Title: Secret Between Us
Pairing: EXO's official slight! crack pairing, but maybe focus on Kyungsoo with some members. You'll know about it as soon as possible :)
Cast for this chapter: D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Baekhyun EXO as Byun Baekhyun (Girl), Sehun EXO as Oh Sehun (Boy), Chanyeol EXO as Park Chanyeol (Boy), Kris EXO as Kris Wu (Boy), Tao EXO as Huang Zitao (Girl), Kai EXO as Kim Jongin (Boy), Kyungsoo's mom (OC), and special appearance of a mysterious guy
Rate: T
Genre: Romance, Hurt, Family, Drama, Friendship
Length: Chaptered [1/?]
Summary:
Kisah ini baru saja dimulai. Kyungsoo, sebagai pemeran utama, bertemu dengan beberapa orang baru, dan mencoba untuk berteman dengan mereka.
NOTE: special for Syifa Salsabilaa yang beberapa waktu lalu request FF hurt :)
Nanti bakal ada slight crack couple, tapi endingnya sih tetep official aja. aku gak begitu suka crack
GENDERSWITCH | CHAPTERED | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT
..
HAPPY READING
The real chapter 1 (New Friends)
..
Amsterdam, Netherlands
Seorang pria tampan berwajah khas Asia dengan tubuh tinggi dan bertelanjang dada sedang duduk di pinggir kolam renang. Di tangan kanannya bertengger sebuah gelas berisi orange juice yang sesekali disesapnya.
Pria tampan itu tampaknya baru saja selesai berenang. Hal itu terlihat dari rambut hitamnya yang masih meneteskan air, juga tubuhnya yang masih basah.
Pria tampan dengan tubuh yang cukup bagus itu menoleh ke arah kiri saat telinganya menangkap suara derap langkah kaki. Ia meletakkan gelas orang juice di meja, lalu menatap tajam tiga pria tegap dengan jas hitam yang kini membungkuk kecil di depannya.
"Kalian datang kemari hanya untuk melaporkan kegagalan kalian, atau untuk memberiku informasi berharga?" pria dengan sorot mata tajam itu bertanya dengan malas.
Satu dari tiga orang yang baru saja datang akhirnya maju satu langkah, kemudian menyerahkan sebuah map plastik berwarna merah pada pria yang tampaknya merupakan bos mereka itu. "Kami sudah berhasil memperoleh semua informasi yang Anda butuhkan tentang orang itu, Tuan," ucap orang itu sambil menyeringai jahat.
Si bos kemudian meraih map itu, lalu melihat isinya sejenak. "Akhirnya kalian bekerja dengan baik setelah satu bulan lamanya kalian hanya membuang waktu saja," ujarnya.
Tiga orang yang ada di depannya hanya menunduk. Mereka tahu bahwa waktu satu bulan yang diberikan oleh bos mereka dinilai terlalu lama, dan kerja mereka sangatlah lamban. Mereka tentu mengenal bos mereka yang terkenal kejam dan tak suka membuang waktu itu.
"Sekarang aku akan memberikan tugas selanjutnya untuk kalian, dan kuharap kali ini kalian tak membuang waktu lagi," bos berwajah dingin itu kembali bersuara. "Siapkan kepulanganku ke Korea, juga seluruh hal yang berhubungan dengan tempat tinggal, kuliah, dan yang terpenting...identitas."
...
Seoul, South Korea
Do Kyungsoo, seorang gadis manis bermata bulat dengan rambut hitam sepanjang pinggang yang sedikit berombak, sedang bersiap untuk berangkat ke kampus barunya.
Kyungsoo adalah mahasiswa tahun pertama di Seoul National University (SNU). Kyungsoo berhasil diterima di jurusan bisnis universitas ternama itu sebagai mahasiswa full scholarship. Hal itu tak mengherankan lantaran Kyungsoo sejak dulu memang sangat cerdas.
Kyungsoo mengambil jalur beasiswa karena keluarganya bukanlah keluarga berada. Ia hanya tinggal di sebuah rumah kecil bersama sang ibu. Sedangkan ayahnya, ia tak tahu ayahnya kini berada dimana. Terakhir kali ia melihat wajah ayahnya adalah saat usianya baru empat tahun. Dan seingatnya, dulu ia tak tinggal di rumah kecil yang saat ini ia tinggali.
Tapi entahlah. Bisa saja ingatannya itu salah karena saat itu Kyungsoo masih balita.
Kyungsoo kini dengan senyum kecil mulai mengancingkan kemeja biru muda yang ia pakai. Celana jeans warna hitam sudah melekat sempurna di kaki jenjangnya. Ujung kaki Kyungsoo kini dibalut oleh sepatu kets warna hitam. Penampilan Kyungsoo hanya sederhana seperti biasa.
Hari ini perkuliahannya akan resmi dimulai setelah beberapa hari dilakukan orientasi di kampus. Kyungsoo tak sabar untuk memulai hari ini.
Setelah gadis manis bermata bulat itu siap dengan penampilan simple-nya, ia membuka pintu kamar lalu berlari ke dapur. Menghampiri sang ibu yang sedang memasak.
"Eomma~" Kyungsoo memeluk sang ibu dari belakang.
Ibu Kyungsoo agak berjengit kaget, tapi kemudian senyum manis terkembang di bibirnya. "Sebentar lagi makanan akan siap. Tunggu saja di meja makan."
Kyungsoo melepas pelukannya, lalu berdiri di samping sang ibu. "Aku tidak usah sarapan, eomma. Nanti aku makan di cafe saja."
Jangan menganggap bahwa Kyungsoo adalah seorang gadis pemboros yang selalu ingin makan enak di cafe. Itu salah besar. Faktanya adalah, Kyungsoo bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe. Ia selalu mendapat jatah makan siang di tempat kerjanya itu.
"Tapi itu makan siang, sayang. Kau harus sarapan," ibu Kyungsoo mencoba meyakinkan putri tunggalnya.
"Tidak usah, eomma. Aku sudah biasa melewatkan sarapan. Jika aku sarapan, perutku malah akan sakit," Kyungsoo sedikit bercanda saat bicara.
Ibu Kyungsoo hanya menghela nafas, lalu membelai rambut Kyungsoo yang kini diikat seluruhnya ke belakang. "Kau seharusnya tidak perlu bekerja. Ibu sudah merasa sangat bersalah saat kau harus bekerja paruh waktu selama tahun terakhirmu di sekolah. Ibu tidak ingin membuatmu kelelahan. Ibu masih bisa mencukupi kebutuhan kita dengan bekerja menjadi cleaning service."
"Tidak, eomma. Aku tidak merasa lelah," ucap Kyungsoo. "Mungkin pekerjaan eomma bisa mencukupi kebutuhan harian kita, tapi bagaimana dengan biaya sewa rumah? Kita sudah sering menunggak pembayaran sewa sejak dulu. Bahkan bulan ini kita belum menyiapkan uang sewa, 'kan?"
Ibu Kyungsoo memandang sayu ke arah putrinya. Kyungsoo benar. Gaji yang diperoleh ibunya tak cukup untuk membayar uang sewa rumah, dan ia memang harus bekerja untuk meringankan beban ibunya. Mereka beberapa kali sudah nyaris diusir dari rumah itu.
"Maafkan ibu, sayang. Ibu tak bisa memberimu kehidupan yang layak," wanita paruh baya yang sangat menyayangi Kyungsoo itu mulai meneteskan air mata.
Kyungsoo tak sanggup melihat ibunya menangis. Dengan lembut ia memeluk tubuh ringkih sang ibu. "Tidak apa-apa, eomma. Eomma sudah berjuang keras untuk melahirkanku dan melindungiku selama ini, dan itu sangat berharga untukku. Aku yang berhutang pada eomma."
Ibu Kyungsoo justru semakin menangis hebat mendengar penuturan sang anak. Kyungsoo memang selalu menjadi anak yang berbakti dan ikhlas menerima pahit manis kehidupan. Walaupun yang ia rasakan kebanyakan adalah pahitnya, namun Kyungsoo tak pernah menyesali hidupnya.
'Maafkan eomma, Kyungsoo. Eomma yang membuatmu merasakan pahitnya kehidupan ini. Kau tak seharusnya menderita seperti ini.'
...
Kaki mungil Kyungsoo melangkah penuh semangat di kampus barunya. Senyum simpul tak pernah luntur dari bibirnya.
Kyungsoo memang bukan sosok yang ceria. Ia lebih cenderung memiliki sifat pemalu dan sedikit pendiam. Tapi Kyungsoo tetaplah sosok yang murah senyum dan ramah. Karena menurutnya, satu senyuman bisa menghilangkan satu kesedihannya. Itu adalah prinsipnya selama ini.
Kyungsoo akhirnya tiba di kelas yang akan ditempatinya untuk mata kuliah pertama. Di dalam kelas itu, Kyungsoo bisa melihat dua teman barunya melambai ke arahnya.
"Kyungsoo!" satu diantara dua sosok yang melambai pada Kyungsoo berteriak nyaring. Sosok itu adalah seorang gadis. Sedangkan sosok yang berada di belakangnya adalah seorang pria. Mereka teman baru Kyungsoo.
Sambil terus tersenyum, Kyungsoo melangkah mendekati dua sosok yang dikenalnya. "Annyeong, Baekhyun eonni...Sehun-ah..." sapanya ramah pada dua sosok bernama Byun Baekhyun dan Oh Sehun itu.
Baekhyun berkenalan dengan Kyungsoo saat masa orientasi. Sedangkan Sehun, ia dulu satu sekolah dengan Kyungsoo meskipun mereka beda kelas dan dulu tak saling mengenal. Kyungsoo bahkan baru beberapa hari yang lalu mengetahui jika dulu dirinya dan Sehun satu sekolah. Ya. Beberapa hari yang lalu yaitu saat masa orientasi.
Sehun dikenal sebagai sosok pendiam dan tak banyak bicara. Auranya terkesan misterius, dan Kyungsoo juga tak menyangka jika saat di universitas, ia bisa berteman dengan Sehun. Agak aneh, tapi Kyungsoo tak mau terlalu memikirkan hal itu.
"Jangan memanggilku eonni," Baekhyun merajuk saat Kyungsoo sudah duduk di sampingnya. "Aku memang satu tahun lebih tua darimu, tapi tetap saja sekarang kita satu tingkat."
Baekhyun dulu sudah sempat berkuliah di universitas lain selama satu tahun. Tapi ia memutuskan untuk menjajal peruntungan dengan mengikuti tes penerimaan di SNU tahun ini, dan ternyata ia diterima. Hasilnya, sekarang ia kembali menjadi mahasiswa tahun pertama.
"Tapi eonni tetap lebih tua dariku. Aku harus menjaga sopan santun, 'kan?" tanya Kyungsoo.
Baekhyun menghela nafas pasrah. "Baiklah, Kyungsoo. Aku tahu bahwa kau adalah orang yang sangat berpegang teguh pada norma kesopanan."
Kyungsoo melempar senyum tipis pada Baekhyun sebelum akhirnya ia menoleh sedikit ke belakang untuk menghadap Sehun. "Mana oleh-oleh yang kau janjikan kemarin, Sehun-ah?" tanya Kyungsoo seraya mengulurkan tangannya pada Sehun, seolah siap menerima pemberian pria itu.
Sehun melebarkan matanya, kemudian menepuk dahinya sendiri. "Aku lupa, Kyungsoo! Besok, ya? Aku janji besok tidak akan lupa."
Kyungsoo mendengus. Teman prianya itu kemarin bercerita bahwa satu minggu yang lalu ia baru kembali dari luar negeri setelah puas berlibur selama satu bulan. Sehun sendiri yang mengatakan bahwa ia masih memiliki sisa oleh-oleh di rumah, dan akan memberikannya pada Kyungsoo. Tapi ternyata pria yang sedikit lebih muda darinya itu malah melupakannya.
Melihat Kyungsoo yang mendengus, Sehun hanya mengangkat bahunya cuek. Sehun memang bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia memiliki wajah datar dan cenderung dingin. Kyungsoo sendiri belum terlalu tahu orang macam apa Oh Sehun itu. Sehun itu terkesan misterius.
Di tengah keheningan, kepala Kyungsoo, Baekhyun, dan Sehun secara bersamaan tertoleh ke arah pintu masuk saat seorang pria berpakaian serba hitam memasuki ruangan itu.
Entah mengapa, kehadiran pria itu membuat aura di kelas menjadi berubah.
"Auranya begitu suram," Kyungsoo tanpa sadar bicara pelan. Untung saja suaranya hanya lirih, dan hanya bisa didengar oleh Baekhyun dan Sehun saja.
"Ia adalah orang kaya itu," Baekhyun menanggapi seraya matanya terus mengikuti pergerakan pria misterius itu sampai ke pojok belakang kelas.
"Orang kaya?" tanya Kyungsoo penasaran.
Baekhyun akhirnya kembali menghadap Kyungsoo. Ia mengangguk kecil. "Kudengar, sejak kecil ia tinggal di luar negeri karena bisnis ayahnya memang berpusat di luar negeri. Baru tahun ini ia kembali ke Korea. Kata orang, harta ayahnya bahkan bisa digunakan untuk membeli negara ini!"
"Ucapanmu berlebihan, noona," Sehun menimpali dengan malas. "Mana bisa negara ini dibeli dengan uang? Analogi yang sangat tidak masuk akal," lanjutnya. Masih dengan nada malas dan datar yang sama.
"Terserah kau, tuan muka rata," Baekhyun memutar bola matanya jengah. "Intinya, keluarga pria itu sangat sangat sangat kaya."
Kyungsoo hanya terus menatap Baekhyun dengan matanya yang membulat polos. "Kau tahu siapa namanya?"
Baekhyun tersenyum lebar, lalu mengangguk mantap. "Tentu saja! Namanya adalah...Kim Jongin."
...
Kyungsoo sedang berjalan bersama Baekhyun dan Sehun di koridor kampus. Mereka baru saja menyelesaikan kuliah hari ini.
Jam digital di tangan kiri Kyungsoo baru menunjukkan angka 11. Ia baru akan mulai bekerja di cafe pada pukul 12.15 KST, tapi ia ingin langsung ke cafe saja sekarang. Siapa tahu bosnya yang tampan itu mau memberinya makan siang lebih awal.
"Kyungsoo, kau ingin langsung pergi ke cafe?" tanya Baekhyun. Ia dan Sehun sudah tahu bahwa Kyungsoo bekerja part time di cafe.
"Ya, eonni. Waeyo?" Kyungsoo balas bertanya.
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Hanya saja, aku tidak tahu sekarang harus pergi kemana. Kalau di rumah, aku pasti hanya akan mati bosan karena disana tidak ada orang. Orang tuaku sedang ada di Sidney," ucap Baekhyun lesu.
Kyungsoo tahu bahwa Baekhyun adalah anak orang kaya, dan orang tuanya sangat sering bepergian ke luar negeri. Baekhyun sering merasa kesepian karena hal itu.
"Bagaimana kalau hari ini eonni ikut aku ke cafe? Bosku sangat tampan, dan ia juga berasal dari luar negeri. Nanti aku kenalkan padanya!" tawar Kyungsoo antusias. Ia hanya ingin menghibur Baekhyun. Bagaimanapun juga, Baekhyun adalah temannya, dan ia berharap Baekhyun bisa menjadi sahabatnya.
"Benarkah? Aku mau, Kyungsoo!" Baekhyun langsung menjawab semangat. Tak lama kemudian ia beralih menatap si pria muka datar di sampingnya. "Kau mau ikut juga atau tidak, Oh Sehun?"
Sehun menggeleng. "Tidak. Aku malas terlibat dalam urusan wanita. Paling-paling kalian akan menggosip dan akan mengagumi bos tampan Kyungsoo, 'kan? Aku tidak tertarik."
"Ah, kau ini benar-benar membosankan!" balas Baekhyun. Ia menoleh lagi pada Kyungsoo. "Oh iya, Soo-ya. Aku juga ingin mengenalkanmu pada seseorang. Kau mau tidak?" tanyanya.
"Memangnya ingin mengenalkanku dengan siapa, eonni?" Kyungsoo balas melontarkan pertanyaan.
"Kemarin saat hari terakhir orientasi, aku berkenalan dengan seorang pria. Ia seumuran denganku, tapi sekarang satu tingkat dengan kita. Ia pindah dari universitas lamanya, sama sepertiku. Ia satu jurusan dengan kita, tapi berbeda kelas. Bagaimana?" Baekhyun menjelaskan panjang lebar.
Kyungsoo sejenak berpikir. Tidak ada salahnya juga 'kan berkenalan dengan orang baru? Menambah relasi itu adalah hal bagus. Jadi, Kyungsoo memutuskan untuk mengangguk.
Hal itu membuat Baekhyun dengan semangat menyeret tangan Kyungsoo dan Sehun untuk berlari menuju ruang kelas yang sudah diketahui oleh Baekhyun.
Kenapa Sehun juga ikut diseret? Mungkin Baekhyun sedang khilaf.
..
Baekhyun sedikit mengintip ke dalam ruang kelas yang ia tuju. Ia tersenyum cerah saat melihat orang yang ia cari sedang berkutat dengan bukunya.
Baekhyun menarik Kyungsoo dan Sehun untuk menghampiri pria itu.
"Hai!" sapa Baekhyun penuh semangat saat ia dan dua kawannya sudah sampai di depan si pria.
Si pria sempat terkejut mendengar sapaan nyaring Baekhyun. Tapi tak lama kemudian ia tersenyum lebar pada Baekhyun. "Kau Byun Baekhyun yang kemarin, 'kan?"
Baekhyun mengangguk cepat. "Kau masih ingat aku?" tanyanya. Sosok yang diberi pertanyaan kini mengangguk. "Oh iya. Aku ingin mengenalkanmu pada dua temanku. Yang ini namanya Do Kyungsoo, dan yang ini Oh Sehun," lanjut Baekhyun seraya menunjuk Kyungsoo dan Sehun bergantian.
"Hai, namaku Park Chanyeol. Senang bertemu kalian," pria bernama Park Chanyeol itu bersalaman dengan Kyungsoo dan Sehun secara bergantian. Senyum lebar tak pernah lepas dari bibirnya.
"Kami juga senang bertemu denganmu, Chanyeol-ssi," balas Kyungsoo.
Chanyeol menggaruk kepalanya canggung. "Jangan terlalu formal padaku. Aku lebih suka dipanggil dengan sebutan oppa," ucapnya sambil nyengir lebar.
"Memangnya kau tahu kalau Kyungsoo ini lebih muda darimu?" tanya Baekhyun.
Wajah bodoh Chanyeol kini terpampang saat ia beralih menatap Baekhyun. "Tentu saja tidak," jawabnya. "Tapi aku sangat suka ketika semua orang memanggilku oppa. Tak peduli usia mereka lebih muda atau lebih tua dariku."
Dan semua orang di kelas itu sweatdrop mendengar penjelasan absurd Chanyeol.
...
"Annyeonghaseyo!" suara sapaan Kyungsoo terdengar nyaring saat ia dan Baekhyun memasuki cafe tempatnya bekerja.
Dragon Cafe merupakan nama dari tempat itu. Kesan elegan sangat kentara di cafe itu. Seluruh furniture yang digunakan sangat berkelas. Dengan dominasi warna coklat tua, cafe itu menghadirkan aura yang dewasa dan jantan.
"Kyungsoo eonni?" seorang pelayan menghampiri Kyungsoo.
Kyungsoo harus sedikit mendongak untuk menatap pelayan itu karena badannya yang lebih tinggi dari Kyungsoo. "Hai, Tao. Apa hari ini cafe cukup ramai?"
Pelayan dengan name tag Huang Zitao tapi sering dipanggil dengan nama Tao itu mengangguk. "Lumayan, eonni," jawabnya. "Oh iya. Kenapa eonni sudah datang? Shift eonni baru akan dimulai empat puluh menit lagi, 'kan?"
Kyungsoo terkekeh melihat keimutan gadis di depannya. Tao hanya lebih muda beberapa bulan darinya, tapi sifatnya yang sangat kekanakan selalu membuatnya gemas.
"Aku ingin meminta jatah makan siangku lebih awal pada Duizhang," bisiknya. Ia tersenyum cerah, kemudian tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Ah! Aku hampir lupa. Aku membawa teman kuliahku, Tao. Namanya Baekhyun. Dan Baekhyun, ini adalah Tao," Kyungsoo mengenalkan Baekhyun dan Tao.
Dua orang yang diperkenalkan oleh Kyungsoo akhirnya berjabat tangan.
"Andai aku bisa kuliah, pasti aku juga memiliki teman seperti Baekhyun eonni," ucap Tao.
"Kau bisa saja kuliah, Tao. Hanya saja, kau tak mau lanjut kuliah."
Tao nyengir mendengar ucapan Kyungsoo. Memang benar. Ia seharusnya bisa saja kuliah. Tao bukan berasal dari keluarga yang kekurangan. Orang tuanya berasal dari China, tapi sudah pindah ke Korea sejak empat tahun lalu. Ayah Tao bekerja di perusahaan swasta, dan itu cukup bisa mengangkat derajat keluarga Huang.
Hanya saja, Tao tidak berminat untuk melanjutkan kuliah. Setelah lulus sekolah, ia justru bekerja di cafe ini.
Kyungsoo hanya bisa mendukung keputusan sosok yang sudah seperti adik baginya itu. Saat Tao baru mulai bekerja di cafe, Kyungsoo yang terus membimbingnya karena Kyungsoo sudah lebih dulu bekerja disana. Jadi tak heran jika dua gadis itu berteman dekat.
"Apa hari ini kau hanya sendiri? Bukankah seharusnya ada Yixing eonni?" tanya Kyungsoo.
Tao mengangguk membenarkan. "Yixing eonni sedang ada di belakang."
"Begitu rupanya. Lalu Duizhang dimana? Aku belum melihat semburan apinya sama sekali," Kyungsoo tertawa kecil. Menertawakan candaannya sendiri.
Duizhang adalah nama panggilan untuk bos mereka. Bos mereka itu sebenarnya terhitung baru. Mungkin baru dua atau tiga bulan yang lalu bos muda itu mengambil alih cafe ini —tak ada yang mengingat waktunya secara pasti-.
Sebelumnya, sang Duizhang tinggal di luar negeri sejak kecil. Baru dua atau tiga bulan ini ia pindah ke Korea. Jadi jangan heran jika bahasa Koreanya masih berantakan —padahal katanya ia sudah kursus Bahasa Korea selama tiga bulan sebelum resmi pindah ke Korea-.
"Ia ada di ruangannya. Mungkin sebentar lagi ia ak—"
"Mencariku?" Sebuah suara berat yang sangat sexy memotong ucapan Tao.
Bersamaan dengan munculnya suara itu, muncul pula sesosok pria yang sangat tinggi dan sangat tampan. Mata pria itu tajam, dan bentuk alisnya seperti alis angry bird. Posture tubuh pria itu atletis dan terlihat bagus. Sosok yang mungkin hampir sempurna.
"Duizhang!" Kyungsoo memekik heboh. Entah mengapa, setiap kali melihat bosnya itu, jiwa fangirl Kyungsoo langsung bangkit.
Tak dapat dipungkiri bahwa Kyungsoo mengagumi sosok itu. Ia sendiri tak tahu kekaguman itu berada di level mana. Tapi yang jelas, Kyungsoo sangat mengidolakan bosnya.
"Stop it! Call me by my real name, Shortie!" bos Kyungsoo memarahi anak buahnya yang pendek itu.
"No. I don't like your real name, Boss," Kyungsoo tetap ngotot. Hasilnya, sang bos pun hanya bisa pasrah. "Oh iya, oppa. Aku membawa temanku hari ini. Namanya Byun Baekhyun. Dan Baekhyun, ini adalah bosku. Wu Yifan alias Kris Wu alias Duizhang."
Yifan alias Kris alias Duizhang memutar bola matanya bosan saat mendengar Kyungsoo menyebutkan semua namanya, baik nama asli maupun nama panggilan.
Tapi akhirnya pria tampan itu bersalaman dengan Baekhyun. Hanya senyuman tipis yang muncul saat itu.
"Oppa, bolehkah aku minta jatah makan siangku sekarang? Aku sudah lapar," rengek Kyungsoo.
Kyungsoo selalu menjadi sosok yang berbeda saat berhadapan dengan Kris. Ia jadi manja dan kekanakan. Bahkan ia seenak hati memanggil bosnya dengan sebutan oppa. Langkah ngawur-nya itu rupanya diikuti oleh pelayan-pelayan muda lainnya di cafe itu. Mereka kini juga memanggil Kris dengan sebutan oppa. Kris terpaksa menerimanya.
"Kau harus membayar kalau ingin makan sekarang," Kris berucap (sok) dingin. Kyungsoo yang melihat itu langsung menekuk wajahnya. "Jangan menunjukkan ekspresi memelas padaku. Aku hanya bercanda. Ambil jatah makan siangmu, dan ambilkan makan siang untuk temanmu juga."
Kyungsoo mengerjap polos. "Makan siang untuk Baekhyun juga? Gratis?"
"Hm," hanya jawaban singkat yang keluar dari bibir Kris sebelum akhirnya pria itu kembali ke ruangannya.
"Baek eonni, kau duduk di kursi saja. Aku akan mengambil makan siang untuk kita," ucap Kyungsoo pada Baekhyun.
"Aku benar-benar mendapat makan siang gratis?" tanya Baekhyun.
Tao yang sejak tadi masih berdiri disitu langsung tertawa melihat ekspresi Baekhyun. "Kris gege sebenarnya adalah orang baik," ujar Tao. "Sebaiknya Kyungsoo eonni dan Baekhyun eonni duduk saja. Aku akan mengambilkan makan siang untuk kalian."
..
Skip time
..
Baekhyun menepuk-nepuk perutnya yang kenyang. Ia tak menyangka bahwa makanan gratis akan sangat mengenyangkan begini.
"Aku benar-benar beruntung hari ini," ujarnya.
Kyungsoo meletakkan gelas air putih yang baru saja ia minum, lalu mendongak menatap Baekhyun. "Beruntung karena bertemu Kris oppa yang tampan, atau karena mendapat makan siang gratis?"
"Aku lebih menyukai makan siang gratis," jawab Baekhyun. "Kulihat kau sangat berbeda saat di depan Kris. Kau menyukainya?"
Wajah Kyungsoo sedikit merona. "Be-benarkah aku berbeda? Aku malah tidak sadar."
"Kau biasanya pendiam dan pemalu, tapi tadi terlihat agresif sekali," Baekhyun menertawakan Kyungsoo.
"Jangan tertawa, eonni," Kyungsoo tak bisa lagi menahan rasa malunya. "Aku hanya mengagumi Kris oppa saja. Ia sangat tampan dan sangat berwibawa. Ayahnya mempercayakan cafe ini padanya karena Kris oppa memiliki kemampuan di bidang ini. Itu sangat hebat."
Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Mungkin lama-lama kau akan mencintainya, Kyungsoo-ya."
Wajah Kyungsoo mendadak murung. "Ia hanya menganggapku seperti adik perempuannya saja, eonni. Aku tak mau berharap lebih."
"Bersabarlah, Kyungsoo," hibur Baekhyun. "Jika kau tak bisa bersamanya, aku yakin kau bisa bersama orang yang lebih baik darinya."
...
Angin malam yang berhembus kencang membuat helaian rambut Kyungsoo yang diikat juga ikut berterbangan.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Shift Kyungsoo sudah berakhir, dan kini ia sedang dalam perjalanan pulang.
Kaki mungil miliknya bergerak menuju halte bus yang kira-kira berjarak dua ratus meter dari cafe.
Kyungsoo mendengus sebal ketika mendapati tali sepatunya terlepas. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah, tapi tali sepatunya itu mengganggu langkahnya.
Dengan malas Kyungsoo mulai menundukkan badannya untuk mengikat ulang tali sepatunya. Dan saat ia sedang berkutat dengan tali sepatunya itu, ia tiba-tiba dikagetkan dengan guyuran air dingin yang membasahi tubuhnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, ia mendapati mobil sedan hitam berlalu di depannya.
"Sial..." Kyungsoo mendesis. Ia berpikir bahwa air yang membasahi tubuhnya berasal dari mobil itu.
Mungkin saja orang yang ada di dalam mobil tanpa sengaja melakukannya. Mungkin orang itu tadi hanya ingin membuang air minum sisa atau semacamnya ke jalan, dan tanpa sengaja mengenai Kyungsoo.
Kyungsoo mencoba berpikir positif. Walaupun rasanya janggal karena jumlah air yang mengguyurnya tadi sangat banyak. Mungkin satu ember penuh.
Kyungsoo memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Kyungsoo yakin bahwa air yang menyiramnya tadi merupakan air es. Ia yakin bahwa air biasa tak akan sedingin ini rasanya.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Kyungsoo sampai di halte bus. Ia mendudukkan tubuhnya yang serasa beku di salah satu tempat duduk kosong. Hanya ada tiga orang di halte itu.
Tubuh Kyungsoo bergetar karena kedinginan, dan ia masih terus berusaha menghangatkan tubuhnya sendiri. Sayangnya, ia tak membawa jaket malam ini. Itu membuatnya menjadi semakin dingin.
Kyungsoo merasa kursi di sebelah kanannya diduduki oleh seseorang. Ia tahu bahwa tadi kursi itu kosong, tapi sekarang ia malas untuk menengok. Ia lebih memilih untuk menghangatkan dirinya dengan memeluk tubuhnya sendiri.
"Pakai ini," sebuah suara berat yang sedikit mendayu menginterupsi kegiatan Kyungsoo.
Mata bulat gadis itu mendapati sebuah jaket tebal berwarna coklat berada di depan matanya.
Kyungsoo memutuskan untuk menoleh ke kanan, dan ia langsung terkejut saat melihat sosok yang ada di dekatnya.
Sosok yang ada di dekat Kyungsoo adalah seorang pria tampan. Mata sayu pria itu menatap lurus pada mata bulat Kyungsoo. Wajah pria itu tampak kemerahan, dan Kyungsoo bisa mencium bau alkohol dari pria itu.
Kyungsoo langsung bisa menyimpulkan bahwa pria itu sedang mabuk. Mungkin itu alasan kenapa pria itu berada di halte ini. Letak halte ini dekat dengan sebuah klub malam terkenal di Seoul.
"Pakai ini," pria itu mengulangi ucapannya. Masih dengan nada bicara khas orang mabuk. Hanya saja, tatapan mata pria itu masih terlihat fokus meskipun ia sedang mabuk.
Kyungsoo sebenarnya ragu, tapi ia memutuskan untuk menerima jaket itu.
Setelah jaket itu berpindah tangan, pria itu kemudian berdiri, dan segera masuk ke dalam bus yang beberapa saat lalu berhenti. Kyungsoo bahkan tak menyadari bahwa ada bus yang berhenti di depannya.
Mata Kyungsoo masih menatap pada pria yang sekarang sudah duduk di dalam bus. Pria itu tak balas menatapnya, tapi Kyungsoo terus saja menatap pria itu.
Kyungsoo tak ikut masuk ke dalam bus itu karena itu bukan bus yang akan melalui rumahnya.
Hingga bus itu melaju pelan, Kyungsoo masih terus memandangi pria itu.
Saat bus sudah berbelok di tikungan, barulah Kyungsoo mengarahkan pandangannya pada jaket coklat di tangannya.
Ia memiliki dua alasan kenapa pada akhirnya ia menerima jaket pinjaman itu.
Alasan pertama: ia tahu bahwa orang mabuk akan sangat emosional bila keinginannya tidak dituruti.
Alasan kedua: ia...ia tahu siapa pria itu.
...
In other place...
"Kenapa Anda hanya menyiramnya dengan air dingin, Tuan? Bukankah itu terlalu ringan?" tanya seorang pria berjas hitam pada seorang pria muda yang duduk di kursi belajarnya.
Pria muda berwajah tampan itu menyeringai. "Aku ingin menghancurkannya secara perlahan," jawabnya tanpa menatap lawan bicaranya. "Bukankah itu akan lebih menarik?"
..
..
TBC
Dikarenakan prolog yang tadi pagi terlalu pendek, aku memutuskan untuk update chapter 1 yang sesungguhnya siang ini :)
FF ini mungkin agak sedikit menyimpan cast misterius dalam waktu yang cukup lama, jadi para pembaca bisa menebak-nebak siapa cast misterius itu.
makasih buat yang udah kasih komentar di prolog yang sebelumnya.
review again?^^
