"Putra mahkota!"

"Yang mulia Permaisuri telah melahirkan seorang putra mahkota!"

Seorang lelaki berlarian di sepanjang pasar sambil berteriak memberitakan kabar baik yang baru saja datang dari istana. Seorang Putra Mahkota telah lahir. Masa depan dari kerajaan, masa depan dari Goryeo. Seluruh warga di desa kecil itu pun terlihat bahagia ketika mendengar hal tersebut.

Di tempat yang sama, terlihat sepasang suami istri yang sedang melihat ke arah pakaian-pakaian kecil yang ada di hadapan mereka.

"Sudah berapa bulan?" Tanya si pedagang baju itu kepada mereka.

"Bulan ke 5" Jawab sang istri sambil mengusap-usap perutnya yang terlihat besar. Ia sedang mengandung anak pertamanya.

"Aku harap kau akan mendapat anak laki-laki"

"Kami tidak terlalu memperdulikan itu, anak laki-laki atau perempuan juga sama saja" Jawab si suami sambil tersenyum.

"Ei, bagaimana mungkin? Anak lelaki tentu lebih baik! Mereka kan membawa nama keluarga" Si pedagang memberikan pandangan yang tidak mengenakan.

Pada jaman itu, anak lelaki memang jauh dianggap lebih superior karena membawa nama keluarga. Namun bagi keluarga Jeon ini, mereka tidak terlalu memperdulikan hal seperti itu. Bisa bersatu dan hidup bersama merupakan hal yang tidak mereka dapatkan dengan mudah. Maka ketika mereka bisa membangun sebuah keluarga yang mereka idam-idamkan sejak dulu, yang mereka harapkan hanyalah sebuah kebahagiaan.

"Hei Ibu tua! Pergi dari sini! Jangan mengotori pakaian-pakaianku!"

Sepasang suami istri itu terkejut ketika melihat seorang gelandangan dengan pakaian yang sangat kotor berada tepat di samping mereka. Tidak, bukan karena merasa geli atau jijik tapi karena orang itu datang dengan tiba-tiba. Mereka tidak menyadari keberadaannya sebelum si pedagang berbicara. Namun yang anehnya, gelandangan ini hanya melihat kearah perut besar si istri yang sedang mengandung.

Tuan Jeon merogoh kantungnya untuk mengambil beberapa keping uang. Uang yang memang tidak begitu banyak karena ia sendiri bisa dibilang agak kekurangan.

"Aku harap ini cukup untuk beberapa hari" Kata Tuan Jeon.

Gelandangan itu menaikkan pandangannya ke arah Tuan Jeon dan Nyonya Jeon. Ia memandangi mereka dengan seksama.

"Anakmu" Mulai si gelandangan, "Ia akan memiliki sifat yang pintar dan penyayang seperti ayahnya dan juga wajah yang begitu memikat serta manis seperti ibunya. Kehadirannya di dunia juga akan menjadi sebuah keberuntungan untuk kalian. Usaha kalian akan dilipat kali gandakan ketika ia terlahir"

Ketika mendengar itu mereka tersenyum lebar. Walaupun ia seorang gelandangan, tapi mereka sangat senang karena mendengar 'doa' dari orang lain untuk anak pertama mereka. Namun ketika mendengar kelanjutannya, raut wajah mereka barubah.

"Disaat Sang Matahari kesulitan untuk bersinar, anakmulah yang akan membantunya menemukan cahayanya lagi"

"Sang Matahari?"

Bukankah matahari adalah sebutan untuk kaisar raja? Tidak mungkin kan mereka yang berasal dari desa kecil dan tidak memiliki kekuasaan seperti ini bisa memiliki hubugan dengan Kaisar Raja.

"Takdir telah memutuskan. Pada awalnya semua akan sedikit berat, namun, semuanya akan menjadi baik. Hidupnya akan seperti Sang Matahari"

Mendengar itu, sepasang suami istri ini terkejut bukan main. Apa maksudnya hidup anak mereka akan seperti Sang Matahari?!

"Won yang artinya berputar dan Woo yang artinya menolong. Aku harap anakmu ini bisa menolongnya dengan sepenuh hati"

"Nama yang baik" Kata Nyonya Jeon, suka dengan saran nama yang diberikan. Walau ia masih tidak mengerti dengan apa yang gelandangan itu katakana tapi nama tersebut terdengar begitu indah dan istimewa.

"Jeon Wonwoo"

.

.

.

Wonwoo

Wonwoo

Jeon Wonwoo

Wonwoo membuka matanya dengan nafas yang terengah-engah, air matanya terjatuh dan jantungnya berdebar begitu kencang. ia terdiam sejenak untuk menenangkan dirinya.

Ia baru saja memimpikan orang tuanya.

Kedua orang tuanya tersenyum lebar. Mereka terlihat sangat bahagia namun tiba-tiba seluruh senyuman itu menghilang dari wajah mereka. Wonwoo juga mengingat dua kata yang mereka katakana kepadanya.

Maafkan kami

Kenapa mereka harus meminta maaf?

"Apa kau baik-baik saja?"

Wonwoo melihat ke arah suara tersebut. Ia tidak menyadari kalau dari tadi ada seseorang yang berada di ruangan yang sama dengannya. Kepalanya masih terasa berputar, ia juga dapat merasakan kalau suhu tubuhnya begitu tinggi. Apa ia sedang sakit?

Tunggu dulu. Wonwoo ada dimana sekarang?

Ia berusaha untuk memfokuskan pandangannya kepada seorang wanita yang bersamanya sebelum matanya berpindah melihat ke segala arah dari ruangan itu. Langit-langit kayu yang terlihat kokoh berwarna merah dan kuning serta barang-barang yang ia tahu pasti harganya cukup mahal. Bahkan kasur tempatnya berbaring saat ini terasa begitu nyaman dan hangat. Wonwoo tidak pernah merasakan kasur yang seperti itu sebelumnya.

"Ini dimana?" Tanya Wonwoo dengan suara yang lemah. Ia benar-benar sedang sakit.

"Istana Tulip"

"Huh?" Istana Tulip?! Bukankan itu adalah tempat dimana Sang Kaisar menerima tamu-tamunya? Wonwoo pernah mempelajari soal hal itu sebelumnya. Nama-nama istana, lokasinya serta kegunaannya.

"Aku akan memanggil tabib kerajaan dulu untuk memeriksa keadaanmu. Aku juga harus melaporkan kepada Kaisar kalau kau telah bangun"

Tunggu dulu.

Tabib kerajaan?! Melapor kepada Kaisar?!

"Apa maksudmu?" Wonwoo benar-benar kebingungan. Tapi seluruh tubuhnya benar-benar tidak sejalan dengan hal yang ingin ia lakukan sekarang, bangun dari kasur nyaman itu dan keluar dari ruangan aneh ini untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Matanya juga terasa begitu berat. Ia benar-benar ingin tidur.

"Istirahatlah dulu, aku akan segera kembali" Kata wanita itu sebelum ia meninggalkan Wonwoo begitu saja.

Ketika wanita itu bangun dan memperlihatkan pakaian yang ia kenakan, Wonwoo jadi cukup yakin kalau ia benar sedang berada di istana.

Bukankan pakaian yang ia kenakan tadi adalah pakaian dayang-dayang kerajaan?

Jadi Wonwoo benar-benar sedang berada di Istana Tulip sekarang? Tapi kenapa? Lalu, dimana paman Yoon? Ia pasti sedang kebingungan mencari Wonwoo. Paman Yoon tidak akan pulang dan meninggalkan ia sendirian.

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya sekarang, namun, ia tidak bisa melawan tubuhnya yang benar-benar butuh istirahat lebih lagi ini. Dengan perlahan, ia pun kembali tertidur.

.

"Kau bilang tadi dia sudah bangun?"

'Siapa?' Pikir Wonwoo ketika suara orang tersebut membuatnya terbangun dari tidurnya. Wonwoo tidak membuka matanya, namun ia dapat merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat sedang membelai wajahnya.

"Iya, Yang Mulia"

'Yang Mulia?'

.

Wonwoo tidak tahu sudah berapa lama ia terlelap. Namun, suatu hal yang pasti adalah ketika ia membuka matanya lagi, ia dapat merasakan kalau hari sudah cukup malam. Bagaimana ia tahu? Wonwoo adalah orang yang terbiasa berada di dalam rumah, jadi ia tahu cara untuk membedakan waktu hanya dari suasana dan udara.

Wonwoo berusaha untuk bangkit dari tidurnya dan kali ini ia berhasil. Walaupun tubuhnya masih agak sedikit terasa lemas, ia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Wonwoo melihat ke seluruh arah untuk memperhatikan ruangan aneh itu sebelum matanya terjatuh kepada seorang wanita di pojok ruangan, duduk dengan kepala menunduk, sepertinya ia ketiduran. Mata Wonwoo kemudian menangkap sebuah baki kecil dengan sebuah mangkuk dan sendok di atasnya. Ia pun membuka tutup mangkuk itu karena penasaran. Bubur.

Lapar. Wonwoo benar-benar lapar, dan melihat bagaimana baki tersebut ditaruh tepat di samping kasurnya ini menandakan kalau bubur itu disediakan untuknya. Tapi tentu saja, ia tidak bisa langsung memakannya begitu saja. Pertama, itu tidak sopan, kedua, bagaimana kalau ada hal-hal aneh di dalam situ?

Ketika Wonwoo menutup kembali mangkuk itu, suara aduan kedua beling tersebut berhasil membangungkan wanita yang tadinya tertidur pulas. Bahkan hanya dengan suara sekecil itu ia bisa terbangun? Dayang-dayang kerajaan memang hebat.

"Oh! Apa Tuan ingin aku memanaskan bubur itu dulu?" Tanya dayang itu sambil berjalan cepat menuju Wonwoo sebelum ia berlutut di hadapannya. Wonwoo menaikkan alisnya.

"Kenapa aku berada disini?" Tanya Wonwoo tanpa menjawab pertanyaan si dayang sebelumnya.

"Tuan hilang kesadaran tadi pagi. Kata tabib Tuan kelelahan dan kurang gizi" Jawabnya masih sambil menunduk. Wonwoo benar-benar heran kenapa Dayang itu memperlakukannya seperti itu. Mereka kan sederajat.

"Huh? Kurang gizi?" Wonwoo cukup kaget ketika mendengarnya. Sebetulnya Jeonghan sering mengejeknya kekurangan gizi karena tubuhnya begitu kurus, tapi ia tidak tahu kalau ia benar-benar kekurangan gizi.

Tidak heran.

"Bisa kau naikkan kepalamu? Juga, kau tidak perlu berlutut seperti itu. Aku agak sedikit tidak nyaman melihatnya"

Setelah mendengar itu, dayang tersebut langsung berdiri.

"Makan malammu, tuan"

Wonwoo melirik mangkuk bubur itu sekali lagi. Apa ia benar-benar boleh memakannya?

"Yang Mulia sengaja memesan bubur ayam ginseng. Ia juga mengatakan kalau Tuan harus memakannya"

Yang Mulia?

Lalu, kenapa dayang ini tiba-tiba menggunakan kata 'Tuan'? Waktu Wonwoo tersadar siang tadi dayang ini menggunakan kata 'kau'. Kenapa tiba-tiba berubah begini?

Wonwoo tidak peduli. Yang ia perdulikan saat ini adalah bagaimana bubur ini terasa begitu lezat ketika ia mencicipinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan bubur seperti ini. Ia biasanya hanya makan bubur tepung dan semacamnya. Mimpi apa ia hingga bisa merasakan bubur seperti ini? Di dalam istana pula.

"Setelah makan malam, Tuan harus siap-siap"

"Siap-siap untuk?"

"Bertemu Yang Mulia Kaisar"

Mata Wonwoo membulat. Bertemu Yang Mulia Kaisar?! Bubur yang tadinya sudah berada dalam mulut Wonwoo itu tersembur keluar. Ia terkejut bukan main. Kenapa ia harus bertemu Kaisar? Apa ia telah melakukan sesuatu?!

"Untuk apa?! Lalu, dimana pamanku? Ia pasti khawatir karena tidak menemukanku, aku harus pergi sekarang!" Wonwoo sudah siap untuk kabur dari tempat itu sekarang juga.

"Tenang, Tuan. Yang Mulia Kaisar hanya ingin melihat keadaanmu. Lalu, pamanmu juga sudah tahu kalau kau berada disini"

"Pamanku dimana?"

Dayang itu terdiam sejenak. Matanya melihat ke kiri dan ke kanan sebelum ia menjawab, "Aku juga tidak yakin. Mungkin ada di ruangan lain? Atau tinggal di kota? Atau mungkin sudah kembali ke desanya?"

"Tidak mungkin ia kembali tanpaku"

"Yasudah, kalau begitu mungkin ia sedang istirahat di ruangan lain atau di penginapan di kota" Kata Dayang tersebut dengan tenang.

"Segera habiskan makanmu, Tuan. Yang Mulia Kaisar sudah menunggu"

Rasanya Wonwoo tidak bisa menelan bubur itu.

Apa yang harus ia lakukan?! Kenapa ia harus bertemu dengan kaisar?! Wonwoo sengaja memakan bubur itu dengan lama agar ia bisa mengulur waktu. Ia tidak siap. Ia tidak mau. Setelah berusaha mengulur-ulur waktu sebisa mungkin, ia akhirnya menghabiskan satu mangkuk kecil bubur itu dalam waktu kurang lebih satu jam. Ia harap waktu sudah sangat larut sehingga pertemuan dengan Kaisar bisa diundur hingga pagi hari, namun sebelum pagi datang, ia akan kabur terlebih dahulu. Ya, itu adalah rencana Wonwoo. Namun ternyata semua tidak sejalan dengan apa yang ia inginkan.

Setelah ia selesai makan, dayang itu kembali ke ruangan Wonwoo dengan sebuah baju sutra yang terlihat begitu mewah dan mahal. Baju yang seumur hidup Wonwoo tidak pernah gunakan, atau mimpi untuk gunakan. Atasan dari hanbok tersebut berwarna biru tua dengan pita berwarna langit sedangkan celananya berwana abu-abu. Kain sutra mahal memang berbeda, ketika Wonwoo mengenakannya, ia merasa kalau bahan dari pakaian itu benar-benar baik. Bahkan lebih baik daripada pakaian termahal yang ia bisa temukan di desanya. Wonwoo pun merasa sangat terbebani. Bagaimana kalau ia mengotori pakaian ini?!

"Ikuti saya, Tuan" Dayang tersebut berkata agar Wonwoo segera berhenti melihat ke arah dirinya sendiri di depan kaca untuk bergegas menemui Sang Kaisar. Waktu sudah begitu larut, tapi Kaisar masih bersikeras untuk bertemu dengan Wonwoo malam itu juga.

Ketika Wonwoo menapakkan kakinya keluar ruangan, ia bisa merasakan angin malam yang menyapanya. Di depan kamar tempat ia singgah, terdapat sebuah kolam. Walaupun hari sudah gelap, Wonwoo bisa tahu kalau pemandangan di depan ruangannya begitu indah. Ia tidak sabar untuk melihat betapa indahnya kolam tersebut ketika pagi telah datang. Wonwoo juga memperhatikan bangunan tempatnya berada. Ia benar-benar sedang berada di istana. Setelah beberapa menit berjalan, Wonwoo dapat melihat sebuah bangunan yang cukup megah di hadapannya.

Apa ini ruangan pribadi Kaisar?

Wonwoo pun mengikuti jalan dayang yang sedari siang bersamanya itu. Jujur saja, dayang yang sedang berjalan di depannya ini begitu cantik. Sayang sekali ia harus hidup sebagai dayang. Kalau ia hidup sebagai orang biasa, pasti banyak sekali lelaki yang ingin menikahinya.

"Yang Mulia, tamu Yang Mulia telah tiba" Kata kasim yang berjaga di depan ruangan Kaisar.

"Masuk"

Wonwoo membatu. Jadi ia benar-benar akan bertemu dengan Kaisar?! Sebenarnya apa yang telah ia lakukan?!

Beberapa dayang yang juga berjaga di depan ruangan Kaisar membuka pintunya. Wonwoo pun masuk ke dalam ruangan Kaisar tersebut sendirian. Ya, sendirian. Ia pun berlutut dan membungkuk, menunggu untuk perintah dari Sang Kaisar.

"Naikkan wajahmu"

Jantung Wonwoo berdetak begitu kencang, namun ia tetap melakukan perintah dari Kaisar tersebut. Dengan mata yang tertutup rapat, ia menaikkan wajahnya. Tidak ada seorang pun yang boleh melihat langsung ke arah mata Kaisar, jadi Wonwoo memilih untuk memejamkan matanya saja.

Wonwoo dapat mendengar sebuah tawa kecil.

Kenapa Kaisar tertawa?! Apa ia sedang dibohongi?! Mendapat pikiran seperti itu, ia pun segera membuka matanya dan siap untuk mengomeli siapapun yang berhasil membuat jantungnya hampir copot ini. Namun, ketika ia melihat seorang lelaki dengan jubah merah di hadapannya, jantung Wonwoo kembali berdetak begitu kencang.

Untuk pertama kalinya ia melihat orang yang begitu berkuasa berada tepat di depannya, hanya berjarak sekitar 3 meter darinya. Wonwoo pun tidak kuasa dengan bagaimana matanya memperhatikan wajah dari Kaisar itu. Entah kenapa, Kaisar pun tidak marah ketika melihat Wonwoo memperhatikannya seperti itu. Kalau orang lain, mungkin mereka sudah kehilangan kedua bola mata mereka.

Wonwoo sering mendengar kalau Kaisar muda ini memiliki wajah yang sangat tampan. Tapi, Wonwoo tidak tahu kalau ia akan setampan ini. Dengan wajah setampan itu, siapa yang tidak akan mau dengannya? Ditambah lagi ia adalah pemimpin dari Goryeo. Pasti banyak sekali wanita-wanita yang telah menggodanya. Tapi kenapa hingga sekarang ia masih belum menemukan seorang permaisuri?

Tunggu dulu! Wajah itu… Kalau begitu orang yang Wonwoo temui di taman tadi pagi adalah Yang Mulia Kaisar?!

"Siapa namamu?"

"Jeon Wonwoo, Yang Mulia" Jawab Wonwoo secepat mungkin, namun tetap berusaha agar suaranya tidak bergetar sedikitpun.

"Jeon Wonwoo" Ulang Kaisar, "Nama yang indah"

"Terima kasih Yang Mulia" Kata Wonwoo sambil kembali menunduk.

Kaisar muda yang bernama lengkap Kim Mingyu ini menanggukkan kepalanya.

"Apa kamar di istana Tulip nyaman?"

"Tentu saja Yang Mulia. Terima kasih karena telah bermurah hati meminjamkan kamar di Istana Tulip untuk hamba yang rendah ini" Wonwoo benar-benar tidak tahu kata-kata macam apa yang harus ia gunakan. Ia takut kalau pilihan katanya terdengar tidak sopan di telinga Kaisar Goryeo ini.

"Baguslah kalau begitu karena mulai sekarang kau akan tinggal disana"

Huh?

Mata Wonwoo kembali melihat kearah Kaisar untuk mencari tahu apakah ia sedang bercanda atau tidak. Tapi ketika melihat kalau hanya ada keseriusan di wajahnya, Wonwoo pun segera menunduk kembali.

"Ha.. hamba tidak mengerti maksud Yang Mulia"

"Apa perkataanku begitu sulit untuk dimengerti?"

"T-Tidak! Hamba yang terlalu bodoh. Maafkan hamba, Yang Mulia!" Wonwoo menunduk lebih rendah lagi. Bahaya. Ia bisa kehilangan nyawa kalau salah bicara.

"Tidak perlu memikirkan terlalu dalam, apa yang aku ucapkan ya itu yang aku maksud. Kau akan tinggal di Istana Tulip mulai hari ini"

Walau dengan wajah yang menghadap ke lantai, Wonwoo dapat merasakan kalau Sang Kaisar sedang berjalan kearahnya.

Sebuah tangan yang besar meraih dagu Wonwoo dan membuatnya melihat ke arah Kaisar yang sekarang berjongkok di hadapannya. Wajah mereka hanya berjarak sekitar 15 cm. Terlalu dekat.

"Kau mengerti?"

Entah kenapa, Sang Kaisar seakan sudah membulatkan tekadnya. Ia tidak akan mau mendengar kata tidak keluar dari mulut Wonwoo. Lagipula, siapa yang cukup gila untuk menolak tawaran dari Kaisar? Kecuali mereka sudah siap untuk mati.

Namun, kata-kata Sang Kaisar selanjutnya membuat Wonwoo berpikir ulang.

Berpikir ulang kalau mungkin saja kematian bisa menjadi pilihan kedua yang tidak begitu sulit baginya.

"Aku menginginkanmu"

.

.

.

Gimana2? Masih menarik, kah?

Btw guys, ini rada angst yah. Kan cerita Joseon pasti ada lah angst. Gabisa dibuat fully fluff. Tapi ini ngga fully angst. Campuran lah biar enak kyk gado-gado hehe.

Reviewnya yah yeaaahhh biar semangat nulisnya haha~