Quand vient le soir..
BaekToYou
Main cast : HunBaek
Rated : M
Genre : tentuin sendiri ._.
-chapter 2-
Quand vient le soir…
'Jauhi Sehun, kau membuatnya terlihat buruk! Kau tidak tahu diri, dia kan anak kepala yayasan!'
'Kau lebih dari kotor Byun baekhyun! Memanfaatkan keluguan Oh Sehun, mati saja kau!'
'Dasar pelacur!'
'Pelacur murahan!'
Baekhyun menahan kuat tetapi untuk lepas, ia tidak butuh angin yang kencang yang akan melapukan tali atau mengkeroposkan kayu, cukup sebuah sentuhan kecil langsung pada jantungnya maka dia akan rubuh. Sejak semula ia memang salah, bukankah ia sudah tau adanya perbedaan kasta dan jarak antara dirinya dengan sehun?
Jadi inikah hukuman? Kenapa beban ini membelenggu diriku?
Baekhyun membayangkan orang orang yang ia sayangi ikut terlibat karenanya. Baekhyun baru menyadari betapa hina dan jahatnya ia ketika membayangkan itu terjadi. Tidak.
"…..Baekhyun?"
"Oh—eh, iya? Apa?"
Sehun menatap baekhyun tajam. "Kau mengacuhkan ku 15 menit, itu pun kalau kau penasaran."
"Eh? B-benarkah? Ma-maafkan aku Sehunnie. Maaf, kurasa aku melamun lagi." Baekhyun menggigit bibir bawahnya takut-takut. Namun ketika ia menilik, sehun—orang yang biasanya akan luluh dengan kedipan matanya—malah membuang mukanya.
Baekhyun kemudian menarik lengan sehun dan menepuk jas sekolah itu agar debu nya menghilang. "G-gomawo." Ucapnya sambil menunduk. Sehun bisa melihat, ketika linangan air mata itu perlahan turun.
"G-gomawo. Gomawo Sehun, untuk masih berada di sisiku walaupun aku selalu membuatmu terluka. Tapi kumohon, demi kebaikanmu, jauhi aku Sehun. Aku baik baik saja, sungguh."
Dia suka sekali berbohong.
Ctak.
"Aw—kenapa kau menyentil jidatku?" sehun menatap gemas pada sosok di hadapannya yang tengah mengusap jidatnya. Karena kau itu bodoh. Bibirnya yang tipis mengerucut lucu seraya menggerutu. "Hanya otakku ini yang kupunya, kau mau menistainya juga?"
"Bodoh, kau masih punya aku." Sehun mengusak rambut baekhyun sayang, ketika angin sore berhembus lewat jendela kamar baekhyun. Bagi Sehun, baekhyun memiliki kepribadian yang tertutup. Sementara bagi baekhyun, sehun adalah apa yang dilihat orang orang saat berjumpa dengan siswa kelas dua SMA; ramah, supel dan suka bergaul.
"Jangan pernah bersedih dan menyalahkan diri sendiri, mengerti? Ku beri kau kepercayaan dan jangan pernah kau langgar itu." ia memberanikan diri meraih tangan baekhyun. Sementara baekhyun membiarkan telapak tangannya bersatu dalam remasan lembut tangan sehun.
Buatku, bertemu denganmu adalah anugerah. Di sebuah taman kecil seolah aku datang dari masa lampau ketika senja datang dari peradabannya. Jangan tanyakan ini salah siapa, ini adalah aku. Aku tidak menginginkan ini jika hanya menyakitimu. Tiada alasan untuk itu.
Sehun tahu bahwa ia tidak seharusnya menyesali ini. Toh apa yang ia lakukan benar. Membela yang lemah adalah tindakan terpuji, menurutnya. Jadi ia tidak perlu kesal ketika untuk kesekian kali tatapan hina kembali ditujukan padanya.
BRAK.
Sehun melihat seragamnya dipenuhi bercak bercak makanan sekarang. Seisi ruangan riuh dengan gelak tawa. Memalukan. Ia menatap tajam pada sepatu nike hitam milik kai yang tadi membuatnya jatuh, sedangkan empu si sepatu ikut terbahak-bahak.
"Oh Sehun, kau sama kotornya dengan Byun Baekhyun!" pekik kai keras.
"Kapanpun kau memulai, aku siap meladenimu Kim Jongin." balasnya dingin. Kai berdiri dengan kedua tangannya berada di kantung celananya. Ia menyipitkan matanya sinis. "Bisakah kau menunggu saat itu, selagi aku meniduri Baekhyunmu?"
BRUG.
"Brengsek kau kim jongin!" Sehun baru saja akan melayangkan pukulannya yang kedua setelah dering ponselnya terdengar. Lalu ia bergegas pergi ke luar kantin.
"Cih." Decih kai setelah tadi ia terhuyung dengan tinjuan sehun.
From : unknown
Baekhyun, temui aku di gudang belakang ya? ada yang ingin kusampaikan.
-Oh Sehun-
Baekhyun menuju jendela. Tatapannya jatuh ke langit. Lalu ke atap. Lalu ke lapangan belakang. Dan berhenti pada bangunan tua dengan spanduk kecil bertuliskan 'gudang'. Imajinasinya menembus angkasa, tinggi sekali, dengan secuil rangkaian kata mempu membuatnya melayang.
Apa yang akan sehun sampaikan? Wajahnya merona. Tapi, baekhyun tiba-tiba menyudahinya dengan tatapan sayu. Entahlah.
"Sebaiknya aku menunggu Sehun di gudang."
Ia timbun baik baik segenap perasaannya dalam lubuk hatinya.
"…."
Kaki itu melangkah. Namun kosong yang menyambutnya. Tak ada tanda –tanda kehidupan disini, dan itu membuat oh sehun berpikir bahwa yang ia lakukan adalah buang buang waktu.
"..hiks."
Sehun berhenti, ia menoleh. "Nuguseyo?" ia masuk lebih dalam dan mendapati siluet seseorang yang tengah menunduk memeluk lutut di pojok ruangan. Rambut merahnya cukup membuat sehun tahu. "Luhan? Kau—kenapa? Apa yang terjadi padamu?"
Sosok itu masih menunduk dengan bahu yang bergetar. "Lu? Katakan, apa yang terjadi? Kenapa menangis?" tanya sehun khawatir. Takut-takut jika seseorang yang pernah singgah di hatinya ini terluka. Ia mendekat lalu merengkuh pundak Luhan yang dibalas dengan sebuah dekapan erat.
"Se-sehun hiks..rasanya sakit. Hatiku sakit sehun, eotteokhae?" Menyadari sehun diam, Luhan melanjutkan tangisannya. "Apa aku terlalu menuntut? Katakan apa kurangku Sehun..hiks"
"Luhan, maaf membuatmu begini tapi—"
"Sehun, kumohon."
Kali ini sehun membiarkan Luhan mendekap erat tubuhnya. Jujur, ia tak sanggup melihat orang yang dulu dikasihinya terlihat rapuh begini. Namun ia sadar, ia harus segera meninggalkan ruangan itu. "Aku akan bertanya dan akan terus mengulangnya hingga kau menjawab yang sesungguhnya," Luhan bersua. "Kau mencintaiku kan?"
"Luhan, dengar, aku akan terus mengulang jawabanku. Ingat, kau yang memulainya dulu. Segalanya telah berbeda sejak—malam itu." Sehun berusaha melepaskan dekapan luhan ketika bayangan di malam sabtu itu kembali terngiang.
"Aku minta maaf—"
"Tidak apa, itu sudah berlalu." Atau terlambat. "Aku—mmp—LUHAN!" ada jeda untuk beberapa saat, Sehun menyeka bibirnya pelan sementara Luhan berpikir mungkin ia masih punya sedikit kesempatan untuk merebut hati sehun kembali.
"Kurasa tidak ada lagi yang perlu dikatakan." Suara langkah kaki sehun beradu dengan lantai dan menghilang dengan cepat.
Luhan beranjak keluar dari ruang music itu. "Kai, lakukan tugasmu." Klik. Ekspresi luhan yang dingin, kemudian terpecahkan dengan gelak tawa sinis. Lalu garis wajahnya mengeras, "Byun baekhyun.."
Baekhyun tidak tahu sudah berapa menit ia duduk di lantai berdebu itu , menatap peralatan usang di ruangan yang sangat pengap. Tiba-tiba ia teringat mimpi-mimpi yang mengganggunya setiap malam, yang kini telah menjadi nyata.
"Tidak. Jangan diingat lagi.." ia menghela nafas panjang. Jemarinya memijit pelipisnya. Mungkin baekhyun hampir gila karena kenyataan yang tidak bersahabat dengannya. Mungkin juga ia hanya ingin lari dari kenyataan. Mungkin—baekhyun benci kata itu.
Srek.
"S-sehun? Kaukah itu?" Baekhyun merasakan jantungnya berpacu. "Sehun? Jangan mempermainkan aku."
"Senang bertemu denganmu lagi Byun Baekhyun." Ia menoleh, menatap pada sosok dengan sinar sore di belakang kepalanya.
"K-kai? S-sedang apa kau—disini?" Lelaki yang lebih kecil itu melakukan usaha sia sia dengan memundurkan langkahnya pada sudut ruangan. Membuat sosok bernama kai itu melepas seringaian. "Kau tidak tau? kami biasa berkumpul jam segini di ruangan ini."
Kami?
Sayup sayup terdengar derap langkah kaki dari pintu masuk dan beberapa seruan serta gelak tawa dari orang-orang yang kini mulai menampakan dirinya. Baekhyun tercekat. Siapa orang-orang ini? Mereka bukan siswa sekolah! Lalu—siapa?
"Aku tidak suka bertele-tele seperti Luhan, maka dari itu—Kris! Chanyeol! Tahan bocah tengik itu!" Baekhyun meronta sekuat tenaga ketika kedua tangannya di cengkeram dengan begitu kuat. Bibirnya bergetar. Matanya menatap kai dan temannya—kris dan chanyeol—bergantian, pikiran-pikiran mengerikan muncul dalam otaknya.
Terlalu banyak ketakutan dan kepasrahan yang dipancarkan mata baekhyun ketika langkah kai semakin mendekatinya. "Byun baekhyun, katanya kau kesepian, hm? Aku bawa teman untuk menemanimu." Ucapnya diikuti gelak tawa.
"K-kai? L-lepaskan ak—mmph!" tenggorokan baekhyun rasanya tercekat. Hanya sedikit lenguhan , seakan bisa merubah semuanya menjadi mimpi buruk.
TBC
muahahaha/? QWQ *nangis* baekhyun~~~~ QWQ
maaf aja chap ini kependekan, saya stuck nyampe sini ;-; seperti biasa, review yaa ;-;
