Awal Dari Segalanya

"Haai, namaku Ryuzaki Tsubaki~ Salam kenal yaaa"

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan musim panas, kelas Tsuna kedatangan seorang murid pindahan. Anak itu cantik dan ramah, sehingga dapat segera berbaur dengan anak-anak kelas. Terutama para murid laki-laki, menanyakan berbagai macam informasi mengenai dirinya.

"Pindahan dari mana?"

"Rumah kamu dimana?"

"Sudah punya pacar belum?"

Sementara anak-anak ramai mengerubuti(?) sang murid pindahan, Tsuna, Yamamoto dan Gokudera hanya diam meperhatikannya. Sepertinya mereka sama sekali tidak tertarik dengan murid pindahan itu.

"Cih, apa bagusnya cewek seperti itu?" Seperti biasa, Gokudera terlihat kesal.

"Hahaha, aku juga tidak tahu. Memang dia cantik, tapi menurutku make up-nya terlalu tebal." Sambung Yamamoto.

"Maklumi saja, kita kan sudah SMA... Anak-anak perempuan biasanya mulai tertarik dengan make up." Kata Tsuna.

Mereka bertiga kembali memperhatikan kerumunan anak kelas. Kyoko dan teman-teman perempuannya menawarkan diri untuk mengenalkan ruangan-ruangan sekolah, dan makan siang bersama. Memang, jumlah murid laki-laki kelas 1C lebih banyak dibandingkan jumlah murid perempuan. Wajar saja mereka senang dengan bertambahnya teman perempuan, walaupun hanya satu orang.

Sementara itu, para murid laki-laki berlomba-lomba mendekati Ryuzaki. Jelas sekali kalau mereka punya maksud tertentu. Memang dia cantik, dan kelihatannya juga anak yang baik. Tapi..

"Sudah dengar kabarnya, sih. Tapi tidak kusangka murid pindahannya seperti itu. Jangan-jangan kalau tidak pakai make up setebal itu wajahnya jel..."

"Ssssstt...! Gokudera-kun, jangan bicara seperti itu! Tidak sopan!" Dengan cepat Tsuna menyelak perkataan Gokudera.

.

.

.

.

.

"Jalankan rencana."


Sudah hampir sebulan sejak Ryuzaki pindah ke SMU Namimori. Wajahnya yang cantik, sifatnya yang ramah, dan mudah bergaul dengan laki-laki maupun perempuan, membuatnya selalu menjadi pusat perhatian kelas.

Anak-anak kelas lain juga mengenalnya sebagai "murid pindahan cantik yang ramah". Dalam sekejap, ia menjadi anak yang cukup dikenal di SMU Namimori, murid yang populer. Bisa dibilang dia adalah Yamamoto versi cewek. Sepertinya seluruh anak menyukainya.

Sementara itu, Tsuna merasakan ada sesuatu yang aneh pada Ryuzaki. Blood of Vongola, feelingnya mengatakan suatu keanehan pada Ryuzaki. Tetapi ia tidak menghiraukannya, karena keanehan itu sesuai dengan keadaan Ryuzaki saat ini.

Pagi hari, Tsuna masuk ke kelas dan menemukan sebuah kertas di kolong mejanya. Kertasnya berwarna pink dengan motif beruang, seperti kertas yang akhir-akhir ini sering dipakai I-pin, kertas yang sering dipakai anak perempuan.

"Sawada-kun, bisakah kau pergi ke atap sekolah sekarang? Ada yang ingin kubicarakan padamu. Ini rahasia, aku ingin membicarakannya berdua saja.

Tsubaki Ryuzaki"

Tsuna melihat Ryuzaki yang sedang duduk di bangkunya. Kemudian ia mengedipkan mata, dan pergi ke luar kelas. Tsuna terus memperhatikan pintu kelas, walaupun Ryuzaki sudah tidak terlihat lagi sejak tadi.

"Jyuudaime?" Gokudera merasa ada yang aneh dengan Tsuna. Wajahnya terlihat mengkhawatirkan Tsuna.

"Tidak apa-apa. Oh iya, aku mau keluar sebentar. Tenang saja, aku akan kembali sebelum pelajaran dimulai." Tsuna menjawab dengan tersenyum, dan kemudian beranjak menuju atap sekolah.

Di atap sekolah, Ryuzaki menunggu Tsuna dengan bersandar di pagar atap. Tsuna menghampirinya, menggenggam erat surat yang baru saja ia baca tadi.

"Ada pembicaraan apa, Ryuzaki-san?"tanya Tsuna.

Ryuzaki diam, terus mengamati Tsuna dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lalu ia menyadari, sepertinya hidung Tsuna terluka.

"Ah, luka ini? Tadi aku terpeleset... Hahaha, aku memang ceroboh." Tsuna menjawab tatapan Ryuzaki yang terus melihat hidungnya.

"Anak seperti dia Decimo?"

Suaranya begitu kecil, hampir tidak terdengar.

Sebelum memulai pembicaraan, Ryuzaki meminta Tsuna mengembalikan surat yang tadi ia beri. Ia malu kalau ketahuan memanggil Tsuna dengan surat, apalagi kertasnya seperti itu. Tsuna tidak tahu apa yang membuat Ryuzaki malu hingga ingin kertas surat itu dikembalikan. Kertas surat itu wajar saja dipakai seorang anak perempuan seperti Ryuzaki. Lain halnya kalau Ryuzaki anak perempuan tomboy yang sama sekali tidak cocok dengan kertas pink bermotif beruang.

Tsuna memberi kertas itu kepada Ryuzaki. Ia melipat kertas tersebut, memasukkannya ke dalam saku rok, dan kemudian mengambil sebuah cutter.

"Ryuzaki-san, untuk apa cutter it.."

Croot!

Tiba Tiba Ryuzaki memotong wajah dan lengannya sendiri dengan cutter yang ia bawa. Luka itu tidak terlalu dalam, namun darah bercucuran dari lukanya tersebut. Sementara Tsuna terkaget-kaget dengan tindakannya, Ryuzaki melempar cutter itu ke arah Tsuna dan berteriak,

"Kyaaa! Seseorang... Seseorang tolong aku!"

Tidak lama kemudian, pintu atap terbuka dan beberapa murid muncul. Diantaranya terdapat teman sekelas Tsuna dan Ryuzaki. Mereka terkaget dan menghampiri Ryuzaki yang sedang terluka. Ia terlihat gemetaran ketakutan, seolah-olah luka itu bukan buatannya sendiri.

Kemudian mereka menemukan sebuah cutter di sebelah Tsuna. Sialnya, gagang cutter tersebut menghadap Tsuna. Bukan, Ryuzaki sengaja melemparnya agar gagang cutter tersebut menghadap Tsuna. Tentu saja, mereka semua menganggap Tsuna yang menyebabkan luka Ryuzaki.

"Apa yang kau lakukan, Sawada?!" salah satu teman sekelas Tsuna berteriak.

Tsuna terkaget. Ia melihat cutter yang ada di sampingnya, luka Ryuzaki, dan murid-murid di sekitar yang mencoba mengobati luka Ryuzaki. Dan Tsuna baru sadar, kalau sekarang ia sedang dianggap sebagai orang yang telah melukai Ryuzaki.

"Aku tidak melakukan apa-apa, sungguh! Tadi tiba-tiba Ryuzaki-san..."

"A, aku tadi dipanggil Sawada-kun untuk ke atap... Kemudian tiba-tiba dia..." Ryuzaki memotong pembicaraan Tsuna, berusaha agar kebohongannya tidak diketahui.

"Aku...!"

"Jyuudaime!"

"Tsuna!"

Belum sempat Tsuna membela diri, Yamamoto dan Gokudera datang. Mereka mendengar ada keributan di atap sekolah. Mereka segera bergegas menuju atap, mengingat Tsuna sedang berada disana. Pintu atap terbuka, para murid di sekitar Ryuzaki yang berdarah, dan Tsuna yang diam berdiri. Mereka berdua diam mengamati, berusaha mengetahui apa yang telah terjadi di sini.

"Gokudera, Yamamoto! Lihat, Sawada telah melukai Ryuzaki! Apanya yang 'Jyuudaime adalah orang yang sangat baik hati'?!"

"Sudah kita bilang bukan, lebih baik jangan dekat-dekat dengan Sawada! Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Dame-Tsuna seperti dia!"

Seluruh murid di situ mendukung Ryuzaki. Tidak ada seorangpun yang membela Tsuna, hanya karena Tsuna murid yang cenderung pendiam dan kurang ahli dalam bersosialisasi. Ditambah lagi dengan nilai-nilainya yang kurang bagus, semua anak beranggapan jelek mengenai Tsuna. Tidak ada yang mau tahu kenapa Yamamoto dan Gokudera, 2 murid top & populer SMU Namimori dekat dengannya.

Berbeda dengan Ryuzaki. Ia ramah dan mudah bergaul dengan murid perempuan maupun laki-laki. Dan yang terpenting, ia cantik. Terkadang orang mudah percaya hanya dengan tampangnya. Mungkin saja Ryuzaki tetap dipercaya, meskipun sifatnya tidak sebaik aktingnya.

"Memangnya ada bukti kalau Jyuudaime yang melakukannya?!" Gokudera berusaha membela Tsuna.

"Lihat saja, ada cutter penuh darah di samping Sawada-kun, dan Ryuzaki-san terluka! Mukanya juga terluka... Wajah itu sangat penting untuk perempuan, tahu!" salah satu murid perempuan membalasnya dengan berteriak. Jarang sekali ada anak perempuan yang berani berteriak terhadap Gokudera... Sepertinya mereka marah terhadap kejadian ini.

"Sudah kubilang, aku tidak melakukan apa-apa! Percayalah, Gokudera-kun, Yamamoto!"

Tsuna, Gokudera, dan Yamamoto saling bertatap mata. Mata Tsuna begitu tegas, seolah ia ingin menyampaikan sesuatu. Melihat itu, Gokudera dan Yamamoto hanya bisa terdiam melihat kedua orang yang menjadi pusat kasus ini.


Satu hari dilewatkan Tsuna dengan tatapan dan bisikan murid-murid SMU Namimori. Entah apa karena Ryuzaki cukup dikenal, gosip bahwa Tsuna melukai Ryuzaki sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Apalagi (akting) Ryuzaki yang ketakutan terhadap Tsuna membuat gosip semakin parah.

Sudah waktunya pulang, namun kedua sahabatnya tidak ada di sampingnya saat ini. Mereka berdua pulang terlebih dahulu, sebelum Tsuna selesai memebereskan seluruh buku pelajarannya. Kelas sepi, kosong. Semua anak pulang dengan menghindari Tsuna. Diantara mereka ada pula yang berbisik menjelek-jelekkan dirinya, dengan suara diperbesar, sengaja agar Tsuna mendengarnya. Kyoko juga hanya menatap Tsuna sebentar, kemudian pulang bersama Ryuzaki dan teman-temannya yang lain.

"Tsuna, ayo kita pulang!"

"Jyuudaime! Bolehkah saya ke rumah anda hari ini?"

Dame-Tsuna, sebuah panggilan yang ada sejak kecil. Sudah lama ia tidak diperlakukan seperti ini. Kesepian yang sudah lama tidak dirasakan. Kesepian tanpa ada kedua sahabatnya, yang selama ini menemaninya.

.

.

.

.

"Sesuai rencana, tidak akan ada seorangpun yang mempercayai dame-Tsuna. Ya, rencana sudah dimulai..."