Kenapa, Hyung?"

"Tidak apa-apa," jawab Jae Joong dengan muka masam.

Berhubung Jae Joong menyatakan tidak ada apa-apa, Chang Min pun berusaha acuh dan melahap sisa kuenya lagi sekali suapan. Bahkan ia tidak pernah sadar jika pria di depannya sedang menahan emosi karena sikapnya.

.

.

.

Title : LOVE TRIANGLE

Pair : Homin × Yunjae

Rate : T (sementara waktu)

Genre : Romance comedy

Length : 2 of ?

Disclaimer: HoMin milik Tuhan, orangtua mereka, dan juga para Cassiopeia. Author hanya meminjam namanya saja! TYPOS! Tidak suka pair HoMin, silakan menyingkir!

.

.

.

~HOMIN~

.

.

.

《 Chapter 2 》

Hari yang cukup sibuk untuk Chang Min. Setelah menghitung setoran yang diberikan para pengantar susu dan juga staf lapangan, kini saat baginya untuk melaporkan laporan pemasukan pada sang atasan. Permasalahannya, saat ia berniat ke ruangan Bos, Jae Joong menghalangi jalannya sambil menebar ekspresi mencurigakan.

Menuruti otak pintarnya yang daya pikirnya tidak pernah salah, Jae Joong pasti memiliki maksud tersembunyi menemuinya, terlebih pada jam kerja seperti sekarang ini.

"Chang Min-ah, kau ingat Jung Yun Ho?"

Bagaimana tidak ingat jika Jae Joong selalu menyebut nama itu setiap ada kesempatan. "Ada apa dengannya," tanya Chang Min ambigu, antara berbaik hati menanggapi keantusiasan Jae Joong dan juga malas.

"Aku memutuskan untuk mendekatinya."

Chang Min tersenyum sinis. "Berita yang cukup baik untuk hari ini. Ada lagi?" tanyanya menunjukkan laporan keuangan pada Jae Joong. "Aku sedang terburu-buru."

"Kau ini memang tidak peka," ungkap Jae Joong dengan jujur. "Pinjami aku uang, dong! Aku perlu uang untuk berpura-pura menjadi pelanggannya, 'kan?"

"Jika aku punya akan kuberikan, Hyung."

"Maksudku, aku ingin meminjam uang perusahaan. Kalau sudah gajian akan kukembalikan." Jae Joong memasang wajah memelas yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan lawan. "Ayolah, Min-ah! Kau tidak tahu bagaimana tersiksanya orang yang jatuh cinta, sih! Sangat menggelisahkan."

Chang Min sedikit tersinggung dengan ultimatum yang dikelurkan Jae Joong. Banyak orang menyebutnya playboy karena sering berganti pasangan setiap bulan. Sudah barang pasti ia sering merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta. Namun sejauh yang bisa ia ingat, ketika jatuh cinta ia tidak berlebihan seperti Jae Joong. Itulah yang membedakan dirinya dan sahabatnya itu.

"Aku akan bicarakan pada Bos setelah ini." Chang Min memilih mengalah dan berniat pergi, tapi tangan Jae Joong lebih dulu menghentikannya. "Ada apa lagi?" tanyanya sedikit risih bahunya diremas kuat oleh Jae Joong.

"Atas namamu, ya!" pinta Jae Joong mulai tidak tahu diri.

"Lagi?"

"Hehe. Pinjamanku pada perusahaan sudah banyak bulan ini."

Penyesalan mulai merasuk ke benak Chang Min karena memiliki sahabat macam Jae Joong yang lebih banyak merugikan ketimbang menguntungkan. Lain kali mungkin ia harus membawa Jae Joong ke pasar hewan dan menukarnya dengan babi yang lucu.

"Akan kuusahakan," jawab Chang Min dengan pasrah.

.

.

.

"Hyung, bukankah dia pelanggan pertama kita?"

Berbekal informasi dari Ryeo Wook, Yun Ho mencuri lihat ke arah pintu. Tampak Jae Joong melangkah mendekatinya dengan wajah berseri yang tidak mampu diartikan oleh Yun Ho. Bahkan Yun Ho yakin Jae Joong memakai pewarna pipi sebelum mendatangi tokonya. Pria pesolek, pikirnya dengan geli.

"Aku ke belakang dulu, Hyung," izin Ryeo Wook, memilih undur diri untuk kembali ke area kerjanya. Menyisakan Yun Ho dan Jae Joong yang saling melempar senyum dengan gelagat malu-malu.

"Kita bertemu lagi," ucap Jae Joong dengan basa basi. "Bagaimana tokomu? Ramai pengunjung?"

"Lumayan." Yun Ho mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang dimungkinkan datang bersama Jae Joong. "Kau sendirian?"

"Ya."

"Chang Min tidak ikut?"

Pertanyaan Yun Ho membuat wajah Jae Joong berubah tidak semangat. Perasaannya sebelum ini benar, Yun Ho pasti memiliki kesan baik saat bertemu Chang Min tempo hari. Menurutnya sendiri ia lebih menarik dari Chang Min. Dilihat dari segi mana pun ia lebih manis dan lebih ramah ketimbang Chang Min. Mungkin di lain kesempatan ia tidak akan lagi membawa Chang Min meski terpaksa sekali pun.

Sadar jika pertanyaannya mungkin sudah berlebihan dan terkesan ikut campur, Yun Ho memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Walau ia tidak ingin munafik jika menginginkan pertemuan kedua dengan Chang Min.

"Kau ingin pesan apa?"

"Kue seperti sebelumnya saja. Minumannya juga sama," sahut Jae Joong mengulas senyum terpaksa. "Aku tunggu di mejaku, ya."

Yun Ho mengangguk. "Oh, ya, tokoku menerima pesanan sekaligus jasa mengantaran kue ke rumah-rumah pelanggan. Jika tidak keberatan, hubungi aku kalau ada temanmu yang ingin membeli kue tapi keberatan untuk keluar rumah," jelasnya mengangsurkan kartu namanya pada Jae Joong. "Aku menunggu kabar baik darimu, Jae Joong-Ssi."

Sedikit ragu Jae Joong menerima kartu nama tersebut. "Nomor yang tertera di sini, nomor pribadimu, 'kan?" tanyanya berharap lebih.

"Tentu saja."

"Oke, aku akan menyimpan nomormu dengan baik. Terima kasih."

Usai menyimpan kartu nama Yun Ho ke tas selempangnya, Jae Joong mengambil tempat duduk yang dekat dengan meja pesanan. Wajahnya tampak bahagia karena mendapatkan nomor telepon dari pria pujaan tanpa harus mengemis dan merendahkan harga dirinya. Tuhan memang sangat baik.

.

.

.

Malam kian larut, saatnya bagi Yun Ho dan Ryeo Wook bersih-bersih toko sebelum menutupnya. Dibantu oleh Ji Hye, acara bersih-bersih pun bisa selesai dengan cepat.

Yun Ho beristirahat sejenak di dapur bersama Ji Hye. Sambil berbincang-bincang, kedua kakak beradik itu pun masing-masing menikmati teh hijau hangat. Keasyikan kedua orang itu sedikit terusik dengan kemunculan Ryeo Wook yang membawa baki berisi potongan besar kue gulung yang mungkin tidak akan pernah habis dimakan sekali duduk, lalu meletakkannya di meja yang memisahkan kedua kakak beradik tersebut.

"Kau ingin meracuniku dengan kue sebesar ini?" tanya Yun Ho pada Ryeo Wook yang tampak lesu dari biasanya.

Ryeo Wook menarik kursi yang ada di sudut ruangan dan menempatkannya di antara Yun Ho dan Ji Hye. Setelah mendudukkan diri, Ryeo Wook melipat kedua tangannya di atas meja untuk dijadikan tumpuan bagi kepalanya yang terasa berat.

Tatapan Ji Hye beralih pada Yun Ho. "Ada apa dengannya, Oppa?" tanyanya keheranan.

Yun Ho mengangkat kedua bahunya acuh. "Ada apa denganmu, Wokkie-ya?" tanyanya bermaksud menyampaikan rasa penasaran Ji Hye pada Ryeo Wook.

"Aku tidak yakin bisnismu akan berhasil. Tiga hari pembukaan toko saja yang datang bisa dihitung dengan jari-jariku. Ini pasti karena kuenya tidak enak," keluh Ryeo Wook menyembunyikan wajahnya dengan malu. "Aku memang tidak berguna. Banyak kue yang tidak terjual dan terancam basi."

Helaan napas jelas terdengar dari celah bibir Yun Ho. Perkataan Ryeo Wook benar adanya. Jangankan selama dua hari belakangan setelah toko dibuka, saat pembukaan perdana dengan menawarkan kue gratis saja pelanggan yang datang hanya lima orang. Ternyata membuka usaha tidak semudah yang dibayangkan.

"Bicara apa kau, Wokkie-ya? Kuemu sangat enak kok. Bahkan program diet yang sedang kujalani gagal total karena kuemu itu." Ji Hye berusaha memberi semangat dengan mengimbuhkan, "Mungkin orang-orang sedang menghindari makan makanan manis. Dan lagi, tempat ini terbilang tidak strategis dan jauh dari jalan utama. Banyak orang tidak bisa menemukan tempat ini hanya dengan bermodalkan nama tempat yang tertera di brosur yang kita sebar kemarin."

Rentetan kalimat penyemangat dari Ji Hye nyatanya tidak berhasil. Baik Ryeo Wook atau pun Yun Ho tidak merasa tertarik sama sekali. Bahkan Yun Ho yang awalnya sedikit optimistis usahanya akan berkembang seiring berjalannya waktu, menjadi sangat pesimistis dalam diam.

"Banyak kue yang masih tersisa di dapur. Mau diapakan?" tanya Ryeo Wook pada Yun Ho. Sengaja mengalihkan pembicaraan dari omong kosong tidak jelas yang akan melambungkan keyakinannya. "Kalau besok dipastikan akan basi. Kue itu hanya bisa bertahan selama tiga hari saja."

Yun Ho terdiam untuk berpikir. Terlintas akan wajah seseorang yang selalu mengusik pikirannya selama tiga hari terakhir. "Tolong kau kemas sisa kue ke dalam box dengan rapi. Aku akan memberikannya pada seseorang," serunya berubah semangat.

Aura positif yang ditebarkan Yun Ho nyatanya membuat dua orang lainnya mengernyit bingung. Pada siapa kue itu akan diberikan mengingat Yun Ho tidak mempunyai banyak teman, pikir mereka berdua dengan kompak.

.

.

.

"SEBENTAR!"

Jae Joong segera mengenakan celana pendek selutut ketika ketukan pintu semakin terdengar tidak sabaran. Dengan rambut yang masih basah dan juga bertelanjang dada, ia pun membukakan pintu untuk orang yang datang.

Wajahnya memucat mendapati pria yang dikaguminya berdiri di depannya. Mimpi apa ia semalam hingga pria yang kerap hadir dalam lamunannya tersebut bersedia menyambangi kediamannya?

"Yun Ho-Ssi?"

Yun Ho tersenyum. "Apa aku mengganggu?"

"Tidak. Kau tidak mengganggu sama sekali," sahut Jae Joong gelagapan dan super cepat. Sangat bodoh dan idiot jika ia menganggap kedatangan Yun Ho adalah sebuah gangguan. Justru kedatangan Yun Ho bisa dikatakan anugerah terhebat yang pernah ada. "Masuklah, Yun Ho-Ssi. Tapi maaf sebelumnya, rumahku sangat berantakan."

"Terima kasih sebelumnya, tapi ini sudah sangat malam. Orangtua dan adikku di rumah pasti sudah menunggu," tolaknya halus, tanpa berniat menyinggung perasaan lawan. "Aku hanya ingin memberikan sesuatu untukmu."

Jae Joong menerima sebuah kotak berwarna putih yang diberikan Yun Ho. Terlihat sangat istimewa dengan pita berwarna merah muda yang melingkar di setiap sudut. Pasti Yun Ho mempersiapkan kejutan tersebut dengan matang, pikir Jae Joong dengan senang.

"Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Jae Joong-Ssi."

"Selamat malam," balas Jae Joong tersenyum girang.

Setelah memastikan Yun Ho pergi, Jae Joong lantas membuka kotak berpita yang ada di pelukannya. Matanya memancarkan keantusiasan melihat kue tart berbentuk wajah beruang dengan banyak biji wijen bertaburan di atasnya.

"Arggghh! Dia romantis sekali."

.

.

.

"YAK! BERISIK!"

Yun Ho terlonjak kaget mendengar teriakan yang berasal dari dalam rumah. Baru beberapa ketukan ia sudah diteriaki seperti pencopet yang tertangkap basah. Bagaimana jika ia menggedor pintu berulang kali, mungkin nyawanya akan terputus dari badan.

~ckreeek~

"Hai, Chang Min-Ssi," sapa Yun Ho pada Chang Min yang baru keluar dari dalam rumah. Dengan piyama kebesaran dan lelehan air liur yang belum mengering di kedua sudut bibir, Chang Min terlihat sangat menggoda di matanya. "Apa aku mengganggu?"

Tidak ada jawaban.

Chang Min justru melempar tatapan datar pada Yun Ho yang merasa bersalah dan salah tingkah. Dilihat dari segi mana pun Chang Min pasti sangat tergganggu dengan kedatangan orang asing di malam hari, terlebih waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Bayangkan, sedang enak-enaknya bercinta dengan alam mimpi, pengganggu tiba-tiba datang tanpa diduga. Jika memiliki nafsu lebih untuk mengumpat, Chang Min akan melakukannya tanpa diminta.

Cukup lama mereka terdiam, hingga Yun Ho yang merasa tersudutkan kembali mencairkan suasana dengan bertanya, "Kau sudah tidur?"

Masih tidak ada jawaban dari Chang Min, dan Yun Ho semakin salah tingkah dibuat keadaan. Mungkin memang ia tidak seharusnya datang menemui Chang Min.

"Begini, Chang Min-Ssi. Kebetulan aku memiliki sisa kue. Karena bingung harus kuberikan pada siapa, tiba-tiba aku ingat jika kau dan Jae Joong-Ssi tinggal di sekitar sini. Untuk itulah aku membawakan sisa kue yang ada untuk kalian."

Pernyataan Yun Ho menampar kesadaran Chang Min dengan cepat. Ekspresi datar pun berganti dengan ekspresi antusias, berbinar, dan cerah seketika. Sebelum Yun Ho memberikan kotak berisi kue dengan pita merah muda cantik itu kepadanya, ia sudah terlebih dahulu merebutnya dan membaui aroma di dalamnya.

"Woah! Ternyata kau jauh lebih baik dari yang kubayangkan, Hyung," komentar Chang Min penuh semangat. "Terima kasih, ya!"

Yun Ho membeo. "H-Hyung? Kau memanggilku... Hyung?" tanyanya ragu.

"Tidak boleh?"

"Boleh."

"Lalu masalahnya apa?"

"Masalahnya..." Yun Ho membatu, tidak mampu memikirkan jawaban yang sekiranya pas dan tidak berlebihan. Namun dipikirkan sekeras apa pun, ia tidak juga sanggup menemukan jawabannya. Hingga ia pun hanya bisa membatin, 'Mungkin karena panggilan itu terdengar sangat indah di telingaku, Chang Min-Ssi.'

Tinggalkan Yun Ho yang tengah terbang ke langit ketujuh karena panggilan sederhana namun berkesan dari Chang Min. Beralih pada Chang Min yang semakin antusias mengendus aroma kue yang menguar dari celah kotak kuenya.

Bagi Chang Min, ujian yang selalu terjadi di hari tua adalah kelaparan. Uang yang semakin menipis menjadi faktor utamanya. Maka dari itulah Chang Min selalu tidur awal di hari tua untuk mensiasati perutnya yang kian meronta meminta pertanggungjawaban dari si empunya. Dan mendapatkan kue gratis dari Yun Ho di hari tua adalah berkah yang sangat mengejutkan.

"Masuklah, Hyung! Sepertinya aku masih punya sisa seduhan teh tadi pagi. Mungkin kau haus," ajak Chang Min sambil membuka lebar pintu rumahnya untuk Yun Ho. "Kita minum teh sambil makan kue bersama."

Apakah ada alasan untuk Yun Ho menolak?

Sebenarnya tidak ada, tapi Yun Ho sudah menghubungi kedua orangtuanya dan mengatakan ia sedang dalam perjalanan pulang. Dengan begitu pintu tidak akan dikunci hingga ia pulang. Sangat tidak adil jika ia minum teh dengan santai, sedangkan di rumah kedua orangtuanya menunggu.

"Mungkin lain kali saja, Chang Min-Ssi. Maaf." sesal Yun Ho dengan kecewa.

Chang Min mengangguk paham. "Baiklah, lain kali saja kalau kau ada waktu. Tapi kuharap kau tahu jika aku tidak suka ada seseorang yang datang ke rumahku dengan tangan kosong. Jangan salah paham! Bukankah semua manusia memang begitu? Harus saling menguntungkan bila berkawan. Jika tidak, lebih baik singkirkan!" lanjutnya sangat serius dengan maksud untuk mengancam.

Bukannya merasa terancam dan takut, Yun Ho justru tertawa. Mengapa ia seperti dihadapkan pada sepupunya yang masih berusia lima tahun?

"Aku akan mencatatnya di pikiranku." Yun Ho mengetuk dahinya sebelum melanjutkan, "Aku akan mengingatnya selalu."

"Bagus!"

"Sekarang aku boleh pulang?"

"Apa aku harus mengusirmu dulu?"

"Hahahaha. Tidak perlu. Aku masih tahu diri juga." Yun Ho membungkukkan sedikit badannya. "Selamat malam, Chang Min-Ssi."

"Selamat malam, Hyung."

Dan interaksi mereka berakhir dengan kepergian Yun Ho yang tampak membawa semangat baru dalam hidupnya. Hal yang sangat membahagiakan bisa bercengkerama dengan Chang Min, walau modalnya di lain hari tidak akan sedikit.

Chang Min lantas memeriksa kuenya setelah kepergian Yun Ho. Dahinya sedikit mengernyit. Sepertinya ada yang salah.

"Kenapa dia memberiku kue tart berbentuk... love?"

.

.

.

Yun Ho bersama dengan Ji Hye dan Ryeo Wook yang pagi itu tengah membersihkan meja sebelum toko dibuka, sangat terkejut dengan kedatangan Chang Min yang serta merta membanting kotak kue di atas meja pesanan. Yun Ho yang merasa penasaran pun mendatangi Chang Min demi mencari tahu maksud kedatangan pria manis tersebut.

"Selain aku, kau memberi kue ke siapa lagi?"

"Jae Joong," jawab Yun Ho jujur. "Ada masalah, Chang Min-Ssi?"

"Kau tidak pernah berpikir jika isinya tertukar?" Chang Min kembali bertanya tanpa ada niat untuk membalas pertanyaan yang diberikan Yun Ho. Ia harus memastikan sesuatu. Sepertinya ada yang salah. "Kau memberiku kue tart berbentuk love, Hyung. Kau masih yakin kuenya tidak tertukar dengan kue milik Jae Joong Hyung?"

Ryeo Wook dan Ji Hye yang merasa penasaran dengan keributan di depan meja pemesanan pun mulai mendekat. Ryeo Wook yang mengenal Chang Min sebagai pelanggan pertamanya pun mencoba menyapa, namun justru mendapatkan dengusan kesal dari Chang Min. Pada akhirnya Ryeo Wook memilih diam dan tidak melakukan apa pun kecuali melihat perdebatan yang menarik Yun Ho ke dalamnya.

"Ada apa ini?" Ji Hye yang mengira Chang Min mencari keributan dengan kakaknya, memposisikan diri di tengah untuk menjadi penengah di antara kedua pria tersebut. "Ada masalah, Oppa?" tanyanya ditujukan untuk Yun Ho.

Yun Ho menggeleng. "Sepertinya hanya salah paham," jawabnya sebelum mengalihkan perhatiannya pada Chang Min. "Chang Min-Ssi, aku yakin jika kau menerima kue yang benar. Tidak ada yang tertukar seperti yang kau pikirkan sebelum ini."

Chang Min menelan ludah susah payah. "Jadi kau sengaja memberiku kue tart berbentuk love itu?"

"Iya."

"Lalu kue tart apa yang kau berikan pada Jae Joong Hyung?"

"Beruang."

"Beruang? Bukan love?"

Yun Ho menggeleng. "Ingatanku masih sangat jernih."

"Lalu artinya semua itu apa?"

"Artinya?" Yun Ho mengulang ucapan Chang Min dengan santai. "Artinya?" ulangnya tidak bosan.

"Kau... tidak jatuh cinta padaku, 'kan?"

Yun Ho mulai mengerti kesalahpahaman yang dipegang oleh Chang Min. Hampir saja Yun Ho tertawa. Namun melihat Chang Min sangat serius menyikapi kesalahpahaman tersebut, Yun Ho tidak sampai hati.

"Kue yang kuberikan padamu tidak berarti apa-apa, Chang Min-Ssi. Jika kau berpikir aku memberi kue berbentuk love padamu karena ada perasaan, kau salah. Tidak ada maksud apa pun, sungguh." Yun Ho menjelaskan secara detail dan Chang Min pun mulai mengerti. "Baiklah, mungkin aku memberi kue tersebut padamu karena ada maksud tertentu, yaitu, ke depannya mungkin kita bisa menjadi teman baik. Tapi serius, tidak ada perasaan apa pun yang berhubungan dengan cinta dan semacamnya," lanjutnya.

"Kau tidak bohong?"

"Tidak."

"Syukurlah." Chang Min mengusap dadanya dan bisa tersenyum lega. Ia menambahkan, "Aku sempat takut jika kau jatuh cinta padaku. Jujur saja, masalahnya kau bukan tipeku. Aku takut kau sakit hati nantinya, jadi aku ingin memastikan saja. Dan lagi, aku punya seorang kekasih. Aku tidak mau dia salah paham jika tahu ada orang lain yang memberiku kue berbentuk love. Kau tahu, terkadang orang sangat sensitif sekali. Lain kali beri aku kue yang bentuknya normal saja. Beruang atau rusa, aku tidak keberatan."

Senyum di wajah Yun Ho menghilang seketika. Ada rasa tidak rela dan kecewa saat Chang Min menyatakan mempunyai seorang kekasih. Begitu pun saat Chang Min mengatakan ia bukan tipe orang yang diinginkan Chang Min. Walau ia sendiri tidak ada perasaan apa pun dan hanya sedikit tertarik pada Chang Min, ada perasaan berat yang sangat mengganggunya setelah mengetahui hal tersebut.

Ji Hye menyadari perubahan drastis dari raut kakaknya. Ia pun mulai berpikir perihal alasannya. Beralih ia menatap Chang Min yang tampak tersenyum seolah tidak pernah ada masalah apa pun sebelumnya. Mungkinkah kakaknya menyukai pria tersebut, tebaknya dalam hati.

Lain halnya dengan Ji Hye dan juga Yun Ho yang tengah merenung, Ryeo Wook justru tidak mampu menahan tawa setelah tahu tujuan Chang Min datang menemui Yun Ho. Baru kali ini ia bertemu pria seperti Chang Min yang tidak segan-segan datang hanya untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Andai ia menjadi Chang Min, mungkin ia akan memilih memakan kue tersebut dengan tenang walau banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran.

"Karena masalahnya sudah selesai, aku akan pulang dulu. Aku harus segera bekerja. Takut terlambat." Chang Min mengambil kembali kotak kue yang tadi dibawanya. "Aku ambil lagi kuenya, ya!"

"Sepertinya tidak bisa," sela Ji Hye menghentikan kepergian Chang Min. "Kue itu pasti sudah basi."

Chang Min lantas membaui kotak kue yang ada di tangannya. Benar saja, aromanya sedikit asam dan juga tidak enak. Wajahnya pun berubah masam dan terlihat menuntut saat menatap Yun Ho. "Bagaimana ini, Hyung? Aku belum sarapan," rengeknya meraih banyak simpatik dengan cepat.

"Aku membawa bekal sarapan dari rumah. Bagaimana kalau kita sarapan bersama?" tawar Ji Hye mendahului jawaban yang akan Yun Ho berikan.

"Benarkah?"

Ji Hye mengangguk. "Siapa namamu?"

"Shim Chang Min."

"Chang Min-Ssi, kau manis sekali," puji Ji Hye tanpa sungkan. Berakhir ia mendapat tatapan tajam dari Yun Ho, tapi ia tidak peduli. "Kalau begitu bisa kau membantuku menyiapkan sarapan? Kita makan di dapur saja."

"Dengan senang hati."

Kepergian Ji Hye dan Chang Min membawa dampak buruk pada Yun Ho yang moodnya terhempas sampai ke bawah kaki. Alasannya sederhana, Ji Hye mendominasi Chang Min hanya pada pertemuan pertama. Ditambah Chang Min lebih antusias mengobrol dengan Ji Jye ketimbang dengannya.

"Kau baik-baik saja, Hyung?"

"Aku selalu baik," jawab Yun Ho dengan ketus, sebelum berlalu pergi mengekor Ji Hye dan Chang Min yang sudah menghilang di balik dapur. Meninggalkan Ryeo Wook seorang diri dalam ketidakpastian perihal siapa yang akan membersihkan meja.

.

.

.

"Lama sekali dia."

Jae Joong menggerak-gerakkan kedua kakinya dengan gelisah. Sambil duduk di atas motor, ia berkali-kali mencuri lihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sepuluh menit lagi akan ada meeting sebelum ia berkeliling untuk memantau bawahannya yang bekerja mengantarkan susu ke rumah para pelanggan, namun Chang Min belum juga terlihat. Tidak mungkin pegawai teladan seperti Chang Min terlambat datang.

Deruman mesin motor yang sangat dikenal membuat Jae Joong segera mengedarkan pandangannya. Tidak lama kemudian Chang Min pun datang dan memarkirkan motor otomatic-nya di sebelah motor Jae Joong. Setelah melepas pelindung kepala, Chang Min menatap Jae Joong dengan heran.

"Kenapa kau tidak masuk, Hyung?"

"Aku sengaja menunggumu."

"Untuk apa?" tanya Chang Min lagi. "Mau pinjam uang lagi? Bilang sendiri pada Bos. Aku kapok, Hyung."

"Bukan," balas Jae Joong cepat.

"Lalu?"

"Kau pasti tidak akan percaya kalau aku bilang Yun Ho datang ke rumahku tadi malam dan memberiku kue tart berbentuk beruang."

Dengan santai Chang Min menggeleng dan tersenyum sinis. "Aku percaya kok, karena tadi malam dia juga datang ke rumahku dan memberiku kue yang tidak laku terjual."

"A-apa?"

Niat hati ingin pamer, justru Jae Joong dibuat tidak berkutik dengan jawaban yang diberikan Chang Min. Ia kira Yun Ho hanya datang ke rumahnya saja untuk memberi kue. Nyatanya Chang Min pun mendapatkan perlakuan yang sama.

Kesal?

Kecewa?

Jelas.

Namun ia tidak boleh berkecil hati. Mungkin Yun Ho tidak ada maksud apa pun pada Chang Min. Ia masih saja yakin jika Yun Ho memperlakukannya sedikit spesial karena memberinya kue berbentuk beruang yang menjadi brand toko kue milik Yun Ho.

"Hampir saja aku terlibat bentrok dengannya karena dia memberiku kue tart berbentuk love dengan cream berwarna merah muda. Apa dikira aku gadis murahan yang bisa dibuat kegirangan dengan kue tart semacam itu? Tsk! Dia pria yang tidak punya selera tinggi, Hyung." sambung Chang Min tanpa melihat situasi dan kondisi yang tengah berlangsung.

Jae Joong kehabisan kata-kata. Wajahnya pun memucat seketika.

"Kue tart berbentuk... love?"

《 TBC 》

Akhirnya chapter dua update juga ^^

Terima kasih buat Jijoonie, , .75470, Jelly-Ssi, Lm150391, Sayakanoicinoe, Lanysa, Minnie Chwangie, Wiwie, LRS34, Shiho-kun, Ajib4ff, Mudah Neo, Lennie239, Guest077, dan Hyena Lee buat reviewnya. Review kalian membuat chapter dua ini tercipta. ^^

Tidak lupa terima kasih yang sangat khusus buat Ela Jungshim, saudara se-marga-ku yang udah share-in setiap FF-ku ke FFN. Tanpamu aku tidak mungkin ada di sini / kumat lebaynya #plak

Sekalian aku mau jawab pertanyaan beberapa review yang memiliki inti yang sama, mengapa aku memakai Jae Joong sebagai orang ketika.

1) Aku tidak bisa memikirkan orang lain yang pas sebagai orang ketiga selain Jae Joong.

2) Aku memakai Jae Joong karena aku ingin menampar beberapa orang (?) yang masih keukeuh aja kalau Yunho-Jaejoong itu satu paket.

3) Aku ingin membuat kemiripan cerita yang dimungkinkan menggambarkan posisi Homin waktu masih dikaitkan dengan Jae Joong walau mereka sudah berpisah sejak zaman baheula.

4) Terakhir karena aku ingin mendapatkan emosi ketika masuk ke konflik, yaitu dengan memakai orang ketiga yang nggak aku suka.

Sekian jawaban dari pertanyaan mengapa aku memakai Jae Joong. Tidak ada maksud menyinggung, karena setiap orang memiliki pilihan masing-masing, 'kan? ^o^

Jangan lupa tinggalin review buat bayaranku, ya! ^^

Salam, Raizel Jungshim, anak bungsu Homin yang paling polos (?) ^^