previously

"Terima kasih, Dokter! Aku, Elli Watson, siap membantumu!"

Tampaknya Elli sudah melupakan sifat malu-malunya terhadap sang dokter tampan itu. Lagi pula, toh, memang itulah sifat aslinya.

Dalam hati, Dokter Trent bergumam malas. Padahal wanita itu belum diterima olehnya.

Kenapa dia percaya diri sekali?

Tapi yang keluar dari mulut pria itu hanyalah sebuah dengusan geli. "Ya. Aku Trent Hoolder. Selamat berkerja."

Dan kemudian sang dokter pun menghilang dari tikungan tangga.

.

.

Kini, sudah hampir satu jam setengah Elli gunakan waktunya untuk meracik obat. Kedua pupil matanya secara bergantian mengamati panduan buku yang telah dibawanya, dan juga sebuah cawan petri yang terisi beberapa tanaman herbal yang telah tertumbuk. Tapi sayangnya, tak ada hasil yang memuaskan.

Apabila di buku menyebutkan; obat yang berhasil dapat dilihat dari racikan yang berubah warna menjadi hijau, racikan Elli malah menunjukkan warna jingga.

Sudah berkali-kali ia mengulang; hasilnya pun tetap sama.

Apa ada yang salah dengan buku panduan yang dia dapatkan dari perpustakaan ini, ya?

Karena tak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, Elli pun segera menutup lembaran tersebut dan menggeser buku itu jauh-jauh. Ia pandangi lagi racikan obatnya, dan kemudian melirik jam. Menyadari ia sudah terlalu lama berkutat di sesuatu yang sia-sia seperti ini, ia meneguk ludahnya sendiri.

Entah mengapa, ia takut apabila Dokter Trent mendadak turun dan menanyakan apa yang sudah ia buat. Kalau pria itu menemukan dirinya yang masih acak-acakan dalam meramu obat, bisa-bisa ia didepak keluar dari rumah sakit ini.

.

.

.

THE—MEDICINE

Harvest Moon by Natsume

AR—Alternate Reality

Pieree Present...

(Trent Hoolder—Elli Watson)

.

.

two of ...

-obat-

.

.

Masih dipusingkan hal yang sama, yakni memikirkan obat ramuannya yang belum jadi sama sekali, Elli memejamkan mata. Hembusan nafas panjang keluar dari hidungnya.

Ia memutuskan untuk mencoba lagi. Oleh sebab itu, ia buru-buru mencuci cawan yang sempat ia kotori, lalu meletakkannya kembali ke atas meja resepsionis. Ia akan memulai ronde baru.

Wanita manis bersurai coklat itu pun membalikkan badan, berada tepat di hadapan sebuah lemari kaca besar yang menyimpan ratusan herbal dan juga segala obat yang telah susah payah dokter itu kumpulkan. Matanya menyipit saat menemukan beberapa bahan yang tersedia di sana. Dan tak butuh waktu lama, Elli tersenyum.

"Ah, aku tau. Apa mungkin aku harus meraciknya dengan insting, ya?" Katanya, ceria. "Nenek bilang, buatlah sesuatu dari otak dan hatimu; jadi mungkin saja hal itu bisa dicoba di sini."

Segeralah Elli membuka lemari kaca tersebut, dan mengambil segala bahan obat-obatan untuk dia campurkan.

"Dua lembar daunred grass,tangkaiblue grass,dan cairan fermentasi dari mushroom..."

Setelah ia berhasil menumbuk bahan-bahan tadi menjadi sebuah adonan yang cukup halus. "Yang terakhir, puluhan ml cairan turbojolt XL..."

Menggunakan sebuah alat, ia aduk obat itu hingga cairan di dalam cawan sudah menjadi rata. Mendapati hasil yang terasa lumayan bagus, Elli tersenyum senang.

"Kalau tidak salah, Nenek pernah bilang kalau ini adalah ramuan yang bisa membuat tubuh orang yang meminumnya menjadi sangat sehat. Bahkan khasiatnya lebih terasa dibandingkan bodigizer XL atau turbojolt XL sekalipun." Jelasnya, entahlah ke siapa.

Elli menghapus butiran keringatnya dengan lengan pakaiannya. "Yah, semoga ini berhasil..."

Setelah menuangkan obat itu ke sebuah botol kosong, Elli memberikan label nama di permukaannya. Tentunya agar tidak tertukar dengan obat-obat racikan Dokter Trent yang lain. Usai menghasilkan sebuah obat, Elli langsung membereskan segala hal yang sempat diberantakinya.

Ia tidak ingin dokter tampan itu memarahinya karena dirinya yang tidak rapi saat meracik obat.

10 menit berselang, akhirnya Elli menyelesaikan tugasnya Ia pun duduk dan segera menghela nafas lega.

Berhubung jam sedang menunjukkan pukul 06.00, dan tak ada tanda-tanda dari sang dokter yang akan turun, Elli memandangi sebuah tangga yang terletak tepat di samping meja resepsionis. Itu adalah tangga yang menghubungkan rumah sakit ini ke sebuah ruangan pribadi milik Dokter Trent. Elli mengamatinya. Lama.

Sampai tiba-tiba, mendadak ada sebuah pemikiran yang terlintas di benaknya.

"Bagaimana kalau aku yang menghampirinya, ya?"

Elli bertanya ke dirinya sendiri.

"Lagi pula tidak mungkin juga Dokter Trent akan tau dengan sendirinya kalau aku sudah menyelesaikan tes ini..."

Usai meyakini dirinya, Elli langsung menaiki tangga. Tak lupa dengan sebotol racikan yang sedang dipegang erat olehnya.

.

.

the—me-di-ci-ne—pi-e-ree

.

.

Di tempatnya terbaring, pria bernama Trent Hoolder itu terlihat sedang menikmati masa-masa di mana tubuhnya dapat beristirahat. Kedua mata terpejam rapat, seolah telah dilekatkan oleh lem sehingga tak akan bisa terbuka lagi. Punggungnya juga terasa meleleh, dan dirinya bagai terbang ke awang-awang.

Hhh...

Benar-benar sensasi yang luar biasa menenangkan.

Tampaknya tubuh dan otaknya memang sangat merindukan tempat tidur.

"Dokter!"

Terdengar panggilan dari seseorang yang langsung menyentak tubuhnya.

"Dokter Trent!"

Kali ini suaranya mendekat, bahkan bisa dideskripsikan berada tepat di sebelahnya.

Sambil membenamkan wajahnya ke bantal, pria itu bergumam malas. "Hm?"

Saking lelahnya, ia sampai tak ingin mengeluarkan bentakan kepada seorang wanita yang begitu sembarangan—karena telah memasuki kamarnya tanpa izin. Kalau saja ia berada di kondisi sehat, mungkin tanpa segan ia akan memarahinya.

"Ya, ampun, Dokter... kenapa Dokter tidur dengan mengenakan pakaian kerja?"

'Karena aku tidak sempat mengganti baju, sialan...' Dalam hati, dokter muda itu membatin kesal.

"Lebih baik Dokter mengganti baju."

'Lebih baik kau pergi...'

"Tapi sebelum itu, aku mau memberitahu kalau aku baru saja menyelesaikan racikan obatku." Elli segera menunjukkan sebuah tabung kecil yang berisi cairan berwarna kuning. "Taraa~!"

"Rgh..." Dengan sebuah geraman, Dokter Trent segera menjambak surai hitamnya yang tak lagi rapi; acak-acakan. Jujur saja, ia benci sifat kekanak-kanakan yang dimiliki oleh calon suster barunya itu. Mood beristirahatnya bagaikan hancur dalam seketika.

Tapi sayangnya, ia tidak bisa marah. Sebab, apabila tak ada suster yang mendampinginya di sini, maka Dokter Trent akan selama-lamanya bergadang selama 24/7 jam non-stop. Agar mendapatkan parner, ia harus benar-benar menjaga ekstra kesabarannya.

Segeralah pria berambut hitam pendek itu mengubah posisinya menjadi terduduk. Dengan wajah kusut ala bangun tidur dan mata yang masih menyipit, ia segera memicingkan matanya ke Elli yang sedang duduk di tepi ranjang—berserta tabung obat yang masih dipegangnya.

"Itu obat apa?"

"Ini kuberi nama... obat kuat. Jadi kau bisa akan semangat terus kalau meminum ini."

"Apa itu sudah terbukti?"

"Belum." Jawabnya dengan riang. "Karena itu, coba Dokter yang minum."

"Tidak akan."

Jawaban dari Dokter Trent membuat wajah Elli menjadi kecewa. "Eh? Kenapa?"

"Aku tidak ingin mengambil resiko apabila obat yang kau racik itu akan meracuni tubuhku." Katanya, enteng. "Di tes kebersihan ini, kau yang meminumnya. Lalu buktikan kepadaku apabila obatmu sehat untuk dikonsumsi."

"Jadi kalau aku baik-baik saja—tidak sakit ataupun keracunan—maka Dokter mau meminumnya?"

"Ya."

"Baiklah."

Tanpa ragu, Elli segera membuka tutup dari botol tersebut dan segera meneguknya sebanyak dua kali.

"Fuah~! Segar!"

Dokter itu menatapnya heran. Wanita ini benar-benar sangat aneh. Apa ia benar-benar akan menerima manusia seperti ini agar dapat menjadi rekan kerjanya?

"Nah, aku baik-baik saja." Kata Elli. "Sekarang giliran Dokter Trent yang minum."

Dokter tersebut menguap pelan, lalu ia menerima botol tabung itu. Bersama pandangan yang sudah berair, ia mengamati penampilan dari Elli. Lama.

Wanita itu masih tersenyum kepadanya, namun pandangannya seolah turun. Kedipan matanya pun memelan. Ia terlihat seperti kelelahan.

Untuk beberapa detik, Dokter Trent sama sekali tak mengeluarkan suara. Pandangannya tak lepas dari Elli.

"Apa kau merasa ada yang aneh terhadap dirimu?"

"Eh? Tidak ada kok. Yang terjadi malah sebaliknya. Seperti ada sesuatu yang menjalar di syaraf-syarafku. Sedikit panas sih... hehe..."

Berbeda. Cara bicaranya berbeda—dari yang sebelum meminum obat ini.

Sekalipun dirinya masih teramat sangat mengantuk, Dokter Trent mencoba memeriksa cairan di dalam tabung. Siapa tau Elli menjadi terlihat sedikit lemas karena obat tersebut.

Namun, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menekan sang dokter.

Menekan... celananya.

Dokter Trent kekesiap. Pria itu segera menahan tangan Elli yang sempat menggenggam 'sesuatu' di bawah celananya. Sesuatu yang kini sudah 'sedikit terbangun' akibat sentuhan dadakan itu.

"Kau... apa-apaan!?"

Terlalu terkejut mendapati hal tadi, ia tak sengaja mengeluarkan bentakannya ke Elli. Namun, Elli tak menunjukan reaksi kaget ataupun sedih. Ia malah tersenyum senang.

"Nggh... Dokter..."

Tersentak karena suara tadi, Dokter Trent mengamati wajah dari Elli.

"Di-Di sini panas..."

Kedua mata cantik itu memandangnya, sayu. Wajahnya memerah. Dan yang paling penting, tubuhnya sedikit bergetar aneh.

"Dokter Trent..."

Elli menaiki ranjangnya. Wanita dengan pakaian suster itu segera mendorong bahunya, membiarkan pria itu terbaring. Elli duduki perut Dokter Trent, lalu ia membungkukkan tubuhnya.

"K-Kau..."

Dokter umum itu berniat menahannya, namun tak bisa. Ia tidak bisa bertindak kasar secara fisik kepada perempuan. Terlebih lagi, dirinya sudah terlalu membeku ketika ada telapak tangan milik seseorang yang sudah membelai tubuhnya yang masih terbalut kemeja.

Di dalam posisi terjepitnya, ia berpikir keras.

Sampai akhirnya, terlintaslah sebuah kesimpulan yang ia dapatkan dari pengalaman ini.

Apa jangan-jangan...

Obat yang diracik oleh Elli... adalah obat perangsang?

"Elli, cepatlah menyingkir dariku. Kau dipengaruhi obat..."

"Ahh, Dokter... kau... malu-malu..."

Dengan kasar, Elli pun menarik apronnya ke lantai. Lalu... wanita itu pun membuka kemejanya.

Kedua mata sang dokter terbelalak.

.

.

see you

.

.

my note

Chap dua update. Semoga pada ngga bosen sama fict ini...

.

.

replies side

Ada beberapa yang harus diperbaiki. Oke, terima kasih. Udah kuedit. Namun ada beberapa yang ngga bisa kupenuhi, seperti 'nafas' ke 'napas'. Soalnya aku sendiri jauh lebih nyaman kalau menggunakan kata 'nafas'. Tapi tetap, terima kasih banyak atas segala koreksinya. Aku ngga nyangka ini multichap dan ratem. Ahaha. Trent dingin, ya. Iya, di game-nya kan dia agak-agak datar gitu mukanya. Aku juga suka sama Doctor dan Elli. Baguslah :Dd Apa ya obat buatan Elli? Ya begitulah (?).

.

.

warm regards,

Pieree...