Chapter 1

Crazy Love

Created by Kim Chaerin

Cast:

Wu Yifan

Kim Jongin

Kim Minseok as Jongin's brother

Xi Luhan as Yifan's friend

And others maybe…

Pair: KrisKai… Kai always Uke!

Genre: Drama, Romance, hurt/comfort maybe…

Summary: Takdir? Yah, takdir. Kehidupan Jongin yang awalnya aman dan damai tiba-tiba terusik semenjak pertemuan pertamanya dengan namja tampan namun angkuh bernama Wu Yifan. Sebuah kejadian yang menghubungkan dua anak manusia berbeda dunia. Sebuah takdir yang diisi pertengkaran-pertengkaran kecil nan konyol. Tapi itulah uniknya. Pertengkaran adalah bentuk komunikasi special yang akhirnya mengikat mereka berdua. Kim Jongin dan Wu Yifan.

Anyyeong… Chae is back

Tengtrengtreng…. *back sound gagal

Lama menunggu? Hahahha…. Chae nunggu mood yang pas buat ngetik fanfic ini. Terlebih nih kan fanfic multi chapter pertama yang pure KrisKai. Sifat mereka agak kacau disini. Idenya dari mana? Chae entah kenapa suka banget liat temen-temen Chae yang udah pacaran trus gaya pacaran mereka itu gak yang seekstrim sekarang. Gaya mereka tuh nyantai. Sering bertemu, berantem tapi itu pesonanya. Kayak gimana yah hem… Chae lihatnya so sweet banget. Makanya pas liat temen Chae bertengkar di kampus sama pasangannya, Chae langsung mikirin dedek Jongin. Tiba-tiba wajah daddy terlintas. Jadilah main pair KrisKai buat fanfic ini. Disini mungkin jarang ada scene rated M –nya. Tapi lagi-lagi tergantung Chae yah. Hahahaha. Jangan bosan-bosan tiap baca chapter dimana KrisKai berantem melulu. Ok?

Pengumuman!

Bagi yang gak suka Kai sebagai Uke, Gak suka main pair KrisKai, gak suka alur cerita yang Chae buat… silahkan keluar dari sini! Chae gak nerima review dan pm bernada bashing. Terutama ngebashing Jongin sama Kris! Deal? Hargain orang lain jika anda ingin dihargai juga… Ada kebebasan berpendapat tetapi perhatikan tata bahasa yang digunakan. Deal? Chae baru aja kemaren nerima pm yang nadanya gak banget yang buat Chae langsung mikir gini: heh apaan sih nih orang. Baru nongol aja tiba-tiba udah ngirim pm kayak gini. Tapi udah Chae acuhin. So, yang merasa ngirim pm kek gitu… tolong berkaca yah. Chae gak akan respon pm dari siapapun kecuali readers setia Chae yang udah rela-relain waktu ngebaca fanfic Chae dan udah meninggalkan jejak. Oke?

Don't Like… Don't Read… dilarang PLAGIAT…. Don't bash

WARNING!

BL, OOC, Crack pair (?), dan typo berhamburan^^mian ne

Happy reading…

Love u Yifan … be strong… be happy… keep smile…

.

.

.

Jongin POV

Napasku memburu cepat dengan tubuh yang hampir melayang karena kehabisan tenaga. Keringat mengucur deras membasahi kaos abu-abu berlengan pendek yang kini kukenakan. Ini sudah 4 jam dimana aku berlatih gerakan dance tanpa ada jeda istirahat. Dengan asal ku seka keringat yang mengalir turun dari kening.

"Berhentilah berlatih Jonginie! Istirahatlah sebentar. Kau harus tahu batas toleransi tubuhmu adik kecil", hardik seseorang yang asal suaranya bisa kupastikan dari pintu masuk yang ada dipojokan ruangan. Aku menoleh cepat masih dengan mulut membuka meraup pasokan oksigen yang tinggal sedikit di dalam paru-paruku.

"Eo, hyung?!", melihat sosok namja berumur 20-an berdiri jauh di depanku dengan alis saing bertautan, kedua tangannya menyilang di depan dada. Aku mendesis pelan.

"Aku kesini untuk mengantarkan hyungmu. Sudah kuduga, kau pasti masih berlatih tanpa istirahat lagi. Lihat saja bajumu itu?!", omel namja itu lagi. Kini dia menggeser tubuhnya sedikit ke samping dan terlihatlah olehku sesosok namja lain namun bertubuh lebih kecil sedang memandangiku cemas.

"Minseok hyung?", panggilku senang.

Ah yah. Sebelumnya perkenalkan dulu.

Aku adalah Kim Jongin. Seorang namja – itu sudah pasti – berumur 19 tahun. Selama 2 tahun aku menjadi trainee di agensi kecil milik sahabat dari hyungku sendiri. Namja berumur 20-an yang tadi menghardikku adalah pemilik agensi ini. Namanya Kim Jongdae. Sebenarnya awal mula aku terdampar di agensi ini karena ketahuan menjadi penari jalanan setiap malam di salah satu sudut kota Seoul oleh Jongdae hyung. Katanya bakatku ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Oleh sebab itu, dengan dibawah ancamannya dan tentu saja direstui oleh hyung tersayangku sendiri, sekarang aku bernaung dibawah agensinya. Meskipun begitu aku tetap sesekali tampil sebagai penari jalanan jika ada waktu lowong. Mencari uang-lah istilah. Karena aku tidak ingin memberatkan hyungku.

"Baiklah aku tinggalkan kalian berdua saja. Hyung, tolong pastikan adik kesayanganmu itu mempergunakan waktu istirahatnya dengan efisien. Aku tidak ingin salah satu penari berbakatku terkapar pingsan karena terlalu memforsir dirinya sendiri", kulihat Minseok hyung mengulum senyum ke arahku,"Dan kau bocah nakal! Awas saja kalau aku menerima pengaduan dari Minseok hyung. Aku tidak akan pernah mengijinkanmu menyentuh ayam lagi seumur hidupmu! Paham?!", dan kali ini aku mengangguk cepat mendengar ancaman Jongdae hyung. Orang ini meski sekilas dari parasnya tidak menakutkan namun sekali mengamuk saja dia bisa terlihat mengerikan. Apalagi suara tingginya itu. Telingamu bisa berdengung sakit karenanya.

"Ingin melanjutkan latihanmu atau memakan bekal makan siang yang kubawakan untukmu?", tanya Minseok hyung sambil mengangkat sekotak bekal berukuran sedang tinggi-tinggi di depanku.

"Aku makan saja hyung…", jawabku pada akhirnya sambil mengambil posisi duduk dengan bersandar pada tembok. Minseok hyung ikut-ikutan duduk di depanku. Tangannya bergerak lincah membuka tutup bekal bergambar pororo, memberikanku sepasang sumpit dan menempatkan sebotol air mineral di dekatku.

"Ayo makan berdua hyung", ucapku seraya menyodorkannya nasi dan disusul irisan daging ke arah Minseok hyung.

"Kau berusaha terlalu keras Jonginie", Minseok hyung bersuara lagi.

"Memangnya salah hyung?", tanyaku balik.

Orang yang kupanggil hyung ini adalah satu-satunya keluarga yang masih kumiliki. Satu-satunya orang paling berharga yang mendampingiku sejak kematian orang tua kami 15 tahun silam. Namanya Kim Minseok. Jarak usiaku dan Minseok hyung sekitar 4 tahun. Parasnya manis mendekati cantik kubilang. Minseok hyung adalah orang tercantik ke-2 setelah eomma. Dia segalanya bagiku. Demi memenuhi kebutuhan hidup kami berdua, hyung rela melakukan pekerjaan apapun. Pekerjaan yang benar pastinya. Setiap kali melihatnya pulang malam karena bekerja part time dibeberapa tempat dalam sehari membuatku merasa tak berguna sebagai adiknya. Untunglah beberapa tahun sebelumnya Minseok hyung bertemu kembali dengan sahabatnya yang mendirikan agensi kecil ini. Hyung diminta menjadi salah seorang pegawainya. Karena itulah, pekerjaan serabutan dan part time sebagai pelayan dibeberapa tempat tidak lagi dilakoni Minseok hyung. Setidaknya kali ini hyung kesayanganku mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan di pandangan masyarakat.

"Kau benar-benar keras kepala", Minseok hyung berdecak kecil. Mulutnya membuka kembali menyusul suapan terakhir yang kuberikan padanya,"Tapi jangan sampai kau sakit Jonginie. Hyung tidak ingin kau jatuh sakit lagi", tuturnya lembut dengan pandangan nanar yang menerawang ke depan. Melihat raut wajah sendunya membuatku bersalah. Hyung pasti teringat kembali dengan mendiang orangtua kami dan mendiang bibi Soyeon, bibi dari pihak appa yang merawat kami berdua dengan sangat baik dan memperlakukan kami selayaknya anak sendiri. Bibi Soyeon meninggal akibat sakit yang sudah lama dideritanya dan meninggalkan sebuah rumah kecil sederhana untuk ditinggali oleh kami berdua.

Aku menyingkirkan segala peralatan makanan di depanku dan menepuk sebelah bahuku,"Bersandarlah padaku hyung", ucapku tegas dan menatapnya lekat. Minseok hyung sedikit tertegun namun dengan cepat mengubah raut wajahnya,"Terima kasih. Kau memang dongsaengku Jonginie…"

Dia memberikanku senyuman kecil yang menurut penglihatanku sedikit dipaksakan. Aku tahu hyung selalu berpura-pura tegar di depanku. Dia tidak pernah menangis atau menunjukkan sisi lemahnya padaku. Karenanya, aku ingin seperti itu. Menjadi pribadi yang tegar dan kuat yang bisa melindungi hyungku dari segala hal di luar sana yang bisa menyakitinya. Kalian tidak lupa kan kalau hanya dia yang kumiliki. Hanya Minseok hyung yang kupercayai. Hanya dia namja baik menurutku.

"Jjjah… habis ini kau mau apa Jonginie?", tanya Minseok sembari memasukkan kembali peralatan makan ke dalam kantong plastik yang dia bawa.

"Latihan lagi hyung", jawabku sambil meneguk habis sebotol air yang diulurkannya.

"Setelah itu langsung pulang?"

"Tentu saja hyung. Memangnya aku mau apa lagi? Besok baru aku menari"

"Oh… besok ada festival kan? Kau menari di sana besok?", aku mengangguk singkat membenarkan ucapan hyung.

"Baiklah. Kau pulang duluan tidak apa-apa kan? Hyung masih lembur kira-kira 2 jam dari yang seharusnya. Hati-hati di jalan oke, saeng?", Minseok hyung berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk membantuku berdiri juga.

"Hyung, badanmu itu lebih kecil dariku", Ucapku lembut untuk mengingatkan Minseok hyung. Tidak mungkin dia yang bertubuh mungil dariku bisa membantuku berdiri.

.

.

.

Jalanan Myeongdong merupakan salah satu distrik pusat perbelanjaan dan wisata utama di kota Seoul. Tempat ini sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara sebagai surga-nya belanja dan pusat fashion yang menjual aneka fashion item dari produk lokal hingga barang-barang bermerk internasional. Kondisi tempat ini selalu padat entah itu pagi hari maupun malam hari. Dan disinilah aku berada. Waktu baru menunjukkan pukul 7 malam dan untuk membuang penat karena seharian berlatih membuatku melangkahkan kaki ke tempat ini.

Aku menghela napas berat saat kurasakan perutku meronta minta diisi. Di Myeongdong memang banyak sekali pedagang yang menjajakan makanan khas kaki lima. Terlalu banyak pilihan malah. Karena itu aku menyusuri satu per satu tenda pedagang sambil melihat-lihat makanan apa yang ingin ku makan. Setelah cukup lama memilih dan menimang, pilihanku jatuh pada odeng atau eomuk.

"Woah… panas… panas", mulutku membulat mengeluarkan uap panas yang keluar dari odeng yang kini berada dalam mulutku. Jajanan ini memang paling tepat dimakan selagi panas. Bentuknya yang ditusuk kecil-kecil memudahkanku memegangnya.

Pandanganku tiba-tiba terhenti pada sosok namja tinggi berambut pirang pendek dan berkulit putih bersih. Mataku menyipit menelisiknya detail dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wuah. Dia seperti model saja. Kakinya jenjang dan selera fashionnya juga bagus. Aku berani bertaruh jika orang ini salah satu wisatawan yang menghabiskan malam di Myeongdong. Dia tidak mungkin orang Korea asli. Perhatikan saja paras wajahnya yang terkesan agak kebarat-baratan. Dalam hati aku sungguh mengagumi sosok namja tersebut. Benar-benar bersinar. Tak lama mataku membulat kaget mendapati ada yang janggal padanya. Eh? Itukan?

Ada sebuah tangan asing yang merayap-rayap pelan menuju ke… astaga! Pencopet! Aish.

"YAKH BAKA! Dia mengambil dompet milikmu bodoh!", pekikku kesal sambil menunjuk pada namja asing lain bertubuh kecil dan kumal yang kini berlari menuju arahku.

"MWO?! CEPAT KEJAR… KENAPA KAU DIAM SAJA?", balas namja tinggi tersebut. Dia akhirnya sadar telah dicopet dan gantian berlari menujuku.

"AKU YANG MENGEJAR LALU KAU BUAT APA? BERDIRI SAJA? KAU JUGA IKUT! ITUKAN DOMPET MILIKMU!", teriakku tak kalah tinggi. Tsk! Sia-sia aku sempat memuji dirinya. Ternyata penampilan tak menjamin kepribadian seseorang. Dasar! Tak hentinya aku mengumpat kesal pada namja yang saat ini tengah memegang pergelangan tanganku dan menarikku mengejar pencopet tadi. Astaga. Aku baru saja mengisi perut dengan Odeng sekitar 5 tusuk dan kini harus berlari menjajari langkahnya yang lebar itu hanya untuk mencari dompetnya saja! Demi Tuhan! Aku rasa aku mau muntah!

"Hosh... hosh... hosh… tsk! Kemana larinya pencopet itu? Kau tidak sedang menipuku kan? Jangan-jangan kau satu komplotan dengannya?", aku menatapnya jengkel. Namja ini benar-benar tidak tahu berterima kasih. Sudah dibantu, malah sekarang memojokkanku. Mengataiku komplotan pencopet tadi. Dimana sih otaknya?! Terlalu tampan tapi terlalu bodoh.

"Tsk! Menyesal aku membantumu. Cari sendiri sana…", ucapku dingin sambil menghentakkan kaki dan berlalu darinya. Mulutku tanpa henti mengucapkan sumpah serapah pada namja tadi. Sial! Tahu begini aku tidak usah memberitahunya saja! Biarkan saja dia sadar sendiri kalau dompetnya telah dicuri. Menyesal! Menyesal! Arghh…. Jongin pabbo!

Jongin POV end

.

.

.

Yifan POV

"Tsk! Menyesal aku membantumu. Cari sendiri sana…", namja itu menatapku tajam dan berujar dingin. Dia pergi setelah sebelumnya menghentakkan kaki dengan kesal. Mungkin aku sudah salah mengira yah? Mungkin dia memang benar-benar berniat membantuku? Aku menatap punggung namja barusan. Aish sial! Aku lupa menanyakan identitasnya.

"Eh? Loh inikan?", gumamku saat memungut sebuah benda yang tergeletak di atas tanah tak jauh dariku. Jangan-jangan milik namja tadi?

Eh?

Kim Jongin?

Yifan POV end

.

.

.

Kediaman Kim

"Yah ampun Jonginie… kau kemana saja? Hyung cemas setengah mati saat tak menemukanmu di rumah. Kau bilang mau langsung pulang", sungut Minseok dengan kedua tangan yang menangkup pipi sedikit gempal adik kesayangannya itu. Dahinya berkerut bingung mendapati Jonginie memasang wajah sebalnya.

"Aku kesal hyunnnnggg…..", rengekkan Jongin pun keluar. Tubuh mungil Minseok nyaris terjungkal ke belakang ketika Jongin menubruknya sambil membenamkan wajahnya pada pundak sempit Minseok. Dielusnya surai rambut Jongin dengan lembut. Jongin memang masih manja padanya. Padahal usianya terbilang sudah dewasa malahan. Tetapi itulah yang Minseok sukai. Dia menyukai cara Jongin bermanja-manja padanya. Karena dengan begitu Minseok merasa dibutuhkan oleh adik bungsunya.

Merasa kalau Minseok masih memiliki seseorang yang harus ia lindungi.

"Ada yang terjadi selama perjalanan pulang barusan?", tanya Minseok setelah berhasil mendudukkan Jongin di kursi meja makan. Dia kembali sibuk menata piring di depan Jongin.

Jongin mengangguk imut dengan sebelah pipi dikembungkan. Tampang anak itu imut sekali sehingga dengan cepat Minseok melesatkan sebuah cubitan sayang di pipi gempal adiknya.

"Hyungggg…."

Minseok terkekeh geli.

"Nah apa yang terjadi hem?", tanyanya lagi yang telah selesai menata piring dan ikut mengambil posisi duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Jongin.

"Nanti saja aku ceritakan. Mengingatnya saja sudah membuatku marah. Lebih baik makan hyung. Aku lapar….", jawab Jongin diikuti anggukan hyungnya. Mereka pun makan malam bersama diselingi obrolan sederhana yang memancing tawa keduanya. Kebanyakan mereka bercerita soal Jongdae dan perlu diingat di malam ini tidak ada cerita menyebalkan mengenai kejadian barusan. Jongin sungguh-sungguh berharap tidak akan pernah lagi bertemu namja tampan tapi bodoh akut seperti orang tadi. Tsk!

.

.

.

"Kau sibuk?", sontak Luhan mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Dia berdecak malas saat melihat teman karibnya berdiri di ambang pintu dengan wajah angkuhnya yang menyebalkan,"Sibuk atau tidak kau pasti tidak peduli!", ucap Luhan datar sambil kembali memfokuskan matanya pada beberapa tumpukan kertas putih berisi tulisan.

"Dompetmu bagaimana?"

Luhan menatap serius namja di depannya saat mendengar dengusan kecil,"Sudah kembali. Pencopetnya pun sudah tertangkap", balas Yifan datar. Dia mengambil sebuah dokumen yang terletak paling diatas dari tumpukan berkas di meja Luhan. Mata tajamnya membaca secara seksama.

"Profil agency?", Luhan mengangguk samar mendengar pertanyaan menggantung Yifan,"Ini agency kecil kan? Tsk!", Yifan menutup kasar dokumen tersebut dan melemparnya ke lantai yang sebelumnya sudah penuh dengan beberapa dokumen berserakan.

"Hey Yifan! Dokumen dari agency mana yang kau buang barusan?"

Yifan mengedikkan bahunya acuh yang disambut helaan napas penuh frustasi dari Luhan. Dia memang sudah kebal dengan tingkah sahabat kecilnya ini. Angkuh, Suka seenaknya. Egois. Tetapi sedikit bodoh kalau boleh jujur.

"JJ entertainment", Luhan menoleh pada Yifan yang kini kembali melempar sebuah dokumen lagi ke lantai,"Profil agency yang pertama kubuang adalah JJ entertainment. Aku tidak pernah mendengar ada agency semacam itu di Seoul. Kau jangan sampai tertipu Luhan", secara reflex Luhan langsung memukul tangan Yifan yang hendak menggapai dokumen ketiga untuk dibacanya,"Biar aku saja yang menilainya! Kau tinggal tunggu jadi. Aish… aku bisa gila karenamu naga bodoh!", umpat Luhan kesal. Dia kembali duduk di kursi empuknya sambil membawa sebuah dokumen yang telah dipungutnya.

"JJ entertainment itu bukan perusahaan bayangan. Skalanya memang masih kecil tetapi managemen-nya bagus. Trainee-nya pun berkualitas. Kau kenal actor action yang baru-baru ini dilirik mancanegara bernama ZiTao kan?", Yifan mengangguk ragu. Yah. Siapa yang tidak kenal aktor muda yang diberi julukan kungfu panda itu? Dia menjadi aktor pendatang baru dan saat ini sedang dilirik perusahaan film asing. Perawakannya memang sangar namun kepribadiannya cukup baik.

"ZiTao adalah aktor besutan JJ entertainment. Ingat Choi Jinri dan Jessica Jung? Mereka juga model yang didebutkan oleh JJ dan kini merambah bidang tarik suara dan akting. Kualitas mereka pun bagus asal kau tahu", Luhan menyodorkan kembali berkas JJ ent ke arah Yifan yang terlihat masih sangsi dengan perusahaan kecil tersebut,"Baca sampai selesai dan kau akan tahu betapa cukup mengagumkannya kinerja perusahaan tersebut. Jujur aku meloloskan JJ entertainment dalam seleksi kita", Yifan memasang wajah datarnya namun kini profil JJ sudah berada ditangannya,"Kubilang baca sampai selesai Yifan. Jangan menyimpulkan sesuatu hanya dari luarnya saja", potong Luhan saat Yifan hendak membuka mulut menanggapi ucapannya tadi.

"Hey, berminat menonton festival makanan dan seni sebentar?"

Yifan mengangkat wajahnya dan terlihat berpikir.

"Dimana?"

"Dekat Myeongdong"

Myeongdong?

"Tidak Luhan. Tidak kali ini. Aku masih kesal dengan kejadian kemarin. Bisa-bisanya aku tdak sadar sedang diambil dompetnya!", Luhan mendelik kesal ke arah Yifan,"Itu karena kau yang memang mati rasa Yifan! Ayolah… masa kau membiarkanku sendirian di tengah lautan manusia?"

"Yif-"

"Oke-oke. Aku akan menemanimu", potong Yifan cepat-cepat sebelum rengekkan lain keluar lagi dari mulut Luhan. Padahal selalu mengaku manly tetapi masih saja merajuk seperti anak kecil. Tsk! Susah kalau punya sahabat bermental bocah seperti Luhan ini.

"Dengar Luhan, kalau sampai kejadian kemarin terulang lagi padaku- aku benar-benar akan menggantungmu di tiang bendera depan kantor. Paham?!", ujar Yifan tegas sambil menunjuk tak sopan kearah Luhan.

BRAK

Pintu ruangan pun tertutup dengan tak elitnya.

.

.

.

"Ada apa?", tanya Jongin to the point saat Jongdae baru saja menginjakkan kakinya di ruangan latihan. Sang pemilik agency tampak mendelik sebal kearah Jongin yang membalasnya dengan melengos malas,"Tsk! Dasar kau ini! Jongin-ah, kau tahu Jessica Jung kan?"

Jongin mengangguk singkat. Tentu saja dia tahu. Jessica Jung adalah salah satu seniornya di agency ini. Senior yang memperlakukannya dengan baik.

"Dalam minggu ini Jessica akan meluncurkan brand-nya sendiri. Detail mengenai itu bisa kau minta pada Minseok", sampai disini Jongin paham. Lalu yang menjadi pertanyaannya apa hubungannya peluncuran brand Jessica sunbae dengan dirinya?

Jongdae sepertinya sudah memahami raut kebingungan di wajah Jongin.

"Langsung saja kukatakan. Jessica memintamu menjadi model untuk brandnya", dan sedetik kemudian Jongdae menutup kedua telinganya spontan ketika Jongin memekik kaget.

"Kenapa aku hyung?"

"Jessica memintamu karena dia memiliki beberapa pertimbangan tersendiri. Bagaimana? Sebentar lagi dia sampai disini dan akan bertemu denganmu secara langsung. Kau bisa bertanya lebih jelas padanya sekaligus menyampaikan jawabanmu. Terima atau tolak- semuanya tergantung padamu", Jongdae masih menyempatkan dirinya untuk menepuk pundak Jongin,"Tetapi kau harus ingat Jongin. Sebuah kesempatan belum tentu datang dua kali. Pikirkanlah baik-baik saeng", ujarnya tegas namun lembut.

.

.

.

Jongin terduduk lemah dengan baju bersimbah keringat. Kaos putih yang melekat pas pada tubuh rampingnya semakin menambah kesan sexy bagi mata siapapun yang melirik ke arahnya. Namja manis itu terduduk pada salah satu anak tangga di belakang panggung, Jongin baru saja menyelesaikan pertunjukkan dance-nya di festival yang setiap tahun selalu diselenggarakan di Myeongdong.

"KAU NAMJA PENCOPET ITUKAN?!/KAU NAMJA BODOH ITUKAN?!", beberapa orang yang kebetulan melintas kompak mengalihkan pandangannya menatap ke sumber pekikan. Disana ada Jongin dan Yifan yang saling menunjuk dengan tidak sopannya. Yifan dengan wajah datar nan angkuhnya dan Jongin dengan wajah memerah menahan sebal. Keduanya melempar tatapan mengerikan satu sama lain.

"Kalian saling kenal?"

"TIDAK!", Luhan yang barusan membuka mulutnya bertanya tampak terdecak kagum mendengar kekompakan mereka. Dia tersenyum jahil melihat aura yang tidak mengenakkan yang mengelilingi kedua orang tersebut.

"Kalian kompak sekali"

"TIDAK KOMPAK! DAN KAU TUTUP MULUTMU!", hanya sesaat Luhan kembali tertegun karena lagi-lagi mendengar jawaban kompak dari mereka berdua. Sejurus kemudian namja China ini tertawa lepas sambil bertepuk tangan heboh, membuat Yifan dan Jongin memutuskan kontak mata mereka dan menatap namja itu bingung.

"Sungguh, kalian cocok sekali….', ujar Luhan disela-sela derai tawanya. Badannya sampai membungkuk setangah dengan volume tawa yang tak berkurang sedikit pun ketika Jongin dan Yifan kembali menatap dan secara bersamaan melengos malas, membuang muka.

"Berhenti tertawa Luhan!", desis Yifan tajam. Dia benar-benar tak menduga kalau hari ini ia kembali bertemu dengan namja kemarin. Namja yang menghentakkan kakinya kesal seperti bocah sekolah dasar. Namja yang dikiranya satu komplotan dengan pencopet yang kemarin mencuri dompet miliknya. Namja yang sialnya mengatai dia bodoh untuk pertama kali dan begitu lantang di depan umum!

Tsk!

Jongin menatap datar uluran tangan namja asing yang untuk beberapa saat lalu tertawa heboh.

"Namaku Xi Luhan. Aku teman karib atau mungkin-", Luhan memiringkan kepalanya sesaat tampak menimang –nimang sesuatu,"bisa dikatakan aku ini sahabat dari namja tampan yang kau katai bodoh barusan", Yifan mendelik sadis mendengar ucapan Luhan yang menyinggung dirinya. Hanya semalam dengan kurun waktu kurang dari 1 jam sejak dia tanpa sengaja bertemu namja tan ini, dia sudah dikatai bodoh 2 kali. Pertama oleh Kim Jongin dan kedua oleh sahabatnya sendiri.

"Hn", Jongin mengangguk sekali dan mengacuhkan uluran tangan Luhan yang hanya bisa terkekeh geli dan menarik kembali tangannya.

"Atas nama namja bodoh itu, aku minta maaf yah"

"Kenapa kau yang minta maaf?", Jongin merespon ucapan Luhan pada akhirnya.

"Yah Luhan! Apa salahku sampai-sampai kau harus minta maaf atas namaku?", Yifan berkoar tak terima. Ekspresinya tetap sama. Datar. Dingin. Tatapan yang tajam. Gaya dan ucapannya tetap saja angkuh membuat Jongin semakin jengah saja.

Kesialan bertubi-tubi macam apa yang sudah datang menghampirinya hari ini lagi?! Setelah mendengar langsung dari Jessica kalau dia menginginkan Jongin menjadi model utama brand pertamanya tanpa menerima penolakkan saja sudah cukup membuatnya frustasi. Ditambah kehilangan dompet yang bahkan baru beberapa jam lalu disadarinya dan Jongin sama sekali tidak bisa mengingat kira-kira dimana benda tersebut terjatuh. Padahal kan di dalam dompetnya tersimpan uang saku selama 1 bulan hasil pertunjukkan tari jalanannya – meski tak seberapa banyak - dan kartu identitas. Sudah begitu sekarang dia bertemu kembali dengan orang bodoh dan angkuh yang meneriakinya namja pencopet.

Hell!

Meskipun Jongin miskin. Dia tidak serendah itu untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Lagipula kalau dijelaskan pun Jongin yakin sekali namja angkuh ini tidak akan pernah mendengarkannya. Dilihat dari penampilannya saja Jongin berani menjamin kalau namja ini dibesarkan di dalam keluarga terpandang. Sudah tentu sikap angkuhnya berakar dari sana. Dan sungguh- Jongin paling malas berurusan dengan orang kaya yang hanya bisa memandang rendah orang lain. Dia benci dengan tatapan remeh yang selalu kalangan atas berikan pada mereka yang mencari uang di jalanan. Tsk! Ironis. Padahal mereka memiliki kodrat yang sama. Sama-sama manusia. Sama-sama makhluk hidup. Sama-sama ciptaan Tuhan. Tetapi tetap saja, keberadaan uang dan kekuasaan-lah yang membangun tembok tinggi kasat mata antara si kaya dan si miskin yang akhirnya mengubah perilaku mereka menjadi lebih angkuh dan semakin angkuh setiap hari.

"Jonginniiieee?!", seperti sebuah mantra- Jongin langsung berbalik cepat mendengar namanya diteriakkan. Raut wajahnya yang tak mengenakkan tiba-tiba berubah lembut. Bibirnya mengulas sebuah senyuman tipis. Sangat tipis bahkan orang-orang mungkin tidak menyadari kalau itu adalah sebuah senyuman. Hanya seseorang yang menyadari perubahan sekecil itu. Dan dia Yifan. Manik mata tajamnya berpindah pada sesosok namja mungil berpipi gempal yang kini berlari kecil menghampiri Jongin dengan senyuman lebar.

"Hyung dari mana saja? Itu lihat! Keringat dimana-mana", omel Jongin setelah berdecak malas.

Tangan namja berkulit tan itu dengan cekatan membersihkan beberapa peluh yang mengalir pada paras cantik Minseok. Sesekali diselingi omelan Jongin yang menurut Minseok justru membuatnya terlihat seperti seorang eomma. Kepribadian Jongin selalu berubah otomatis setiap kali Minseok berada di dekatnya. Bagi Jongin, tidak perlu menyembunyikan tabiatnya yang sebenarnya di depan hyungnya sendiri. Toh Minseok selalu bersamanya semenjak Jongin berada dalam kandungan eomma. Tiap perubahan sikap maupun sifat Jongin sangat dipahami Minseok. Tidak ada cela untuk menipu namja tersebut. Karena itulah Jongin sangat menyayangi Minseok. Ia tidak perlu repot-repot menjadi orang lain saat ada hyungnya sendiri.

"Pertunjukkanmu sudah selesai Jonginie?", yang ditanya mengangguk singkat. Sekarang dia merapikan surai rambut Minseok yang cukup berantakan setelah berlari seperti tadi.

"Maaf Jonginie. Pekerjaan hyung hari ini ternyata lebih banyak dari sebelumnya. Maaf ne?"

Ekspresi Jongin tetap tak terbaca. Minseok yang menyadarinya kini mengerjapkan kedua matanya imut. Biasanya dan selalu seperti ini. Jongin pasti luluh dengan aegyo Minseok. Meski namja itu benci melakukan hal-hal yang terdengar cute namun jika dengan melakukan hal tersebut membuatnya mendapatkan sepatah kata maaf dari adik tersayangnya, tak apa. Berapa puluh kalipun Minseok rela melakukannya.

"Arraseo. Sudah … sudah. Jangan pakai aegyo. Aku benci hyung", ucap Jongin kemudian. Dia meraih tas ranselnya dan menarik tangan Minseok cepat. Berjalan pulang tanpa mengucapkan salam perpisahan atau sekedar pamit pada dua orang namja berbeda tinggi yang sedari tadi diam terpaku karena diacuhkan.

Catat sekali lagi!

Diacuhkkan!

Astaga…. Apakah mereka tidak pernah baca Koran atau melihat siaran televisi? Dua namja yang berada di belakang Kim bersaudara tadi bukan namja sembarangan. Mereka adalah Wu dan Xi. Dua marga berkebangsaan China yang memilik pengaruh besar di dunia hiburan.

.

.

.

"Kau bilang apa?", para maid yang berada di ruangan tersebut bungkam dan kompak menahan napas saat mendengar ucapan datar nan dingin khas keluarga Wu memecah keheningan di pagi ini. Yifan, sang tuan muda tampak mencengkram kuat garpu dan pisau yang masing-masing berada di tangan kanan dan kirinya. Manik tajamnya tak lepas menatap atau bisa disebut menantang seorang namja paruh baya yang berdiri tepat disampingnya dengan kepala setengah tertunduk. Mata Yifan berkilat. Berbahaya. Belum cukup sampai disitu saja. Kini para maid bahkan kompak tersentak kaget mendengar bunyi pecahan gelas krystal yang Yifan lempar ke lantai. Garpu dan pisau terpental jauh dari posisi semula.

"Buang semua sampah ini. Nafsu makanku hilang dalam sekejap karenamu", ujar Yifan datar dan terkesan menyindir. Namja tua itu hanya bisa menahan napas lagi ketika mendengar suara decitan kaki kursi yang tadi diduduki Yifan,"Katakan pada tua bangkamu itu. Aku akan menemuinya"

Para maid lainnya menghembuskan napas lega setelah kepergian Yifan.

.

.

.

"Aku dengar kau kembali mengacaukan isi rumah yah? Benar begitu Wu Yifan?", tanya seorang namja paruh baya lain. Rambutnya sudah memutih sempurna tapi tak bisa memangkas kharismanya yang saat ini menatap tajam Yifan. Sejurus kemudian dia tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya lagi, berjalan menghampiri lukisan lainnya. Mata rentanya memandang dengan detail setiap goresan kuas dan kombinasi warna dari lukisan di depannya.

Yifan memutar bola matanya malas. Ini baru 5 menit ia menginjakkan kakinya pada salah satu hall yang kali ini disulap menjadi tempat pameran lukisan dan barang-barang antik lainnya, menemani namja yang tadi pagi dia sebut tua Bangka. Sesungguhnya Yifan mencintai dunia seni. Dia sangat suka melihat-lihat lukisan, memandangi karya buatan manusia itu dengan lekat, berusaha memahami pesan yang tersirat di dalam lukisan tersebut. Yifan bahkan rela menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya untuk sebuah mahakarya seni. Setidaknya jika itu tanpa kehadiran namja paruh baya yang sekarang tampak beralih memuja sebuah keramik kuno salah satu peninggalan bersejarah dari China.

"Berhenti bermain-main dan lakukan peranmu sebagai satu-satunya penerusku, Yifan"

Inilah yang membuat Yifan terlampau malas untuk menemani tua Bangka ini lebih dari 5 menit. Setiap kali mereka berjumpa selalu saja peran penerus dan bisnis yang akan menjadi topik pembicaraan utama.

"Kau mendengarkan ucapanku tadi kan Yifan?", namja paruh baya itu memaksa Yifan menatap lurus matanya. Pandangan keduanya memiliki arti yang sama.

Pandangan mata yang menyiratkan keinginan kuat dan tak terbantahkan. Saling mengintimidasi satu sama lain.

"Kuharap kau tak lupa jika kau adalah seorang Wu. Jangan lakukan dosa yang sama Yifan. Kau tahu kan, aku tidak menerima bantahan untuk alasan apapun juga", untuk kali ini Yifan tetap di posisinya. Tangannya terkepal kuat dalam saku celana dan manik matanya terus menatap punggung renta itu menjauh sampai akhirnya hilang di ujung lorong.

"Dosa? Tsk! Tua Bangka itu menyebutnya dosa? Lucu sekali", Yifan mengatupkan kedua matanya kuat. Menahan emosinya yang dibangkitkan secara tak sengaja oleh tua Bangka tadi.

"Tua Bangka itu seorang pendosa juga. Dia-lah orang yang mengambilku- yang terlahir karena sebuah kesalahan yang ia sebut dosa. Tsk. Kau puas paman Zhou?", tanpa melihat ke belakang pun Yifan tahu jika namja paruh baya lain yang tadi pagi membuat selera makannya hilang kini berdiri di belakang punggungnya.

"Maaf tuan, hamba-"

"Sudah kubilang jangan gunakan kata hamba itu saat hanya ada kau dan aku saja! Bukankah sudah kubilang untuk berhenti memanggilku tuan dan dirimu hamba?!", tuan Zhou semakin menundukkan wajahnya takut,"Perlakukan aku seperti manusia lainnya. Bukan karena marga Wu yang tersemat didepan namaku. Bukan karena perintah tuan Bangka itu. Panggil aku sewajarnya"

Namja tinggi tersebut menghembuskan napasnya berat. Jelas sekali dia sedang mengontrol emosi dan ekspresinya kali ini. Yifan sadar betul kondisinya kala ini sangat kacau. Dan ia tidak ingin orang lain melihatnya. Melihat seorang Wu Yifan yang sebenarnya.

"Hanya paman yang memperlakukanku dengan baik. Tanpa memandang statusku. Dan tanpa memandangku sebagai seorang tahanan dari tua Bangka yang sialnya masih satu darah denganku! BRENGSEK!"

Tuan Zhou menatap kuatir punggung namja yang berdiri di depannya ini.

"Diam disana dan jangan bicara apapun. Aku sedang kacau paman Zhou. Aku mohon, tetap di tempatmu sekarang", ucap Yifan sedikit gemetar dan tersirat kalut. Paman Zhou yang kembali mengambil langkah mundur saat Yifan menyuruhnya kembali. Namja tinggi tersebut pasti tahu jika paman Zhou hendak menghampirinya lebih dekat dan sebaliknya. Paman Zhou lebih tahu kalau Yifan tidak terbiasa menunjukkan emosinya yang sebenarnya di depan orang lain. Yifan membangun sebuah batas semu dimana orang lain tidak akan bisa masuk dan mendekatinya.

.

.

.

"Pass?!", seru Minseok terkejut saat sebuah undangan bersampul biru dengan symbol keluarga Xi berada ditangannya. Mulutnya membuka takjup dengan mata berbinar terang ketika Jongdae menyampaikan hasil seleksi yang diselenggarakan perusahaan besar dibawah naungan Xi corp. Jongdae saja sampai mencubit habis beberapa anggota tubuhnya sendiri untuk memastikan bahwa berita yang baru saja ia dapatkan bukanlah bualan saja atau pun sebuah mimpi kosong. Ini kenyataan. JJ ent yang masih sering dianggap perusahaan bayangan masuk dalam 5 besar calon mitra Xi corp untuk proyek-proyek terbaru.

"Eo? Ini apa?", Minseok menunjuk beberapa kotak yang ditumpuk menjadi satu di atas meja kerjanya.

"Itu perlengkapan untukmu dan Jongin. Kita diundang untuk menghadiri jamuan makan malam bersama oleh Xi Corp dan Wu Corp. Meskipun undangan resminya dikeluarkan oleh Xi, tetapi pemegang kekuasaan tertinggi tetap Wu", terang Jongdae sambil menyesap secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaannya.

"Jamuan makan? Haruskah aku dan Jongin juga ikut? Bukannya para CEO saja yang harus menghadirinya?", tanya Minseok bingung. Dia membuka satu per satu kotak dan mulutnya tak berhenti berdecak kagum. Baru kali ini dia mendapatkan pakaian yang harganya bisa dibilang tidak murah. Belum lagi…jas?! Minseok mengangkat satu stel jas hitam yang ukurannya pas di tubuhnya. Wuah…. bagusnya…

"Kubilang tadi kita Minseok hyung. Bukan hanya aku saja. Kita berarti aku, hyung, dan semua pegawai serta artis dan bahkan trainee yang bernaung di bawah JJ ent. Barang-barang itu dikirimkan Jessica dan Jinri untukmu dan Jongin. Sepertinya itu salah satu upaya dari Jessica untuk merayu Jongin agar tetap bersedia menjadi model utama brand terbarunya. Jamuannya jam 7 malam di ballroom hotel xx, salah satu hotel mewah milik Tuan Xi Luhan"

Dahi Minseok mengernyit."Xi Luhan? Nugu?"

Sebuah majalah bisnis dan ekonomi terlempar dan terjatuh di atas meja dekat Minseok,"Namja yang fotonya menghiasai sampul majalah itu- dialah Xi Luhan. Putra pemilik Xi Corp dan suatu hari nanti semua perusahaan akan jatuh di tangannya. Sedangkan namja lain berambut pirang yang berada disisi Tuan Xi Luhan, dia adalah Wu Yifan. Pewaris Wu Corp. Keduanya sahabat karib dan bekerja sama dalam menggarap beberapa proyek besar. Mereka juga-lah yang membuka seleksi untuk semua entertainment di daratan Korea selatan untuk bisa bermitra dengannya"

Perkataan panjang Jongdae sukses membuat Minseok lupa mengatupkan mulutnya. Matanya melotot penuh keterkejutan dan kekaguman pada dua namja yang menghiasi sampul salah satu majalah bisnis dan ekonomi luar negeri itu.

"Eh… kenapa aku sepertinya pernah melihat mereka berdua yah?", gumam Minseok sambil mendekatkan majalah itu ke wajahnya.

"Mungkin saja kau memang pernah bertemu mereka di jalan. Perlu kau ketahui hyung, mereka berdua itu meski disebut anak konglomerat dan berpengaruh tetapi mereka tetaplah anak laki-laki biasa yang masih membutuhkan hiburan di luar dan bukannya terkurung selama 24 jam di balik meja kerja", Jongdae melempar lagi sebuah majalah lain yang untungnya berhasil ditangkap Minseok," Wu Yifan, cucu pemilik Wu corp adalah seorang pecinta fashion. Bersama tuan Xi Luhan, mereka berdua sering menghabiskan waktu menyusuri jalanan dimana pusat fashion berada. Banyak orang yang bisa tanpa sengaja menjumpai dua orang tersebut. Tetapi tetap saja tidak ada yang berani menyentuh mereka karena semua orang pun tahu Xi dan Wu seperti apa. Mereka ibaratnya bintang yang bisa dilihat tetapi tidak akan pernah bisa di jangkau. Nah, sekian tambahan informasi untukmu hyung. Jangan lupa ingatkan adik kesayanganmu itu untuk hadir. Jessica bisa membunuhku kalau model kesayangannya tidak hadir di jamuan makan malam", seru Jongdae sembari menggoyangkan ponselnya ke arah Minseok. Rupanya bebarapa detik yang lalu Jessica baru saja mengirimkan pesan khusus untuk CEO mereka, Kim Jongdae agar memastikan kembali kedatangan Jongin beserta ancaman mutakhirnya.

"Arraseo. Aku temui Jongin pasti berlatih lagi tanpa istirahat… anak itu", sungut Minseok seraya berlalu dengan sebuah plastik di tangannya. Pasti bekal untuk Jongin.

.

.

.

Jongin menarik napas malas. Ballroom besar berkapasitas 1000 orang saja mendadak penuh sesak dan membuat suhu udara sini meningkat meski beberapa air conditioner terpasang di berbagai sudut ruangan. Wajahnya tampak tak bersemangat karena orang-orang disini saling berbaur. Hyungnya menemai sang CEO, kim Jongdae yang entah raib dimana. Sejauh matanya memandang hanya wajah-wajah asing yang ada disekelilingnya dan Jongin tidak menyukai itu. Dengan gontai dia berjalan menuju pintu keluar ballroom. Jas hitamnya yang diberikan Jessica tersampir begitu saja di tangan kanannya, menyisakan kemeja putih lengan panjang yang gulung pendek sebatas siku yang melekat pas dan cantik di tubuh langsingnya.

"Membosankan", rutuk Jongin. Dia tidak terbiasa bersosialisasi. Apalagi bersosialisasi dengan orang-orang kaya.

"Tidak kusangka kita bertemu lagi, namja pencopet", secara reflex Jongin memalingkan pandangannya ke arah samping dan mendapati sosok namja bodoh yang entah belakangan hari ini terus saja beredar di sekitarnya sedang berdiri tak jauh darinya. Mulutnya berdecak keras dan memasang wajah kesal yang terlihat jelas. Alih-alih menanggapi ucapan Yifan, Jongin justru melangkah pergi.

"Bagaimana bisa kau ada disini? Setahuku tidak ada festival yang diadakan di tempat ini", tutur Yifan sambil memandang gedung-gedung pencakar langit lain yang terlihat dari dinding kaca transparan disamping kanannya. Jongin berbalik dan memasang wajah datarnya,"Bukankah ada jamuan makan malam di ballroom? Kau tidak kesana? Sepertinya kau termasuk tamu undangan jamuan itu"

Yifan mengangkat bahunya acuh,"Aku bosan berada disana. Kau sendiri?"

"Aku juga"

"Kau juga tamu jamuan makan malam kami?", Yifan menelisik lekat dari ujung kaki sampai puncak kepala Jongin yang langsung membuang muka risih,"Begitulah"

Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dalam jumlah banyak yang menggema di lorong hotel, dimana Jongin dan Yifan berada,"Tsk! Sial!", umpat Yifan kasar sambil melangkahkan kakinya cepat cenderung berlari lebih tepatnya.

"Yakh! Ada ap-", Belum selesai berbicara Jongin memutuskan berlari mengikuti Yifan dari belakang. Sesekali keduanya menengok ke belakang dan gotcha! Sekitar 5 atau 6 orang namja berbadan tegap dan berpakaian formal sedang berlari mendekati mereka dengan beringas,"Aish… bisa tertangkap kalau begini. Kau ikut aku!", Yifan menarik pergelangan tangan Jongin dan berbelok cepat sambil membanting pintu salah satu kamar hotel yang ada di lorong tersebut.

"Hey-"

"Sstt… diam!", tubuh Jongin membeku di tempat ketika Yifan menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya berada tepat di sisi kepala Jongin yang lain.

Jongin terperangkap diantara tubuh tinggi Yifan dan pintu yang berada dibelakang punggungnya tepat.

Jarak keduanya terlalu dekat, nyaris menempel malahan, dan itu sudah lebih dari cukup membuat Jongin mati kutu. Wajah manisnya tertunduk dalam dan tak berani bergerak sedikitpun. Sedikit saja salah perhitungan dalam bergerak, bisa-bisa Jongin dan Yifan- aarghh… Jongin tidak bisa membayangkannya.

Derap langkah dan suara-suara asing tampak menghilang perlahan.

"Hampir saja…", desah Yifan lega sambil menarik tubuhnya menjauh dari Jongin, menghampiri sofa single terdekat dan mendudukinya. Di atas meja kecil ada beberapa set gelas-gelas krystal cantik dan beberapa botol wine. Yifan tersenyum maklum. Keluarga Xi memang gemar mengoleksi wine dan jangan heran jika setiap kamar hotel anak perusahaan Xi corp selalu tersaji set perlengkapan minum wine yang lengkap.

"Ingin minum?"

Jongin baru berani mengangkat wajahnya saat mendengar pertanyaan Yifan. Namja tinggi itu mengangkat segelas penuh wine.

"Tidak. Terima kasih"

Kalian ingatkan kalau Jongin masih berumur 19 tahun. Peraturan di Korea Selatan tidak memperbolehkan anak-anak berumur dibawah 20 tahun mengkonsumsi minuman beralkohol.

"Aku penasaran-", Yifan menyesap wine-nya sedikit,"Bagaimana bisa namja pencopet dan penari jalanan sepertimu menjadi tamu undangan kami?",

.

.

.

Jongin POV

"Aku penasaran-", kulihat namja tinggi itu menghentikan perkataannya dan menyesap minuman berwarna merah pekat yang berada dalam gelas berkilauan yang kuduga pasti terbuat dari krystal murni. Lihat saja bagaimana cantiknya gelas tersebut.

"Bagaimana bisa namja pencopet dan penari jalanan sepertimu menjadi tamu undangan kami?"

Wajahku mengeras mendengar pertanyaannya. Jas hitam yang kupegang pun tak luput dari cengkraman tanganku yang semakin menguat. Namja didepanku ini bertanya seolah-olah orang sepertiku tak pantas berada di jamuan mewah yang diselenggarakan oleh perusahaan sebesar Xi dan Wu. Tsk. Ekspresinya juga datar, entah itu memang ekspresi biasa atau bahkan dibuat-buat. Menyebalkan.

"Memangnya tidak boleh?", tanyaku balik. Suaraku sedikit gemetar dan serak, rasanya tercekik dan sakit di tenggorokan. Orang ini benar-benar menyebalkan sejak pertemuan pertama.

"Aku hanya bertanya-"

"Kau-", entah keberanian darimana, aku beranjak mendekatinya.

"Jangan memandang rendah orang lain!", dan seketika itu juga aku merebut gelas yang berisi wine ditangannya dan menyemprotkannya tepat di wajah serta sebagian menetes mengenai kemeja dan jas miliknya.

.

.

.

"Woah… apa yang kau lakukan?!", Yifan tercengang bukan main mendapati reaksi brutal dan tiba-tiba dari namja tan itu.

Pandangannya tertuju pada jas dan kemeja yang sedang dipakainya kini. Bau wine merebak keluar dari tubuhnya dan beberapa tetes wine jatuh dari surai rambut pirangnya - yang juga terkena percikan wine tadi -. Sudut bibirnya tertarik ke atas, menyeringai dan jengkel disaat bersamaan. Tak lama terdengar suara ketukan pintu, menyusul munculnya seorang namja paruh baya.

"Tuan, bagaimana bisa- ", suaranya tercekat saat mendapati kondisi tuan mudanya yang kacau balau bersama seorang namja berkulit tan yang asing di matanya. Seingatnya tak ada orang lain yang diijinkan tuan muda Yifan untuk berada disisinya jika bukan Luhan, sahabatnya.

"Telepon Luhan dan suruh dia pinjamkan aku stel-an lengkap yang bisa kupakai saat ini juga", namja tersebut – Pak Zhou – mengangguk patuh dan langsung menghubungi seseorang dari ponselnya. Jongin yang berada ditempat tersebut masih diam.

"Tuan muda Luhan meminta anda untuk menunggu sebentar,tuan muda", jawab Pak Zhou seraya menerima jas dan kemeja kotor yang Yifan ulurkan padanya. Kini namja ini tak mengenakan atasannya. Tubuhnya yang terpahat sempurna terpampang jelas dan sontak membuat Jongin mengalihkan pandangannya ke sembarang arah yang penting tidak tertuju pada namja tinggi tersebut.

"Itu stelan desain terbaru yang baru datang tadi malam dan kau merusaknya!", ucap Yifan sangat tenang. Raut wajahnya pun kembali datar.

"Kau harus mengganti kerugianku… ", lanjut namja itu lagi.

"Pak Zhou, kau salah satu orang yang mengurus jamuan ini secara menyeluruh bukan?!", pak Zhou mengangguk singkat,"Kalau begitu kau tahu kalau namja yang sudah merusak stel-an kemeja dan jas import milikku ini termasuk tamu undangan perusahaan kan?"

Dan sebuah anggukan pak Zhou menjawab pertanyaan Yifan. Jantung Jongin berdebar kencang menebak-nebak maksud sesungguhnya dari pertanyaan namja tinggi tersebut.

"Dia berasal dari entertainment mana?"

"JJ entertainment"

"JJ? A- haruskah aku memberitahukan CEO perusahaanmu mengenai insiden memalukan ini? Apa sekalian saja kutagih harga kerusakan jas yang diakibatkan olehmu? Asal kau tahu, jas dan kemeja tersebut baru kupakai kurang dari sejam lalu. Padahal untuk mendapatkannya saja membutuhkan waktu selama 3 bulan agar pengerjaannya seperti kemauanku. Kalau semua itu diperhitungkan, menurutmu berapa harga yang akan kuajukan untuk diganti oleh perusahaanmu?"

Tubuh Jongin mendingin dan wajahnya memucat. Yifan tersenyum puas meski tak tampak di paras tampannya.

"Be-berapa harganya? Dan tolong jangan libatkan JJ"

"Kau sanggup mendengar jumlah nominal harga stelan yang diimport langsung dari Perancis ini?! Berapapun harganya kau harus membayarnya! Tidak ada uang… maka bayar dengan tubuhmu saja!"

"MWO?! KAU GILA!", pekik Jongin menggelegar. Untung saja seluruh kamar di hotel ini didesain kedap suara sehingga teriakan Jongin tadi tidak akan terdengar sampai ke luar ruangan.

"Gila? Aku gila begitu? Tsk", Yifan terkekeh geli,"Setidaknya aku tidak lebih gila dibandingkan dirimu yang bisa-bisanya berbuat brutal terhadap salah satu orang yang bersedia menjadikan JJ entertainment sebagai rekan kerja terbarunya", Jongin mengambil satu langkah mundur ke belakang ketika Yifan berdiri di depannya dengan bertelanjang dada,"Kalau tidak ingin mengganti kerugianku, maka terima tawaranku tadi. Jika tidak bisa, kupastikan JJ menanggung kerugian karena mengganti kerugianku dan kerja sama kami berakhir detik ini juga"

"Memangnya kau siapa?! Kau cuma namja bo-"

Bibir Jongin terkatup sempurna saat jari telunjuk Yifan mendarat di bibirnya,"Namaku Wu Yifan. Ingat baik-baik namaku. Aku bukan namja bodoh seperti perkataanmu. Besok aku menunggumu. Jika dalam 1*24 jam kau tidak muncul juga, kau tahu akibatnya. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku … Kim Jongin", bisik Yifan di akhir kalimatnya sambil berlalu pergi disusul tuan Zhou di belakangnya.

.

.

.

"Kau benar-benar cari masalah Yifan. Menghilang tiba-tiba dari jamuan makan malam, melarikan diri ketika bodyguard kakekmu mengejar, dan kini bertelanjang dada dengan penampilan tragis', omel Luhan yang ternyata sudah berdiri menunggu Yifan di depan pintu dengan stel-an lengkap seperti permintaan sahabatnya tersebut.

"Aku bau wine. Tunggu aku di ballroom. Aku akan kembali setelah menghilangkan bau memuakkan ini dari tubuhku"

.

.

.

Jongin POV

Wu Yifan?

Wu?

Namja tinggi dengan kebodohan diatas rata-rata itu salah satu kerabat Wu?

Wu yang menjadi rekan kerja Jongdae hyung?

Astaga… apa-apaan ini?! Tubuhku melemas dan akhirnya jatuh terduduk di atas karpet.

Wu… Wu… Wu…

Aaaarghhhhttt…. Ini kesialan apa lagi?!

JONGIN POV end

.

.

.

Sementara itu di ballroom hotel, Minseok tampak gelisah saat tak bisa menemukan sosok adik kesayangannya diantara sekian banyak orang asing. Sesekali dia tersenyum dan membungkukkan badannya ketika mendapat sapaan. Hatinya cemas bukan main. Bagaimana caranya Minseok menemukan keberadaan sang adik - yang memang tidak menyukai lingkungan asing - saat Jongdae tanpa henti menarik-nariknya seperti seorang bocah untuk berkenalan dengan orang-orang yang cukup berpengaruh dalam dunia bisnis.

"Ada apa hyung? Ada yang menganggumu? Kuperhatikan sejak tadi kau terlihat tidak tenang?", tanya Jongdae setelah berhasil menarik Minseok menjauh dari pusat kerumunan dan mengambil tempat di pojok ruangan yang memang menyediakan berbagai jenis minuman dan tempat duduk.

"Jongin tidak ada dimana-mana", namja mungil tersebut mengedarkan pandangannya secara menyeluruh. Wajahnya kian kalut saat sosok sang adik tidak juga ia jumpai.

"Sajangnim… Minseokkie… ada apa? Mana Jongin?", kali ini Jessica yang membuka mulutnya bertanya. Yeoja anggun ini bertambah menawan ketika sebuah gaun putih sebatas lutut melekat pas di tubuhnya. Rambut sepunggungnya terurai cantik dan disampirkan ke sisi kanan.

Anggun dan berkelas.

"Sajangnim, dimana Jongin? Kau tidak lupa memintanya hadir di pesta ini kan?", Jongdae yang dihadiahi death glare tajam dari wanita secantik Jessica hanya menggaruk tengkuknya kikuk.

"Dia datang bersama Minseok hyung tapi-"

"Tapi?", ulang Jessica tanpa melepaskan tatapan tajamnya dari Jongdae.

"Dia hilang-", lirih Jongdae yang membuat Jessica melotot horror. Oh tidak! Model kesayangannya hilang?!

"Mwo?"

"A- itu dia", sontak beberapa pasang mata mengalihkan pandangannya pada arah yang ditunjuk Minseok.

"Jonginnie? Kau sakit sayang?", untuk sesaat tadi Minseok nampak lega ketika berhasil menemukan sosok Jongin. Namun kelegaan itu dengan cepat berganti cemas saat wajah adiknya memucat. Jessica dan Jongdae ikut-ikutan kalut mendapati Jongin yang sedikit aneh.

"Aku tidak apa-apa"

.

.

.

Jongin POV

Kepalaku penuh. Yah Tuhan. Penuh sekali. Otakku sampai tak bisa bekerja dengan baik setelah mengetahui nama namja yang sudah kupermalukan tadi. Wu Yifan? Dia seorang Wu! Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Membiarkan JJ entertainment mengganti kerugian jas dan kemeja import miliknya? Gila! Itu sama saja dengan Jongdae hyung gulung tikar. Ditambah lagi peluang kerjasama dengan Xi dan Wu corp akan kandas saat itu juga. Aku bisa gila… eomma, appa… bagaimana ini?

Tanpa sadar tiba-tiba saja aku sudah berada kembali dalam ballroom dan disambut wajah cemas Minseok hyung. Sepertinya dia mencari-cariku sedari tadi. Lihat saja ekspresinya yang berubah lega ketika menemukanku. Sungguh andai saja saat ini kami berada di rumah dan bukannya di pesta menyebalkan dan terkutuk milik Xi dan Wu, sudah pasti aku menangis meraung di pelukan hyung mungilku itu.

"Jonginnie? Kau sakit sayang?", aku sedikit tersentak kaget mendengar pertanyaan Minseok hyung. Mereka bertiga, Jongdae hyung, Jessica sunbaenim, dan Minseok hyung memandangiku penuh kekuatiran. Mungkin ada yang aneh dengan wajahku. Tapi entahlah. Aku benar-benar bingung. Semuanya terjadi terlalu cepat.

"Aku tidak apa-apa", ucapku akhirnya untuk menenangkan mereka. Sebuah dehaman keras menarik perhatian semua tamu undangan jamuan termasuk juga kami berempat. Di depan sana, di atas panggung megah berdiri seorang namja paruh baya berambut putih seluruhnya dan memegang sebuah tongkat. Meski terlihat renta tapi tak bisa kupungkiri kharisma orang tersebut sangat kuat. Semua mata tamu undangan tertuju padanya.

"Selamat malam tamu undanganku yang terhormat. Sebelumnya kuucapkan terima kasih karena telah menyediakan waktu luang untuk menghadiri jamuan makan malam kami yang tak seberapa ini"

Tak seberapa? Oh astaga… jangan bercanda, Kek. Makanan yang kalian suguhkan saja bisa mengisi perut nyaris beberapa puluh ribu orang miskin dan kelaparan. Tidak ada makanan yang tidak berkelas. Set peralatan makanannya saja bisa kupastikan diimport dari luar negeri dengan harga yang fantastis.

Orang kaya memang hobi menghambur-hamburkan uang yang mereka miliki. Sebuah hobi yang tidak bisa kuterima secara logika.

Mataku membulat kaget saat mendapati sosok namja yang paling mencolok berdiri di belakang punggung tak jauh dari namja paruh baya yang sedang berbicara. Itukan- jadi dia benar-benar Wu? Sungguh? Itu- Yifan kan? Wu Yifan yang tadi?

"Malam ini juga kuperkenalkan satu-satunya cucu yang kumiliki, calon penerus kerajaan Wu yang sah di dunia bisnis- dia, Wu Yifan", dan detik berikutnya aku merasa seluruh persendianku lumpuh seketika. Dia bukan kerabat Wu tapi penerus Wu corp?!

Namja yang kukatai bodoh berulang kali. Dia cucu dari kakek itu?!

Jadi dia benar-benar rekan kerja Jongdae hyung? Semua yang dia katakan di ruangan tadi memang benar dan bukan hanya karangan untuk menggertakku saja?!

Yah Tuhan…

"Saeng, kau sakit?", merasa akan limbung aku melingkarkan tanganku dengan cepat pada sebelah lengan Minseok hyung yang bebas. Telingaku tak menangkap suara-suara lain lagi selain dengungan terakhir perkataan kakek tersebut.

Wu Yifan adalah penerus Wu corp

.

.

.

Sementara itu,

"Kau melihat sesuatu yang kulihat juga tidak?", tanya Luhan yang kini menjatuhkan pandangannya pada satu titik di pojok ruangan agak sedikit ke belakang ballroom.

"Menurutmu?", Yifan balik bertanya dengan suara yang lebih pelan. Wajahnya tetap memandang lurus ke depan tapi Luhan tahu kalau sahabatnya ini diam-diam melirik ke titik yang sama dengannya.

"Jangan bilang kejadian tadi ada hubungannya dengan kucing kecil itu?"

"Terserah apa katamu Luhan. Tolong hentikan pembicaraan ini sebelum tua Bangka di depan kita membuka suaranya untuk menegurmu", terang Yifan sedikit tajam akhirnya namun masih terbilang pelan untuk didengar orang lain.

Namja itu mengedikkan bahunya acuh,"Aku tidak akan ikut campur urusanmu Yifan. Tapi mengingat kapasitasku sebagai satu-satunya sahabatmu, dengan senang hati akan kuingatkan satu hal", Yifan melirik Luhan dari sudut matanya,"Jangan lupakan takdir terkutuk kita sebagai bagian dari keluarga Xi dan Wu. Kuharap kau mengingat hal tersebut baik-baik"

Yifan berdecih muak,"Takdir terkutuk dan dosa. Setelah itu apa lagi? Kita seperti bukan manusia saja"

Dan kalimat terakhir Yifan membuat Luhan mengangguk samar.

.

.

.

Keesokkan harinya…

"I-I….INI APAA?!", Pekik Jongin histeris ketika kakinya melangkah masuk halaman rumah atau lebih tepatnya dibilang istana yang ditinggali Yifan. Mulutnya membulat penuh. Didalam hatinya ia sibuk merutuki kecerobohan yang lagi-lagi ia lakukan sehingga berujung dengan terseretnya dia ke dalam lingkungan asing penuh tembok kasat mata yang dari dulu selalu iabenci. Lingkungan kalangan atas yang diliputi kemegahan dan kemasyuran.

Halaman istana ini saja kurang ajar luasnya! Hampir 10 kali atau mungkin lebih luas lapangan sepak bola. Gerbang masuk kediaman Wu saja menjulang tinggi dan megah dan disetiap sudutnya terdapat kamera CCTC dan petugas keamanan yang tak terhitung jumlahnya. Jalan masuknya saja harus menggunakan mobil agar bisa sampai ke bangunan utama.

Jangan heran dengan segala macam kemegahan yang tersaji indah sepanjang jalur menuju kediaman utama. Berbagai pahatan hasil karya arsitektur kenamaan dunia menjadi salah satu objek yang akan membuatmu berdecak kagum tak henti-hentinya. Sebuah patung malaikat besar di tengah-tengah kolam air mancur akan menyambutmu sebelum memasuki bangunan megah dengan interior Eropa klasik.

"Tuan muda telah menunggu anda di dalam. Silahkan anda mengikut saya", lamunanku buyar seketika mendengar nada tenang dan penuh wibawa dari paman yang kemarin bersamaku dan Yifan. Sebenarnya aku penasan dengan paman ini. Apa pekerjaannya yah? Dilihat dari gaya berpakaiannya yang cenderung formal membuatku berani bertaruh kalau namja paruh baya ini bukan orang sembarangan.

"Hn.. maaf anda-"

"Silahkan mengikuti saya. Tuan muda tidak suka menunggu", potong paman itu sambil mengambil langkah sedikit di depanku. Tingkahnya sama saja dengan namja bodoh itu. Opps… Jongin.. tolong jaga ucapanmu! Kelangsungan hidup JJ entertainment dan hidupmu bergantung pada mulutmu ini. Aish...

Sungguh, sedari tadi mulutku tak jemu-jemunya menggumamkan pujian karena kemegahan yang dimiliki keluarga Wu. Isi dalam bangunan utama ini bahkan berkali-kali lipat lebih wah dibandingkan yang kujumpai di luar sana. Istana yang luas, bersih, dan langit-langit atap yang tinggi. Ciri khas bangunan bangsawan. Berbeda sekali dengan kediamanku dan Minseok hyung yang sederhana. Meskipun rumah kami tidak ada apa-apanya dibandingkan istana ini, setidaknya aku mendapatkan kebahagiaan di sana. Sedangkan disini? Entah kenapa aku merasa ada yang hilang. Sepertinya ada yang kurang. Tapi tak tahu itu apa. Semakin ke dalam, semakin aku dibuat takjup. Terlalu mewah.

Tiba-tiba paman yang di depanku berhenti melangkah dan membungkukkan badannya. Sontak aku juga berhenti melangkah dan mendonggak. Diatas sana, namja tinggi itu berdiri dan menatap kami. Gayanya tetap saja angkuh. Dia tidak mengenakan pakaian formal. Hanya casual saja tapi kesannya tetap sama. Charming.

"Selamat datang"

Aku menahan napas begitu dia menuruni anak tangga satu per satu menghampiriku dan paman ini.

"Bagaimana? Kau bersedia mengganti sendiri kerugianku?"

"Jangan libatkan JJ dan hyungku. Itu syarat dariku"

Kulihat ia mengangguk tegas,"Pegang kata-kataku. Selama kau tidak melarikan diri dari tanggung-jawabmu, aku tidak akan menyentuh mereka sedikit pun. Jadi, kau bersedia melakukan apapun untuk mengganti kerugianku kan? Berhubung kau tampaknya tidak memiliki cukup uang, maka tubuhmu menjadi bayarannya"

Tanpa sadar aku menggigit ujung bibir bawahku takut. Yah Tuhan, jangan sampai hal yang kutakutkan terjadi. Aku tidak ingin- sungguh… tubuhku….

"Kau takut?", ia tiba-tiba mengambil langkah yang lebih dekat denganku,"Aku tidak akan melakukan apapun yang sekarang kau bayangkan di dalam otakmu ini", dengan jarinya dia menunjuk kepalaku, membuat dahiku berkerut-kerut bingung.

"Kau-jadi pelayanku"

JDERRR!

Pelayan?

"Kau hanya boleh mendengar dan mematuhi perintahku saja. Paham? Ah yah… dan satu lagi, masa kerjamu sampai aku bosan dan merasa hutangmu lunas. Selama belum tercapai, kau tidak kuperbolehkan pergi seenaknya dan untuk terakhir kalinya kuingatkan, jangan pernah memanggilku namja bodoh lagi! Sekali saja kalimat itu terlontar keluar, kupastikan kau akan menyesal seumur hidup. Deal Kim Jongin?"

MWO?

Darimana dia tahu namaku?! Kemarin juga dia menyebut namaku...

Eh tunggu! Kalau kerjaku 1*24 jam berarti… latihan dan pekerjaan modelku bagaimana?!

"Tapi… aku tidak bisa kalau bekerja 1*24 jam"

Masa bodoh! Yang penting bicara jujur dulu. Siapa tahu dia bisa mentoleransi pekerjaan dan waktu latihanku jika aku mengatakan hal sejujurnya. Bagaimanapun juga aku tidak bisa saja tiba-tiba menghilang dari JJ dan membatalkan kontrak dengan Jessica sunbaenim...

"Aku tahu. Tidak perlu kau jelaskan. Paman Zhou sudah memberitahukan semua hal mengenaimu padaku. Tenang saja. Jam kerjamu fleksibel. Aku tahu semua agenda kerjamu. Sekarang kau kosongkan? Kalau begitu kau ikut paman Zhou. Dia akan menjelaskan tugas-tugasmu secara detail berikut seluruh sudut bangunan ini. Tunggu sampai aku memanggilmu"

Serius, aku dibuat terkejut sekian kalinya lagi oleh keluarga Wu.

Apakah cucu konglomerat ini memiliki kepribadian ganda?

Suatu saat dia bisa menjadi namja yang egois, namun dilain waktu dia bisa begitu tenang dan pengertian.

Ck. Terserahlah. Bukan urusanku.

Jongin POV end

.

.

.

Baru saja Jongin beristirahat sejenak setelah mengitari bangunan utama yang luas ini dan menghafal letaknya secara benar, ia kembali dikejutkan dengan panggilan Yifan yang tiba-tiba.

"Ne?"

"Tolong rapikan kembali pakaian-pakaian ini ke tempatnya yang semula. Aku tidak suka isi lemarinya acak-acakan", ujar Yifan enteng sambil menunjuk ke atas ranjangnya yang penuh tumpukan pakaian.

"Ta-tapi"

"Aku tidak menerima bantahan dari pelayanku. Kerjakan atau tidak tergantung padamu. Daftar tugasmu untuk hari ini sudah pak Zhou serahkan? Pastikan semuanya selesai tepat waktu. Selamat bekerja- NAMJA PENCOPET", Jongin mengerang jengkel sambil mengambil bantal sofa terdekat dan melemparkannya ke arah Yifan yang sudah menghilang di balik pintu.

"YAKH AKU BUKAN PENCOPET! DASAR NAMJA BODOH!", teriak Jongin heboh. Kakinya menghentak kesal lantai kamar Yifan. Belum setengah hari bekerja saja kesabaran Jongin sudah habis karena namja angkuh itu. Kini manik matanya berpindah pada tumpukan pakaian yang menggunung, menunggu dirapikan. Tuhan, tolong sabarkan Jongin. Sabar… sabar… Demi JJ… demi Minseok hyung….

Kim Jongin, fighting!

.

.

.

To Be Continued

.

.

Habis update Crazy Love sama one shoot HunKai terbaru, Chae bakalan kerjain fanfic yang laen. Nah pertanyaannya, kira-kira mau fanfic mana yang Chae kerjain dan publish duluan? Silahkan review yah… Chae tunggu. Oh yah malam ini juga Chae bakalan publish oneshoot HanKai terbaru hasil request dari salah seorang reader. Ditunggu ne...

Dan ini pengumuman pertama sekaligus terakhir dari Chae:

Chae gak melarang siapapun untuk mengirimkan pm ke Chae. Chae pasti balas pm dari readers asalkan gak bashing cast terlebih lagi Jongin dan Yifan, gak flame, pakai kata-kata yang sopan … karena Chae rada cuek dan sensi orangnya, dan gak tiba-tiba nongol nagih fanfic padahal dia gak pernah sekalipun mereview fanfic buatan Chae.

Chae selalu tahu siapa-siapa aja yang setia banget review fanfic Chae. Meski itu cuman sepatah kata aja. Dan jika readers seperti itu yang mengirimkan pm ke Chae pasti dengan senang hati Chae balas. Akan tetapi jika silent reader yang mengirimkan pm ke Chae dan nagih fanfic padahal dia gak pernah sekalipun mereview, maaf yah- Chae gak akan membalasnya. Menanggapi dalam bentuk apapun juga gak bakal.

Harap Pengertiannya yah…

Chae cuman minta reviewnya aja kok... oke? Chapter ini bagaimana? Mengecewakan atau? Chae berusaha memperbaiki ke depannya nanti yah. Kemarin-kemarin Chae kena WB ...

Nah, sekian yah….

With love

Chae, Kris, Kai

Love KrisKai couple