Mystery Solver

Disclaimer : I don't own Naruto but the idea.

Review Chapter 1

"Ada apa Oji –san?." Tanya Iruka pada petugas kebersihan di Konoha Gakuen ini.

Petugas kebersihan itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Iruka melainkan ia mengatur deru napasnya yang memburu bahkan keringat pun mengalir di seluruh kulitnya yang sudah keriput itu sampai – sampai baju yang di kenakannya basah kuyup.

"Sasuke – san di temukan meninggal di ruang kelas X A!." kata Petugas kebersihan itu yang berhasil mengejutkan ketiga orang itu.

"APA!." Teriak Iruka dengan lantang.

Chapter 2 : The End of Bloody Day

Setelah mendengar penuturan dari petugas kebersihan, Naruto, Sakura dan Iruka langsung bergegas menuju ruang kelas X A atau ruang kelas dari Sakura sendiri. Perjalanan mereka bertiga menuju ruang kelas X A dari toilet hanya di isi oleh keheningan karena mereka memikirkan tentang kejadian di hari ini di pikiran mereka masing - masing.

Room X A

Tampak seorang siswa berambut hitam lurus yang tidak terlalu panjang dengan gaya sigar tengah, tangan pucat pemuda itu memegang sebuah lukisan yang baru saja selesai ia buat. Lukisan itu berisi sebuah pemandangan di sore hari atau lebih tepatnya saat matahari mulai tenggelam yang di kelilingi oleh awan – awan yang berwarna orange. Pupil onyx pemuda itu perlahan demi perlahan mengeluarkan cairan bening yang mengalir turun melalui pipinya. Bibir yang semula di hiasi dengan seulas senyuman tulus secara perlahan senyuman di bibir pemuda itu memudar tiap detiknya. Mata onyx yang mengalirkan cairan – cairan bening itu terpaku menatap tubuh seorang pemuda yang seumuran dengannya bahkan banyak orang yang mengatakan kalau mereka berdua itu saudara kembar yang membedakan adalah gaya rambut pemuda yang sedang terbaring di lantai itu memiliki gaya rambut seperti bokong bebek.

"Siapa yang melakukan ini semua ini padamu Sasuke?." Kata pemuda itu pada sahabatnya yang tengah terbaring di lantai.

Pemuda yang bernama Sai tersebut mencoba menggoyang – goyangkan tubuh Sasuke dan berharap ada keajaiban yang dapat membawa Sasuke untuk hidup kembali, tapi usaha yang di lakukan Sai sia – sia saja karena tubuh Sasuke masih saja membeku tanpa bernapas.

"Bangunlah Sasuke!." Ucap Sai dengan berlinangan air mata.

With Naruto Cs

Tidak terasa kini Naruto , Iruka , Sakura sudah sampai di depan pintu ruang kelas X A. tanpa berbicara sepatah kata pun Sakura dengan tangan yang sedikit bergetar Sakura membuka pintu kelas yang masih tertutup.

"Kreet." Suara pintu yang perlahan – lahan mulai terbuka.

Pupil hijau Sakura yang melihat tontonan di depannya hanya bisa membulatkan matanya karena hanya dalam satu hari matanya harus menyaksikan dua sahabatnya meregang nyawa. Mata Sakura yang tampak membulat sedetik kemudian melembut ketika dia menangkap sosok Sai yang masih menangisi kematian Sasuke.

"Sai – kun!." Pekik Sakura.

Sai yang mendengar panggilan dari Sakura langsung mengusap air matanya dan dengan sedikit lemas dia langsung berdiri dan berjalan mendekati Sakura yang juga sedang berjalan mendekatinya, kini jarak antara Sai dan Sakura hanya tinggal satu langkah saja.

"Grabb." Dengan cepat kedua tangan Sai langsung merangkul tubuh mungil Sakura. Pelukan Sai pun dib alas oleh Sakura.

"Tenangkan dirimu Sai – kun." Kata Sakura yang masih memeluk tubuh Sai.

"Tapi Sasuke sudah meninggal Sakura – chan …. Hiks …. Hiks …. Hiks." Kata Sai yang menangis di dalam pelukan Sakura.

Sementara kedua sahabat itu masih mencoba menenangkan diri satu sama lain, Naruto dan Iruka langsung melangkahkan kaki mereka mendekati di mana tubuh Sasuke tergeletak tidak berdaya. Iris biru milik Naruto langsung menajam melihat kondisi Sasuke yang meninggal dengan serpihan kaca yang sebesar pisau menusuk perutnya. Berbeda dengan Ino yang mati karena Jantungnya tertusuk pisau Sasuke mati karena dia kehabisan darah. Mungkin saja jika Sai datang lebih awal nyawa Sasuke masih bisa di selamatkan.

"Apa menurutmu setelah membunuh Ino –san, Sasuke – san langsung mengakhiri hidupnya Naruto – kun ?." Tanya Iruka pada Naruto.

Sai yang masih menangis dalam pelukan Sakura seketika juga melepaskan pelukan Sakura dan menatap Iruka dengan tatapan terkejut. Sai benar – benar shok mendengar perkataan dari Iruka,

"Ada apa ini sebenarnya kenapa anda mengatakan jika Ino – san di bunuh sensei?." Tanya Sai yang masih shok.

"Sebelum kami datang kemari, kami menemukan tubuh Ino – san yang sudah tidak bernyawa di dalam toilet dengan luka tusuk tepat di jantungnya. Dan di dalam toilet tersebut kami menemukan sebuah kode yang bertuliskan nama Sasuke." Jelas Iruka pada Sai.

"Tapi itu tidak mungkin Sasuke begitu menyayangi Ino – chan, aku tidak percaya itu. Kamu juga tidak percaya dengan apa yang di katakana oleh Iruka – sensei kan Sakura – chan!. " Sai yang mendengar sahabatnya dituduh membunuh pacarnya sendiri tidak bisa percaya begitu saja.

"Aku juga tidak percaya Sai – kun." Sakura pun juga setuju dengan perkataan Sai, dia tidak percaya dengan semua bukti yang mengarah pada Sasuke sebagai tersangka pembunuhan atas sahabat terbaiknya.

"Tapi kamu lihat sendirikan Sakura – san jika semua bukti yang ada menunjukkan Sasuke – san lah yang telah membunuh Ino – san." Kata Iruka pada Sakura.

"Yang dikatakan Sai –san dan Sakuran – san memang benar sensei yang membunuh Ino – san bukanlah Sasuke – san tetapi salah satu di antara kita berempat." Kata Naruto yang ternyata setuju dengan Sai dan Sakura. Sementara kesimpulan Naruto yang menerangkat jika pelaku pembunuhan yang menimpa Ino adalah salah satu dari mereka berempat cukup mengejutkan karena mereka sendiri tidak bisa menebak apa yang di pikirkan oleh Naruto.

"Apa maksudnya ini, Naruto – kun?." Tanya Iruka yang tidak mengerti kemana arah pemikiran Naruto.

"Sensei mempercayai bahwa Sasuke – san adalah pelaku pembunuhan terhadap Ino –san hanya karena terdapat kode ROT – 13 yang jika itu diartikan maka akan tertulis nama Sasuke, bukan?." Tanya Naruto tentang alasan Iruka mengapa begitu yakin jika kematian Ino diakibatkan oleh Sasuke.

"Ha'i." Angguk Iruka.

"Lalu kenapa kode tersebut tidak terdapat di dinding bagian depan dari Ino – san melainkan terdapat di dinding bagaian belakang Ino –san ditemukan?." Tanya Naruto pada Iruka lagi.

"Itu karena …." Iruka langsung menghentikan kata – katanya karena dia tidak dapat menemukan kata – kata yang tepat untuk menyakinkan Naruto.

"Kode ROT – 13 tersebut menunjukkan jika pembunuhan tersebut tidak dilakukan oleh Sasuke – san melainka orang lain yang ingin menjebak Sasuke –san agar dia di jadikan sebagai tersangka." Jelas Naruto.

"Maksudmu Naruto – kun?." Tanya Iruka.

"Seingatku Ino – san tidak pernah mengerti tentang kode – kode yang di gunakan dalam kegiatan kepramukaan, bukankah begitu Sakura – san?." Kata Naruto pada Sakura.

Sakura yang mendengar penjelasan dari Naruto hanya bisa melototkan kedua bola matanya karena dia baru ingat jika Ino sangat payah dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan pramuka.

"Itu benar." Kata Sakura.

"Tapi itu belum cukup untuk membuktikan jika Sasuke bukanlah tersangka dalam pembunuhan ini." Elak Iruka yang belum bisa terima dengan alasan Naruto yang mengatakan jika Sasuke bukanlah tersangka dalam pembunuhan ini.

"Jikalau memang yang menulis kode tersebut adalah Ino – san seharusnya Ino – san mati dalam posisi kepala membentur dinding dimana kode tersebut ditulis karena luka tusuk di jantungnya bukannya mati membelakangi kode tersebut…" jelas Naruto. Masih belum terima Iruka mencoba membuka mulutnya kembali tetapi niatnya itu ia urungkan karena melihat isyarat yang Naruto berikan kepadanya agat tetap diam.

"Alasan kedua adalah noda di kain ini." kata Naruto yang merogoh saku celananya setelah beberapa detik kemudia dari saku celananya, dia mengeluarkan sobekan kain berwarna putih dengan noda berwarna orange.

"Itu kain apa Naruto – san?." Tanya Sakura yang merasa familiar dengan kain yang sedang di pegang oleh Naruto.

"Ini adalah kain yang aku sobek dari seragam Ino – san." Jawab Naruto dengan santai.

"Tapi kain itu member petunjuk apa?." Tanya Iruka.

"Ini menunjukkan jika noda ini berasal dari pelaku pembunuhan yang mencoba memperkecil pergerakkan Ino – san yang melakukan pemberontakan sebelum pisau itu berhasil menusuk jantungnya." Jelas Naruto.

"Lalu siapa pelakunya Naruto – kun?." Tanya Iruka dengan tenang karena yakin jika pelakunya bukanlah dia.

"Pelakunya adalah…."

"Kau Sai – san." Kata Naruto sambil menunjuk muka Sai dengan jari telunjuknya.

"Jangan asal menuduh kamu Naruto – san!." Kata Sai dengan nada yang tinggi.

"Aku tidak menuduh tapi semua perkataanku itu berdasarkan fakta yang ada…."

"Pertama adalah gaya penulisan yang di gunakan untuk menulis kode ROT – 13 sangatlah mirip dengan seni kaligrafi dan di ruangan ini yang mempunyai bakat seperti itu hanya kamu."

"Kedua adalah noda di kain yang aku tunjukkan tadi berasal dari noda cat yang mengotori tanganmu yang kamu gunakan untuk melukis pemandangan itu." Kata Naruto yang mengalihkan jari telunjukknya dari muka Sai menuju ke lukisan Sai yang tergeletak di lantai.

"Apa yang mau kamu sampaikan sekarang Sai – san?." Tanya Naruto. Kini pandangan Naruto, Sakura, dan Iruka semuanya menuju arah Sai seakan – akan menunggu kata – kata yang akan keluar dari mulutnya. Merasa semua mata kini tertuju padanya Sai hanya bisa diam tanpa bersuara.

"I …. I …. I …. Ha …. Ha …. Ha …." Jika sebelumnya dia tertekan maka kini Sai malah tertawa terbahak – bahak sambil memegangi perutnya.

"Yah, memang benar akulah yang membunuh Ino – chan. Ha …. Ha …. Ha …. ." Kata Sai yang di selingi dengan tawanya, jika biasanya orang tertawa dengan wajah senang lain lagi dengan Sai. Dia tertwa dengan wajah yang mengisyaratkan kesedihan.

"Plakkk." Telapak tangan kanan Sakura pun dengan mulus berhasil mendarat di pipi Sai.

"Kenapa …. Hiks …. Hiks ….kamu lakukan itu, Sai – kun?." Tangis Sakura dengan kedua tangannya yang memukuli dada Sai.

"Kamu tanya kenapa Sakura – chan? Seharsunya kamu tahu sendiri alasanku melakukan semua ini."

"Aku melakukan ini karena Ino – chan lebih memilih Sasuke daripada aku." Jelas Sai yang mengungkap alasan mengapa dia membunuh Ino.

"Kamu tahu kan Sai – san apa yang akan kamu dapat dari tindakanmu?." Tanya Naruto pada Sai.

"Yah, aku tahu. Aku akan menyerahkan diriku pada polisi." Kata Sai dengan sangat menyesal atas perbuatannya.

"Lalu kenapa Sasuke – san melakukan tindakan bunuh diri?." Tanya Iruka yang sedikit lega karena satu misteri sudah terpecahkan tapi dia masih penasaran dengan aksi yang di lakukan Sasuke untuk mengakhiri nyawanya sendiri.

"Kau salah Iruka – sensei, Sasuke – san tidak bunuh diri melainkan juga di bunuh." Jelas Naruto yang berhasil mengejutkan semua pasang mata yang ada di dalam ruangan itu.

"Dibunuh?." Tanya Sai yang terkejut.

"Tapi siapa pelakunya?." Lanjut Iruka.

"Pelakunya adalah Sakura – san." Tunjuk Naruto pada Sakura yang kini menatap sekelilingnya dengan dengan wajah ketakutan.

"Hei! Kamu jaga mulutmu. Tadi aku bisa menerima tuduhanmu terhadapku karena semua itu benar adanya, tapi perkataanmu sekarang ini tidak masuk akal. Sakura – chan tidak mungkin melakukan semua yang kamu katakana." Kata Sai dengan nada yang tinggi untuk membela Sakura sementara Sakura hanya diam saja saja seolah – olah dia tidak menyalahkan atau pun membenarkan kata – kata Naruto.

"Seperti yang aku bilang tadi semua yang aku katakana berdasarkan bukti – bukti yang ada." Kata Naruto.
"Pertama adalah motif Sasuke – san pergi ke ruang kelas ini pasti hanya untuk menemui Sakura – san."

"Kedua adalah luka yang ada di tangan Sakura – san, luka itu belumlah kering sempurna jadi kita bisa menyimpulkan jika luka itu di dapat dalam rentang waktu yang belum lama."

"Ketiga adalah alasannya ketika aku bertanya kenapa tangannya di perban. Dia mengatakan jika luka itu dia dapat ketika dia memasak untuk membuat sarapan pagi tapi kenyataannya kamu tidak sarapan di rumah melainkan kamu sarapan bersama Sai – san, Ino – san dan Sasuke – san di kantin pagi ini." Jelas Naruto panjang lebar.

"Lalu apa buktinya jika Sasuke mati karena tidak bunuh diri melainkan di bunuh oleh Sakura – chan." Elak Sai.

"Lihatlah pada tangan Sasuke – san yang memegang serpihan kaca itu." Mendengar perintah dari Naruto semuanya langsung saja menatap tangan Sasuke bahkan Sakura yang di curigai sebagai tersangka pun juga ikut melihat tangan Sasuke.

"Kalian lihatkan jika tangannya itu tidak terluka tapi jika dia melakukan aksi bunuh diri seharusnya yang terjadi adalah seperti ini." Kata Naruto yang langsung mengambil serpihan kaca yang masih di dalam genggaman tangan Sasuke.

"Jlebb." Setelah mengambil serpihan kaca tersebut tanpa aba – aba Naruto langsung menancapkan serpihan tersebut ke meja.

"Akhh…. Sial aku pikir tidak akan sesakit ini." Tangan Naruto langsung melepaskan serpihan kaca yang masih menancap di meja.

"Apa yang kamu lakukan Naruto – kun?." Tanya Iruka atas tindakan gila yang di lakukan oleh Naruto.

"Lihat ini…. " Naruto langsung menunjukkan telapak tangannya yang berdarah pada Iruka dan yang lainnya.

"Seharusnya jika Sasuke – san melakukan aksi bunuh diri maka telapak tangannya akan terluka yang di akibatkan sisi – sisi serpihan kaca itu yang tajam." Jelas Naruto.

"Telapak tangannya tidak terluka karena dia tidak bunuh diri melainkan dia di bunuh oleh Sakura – san dan karena Sakura – san ingin membuat kejadian ini seolah – olah Sasuke – san melakukan bunuh diri makanya dia memindahkan serpihan kaca itu ke tangan Sasuke – san." Jelas Naruto.

"Dan untuk motif kenapa dia melakukannya aku sedikit tidak mengerti." Lanjut Naruto yang sejujurnya dia tidak mengerti akan motif Sakura untuk membunuh Sasuke.

"Hiks …. Hiks …. Hiks …. Aku melakukan semua ini karena dia berani mempermainkan hati Ino – chan dengan berselingkuh dengan perempuan lain." Tutur Sakura.

"Maaf jika aku terlambat." Tiba – tiba sebuah suara muncul dari arah pintu.

Ketika mereka mengalihkan pandangan mereka kea rah pintu mereka menemukan sosok lelaki yang kira – kira berumur 40 tahunan dengan rambut yang sudah memutih dan kulit yang sudah sedikit berkeriput, lelaki itu memakai kemeja purih dengan dasi berwarna hitam yang ditutupi dengan jas berwana hitam.

"Aku adalah detektif Kepolisian Konoha yang di tugaskan untuk menyelesaikan kasus tentang pembunuhan yang terjadi di sekolah ini." Jelas lelaki yang mengaku sebagai detektif tersebut.

"Anda belum terlambat karena penjahatnya belum kabur." Kata Naruto yang juga melangkah kea rah pintu dengan santainya.

"Apa maksudnya?." Tanya detektif itu sedikit bingung.

"Maksudku adalah kasus ini sudah selesai dan dua siswa yang ada di dekat Iruka – sensei itu adalah tersangkanya." Kata Naruto yang berjalan keluar meninggalkan detektif itu terbenggog.

"Lalu untuk apa aku kemari jika kasusnya sudah selesai?." Tanya detektif itu pada dirinya sendiri.

Chapter 2 End

To Be Continue

Tidak lelah saya ucapkan terimakasih bagi yang sudah fav, fol, dan review cerita ini. Dan saya harap di chapter kedua ini kalian semua masih mau member pendapat kalian tentang cerita ini lewat review kalian semua. Dan bagi yang sudah fav tapi belum review saya harapkan untuk review cerita ini agar semangat saya untuk melanjutkan cerita ini semakin tinggi dan juga kalau ada silent reader (ngarep banget) tolong berikan pendapat kalian tentang cerita ku ini.

Sekian…