Okkeh! RinA balek mau nyiapin cerita ini..! tapi rasanya cerita ini gak hanya 2 chapter deh -_-"

Hadeeh! X|

Time to Bales review!

KENzeira : kkkkkk ~ gomen, ne? aku gak tau cara memperlambat alur -_-" tapi aku bakalan berusaha! (^.^)9

Magenta-alleth: okke! Bkalan diusahain deh, memperlambat alurnya :)

Sasa Kaguya : kkkkk ~ ada deh.. kita liat aja di chapter ini :)

Miku : Makanya.. jangan pikirin sadako, miku-chan, mendingan mikirin author aja :D *Taboked*

Kkkkk ~ kok daritadi terkikik terus,ya? -_-"ah… udah lupakan.

Yosh! Selamat membaca :)

Finally, I Know You!

Disclaimer : Naruto bukan milik saya. Tapi, cerita ini milik saya.

WARNING! : GaJe, OOC, EyD ancur-belaur(?), abal bin ajaib(?)

Saya author pemula yang sangat berdosa(?), this is my Second Multichapter Fict and my first NejiTen Fict.

DON'T LIKE, DON'T READ

NejiTen's Area

Chapter 2 "I Know Your Family!"

"Ten-Teeeen! Ada tamumu didepaan!" Teriak ibunya Ten-Ten dari bawah.

"Baik buuu!" Kata Ten-Ten yang juga berteriak.

Cklek!

"?!"

O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.o.O.o.o.O

"?!"

"Ha-Halo… Ten-Ten-chan…" Sapa seorang gadis Indigo bermata lavender yang diketahui bernama Hinata

"Hai, Kak.." sapa Hanabi, adik Hinata.

"Hai, Hinata, Hanabi,"sapa Ten-Ten balik.

"ada apa? Ayo masuk dulu," Ajak Ten-Ten. Hinata dan Hanabi pun digiring ke ruang Tamu mansionnya Ten-Ten.

"Aku hanya mengembalikan bukumu.."Kata Hinata menjelaskan mengapa dirinya ada di Mansion Ten-Ten.

"Ha? Aku tak ingat aku pernah meminjamkan buku pada mu?" kata Ten-Ten sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Bukumu tertinggal.." Kata Hinata.

"dan Bukan kakak Hinata, Tapi Kakak Neji."Kata Hanabi sambil membawa senampan kue kering dari dapur (Author : Iss… kecil-kecil udah belajar nyolong -_-" *di banting Hanabi*)

"Neji…?kakak..?" gumam Ten-Ten.

"…"

"…"

"…"

"UAPHAH?!" Teriak Ten-Ten melengking ala-nya sendiri. Berhasil membuat Hanabi menjatuhkan nampan yang berisi kue-kue yang baru dari oven itu.

"Sejak kapan Neji masuk klan Hyuuga?" Tanya ten-Ten.

"…"

"?" dua bersaudari(?) itu menatap Ten-Ten dengan bingung.

"Maksudmu apa?… Neji adalah kakak kami yang paling tua.."Kata Hinata. Ten-Ten mengernyit heran.

"Jadi, Sh-"Mulut Ten-Ten tercekat oleh tangan Shi. Ten-Ten menatap Shi bingung.

"(h) aku butuh penjelasan setelah ini" Kata Ten-Ten. Shi hanya mengangguk.

"Ten-Ten- chan?" tanya Hinata bingung.

"Eum… oh… tidak ada apa-apa" kata Ten-Ten meyakinkan.

"Oh… i-Ini bukunya.."Kata Hinata sambil menyodorkan sebuah buku yang berwarna sama dengan rambutnya Ten-Ten

"Kalian hanya mengantarkan ini?" tanya Ten-Ten.

"Tentu saja tidak.. kita kan sudah ada janji mengerjakan tugas bahasa bersama.."kata Hinata mengingatkan.

"Ma-Maaf… tapi, eum… begini,, buku bahasaku dipinjam sepupuku,,"Kata Ten-Ten berbohong.

"Kenapa kau berbohong?" tanya Shi.

"(h) aku ingin mendengar penjelasanmu secepatnya,"kata Ten-Ten.

"Oh… begitu…"kata Hinata lemas.

"(h) oh ia… bukannya kau bisa menampakkan diri pada Hinata dan Hanabi?"tanya Ten-Ten.

"?!" Shi tersentak, namun setelah itu dia menghela napas.

"Tidak… Tidak akan bisa.. aku meninggal saat Hinata berumur 6 bulan dia tak akan tahu siapa aku."Jelas Shi.

"(h)lalu bagaimana dengan Hanabi? Saat itu dia belum lahir,kan?darimana kau tahu?"Tanya Ten-Ten lagi.

"Ia…. Aku tahu karna aku terus berada di samping Neji sampai aku bertemu denganmu.."Jelas Shi lagi.

"ohhh…." Kata Ten-Ten

"Ha? Apanya yang oh?" Tanya Hinata Bingung.

"Eumm…. Itu.. mm….Oh! kita ngerjain pr Matematika aja ya?"Jawab Ten-Ten sekenanya.

"Ha? Maaf, aku hanya bawa buku Bahasa.." Kata Hinata lagi.

" Ten-Ten.. Ibu ke Rumah Lee dulu ya? Kalau lapar, masak sendiri…" Pesan dan pamit Ten-Ten.

"Ah… ia, ia bu…" Kata Ten-Ten.

"Eum, permisi,ya? A-aku mau kursus lagi…"Pamit Hinata.

"Ia.. aku juga mau pergi ke Rumah temanku untuk kerja kelompok." Kata Hanabi yang juga berpamitan.

"Eumm…. Ya sudah…" kata Ten-Ten.

"Permisi ya…"Kata Hinata dan diikuti oleh Hanabi.

"Da-Daahh…"

.

.

.

.

.

"hhhh…. Aku sendiri di rumah,"Keluh Ten-Ten.

"Aku, bagaimana?" Tanya Shi

"Ah… iaa…."Kata Ten-Ten menjawab

"Ehh… kita ke taman yuk!" ajak Ten-Ten.

"Kau yakin? Siapa yang akan menjaga rumah ini?"tanya Shi yang mulai bersifat agak-agak risih.

"Oh, ayolah! Hari Ini hari Sabtu! Dimana semua orang kerja keras supaya di hari minggu mereka bisa beristirahat! Semua orang sibuk hari ini..kecuali aku… dan, tak akan ada tamu kalau begitu,kan?"Kata Ten-Ten.

"Baiklah…" Ujar Shi setengah hati. Ten-Ten langsung melesat ke kamarnya lalu berganti pakaian. Rambut cepolnya diubah menjadi kucir satu. Menggunakan T-shirt putih polos dengan rompi brunette .Celana Jeans pendek, dengan sepatu kets bewarna putih-coklat. Kasual namun cantik. Shi hanya tersenyum melihat sahabatnya yang satu ini.

"Ayo pergi, Shi-chan!" Kata Ten-Ten semangat. Shi tersenyum karena panggilan barunya itu.

"Ayo!"balas Shi.

Ten-Ten langsung menuju ke Taman, di sana sepi. Sangat Sepi. Namun, karena itu juga Ten-Ten senang. Ten-Ten lebih suka keheningan.

"Waaa! Sepi!" kata Ten-Ten.

"Ha?" Kata Shi bingung.

"Aku suka sepi!" Teriak Ten-Ten bahagia.

DEG !

'Aku suka sepi!'

Sebuah kata-kata itu terlintas di pikiran(?) Shi. Ia pernah mendengar itu! Tapi dimana?!

"Kalau sepi, aku bisa melakukan semuanya tanpa dilihat orang… memang itu tandanya aku pemalu… tapi aku suka kok!" Kata Ten-Ten terus terang.

DEG !

'Kalau sepi, aku bisa melakukan semuanya tanpa orang tahu!'

'Hahaha! Kau pemalu …. !'

'Aku gak pemalu kaaak! Aku suka!'

Dialog itu!

'Itu dimana?! Sama siapa ?!' batin(?) Shi. Shi berbalik ke arah pintu masuk taman, Pohon Sakura. Shi menghadap ke arah kirinya, sebuah kolam kecil yang ada bunga teratainya. Dilihatnya ke arah kanannya, sebuah toko dango kecil yang sudah kumuh dan tak berpenghuni.

'Kak! …. Mau kue itu!'

'Mau? Kakak beli ya,'

'ia.. kak kita makan di dekat danau ya?'

'nanti kuenya jatuh gimana?'

'kita makan di bawah pohon yang disana saja,deh!'

'sedang apa …. ?'

'memahat di kulit pohon ini!'

'apa yang kau tulis?'

' Shi Hyuuga dan Neji Hyuuga suka Dango :) !'

DEG !

Shi langsung berlari ke arah pohon sakura lalu melihat kulit pohon itu.

Tes..

Tes..

Tes..

Shi menangis(?).

"Shi?" tanya Ten-Ten.

"Neji…"

"Ha? Ada apa?"tanya Ten-Ten bingung. Ten-Ten mengikuti arah pandangan Shi. Di bacanya tulisan itu, lalu ia tersenyum. Ten-Ten langsung tahu seberapa menyenangkannya Neji yang dulu.

"Kau mau beli dango?" tanya Ten-Ten.

"Aku memang mirip manusia. Aku masih bisa mengingat hal yang dulu walaupun hanya roh-ku yang ada di sini. Tapi walaupun aku mirip manusia, aku tidak bisa makan," kata Shi menjelaskan sambil tersenyum melihat kepolosan Ten-Ten tentang roh.

"Hehehehe…" kata Ten-Ten kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku beli untuk aku saja ya?" Kata Ten-Ten. Shi mengangguk.

.

.

.

.

.

Ten-Ten sangat menikmati pemandangan dari taman itu. Hari itu sudah sore, kira-kira sudah hampir 5 jam dia ada di situ. Dari bukit kecil di tengah taman, dia bisa melihat Danau yang letaknya agak jauh dari Taman itu.

"Ten-Ten, sudah hampir gelap.." Kata Shi.

"Ya…Aku tahu.. aku hanya ingin melihat matahari terbenam.."Kata Ten-Ten.

"Hei.. kau tahu semua keluarga Neji?" Tanya Shi

"Kau, Hinata, Hanabi.. "Kata Ten-Ten sambil mengingat-ingat lagi.

"Akh! Hanya mereka yang kutahu! Neji terlalu tertutup, dia bahkan terlalu dingin! Dia lebih dingin daripada si Ice Prince! Si Sasuke itu! Juga jauh lebih diam daripada Silent Princess! Si Ino Yamanaka! Kenapa dia tidak mendapat salah satu julukan itu!" Kata Ten-Ten sambil merebahkan tubuhnya pada rumput di bukit kecil itu.

"Hahaha…" Shi tertawa renyah.

"Ia punya ayah, Hiashi Hyuuga. Ia sudah tidak punya ibu lagi.. dan maaf aku tidak bisa memberitahukan tentang ibunya.. Aku, Neji, Hinata, Hanabi.." Kata Shi.

"Dan aku rasa , akan ada satu orang lagi masuk ke Klan Hyuuga," kata Shi

"He?" Ten-ten bingung.

"sudahlah.. Ayo pulang! Mataharinya sudah terbenam." Ajak Shi.

"A-ahh… Dango-ku belum habis! Masih ada dua lagii" Rengek Ten-Ten.

"Sudah! Ini terlalu larut, makan di rumah saja ya? Siapa tahu ibumu juga sudah datang.."Kata Shi.

"Eum… baiklah," Kata Ten-Ten.

.

.

.

.

.

At Ten-Ten's Mansion

DEG !

Mata Ten-Ten menyipit untuk memperjelas apa yang dilihatnya.

"Shi…. Si-siapa itu?" Tanya Ten-Ten mulai takut-takut.

"Pen-Pencuri,ya?!" Tanya Ten-Ten.

"Aku- Aku tidak tahu.." kata Shi pasrah.

Ten-Ten lalu mengambil sebatang tongkat kayu yang ada disampingnya. Ia berlari sekuat tenaga untuk memukul orang yang ada di depan pintu itu dengan ilmu yang ia punya, walaupun hanya sedikit.

"HEAAAAAAH!"

Grep! Tongkat yang dipukulkan itu berhasil ditangkis oleh..

"Neji?!" Pekik Ten-Ten.

"Tch. Aku tamu, tapi tidak disambut." Kata neji singkat. Ten-Ten malirik ke arah Shi. Shi tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

"(h) maksudmu? "tanya Ten-Ten.

"Berusahalah!" kata Shi menyemangati.

"Neji.. kau mau apa kemari?" Tanya Ten-ten to the point.

"Mengembalikan bukumu.." Kata Neji singkat.

"Tapi,"

"Hn?"

"Hinata.. Hanabi…"

"Mereka salah memberi buku.. Ini yang benar.."Kata Neji singkat sambil memberikan sebuah buku yang namanya memang bertuliskan 'Ten-Ten'.

"ooh…"Ten-Ten ber'oh' ria.

"…"

"Sudah berapa lama kau mengunggu disini?"

Neji melihat arlojinya. Rambutnya panjang dan halus itu digerai, lalu dikepalanya bertengger(?) sebuah topi bewarna putih biru, dengan T-shirt Biru muda polos dengan celana jeans panjang dan sepatu kets putih. Simple, tapi menarik.

'pasti pulang kursus' batin Ten-ten memperkirakan.

"Sekitar 3 jam yang lalu," jawab Neji

"APA?! Ibuku tidak pulang?" Ten-ten mulai merasa bersalah pada Neji dan Shi. Shi sudah memberitahu sebelumnya agar tetap di rumah.

"Kalau sudah pulang aku tak akan menunggu sampai sekarang," Jawab Neji

"Ma-Maaf… kau sampai repot hanya untuk mengembalikan bukuku yang tertinggal." Kata Ten-Ten.

"Lain kali jangan ceroboh!" kata Neji. Shi bisa melihat semburat merah ada di pipi Neji. Namun, ia belum tersenyum.

DEG !

Jantung Ten-ten berdebar-debar. Kepalanya di usap pelan oleh Neji, wajahnya panas. Mungkin memerah.

"Aku pergi." Kata Neji berhasil menyadarkan Ten-Ten.

"Tu-Tunggu!" cegah Ten-ten.

"ada apa lagi?"

"I-ini sebagai permintaan maafku!" kata Ten-ten sambil menyodorkan dua dangonya kepada Neji.

"…" Neji terdiam, ada sebuah potongan momen yang terbesit di pikirannya.

"Ma-Masih hangat kok!" kata Ten-ten yang mengira bahwa Neji tak akan menerima dangonya karena sudah dingin. Neji tersenyum sedikit – Sedikiiiiiiiiit saja- . Hingga Ten-ten dan Shi tak bisa melihatnya.

"…"