Gadis berambut sehitam malam itu berdiri dibawah pancuran air sambil memejamkan matanya, menikmati setiap tetesan air yang membasahi setiap inci tubuh polosnya. Hanya dengan cara inilah dia merasa 'bersih' dari dosa yang dia lakukan. 'Greek' suara pintu terbuka, gadis itupun menolehkan kepalanya untuk melihat siapa sosok yang tengah menatapnya. Seorang pria yang masih lengkap dengan seragam dinasnya yang berwarna hitam, terdapat beberapa lambang bintang di bahunya yang menunjukkan dia seorang yang memiliki jabatan tinggi.
"Kakak?" panggilnya pada sosok tersebut. Yang dipanggil hanya mengerutkan alisnya kesal.
"Kara, sudah kubilang untuk mengunci pintu saat kau mandi kan?" pria yang memiliki rambut dengan warna serupa dengan gadis itupun menghela nafasnya. Sudah berkali-kali dia mengingatkan 'Kara' untuk mengunci pintu saat ia mandi.
"Aku lupa, maaf kak Shuu," jawab gadis itu datar.
"Lupa?" pria itu menggeram kesal, dan menyipitkan matanya, "Ingat, tidak ada seorangpun yang boleh melihat sosokmu yang seperti itu," katanya dengan nada possessive sambil menunjuk gadis itu.
Gadis itupun terdiam sejenak dan memandang pria tersebut, "… Lalu kakak?"
"Kecuali aku," tegas pria itu, "Jangan mandi terlalu lama, kau bisa sakit," ucapnya kemudian sebelum meninggalkan tempat tersebut. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
Diluar, pria itu, Nijimura Shuuzo, menaruh sebelah tangannya didepan dadanya. Jantungnya berdegup keras, wajahnya memerah. Yah, pria normal mana yang bisa tenang saat melihat tubuh mulus seorang wanita dengan kulit seputih salju yang tidak tertutupi oleh sehelai benangpun dihadapannya. Dia menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya yang lain.
'Tuhan…Kuatkan aku…'
.
.
.
Sins
Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi
Rate : M
Genre : Crime, Hurt, little Romance
Warning : OC, Little OOC, AU, (agak)sadis, bahasa kasar, pairing masih belum jelas, dll
.
.
.
Nijimura menatap gadis yang tengah tertidur disampingnya dengan intens, sesekali ia mengusap surai hitam gadis itu. Dia memperhatikan wajah sang gadis, mulai dari mata, hidung, hingga bibir mungilnya, ah… ingin sekali ia mengklaim bibir merah muda itu lagi (dia memang pernah melakukannya, tapi dia mengatakan pada Kara kalau itu hanyalah sebagai ungkapan rasa sayang seorang kakak pada adiknya).
Tidak. Dia tidak boleh begini. Gadis ini adiknya. Walaupun bukan secara biologis. Dia kembali memandang gadis itu, dan mengingat saat pertama kali bertemu dengannya 10 tahun yang lalu.
Flashback
Saat itu ia masih berusia 12 tahun, dan ayah Nijimura adalah seorang jenderal yang ditugaskan ke sebuah desa kecil di wilayah perbatasan yang merupakan medan perang. Dan betapa terkejutnya Nijimura ketika ayahnya pulang dengan membawa seorang gadis kecil yang berusia beberapa tahun dibawahnya. Tubuh gadis kecil itu kotor dengan bercak darah yang sepertinya bukan darahnya, dan pandangan matanya sangat kosong. Nijimura pun menatap ayahnya bingung.
"Mulai sekarang dia adikmu," kata ayahnya sambil menepuk puncak kepala Nijimura, "Jaga dia baik-baik."
Sudah tiga hari gadis kecil itu berada di rumahnya yang megah ini, tapi tak pernah sekalipun Nijimura mendengarnya bicara sepatah katapun. Gadis itu hanya menghabiskan harinya di depan kolam ikan sambil menatapnya kosong.
'Apa dia tidak bisa berbicara?' batin Nijimura penasaran, diapun mendekati gadis kecil itu. "Hei," sapanya, namun gadis itu tidak menjawab dan hanya menatapnya takut.
"Tenanglah, aku tidak akan melukaimu," Nijimura berusaha seramah mungkin agar gadis kecil itu tidak takut, "Siapa namamu?" tanyanya kemudian. Gadis kecil itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Eh? Kau tidak punya nama?" Nijimura menatapnya tidak percaya.
"… Aku tidak ingat namaku…" jawab gadis kecil itu sangat pelan, hingga terdengar seperti berbisik. Dalam hati Nijimura merasa lega, ternyata gadis kecil dihadapannya ini bisa bicara. Namun mendengar jawaban gadis kecil itu, ia jadi merasa iba, lalu diapun menggenggam tangan gadis kecil tersebut.
"Kalau begitu, bagaimana jika kupanggil kau, Kara? Dan sekarang, aku adalah kakakmu,"
"Kara?" gadis itu mengulangi ucapan Nijimura.
"Iya. Kara. Bagaimana? Apa kau tidak suka?" bocah lelaki itu menatap 'Kara' agak khawatir. Dan dia tersentak kaget saat gadis kecil itu tiba-tiba memeluknya erat, dan dia merasa bajunya basah, "A-ah! Maaf kalau kau tidak suka! Aku-"
"Terima kasih…" bisik gadis kecil itu menghentikan ucapan Nijimura, "Terima kasih… Kakak…"
Nijimura pun tersenyum kecil mendengarnya, dan mengelus puncak kepala gadis kecil itu, "Mulai sekarang aku akan melindungimu…"
Lima tahun pun berlalu, dan dimulailah kehidupan neraka Kara. Ayah Nijimura sakit parah sehingga dia tidak bisa bekerja lagi, jabatan kepala keluarga pun diturunkan pada Nijimura yang statusnya saat itu masih seorang kapten muda. Kesibukan Nijimura pun bertambah sehingga ia mulai jarang berinteraksi dengan Kara. Dan Nijimura tidak bisa menahan amarahnya saat dia tahu Kara dipaksa bergabung kedalam pasukan khusus yang ia tahu jelas apa pekerjaannya hanya karena alasan yang Nijimura tidak bisa terima : asal-usul Kara tidak jelas.
"Kenapa?! Kenapa harus dia, hah?! Kara adikku!" amuk pemuda itu pada pria berkacamata dan bermata sipit didepannya sambil menarik kerah bajunya. Pria itu hanya tersenyum padanya.
"Whoops… Tahan emosimu Nijimura-dono…" Imayoshi menaikkan kedua tangannya agar pemuda didepannya tenang, "Aku pun tidak mau melakukan ini Nijimura-dono…" katanya kemudian sambil menaikkan kacamatanya.
"Lalu kena-"
"Perintah dari raja," jawab Imayoshi cepat yang langsung membuat Nijimura terdiam. Imayoshi pun kembali menyunggingkan senyumnya saat melihat pemuda itu terdiam, "Kau tahu kan perintah raja itu absolut?"
Nijimura melepaskan tangannya yang tadi mencengkram tangan kerah Imayoshi, "Tapi Kara…"
"Kakak," gadis yang sejak tadi diam itupun akhirnya mengeluarkan suara. Dia memegang pundak kakaknya itu untuk menenangkannya.
"Kara…"
"Aku tidak apa-apa," kata gadis itu yang sontak membuat mata Nijimura membelalak, gadis itupun mengalihkan pandangannya pada pria berkacamata yang sejak tadi berdebat dengan kakaknya, "Imayoshi-san, aku menerima tawaran untuk bergabung ke pasukan khusus."
Senyuman di bibir Imayoshi pun semakin berkembang mendengarnya.
"Aku suka jawabanmu, Kara- chan," Imayoshi menepuk puncak kepala gadis itu, "Nah, Nijimura-dono, Kara-chan sudah setuju, bagaimana denganmu?" tanya Imayoshi pada Nijimura. Pemuda itupun menatap adiknya yang hanya tersenyum kecil ke arahnya. Nijimura menunduk kesal, dia mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia merasa kesal tidak bisa berbuat apapun untuk adiknya.
"Tch… Baiklah," kata Nijimura pelan, lalu ia menatap Imayoshi tajam, "Tapi aku tidak akan segan-segan menariknya paksa dari pasukan khusus jika terjadi hal buruk padanya."
"Ckckck… Jangan lupa satu hal Nijimura-dono," suara Imayoshi mendingin, dia membuka matanya sedikit sehingga memperlihatkan iris matanya yang tajam dan berbahaya, "Pekerjaan 'kami' selalu berbahaya, dan kau yakin bisa memaksanya keluar dari pasukan kami?" terdengar nada mengejek dari kalimatnya itu, "Hanya raja atau panglima yang bisa menentukan itu, Nijimura-dono…"
"Kh…" Nijimura tidak bisa membalas ucapan Imayoshi itu dan hanya bisa menatap pemuda itu kesal.
"Saa, Kara-chan, sekarang kau ikut denganku. Akan kuperkenalkan 'tugas' kita," ajak Imayoshi sembari merangkul pundak Kara. Gadis itupun hanya mengangguk patuh. Keduanya meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Nijimura yang menatap nanar punggung Kara.
Seminggu kemudian…
"Kara!" Nijimura memandang adiknya itu terkejut, sudah seminggu dia tidak mendengar kabar tentangnya dan sekarang Kara berdiri dihadapannya dengan pandangan kosong, pakaiannya penuh dengan bercak darah, rambut hitamnya kusut. Mengingatkan pada saat Nijimura pertama kali bertemu gadis itu lima tahun yang lalu.
Nijimura pun segera membawa Kara ke kamarnya dan meminta pelayan membawakan handuk, air hangat, dan pakaian bersih untuk gadis itu. Dengan hati-hati ia membersihkan bercak darah di tubuh gadis itu, jantungnya berdegup kencang karena gadis itu hanya menggunakan handuk kecil untuk menutupi tubuhnya, namun cepat-cepat ia singkirkan pikiran anehnya. Diapun buru-buru menyelesaikan 'sesi membersihkan'nya, dan menyerahkan pakaian bersih pada gadis didepannya.
"…Pakailah," gadis itupun hanya mengangguk kecil. Nijimura membalikkan badannya agar gadis itu leluasa mengganti pakaiannya, dia sendiri juga berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup tidak karuan. Saat gadis itu memberikan kode bahwa dia sudah selesai Nijimura pun kembali menghampirinya. Tangannya menyisir rambut hitam gadis itu lembut hingga rapih.
"Sudah selesai. Sekarang tidurlah… Aku yakin kau lelah…" kata Nijimura pelan, dia mengelus puncak kepala gadis itu, dan membawanya ke ranjangnya, menyelimutinya, dan menemaninya hingga gadis itu terlelap. Nijimura pun menghela nafasnya. "Oyasumi," bisiknya sebelum meninggalkan kamar gadis itu.
Dikamarnya, Nijimura membaringkan tubuhnya di ranjangnya, dia menatap kosong ke langit-langit kamar. Dadanya terasa sakit melihat kondisi adiknya. Dia tahu seperti apa tugas pasukan khusus, dan tentu saja itu sangat berat untuk gadis seperti Kara yang sudah melihat pemandangan buruk saat ia kecil. Tiba-tiba suara ketukan pintu kamarnya membuat lamunannya buyar. Dengan malas ia membuka pintu tersebut, dan terlihatlah sosok pelayan yang menatapnya panik.
"Shuuzo-sama! Kara-sama-" dan segera Nijimura berlari menuju kamar Kara saat mendengar namanya.
"KARA!" Nijimura menghampiri gadis yang sedang menutup kedua telinganya dan meringkuk di ranjangnya itu, tubuhnya gemetar. Air mata terus mengalir di pipi gadis itu, bibirnya terus menggumamkan kalimat-kalimat seperti 'maaf', 'ampuni aku' dengan nada lirih.
"Kalian semua, keluarlah," perintah Nijimura pada semua pelayannya. Setelah hanya ada mereka berdua, Nijimura memeluk gadis itu erat.
"Kakak…" lirih gadis itu, "Aku takut… Mereka menatapku… Mereka tidak akan memaafkanku…" ucapnya tidak jelas, Nijimura pun semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu.
"Tenanglah, aku disini, aku akan melindungimu…" bisik Nijimura. Perlahan tangan gadis itu membalas pelukannya.
"Aku tidak pantas kau lindungi, kak… Aku jahat… Aku kotor…" gadis itu terus mengatakan hal buruk tentang dirinya hingga Nijimura menaruh telunjuknya di bibir gadis itu.
"Shh… Jangan bicara seperti itu…" pemuda berambut hitam itu menatap gadis itu sendu, "Kau adikku yang paling baik… Dan aku menyayangimu…" 'Mencintaimu' batin pemuda itu.
"Walau seluruh dunia membencimu, aku akan selalu berada di pihakmu," tegas Nijimura sambil kembali memeluk gadis itu. Mata Kara pun melebar mendengarnya.
"Kakak…" lirih gadis itu lagi. Nijimura hanya tersenyum lembut padanya dan mengecup puncak kepala gadis itu.
"Nah, ayo tidur lagi… Aku akan menemanimu…"
Keduanya pun membaringkan tubuhnya. Nijimura masih memeluk tubuh gadis itu sambil mengusap surai hitam miliknya.
"Kak…" panggil gadis dalam pelukannya.
"Hm?"
"Berjanjilah… Untuk tetap disisiku…" bisiknya. Hati Nijimura tertohok mendengarnya. Tentu saja ia dengan senang hati berada disisinya karena ia… Mencintai gadis itu… Bukan sebagai kakak pada adiknya, tapi sebagai laki-laki pada perempuan.
"… Ya. Aku berjanji," tegas pemuda itu. Tidak peduli masa depan seperti apa yang akan mereka hadapi nanti, yang pasti, pemuda ini akan selalu disisinya.
Dan Kara pun semakin sering menerima misi sebagai pasukan khusus, secara perlahan, perasaan dan sifat gadis itu semakin berubah, dia menjadi dingin, dan terlihat kosong, seolah tidak ada emosi lagi yang tersisa di hatinya. Dia bahkan tidak pernah tersenyum lagi. Jelas itu membuat hati Nijimura semakin sakit, tapi ia tidak peduli, yang penting dia selalu berada disisi gadis itu sebagai sandaran saat gadis itu membutuhkannya. Dia akan terus berperan sebagai 'kakak' yang baik untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya pada gadis itu.
End of Flashback
Erangan pelan terdengar dari bibir gadis itu, kedua alisnya berkerut, Nijimura pun mengeratkan pelukannya.
"Tenanglah, aku disini…" bisiknya, yang entah seperti sihir yang selalu bisa langsung menenangkan gadis itu dan membuatnya kembali tertidur nyenyak. Tangan Nijimura kembali memainkan surai hitam panjang gadis itu. Namun gerakannya terhenti saat tidak sengaja ia menyentuh pundak gadis itu yang terekspos karena tali gaun tidurnya turun dari tempatnya.
'Aku… Ingin menyentuhnya…' batin pria itu. Tangannya mulai bergerak memasuki gaun tidur gadis itu. Namun saat Kara bergerak tidak nyaman, dia langsung menghentikan 'kegiatannya' itu.
'Sial! Apa yang aku pikirkan dan lakukan tadi?!' rutuknya pada diri sendiri. Ayolah, dia bukan orang yang mudah kehilangan kendali 'hanya' karena tadi dia melihat tubuh adiknya.
'Sebaiknya aku tidur secepatnya daripada melakukan yang aneh-aneh seperti tadi!' pemuda itupun segera meanarik selimutnya dan menutupi tubuh keduanya.
"Oyasumi… Aku mencintaimu…" bisik pemuda itu sebelum akhirnya memejamkan matanya.
.
.
.
TBC
Author's note:
Doumo~ Atashiwa modorimasu yo~ #ditendang
Ah, maaf kalau mengecewakan, di chap ini gaada 'crime'nya, malah cenderung ke romance… Dan maaf lagi, si kepala merah *lirik Akashi* belum nongol… T^T
Semoga chap depan ada crime-nya :'D *tergantung ide yang melayang(?) di otak author "^^V #ngek*
Satu lagi, kalo ada yang bingung/penasaran gimana pakaian dinasnya Nijimura (dan karakter lain yang nanti nongol dan seprofesi) itu, eng… Inget aja baju Nazi (maaf author pake modelnya, soalnya author suka model bajunya #buagh), dan buat setting tempat, yah… campuran lah… ada rumah-rumah ala Jepang gitu dan ada bangunan ala eropa juga~ #ngekk Tergantung situasi dan kondisi xD #ditendangkeblackhole
Nah, mau balas review dulu~ XD
Akiyama Seira : Doumo~ Makasih banyak, maaf gabisa update kilat x'D
Silvia-KI Chan : Be-beginian? OwOa Yosh ini udah update! Tapi maaf ga pake kilat x'D #duarr
Aoi Yukari : Ha'i~ makasih banyak~ xDD
Makasih banyak buat yang udah baca, review, apalagi yang mem fave dan mem follow fic nista ini… Makasiiih T/\T
Yosh, ditunggu lagi ya pendapat, kritik, dan saran di kotak review :D
See you again~
Sign, Kaito Akahime
