PACARKU AGEN FBI? NO WAY!
Chapter 2: Kebenaran dan kebohongan
"ukh., kepalaku sakit sekali… apa yang barusan terjadi ya?", kata seorang anak remaja yang bernama Rock Lee. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang ditidurinya tadi. Ruangan ini. . . sama sekali berbeda dengan ruang tidurnya. Hanya ada komputer (versi 2011, maaf tidak tahu apa nama komputernya), lemari buku yang semuanya kira-kira buku sejarah dan strategi (tidak ada komik sama sekali), dan kamar mandi di samping ruang tidur. Lee mengusap matanya, mencoba untuk melihat lebih jelas lagi. Dia mencubit tangannya, berharap ini hanya mimpi dan segera bangun dari tidurnya. Tapi, dia menjerit kecil, dia merasakan sakit.
Wajah Lee pucat pasi.
Omg.
Ini ternyata betulan.
Dia tidak bermimpi.
Ini kenyataan.
Dia beranjak dari tempat tidurnya, pergi ke samping ruangan, kamar mandi. Dia perlu mencuci wajahnya, supaya dia bisa tenang dan berpikir dari awal lagi. Saat dia membuka pintu kamar mandi, dilihatnya pacarnya… Sakura, yang sedang dalam keadaan telanjang. Hidung Lee keluar darah. Dia mimisan. Wajahnya memerah padam dan dia pun pingsan. Sakura yang mendengar bunyi orang jatuh, kaget, karena yang jatuh itu adalah pacarnya,Lee. Sakura cepat-cepat menutupi dirinya menggunakan handuk dan lari ke arah Lee yang pingsan.
"Hei, Lee! Bangun! Kenapa kamu pingsan!", kata Sakura, panik. Lee tetap tepar disana, sama sekali tidak bergerak. Sakura mengangkat dia dan menaruhnya di atas ranjang. Lalu dia pergi ke ruang ganti baju.
1 jam kemudian…
-Lee's POV-
Hahaha… pasti akku sedang bermimpi saat ini. Aku melihat hal yang seharusnya aku tidak boleh lihat, apalagi itu perempuan! Parahnya, aku pingsan sebelum aku bisa keluar dari tempat itu. Aku ingin melihat Sakura sekali lagi, bukan tubuhnya, melainkan wajahnya yang cantik itu dan senyum manisnya. Aku pasti sudah mati saat ini, karena anemia yang parah. Hahaha…
'Lee!'
hahaha... lucu. Aku bisa mendengar suara Sakura sekarang, apa aku terbentur meja waktu jatuh tadi ya?
'Lee!'
Teriakannya perasaan semakin membesar, dan semakin... mendekat. Aku anggap itu hanya mimpi yang nyaris menjadi kenyataan. Tidur saja supaya aku lupa akan kejadian yang memalukan itu. Tapi, aku merasakan hantaman... hantaman yang benar-benar keras, sampai aku terbangun dari mimpi indahku.
-End of Lee's POV-
Lee menatap wajah Sakura dengan tanda seru. Dia mengerjap-kerjap matanya, melihat dengan lebih jelas lagi.
"Sakura?"
"Iya Lee?", jawab Sakura, tersenyum manis. Lee mengusap kedua matanya lagi, lalu menatapnya lagi. 'Sakura?'. Tiba-tiba dia teringat akan hal yang barusan terjadi sebelum ia pingsan. Warna merah tersebar di seluruh wajahnya.
"SAKURA! MAAFKAN AKU! AKU SEHARUSNYA TIDAK BOLEH MELIHAT TUBUHMU YANG BEGITU INDAH DAN ELOK ITU! MAAFKAN AKU JUGA KARENA TIDAK BILANG PERMISI SAAT KE KAMAR MANDI! MAAFKAN AKU-"
"BERHENTI BERKATA 'MAAF' LEE! SEKALI LAGI KAMU BERKATA MAAF, KAMU AKAN DIJATUHKAN DARI LANTAI 456 INI!"
Lee bergidik, takut melawan Sakura walaupun dia itu adalah pacarnya sendiri. Lee berniat mengatakan 'maaf' untuk terakhirr kalinya, tapi sebuah pisau menemuinya, dan nyaris mengenai kepalanya. Wajah Sakura mengkerut, mirip Tsunade, ibunya. Selagi dia marah dia pasti akan menghajar orang yang mencari masalah dengannya. Lee salah satunya.
Lee memperhatikan pakaian yang dipakai Sakura. Semuanya serba hitam. dari celana jeansnya, baju tanktopnya, dan sarung tangannya. 'Tunggu. Serba hitam? Berarti. . .'. Mulut Lee terbuka sedikit-demi-sedikit. Sakura bingung, ada apa dengan dia? Lalu, Lee pun berteriak, keras.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Sakura spontan kaget mendengarnya Lee berteriak secara tiba-tiba itu. Dia langsung memukul kepalanya untuk diam.
"ada masalah dengan mu?",tanya Sakura dengan nada kesal. Lee menahan rasa sakit yang ada di kepalanya bekas hantaman Sakura tadi. Lalu, wajahnya memuram durja. Sakura yang melihat itu mulai merasa sebal.
"kamu kenapa Lee?", tanya Sakura, heran bercampur kesal.
"kenapa katamu? Justru aku yang seharusnya berkata begitu kepadamu! Apa yang terjadi dengan mu! Dimana kita dan siapa kamu yang sebenarnya!",kata Lee dengan nada jengkel. Sakura belum pernah mendengar Lee berteriak seperti itu sebelumnya. Jadi, ini momen yang tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi. Lee menenangkan dirinya sebelum dia menghela napas panjang.
"bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi, Sakura?",tanya Lee, menahan rasa 'tidak-enak'nya.
"Aku Haruno Sakura, agen FBI dengan kode 4500056, ahli dalam mata-mata, khususnya bela diri. Tempat yang sekarang kau tempati ini adalah markas kami, kamar ini adalah kamarku. Masing-masing anggota FBI punya kamar tersendiri. Kami bertugas memecahkan kasus yang mustahil orang selesaikan. Aku tahu itu adalah tugas CIA, tapi kami berbeda. Aku sudah menyelesaikan tugasku yang ke 134, yaitu membawamu kesini."
NAN'DATO!
Mulut Lee terbuka lebar, tidak percaya akan apa yang telah didengarnya.
"tunggu, tunggu, tunggu. Tugasmu membawaku kesini?", tanya Lee.
Sakura mengangguk.
"Buat apa yah?", tanya Lee dan duduk bergaya seperti orang santai. Sakura tersenyum, Lee bergidik. Pasti sesuatu yang tidak aman.
"Kami, agen FBI, mempunyai orang yang ahli dalam menggunakan taijutsu legendaris sepertimu. Tapi, dia sudah mengundurkan karena suatu alasan keluarga. Orang itu tidak lain tidak bukan adalah ayahmu, Maito Gai."
A...Ayah?
"tunggu, aku tidak pernah mempunyai keluarga, apalagi seorang ayah! Aku ini adalah anak yatim piatu. Lagipula, Maito Gai adalah guruku yang sangat keren!", kata Lee. Sakura menggelengkan kepalanya.
"Dia berbohong Lee, ayahmu adalah Maito Gai."
"tidak mungkin.. . dia selalu peduli padaku... tapi, begitu mengetahui fakta tadi...", Lee semakin bingung. ada apa ini sebenarnya.
"Dia belum pernah mengatakannya kepadamu ya?", tanya Sakura. Lee menggelengkan kepalanya. Sakura menghela napasnya.
"begitu... jadi aku orang pertama yang memberitahumu kalau ayahmu adalah anggota kami..."
Lee kaget. APA? ANGGOTA FBI! GAI-SENSEI ANGGOTA FBI?
"sebelum dia mengundurkan diri, dia pernah menolong orang yang seharusnya harus dibunuh. Dia bilang kalau nyawa manusia lebih berharga dari apapun. Tapi, orang yang ditolong itu adalah pembunuh berantai. total 13 orang yang sudah dia bunuh. Tapi, dia bersikeras ingin menolongnya."
?Apa? Gai-sensei. . . menolong seorang pembunuh?
"Tsunade, ibuku sekaligus pemimpin perkumpulan FBI, menghajarnya tepat di wajahnya. Dia kesal akan tindakan Gai-sama yang melenceng dari tugasnya. Ayahmu menerima semua hantaman dan pukulan dari ibu, dia pantas menerimanya katanya. Ayahmu juga mengatakan kepada ibuku, kalau manusia patut hidup selama mungkin. Tapi, ibu malah terus menghajar wajahnya berkali-kali."
S-sensei? Kenapa kau tidak menjalani tugas yang telah diberikan? Kenapa kau malah menolongnya?
"2 hari setelah kejadian itu, pembunuh itu kabur dari penjara. Kami bertugas untuk menangkapnya lagi, tanpa membawa Gai-sama. Ibu menyuruh dia untuk tetap tinggal di dalam markas, sebelum dia menghilang."
"hah?"
"dia menghilang secara tiba-tiba. Jadi, aku, ibu, dan anggota yang lainnya pergi mencari dia. Aku tidak tahu seberapa pentingnya Gai-sama bagi ibu. Lalu, kami mendengar suara ledakan, yang terjadi di suatu apartment. Kami memasuki gedung tersebut, mencari letak dimana ledakan itu berasal. dan kami menemukannya. Begitu kami memasuki kamar tersebut, ibu terkejut setengah mati."
"k-kenapa?", tanya Lee, penasaran.
"Ayahmu melindungi seorang remaja dari ledakan, dan pembunuh itu... sudah mati,"
Lee terkejut. Dan dia pun mulai mersakan hal yang aneh dan janggal. Lee menatap Sakura. Sakura mengangguk.
"Ya. Remaja itu adalah kamu, Lee."
"bagaimana mungkin? Gai-sensei tidak pernah memberitahuku tentang ledakan itu, ataupun-"
"Setelah kejadian itulah kau mulai kehilangan ingatan Lee! Efek dari ledakan itu sangat besar,bahkan Gai-sama nyaris tidak sanggup mengatasinya!"
". . ."
"dia melindungimu, Lee... dia juga melindungi semua orang...hanya kamu yang sangat berarti dihatinya."
". . ."
"ibuku menangis saat melihat Gai-sama yang sekarat, dia membawanya ke rumah sakit, dan menyuruh dokter untuk menolongnya."
". . ."
"dokter bilang kalau nyawa Gai-sama dapat diselamatkan, tapi dia masih pingsan di ranjang. ibu terus menunggunya disana, tanpa makan dan istirahat. aku khawatir akan kesehatan ibu yang seperti itu."
". . ."
"setelah menunggu selama 5 jam, ibu ingin pulang ke rumah, dia capek menunggu si 'idiot' itu untuk bangun."
'idiot'?
"pada saat ibu beranjak dari kursinya, saat itulah tangan ibu dipegang, oleh tangan ayahmu."
". . .eh?"
"selama ini aku mengawasi gerak ibu sewaktu ia berada di rumah sakit bersama Gai-sama, wajar kalau aku tahu. Dia memegang tangan ibu, ibu lalu menangis. Dia merangkul Gai-sama erat-erat, begitu eratnya sampai dia tidak bisa bernapas. setelah ibu melepaskannya, dia lalu. . ."
"lalu apa?"
"dia mencium. . .Gai-sama..dengan lembut, aku rasa..."
PESSSS... Wajah Lee sudah memerah seperti tomat. Sakura tertawa melihat sikap Lee yang seperti itu. dia lalu duduk di samping Lee, dan bersender.
"Ya, pada saat itulah, ibu terus memikirkan ayahmu, ingin bertemu dengannya lagi, melihatnya lagi, menciumnya lagi... itulah kisah cinta orang tua kita. Dan kisah cinta itu, akan diteruskan kepada anak masing-masing."
"j-j-jangan bilang k-kalau..."
"Yap, betul... Lee, aku mencintaimu."
Lalu mereka berciuman dengan sangat lembut, SAKING LEMBUTNYA seperti memakan buah strawberry.
"aku... juga mencintaimu, Sakura..."
"Kalau begitu, apa kau berniat untuk bergbung dengan kami, Lee?", tanya Sakura.
Lee menarik napas dalam-dalam, lalu dikeluarkan.
"TENTU SAJA! SELAMA AKU MASIH BERADA DISISIMU, AKU TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKANMU!"
