Disclaimer Masashi K

Author : Akira Naru-Desu,

Amach cuka'tomat-jeruk, dan dhiya –chan.

Pair : SasuNaru

Rate : T (Plis jangan minta M)

Gendre : Humor, Romance.

Warn: YAOI, GAJE, TYPOS, OOC,

Humor gagal, DLL.


SELAMAT MEMBACA!


.

.

"K-KAU SI BRENGSEK YANG MEMBERIKANKU PEMBALUT, TTEBAYO!"

Sasuke melotot menatap Naruto.

Lalu?

Ia menyeringai. "Lama tidak bertemu, Nona~."

Naruto membelalakan mata – tak percaya. Nona? NONA?! Demi puluhan gadis berdada besar yang pernah ia kencani, manusia tak waras seperti apa yang sedang ia hadapi saat ini? Naruto benar-benar tak habis pikir. Bila ibunya Kushina sering menonton drama Jepang terbaru menampilkan cowo-cowo kece yaitu ganteng-ganteng harimau, maka lelaki yang dihadapannya kini tak lebih seperti ganteng-ganteng sakit jiwa.

"Ganti rugi." Dengan tidak berpri-kegantengan, lelaki berwajah tembok yang diduga Naruto mengidap sakit jiwa menagih seraya menggerakan dagunya angkuh kearah mobilnya.

"Ganti rugi?! Setelah menghancurkan masa depanku yang cermerlang, kau meminta ganti rugi?!" Naruto berdecak tak terima. Enak saja, ia yang dulu merasa dirugikan oleh pemuda pantat ayam itu dengan tak ikhlas menerima perbuatannya malah tak menuntut ganti rugi apa-apa.

Seringai Sasuke terukir sempurna, "Aku tahu kau tidak bisa membayarnya, Dobe." Decihnya mengejek. "Tukang parkir mana yang bisa membayar perbaikan mobil super mahalku? Menggembala bersama babi dimalam haripun kau tak akan mampu membayarnya," ujar Sasuke sinting, membawa-bawa profesi Kakuzu dimalam hari sebagai tukang ngepet.

"Tidak mampu katamu?!" Naruto meledakan amarah, terprovokasi secara langsung oleh perkataan Sasuke yang merendahkan dirinya sebagai anak orang kaya nomor satu di Jepang. "Jangankan membayar perbaikan body mobilmu, membeli mobil ini pun aku mampu!"

Alis Sasuke bertaut. Bertanya-tanya didalam hati berapa banyak tuyul yang akan diadopsi Naruto untuk membayar perbaikan mobilnya. "Kasian." Sasuke sok-so'an memandang Naruto dengan tatapan menilai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Modus terselubung yang memang pengen liat wajah cakep Naruto tapi gengsi mandang terang-terangan. "Menjadi tukang parkIr sepertinya cukup berat. Terlebih berada ditengah mobil-mobil mewah seperti ini, hingga kau berkhayal ingin membeli mobil." Sasuke bertingkah semakin menyebalkan.

Wajah Naruto memerah – marah. Benar-benar tak bisa memaafkan lelaki berpantat ayam burik ini. "AKU ADALAH ORANG KAYA, BRENGSEK! MOBIL KU BANYAK, HARTAKU BERLIMPAH! RUMAHKU SEBESAR LAPANGAN BASEBALL! APARTEMEN KU 69 TINGKAT! TANAH WARISANKU 170 RIBU HEKTAR TTEBAYO!" Pamer Naruto selangit, banyak bohongnya tetapi untuk bagian terakhir Naruto tak henti melafalkan kata amin sebanyak dua belas kali. Berdoa semoga ayahnya tiba-tiba sakit mendadak dan tanah warisan menjadi miliknya, benar-benar berperan sebagai anak durhaka. "JANGANKAN MEMBELI MOBIL, MEMBELI PERUSAHAAN INI PUN AKU MAMPU!"

Telunjuk Naruto mengarah pada gedung perusahaan yang berdiri kokoh, tak peduli jika orang-orang disekitaran kantor memandang miris dirinya. Prihatin dengan lelaki tampan seperti Naruto sudah mengalami stres berat. Tragedi sebagai eksekutif tukang parkir memang memilukan.

"Benarkah? Bagus." Angguk Sasuke. "Kalau begitu cepat bayar."

Mulutmu harimaumu, pribahasa yang cocok untuk Naruto. Semula Naruto yang meledak-ledak, pamer minta ampun atas harta orang tuanya yang ia klaim mendadak salting. "Akan ku bayar segera. Tunggu tanggal mainnya!" Nego Naruto berasa main arisan.

"Bayar sekarang," ujar Sasuke mulai menyebelin. "Katanya anak orang kaya~. Masa bayar utang, nunggak?"

Perkataan Sasuke yang tak ubah mengejek kredibilitasnya sebagai orang kaya sejagat, mulai memunculkan rasa marah didiri Naruto, "AKAN KU BAYAR BRENGSEK! Kau pikir aku ini orang miskin?!" Geram Naruto.

"Orang kaya tidak mungkin jadi tukang pakrir. " Balas Sasuke tak mau kalah.

"Aku hanya menyamar!" Sebut Naruto ngawur. Tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menutupi aib sebagai seorang tukang parkir. Alangkah hina momen Naruto saat ini.

Seringai Sasuke tak pernah pudar, malah semakin lebar membuat Naruto merinding disko dengan detak jantung yang bertabuh layaknya genderang mau perang. Ohh God! Sasuke telah mengetahui akal bulus Naruto.

"Bagaimana jika kita membuat kesepatakan?" Mata Naruto memincing curiga ketika sorot ganjil tersirat dimata oniks pemuda dihadapannya. Rada-rada gak enak nih perasaannya. Naruto menantikan kembali kelanjutan si kepala unggas.

"Kau jadi pembantuku atau – "

The hell!

"Please deh, kesepakatan macam apa itu?! Menjadikan makhluk tampan dan super kaya sepertiku menjadi seorang pembantu? Nehi!" Potong Naruto nyerocos, masih sempat-sempatnya menyombongkan diri sambil memutar bola matanya. Tak percaya akan job nista diajukan pria sakit jiwa ini. Tapi.. Ganteng.

"Baiklah. Kau membuatku tak punya pilihan lain selain membawa permasalahan ini ke ranah kepolisian."

Hening...

Dan karena tak mempunyai pilihan lain daripada sudah melarat malah masuk bui, Naruto mengiyakan kesepakatan laknat Sasuke. Lagi- lagi, transaksi jabat tangan ini sangat cepat terjadi. Akhirnya, Naruto yang malang resmi menjadi seorang...

Babu.

Ada cara bunuh diri paling enak gak? Naruto mau mati saja kalau begini. Matipun pilih-pilih cara.

Sasuke menyeringai penuh kemenangan. Dalam hatinya ketawa setan melihat wajah nelangsa pemuda manis didepannya. 'Khukhukhu.. Kena kau, Dobe!'

Lalu?

"Malam ini kau bisa datang ke apartemenku," katanya dengan nada sok superior sehingga membuat Naruto menahan diri untuk tidak muntah.

Si Namikaze yang dilanda kesialan itu membuang muka. Namun, Naruto masih menerima kartu nama yang Sasuke berikan. Dengan ogah-ogahan, ia membaca kartu nama itu. Pengen tahu, nama asli si brengsek unggasan didepannya. Denger-denger dari salah satu mantannya, Shion – hanya dengan sebuah nama, kita bisa membunuh seseorang. Naruto mulai tak waras dengan merencanakan strategi zaman edo di zaman canggih seperti sekarang. Santet.

Tapi?

'U- Uchiha Sa-sasuke?' batinnya horor mempelototi kartu nama yang ia pegang. Ia menoleh patah-patah kearah lelaki tampan dihadapannya. Ia menelan ludah. Kalau tidak salah, perusahaan ini namanya Uchiha Corp. Dan kalau tidak salah lagi, bos besarnya alias direktur perusahaan ini namanya juga Uchiha Itachi.

Gawat! Sepertinya Naruto memang benar-benar bernasib buruk. Salah cari musuh.

"Kaget, Dobe?" Tanya Sasuke menyentak Naruto yang lagi komat-kamit.

"Errr.. Kau?"

Sasuke tersenyum setan, kemudian berkata. "Perkenalkan, namaku Uchiha Sasuke. Adik dari direktur utama perusahaan ini sekaligus wakil direktur perusahaan ini.. tukang parkir." Cara ngomongnya nyebelin dan sok banget.

JEGEEEEERRRR!

SIALAAAAAAAN! Maki Naruto dalam hati.

Siang menjadi tukang parkir, malam menjadi babu. Parahnya lelaki berwajah tembok berlin ini adalah adik Itachi Uchiha, Direktur Uchiha-Corp dengan Sasuke merangkap menjadi wakil direktur. Entah apa dosa Naruto hingga harus menjadi seperti ini. Yang jelas semasa menjadi kaya, selain bersedakah bersama gadis-gadis cantiknya, ia tak pernah merokok, apalagi menegak miras seperti yang dilantunkan penyanyi tersohor dengan dada berbulunya. Oke, sempat terbersit didalam pikiran ingin mengakhiri keperjakaannya bersama Hinata. Tetapi semua hancur sejak teme bastrad menyerang datang. Kalau diingat, semenjak saat itu Naruto dihadapkan keluarga Hyuuga yang mengerikan. Naruto trauma.

Naruto akan mencatat hari ini dalam ingatan patennya. Hari yang bersejarah. Sejarah yang amat sangat kelam.

Coba hitung, berapa kali aku sudah mendapatkan kesialan dihari yang sama?! Naruto menjerit dalam hati. Nista sekali hidupnya.

KiraAmachDhiya

Itachi benar-benar merasa heran ketika melihat adiknya datang dengan aura yang begitu 'lain'. Bukan dingin seperti biasanya ataupun suram. Kali ini, benar-benar lain. Oke, sejak kapan Uchiha Sasuke si pemuda es mengangkat sudut bibirnya keatas ketika berjalan di kantor?

Well.. Itachi tentu saja tidak dapat disalahkan ketika ia berpikir mungkin adiknya sedang sakit. Ia melihat jam tangannya. Dan ia mengkerutkan dahinya sebagai tanda berpikir dan bingung – walaupun kerutan pada dahinya itu sangatlah tipis.

"Sepuluh empat puluh sembilan," bisiknya seraya melihat jam tangan. Kembali, ia melihat kearah adiknya yang tengah duduk di sofa yang berada diruangannya. Santai sekali dan masih terlihat bahagia. Rasa heran menyerang Itachi begitu hebat.

"Apakah aku melewatkan sesuatu?" tanyanya penasaran ketika seharusnya hal yang pertama kali diucapkan adalah ucapan selamat siang.

"Hn?" Sasuke menanggapi dengan gumaman, mata hitamnya membidik mata hitam kakaknya yang serupa.

Itachi mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu. "Hanya heran. Biasanya kau akan mendapatkan mood yang buruk ketika kau datang terlambat seperti ini," katanya seraya menatap Sasuke, "tapi ternyata adikku yang selalu bertampang dingin ini sangat senang sehingga ia terus saja menyeringai seperti itu," lanjutnya seraya memutar matanya malas.

Sasuke mendengus. Namun, ia seperti tak memperdulikan apa yang Itachi katakan padanya. Walaupun pada kenyataannya, biasanya ia akan langsung terserang rasa kesal. "Aku memang sedang merasa bahagia." Sasuke menjawab kalem.

Kedua alis Itachi terangkat –merasa terkejut dengan jawaban blak-blakan adiknya. "Jadi?" tanyanya penasaran.

Sasuke bangkit dari sofa kemudian melangkah menuju jendela, dari sana ia dapat melihat area parkir yang berada jauh dibawah bangunan. Matanya memaku pada pemuda pirang yang sedang sibuk mengipasi tubuhnya yang sedang kepanasan. Ia tersenyum geli melihatnya. Sementara itu, Itachi terus saja memperhatikan gerak-gerik adiknya. Karena penasaran, akhirnya sang kakak mengikuti apa yang dilakukan Sasuke dan melihat apa yang sedang Sasuke perhatikan.

Sasuke melirik kakaknya, kemudian tersenyum miring. "Rubah masuk kedalam perangkap," katanya ambigu.

Dan Itachi hanya berdecak ketika tahu apa yang sedang adiknya pikirkan. "Jangan terlalu menyiksanya, Outoto."

Sasuke mendengus. "Rubah nakal haruslah dihukum," jawabnya kemudian berbalik dan membawa berkas yang ada pada meja Itachi. "Aku yang akan menangani proyek ini," tukasnya datar namun terselip nada semangat didalamnya.

Itachi mengangguk. Lalu tersenyum kecil kepada adiknya. "Lakukan sesukamu. Proyek dengan Namikaze adalah milikmu." Senang sekali melihat adiknya bahagia seperti itu. Jarang sekali. Maka, ketika melihatnya tentu saja Itachi ikut bahagia.

"Hn."

KiraAmachDhiya

Sehari yang berat untuk Naruto. Ia sudah bekerja memakirkan mobil selama enam jam. Dan sukses hal tersebut menguras seluruh tenaganya. Tentu saja, hari pertama sebagai tukang parkir pastilah membuat Naruto mederita lahir dan batin. Peluh mengucur disetiap lekuk tubuhnya, wajahnya yang tampan tersirat gurat kelelahan yang begitu dalam. Kasian. Padahal, mobil-mobil tidaklah datang sesering yang berada di swalayan. Terbilang sangat jarang. Satu jam mungkin hanya dua mobil saja.

"Akhirnya selesai juga, ttebayo!" Naruto berseru sangat lega. Cengirang lima jarinya yang menawan terpampang jelas menyilaukan mata Lee – si satpam yang bekerja disana.

"Semangat masa muda, Naruto-kun!" Sahut Lee.

Lalu mereka saling melemparkan acungan jempol dan cengiran yang sama.

"Mau pulang bersama?" Ajak Lee baik hati kepada kawan barunya.

Naruto memandang Lee dengan terharu, matanya berkaca-kaca. Berlebihan. "Kau memang sangat pengertian, Lee!" Serunya ketika ia mendapatkan tawaran yang menggiurkan tersebut. Lumayan. Naruto gak usah keluarin ongkos buat naik bus. Gantinya, ia bisa memakan dua porsi ramen dengan ocha di kedai Ichiraku dengan hasil tips hari ini. "Baiklah, apa kita searah?" tanyanya takut-takut. Bagaimanapun, Lee itu sangat aneh. Siapa tahu, bukannya mengajak pulang malah membuat Naruto semakin jauh dari apartement si Teme.

"Memangnya kau mau kemana?" tanya Lee. "Kemanapun akan ku antarkan. Anggap saja, ini sebagai tanda awal persahabatan kita."

Sejak saat itu, Naruto Namikaze dengan segala kegantengan dan segala kesempurnaannya, mematenkan dalam hati, bahwa :

ROCK LEE ADALAH SOSOK PAHLAWANNYA.

"Yosshaa! Kita pergi ke kedai Ichiraku, ttebayo!" seru Naruto girang, dibutakan oleh perut lapar sehingga ia melupakan alamat yang dituju sebenarnya berlawanan arah, yaitu apartemen Sasuke.

Lalu mereka berdua berangkat menuju kedai Ichiraku. Selama perjalanan, Rock Lee tak henti-hentinya bercerita tentang gadis idamannya yang bernama Sakura. Sehingga, Naruto bisa mengetahui sedalam apa Lee mencintainya. Ia mengernyit ketika memikirkan itu.

'Kasian si Sakura ini,' batinnya iba ketika gadis yang kata Lee sangat cantik dicintai lelaki aneh macam Lee. Naruto jahat sekali.

Naruto yang mempunyai sikap kritis dengan semua hal, membuat cara Lee mengemudikan motor tak luput dari komentarnya. Nggak bisa ditutupin memang. Cara Lee mengemudikan motor sangatlah lambat. Mungkin kalau ada balapan motor yang dicari-cari pemenangnya adalah yang terlambat, maka Naruto yakin Rock Lee adalah pemenangnya. Kepopulerannya diyakini Naruto akan melebihi valentiso Roti.

"Lee bisa lebih cepat?" Naruto kemudian berkomentar pedas ditengah curhatan Lee tentang si Sakura.

"Ini sudah cepat, Naruto-kun!"

Naruto kehabisan komentar. Apalagi begitu melihat disebelah kanan melintas seorang kakek dengan sepeda ontel mendahului Naruto dan Lee. Begitu hina momen saat itu.

"Naruto-kun?"

Sembilan puluh persen, keterdiaman tiba-tiba Naruto adalah karena merasa dirinya malu atas tragedi balapan sepeda ontel dan kakek-kakek tadi.

Sepuluh menit kemudian..

"HOEEEKKK!"

Lee muntah ditrotoar pinggir selokan kecil. Naruto cengar cengir bangga setelah dengan tak merasa bersalahnya mengendarai motor Lee dengan kecepatan iblis. "Khukhukhu... Begitulah semangat masa muda!" Serunya tak peduli dengan Lee yang sedang muntah-muntah karena pusing sehabis dibonceng Naruto dengan kecepatan tidak manusiawi itu.

Kalau sudah aneh, ya aneh. "K-au benar! I-ni baru semangat masa muda!" balas Lee tak kalah semangat diantara menahan muntah. See, aneh kan? Setelah itu ia muntah lagi.

Naruto meringgis jijik melihatnya. Selera makannya sedikit berkurang ketika melihat muntahan Lee. Baunya gak enak. Tapi, karena Naruto tak pernah kehilangan selera makan ramen maka walaupun agak enek tapi tetep perutnya lapar. Alhasil, keputusan paling bijak Naruto adalah..

"Lee, sepertinya kau kurang sehat. Alangkah lebih baik kau pulang saja. Mungkin makan bareng ini, kita tunda dahulu."

Mengusir Lee dengan terhormat.

Lee tertunduk lesu. Padahal ia sangat ingin makan bersama teman barunya, Naruto. Namun apa boleh buat, Lee sudah tak kuat lagi. Sebaiknya, memang ia harus pulang. Narutopun tersenyum sangat lebar ketika Lee pamit.

"Yosh! Saatnya makan rameen!" Ia berseru seraya berlari kecil kedalam kedai layaknya anak kecil, padahal Naruto sudahlah lulus sarjana tahun ini. "Paman Teuchi, ramen tomyam dan sobanya masing masing satu, minumnya ocha, ttebayo!"

"Okey Naruto-kun!"

Setelah habis memakan ramennya. Naruto melamun. Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Begitulah isi pikirannya. Sekarang ia hanya membawa satu ransel dengan beberapa potong baju didalamnya. Tidak lebih dan tidak kurang. Ponsel tak ada. Uang habis untuk ramen. Ketika ia tersadar, hari sudah petang. Sebentar lagi malam menjelang. Dan Naruto tidak punya tempat untuk pulang. Wajah Naruto tertekuk masam ketika ia teringat dengan konsekuensi atas kesalahan melecetkan mobil mewah tadi. Ganti ruginya sangatlah merusak harga diri Naruto yang tak ternilai. Ia menjadi babu. Ya, babu. Dan artinya, mau tak mau ia haruslah datang ke apartemen Sasuke. Dari pada masuk penjara, dan kebetulan juga Naruto gak punya uang untuk menyewa kamar hotel atau apartemen. Lumayanlah, gratis juga. Siapa tahu disana dapat jatah tidur dikasur empuk. Ia tertunduk.

'Saat aku masih menikmati itu semua, aku tidaklah pernah bersyukur,' batinnya merenung. Ia tersenyum miris. Mungkin, inilah hukuman dari Tuhan untuknya. Ternyata hidup jadi seorang miskin itu sangatlah tidak enak. Semuanya serba terbatas.

"Mom Dad, aku janji akan menjadi sukses!" tekadnya tersadar.

Selanjutnya, Naruto meminjam ponsel dari Kak Ayame, anaknya paman Teuchi. Niat awalnya ia ingin menghubungi Kiba, sahabat satu-satunya yang mau temenan sama Naruto tanpa pamrih. Walaupun, Kiba ini sangatlah usil kepada Naruto. Tapi, Kiba itu sangtlah care. Jadi, Naruto tidaklah sungkan untuk meminta bantuan sahabatnya. Singkat cerita, Naruto nge-sms ke Kiba.

Kaya gini SMS buat minta bantuan ke Kiba :

Kiba yang terhormat dan yang paling saya cintai. Apa kabar? Ini aku Naruto.

Intinya aja, Nar.

Oh iya, aku mau minta bantuannya nih. Aku lagi dihukum sama Dad n Mom. So, gak bawa mobil. Jadi, tolong jemput aku di Kedai Ichiraku. Sekarang. Darurat.

Gitu aja bertele-tele. Oke, tunggu sepuluh menit.

Biarpun nyebelin, tapi Kiba tetap menempati urutan pertama teman yang paling setia.

.

.

Narutopun sampai diapartemen Sasuke yang sangat megah. Ketika Kiba mengantarnya kesana, pemuda itu tidak banyak bertanya. Karena sudah tidak aneh Naruto gonta-ganti apartemen ataupun Naruto yang sedang dihukum sehingga mobilnya ditahan. Jadi, Kiba langsung pamit tanpa bertanya lebih. Alhasil, jati diri Naruto yang sekarang jadi seorang tukang parkir merangkap babu masih aman. Naruto bernafas lega.

'Semoga Kiba tidak akan pernah tahu,' doanya. Soalnya, kalau sampai Kiba tahu. Habislah dia. Naruto yakin ia akan menjadi bahan olok-olok Kiba untuk seumur hidup.

Narutopun menju ke apartemen Sasuke dengan langkah putus asa. Dalam setiap langkahnya ia tak berhenti berdoa. Semoga si Teme mendapat hidayah dan melupakan kesepakatan terkutuk itu.

Ting Tong!

Naruto memencet bel. Dua menit kemudian, pintu terbuka. Dimuka pintu, Sasuke menyambut dengan wajah datar, sekilas Naruto dapat melihat seringai setan dimuka sok ganteng didepannya.

Hatinya mendadak tidak enak.

"Masuk!"

Tanpa banyak bicara, Naruto langsung masuk. Tiga langkah masih lancar, langkah keempat, Naruto berhenti.

Doanya tidak terkabul.

Naas.

Menjalani hari pertama sebagai babu, Naruto dihadapkan dengan kamar Uchiha bungsu yang teramat mengerikan. Kolor bertebaran dimana-mana. Dengan kondisi yang kelelahan dan kelaparan, Tuhan masih memberi Naruto cobaan yang berat.

'Aku janji akan menjadi anak yang baik bagi mom dan Dad. Aku juga akan belajar menabung!' rintihnya dalam hati seraya membekap mulutnya dengan ekspresi ngeri.

Semalas-malasnya dan se-ceroboh-cerobohnya Naruto. Ia tidak pernah bisa sejorok dan semengerikan ini dalam hal menyimpan baju kotor, apa lagi kolor.

Lima detik untuk Naruto bertahan shock.

Kemudian..

"KENAPA KAMARMU PENUH DENGAN CELANA DALAM, TEME?!"

Teriakan putus asa bergema diseluruh ruang penjuru apartemen Sasuke Uchiha.

.

.

Bersambung..

.

.

Big thanks for :

Kiyomi Hikari,akira yamada,krisho baby, kitsune Riku11, Nauchi KirikaRE22zaladevita 85,jie, , widi orihara, Guest,FayRin Setsuna D Fluorite,ElfRyeosom498,chika,versetta,Honami Fukushima, Lixaliria,bellakyu,vaynissa,Tico MichaelisTypeacety95,Ineedtohateyou,hanazawa kay,kirei- neko,Vianycka Hime,Princess Love Naru Is NayyunauciiArum .vikink Icha Clalu Bhgia,zhe7kagurra amayaakira sukeyassir2374,Sasu-chan si Uke Naru ,mifta cinya,Fany Miyoko,Saory Athena Namikaze.

Oke, daku hanya hanya ingin minta maaf karena keleletan update semua fic daku... huhuu... Semester skrg ituuuuu, superrr sekali... Banyak SKSnya, juga banyak lab nya. So, waktuku istirahat itu sangat jarang. Kalaupun ada, itu Kira gunain buat bobo dan ngerjain tugas. Alhasil, fic collab sama Oma (Dhiya –chan) dan Tante Ama (Amach cuka tomat-jeruk) ini kurang terurus(?)

Heheh... Makasih buat oma Dhiya yang udah ngirim potongan cerita yang keren. :D Maaf Cuma bisa lanjutin segini aja dulu...kekeke.. Lama lagi..

Jadi, aku tinggu PM nya aja Oma..

Aku gak bisa buka FB, T.T (Kayanya dibajak deh)... Ate Ama juga...

Pokoknya lanjutan fic ini, Kira serahin ke kalian berdua... #ditimpuk

Dan Untuk reader yang manis dan keren..

MAAF KIRA GAK BISA BALES RIVIEWNYAAAAA!

Akhir kata..

Mind to Riview?