru karena ini festival kembang api makanya kita harus semangat !"
Melihat kedua anaknya, Hinata jadi tersenyum. Akhirnya hari ini datang juga. Ucapnya dalam hati. Tak jauh dari Himawari, Hinata pun juga menantikan festival kembang api kali ini.
"Masih ada satu jam lagi sebelum festival dimulai. Bagaimana kalau kita menonton TV selagi menunggu Tou-chan pulang,hm ? Kaa-chan akan membuatkan ocha untuk kalian ." Tawar Hinata. Kedua anaknya mengangguk lalu langsung berlari keruang TV. Sementara Hinata beranjak kedapur.
.
.
Naruto mengepalkan tangannya kuat. Kesal, ya Ia sangat kesal pada dirinya sendiri.
Ia mendengar semuanya. Semua percakapan yang didengar dari teras rumahnya amat menyesakkan dada. Suara mereka tersirat akan kebahagiaan, dan Naruto adalah satu-satunya yang sebentar lagi akan menghancurkan semua itu.
.
.
To be Continued
.
.
a/n :
ada yang ngeh kalo di kalimat -threeshot (mudah-mudahan)- saya hapus ? kwk
kelar ngetik sampe chp 2 kok rasanya pengen nambah satu dua chapter ya ? soalnya chp 2 klimaksnya masih belum uhmm ya begitulah. Ada yang keberatan ?
tapi lihat nanti ya, kalaupun emang bakal nambah satu atau dua chp, chp 4 bakal jadi ending trs chp 5 nya sekuel (masih rencana).
Oya itu yang saya tulis perjalanan menggunakan balon udara, jangan pada kaget ya. Kendaraan itu adalah kepunyaan sang hokage yang kalo mau mengunjungi desa-desa lain dan sketsa officialnya sudah dikonfirmasi di Boruto the Movie.
Terus lagi perjalanan ke Sunagakure dengan waktu tempuh 3 jam itu karangan saya saja kok haha. Aslinya sih gatau, biasanya butuh berhari-hari kalo perginya sambil loncat dari satu pohon ke pohon lain. Nah berhubung hokage sudah punya kendaraan pribadi bisa saja kan perjalanannya jadi cepat.
Yang sudah corat coret buat chp 1 terimakasih banyak ! respon kalian jadi penyemangat buat ngetik loh~ ini saya balas yaa :
dylanNHL : arigatou, tapi tebakanmu sepertinya belum terjawab di chp ini, maaf ya tapi saya kasih hints aja, selanjutnya wait di chp 3. Update kilat ? perlu ngalahin hiraishin nya minato kah ? #tibatibagaje #abaikansudah
himawaarii nara : arigatou, ini sudah lanjut~
Hinekoi : wah terimakasih responmu panjang ya hhihi. Ya, saya juga gak bisa benci sama si hokage, kecintaan sama Naruhina ngalahin semuanya kwk nah ini chp 2 nya sudah lanjut !
Yami No Be : sudah lanjut~
Hime : arigatou, sudah lanjut sudah lanjut~
Febrianza : arigatou, ini sudah lanjut yaa~
Byakugan no Hime : betul, karena itulah fic ini lahir hehe. Kay, chp 2 is here for u~
: anoo, maaf kalau boleh tahu 'kasian' maksud kamu gimana ya ? gak ngeh ni~
Senang sekali rasanya ketika para reader menyempatkan untuk singgah di fic ini lalu meninggalkan pesan dan kesan di kolom review. Sungguh, review dalam bentuk apapun itu bakal jadi penyemangat author buat melanjutkan ceritanya. Sekali lagi, hontouni arigatou !
Saya tunggu lagi reviewnya buat chp 2. Dari typo(s), alur, dan kata/kalimat yang gak sinkron semuanya saya tunggu di kolom review !
Akhir kata,
Sankyu,Jaa ne.
See you at 3rd !
Kousaka Reina
July, 31th 2015
