Aka Tsuki
Chap 2
Disclaimer: Kubo-sama yang punya Bleach, daku yang punya fic ini…….
Ichigo dan Yuzu menunggu taksi didepan rumah mereka. Yuzu memegang payung sambil meneduhkan kakaknya. Ichigo menggendong tubuh Karin yang sudah dingin. Hujan semakin deras, udara semakin dingin menembus kulit. Tak lama kemudian, sebuah taksi pun tiba. Ichigo dan Yuzu segera memberhentikannya dan masuk. Ichigo di depan, Yuzu dan Karin di jok belakang.
"Kemana tujuan kalian????"tanya supir taksi.
"Rumah Sakit Ishida…."jawab Ichigo. Yuzu tersentak mendengarnya.
"Kakak!!!! Rumah Sakit Ishida 'kan jauh dari sini!!!!"protesnya. Ichigo menoleh ke arahnya.
"Kakak tahu!!!! Tapi itu satu-satunya Rumah Sakit yang buka sekarang ini!!!!!"balas Ichigo. Yuzu pun terdiam dan menunduk.
"Baiklah, maaf kalau aku membuat kakak marah…. Aku benar-benar minta maaf…"ucap Yuzu terisak. Air matanya mengalir perlahan.
"Sudahlah, jangan dipikirkan… Lebih baik kau istirahat saja dulu…."suruh Ichigo. Yuzu menyenderkan dirinya ke belakang jok yang empuk. Ia dapat merasakan darah yang mengalir dari kepala Karin. Ia meraba-raba, mencari tangan Karin. Lalu, ia memegangnya begitu erat walaupun darah di dalam tangan itu sudah berhenti mengalir. Perlahan-lahan ia pun tertidur.
Sesampainya di Rumah Sakit Ishida….
"Yuzu, kau pergi dulu saja…. Kakak mau membayar taksi dulu…"ucap Ichigo. Yuzu pun berjalan ke dalam Rumah Sakit Ishida sambil membopong Karin. Setelah Yuzu pergi, Ichigo membalikkan badannya.
"Berapa yang harus aku bayar????"tanya Ichigo. Supir itu menggeleng.
"Tidak perlu, jangan habiskan waktumu… Kelihatannya adikmu kebingungan di dalam sana…"ujar supir taksi sambil melihat ke arah Yuzu.
"Terima kasih…."ujar Ichigo. Supir taksi itu mengangguk.
"Ya… sama-sama…. Selamat malam…"Supir taksi itu pergi meninggalkannya.
Ichigo segera berlari kedalam Rumah Sakit Ishida, Yuzu mengengok sana-sini, tak tahu harus kemana karena ia tidak begitu mengenal tata letak Rumah Sakit Ishida.
"Ada apa, Yuzu????"tanya Ichigo.
"Kakak, kalau mau ke UGD sebelah mana ya????"tanya Yuzu. Ichigo menarik tangannya, lalu berjalan cepat ke arah kiri dari pintu masuk.
"Sebelah sini…"gumam Ichigo.
Ryuuken baru saja mengunci kantornya, bersiap-siap untuk pulang. Ishida sudah menunggu di mobil. Tiba-tiba, ia mendengar seseorang datang ke arahnya.
"Maaf, Ishida-san…"seseorang memanggilnya.
"Kau tidak lihat ya???? Sekarang sudah malam??? Kau mau apa????"tanya Ryuuken kesal. Lalu ia membalikkan badannya, ia melihat Ichigo bersama adik-adiknya.
"Oh, kau… Ada apa???"tanya Ryuuken.
"Anoo, Ishida-san… Adikku dalam keadaan kritis, ia ditemukan tergelepak didapur tadi pukul 12…"jelas Ichigo. Ryuuken membatalkan niatnya untuk pulang, ada nyawa seseorang yang harus ia selamatkan malam ini. Ia merogoh kantong jasnya, mengambil ponselnya.
"Tunggu sebentar, aku mau menghubungi seseorang…."Ichigo mengangguk menurut. Lalu Ryuuken memencet nomor seseorang.
DRRT DRRT
HP Uryuu bergetar, ia sudah ketiduran di mobil. Tetapi, getaran HP-nya membuatnya terbangun. Lalu ia menerima panggilan itu.
"Halo…"ucap Uryuu dengan nada lelah.
"Halo, Uryuu. Ini aku, kau kesini sekarang juga, aku akan tidak akan pulang untuk waktu yang cukup lama"jelas Ryuuken. Uryuu tersentak mendengarnya.
"Ya…yang benar saja!!!! Kau tidak lihat pukul berapa sekarang??? Lalu siapa yang datang padamu malam-malam begini sampai kau tidak mau pulang????!"protes Uryuu.
"Temanmu, Kurosaki. Adiknya dalam keadaan kritis, aku mau kau menemaninya selagi aku memeriksa adiknya…"suruh Ryuuken. Uryuu menghela napas.
"Baiklah… aku akan segera ke sana…."balas Uryuu.
"Baiklah, kau… Nona Kurosaki, tunggulah diluar bersama Kakakmu, biar saya yang memeriksanya…"pinta Ryuuken pada Yuzu. Yuzu mengangguk kecewa, lalu berjalan ke ruang tunggu diluar. Ichigo sudah duduk bersebrangan dengan Ishida.
"Kenapa?"tanya Ichigo.
"Pak Dokter menyuruhku untuk menunggu disini…"balas menggeser tempat duduknya, memberi tempat untuk Yuzu. Yuzu melompat duduk.
"Oi, Kurosaki…"panggil Ishida. Ichigo dan Yuzu menengok ke arahnya.
"Apa yang terjadi dengan saudaramu itu????"tanya Uryuu. Ichigo mengangkat bahu, lalu Uryuu melirik Yuzu. Yuzu menunduk sedih.
"Aku…aku tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Karin-chan, aku sempat mendengarnya berteriak kencang sekali, tapi ia bilang ia tidak apa-apa…."jelas Yuzu sedih, air matanya kembali mengalir. Ichigo merangkul Yuzu.
"Sudahlah… Jangan menangis lagi…"pinta Ichigo. Yuzu mengusap air matanya.
"Aku…aku merasa… kalau Karin-chan sudah tidak bisa tertolong lagi…"ucap Yuzu dengan nada serak. Ichigo menempelkan kepala adiknya di dadanya.
"Jangan berpikiran yang buruk… Siapa tahu tuhan masih memberinya kesempatan….."ucap Ichigo.
Uryuu terharu melihat mereka, betapa tragisnya peristiwa yang mereka alami.
"Kau kakak yang baik, Kurosaki…"puji Uryuu.
"Aku tak punya waktu untuk mendengarkan pujian…"balas Ichigo.
BRAK!!!!!
Ryuuken membuka pintu dengan kasar, wajahnya tampak kecewa. Ichigo dan Yuzu langsung bangun dari tempat duduknya, begitu juga Uryuu.
"Bagaimana????"tanya Ichigo. Ryuuken menghela napas, menguatkan diri untuk mengucapkannya.
"Terdapat banyak luka di kepala, beberapa organ tubuhnya rusak karena benturan, kelihatannya, penyebab utamanya adalah cekikan…."jelas Ryuuken.
"Lalu, bagaimana dia sekarang????"tanya Yuzu sambil bersembunyi dibalik Ichigo. Ryuuken memenjamkan matanya, ia menggigit bibir bawahnya, mengerutkan alisnya, lalu menggeleng lemah. Yuzu terperosot di sebelah Ichigo. Ia menggelengkan kepala.
"Bohong…."bantah Ichigo.
"Aku sudah berusaha, tapi ia kehabisan darah…."ujar Ryuuken. Yuzu maju menghadap Ryuuken, ia menggenggam jas dokter yang putih itu.
"Paman, paman ini 'kan dokter… Kenapa Karin-chan tidak bisa diselamatkan???!!!!!"Tangis Yuzu pun pecah. Ryuuken sudah tahu bahwa akan begini jadinya. Ichigo menarik Yuzu, lalu memeluknya… Keduanya sama-sama menangis.
"Yuzu, biarkan Karin pergi…"bisik Ichigo. Yuzu menggeleng dalam pelukan Ichigo.
"Tidak, aku sayang sekali pada Karin-chan… Aku tidak mau ia pergi!!!!!!"balas Yuzu.
"Aku akan mengurusnya malam ini, kalian menginap saja di rumahku….."suruh Ryuuken.
"Terima kasih, Ishida-san…."ujar Ichigo. Ryuuken mengangguk. Lalu Ichigo berbalik meninggalkannya.
Uryuu memberhentikan mobilnya di depan rumah yang amat besar dan megah. Ichigo dan Yuzu turun. Uryuu memarkirkan mobilnya di garasi.
"Maaf membuatmu jadi repot, Ishida…."ucap Ichigo. Uryuu menggeleng.
"Tidak, tidak perlu…. Itulah gunanya teman…"balas Uryuu. Ichigo tersenyum lega mendengarnya.
"Terima kasih….."balas Ichigo. Lalu mengikuti Uryuu yang sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu….
"Baiklah, kamar kalian ada disebelah kamarku, beristirahatlah… Kalau ada apa-apa, panggil saja aku, ada jalan pintas ke kamarku…"jelas Uryuu. Ichigo mengangguk, lalu memasuki kamarnya.
Yuzu tidur di kasur, Ichigo di sofa dekat pintu. Lalu, Ichigo pun mematikan lampunya, lalu kembali ke sofa.
"Kakak…"panggil Yuzu yang masih terjaga.
"Hn?"Ichigo membalasnya dengan gumaman.
"Aku ingin tahu, apa yang terjadi dengannya…"balas Yuzu.
"Maksudmu?"tanya Ichigo.
"Aku ingin tahu…. Apa yang menyebabkannya seperti ini… Apakah itu terjadi dengan sendirinya atau tidak…"berubahnya intonasi dalam kata-kata Yuzu, membuat Ichigo merasakan sesuatu yang buruk.
"Ma…maksudmu…"
"Ya… Aku ingin tahu…. Apakah Karin-chan meninggal karena bunuh diri… Atau dibunuh…"jelas Yuzu.
"Lalu…. Apa yang akan kau lakukan???"tanya Ichigo. Sesaat atmosfir ruangan berubah, terasa seperti ia tidak sedang berbicara dengan seorang anak SMP.
"Kalau ia mati bunuh diri, aku akan ikut dengannya… Kalau ia mati dibunuh, aku akan membunuh orang yang melakukan itu, setelah itu aku akan ikut mati bersamanya…"jelas Yuzu. Benar-benar mengerikan, peristiwa ini sudah mengubah Yuzu keseluruhan. Tak pernah Ichigo berpikir kalau adiknya itu akan membalas dendam.
"Sudahlah Yuzu, lebih baik kau istirahat dulu… kau pasti sangat lelah…"suruh Ichigo.
"Baiklah….."balas Yuzu.
Di atap rumah sakit kosong, tempat pertama kali Don Kan'onji bertemu Ichigo….
"Lama tak kemari ya… Taichou…"ucap seorang lelaki berbadan besar berambut merah diikat, Abarai Renji. Disebelahnya, ada salah seorang anggota keluarga bangsawan Kuchiki, yaitu Kuchiki Byakuya. Kakak dari Rukia Kuchiki. Mereka sedang duduk-duduk menikmati malam.
"Sudah setahun aku tidak berjumpa dengannya…."gumam Byakuya. Renji menepuk pundaknya.
"Aku tahu kau merindukannya…."ucap Renji. Byakuya menunduk sedih.
SRAK
Terdengar bunyi benda bergesekan, Renji menengok ke belakang, tak ada siapa-siapa.
"Ada apa, Renji?"tanya Byakuya. Renji menghadap Byakuya.
"Tidak… Mungkin hanya perasaanku saja…"balas Renji.
TAP
Terdengar seperti seseorang menapakkan kakinya. Kali ini, Renji tidak menengok.
'Hanya perasaan saja…. Hanya perasaan saja…'batin Renji.
TAP TAP
Suara langkah itu semakin jelas. Bulu kuduk Renji berdiri.
'Tak ada siapa-siapa di sini selain aku dan Taichou, untuk apa aku takut?????'pikir Renji, berusaha menenangkan dirinya.
"Renji…."
Seseorang terdengar membisikkan namanya. Renji kembali bergidik.
"Siapa kau????"bisiknya pelan.
"Renji…. Abarai…."
Suara itu membisikkan namanya lagi. Renji mendengarnya, dan ia sadar kalau ia mengenali suara itu….
"Kau…..?"
"Renji…. Aku disini…."
"Rukia…?"Renji berusaha berbisik sekecil mungkin agar Byakuya tak curiga. Namun percuma saja, telinga Byakuya kelewat tajam.
"Kau bicara dengan siapa, Renji????"tanya Byakuya. Renji menengok terkejut kearah Byakuya, ia melihat Rukia melayang di belakang Byakuya, masih dengan gaun hitam pendeknya, dan mata Hitam tak berbentuk itu, ia tersenyum licik kearah Renji. Membuatnya bergidik.
"Dibelakangmu, Taichou…"ucap Renji gemetaran sambil menunjuk kearah Rukia. Byakuya heran melihat tingkah laku bawahannya, lalu ia mengengok ke belakang. Matanya melebar terkejut, ia tak percaya siapa yang datang mengunjunginya malam ini. Adiknya yang telah cukup lama
Tiada. Rukia tersenyum lembut padanya, menutupi nafsu membunuhnya yang tinggi.
"Nii… Sama…"ucap Rukia sambil berpura-pura berjalan kearah Byakuya, lalu memeluknya.
Renji tak bisa bergerak, seolah-olah kakinya sudah menempel dengan lantai atap. Dibalik pundak kiri Byakuya, ia melihat Rukia memberikan tatapan ancaman kepada Renji.
"Nii-sama… Aku merindukanmu…."bisiknya ditelinga Byakuya. Byakuya mengangguk.
"Aku pun begitu……"balasnya berbisik.
Rukia mengeluarkan air mata palsu, berusaha mengelabui Byakuya lebih jauh. Byakuya bisa merasakan kemejanya basah.
"Rukia, bukankah kau sudah…."
Belum selesai Byakuya berbicara, Rukia menaruh jari telunjuknya di bibir Byakuya.
"Aku masih ada Nii-sama… Aku masih nyata…."ucapnya. Byakuya pun berhenti bertanya.
"Sudah lama kita tidak bertemu… Kemana saja kau??????"tanya Byakuya.
"Taichou!!!! Ta…"Renji berhenti memanggil Byakuya begitu ia melihat Rukia memberikan tatapan ancaman lagi. Ia tahu Rukia menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jangan hiraukan Renji…."ucap Byakuya yang masih antusias akan kepergian adiknya selama ini.
"Baiklah… Selama ini aku…… Tinggal disini…."balas Rukia. Byakuya menaikkan satu alisnya.
"Tahukah kamu kalau kepergianmu membuatku begitu cemas??? Tahukah kamu kalau saat kau pergi, Seireitei sedang berperang???"tanya Byakuya santai. Rukia menunduk mendengarnya.
"Maafkan aku, aku tahu aku salah…. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi…."balas Rukia dengan nada sedih.
"Tak apa, semuanya sudah berakhir… Dan kau selamat…."ucap Byakuya. Rukia tersenyum licik dibalik rambutnya. Diam-diam ia mendorong Byakuya ke tepi atap. Ia menatap bulan, memastikan malam ini bulan Purnama benar-benar ada.
"Ada apa????"tanya Byakuya. Renji melihat itu semua, ia tahu bahwa Rukia akan membunuh Byakuya. Ia berlari, tetapi kakinya terasa berat. Ia merasa ada sesuatu dikakinya, ia pun menundukkan wajahnya. Betapa terkejutnya ia saat meilaht genangan darah kental menggenangi kakinya sepeti Lumpur. Ia menutup hidungnya karena tak tahan dengan bau amis yang menyengat, llau berjalan sekuat tenaga melawan genangan darah itu. Rukia memutar wajahnya 45 derajat ke Kanan. Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu, Renji berusaha membaca apa yang dikatakan Rukia. Ia terkejut bukan main begitu mengetahui apa yang dikatakan Rukia.
"Sayang sekali, sudah terlambat"
Bisikan itu terdengar amat jelas ditelinganya. Renji terus memajukan langkahnya, berusaha menyadarkan Byakuya dari ilusi kesedihan yang membuatnya tidak menyadari kematian sudah dihadapannya.
"Taichou!!!!!!!!!"panggil Renji. Byakuya tidak menjawab. Bukannya ia menghiraukan, tetapi ia tidak mendengar. Rasa Rindu-nya pada Rukia membuatnya tidak bisa mendengar dan melihat apapun disekitarnya. Semua yang ada dipikirannya hanya tertuju pada Rukia.
"Selamat…."ucap Rukia. Byakuya memberikan tatapan 'Selamat apa' pada Rukia.
Rukia dengan cepat mendorong Byakuya hingga terjatuh, lalu ia menempatkan kedua kaki mungilnya diatas perut Byakuya. Kemudian menarik kedua tangan Byakuya, dengan segera ia menginjakkan kakinya sekuat tenaga ke perut Byakuya.
"Ohok!!!!"Byakuya mengeluarkan darah dari mulutnya. Rukia kembali menghujamkan kedua kakinya, kali ini keduanya mengunci leher Byakuya. Membuatnya tidak bisa bernafas.
Renji berusaha berlari kearah Byakuya, anehnya, kakinya sudah lebih leluasa bergerak. Genangan darah itu tiba-tiba hilang.
"TAICHOU!!!!!!!!!!!!!!!!!"serunya dengan suara serak.
DRAK!!!!!
Tubuhnya membentur keras tanah. Rukia melepaskan pegangannya pada tangan Byakuya.
"Ru..kia!!!!"geram Byakuya pelan, ia tak mampu lagi bergerak, organ tubuhnya sudah bocor, tulangnya remuk.
"Oh, kau masih hidup????"tanya Rukia dengan nada sadis. Ia menatap Byakuya sesaat, lalu terbang keatas perut Byakuya.
"Kau masih bisa merasakan rasa sakit 'kan?????"tanya Rukia. Byakuya diam tak membalas. Rukia mengerucutkan bibirnya. Kemudian menyeringai sadis.
"Aku ingin…. Kau merasakan… INI!!!!!!!!!!!!!!"Rukia kembali menghujamkan kakinya dengan sadis siatas perut Byakuya. Ia menginjak-injaknya sekuat tenaga. Ia menghancurkan bagian bawah Tulang Rusuk Byakuya. Kemudian melompat maju menuju dada.
"Hm….. Tak pernah terpikirkan olehku kalau kau orang yang bebal….. Selamat Tinggal!!!!!"gumam Rukiayang kemudian ter. Ia menekukkan lututnya, kemudian melompat dan mendarat dengan kencang di atas dada Byakuya sampai Paru-paru Byakuya hancur. Byakuya mengeluarkan darah banyak sekali.
"Taichou!!!!!!!!!!!!"panggil Renji histeris. Dengan segera ia merogoh kantungnya, mengambil selembar kertas kecil. Setelah menemukannya, ia menggigit jarinya hingga berdarah lalu membuat sebuah pesan. Setelah selesai, ia segera mencari jalan untuk kabur atau tempat untuk sembunyi.
WUSSSH
"Mau kemana kau… wakil kapten Abarai???"tanya Rukia yang sudah berada di belakangnya. Renji menghentikan langkahnya sebelum ia berhasil turun dari atap.
"Bukan urusanmu!!!!!"balas Renji berpura-pura agar Rukia tidak mengetahui niatnya untuk kabur.
"Kau yakin???? Kurasa aku berhak ikut campur dalam ini…."ucap Rukia. Ia melayang kearah Renji.
"Ayolah, Abarai-kun….. Beritahu aku kemana tujuanmu…."pinta Rukia sambil menahan Renji dengan kedua tangan dinginnya yang keras bagai marmer. Renji menggeleng keras. Rukia merogoh kantong kanan celana Renji. Kemudian ia mengeluarkan pisau lipat dan pesan yang tadi dibuat Renji. Lalu menodongnya tepat di dada kiri Renji, dimana didalamnya terdapat sumber kehidupannya, Jantung.
"Aku tahu… Kalau kau akan segera membunuhku…"ucap Renji. Rukia tersenyum mendengarnya.
"Kau memang peramal hebat!!!!!! Aku kagum padamu!!!!'seru Rukia gembira. Lengkingan tawanya membuat malam itu semakin menyeramkan.
"Renji… Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu…"ucap Rukia. Renji menatapnya penasaran.
Tiba-tiba langit menjadi begitu gelap, berselimutkan awan hitam. Udara menjadi semakin dingin sampai menembus kulit.
"Aku ingin kau tahu…. Apa maksud dari Bulan Merah yang muncul malam ini????"tanya Rukia. Rukia mengangkat tangannya kelangit, lalu menurunkannya lagi. Awan hitam yang tadi menyelimuti langit dengan cepat menghilang, tampaklah Bulan Purnama yang semerah darah.
"Kau sudah melihatnya?????"tanya Rukia. Renji mengangguk.
"Apa kau tahu maksudnya????"tanya Rukia sinis. Renji menelan liur, ia tak berani menjawab.
"Ayolah….. Bulan Merah sangat sulit sekali untuk dilihat… Butuh kesabaran untuk menemukan waktu kapan ia akan muncul…."pancing Rukia.
"Aku… Tidak tahu…" bisik Renji. Rukia menatapnya kecewa. Lalu tersenyum lebar.
"JAWABAN YANG BAGUS!!!!!!"seru Rukia semangat. Ia menusukkan pisau itu ke dada Renji, lalu mulai mengarahkannya kemana-mana. Darah mengalir deras dari dada Renji.
"Akh!!!!!!"Renji berusaha menahan rasa sakit. Rukia hanya tersenyum dan terus mengoyaknya hingga membentuk lubang yang cukup besar. Lalu Rukia melepaskan pisau itu dari Renji dan melemparnya jauh ke belakang.
"Biar kujelaskan padamu…."ucapnya diam-diam tangannya membentuk posisi seperti jarum yang siap menusuk kapan saja. Lalu ia memasukkan tangannya ke dalam lubang besar di dada Renji, tangannya yang keras itu menghancurkan tulang rusuk Renji.
NYUT
Jantung Renji terasa sakit sekali ketika bersentuhan dengan kulit Rukia.
"Ukh!!!!!!"Renji mengerang kesakitan. Rukia menatapnya kosong. Tangannya terus mejelajah organ tubuh Renji. Kemudian ia berhasil menggenggam jantung Renji. Dan meremasnya pelan.
"Aaargh!!!!"Renji mencoba menahan rasa sakit dan perih yang luar biasa.
"Kau mau tahu apa maksud dari Bulan Merah????"tanya Rukia. Renji mengerutkan alisnya.
"Hentikan Rukia!!!!! Ini sudah keterlaluan!!!!"bisik Renji. Ia tidak mampu lagi mengeluarkan suara. Rukia mengangkat bahu. Lalu kembali meremas jantung Renji dengan erat.
"Aaaaaaaaaaaaarrrgh!!!!!! Hentikan Rukia!!!!!!"seru Renji marah. Ia mencoba mengangkat kedua tangannya, namun ditahan oleh tangan Rukia.
" Eit!!! Jangan bergerak!!!! Aku belum menjelaskannya padamu!!!!"ucap Rukia. Ia menusukkan kuku jarinya yang tajam ke jantung Renji. Renji mengerang kesakitan. Lalu Rukia menarik tangannya dengan kasar. Tangannya berlumuran darah.
"Biar kujelaskan padamu…. Arti dari Bulan Merah…."ucapnya sambil menjilat darah yang berlumuran ditangan kanannya. Tangan Kirinya melepaskan pegangannya pada Renji. Renji pun terjatuh. Rukia berjalan kearahnya.
"Arti dari Bulan Merah adalah…"Rukia memulai kalimatnya sambil membersihkan sisa-sisa darah dengan gaunnya.
'Bulan Merah……'batin Renji.
"Malam kematian bagi seseorang….."ucapnya riang. Rukia duduk diatas perut Renji, lalu menunduk ke arahnya.
"Aku akan merindukanmu, Renji…. Selalu…."bisik Rukia sambil tersenyum sadis. Lalu tangannya mengusap kedua mata Renji hingga tertutup. Walau matanya telah tertutup, Renji masih memiliki sedikit sisa kehidupan.
'Ichigo, aku ingin kau selamat… Aku tahu ia mengincarmu….'batin Renji. Tak lama kemudian, jantungnya sudah tidak lagi berdetak. Rukia bangkit, lalu pergi ke langit dan hilang diantara kabut tebal.
Pagi hari…..
Ichigo bangun lebih awal dibandingkan Yuzu. Ia berniat menelpon Renji, menanyakan kabarnya. Ia pun mengambil ponselnya yang tergeletak dilantai. Lalu memencet nomor telepon Renji.
Setelah cukup lama tersambung, akhirnya telepon diangkat juga.
"Halo, Renji!!!!"ucap Ichigo semangat, lalu mengubah posisinya dari terlentang menjadi duduk.
"Maaf, ini bukan Renji… "ucap orang itu.
"Ka..kalau begitu???? Kau siapa???"tanya Ichigo curiga.
"Ini Polisi....."balasnya.
"Polisi??????"tanya Ichigo bingung.
Subete wo wakariaeru to omoi kitai nado shita jibun wo hajireba
Dasai wo te ni okujou ni agari kono yon ado wa to ureitemiseru
Sora ni TSUBA wo haitara jibun ni kakatta
If you're ashamed of yourself for thinking that you can share everything and having anticipated so
Then take your authority into your hands, get onto your rooftop, and show me that you're worried about this world
You got yourself when you spat into the sky
JADI!!!!! CHAP 2!!!!!!!
Maaf yah kalo nggak ada horrornya. *Btw, chap ini serem gak????*
Kalo nggak, tenang aja… Horror ada lagi di next chap.
ABARAI-KUUUUN!!!!!! KUCHIKI-TAICHOU!!!!!! SONNA!!!!!! TT-TT
Sori lama update, sekolah udah masuk… Kembali sibuk….
Chap ini rate-nya T cocok gak????
Review please!!!!!!
