THE ROSE (YunJae Version)

Cerita ini adalah adaptasi dari drama yang saya tonton dulu waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, judulnya sama dengan fanfiction ini yaitu The Rose, kalau nggaksalah drama itu antara tahun 2002 dan tahun 2003. Maaf, saya memosting fanfiction baru disaat Scenes From a Memory masih belum selesai. Jujur ya, saya sedang tidak ada inspirasi untuk melanjutkan fanfiction tersebut huhu nunggu mood ngumpul dulu. Entah kenapa di tengah tugas-tugas sebagai mahasiswa teknik, saya pengen bikin fanfiction kayak gini wkwkwk dan sepertinya fanfiction The Rose ini akan update rutin deh (semoga) XD , karena saya belum ada mood buat lanjut Scenes From A Memory yang disebabkan karena FF tersebut rada berat dan saya harus mikir kerass buat lanjutinnya wkwkwk

Ucapan terimakasih buat sahabat saya di dunia per FF an, mbak Selena Jung dan SodariBangYifan yang udah kasih semangat nglanjutin FF ini.. huhu T_T *terharu* juga yang kemarin udah review minta lanjut, diriku berterimakasih sekali ternyata ada yang menginginkan FF ini lanjut, maaf nggakbisa balas review satu-satu, tapi yang jelas saya berterimakasih sama yang udah dukung ff ini :')

Cast :

Kim Jaejoong as Kim Jaejoong

Jung Yunho as Jung Yunho

Kim Heechul as Jung Heechul

Shim Changmin as Jung Changmin

Jung Yeon Hee

Tan Hangeng

.

Genre : Yaoi, Romance, drama, comedy, family, dan yang jelas incest.

Oke sebenarnya nanti masih ada cast lain, masih banyak hehehe tapi saya cantumkan cast utama yang masih di otak dulu. Yang ngga doyan Yaoi alt+F4 aja nah *ngakak*. Btw saya masih pemula, jika ada kesalahan mohon dimaafkan hehe cukup ah basa-basinya hehehe

Selamat membaca !

.

.


Chapter sebelumnya . . .

"Kau jangan tersinggung, cara bicara Changmin memang begitu.. ehm, apakah kau haus ? Kau mau kopi ?" Tanya Heechul pada Jaejoong disertai senyumannya yang cantik.

"Tentu saja… hehe jika itu tidak merepotkan.." Ujar Jaejoong berbinar pada Heechul.

"Tidak kok. Oh ya, dapur ada di sebelah sana.. kau pergi dan buatlah beberapa.. aku tidak suka memakai gula terlalu banyak, dan aku mau tambahkan sedikit creamer.." Ujar Heechul panjang lebar, kemudian meninggalkan Jaejoong yang terdiam tidak percaya dengan perlakuan Heechul padanya. Heechul melangkah menjauh menuju sofa di ruangan tersebut dengan angkuh, meninggalkan Jaejoong yang ternganga, merasa tidak percaya dengan perlakuan Heechul.

Jadi, bagaimana kelanjutan kisah hidup Jaejoong dengan keluarga barunya yang 'aneh' ini ?

.

.

.


Jaejoong hanya berdiri terdiam. Ia baru saja datang dari perjalanan jauh, dan memakan cukup banyak tenaga. Namun apa ? Perlakuan mereka bertiga sungguh diluar dugaan. Tidak ada keluarga seperti yang diharapkannya. Baru datang, sudah disuruh seperti pembantu, begitu pikir Jaejoong. Jaejoong pun berjalan menuju dapur yang tadi sudah ditunjukkan oleh Heechul. Ia menurut saja sewaktu disuruh Heechul untuk membuat kopi, ia tidak ingin membuat kesan buruk di depan keluarga barunya. Jaejoong pun mengambil mesin pembuat kopi di lemari dapur tersebut. Namun sungguh, ia tidak tahu cara membuat kopi dengan alat itu. Jaejoong teringat sesuatu. Biasanya mesin-mesin pembuat kopi seperti ini memerlukan biji-biji kopi. Namun, Jaejoong melihat sekeliling dapur dan tidak menemukan biji kopi. Ia pun berinisiatif untuk mencari biji kopi di lemari lain di dapur. Namun ketika ia berniat membuka salah satu pintu lemari tiba-tiba..

"Apa yang kau lakukan ?!" Seru seseorang dari pintu.

Jaejoong tersentak kaget. Reflek ia menutup pintu lemari itu, lalu menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pria tampan tinggi berkacamata hitam, yang kita ketahui tadi bernama Jung Yunho. Yunho berjalan dengan angkuh kearah Jaejoong yang kini merasa ketakutan karena dipandang bak seorang kriminal oleh Yunho.

"A-aku membuat ko-kopi.." Ujar Jaejoong tergagap, merasa takut dengan pandangan mengintimidasi Yunho.

"Jangan sentuh barang milik keluargaku.. aku masih belum memutuskan untuk menerimamu sebagai bagian dari keluargaku.. " Ujar Yunho dingin dan terkesan angkuh, tanpa berekspresi sedikitpun. Ia menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan pada Jaejoong.

"Ta-tapi tadi, Nona Jung Heechul itu.. dia.. menyuruhku untuk membuat kopi.." Ujar Jaejoong takut-takut. Matanya memerah menahan tangis, merasa takut dengan perkataan Yunho barusan.

"A-aku datang kesini untuk membuat beberapa cangkir kopi, a-aku melihat disini ada mesin pembuat kopi.. ta-tapi aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.. hiks..hiks dan aku ti-tidak menemukan biji kopi dimanapun… hiks hiks a-aku tidak tahu cara membuat kopi hiks.." Ujar Jaejoong menjelaskan sambil menangis terisak, ia merasa keluarganya sungguh mengerikan. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.

Sedangkan Yunho ? Namja itu hanya menatap Jaejoong yang sedang menangis tanpa ekspresi apapun. Ekspresi wajahnya sejak tadi masih sama, dingin dan angkuh. Ia bahkan tidak peduli dengan Jaejoong yang kini menangis di depannya karena tidak bisa membuat kopi. Yunho berjalan semakin mendekati Jaejoong masih dengan ekspresi angkuhnya, kedua tangan besarnya dimasukkan kedalam saku celana jeans yang dipakainya.

"Eommaku sudah datang.." Kata Yunho singkat kemudian meninggalkan Jaejoong yang masih terisak di ruangan dapur.

Sekitar 5 menit kemudian, Jaejoong pun keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi 5 cangkir kopi, ia keluar dari dapur dengan mata sembab habis menangis. Jaejoong berjalan keluar dapur kemudian berbelok untuk menuju ke ruang tengah. Tapi betapa terkejutnya ia melihat Yunho yang berdiri bersandar pada tembok putih itu.

"Kau lama sekali.." Kata Yunho dingin kemudian melipatkan tangannya ke depan. Yunho lalu pergi begitu saja dari hadapan Jaejoong. Sedangkan Jaejoong hanya menundukkan kepalanya, saat Yunho pergi ke ruang tengah, segera saja Jaejoong mengikutinya dari belakang sambil membawa nampan berisi 5 cangkir kopi. Jaejoong menghela nafasnya sejenak, kemudian menyemangati dirinya sendiri. Ia sangat gugup karena akan bertemu dengan Eomma nya.

.

.

=o=

.

.

Jaejoong pun menuruni tangga menuju ke ruangan tengah tadi. Dapur di rumah itu memang terletak di lantai 2. Di ruangan tersebut, Yunho, Changmin, dan Heechul sudah menunggunya. Changmin terlihat sedang berdiri di depan pintu bercat putih itu, berniat menunggu Eomma nya. Tak lama kemudian, seorang wanita berumur 40 tahunan masuk ke dalam ruangan tersebut, wanita tersebut masih tampak cantik di usianya yang sudah terbilang tidak muda lagi. Wanita itu berjalan dengan angkuhnya kearah Jaejoong yang masih terdiam di depan tangga yang baru saja dituruninya.

"Masalah.. masalah.. Kau mempunyai anak yang lain ternyata.." Ujar Changmin sarkatis pada Eomma nya yang masih berjalan angkuh.

"Jangan bercanda ! Bagaimana mungkin aku punya anak yang lain ?!" Marah Mrs Jung pada Changmin, kemudian membuang mantel nya pada Changmin yang menatapnya dengan pandangan tidak suka.

"Dia bahkan membawa kartu keluarganya kemari.." Ujar Changmin sembari berjalan mengikuti Mrs Jung. Mrs Jung hanya memandang angkuh Changmin. Changmin mendecih sebal kemudian berlalu meninggalkan Mrs Jung ke sofa yang berada di ruangan tersebut.

"Huh, aku memang jatuh cinta beberapa kali. Tapi bagaimana mungkin aku melupakan berapa jumlah anak-anakku.." Kata Mrs Jung dengan nada angkuhnya.

"Datang kesini dengan surat keluarga palsu, kemudian mengaku sebagai anakku.." Lanjutnya dengan nada sarkatis.

Jaejoong hanya menunduk memandangi cangkir-cangkir kopi yang dibawanya. Perkataan Mrs Jung barusan sungguh menusuk hatinya, hatinya terasa sakit sekali. Seorang Ibu yang ia harap mau menerimanya saat ini sedang menyindirnya habis-habisan. Mata Jaejoong mulai memerah menahan tangis, ia merasa terluka dengan perkataan wanita yang ia anggap Eomma nya.

"A-aku tidak berbohong pada siapapun.." Jaejoong yang sedaritadi terdiam menunduk kini mulai angkat bicara, ia bahkan berani menatap kedua mata eommanya yang saat ini memandangnya remeh.

Mrs Jung terperangah melihat wajah jelas milik Jaejoong, Mrs Jung kini memasang ekspresi kaget. Kemudian perlahan mendekati Jaejoong yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh harap. Kini Mrs Jung tahu siapa Jaejoong. Namun kemudian ia kembali memasang ekspresi angkuhnya.

"A-apakah nenekmu tahu kau disini ?" Tanya Mrs Jung pada Jaejoong yang masih berdiri menatapnya.

"Nenekku meninggal dunia…" Kata Jaejoong, kemudian menangis terisak. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya.

"Kapan ?" Tanya Mrs Jung singkat.

"Hiks.. minggu lalu.. beliau meninggalkan surat untukku dan memintaku mencarimu.. hiks.." Jawab Jaejoong masih sembari terisak.

"Apakah kita memerlukan tes DNA ?" Ujar Yunho sarkatis, kemudian ikut duduk di sofa besar itu bersama Changmin dan Heechul.

"Tidak perlu, hyung. Dia pasti pasti sudah ditukar oleh suster sewaktu bayi.." Kata Changmin mengejek sembari terkekeh meremehkan. Sedangkan Jaejoong hanya memandang Changmin tidak percaya, sebelumnya, seumur hidupnya ia tidak pernah merasa direndahkan seperti ini.

"Kalian berdua berhenti mengejeknya, dia tidak akan mengerti." Kata Heechul angkat bicara sembari tersenyum angkuh pada Jaejoong yang masih dalam keterdiamannya.

"Semuanya diam !" Bentak Mrs Jung kepada ketiga anaknya, seketika mereka bertiga diam. Kemudian Mrs Jung kembali menatap Jaejoong masih dengan pandangan angkuhnya. Jaejoong kini merasa takut dipandangi seperti itu oleh . Mrs Jung kemudian menatap lekat-lekat wajah Jaejoong. ia sendiri merasa bingung sendiri dengan semua ini, ia terlihat sedang menahan emosinya. Ia kemudian berjalan menuju meja yang berada di depan sofa yang sedang diduduki oleh Changmin, Yunho, dan Heechul. Kemudian dengan cepat mengambil gunting yang biasa digunakan Changmin untuk membuka bungkus snack nya.

"Eomma, apa yang akan kau lakukan ?!" Protes Changmin. Namun tidak digubris sama sekali oleh Mrs Jung . Mrs Jung kemudian dengan cepat berjalan kearah Jaejoong sambil membawa gunting yang berwarna silver milik Changmin.

Jaejoong hanya terdiam melihat yang berjalan kearahnya. Namun tiba-tiba Mrs Jung sedikit menjambak rambut panjang Jaejoong, kemudian memotongnya asal menggunakan gunting milik Changmin. Jaejoong sangat terkejut ketika rambut hitam panjangnya tiba-tiba dipotong dengan brutal oleh eomma nya sendiri. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan menerima perlakuan ini. Jaejoong hanya terdiam dan membiarkan air matanya mengalir deras. Ia tidak mengira akan diperlakukan seperti ini oleh keluarganya. Tidak puas hanya dengan satu sisi, kemudian Mrs Jung memotong rambut di sisi yang lain, ia memotong rambut Jaejoong hingga benar-benar pendek. Sedangkan Changmin, Yunho, dan Heechul menatap antusias eomma nya yang sedang memotong rambut Jaejoong, menurut mereka ini tontonan yang menarik. Setelah itu, Mrs Jung kemudian membuang gunting itu ke lantai marmer di ruangan tersebut, kemudian menata rambut Jaejoong dengan tangan kirinya.

"Lebih baik.." Kata Mrs Jung menatap angkuh pada Jaejoong yang terlihat menangis.

"Kau bisa tinggal disini. Dan oh, kau bisa memasak ?" Tanya Mrs Jung pada Jaejoong.

"Se-sedikit.." Ujar Jaejoong terbata, kemudian menatap bola mata milik yang memandangnya angkuh dan tidak bersahabat. Mrs Jung kemudian menganggukan kepalanya.

"itu bagus, pembantu kami yang biasanya sedang berada di rumah sakit.. jadi tolong, bantu-bantulah sedikit.. Ah tentu saja, aku bisa selalu mempekerjakan orang lain. Tapi kau harus tahu bahwa aku adalah seorang artis terkenal.. jika aku mempekerjakan orang lain, aku khawatir jika mereka menimbulkan gossip diluar.."

"Haah hawanya benar-benar panas , aku tadi langsung menuju kesini sewaktu menerima telepon dari Yunho.. aku sangat lelah, aku pergi ke kamarku.." Kata Mrs. Jung angkuh kemudian menaiki tangga meninggalkan Jaejoong begitu saja.

"Jaejoong.." Panggil Mrs Jung pada Jaejoong.

"N-ne" Ujar Jaejoong menahan isakan tangisnya, kemudian menoleh ke belakang.

"Bersihkan rambutmu yang berserakan di lantai.." Ujar Mrs Jung sembari menunjuk ke lantai dimana rambut Jaejoong berserakan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Jaejoong.

Jaejoong hanya terdiam tidak percaya dengan perlakuan eomma nya yang ditunjukkan padanya, sikapnya benar-benar berbeda 180 derajat dari yang selama ini ia bayangkan. Ia selalu membayangkan mempunyai ibu yang lembut dan baik padanya. Tapi sebaliknya, ia malah diperlakukan dengan kejam. Bahkan dengan tega nya eomma nya sendiri menganggapnya sebagai pembantu. Jaejoong tidak bisa lagi menahan tangisnya, ia membiarkan tangisannya semakin keras. Dan mirisnya lagi, Changmin, Yunho, dan Heechul tidak membelanya sama sekali. Mereka malah berlalu begitu saja meninggalkan Jaejoong, bahkan Heechul dengan teganya berkata.

"Wah, tidak bisa dipercaya.. ternyata eomma tahu bagaimana cara memotong rambut" Celetuk Heechul sarkatis sebelum menaiki tangga meninggalkan Jaejoong sendirian di ruangan tersebut. Meninggalkan Jaejoong yang menangis sendiri di ruangan tersebut.

.

"hiks..hiks… Nenek.. aku ingin pulang.. hiks..hiks.."

.

.

.

=o=

.

.

.

Hari sudah malam, Jaejoong saat ini berada di kamar barunya. Setelah kejadian pahit yang menimpanya tadi, Jaejoong bergegas menuju kamar yang terletak di lantai 3 rumah besar itu. Jaejoong kini sedang duduk di ranjang queen size nya sembari mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper besar miliknya. Namun kemudian aktivitasnya terhenti, ia menatap tumpukan baju-baju itu dengan tatapan tidak niat. Bibirnya sedaritadi tidak berhenti cemberut.

"Apakah aku harus tinggal disini mulai sekarang ?" Katanya pada dirinya sendiri. Ia kemudian beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju jendela yang berada di dalam kamarnya. Ia sejenak melihat pemandangan di luar kamarnya melalui jendela, banyak sekali pohon-pohon diluar, juga terdapat taman disana.

"Nenek, aku ingin pulang… aku benci tempat ini.. mereka bukan keluargaku.." Ujar Jaejoong sendu sembari menatap pepohonan hijau dari jendela kamarnya.

Namun kemudian ia dikejutkan dengan suara derap kaki yang berasal dari pintu kamarnya. Jaejoong kemudian menoleh ke belakang, dan sedikit terkejut karena pria tampan berkacamata hitam yang ia ketahui bernama Yunho, saat ini sudah berada di dalam kamarnya. Yunho terlihat membawa segelas susu hangat di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membawa botol whisky. Jaejoong bingung melihat Yunho yang tengah menatapnya serius.

"Apa yang kau mau ?" Tanya Jaejoong takut-takut pada Yunho. Sedangkan Yunho masih menatap Jaejoong dengan serius.

Namun tiba-tiba langkah Yunho semakin mendekati Jaejoong. Jaejoong semakin ketakutan dibuatnya, reflek ia memundurkan langkahnya menjauhi Yunho yang saat ini berjalan mendekat kearahnya.

"Yah! Kau mau apa ?!" Tanya Jaejoong merasa panic atas sikap Yunho. Sedangkan Yunho malah semakin memajukan langkahnya. Jaejoong semakin terpojok, bahkan Jaejoong menabrak meja nakas yang terletak di samping ranjangnya, Jaejoong semakin panic.

"Jangan mendekatiku ! Keluar dari kamarku ! Jangan datang kesini ! Apa yang akan kau lakukan ?! ini sudah tengah malam ! dan kenapa kau memakai kacamata hitam !?" Rancau Jaejoong semakin panic. Jaejoong kemudian menaiki ranjangnya lalu mengambil selimut tebalnya, setelahnya ia melindungi dirinya dengan selimut tebal itu, ia menarik selimut tebal itu hingga sebatas dada nya, ia merasa takut sekarang, pikiran-pikiran buruk mulai merasuki otaknya. Namun pikiran buruknya berubah ketika Yunho tiba-tiba menaruh segelas susu yang ia bawa ke meja nakas yang terletak di samping ranjang Jaejoong. Yunho kemudian duduk di ranjang Jaejoong, menatap tenang Jaejoong yang melindungi dirinya menggunakan selimut tebal berwarna putih itu.

"Minumlah satu gelas susu hangat, supaya kau bisa tidur nyenyak.." Ujar Yunho lembut pada Jaejoong. jaejoong hanya memandang Yunho dengan tatapan bingung, ia tidak menyangka Yunho ternyata bisa bersikap seperti ini padanya.

"Oh… te-terimakasih.." Jawab Jaejoong merasa gugup.

"Berapa umurmu ?" Tanya Yunho sembari memainkan ujung botol whisky yang dibawanya.

"U-umurku 18 tahun.." Ujar Jaejoong gugup lalu menundukkan kepalanya. Yunho hanya menggumam menanggapi jawaban Jaejoong.

"Umurku 21 tahun.. itu berarti aku adalah kakakmu.." Ujar Yunho sembari menatap botol whisky yang dibawanya kemudian meneguk whisky itu. Jaejoong hanya melihat Yunho dengan pandangan bingung, ia kemudian melepas selimut tebalnya lalu duduk di samping Yunho yang saat ini tengah meneguk whisky.

"Kau pasti ingin meninggalkan keluarga ini sekarang, kan ? .. Semua orang di keluarga kami aneh.. yahh itu karena kami mempunyai seorang eomma yang gila.." Kata Yunho setelah meneguk whisky nya sembari menatap lurus ke depan. Yunho lalu menoleh kesamping kirinya, menatap Jaejoong yang saat ini melihatnya dengan pandangan bingung. Yunho kemudian mendekatkan dirinya ketempat Jaejoong.

"Bolehkah aku memelukmu ?" Tanya Yunho, kemudian dengan tiba-tiba ia mencoba untuk memeluk Jaejoong.

"Apa yang kau lakukan !?" Jaejoong merasa ketakutan dengan perlakuan Yunho tiba-tiba, ia memberontak dalam pelukan paksa Yunho, lalu reflek Jaejoong menampar Yunho yang mencoba memeluknya, mengakibatkan kacamata hitam yang dipakai Yunho terhempas ke lantai kamar milik Jaejoong.

"Kau mabuk kan ?!" Ujar Jaejoong marah, ia merasa dilecehkan. Yunho yang baru saja ditampar oleh Jaejoong lalu menatap kedua mata Jaejoong yang saat ini tengah marah padanya. Yunho melihat Jaejoong dengan kedua mata musangnya langsung tanpa terhalang oleh kacamata hitam. Jaejoong sedikit terperangah dengan kedua mata Yunho. Bukan karena bentuknya yang sipit seperti musang, tapi Jaejoong terperangah karena warna iris mata milik hyung barunya itu.

"Sakit. Lain kali ketika kau ingin menampar seseorang, bisakah kau mengatakannya dulu ?" Kata Yunho tenang, masih menatap Jaejoong serius.

"Aku hanya ingin memelukmu sebentar, bagaimanapun kau adalah adikku.." Lanjut Yunho.

"Ma- matamu berwarna biru…" Ujar Jaejoong akhirnya. Ia terkesan dengan warna iris mata Yunho yang berwarna biru, ternyata dibalik kacamata hitam miliknya tersimpan kedua mata musang yang tajam dan warna iris mata yang indah. Yunho kemudian menggumam meng-iya kan perkataan Jaejoong.

"Ayahku orang Amerika.. aku tidak suka orang-orang yang selalu melihat dan menatap mataku, jadi aku selalu memakai kacamata hitam untuk menutupinya.." Kata Yunho lembut masih sambil menatap Jaejoong yang saat ini tengah terpesona dengan warna iris matanya. Yunho lalu tersenyum manis pada Jaejoong, memperlihatkan barisan gigi putih dan rapi miliknya, kemudian tangan kiri nya yang bebas terangkat, membelai rambut halus Jaejoong.

"Kau terlihat manis dan imut dengan rambut pendekmu.." Ujar Yunho lembut, sambil mengelus-elus rambut hitam Jaejoong yang kini terlihat pendek. Jaejoong hanya bisa menunduk malu menerima perlakuan Yunho yang tiba-tiba lembut padanya, semburat-semburat pink saat ini tengah menghiasi pipi chubby nya.

"Tetaplah disini, Jaejoong-ah… Kau pasti belum pernah tinggal bersama keluargamu sebelumnya.. Tinggal bersama keluarga memang sulit pada awalnya.. tapi, tetaplah tersenyum, tidak peduli bagaimana wajahmu kau harus tetap tersenyum setiap hari.. " Ujar Yunho lembut sambil tersenyum manis kearah Jaejoong yang saat ini tengah menunduk malu, ia kemudian menghentikan elusannya pada kepala Jaejoong.

Jaejoong kemudian memberanikan diri untuk menatap wajah tampan Yunho, kemudian tersenyum penuh arti pada Yunho yang saat ini juga tengah tersenyum kepadanya.

"Aku akan berusaha, Yunho hyung.." Jawab Jaejoong sembari memasang senyum terbaiknya pada Yunho. Yunho kemudian mengangguk lalu cepat-cepat ia mengacak-acak rambut Jaejoong yang saat ini terlihat lebih pendek. Jaejoong hanya tertawa bahagia menerima perlakuan Yunho, ia merasa sangat bahagia karena ternyata hyung nya sangat baik padanya.

.

.

.

=o=

.

.

.

Hari sudah menjelang pagi, saat ini Jaejoong tengah berada di dapur, membuat sandwich untuk ketiga saudaranya dan juga untuk dirinya. Ia tengah menata daging dan telur dadar di atas roti tawar berbentuk kotak tersebut. Sementara di ruangan sebelahnya, yaitu ruangan makan, hanya ada Heechul disana, kedua anggota keluarganya yang lain sepertinya masih belum mau beranjak dari tidurnya. Jaejoong kemudian keluar dari dapur berjalan menuju ruang makan dengan membawa dua piring yang berisi sandwich buatannya. Saat ini wajah Jaejoong nampak ceria dan senyum tampak menghiasi wajah manisnya, tidak seperti kemarin. Nampaknya kata-kata Yunho semalam sangat berpengaruh terhadap pribadi Jaejoong sekarang ya.

"Heechul-noona, selamat pagi.." Sapa Jaejoong pada Heechul yang nampak sedang duduk melamun di ruang makan, kemudian Jaejoong meletakan piring yang berisi sandwich itu ke meja makan.

Tidak lama kemudian, Yunho pun muncul. Wajahnya nampak dingin dan angkuh seperti biasanya. Ia masih terlihat memakai piyama abu-abu putih miliknya. Dengan cepat ia berjalan kemudian langsung duduk di kursi meja makan tanpa menghiraukan Jaejoong sedikitpun. Jaejoong kemudian memberanikan diri untuk menyapa Yunho yang saat ini tengah duduk di kursi meja makan.

"Selamat pagi, Yunho-hyung. Aku sudah membuatkanmu sarapan.." Ujar Jaejoong nampak ceria di hadapan Yunho. Namun Yunho hanya menoleh sebentar pada Jaejoong lalu mengambil piring miliknya. Ia bersikap acuh tak acuh pada Jaejoong, berbeda sekali dengan sikapnya semalam. Ada apa ya dengannya ?

"Kau amnesia ya ? Kenapa kau tidak menjauh dari pandanganku ? Dasar muka chubby !" Bentak Yunho kasar pada Jaejoong yang daritadi tersenyum padanya.

Mendengar bentakan Yunho seperti itu membuat Jaejoong terdiam seketika, semangatnya memudar seketika ketika dibentak oleh Yunho seperti itu, ia juga merasa bingung dengan sikap Yunho yang berubah padanya, padahal semalam ia yang menyemangati dan menghiburnya, namun sekarang ia malah dengan kasar membentaknya. Yunho lalu pergi meninggalkan Jaejoong dan Heechul di ruang makan sambil membawa piringnya yang berisi sandwich yang Jaejoong masak, ia berencana untuk makan di kamarnya saja.

Heechul yang melihat ekspresi Jaejoong kemudian terkekeh, lalu melanjutkan minum teh hangatnya.

"Jaejoong-ah…" Panggil Heechul pada Jaejoong yang masih terkejut dengan perlakuan Yunho. Jaejoong tersentak dari lamunannya, kemudian menatap Heechul yang saat ini menatapnya sambil tersenyum.

"N-ne Heechul-noona.." Jawab Jaejoong.

"Ketika Yunho mabuk, ia akan bersikap lembut pada orang-orang di sekitarnya. Tapi ia akan melupakannya setelah ia bangun tidur.." Jelas Heechul santai, sepertinya ia mengerti situasi yang dialami oleh Jaejoong.

Jaejoong kemudian menggeser kursi yang ada di depannya, lalu duduk di kursi tersebut. Ia memandang Heechul, merasa tidak percaya ternyata Heechul tahu dengan apa yang dialaminya.

"Ja-jadi kata-kata yang diucapkannya kemarin…" Ucap Jaejoong hati-hati sambil menatap Heechul yang kini sedang menyesap teh hangatnya.

"Tidak ada artinya, Orang mabuk tidak akan mengingat apa yang ia ucap !" Sela Changmin, ia berbicara langsung didekat telinga Jaejoong. Jaejoong kemudian menatap Changmin, ia tidak menyadari keberadaan Changmin. Pria berambut panjang itu kemudian dengan santainya duduk di kursi meja makan, ia mengambil posisi duduk di sebelah kanan Jaejoong. Dengan tergesa-gesa, Changmin mengambil garpu dan sendok makannya. Namun kemudian Changmin memandang sebal ke piring makannya.

"Hey, kau tidak tahu ya kalau aku butuh 2 porsi untuk sarapan ?" Ucap Changmin tanpa menoleh pada Jaejoong yang duduk di sebelahnya. Ia kemudian mengambil piring Jaejoong yang berisi sandwich sama seperti isi piringnya, lalu menumpahkan sandwich milik Jaejoong ke piring miliknya. Setelahnya ia mengembalikan piring Jaejoong yang kosong.

Jaejoong menatap sendu piring kosong miliknya, matanya kini memerah menahan tangis yang akan keluar.

"Hey, tolong ambilkan aku secangkir teh hangat lagi." Perintah Heechul pada Jaejoong.

"Aku butuh 2 telur goreng lagi, apakah ini masih makanan manusia ?" Ujar Changmin sarkatis.

"Jika eomma melihat masakan yang kau buat, dia pasti akan membuangnya ke tempat sampah" Ujar Heechul dengan santai. Jaejoong hanya diam tidak merespon ucapan-ucapan kejam mereka berdua, ia masih memandang sendu piring kosong miliknya dan menahan tangisnya yang akan keluar.

'Nenek, aku ingin pulang saja….' Kata Jaejoong dalam hati, ia merasa tidak betah tinggal dirumah ini. Sejak tadi pagi hingga sekarang, Jaejoong diperlakukan layaknya seorang Cinderella, ia merasa di anak tirikan oleh eommanya, diperlakukan seperti seorang pembantu.

.

.

.

.

=o=

.

.

.

Hari sudah beranjak malam, saat ini Jaejoong sudah memakai piyama tidurnya, ia berencana untuk tidur lebih awal karena ia tahu bahwa hari esok pasti akan lebih berat dari hari ini. Namun, seketika ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu pada pintu kamarnya. 'Apakah itu Yunho hyung ?' batin Jaejoong penasaran. Lalu dengan hati-hati ia membuka pintu kamarnya, sejenak mengintip siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu kamarnya.

"Hei, kenapa melihatku begitu ?" Ujar seseorang yang berada di luar kamar Jaejoong.

"He-Heechul noona.." Kata Jaejoong kemudian dengan cepat ia membukakan pintu lebar-lebar untuk Heechul. Heechul lalu dengan santainya masuk ke kamar Jaejoong yang bernuansa soft blue itu.

"Ada apa noona ?" Tanya Jaejoong penasaran pada Heechul yang sekarang sedang duduk di ranjang milik Jaejoong.

"Aku lapar, buatkan aku sesuatu.." Perintah Heechul pada Jaejoong, yang kemudian langsung diiyakan oleh Jaejoong.

.

.

Saat ini Jaejoong dan Heechul sedang berada di dapur. Jaejoong terlihat sedang mengaduk-aduk mi instan yang dimasaknya untuk Noona nya, sedangkan Heechul menunggui Jaejoong yang sedang memasak mi instan untuknya.

"Heechul noona.." Panggil Jaejoong pada Heechul yang saat ini tengah melihatnya memasak mi.

"Hmm.." Jawab Heechul dengan gumaman, namun masih bisa didengar oleh Jaejoong.

"Noona, apakah kalian bertiga tumbuh bersama ?" Tanya Jaejoong hati-hati sambil mengaduk-aduk mi instan yang sedang dimasaknya. Heechul kemudian tersenyum menanggapi pertanyaan Jaejoong.

"Tidak, kami tidak tumbuh bersama. Jadi, ketika kau datang kemari kami tidak terlalu terkejut… " Kata Heechul pada Jaejoong.

"Sebenarnya, rumah ini adalah rumah penampungan untuk kami.. dengan sikap eomma yang sedikit gila, sangat sulit baginya untuk mempertahankan pernikahannya.. rata-rata pernikahannya tdak berlangsung lama, mungkin hanya sekitar satu tahun atau kurang dari itu…" Lanjut Heechul pada Jaejoong. Jaejoong diam menanggapi cerita Heechul, ia masih menunggu Heechul untuk melanjutkan ceritanya.

"Kebanyakan orang tua berharap untuk mempunyai anak. Namun ketika adanya perpisahan, lalu menikah lagi.. tentu akan menjadi masalah. Ketika menikah lagi, mempunyai anak dari suami sebelumnya tentu saja menjadi beban… "

"Jadi, pada akhirnya satu-satunya solusi adalah menempatkan anak-anaknya di rumah ini…" Cerita Heechul panjang lebar. Jaejoong kemudian menoleh kearah Heechul yang ada disampingnya, ia sedikit merasa sedih dengan nasib ketiga saudaranya.

"Itu pasti menyedihkan untuk kalian.." Ujar Jaejoong tulus, sambil menatap Heechul yang saat ini tengah tersenyum kepadanya. Heechul hanya terkekeh menanggapi pernyataan Jaejoong.

"Aku berusia 7 tahun saat aku pindah kesini, lalu setelah itu Yunho juga datang, karena ayahnya akan menikah lagi.. dan Changmin sudah berumur 14 tahun saat pertama kali ia datang kemari.. Pertama kali Changmin datang kemari, ia mengabaikan semua orang termasuk aku dan Yunho." Kata Heechul panjang lebar menanggapi pernyataan Jaejoong. Heechul kemudian mengambil mangkuk yang berisikan mi instan yang baru saja selesai dimasak Jaejoong.

"Baiklah, aku rasa sudah cukup ceritanya.. selamat malam Jaejoong-ah.." Ujar Heechul pada Jaejoong sambil membawa mangkuk mi instan, lalu kemudian Heechul mencubit pipi Jaejoong yang chubby sebelum pergi ke kamarnya. Meninggalkan Jaejoong yang saat ini tengah tersenyum senang karena ternyata Noona cantiknya bisa bersikap baik padanya.

.

.

.

Jaejoong saat ini tengah tertidur nyenyak sambil memeluk selimutnya yang berwarna soft blue tersebut. Namun kemudian seseorang membuka pelan pintu kamar milik Jaejoong, orang itu kemudian duduk di pinggiran ranjang milik Jaejoong. Orang itu tidak lain adalah Hyung nya, Yunho. Yunho yang saat ini memakai piyama abu-abu bermotif kotak-kotak miliknya, namun kancing bajunya terlepas semua.

"Jaejoong-ah, kancing piyamaku lepas.. bisakah kau mengancingkan piyamaku.. ? " Perintah Yunho pada Jaejoong yang saat ini tengah tidur membelakanginya. Yunho sedikit sebal karena Jaejoong tidak menjawab pertanyaannya. Ia kemudian dengan cepat, memegang pundak Jaejoong yang saat ini tengah tidur membelakanginya, ia kemudian menarik pundak Jaejoong sehingga ia bisa melihat dengan jelas wajah tertidur Jaejoong. Yunho kemudian tersenyum melihat wajah tertidur Jaejoong yang menurutnya sangat imut itu. Tangan kanan Yunho yang bebas lalu terangkat kemudian membelai lembut kepala Jaejoong yang saat ini tengah tertidur.

Yunho kemudian menghentikan elusannya pada kepala Jaejoong, kemudian ia berjalan ke sisi ranjang Jaejoong yang lain. Setelah itu memposisikan dirinya tidur di samping Jaejoong yang saat ini tengah tertidur pulas, tidak menyadari kehadirannya.

.

.

.

.

.

TBC


Bagaimana menurut kalian ? Masih perlu dilanjut nggak ? Apa membosankan jangan-jangan :D hehehe tolong berikan komentar yah gimana chapter ini :D

Review kalian benar-benar membuat saya semangat melanjutkan fanfiction ini hehehe

Oke, Asroyedian undur diri dulu ! Sampai jumpa di chapter berikutnya XDD

salam anak metal \m/