warning: un-edited.
.
Hari ini adalah hari terakhir dari minggu pertama kepindahan Taiga masuk sekolah barunya.
Taiga tak perlu lagi berangkat dengan diantar bibinya. Ia sudah hapal benar belokan mana yang harus diambil untuk menuju sekolah, bahkan ia sudah tahu manakah permulaan gang yang menjadi jalan pintas yang membuatnya lebih cepat sampai (Taiga tidak bilang ke bibinya; kemarin ia iseng membuntuti seorang kakak kelas yang sepertinya satu sekolah dengannya, dan untungnya benar saja ia sampai), tapi tak diambilnya, khawatir tersesat, sedangkan ia sendiri baru sekali mencobanya.
Bersamaan dengan sinar matahari yang makin hari makin terasa hangat, Taiga berangkat menuju sekolah dengan penuh semangat. Dipegangnya erat panggulan tas barunya (bisa juga dibilang sebagai sebagai hadiah perpisahan dari orang tuanya yang pergi ke Amerika); derap kakinya menginjak kelopak bunga-bunga sakura yang mekar hanya sekali dalam setahun itu.
.
Di tengah jalan, ia bertemu juga dengan beberapa teman yang ia ketahui sebagai teman sekelasnya. Bahkan satu dua menyapanya. Taiga ingin balas menyapa mereka, atau sekalian saja ikutan berangkat bersama, tapi apa boleh buat, Taiga cuma berhasil ingat beberapa nama temannya di kelas. Mungkin, ia harus membuat lagi sesuatu seperti target "memiliki 50 teman" yang pernah dibuatkan oleh orang tuanya ketika masih kelas satu dulu.
Padahal ia berharap; setidaknya ia akan bertemu dengan Tetsuya. Tetsuya rambutnya biru muda, badannya terhitung kecil dibandingkan dengan anak-anak laki lainnya. Atau bolelah dengan Ryouta yang selalu tebar senyum lebar itu. Yang lain juga tak apa selama ia masih kenal. Tapi jangan Seijuurou. Taiga tahu bahwa ia adalah ketua kelas yang bisa diandalkan, wajahnya sepintas terlihat ramah dan hangat; tapi entah kenapa Taiga merasa segan untuk mendekatinya.
Lalu selanjutnya, Taiga mencoba mencari-cari seseorang berambut biru gelap yang sepantaran dengannya di antara banyaknya orang yang berjalan di trotoar; Aomine Daiki. Daiki yang pertama kali menjadi temannya di kelas. Sejauh ini, Daiki lah yang paling seru untuk diajak mengobrol maupun bermain bersama. Tapi sepertinya, dia sudah sampai duluan, karena biasanya seperti itu. Taiga membayangkan; Daiki datang ke kelas, belum mengerjakan tugas sama sekali, dan akan mencari seseorang yang sudah menyelesaikannya untuk disalin.
Namun tak lama kemudian, tak terasa ia sudah sampai di depan sekolah. Sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya.
.
Taiga langsung menuju kelasnya sesudah mengganti sepatunya. Dan ternyata apa yang dipikirkan olehnya tadi benar saja, ia menemukan Daiki ada di bangku pojok belakang, terlihat kebingungan. Dan dalam hitungan sekejap, Daiki yang melihat Taiga di depan pintu; raut mukanya langsung berubah menjadi sedikit lebih cerah.
"Oi, Taiga, sini! Bantu aku!"
Ia sengaja melambatkan langkahnya menuju bangkunya yang terletak di samping kepunyaan Daiki. Benar kan. Taiga nyengir saja melihat Daiki yang sudah tidak sabaran lagi.
"Jangan sengaja dilambat-lambatin gitu dong!" Ada nada sedikit kesal yang terdengar dari mulutnya itu.
Taiga terkekeh, mempercepat langkahnya dan menghampiri Daiki. Rupanya Daiki belum menyelesaikan tugas karangannya. Padahal seingatnya tema yang ditentukan gurunya cukup mudah, tentang binatang yang ada di rumah.
"Memangnya tak ada satu binatang pun di rumahmu?"
Daiki menggelengkan kepalanya perlahan. "Nggak, Taiga. Aku tidak punya peliharaan sama sekali. Dulu punya sih, ikan yang dapat dari matsuri, tapi sekarang sudah tidak ada lagi."
"Gapapa, Daiki." Taiga berusaha menjelaskan tugas yang diminta guru mereka kemarin. "Bukannya bu guru juga bilang; boleh juga binatang yang sering kaulihat di rumah?"
"Masa aku cuma cerita tentang kucing yang sering numpang tidur di halaman belakang?" Daiki menolak usulan itu. "Nggak seru, kecuali kucingnya memang bagus, aku mau tulis!"
"Memang kucingnya seperti apa?"
"Ya... begitu. Kucingnya putih, seperti di rumah-rumah kebanyakan. Kamu tahu kan? Makanya aku malas tulis!"
"Kok gitu sih? Tulis saja seadanya dulu!"
"Suka-suka aku dong!" Daiki ngeyel. "Eh, Taiga, lihat tugas yang punyamu dong!"
"Enak aja."
"Pelit."
"Memang."
"Amit-amit."
"Karena kamu bilang aku pelit, ya sudah aku jadi pelit saja, ke kamu saja tapinya." Taiga menjulurkan lidahnya, mengejek lawan bicaranya.
"Iya deh, iya deh," Daiki yang biasanya suka mendesak kini sedang dalam keadaan terdesak, mengalah. "Nah, sekarang, Kagami Taiga-kun yang baik hati dan suka menolong teman, maukah kau meminjamkan pada saya buku tugasmu itu?"
Taiga nyengir sekali lagi. Asyik sekali mengerjai Daiki. "Buat apa Aomine Daiki-kun? Mau kau salin punyaku, hah?"
"Mungkin."
"Ngaco." Taiga menjawabnya segera. "Mana boleh? Kalau karangan kita sama, pasti sensei akan segera tahu. Dan aku nggak mau kena hukuman atau tugas, Daiki."
"Eh? Benar juga ya katamu?"
"Ampun deh, Daiki. Emang semalam kamu ngapain, nggak ngerjain tugas begitu? Sampai kamu lupa hal sepele kayak gitu?"
"Aku ketiduran, hehehe." Alasan Daiki, seperti biasa, ketika meminta pinjaman tugas dari orang lain.
Kemudian, Taiga mengalihkan pandangannya, menujukannya kepada jam dinding yang ada di depan kelas. Beberapa belas menit lagi, bel masuk akan berdering.
"Ayo tulis segera, Daiki. Sebentar lagi kita masuk."
"Katamu, mana yang lebih baik: kucing atau ikan yang sudah mati itu?"
"Nggak tahu lah, terserah kamu."
"Yaudah deh, aku tulis tentang kucing saja deh."
Akhirnya, setelah Daiki masih sempat-sempatnya pilih-pilih di waktu yang mendesak, dia mengambil alat tulisnya, mulai menuliskan judul di buku tulis yang benar-benar masih bersih dari tinta.
"Eh, Taiga," Daiki bertanya lagi. "Kamu tahu nggak, nama kucing yang sering Satsuki sebut? Apa namanya?"
"He?" Taiga mengerinytikan dahinya. "Nggak tahu. Memangnya kenapa?"
"Itu loh… yang depannya pakai huruf 'p'… apa sih?"
"Kucing panu, kali?" Jawab Taiga asal-asalan.
"Bukan."
"Kucing panci?"
"Nah mirip itu, sedikit lagi."
"Kucing pancing?"
"Nah! Itu dia! Kucing persia!" Nggak nyambung memang; tapi Daiki setengah berteriak kegirangan, langsung melanjutkan karangannya dengan terburu-buru.
"Oh, kucing persia, toh." Taiga mengangguk-angguk, ia rasanya pernah mendengar nama tersebut di siaran televisi. Seingatnya, kucing itu memang kucing peliharaan yang bagus. "Daiki, memang kucing di rumahmu itu kucing persia?"
"Bukan, kucing liar biasa kok."
"Terus kamu nanya gitu buat apaan?"
"Lihat saja nanti," Daiki makin cepat dalam menulis karangannya, ada senyuman nakal yang pernah keluar di wajahnya.
.
Ternyata, sensei menyuruh semua murid di kelas untuk maju satu per satu secara acak, dan menceritakan apa yang mereka tulis.
Taiga bercerita tentang ikan yang pernah dipelihara di akuarium yang ada di rumahnya yang dulu. Meskipun sedikit grogi karena dilihat oleh semua temannya di kelas, ia berhasil menyelesaikannya dan merasa bangga karena semuanya memberikan tepuk tangan yang begitu meriah.
Begitu pula juga dengan yang lain. Ryouta bercerita tentang anjing kesayangannya (Taiga sedikit bergidik mendengarnya); Tetsuya dengan lancarnya menyampaikan kisah tentang tikus yang sering sekali mondar-mandir di rumahnya, namun akhirnya tertangkap juga (dan kebanyakan anak-anak heran; kok bisa-bisanya Tetsu menceritakan hewan menjijikan itu dengan muka sedatar itu?). Dan semuanya menjadi begitu berbeda ketika Seijuurou maju. Suasana kelas mendadak hening. Sang ketua kelas itu bercerita tentang burung peliharaan ayahnya yang katanya bisa menirukan ucapan orang; juga bagaimana orang-orang yang datang ke rumahnya selalu takjub melihat kemampuan burungnya itu. Dan akhirnya, Seijuurou menjadi orang yang mendapatkan tepuk tangan paling ramai.
"Nah, selanjutnya. Aomine Daiki." Senseimenyebutkan giliran bocah berambut biru gelap tersebut.
"Taiga, kau diam saja ya ketika aku bercerita?"Pintanya pada Taiga. Taiga hanya mengangguk pelan, matanya mengikuti gerakan Daiki maju yang dengan seringai khasnya itu. Apa yang disembunyikan Daiki tentang kucing persia.
Daiki menarik napas perlahan, melepaskannya, lalu mulai berbicara "Jadi, di sini, aku akan menceritakan tentang kucing persia yang…"
Ah, mau pamer toh ceritanya, tapi bohong. Dasar.
Daiki mulai bercerita. Tentang kucing yang (katanya) sering ia elus bulunya yang lembut, dan gambaran lainnya yang didengarkan dengan penuh minat oleh temannya yang lain. Selamat Daiki, kau berhasil menipu satu kelas lagi.
Tahu-tahu, Taiga yang ogah-ogahan mendengarnya, tertegun dengan suara satu kelas yang bertepuk tangan. Daiki kembali ke mejanya, menepuk pundaknya sambil memberikan tatapan yang menyiratkan pesan seperti: aku berhasil kan?
"Terserah apa katamu, lah."
Begitu tepuk tangan mereda, dari deretan bangku depan, ada yang berseru dan mengacungkan tangan.
"Sensei!"
Ekspresi Daiki yang tadi begitu terlihat gembira, sekarang mendadak lenyap menjadi pias.
"Ya, Momoi Satsuki? Ada apa?"
Yang namanya disebut mengalihkan kepalanya ke belakang, menunjukkan jari telunjuknya kepada Daiki.
"Dai-chan bohong! Dia tidak punya kucing persia!"
"Eh, begitukah, Aomine-kun?"
Kelas mulai kembali ramai, terutama oleh suara anak-anak perempuan. Satsuki tersenyum puas, diikuti suara huuu yang mulai memenuhi kelas. Taiga terbahak-bahak kencang, menertawakan Daiki yang kelayapan sendiri.
terimakasih untuk seluruh pembaca!
