Disclaimer: Midorikawa Yuki – Natsume Yuujinchou

Genre: Angst, Romance

Warning: M, Alternative Universe, Mpreg, Gore, Hardcore, Yaoi, Typo(s), out of Characters, etc.


"Aku hanya mencoba melindungimu."

"Tidak, kau hanya memanfaatkanku. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi di sana, aku akan pergi." Misuzu membawanya naik di atas pundak, terlihat bahwa memang Takashi kecewa pada Seiji. "Jalan kita memang berbeda."

Hempasan angin dari Misuzu saat terbang tak membuat Seiji bergerak dari tempatnya berdiri, tak pula membuatnya untuk melesatkan anak panah pada youkai itu untuk mengambil kembali paksa Takashi. Matanya masih melihat pada sosok mereka yang semakin jauh sampai akhirnya tak terlihat lagi. Kita pasti akan bertemu lagi, Natsume-kun.

Takashi menyembunyikan wajahnya di balik surai-surai lembut Mizuzu, menahannya untuk tak terus terbawa perasaan kecewa pada Seiji. Pikirannya masih menimbang beberapa pilihan yang akan ia ambil. Teringat dulu saat Nyanko-sensei berkata bahwa ia sebagai youkai masih bisa melindunginya dari youkai lain, namun akan jadi berbeda jika harus berurusan dengan manusia. Terlebih yang ia hadapi itu Klan Matoba yang terkenal sangat kuat.

"Dengarkan aku, yang kau hadapi ini bukan masalah antara kau dan aku, melainkan kau dan Klan Matoba..."

Memang tak ada pilihan lain, jika tiba saatnya nanti aku akan kembali. Takashi menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Mengelus surai Misuzu lembut dan memberinya sebuah perintah. Misuzu menyanggupinya, lalu menurunkan Takashi di tempat yang sudah ia tentukan.

"Terima kasih, sekarang pergilah. Aku akan menunggu Nyanko-sensei di sini."

"Sebuah kehormatan bisa melayani Anda, Natsume-dono. Panggil saja aku kembali jika Anda memerlukan bantuan."

Youkai berbentuk kuda itu pun menghilang di balik kepulan asap. Takashi merogoh kembali yukata-nya dan mengeluarkan beberapa kertas mantra milik Klan Matoba. Sejak tinggal di sana, Takashi belajar banyak mantra, segel, sampai pengetahuan baru mengenai youkai. Berharap juga bisa menemukan petunjuk mengenai yuujinchou peninggalan neneknya, Natsume Reiko.

.

.

Sesosok youkai anjing putih besar mendarat di tempat Takashi berada. Merasakan hawa yang sudah Takashi kenal, membuatnya berbalik kemudian memeluk sosok yang sangat ia rindukan. Pelukan yang sangat erat melingkar di kaki Nyanko-sensei atau Madara sekarang. Sosok inugami kuat yang selama ini melindungi Takashi.

"Bukan hal yang biasa kau menggunakan yuujinchou, kecuali kau memang sangat terdesak, Natsume." Ujar Nyanko-sensei melihat pada pemuda tanggung yang masih memeluk kakinya. "Jika kau sudah bebas, lebih baik kita pulang saja pada pasangan Fujiwara."

"Sensei, kau masih mempercayaiku, kan?"

"Tentu saja, walau kau bersama bocah Matoba itu bukan berarti kau akan menjadi seperti mereka."

"Begitu ya," sebuah kertas mantera Takashi tempelkan pada kaki Madara, sesegera mungkin ia mengambil langkah mundur sembari merapal mantra dengan dua jari tertempel di bibirnya. "Jika selama ini kau melindungiku, sekarang giliranku yang akan melindungimu, sensei."

Iris opal Madara melebar, terkejut dengan apa yang Takashi lakukan padanya. Tali-tali segel muncul dari balik rerumputan yang sebelumnya sengaja Takashi sembunyikan. Gerakan Madara menjadi terbatas, terlebih semakin banyak ia bergerak semakin kuat pula tali-tali itu mengikat, melingkari tubuhnya. Madara jatuh bededam menghempas tanah, memaksanya untuk menempel kuat. Geraman penuh kemarahan dapat Takashi dengar keluar dari moncong inugami itu.

"Kau berniat mengkhianatiku, Natsume! Kumakan kau!"

"Maafkan aku, sensei," Takashi menyatukan kedua telapak tangannya, tatapannya kosong, sedang Madara berusaha melepaskan diri dari jeratan tali yang mencengkeram erat hampir setiap bagian tubuhnya, "Menyegel!"

Raungan cukup keras terdengar ke berbagai penjuru hutan, membuat youkai-youkai kecil sampai kelas menengah ketakutan. Orang-orang Klan Matoba yang sedang mengejar Takashi pun ikut mendengarnya. Dengan insting mereka, tentu saja dapat dipastikan bahwa ini merupakan raungan dari youkai yang kuat. Mereka pun membagi diri menjadi dua kelompok, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

Takashi berlutut kemudian terduduk di atas tanah. Menekuk jari-jarinya, air matanya kembali menetes. Semakin menyadari bahwa ia ternyata masih sangat lemah. Cara yang sebenarnya tak ingin Takashi lakukan, jika ia tak begini kemungkinan inugami itu akan ditangkap paksa, dan dijadikan shiki. Sampai saatnya tiba, dan Takashi sudah cukup kuat, ia akan kembali untuk melepas segel Nyanko-sensei. Tenggat masa yang tak akan terasa lama untuk youkai kuat seperti Nyanko-sensei, begitu yang Takashi pikirkan.

o0o0o–

"Matoba-sama! Maafkan kami!"

"Tidak, jangan! Jangan makan kami!"

"Aaakkhh!"

Cahaya matahari pagi mengintip dari balik rimbunnya dedaunan pohon. Perlahan, Takashi membuka mata dari balik telapak tangannya –walau cahayanya tak langsung mengenai mata, masih terasa menyilaukan. Sebuah sengatan menjalar ketika ia menggerakan kakinya yang mengalami dislokasi sendi akibat terjatuh dari pohon. Takashi meringis menahan sakit yang melingkupi kakinya. Ini buruk, Takashi tak akan bisa kembali ke rumah utama dengan kondisi begini. Terlebih bisa dibilang ia keluar tanpa izin, para tetua itu pasti akan mengomelinya habis-habisan tak peduli dengan kondisinya yang tak mengungungkan seperti ini. Ia menghela napas panjang, setidaknya Nyanko-sensei berhasil ia segel sehingga tak akan ada tahu mengenai keberadaan kucing calico itu. Matoba-san, maafkan aku ...

Takashi memegang kepalanya yang terasa berat, ia mengerang. Semuanya terasa begitu cepat. Selepas menyegel kucingnya, Takashi yang hendak kembali dan meminta maaf pada Klan Matoba –menyadari tindakan buru-burunya malah akan membuat pasangan Fujiwara terkena dampaknya lagi, tapi ia juga tak bisa mengabaikan Nyanko-sensei– harus berhadapan dengan shiki-shiki dari kaki-tangan Matoba yang masih mengejarnya. Takashi sendiri belum mampu mengendalikan mereka, ada misinterpretasi dalam perintah membuat pemuda itu harus melarikan diri yang tentunya menyebabkan shiki-shiki itu semakin gencar mengejarnya.

Satu hal yang di luar dugaannya, di tengah gelapnya malam dalam pengejaran, Takashi melihat bagaimana shiki milik Matoba Seiji yang belum pernah ia lihat sebelumnya, memakan anggota klan yang melakukan pengejaran terhadap pemuda itu. Rasa terkejut melihat youkai besar dan mengerikan itu memakan manusia, membuat Takashi tak bisa mengontrol langkah kakinya sendiri, dan tak menyadari bahwa ada jurang di belakangnya. Tangan Seiji tak sampai untuk menggapai tangan Takashi, hanya jari yang saling bersentuhan tak membuat mereka saling berpegangan satu sama lain.

Aku ternyata sudah salah paham. Matoba-san sampai melakukan itu untukku. Dia ... ingin melindungiku kan, tapi tak sampai harus begitu. Kenapa aku selalu menyebabkan berbagai masalah. Apa aku memang tak bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk lain? ... Aku hanya bisa memberikan kemalangan saja.

Sebuah outer sutra menutupi tubuh Takashi. Terasa tubuhnya diangkat oleh seseorang. Dapat rasakan tangan besar itu mendekapnya, membiarkan tubuh Takashi bersandar pada dada bidang orang yang saat ini menggendongnya. Takashi mendongak, melihat pada wajah yang ia kenal. Matoba Seiji.

"Maaf aku terlambat menjemputmu."

Matoba-san. "... Maafkan aku."

"Cedera kakimu harus segera ditangani. Kita pulang."

Takashi tak menjawab lagi, tubuhnya sudah terasa sangat lelah. Seiji pun tak mengatakan apapun, namun tampak sebuah kelegaan saat ia berhasil menemukan Takashi dan itu dapat terlihat dari bagaimana pria itu memperlakukannya saat ini. Takashi meraba dada bidang Seiji, mendengar detak jantung Seiji saat ini. Begitu dekat. Begitu menenangkan.

o0o0o–

-sebulan kemudian-

Sudah hampir tiga minggu Takashi menjadi istri dari Matoba Seiji. Semua masih berjalan normal sama seperti biasanya, yang berbeda hanya bagaimana Takashi sudah seranjang dengan Seiji, suaminya. Selama tiga minggu awal pernikahan itu pula Seiji belum menyentuhnya walau setiap malam mereka tidur bersebelahan satu sama lain.

Ketika Seiji membawa pulang Takashi yang penuh luka lecet dan cedera sendi, para pelayan itu tampak sangat panik. Seiji tak menampakkan reaksi apapun, Takashi tak mencoba untuk menerka, tapi hal itu tentu membuatnya gusar. Bagaimana tidak, para tetua itu menatap Takashi sedikit sinis, dan Seiji tak berkata apapun. Berbagai sangkaan buruk mengenai sikap Seiji yang dingin padanya sudah Takashi anggap sebagai bentuk kemarahan yang tertahan. Tapi, jika memang Seiji marah seharusnya pria itu tak mendampinginya setiap hari bahkan menungguinya sampai tertidur.

o0o0o–

"Takashi-sama, silakan gigit kayu ini," seorang tabib lelaki yang terlihat seusia dengan Shigure memberikan sebuah kayu untuk Takashi gigit saat akan memulai proses pengembalian posisi sendi kaki Takashi yang terkilir, "Ini akan berlangsung dengan cepat."

"Mmh," Takashi menurut dan menggigit kayu itu, ia melirik Seiji yang duduk di samping ranjang lewat ekor matanya.

Tabib itu mengambil sebuah krim atau obat, entah Takashi juga tak mengerti. Krim itu dibalurkan pada kakinya yang terkilir, tubuh Takashi gemetar. Rasanya kenapa malah menakutkan, bukankah tabib itu bilang bahwa ini akan berlangsung dengan cepat?

Seiji menggenggam tangan Takashi seperti isyarat bahwa ia ada di sini. Bersama Takashi. Takashi tak perlu merasa takut. Pemuda itu balik menggengam tangan besar Seiji. Sebuah teriakan tertahan karena terganjal kayu di mulut Takashi. Bulir air mata menetes saat proses pengembalikan dislokasi sendi berakhir. Tubuh Takashi gemetar. Seiji yang sedari awal diam saja akhirnya bersuara dan meminta pada seorang pelayan untuk diambilkan sapu tangan. Perlahan dan lembut, Seiji mengelap peluh di dahi Takashi. Dengan ujung ibu jarinya pula Seiji menghapus air mata Takashi.

"Sudah selesai," ujarnya sembari membantu melepaskan kayu yang tadi Takashi gigit, "Kau akan pulih dalam beberapa hari."

"M-Matoba-san..."

"Sheeshh, istirahatlah. Nanti kita bisa bicara lagi."

Seiji menyingkirkan poni rambut yang menutupi kening Takashi lalu mengecupnya. Semburat merah samar terlihat di pipi pemuda itu. Sang kepala klan pun keluar saat Takashi telah terlelap dalam tidurnya. Segala kegusaran yang sebelumnya berkecamuk dalam dada melebur sedikit demi sedikit saat Seiji menemaninya selama proses pengobatan sampai akhirnya sekarang ia bisa berjalan normal lagi.

o0o0o–

Takashi sudah menyiapkan yukata baru untuk baju ganti suaminya. Seiji baru saja keluar dari kamar mandi sembari mengeringkang rambut dengan handuk di tangan. Dengan hanya berbalut handuk lain melingkari pinggangnya, ia berjalan mendekati Takashi yang sedang duduk di sisi ranjang.

"Giliranmu. Airnya sudah kuganti dan kuisi lagi dengan air hangat yang baru."

"A-ah, terima kasih, Seiji-san. Padahal tak perlu sampai repot begitu." Takashi berdiri, melihat wajah Seiji. Seorang pria dengan dada telanjang dan berbidang entah kenapa membuat Takashi berdebar. "Yukata-mu sudah kusiapkan."

"Terima kasih. Oya, wajahmu memerah. Apa kau terkena demam lagi?"

"T-tidak, aku hanya ... hhh," Takashi mengangkat tangannya dan mengelus pipi Seiji, melihat gores bekas luka memanjang di mata suaminya. "Maaf aku selalu menyebabkan masalah untukmu."

Seiji memegang tangan sang istri di pipinya, menggengamnya, lalu mencium lembut punggung tangan Takashi. "Tak mengapa, sudah seharusnya kita harus saling mengerti dan menghilangkan rasa curiga, bukan?"

"Uh-um, ya," Takashi terdiam sejenak, rona merah terlihat samar di pipinya, "Seiji-san, aku ... aku tak keberatan untuk melayanimu malam ini."

"Oh? Apa ini benar-benar izin darimu?"

Takashi mengangguk, ia menyadari bahwa sudah saatnya menyerahkan diri sebagai istri. Seiji juga pasti sudah menunggu untuk hanya sekadar mendapat izin menyentuhnya. Dulu Takashi akui, Seiji kerap menarik paksa tangan atau memojokkanya ke dinding agar ia mau menuruti kemauan pria itu. Sejak mereka bersama sikap Seiji melembut dan berubah lebih tak buru-buru main tangan jika Takashi menolak.

Seiji mencondongkan wajahnya, Takashi menutup mata dengan wajah sedikit terangkat – mengira akan dicium. Pria berambut hitam itu hanya tersenyum tipis, membisikkan sesuatu. Sebuah ungkapan terima kasih membuat Takashi sedikit menahan malu. Ia segera membuka mata saat mendengar kekehan dari suaminya.

"S-Seiji-san!"

"Hm? Kau ini memang benar-benar polos sekali, Takashi-kun." Sebuah kecupan Seiji berikan, "Bagaimana?"

"Uh, d-dasar!"

Seiji kembali membisikinya, "Ini akan jadi malam yang panjang, Takashi-kun. Jadi nikmatilah."

Ucapan Seiji membuat pipi Takashi kembali merona. Rona merah itu semakin menjadi saat Seiji menggigit telinga Takashi. Embusan napas Seiji dapat Takashi rasakan. Panas sedikit memburu. Vibrasi berbeda terasa sampai ke punggung saat Seiji mulai turun ke bagian leher. Mengecup lembut kulit putih pucat Takashi.

"Ah."

Seiji hanya tersenyum, samar tapi jelas sekali di telinganya. Suara Takashi membuatnya semakin berani untuk bergerak lebih jauh. Ia pun memundurkan badannya, ingin melihat wajah pemuda tanggung itu. Merah dan sangat manis. Seiji mengecup dahi Takashi cukup lama, kemudian turun ke hidung, lalu berhenti di bibir mungilnya. Seiji mencium Takashi. Perlahan. Dengan lembut. Menikmati setiap detiknya. Menggesekkan bibirnya pada bibir Takashi. Menggigit bibir bawah Takashi. Menjelajah ke dalam mulut Takashi dengan lidahnya dan memperdalam ciuman mereka.

Takashi mengangkat tangannya dan melingkari leher suaminya, lalu menekankan tubuhnya pada Seiji. Memang wajah mereka tak sejajar, tapi Seiji tak begitu tampak menjulang di depan Takashi. Dan, tubuh mereka menyatu sangat pas. Nyaris sempurna.

Ketika Seiji makin memperdalam ciumannya, ia menggerakan tangannya ke belakang tubuh Takashi dan menangkup pantatnya. Seiji berusaha menekankan bagian bawah tubuhnya yang mulai mengeras pada Takashi. Takashi menghentikan ciumannya, berusaha menghirup udara, dan berkata dengan parau, "Aku ingin Seiji-san. Sekarang."

Takashi menangkup wajah Seiji dengan kedua tangannya dan menciumnya lagi, membuat Seiji kehilangan kendali. Seiji membalas dengan sama berhasratnya. Mereka saling bereksplorasi, saling menyentuh, saling mencium, dan saling mencicipi. Seiji berusaha melepaskan tali pengikat yukata istrinya, membiarkan kain itu jatuh ke lantai, lepas dari tubuh Takashi, memperlihatkan tubuh yang molek itu terekspos sempurna. Seiji menahan kedua tangan Takashi ke samping tubuhnya dan merendahkan kepalanya, menempatkan mulutnya di salah satu puting Takashi yang mengeras. Takashi gemetar saat merasakan mulut Seiji yang hangat.

Seiji dengan perlahan mendorong tubuh Takashi ke ranjang dan langsung melepaskan celana dalam istrinya, lalu melemparkannya ke lantai, sementara Takashi menarik handuk yang melingkari pinggang Seiji, dan melemparkannya pada sisi ranjang. Seiji memposisikan tubuhnya. Takashi merengkuh Seiji saat pria itu menciumnya, mencengkeram punggungnya, lalu mengelus pinggangnya, dan turun ke pantatnya. Ketika Seiji mencium salah satu puting Takashi dan melanjutkan pada puting yang lain, Takashi melengkungkan badannya, meminta lebih. Seiji menempatkan kaki Takashi di pundak agar bisa memasukinya.

"S-sekarang, ah, Seiji-san."

"Sheesh, pelan-pelan saja, Takashi-kun."

Perlahan, Seiji mulai mengekplorasi tubuh Takashi. Memasuki lebih dalam. Gelombang gairah menerpa Takashi saat Seiji menyatukan tubuh mereka. Keduanya bergerak dalam satu ritme, bagaimana tubuh mereka saling merespons, melepaskan hasrat yang selama ini mereka pendam –walau lebih tepatnya hasrat Seiji-lah yang lebih besar.

Kebutuhan mereka atas satu sama lain begitu besar, hasrat di antara mereka terlalu membara, dan melalui percintaan inilah akhirnya semua terasa sangat sempurna. Takashi mencapainya lebih dulu, setiap syaraf tubuhnya menjerit, dan setiap ototnya bergetar dengan kepuasan. Seolah kenikmatan yang dirasakan Takashi menular pada Seiji, tidak lama kemudian ia pun mengerang saat mencapai puncak yang sama. Dengan tubuh bergetar dengan kepuasan, Seiji terkulai di atas tubuh Takashi.

"S-Seiji-san –"

"Aku tak tahu kalau bersamamu bisa senikmat ini," Seiji berusaha mengatur ritme napasnya, "Kau baik-baik saja?"

"Aku merasa luar biasa."


Natori Shuuichi baru mendapatkan kabar mengenai pernikahan antara Matoba Seiji dan Natsume Takashi. Pernikahan tertutup yang sepertinya memang dirancang agar tak banyak orang yang tahu, terlebih dari mereka yang berada dalam bisnis pengusiran youkai. Fakta lain yang ia dapatkan juga soal kucing-babi milik Takashi yang ternyata disegel dengan jejak mantra dari Klan Matoba. Sebuah sangkaan buruk muncul di pikiran pria berkacamata itu. Sebuah permainan kotor kembali Matoba mainkan untuk mendapatkan apa yang selama ini menjadi incaran mereka, cucu dari Natsume Reiko.

"Urihime, jika kau bisa mendekati kediaman klan utama Matoba, tolong awasi apa Natsume-kun baik-baik saja."

"Baik, Nushi-sama."

Youkai wanita itu pun menghilang di balik kepulan asap. Hiiragi yang berdiri di sampingnya tak berkata apa-apa. Pun, ketika Shuuichi kembali berjalan untuk keluar hutan, ia tetap berjalan mengikuti tuannya. Samar, namun terasa bagi Hiiragi. Ada gemuruh kemarahan dalam dada Shuuichi.

Matoba Seiji, apa yang sebenarnya kau rencakan kali ini, batinnya.

"Esok aku akan menemui pasangan Fujiwara. Ada yang ingin kupastikan. Kau awasi saja lokasi penyegelan shiro-buta-neko-manju itu."

"Baik, Nushi-sama."

o0o0o–

Jika ada satu orang yang membuat Natori Shuuichi rasanya ingin membelah gunung, itu sudah pasti Matoba Seiji-lah orangnya. Setelah mengetahui bagaimana mereka memperdaya pasangan Fujiwara dengan sebuah pertukaran yang tak wajar, Shuuichi merasa harus bisa mencari cara agar dapat berbicara dengan Takashi. Sayangnya, melawan sebuah klan sebesar Matoba sama sama mencari mati. Shuuichi memutar otaknya.

Ia mencoba untuk melakukan pengiriman pesan dengan shiki-nya, cukup berisiko memang jika dilakukan, tapi Shuuichi ingin tahu hasilnya. Sebuah boneka kertas ia kirim dengan membawa catatan kecil untuk Takashi. Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Tak ada hasil. Masalahnya adalah jika boneka kertasnya ketahuan seharusnya ada sinyal datang bahwa shiki miliknya itu dihancurkan, tapi tak ada informasi apapun Shuuichi terima. Pria itu menggigit ibu jarinya cemas.

Mungkinkah kali ini aku tak berhasil? Natsume-kun, aku pasti akan menyelamatkanmu.

Sementara itu Takashi baru menerima sebuah pesan yang dikirim Shuuichi lewat celah jendela kamarnya. Pemuda itu terdiam saat membaca pesan yang menurutnya akan menjadi masalah jika sampai Seiji tahu. Cepat-cepat Seiji menulis balasan pada badan boneka kertas itu, dan meminta agar Shuuichi tak melakukan hal berbahaya seperti ini lagi.

"Pergi," ujar Takashi seperti memberi perintah pada boneka kertas itu, dalam sekejap shiki itu keluar lewat celah yang sama dan melesat pada pemiliknya.


Kediaman Utama Klan Matoba

10:15 PM

-dua minggu hari kemudian-

Seorang pelayan berjalan menghampiri Seiji yang baru saja kembali dari pertemuan rutin antar klan, tentunya ia sebagai kepala Klan Matoba sudah jadi kewajiban untuk menjadi pemimpin pertemuan. Sepucuk surat sudah berada di tangan Seiji, sementara pelayannya menyampaikan laporan mengenai sebuah shiki yang menjadi pengantar surat itu.

Seiji melihat nama pengirim surat dan ditujukan untuk siapa penerimanya. Natori, rasanya sudah lama sekali. Ia membuka surat itu dan membaca keseluruhan isinya. Gigi Seiji gemertak, seketika itu pula diremasnya kertas itu. Ia mendengus.

Takashi melihat dari pundaknya, dan berbalik saat suaminya memasuki kamar. Seulas senyum mengembang di wajahnya. "Selamat datang, Seiji-san," ujarnya sembari berjalan menghampiri Seiji, dan membantu melepaskan jasnya. Seiji masih diam. "Ada apa? Apa pertemuannya tak berjalan baik?"

"Apa kau hanya menghubungi pasangan Fujiwara saja selama ini?"

"Eh? Tentu saja, sesuai perintahmu."

"Oh? Tak ada yang lain?"

Takashi terdiam sejenak. "Tidak ada."

"Bukankah kita sudah sepakat untuk saling percaya satu sama lain, dan tak merahasiakan apapun? Kenapa kau memulai untuk memunculkan keraguanku padamu?"

Dingin. Nada suara Seiji terasa dingin dan hawanya cukup membuat Takashi tertekan. "Apa maksudmu, Seiji-san?"

Seiji melemparkan amplop beserta kertas yang sudah diremas. Iris Takashi melebar melihat surat yang sudah teronggok di lantai. Saat Takashi merendahkan tubuhnya, mencoba untuk mengambil surat itu, Seiji menarik paksa tangan Takashi. "Katakan, apa maksudmu berhubungan dengannya."

"S-sakit, Seiji-san. L-lepas," Takashi mengerang, memohon untuk dilepaskan dari cengkeram tangan Seiji, "Aku tak punya hubungan apapun, bukankah aku sudah menjadi istrimu, dan aku hanya mencintai Seiji-san seorang."

"Oh?" Seiji menaikkan sebelah alisnya, ia kemudian melepaskan tangan Takashi lalu mendorongnya hingga pemuda itu tersungkur.

"Itu hanya surat biasa, aku mohon maafkan aku," isak Takashi sembari memohon, namun suaminya tak sedikit pun menatap balik, "Seiji-san, aku mohon."

"Natori, ya. Kau tahu kan hukuman apa yang harus diterima untuk seorang pengkhianat, hm?"

[Bersambung]


[Preview: Kapitel 3]

"Hamil?" Seiji terdiam sejenak mencoba mencerna kata yang seharusnya membuatnya senang, tapi entah kenapa itu membuatnya semakin marah. "Pindahkan dia. Bawa dari sel, dan pindahkan ke ruangan tertutup lain."

ooooo

"Natsume-dono menyegel Madara? Bagaimana bisa?" Misuzu terkejut mendengar kabar itu, ia kemudian melihat pada Hinoe, "Apa kita harus ikut campur?"

"Mungkin orang-orang dari Klan Matoba itu sudah mencuci otak Natsume," kepulan asap keluar dari mulut youkai wanita itu, "Tunggu dulu saja, kita harus mengumpulkan youkai lain untuk menolongnya. Kita tak boleh gegabah, kan?"

"Ini akan jadi menarik jika dua golongan berbeda bertarung hanya untuk seorang anak manusia."

"Natsume. Setidaknya kita bertarung untuk seseorang yang sangat berharga, bukan?"


[A/N]

Halo, kita ketemu lagi. Semoga ini plotnya gak kecepetan atau kerasa kayak terburu-buru, jadi enjoy ya. Kapitel-kapitel awal masih belum kerasa tegangnya, sih, tapi nanti beberapa kapitel berikutnya bakal mulai kerasa. Kan masih awal. Oh, iya, yang masih di bawah umur jangan baca, ya!

Sorry, kalau note-nya kesannya gak guna banget.

Kuroneko Lind