Sakura terbangun dengan gerakan kasar, keringat dingin menetes dari pelipisnya, juga wajah pucat pasi dengan nafas terengah-engah yang semakin menunjukan betapa sang Haruno Sakura tengah dilanda ketakutan.

"Hanya mimpi ternyata."

Sakura menatap kedua tangannya dengan perasaan campur aduk. Dengan nafas belum teratur ia mengedarkan pendangannya ke sekeliling yang ternyata itu adalah kamarnya sendiri.

Sakura mengerutkan dahi mencoba mengasah setajam mungkin ingatannya.

Cahaya matahari menelusup bebas melalui jendela yang ternyata tidak tertutup, ia memakai pakaian tidurnya, segelas air putih yang masih utuh disisi tempat tidurnya.

Ayo Sakura, ingatlah!

Ingat! Ingat! Ingat!

Ah!

Pertama, ia akan tidur dan Sasuke datang memberi kabar bahwa Ayame akan melahirkan. Kelahiran anak pertama senseinya bersama Ayame itu mengalami masalah sehingga Sakura menggunakan banyak tenaga,

Kedua, ketika ia nyaris saja menabrak pohon ketika perjalanan kembali kerumahnya sekitar lewat dini hari tiba-tiba ia malah jatuh kepelukan seseorang yang—entahlah—sepertinya adalah Sasuke?

Ketiga, ia tidak tau kenapa tiba-tiba ia mengalami kejadian seperti tempo hari saat ia terkena genjutsu Sasuke, kejadiannya benar-benar persis walaupun tidak sampai selesai.

Akhirnya Sakura mengingat semua kejadian tadi malam. Menghela nafas lega Sakura tersenyum sedih ketika mengingat kejadian saat itu. Saat ia bisa-bisanya terkena jurus pengendali dari lawan hingga membuat Sasuke geram dan malah memberikan sakura genjutsu agar tingkahnya nanti tidak merepotkan(ia tahu fakta ini dari Sai yang mengetahuinya dari mulut sang Uchiha sendiri), ia—Sakura—memang sudah berubah. Ia tak secengeng dulu,dia juga sudah tumbuh menadi gadis kuat yang berperan penting ketika peperangan, namun ada satu hal yang membuat perasaannya kembali terluka… bahwa Haruno Sakura, tetaplah bukan apa-apa dimata Uchiha Sasuke.

Meskipun sudah berkali-kali hampir menangis lagi karena lelaki dingin bermata obsidian itu, sedikit demi sedikit Sakura mulai paham kemana kakinya harus berjalan. Benar kata Sasuke dulu, bahwa jalan mereka memang tidaklah sama, dan hingga sasuke berjalan diatas tanah yang sama dengan Sakura, ternyata jalan yang sama itu tidak benar-benar sama. Sasuke masih berbeda.

Menghela nafas panjang, Sakura akhirnya turun dari tempat tidurnya kemudian berjalan kearah kamar mandi. Ia sadar masih banyak hal yang harus dia lakukan selain memikirkan kasus percintaan—sepihak—nya itu.

Pasti tadi malam Sasuke membawanya kemari karna tidak mau repot-repot membawa Sakura pulang kerumahnya 'kan tentu saja? Sakura terkikik geli ketika membayangkan seorang Uchiha Sasuke mau repot-repot membawanya kemari.

Ketika tengah melepas satu persatu kancing baju tidurnya, tiba-tiba wajah Sakura memerah dan tatapan matanya melotot seperti melihat hantu dalami di film-film yang Ino tonton.

"Oh tidak."

Baru saja seorang Sakura Haruno nyaris pingsan menyadari satu hal...

Siapa yang mengganti pakaiannya semalam?


DISCLAIMER : NARUTO milik MASASHI KISHIMOTO

GENRE : Romance & humor

RATED T

WARNING : masih banyak typo, fic ini masih banyak kekurangan, alur meju mundur.

FLAME? WHAT A FLAME?

DILARANG KERAS MENGCOPY ATAU MELAKUKAN TINDAKAN PLAGIATISME TERHADAP FIC INI, APALAGI SAMPAI MELAKUKAN COPY PASTE KEMUDIAN DIMASUKAN KEDALAM FANSPAGE ATAU SITUS PRIBADI


Chapter 2 : Sakura demam?


.

.

.

"Hei Jidat, sebaiknya kau beristirahatlah sana," Sakura menolehkan kepalanya pada Ino yang kini tengah berdiri diambang pintu ruang kerjanya,dari dokumen-dokumen laporan kesehatan pasiennya yang akan ia serahkan kepada Naruto malam ini, "Hei ayolah JIdat, lihatlah rupamu itu sudah kusut sekali, kau sedang tidak enak badan ya? Atau kau sudah lelah menjadi kepala rumah sakit?" Ino berjalan kearah Sakura, kemudian menyentuk dahi lebar sahabat merah mudanya tersebut, "Dahimu panas sekali,sebaiknya kau kembalilah kerumah, biar masalah dokumen ini aku yang menanggungnya untuk dibawa ke kantor Naruto, ayo sana sebelum hari gelap."

Ino menarik paksa—meskipun pelan—Sakura yang sudah menunjukan akan ada penolakan. Akhirnya setelah kalimat paksaan bertubi-tubi dari sahabat pirangnya yang super berisik, Sakura mulai menggerakan kakinya untuk sesegera mungkin beristirahat diatas kasur tidurnya yang empuk. Tadi sebelum benar-benar pulang Ino berjanji menjenguk sakura nanti malam.

Matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam katika Sakura menangkap silut seseorang yang tak jauh dari tempatnya sekarang, jalan Konoha yang lenggang khas desa-desa saat matahari terbenam membuat siluet yang membelakangi matahari itu terlihat jelas tanpa terhalang apapun.

Uchiha Sasuke berdiri disana, berjalan kearahnya dengan tatapan datar seolah semalam tidak pernah terjadi satu pun kejadian. Rasa kecewa sedikit demi sedikit hinggap menyadari bahwa tak sedikitpun ekor mata pemuda itu melirik kearahnya.

Mengabaikan rasa sakit dari dalam dasar hatinya, Haruno Sakura memutuskan berjalan selayaknya seorang Uchiha Sasuke yang tak mau memandang kearah lawan. Sampai ketika tubuh mereka bersisihan, Sakura enggan menyapa atau barang sedikit saya melirik dengan ekor matanya.

Memang seperti ini kan?

Dulu mereka berjalan kearah yang berbeda dengan Sakura yang menaruh perhatian penuh dari matanya kearah manapun Sasuke berada—baik kearah yang benar,ataupun yang salah.

Dan barusan ketika mereka berpapasan dijalan, Sakura sadar, bahwa bagaimana pun juga dia adalah perempuan yang seharusnya mempunyai harga diri walaupun cintanya kepada Sasuke tidak bisa lagi digambarkan seperti apa besarnya, dan ia sudah memilih seperti ini saja meskipun sisi dalam dirinya memberontak.

Bahwa jika mata Sasuke tak menyadari kehadirannya—baik disengaja atau tidak—Sakura juga akan berusaha menyadarkan dirinya sekuat mungkin bahwa ia harus menjaga matanya untuk tidak menunjukan tatapan terluka ketika Uchiha Sasuke tak akan pernah bisa menyadari kehadiran sosok Haruno Sakura. Ya, Sakura yakin sampai kapan pun Sasuke tidak akan menyadari keberadaannya, dan Sakura harus bertahan kuat dengan keyakinannya itu.


Malam ini sakura merasakan kesadarannya berada diawang-awang.

Tubuhnya terasa panas meskipun beberapa kali ia menggiggil ketika angin berhembus melewati jendela kamar yang ia biarakan terbuka begitu saja. Sepulang dari rumah sakit tadi sakura hanya sempat memakan nasi dan sup tadi pagi yang ia hangatkan untuk mengganjal perutnya yang lapar.

Termakasih atas bayang-bayang seseorang— kemungkinan besar adalah Sasuke—yang menggantikan pakaian ninjanya dengan pakaian tidur, sahingga membuat konsentrasinya terganggu.

Bahkan untuk sekedar menanggapi omelan Ino pun ia tidak memiliki kinerja otak yang cukup untuk memerintahkan lidahnya bergerak lincah seperti biasa, ditambah ketika ia berpapasan dengan si brengsek Uchiha—Sakura yakin ia terserang demam parah karna mengatai Sasuke seperti ini—yang membuat moodnya semakin jelek.

Sakura mencoba menggerakan tubuhnya untuk sekedar berjalan ke kamar mandi, ingin mencuci muka, namun niat tersebut langsung hilang ketika tubuhnya kembali terhempas manis keatas tempat tidur. "Sialan," Sakura mendesis lirih sambil memegangi kepalanya yang benar-benar sakit tidak kepalang, "Demam brengsek!" Sakura berseru seolah-olah demam adalah wujud manusia yang bisa ia hajar kapan saja? Ah! Bagaimana dengan menghajar Uchiha? Sepertinya menarik 'kan, Sakura?

Menunjukan wajah pasrah seperti tidak lagi memiliki harapan hidup, Sakura akhirnya menyerah setelah mencoba melakukan berbagai macam hal untuk setidaknya melakukan sesuatu.

Dari mulai mencoba menyembuhkan dirinya sendiri namun niat itu harus pupus mengingat bahwa ia tak memiliki chakra yang bagus untuk saat ini, kemudian mencoba bangkit dengan mengerahkan tenaga monsternya yang ternyata sekarang ia hanya seperti monster yang sudah dikalahkan oleh demam.

"Aaaa…!"

Sakura berteriak didalam selimut begitu menyadari bahwa ia tidak bisa melakukan apapun.

Rasanya ingin menangis saja, mengingat kini ia hidup sebatang kara.

"Kalau saja ibu dan ayah masih ada, aku yakin aku tidak akan pernah mengalami hal seperti ini."

Meskipun sudah mati-matian ia tahan, namun air matanya terjatuh tanpa bisa ia kendalikan.

Demam ternyata bisa membuat Sakura serindu ini kepada kedua orang tuanya.

Dan sebelum terlelapnsetelah lelah menangis, Sakura benar-benar berharap nanti Ino akan datang menemaninya..


Sakura mengerjapkan matanya ketika cahaya matahari pagi menerobos melalui celah jendela kamaranya, ia sudah merasa tubuhnya sehat kembali.

Sakura menyentuh dahinya dan bersorak kecil ketika sadar bahwa ia sudah benar-benar sembuh.

Ia mengedarkan matanya keseluruh penjuru ruangan pribadinya tersebut.

Ada baskom kecil berisi air dank an yang sepertinya digunakan untuk mengompres dahinya semalaman, jendela kamarnya tertutup meskipun tirainya dibiarkan begitu saja, di samping baskom air ada obat penurun panas, thermometer dan handuk kering.

Sakura tersenyum hangat. Setelah ini ia akan mandi, dan menuju kerumah sakit, oh,jangan lupakan ia harus mengucapkan terimakasih kepada nona Yamanaka yang pasti semalaman mengobatinya. Sepertinya Ino tidak melupakan letak knci cadangan yang sakura letakkan di bawah pt sebelh kiri pintu apato miliknya.

Sakura benar-benar merasa sehat sekaligus bahagia sampai-sampai melupakan sakit hatinya kepada si breng—bungsu Uchiha.

.

.

.

"Ino Pig!"

Sakura menerjang Ino yang sedang duduk di meja kerjanya dengan brutal.

"JIDAT BODOH KAU HAMPIR SAJA MEMBUAT JANTUNGKU JATUH KE LANTAI KAU TAHU TI—eh kau sudah sehat rupanya? Padahal ceritanya pagi ini aku akan bolos untuk merawatmu lho, hehe… maaf ya semalam aku tidak bisa datang karna harus menyelesaikan laporanmu, kau tidak marah kan?"

Sakura mencerna kata-kata Ino pelan-pelan dalam otaknya agar iya tau pendengarannya barusan pasti salah.

Oh jadi tadi malam Ino tidak bisa datang ke apato miliknya? Ohhh…

EH!

"Hei? Jidattt? Kau tidak marah kan aku tadi malam tidak datang ke apatomu?"

Tik…

Tik..

Tik..

"Ino? Ayo makan? Aku lapar." Hanya itu yang bisa Sakura ucapkan dengan pandangan mata kosong.

Jadi…

semalam?

To be continued.

Balas review ^^

*Untuk akun login aku balas lewat pm ya minna

Aitara fuyuharu : slam kenal juga anta-san ^^)/

Nanti juga di chapterchapter depan kebingungan kamu akan terjawab kok :D

Terimakasih buat koreksi tyonya ^^) author sudah berusaha untuk tidak ada typo di chap ini hehe terimakasih sudah mereview :* #peluk jauh

Akite-chan : terimakasih sudah mau mampir review dan sudah mau mengoreksi :D di chap ini aku udah usaha tidak ada typo lho :D hehehe maaf kalau masih ada.

Thanks to all reviewer :D

Sano Sasano, Sofi Asat, Febri Feven, SinHye, Namikaze Kushina 15, Hanazono Yuri, Kartinidevirozalinaf, , Sasshi Ken, Akite-chan, Mademoisellenna, Aitara Fuyuharu, NururuFauziaa

Maaf kalau ada nama yang salah ketik nama :D

Untuk chap terakhir, saya akan memilih satu reviewer yang setia mengikuti fic ini sampai selesai yang akan mendapatkan hadian satu oneshoot sasusaku (boleh milih temanya ^^)

Oh iya, untung ending? Emb? Mungkin dua atau tiga chapter lagi.

Dan maaf untuk yang mengharapkan ada orang ketiga, sepertinya di fic ini tidak ada, kan kasian, di manganya udah susah banget sasusaku jadi canon, masa disini aku persulit lagi :D hehehe

Terimakasih untuk semua readers/silent readers yang sudah mau mengunjungi atau bahkan mereview fic yang jauh dari kata sempurna ini **)/

Kalau mau kenal lebih dekat bisa PM, pasti aku bales.

Akhir kata… TERIMAKASIH SEMUANYAAAA..

Peluk hangat,

Cho Lolo