LITTLE PROMISE

Saat kau berbisik dihadapanku

Dan menautkan jari kelingking kita

disaat itulah kita terikat dalam benang kasat mata

Tanpa sepengetahuanmu

Special Thank's:

Guest,, dEviLune Michaelis, earlgreysanbernvoureth and YOU!

DON'T LIKE DON'T READ

ENJOY

.

CHAPTER 2

CKLEK

Pintu berdaun pintu besar itu terbuka menampakkan sosok Ciel yang terengah engah.

"Ah! Itu Ciel. Dia sudah besar dan tampan kan?ahaha~~?" ucap Rachel sang ibunda Ciel pada seseorang yang duduk di sofa didepannya.

"Ciel ayo masuk dan duduklah. Padahal baru tadi pagi kita membicarakannya. Hah~ Mum kangen melihat dirimu—"

"S-Sebastian...?" ucap Ciel masih tak percaya. Ia berdiri mematung di ambang pintu.

" Ya Ciel.. Aku kembali.." ucap Sebastian dengan senyuman khasnya.

Bukannya membalas senyuman Sebastian, Ciel malah menundukkan kepalanya sambil menyeringai.

'Heh.. Sebastian, kau masih bisa tersenyum dengan enteng seperti itu setelah semua yang terjadi. Kau naif Sebastian! Kita lihat, apa kau masih bisa tersenyum seperti itu sesaat lagi.' batin Ciel.

Ciel menaikkan kepalanya yang menunduk. Dengan arrogantnya ia berjalan kearah Sebastian yang masih duduk manis di sofa. Tepat setelah ia berdiri di depan Sebatian, sejenak ia tersenyum -ah lebih tepatnya menyeringai.

"Apa kabar Ci―

PLAK

Bukan sebuah pelukan selamat datang yang Ciel berikan atas kembalinya Sebastian. Tapi sebuah tamparan keras yang menyisakan 'jejak' tangan Ciel di wajah pucatnya.

"CIEL! Apa yang kau lakukan!" pekik sang ibunda.

Manik bloody Sebastian terlihat membulat. Terkejut. Ya, ia begitu terkejut atas tindakan Ciel yang tiba-tiba menamparnya.

"Kenapa? Kenapa kau kembali? Kau pikir kau siapa datang dan pergi sesukamu HA!" tangan Ciel menarik kerah kemeja Sebastian. Wajahnya memerah karena kesal dan marah, diikuti gerakan dadanya yang naik turun.

"CIEL hentikan! Apa begini sikapmu pada orang yang pernah menjadi keluargamu?" ucap sang ayah buka suara.

DEGH.

Ciel seakan keluar dari lautan emosinya. Ia benar-benar terkejut ketika mendengar kata-kata sang ayah barusan. 'Keluarga'. Sebastian memang pernah ia anggap sebagai kakak. Keluarganya yang ia sayangi. Amat ia sayangi.

Perlahan, jeratan tangannya pun mulai mengendur.

"Ciel minta maaf dengan Sebastian!" perintah Rachel pada anak semata wayangnya yang kini tengah berdiri mematung didepan Sebastian.

"Hmm.. tidak perlu." Jawab Sebastian.

"Eh?" sontak Ciel pun terkejut mendengar pernyataan Sebastian. Maniknya menatap sosok sebastian yang duduk dengan tangan menopang pipinya.

"Ya.. Ciel tak perlu minta maaf padaku. Aku memang pantas mendapatkan ini. Aku memang salah.. maafkan aku.."

"Oh..~~ Sebastian.. kau tidak perlu minta maaf sayang. Ah ya, sepertinya sudah waktunya afternoon tea. Ayo kita ke taman. Dear, ayo~" Ajak Rachel tersenyum menggandeng suaminya. Sebastian mengangguk. Kini hanya ada Ciel dan Sebastian di ruangan dengan pemandangan taman bunga mawar yang dibingkai oleh jendela besar yang membentang di sisi kanan ruangan itu. Ciel masih berdiri mematung. Sementara Sebastian sudah berdiri hendak pergi meninggalkan ruangan itu untuk menyusul kedua orangtua Ciel.

"Kau sudah besar Ciel. Tamparanmu cukup kuat hingga membuat rahangku sakit." Ucap Sebastian memecah kebisuan diantara mereka.

"Hah, terimaksih atas pujianmu. Kuharap setelah ini kita tak saling bertemu lagi Sebastian. Pergi dan tinggalkan keluargaku. Aku tau kau sudah hidup senang di Paris. Kau mengerti kan?" ucap Ciel ketus. Kini ia berani untuk menatap mata Sebastian.

"Kejam sekali? Sejak kapan Ciel yang dulu manis jadi kejam seperti ini?" goda Sebastian. Tangannya hendak mengacak rambut Ciel seperti yang sering ia lakukan dulu kepada Ciel. Namun, dengan segera Ciel menepis tangan Sebastian yang membuat Sebastian sedikit tercengang.

"Jangan sentuh aku! Aku bukan Ciel yang dulu. Ciel yang dulu kau kenal sudah lama mati!" pekik Ciel kesal.

"Mati? Ciel.. berhentilah bersikap dingin seperti itu. Ciel ya Ciel. Bukan orang lain. Toh saat ini aku sedang berdiri didepan Ciel yang kukenal dulu. Bukan orang lain."

.

Tanpa bisa Ciel cegah, tangan besar Sebastian menyentuh dan mengacak rambut Ciel dengan lembut. Ciel tak bisa berontak. Otaknya tak sanggup berpikir dengan jernih saat ini.

Drrtt. Cklek.

Hanya sebuah bunyi deritan pintu yang terdengar setelah itu. Jingga matahari yang masuk dari arah jendela, menelan Ciel yang masih berdiri terpaku ditempatnya berdiri. Wajahnya memanas. Rasanya ia ingin memukul sesuatu. Geram. Benci. Kesal. Tapi, dibalik semua itu..

"Bodoh! Sebastian bodoh!"

Meliahat Sebastian yang tersenyum dengan entengnya sebelum ia keluar dari ruangan itu, membuat hati Ciel bergemuruh. Antara benci dan rindu. Ciel tak tahu mana yang ia rasakan saat itu. Yang jelas.. ia kesal melihat sikap Sebastian yang tersenyum sebegitu entengnya dihadapannya.

XXX

"Aku selesai.." ucap Ciel menyudahi makan malamnya. Dalam hati ia bersyukur karena makan malamnya tak terganggu oleh kehadiran Sebastian.

"Eh Ciel, kau mau keatas kan?" tanya ibunda Ciel.

"Ya mum, aku mau kembali ke kamar. Ada apa?" tanya Ciel menyeka mulutnya dengan serbet di tangannya.

"Bisa kau panggilkan Sebastian untuk makan malam?" pinta ibunya.

"Mum.. ! suruh pak Tanaka saja. Aku tidak mau berurusan dengan orang itu!" ucap Ciel ketus.

"Ciel..~~"

.

.

DRAP. DRAP.

Ciel berjalan menghentakkan kakinya kelantai. Keningnya berkerut dan alisnya bertaut. Kini ia tengah berdiri di depan kamar Sebastian. Kalau bukan karena perintah ibunya, ia tak mungkin berada di depan kamar Sebastian saat ini.

Tangan Ciel hendak mengetuk daun pintu di depannya itu. Tapi..

"Urghh! Kenapa untuk mengetuk pintu saja aku susah! Arghh~~!" rutuk Ciel pada dirinya sendiri.

"Ayo Ciel! Simple saja, ketuk pintunya lalu masuk, sampaikan pesan Mum dan segera keluar. Ya beres!" bisik Ciel pada dirinya sendiri. Namun, saat ia hendak mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok Sebastian dengan kemeja hitam dengan kancing bagian leher dibiarkan tak terkancing. Melihat sosok Sebastian yang muncul tiba-tiba dihadapannya dengan jarak yang cukup dekat, sontak tubuh Ciel melompat kebelakang.

"Wuaaa~!" pekik Ciel.

"Hpff—ehem,Ciel? kenapa kau disini?" tanya Sebastian senormal mungkin. Ia berusaha untuk menahan tawanya melihat ekspresi terkejut Ciel yang menurutnya lucu.

"B-bodoh! Kenapa kau tiba-tiba keluar! Mengejutkanku saja..cih!" decih Ciel memegang dadanya. Masih shock rupanya.

"Lho.. kenapa kau marah? Suka-suka aku dong mau keluar. Apa aku harus berteriak 'apa ada orang di depan pintu? Aku mau keluar!' begitu? Ada-ada saja..haha.."tawa Sebastian yang masih berdiri diambang pintu kamarnya.

"Hei! Jangan tertawa tidak ada yang lucu! Dan apa-apaan tadi itu! Ya! Kau harus berteriak seperti itu ketika kau mau keluar dari kamarmu atau dari mana saja!" pekik Ciel. wajahnya memerah karena malu dan kesal. Dan menurut Sebastian, wajah Ciel yang sedang marah itu terlihat..Cute?

"Haha.. jangan pasang wajah marah seperti itu! Orang marah itu dimana-mana akan memasang tampang keras dan serius. Tapi kau.. kau malah memasang tampang serius dengan wajah memerah yangi terlihat menggemaskan! Haha.. kau ini.."

Pat.

Lagi. Tangan itu menepuk kepala Ciel pelan dan diteruskan dengan mengacak rambut grayish bocah setinggi dadanya itu. Wajah Ciel memanas. Sudah lama ia tak merasakan tangan dari orang itu menyentuh kepalanya lagi. 11 tahun berlalu. Tapi, kehangatan itu masih tetap terasa sama.

"Aku akan ke ruang makan sekarang. Kembalilah ke kamarmu dan pergilah belajar. Oh ya, jangan tidur terlalu larut. Tidak baik bagi kesehatan dan tubuhmu.."

. Tap.

Perlahan, suara langkah kaki sebastian makin menjauh. Sementara Ciel masih berdiri termenung ditempat ia berdiri sedari tadi. Kenapa? Kenapa Sebastian sebaik itu memperhatikannya? Bukankah ia sudah melupakan hubungan kakak-adik mereka sejak pindah ke Paris? Atau.. ini semua hanya salah paham Ciel terhadap Sebastian?

"bodoh.. bahkan aku belum menyampaikan pesan Mum.."

Sruk.

Tangan Ciel menyentuh kepalanya. Disana, terletak tangan Sebastian sebelumnya. Mengusap kepalanya yang membuatnya merasa nyaman dan tenang. Tapi... Kenapa rasanya berbeda ketika ia menyentuh kepalanya dengan tangannya sendiri?

XXX

Pagi tiba. Seperti biasa, setelah siap sarapan, Ciel segera menuju pelataran diluar untuk segera mengendarai mobilnya menuju sekolahnya. Saat ia melewati sebuah lorong yang menyambungkannya menuju taman belakang rumahnya, ia terpaksa berhenti ketika melihat sosok berambut raven tengah duduk dengan ayahnya.

'Cih.. pendekatan dengan ayah, eh? Sedang membicarakan apa mereka?" ucap Ciel pelan. Tanpa ingin tahu apa yang sang ayah dan si rambut raven bicarakan, Ciel dengan santainya kembali berjalan. Namun, setelah berjalan sekitar 1 meter entah kenapa ia buru-buru berjalan mundur kebelakang dan segera menempelkan telinganya di permukaan pintu fiberglass di depannya. Sebagai catatan, kenapa Ciel dapat melihat ayahnya sedang berbicara dengan Sebastian karena ruangan itu dibuat dengan dinding kaca seperti rumah kaca. Fungsinya ya agar dapat melihat taman bunga yang didominasi mawar biru dan putih yang sangat disukai ibunya. Juga air mancur yang berdiri megah diantara rose garden itu.

Oke, selesai deskripsi soal dinding dan taman. Hehe.. back to the story~!

Samar-samar Ciel dapat mendengar percakapan antara ayahnya dengan Sebastian. Sejauh ia mendengar percakapan ayahnya dan Seabastian, tak ada percakapan yang khusus. Hanya membicarakan soal bisnis. Tapi.. topik pembicaraan selanjutnya membuat Ciel terkejut.

.

"Jadi.. apa kabar ibumu di Paris? Bagaimana pekerjaannya?" tanya sosok ayah Ciel. Vincent.

"Ibu baik-baik saja. Pekerjaannya juga lancar, hanya saja ibu sedang sangat sibuknya saat aku memilih untuk kembali ke London. Tapi aku yakin pasti ibu dapat melewati saat-saat sulit. Aku percaya padanya." Jelas Sebastian panjang lebar. Senyum terukir di wajah tampannya.

"Wahh.. ibumu benar-benar beruntung bisa memiliki anak sepertimu Sebastian. Seandainya aku punya anak perempuan, pasti aku sudah akan menjodohkan kalian sejak kecil. Haha.." canda Vincent. Namun, entah kenapa Sebastian malah menanggapinya dengan serius.

"Ahaha. Aku akan sangat besedia ayah. Kalau ayah benar-benar ingin mendapatkan mantu sepertiku, aku mau dijodohkan dengan Ciel." ujar Sebastian dengan lancarnya. Beruntung ayah Ciel hanya menganggap ocehan Sebastian tadi hanya candaan belaka dan ikut tertawa bersamanya.

.

JLEGAR!

Pembicaraan ayahnya dengan Sebastian yang terakhir itu bagai petir di siang bolong bagi Ciel. Yang dengan sukses membuat tubuh Ciel jatuh terduduk dengan kepala terkulai lemas. Dalam hati ia merutuki Sebastian. Bahkan ayahnya juga.

'Apa-apaan mereka! Ini semua gara-gara ayah yang membuat si bodoh itu dengan entengnya bicara bicara seperti itu. Dan apa maksudnya itu? Apa dia gila? Mau bagaimanapun, hubungan pria dengan pria itu terlarang! Dasar idiot! Autis! Pergilah kau ke neraka Sebastian!' rutuk Ciel.

Karena tak ingin mendengar lebih jauh lagi, Ciel segera berlari keluar. Ia ingin segera tiba di sekolah dan bertemu dengan seseorang untuk diajaknya cakar-cakaran. Miniimal beradu argumen dengan guru ekonominya yang selalu kalah saat beradu argumen dengannya. Ckckck.. kasihan sang guru ekonomi itu.

XXX

London Elite High School.

Sesuai namanya, sekolah ini adalah sekolah khusus bagi orang-orang elite di London. Sekolah yang luar biasa luas ini adalah sekolah tempat Ciel menuntut ilmu. Lalu, apa yang sedang Ciel lakukan saat ini? Mari kita intip dia! Sfx: PLAK

Manik Aquamarine Ciel menyusuri judul-judul buku yang tersusun apik di rak buku milik perpustakaan sekolah. Maniknya terpaku pada sebuah buku berjudul 'Sorry The Magic Word'.

"Sorry the magic word? Kenapa buku seperti ini bisa ada disini?" ucap Ciel yang terlihat bingung. Tangannya meraih buku tersebut dari rak buku.

Drrtt.

Ciel menarik sebuah kursi yang tersedia disana lalu duduk didekat jendela. Ia mulai membuka lembaran pertama buku itu. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah kata pengantar. Dan dilembaran berikutnya, cerita pun dimulai.

.

.

"- el"

Samar-samar Ciel mendengar seseorang memanggil namanya. Tapi.. siapa?

"-iel.."

"Ciel?"

"HAH?!" terkejut. Ya Ciel terkejut ketika melihat seorang gadis berambut ikal berwarna blonde berdiri dengan memeluk beberapa buku ditangannya.

"Lizzie?" ucap Ciel.

"Dugaanku benar." Ucap gadis itu tersenyum lalu menari kursi disamping Ciel dan kemudian meletakkan buku-buku yang ia pegang sedari tadi diatas meja.

"Maksudmu?" tanya Ciel merapikan poninya yang kusut.

"Ya, kau tidak masuk kelas Mrs. Mandy tadi. Karena aku tau kau akan ada disini, makanya aku datang kemari. Ah ya, ini.." ucap Lizzie menyodorkan buku catatan Sejarahnya kepada Ciel.

"Aku tidak bermaksud membolos kelas Mrs. Mandy. Aku bermaksud untuk membac a buku dan setelah itu tiba-tiba saja aku jatuh tertidur. Ngg.. terimakasih, akan segera kukembalikan besok." ujar Ciel membuka buku yang ia tinggali tadi.

Sedetik kemudian, yang ada hanya keheningan. Hanya bunyi lembaran kertas yang dibolak-balik terdengar. Oh ya, kalian heran kenapa gadis bernama Lizzie itu terlihat akrab dengan Ciel? jawabannya, gadis bernama lengkap Elizabeth Midford itu adalah sauadara jauh Ciel. Maka dari itu mereka terlihat akrab. Tidak ada hubungan yang khusus diantara mereka. Ya, itu bagi Ciel. Tapi bagi Lizzie, Ciel adalah sosok yang ia sangat kagumi.

XXX

Sosok jangkung dengan rambut raven itu terlihat tengah menunggu pesanan minuman yang ia pesan. Sedari tadi tak henti-hentinya sosok tampan itu diperhatikan orang. Tapi ia terlihat tak merasa terganggu dengan itu. Toh dia sudah biasa dengan situasi seperti ini.

"Ini dia pesanan Anda, silakan..~" ucap penjaga kasir itu denagn genitnya. Sebastian hanya tersenyum merespon kedipan mata penjaga kasir itu.

Dengan santai kemudian ia berjalan keluar dari cafe itu. Udara dingin langsung terasa menusuk kulit karena mengingat ini pertengahan musim gugur. Tinggal setengah bulan lagi memasuki musim dingin. Yang artinya, welcome snowman~~!

"Harusnya aku tak menolak tawaran pak Tanaka untuk mengantarku jalan-jalan naik mobil. Aku tak mengira udara akan sedingin ini. Brrr.."

Sebastian memasukkan tangan kirinya yang tak terbalut sarung tangan ke dalam mantel bulunya. Sementara ia terus menyeruput Coffee Latte yang baru saja ia beli. Beruntung mansion keluarga Pantomhive berjarak tak terlalu jauh dari sana. Tapi, karena kedinginan, untuk berjalan pun malas. Rasanya ingin segera tiba di mansion, dan duduk di depan perapian.

Melihat ada tempat pemberhentian taxi, Sebastian pun memilih untuk menunggu taxi yang lewat. Tepat saat sebuah taxi hendak berhenti di depannya, sebuah klaksonan mobil terdengar di belakang taxi yang hendak ia naiki.

"Heh.. mau naik taxi TUAN?" ucap seseorang dengan suara yang mengejek.

"Eh? Suara itu.. CIEL? sedang apa kau? Sejak kapan anak dibawah umur di perbolehkan mengendarai kendaraan?" Ucap Sebastian tak kalah sinis. Tak lupa juga sengiran khasnya.

"UGH! Aku akan segera lulus SMA tahun depan! Tadinya aku ingin menumpangimu naik mobil, tapi karena kau sudah memilih naik taxi... yasudah, sampai jumpa di rumah~" ucap Ciel hendak menlajukan mobilnya.

"EH! Tunggu tunggu tunggu! Pak maaf aku tidak jadi naik! Ciel aku ikut tunggu aku!" teriak Sebastian langsung membuka pintu mobil Ciel dan segera masuk kedalam mobil itu.

"Hah.. dasar bodoh. Berteriak seperti itu di depan umum. Memalukan sekali.." sinis Ciel yang bersiap melajukan mobilnya.

KLIK.

"Bocah diam saja. Ayo cepat jalankan mobilnya.." perintah Sebastian setelah memasang sabuk pengamannya.

"Cih.. aku bersumpah tidak akan memberi tumpangan padamu di kemudian hari.." ucap Ciel yang dibalas dengan senyuman dari Sebastian.

Hmm.. apakah dengan ini mereka akan kembali dekat? Kita lihat saja nanti..~

XXX

YEEE~~ Chapter 2 tuntas! Maaf atas keterlambatan dalam meng-update. Soalnya saya orangnya mood mood-tan(?)-bahasa apa ini?-. bagaimana Chapter 2 ini? Ceritanya sudah saja panjangin. Menurut saya Chappy ini rada ngebosenin. Tapi saya akan berusaha membuat cerita yang gak ngebosenin di Chappy selanjutnya. Terimakasih semuanya(baik Silent reader ataupun reader yang punya akun) buat yang sudah reveiew dan membaca karya saya! Kalian membuat saya tambah semangat melanjutkan cerita. Ini sudah saya lanjutin dan panjangin ceritanya-walau masih rada pendek-. dan soal update kilat, saya gak janji tapi akan sayab usahakan.

ほんとうにありがとうございます皆さま~~:)

Silakan tinggalkan jejak Anda~~:D